Anda di halaman 1dari 6

A.

Pendahuluan
Standar pekerjaan lapangan merupakan salah satu dari tiga standar auditing yang
berlaku umum. Standar ini sangat berperan penting dalam suksesnya proses audit yang
dijalankan hingga didapatnya hasil temuan audit

B. Unsur-Unsur Standar Pekerjaan Lapangan


1.

Standar Pertama
Standar pekerjaan lapangan pertama berbunyi :

Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus


disupervisi dengan semestinya.
Penunjukan secara dini memungkinkan auditor merencanakan pekerjaannya
sedemikian rupa sehingga pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan dengan cepat dan
efisien serta dapat menentukan seberapa jauh pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan
sebelum tanggal laporan posisi keuangan (Standar Profesional Akuntan Publik,SA Seksi
310:2011).
Supervisi mencakup pengarahan usaha asisten dalam mencapai tujuan audit dan
penentuan apakah tujuan tersebut tercapai. Unsur supervisi adalah memberikan instruksi
kepada asisten, tetap menjaga penyampaian informasi masalah-masalah penting yang
dijumpai dalam audit, me-review pekerjaan yang dilaksanakan, dan menyelesaikan
perbedaan pendapat di antara staf audit kantor akuntan. Luasnya supervisi memadai
dalam suatu keadaan tergantung atas banyak faktor, termasuk komplesitas masalah dan
kualifikasi orang yang melaksanakan audit (Standar Profesional Akuntan Publik,SA
Seksi 311:2011).

2.

Standar Kedua
Standar pekerjaan lapangan kedua berbunyi :
Pemahaman

memadai

atas

pengendalian

intern

harus

diperoleh

untuk

merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan
dilakukan.

Dalam perencanaan auditnya, auditor harus mempertimbangkan sifat, lingkup, dan


saat pekerjaan yang harus dilaksanakan dan harus membuat suatu program audit secara
tertulis (atau set program audit tertulis) untuk setiap audit. Program audit harus
menggariskan dengan rinci prosedur audit yang menurut keyakinan auditor diperlukan
untuk mencapai tujuan audit. Bentuk program audit dan tingkat kerinciannya sangat
bervariasi sesuai dengan keadaan. Dalam mengembangkan program audit, auditor harus
diarahkan oleh hasil pertimbangan dan prosedur perencanaan auditnya. Selama
berlangsungnya audit, perubahan kondisi dapat menyebabkan diperlukannya perubahan
prosedur audit yang telah direncanakan tersebut (Standar Profesional Akuntan
Publik,SA Seksi 311:2011).

3.

Standar Ketiga
Standar pekerjaan lapangan ketiga berbunyi :
Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan,

permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan


pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.
Sebagian besar pekerjaan auditor independen dalam rangka memberikan pendapat
atas laporan keuangan terdiri dari usaha untuk mendapatkan dan mengevaluasi bukti
audit. Ukuran keabsahan (validity) bukti tersebut untuk tujuan audit tergantung pada
pertimbangan auditor independen; dalam hal ini bukti audit (audit evidence) berbeda
dengan bukti hukum (legal evidence) yang diatur secara tegas oleh peraturan yang ketat.
Bukti audit sangat bervariasi pengaruhnya terhadap kesimpulan yang ditarik oleh
auditor independen dalam rangka memberikan pendapat atas laporan keuangan auditan.
Relevansi, obejktivitas, ketepatan waktu, dan keberadaan bukti lain yang menguatkan
kesimpulan, seluruhnya berpengaruh terhadap kompetensi bukti (Standar Profesional
Akuntan Publik, SA Seksi 326:2011).

C. Tahap-Tahap Pelaksanaan Pekerjaan Lapangan


Proses audit terdiri dari enam tahap (Zamzami, Faiz:2010), yaitu:

a) Persiapan Penugasan Audit


Persiapan penugasan audit adalah proses awal yang dilaksanakan pada proses audit.
Dalam tahap ini dimulai dengan penunjukan tim yang akan terlibat dalam suatu
penugasan oleh Satuan Audit Internal. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar tim yang
akan melaksanakan tugas di suatu unit mempunyai payung hukum yang kuat bahwa tim
tersebut melaksanakan audit atas perintah dari atas dan bukan karena kehendak pribadi.

b) Survey Audit Pendahuluan


Survey pendahuluan merupakan proses yang bertujuan untuk mendapatkan
pemahaman yang mendalam mengenai risiko dari suatu unit yang akan diperiksa.
Terdapat dua klasifikasi utama dari teknik-teknik audit pada tahap survey pendahuluan,
yaitu yang berkaitan dengan langkah-langkah survey pendahuluan di kantor unit auditor
internal (on desk/off site audit), dan di lokasi unit yang diaudit (on site audit).

c) Pelaksanaan Pengujian
Pada tahap pelaksanaan pengujian ini auditor perlu mencari bukti yang akan
menguatkan informasi yang diperoleh pada survey pendahuluan tersebut. Bukti audit
yang cukup, kompeten, relevan dan catatan lainnya.

d) Penyelesaian Penugasan Audit


Penyelesaian penugasan audit ini merupakan tahapan terakhir dari proses pekerjaan
lapangan. Dalam tahap ini auditor mematangkan berbagai temuan yang telah dirangkum
selama proses pekerjaan lapangan. Di sini auditor memperoleh keyakinan yang
memadai bahwa temuan yang dirangkumnya telah dijalankan sesuai prosedur, obyektif
dan independen.

e) Pelaporan hasil audit


Laporan hasil audit ini merupakan media untuk menyampaikan permasalahan serta
temuan berikut dengan rekomendasi yang terdapat dalam suatu unit kepada manajemen

unit tersebut.

f)

Pemantauan tindaklanjut
Tindak lanjut dilaksanakan berdasarkan kesepakatan yang telah disetujui

oleh auditee terkait dengan pelaksanaan rekomendasi yang telah diberikan.

Daftar Pustaka
Halim, Abdul. 2008. Auditing, Dasar-Dasar Audit Laporan Keuangan. Jilid 1. Edisi
Keempat. Yogyakarta: Unit Penerbitan dan Percetakan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen
YKPN

Standar Profesional Akuntan Publik. 31 Maret 2011. Jakarta : Penerbit Salemba Empat
Zamzami,Faiz .2010 .Proses Internal Audit.
http://www.sai.ugm.ac.id/site/artikel/proses-internal-audit-ugm [Diakses pada tanggal
10 Maret 2013]
http://putubudiadnyani.blogspot.com/2013/04/memahami-standar-pekerjaanlapangan.html

Pengauditan I
Standar Pekerjaan Lapangan

Kelompok 7
Kadek Yulika Anggreningsih

(1306305199)

Ni Putu Bella Novindra

(1306305216)

Luh Putri Swandewi

(1306305221)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Udayana
2015