Anda di halaman 1dari 20

1

A JUDUL PENELITIAN
Pengolahan Gliserol Hasil Samping Biodiesel menjadi Etanol melalui Fermentasi
Menggunakan Escherichia coli dengan Variasi Konsentrasi Substrat dan Waktu
Fermentasi
B LATAR BELAKANG
Berbagai sumber energi alternatif pengganti sumber energi tak terbarukan seperti
minyak bumi telah dikembangkan untuk mengatasi keterbatasan pasokan energi
minyak bumi yang kian lama semakin menipis, dan salah satu sumber energi
alternatif yang telah dikembangkan dan diaplikasikan adalah biodiesel. Sehingga
dalam waktu kedepan, penggunaan energi alternatif dari sumber terbaharukan, yaitu
biodiesel akan semakin meningkat (Lailatul Q, dkk. 2011). Sedangkan dalam proses
produksinya, untuk setiap 3 mol produk biodiesel, terbentuk 1 mol gliserol (sekitar
5-10% berat ekivalen dari biodiesel) (Cong T, Friedrich S. 2009) atau dari 100 lb
biodiesel yang dihasilkan, 10 lb gliserol terbentuk sebagai limbah (Nwachukwu, et
al. 2012). Sehingga, dengan meningkatnya produksi biodiesel maka akan
berdampak pada peningkatan produksi gliserol sebagai hasil samping.
Pertumbuhan industri biodiesel yang terjadi akhir-akhir ini menyebabkan
produksi crude gliserol meningkat. Hal ini berdampak pada turunnya harga crude
gliserol secara drastis (Chaudhary N, et al. 2011). Terlepas dari jatuhnya nilai
ekonomi pasar industri gliserol, keberlimpahan crude gliserol menghadirkan
tantangan lain. Pertama, crude gliserol tidak bisa diterima dalam proses industri apa
saja tanpa purifikasi yang mana purifikasinya membutuhkan proses yang kompleks
dan mahal (Nwachukwu, et al. 2013). Kedua, gliserol tidak dapat dibuang ke
lingkungan tanpa treatment, karena kandungan pengotor didalamnya dapat merusak
lingkungan, sehingga crude gliserol harus ditreatment sebelum dibuang ke
lingkungan, dan biaya proses treatment ini bisa menjadi kendala. Secara ekonomi,
tidak efektif dan efisien dalam industri biodiesel (Nwachukwu, et al. 2013). Jadi
solusi terbaik adalah dengan mengkonversi crude gliserol menjadi produk bernilai
tinggi.
Banyak proses kimia dan biologi yang dikembangkan untuk memperoleh
keuntungan ekonomi dan lingkungan dari crude gliserol. Namun proses biologi

lebih aman, lebih murah, dan lebih ramah lingkungan (Nwachukwu, et al. 2013).
Salah satu cara peningkatan nilai gliserol melalui proses biologi adalah biokonversi
gliserol menjadi etanol. Gliserol merupakan sumber karbon dan sumber energi
untuk banyak mikroorganisme. Dan oleh karena itu, gliserol bisa dijadikan sebagai
1
bahan baku tak ternilai untuk industri
fermentasi (Da Silva, et al, dalam
Nwachukwu, et al, 2012). Konversi gliserol menjadi etanol sangat efektif,
mengingat gliserol merupakan produk samping bernilai rendah, dan etanol
merupakan senyawa yang bernilai jual cukup tinggi dan digunakan secara luas oleh
industri farmasi, pertanian, kosmetik, makanan, serta dapat digunakan sebagai
bahan bakar motor pengganti bensin (Ito, et al, 2005). Kemampuan untuk
memfermentasikan gliserol tanpa kehadiran udara ditemukan pada beberapa
anggota Enterobacteriaceae. Beberapa anggota dari family ini yaitu bakteri
Citrobacter, Klebsiella, Enterobacter, dan Escherichia telah dilaporkan untuk
memproduksi etanol sebagai produk utama dalam fermentasi anaerobik pada
gliserol (Nwachukwu, 2012). Dan juga dihasilkan produk lain yang termasuk
didalamnya seperti hidrogen, 1,3-propanediol, succinate, lactate, acetate,
propionate, formate, and 2,3-butanediol (Nwachukwu, 2012). Selain itu, fermentasi
gliserol juga telah dilakukan menggunakan Klebsiella, Citrobacter, Enterobacter,
Clostridium, Lactobacillus, Bacillus,Propionibacterium, and Anaerobiospirillum
(Murarka, et al, 2008). Akan tetapi, potensi menggunakan organisme ini pada level
industri terbatasi oleh beberapa keadaan seperti sifat patogen, perlunya kondisi
anaerobik yang ketat, butuhnya suplementasi dengan nutrisi yang tinggi dan
ketidaksediaan alat genetik dan pengetahuan fisiologi yang penting untuk
manipulasi efektif.
Escherichia coli sangat diterima dalam penggunaan dilevel industri dan
Escherichia coli diketahui sebagai mikroba pekerja keras dalam industri. Karena
pernah digunakan dalam skala industri, Escherichia coli dapat digunakan untuk
membantu mengatasi masalah yang berhubungan dengan mikroba lain (Chaudary
N, 2010).
Beberapa

penelitian

sebelumnya

yang

menggunakan

Escherichia

coli

diantaranya yaitu, Cofre, et al (2012) melakukan fermentasi gliserol murni


menggunakan Escherichia coli menghasilkan etanol dengan yield 845 g/kg gliserol,

sedangkan Adnan, et al (2014) menghasilkan etanol dengan yield 1 mol/mol


gliserol. Pada penelitian ini ingin mengetahui waktu optimum proses fermentasi
dan jumlah konsentrasi serta yield etanol maksimal yang dihasilkan dari fermentasi
crude gliserol menggunakan Escherichia coli.
C RUMUSAN MASALAH
Dalam penelitian ini terdapat beberapa masalah antara lain:
1

Bagaimana pengaruh konsentrasi substrat proses fermentasi crude gliserol


menggunakan Escherichia coli.

Bagaimana waktu optimum proses fermentasi

Berapa perolehan konsentrasi dan yield etanol maksimal pada proses fermentasi
tersebut.

D TUJUAN
1

Mengetahui konsentrasi substrat optimum fermentasi gliserol menggunakan


Escherichia coli.

Mengetahui waktu optimum proses fermentasi

Mengetahui konsentrasi dan yield etanol maksimum yang dihasilkan.

E LUARAN YANG DIHARAPKAN


Dalam penelitian ini luaran yang diharapkan adalah publikasi sebagai artikel ilmiah
dalam prosiding yang di seminarkan pada seminar nasional.
F KEGUNAAN
Penelitian ini mempunyai kegunaan sebagai berikut:
1

Sebagai alternatif pengolahan limbah gliserol yang ekonomis.

Sebagai upaya lain dalam menghasilkan sumber energi terbarukan yaitu etanol.

G. TINJAUAN PUSTAKA
1. Biodiesel
Biodiesel terdiri dari asam lemak alkil ester yang dihasilkan melalui suatu reaksi
transesterifikasi dari minyak tumbuhan dan lemak hewan. Ketika metanol digunakan

untuk reaksi transesterifikasi, maka akan terbentuk asam lemak metil ester (Fatty Acid
Methyl Ester/FAME). Reaksi transesterifikasi dari trigliserida dan metanol:
O
H2C

C R1
O

HC

C R2
O

H2C

(trigliserida)

+ 3 CH3OH

R3
(methanol)

katalis

R1

C
O

OCH3

H2C

R2

C
O

OCH3 + HC

R3

OCH3

(metil ester)

H2C

(gliserol)

Gambar 1. Reaksi Transesterifikasi Trigliserida dan Metanol


Biodiesel merupakan suatu bahan bakar yang dapat diperbarui, tidak mudah
terbakar, dapat terbiodegradasi, serta tidak beracun. Hal tersebut sangat mengurangi
dampak negatif yang ditimbulkan terhadap transportasi dan lingkungan seperti yang
terjadi pada bahan bakar minyak. Dalam proses produksi biodiesel, untuk setiap 3 mol
produk biodiesel, terbentuk 1 mol gliserol (sekitar 5-10% berat ekivalen dari biodiesel)
(Cong, T.T., Friedrich, S., 2009) atau dari 100 lb biodiesel yang dihasilkan, 10 lb
gliserol terbentuk sebagai limbah (Nwachukwu R.S., et al, 2012).
2. Gliserol
Gliserol pertama kali ditemukan pada tahun 1779 oleh Scheele. Gliserol diperoleh
dengan cara memanaskan campura timbal monoksida dan minyak zaitun kemudian
melakukan ekstraksi dengan air. Gliserol terdapat dalam bentuk gabungan sebagai
gliserida pada semua lemak dan minyak yang berasal dari hewan dan tumbuhan.
Gliserol muncul sebagai produk samping ketika minyak tersebut mengalami
saponifikasi pada proses produksi sabun, ketika minyak atau lemak terpisah dalam
produksi asam lemak, maupun ketika minyak atau lemak mengalami esterifikasi dengan
metanol (alkohol lain) dalam produksi metil (alkil) ester (Syarief, 2010).
Istilah gliserol hanya berlaku pada senyawa kimia murni 1, 2, 3-propanatriol.
Sedangkan, istilah gliserin berlaku untuk produk yang dimurnikan, biasanya
mengandung >95% gliserol. Beberapa jenis gliserin tersedia dalam pasaran, berbeda
dalam hal kandungan gliserol serta karakteristik-karakteristik lain seperti: warna, bau,
dan jumlah pengotor. Gliserol merupakan suatu senyawa jernih, kental, dan bersifat

higroskopis pada temperatur ruangan di atas titik didihnya. Gliserol terlarut dalam air
dan alkohol, sedikit terlarut dalam dietil eter, etil asetat, dan dioksan, serta tidak terlarut
dalam hidrokarbon. Beberapa sifat fisik gliserol terdapat pada Tabel 1.
Tabel 1. Sifat Fisik Gliserol
Sifat
Titik lebur (C)
Titik didih (C), 101,3 kPa
Specific gravity 25/25 C
Tegangan permukaan (20 C,
mN/m)
Konduktivitas termal (W/(mK))
H pembentukan (kJ/mol)
Titik nyala (C)
Titik api (C)

Nilai
18,17
290
1,2620
63,4
0,28
667,8
177
204

Sumber: Syarief, 2010

3. Pengolahan Crude Gliserol menjadi Etanol


Pertumbuhan industri biodiesel yang terjadi akhir-akhir ini menyebabkan produksi
crude gliserol meningkat. Produksi Biodiesel di Indonesia pada tahun 2013 mencapai
1,7 juta metrik ton (Industry Update Vol 2 Februari 2014). Dari produksi biodiesel
sebanyak ini, akan dihasilkan gliserol yaitu propana dengan gugus hidroksil pada
masing-masing atom karbonnya, sebanyak produksi 10% biodiesel (Bajammal, F., dkk,
2007). Hal ini berdampak pada tururnnya harga crude gliserol secara drastis (Chaudhary
N, et al, 2011). Terlepas dari jatuhnya nilai ekonomi pasar industri gliserol,
keberlimpahan crude gliserol menghadirkan tantangan lain. Pertama, crude gliserol
tidak bisa diterima dalam proses industri apa saja tanpa purifikasi yang mana
purifikasinya membutuhkan proses yang kompleks dan mahal (Nwachukwu, R.S., et al,
2013). Kedua, gliserol tidak dapat dibuang ke lingkungan tanpa treatment, karena
kandungan pengotor didalamnya dapat merusak lingkungan, sehingga crude gliserol
harus ditreatment sebelum dibuang ke lingkungan, dan biaya proses treatment ini bisa
menjadi kendala. Secara ekonomi, tidak efektif dan efisien dilakukan dalam industri
biodiesel (Nwachukwu, R.S., et al, 2013). Jadi solusi terbaik adalah dengan
mengkonversi crude gliserol menjadi produk bernilai tinggi.
Pengolahan gliserol menjadi produk yang berguna dapat dilakukan dengan berbagai
macam cara, di antaranya dengan menggunakan katalis kimia melalui proses gliserol
hidrogenolisis menjadi produk 1,2-propanadiol. Gliserol juga dapat dikonversi menjadi

dihidroksiaseton melalui proses oksidasi fasa cair dengan udara menggunakan katalis
platinum pada pH tertentu. Hidrogen yang saat ini diusulkan untuk menjadi bahan bakar
terbarukan generasi mendatang juga dapat diproduksi melalui proses steam reforming
gliserol pada fasa gas dengan menggunakan katalis ruthenium. Poligliserol yang
digunakan sebagai bahan antifogging dan antistatik atau minyak pelumas dapat
diperoleh melalui proses eterifikasi gliserol (Purwadi, R., dkk, 2013)
Pengolahan gliserol juga dapat dilakukan melalui proses biologis dengan
menggunakan bantuan mikroorganisme yang mana gliserol dalam substrat digunakan
sebagai sumber energi dan sumber karbon. Beberapa mikroorganisme yang mampu
hidup dengan menggunakan substrat gliserol di antaranya adalah Aerobacter aerogenes,
Anaerobiospirillum

succiniciproducens,

Clostridium

butyricum,

Clostridium

acetobutylicum, Eschericia coli, Klebsiella pneumeniae, Paenibacillus macerans dan


Lactobacillus sp. Mikroorganisme-mikrorganisme tersebut dapat menggunakan gliserol
sebagai sumber karbonnya serta menghasilkan berbagai macam produk seperti
biohidrogen,

laktat,

etanol,

butanol,

1,3-propanadiol,

1,2-propandiol,

3-

hidroksipropionaldehid, asam format, asam sitrat, asam propionat, dan asam suksinat
(Purwadi, R., dkk, 2013).
Etanol merupakan senyawa yang bernilai jual cukup tinggi, mempunyai pasar yang
luas, dan dapat digunakan sebagai energi. Etanol biasanya dibuat dari minyak bumi.
Selain dari minyak bumi, etanol juga dapat diproduksi secara biologis melalui proses
fermentasi gula secara anaerob oleh beberapa jenis ragi atau bakteri. Gula yang dipakai
umumnya berasal dari pati atau selulosa yang terdapat pada produk utama dan limbah
pertanian seperti tebu, singkong, sagu, bungkil jagung, jerami, dan sisa-sisa potongan
kayu yang telah diuraikan melalui reaksi hidrolisis enzimatis. Gula yang berperan
sebagai sumber karbon dan energi dalam proses fermentasi etanol dapat digantikan
perannya oleh gliserol. Menurut Yazdani dan Gonzales dalam Bajammal, F., dkk (2007)
gliserol dapat digunakan sebagai bahan dalam produksi butanol dan etanol melalui
proses fermentasi. Dengan demikian, gliserol yang tersedia dalam jumlah yang besar
berpeluang untuk dikonversi menjadi etanol yang bernilai jual lebih tinggi.
Berbagai literatur menunjukkan bahwa pada umumnya fermentasi gliserol
menggunakan bakteri. Beberapa penelitian sebelumnya yang menggunakan bakteri
sebagai biokatalis, yaitu:

Tabel 2. Penelitian Fermentasi Gliserol menjadi Etanol dengan Bakteri Escherichia Coli
No
1

Medium
Medium kultur bakteri:
990 ml distilled water, 2
ml MgSO4, 10 ml 20%
glukosa, 6 gr Na2HPO4, 3
gr KH2PO2, 0,5 gr NaCl, 1
gr NH4Cl
Media preparasi inokulum:
MOPS minimal media
ditambah dengan 1% 1,32
mM N2HPO4 dan 0,1% 1
mol sodium selenite
Medium kultur bakteri:
990 ml distilled water, 2
ml MgSO4, 10 ml 20%
glukosa, 6 gr Na2HPO4, 3
gr KH2PO2, 0,5 gr NaCl, 1
gr NH4Cl
Media preparasi inokulum:
MOPS minimal media
ditambah dengan 1% 1,32
mM N2HPO4 dan 0,1% 1
mol sodium selenite
Medium kultur bakteri:
Peptone 10 kg/m3, ekstrak
ragi 5 kg/m3, NaCl 10
kg/m3
Media preparasi inokulum
Medium LB+G:
Gliserol, NH4Cl, KH2PO4,
Na2SO4, NaCl, MgSO4.
Ditambahkan
phospat buffer (pH 6,3)
Medium kultur bakteri: 3,5
g/L KH2PO4, 5 g/L
K2HPO4, 3,5 g/L
(NH4)2HPO4, 0,25 g/L
MgSO4.7H2O, 15 mg/L
CaCl2.2H2O, 0,5 mg/L
thiamine, 0,12 g/L betaine,
1 ml/L stock trace metal
solution (mengandung 0,15
g/L H3BO4, 0,065 g/L
CoSO4, 0,05 g/L
ZnSO4.7H2O, 0,015 g/L
MnCl2.4H2O, 0,01 g/L
NiCl2.6H2O, 0,005 g/L
CuSO4.5H2O, 3 g/L

Kondisi
Batch fermentasi dengan proses
anaerobik dalam flask tertutup.
Pada shaker set dengan
pengadukan 100,150,200 rpm
suhu 37oC, pH 6,3 dan sampel
diambil setiap 2 jam

Hasil
Pada 10 g/L
konsentrasi
awal gliserol,
menghasilkan
Yield Etanol =
36%

Ref
Chaudhany
N (2012)

Batch reaktor dengan variasi


kondisi headspace. Suhu 37oC,
waktu fermentasi 120 jam, pH
6,3.

Yield Etanol =
4% (kondisi
membran
headspace dan
konsentrasi
awal gliserol 10
g/L)

Chaudhany
N (2011)

Botol dengan buthyl septum


alumunium cap seal diisi dengan
50 ml inokulasi LB+G medium
dan diinkubasi secara anaerobik
pada 37oC dan 2,5 Hz selama 14
jam sampai OD = 0,6 (pada
600nm)
Fermentasi menggunakan six
reactor system

Yield Etanol =
84,5%

Cofre, et all
(2012)

Menggunakan batch bioreactor


dengan vol.kerja 6 L kondisi
aerobik. Kondisi tumbuh 37oC
dan pH 7. Kecepatan
pengadukan dikontrol antara
300-400 rpm.

Yield etanol=
49%

Cong.T
(2009)

No

Medium
Fe(NH4) citrate), 40 g/L
glycerol, 10 g/L
tetracycline
Medium kultur bakteri:
2 g/liter tryptone (Difco), 5
M sodium selenite, 1.32
mM Na2HPO4 ditempatkan
di K2HPO4, and 110 mM
glycerol
Medium kultivasi:
Pepton, laktosa, bovine
bile, sodium chloride,
dibassic potassium
phosphat, monobasic
potassium phosphate,
Medium Kultur:
Tryptonate, pH = 7

Medium kultur Bakteri:


Modified LB plate:
Ekstrak ragi, sodium
chloride, pepton, gliserol
murni, agar teknis
Medium Fermentasi:
K2HPO4, KH2PO4,
(NH4)2SO4, MgSO4.7H2O,
CaCl2.2H2O,
Na2MoO4.2H2O, nicotinic
acid, Na2SeO3, NiCl2,
trace element
solution,tripton, ekstrak
ragi

Kondisi

Multi fermentasi sistem


menggunakan 6 vessels dengan
500 ml volume kerja, kontrol
0
pH 6.3, temperatur 37 C,
kecepatan pengadukan 200 rpm
menggunakan medium
kompleks kondisi anaerobik
Medium kultivasi:
Pepton, laktosa, bovine bile,
sodium chloride, dibassic
potassium phosphat, monobasic
potassium phosphate,

Hasil

Ref

Yield Etanol =
92,3%

Murarka A
dkk (2008)

Yield Etanol =
15%

Kovalski G,
et al, 2013

Konsentrasi
optimum
gliserol = 34,5
g/L
menghasilkan
etanol dengan
konsentrasi
15,72 g/L,

Adnan,
N.A, et al,
2014

Medium Kultur:
Tryptonate, pH = 7
Fermentasi dalam 120 ml botol
serum, vol.kerja 50 ml,
anaerobik, 370C, 120 rpm, 120
jam

Yield etanol = 1
mol/mol
gliserol
Fermentasi bioreaktor batch 2L,
vol kerja 800 ml, anaerobik,
370C, 50 rpm, 120 jam

Pada
Konsentrasi
etanol 15,72
g/L.
Yield etanol = 1
mol/mol
gliserol.

Adnan,
N.A, et al,
2014

4. Escherichia coli
Escherichia coli ditemukan oleh Theodor Escherich adalah spesies utama
bakteri gram negatif, berbentuk batang, bersifat fakultatif anaerob dan termasuk dalam
golongan

Enterobacteriacea,

mempunyai

pertumbuhan

yang

sangat

cepat

(Kunaepah,2008). Escherichia coli tumbuh baik pada temperatur antara 8 - 46C dan

temperatur optimum 37C. Bakteri yang dipelihara di bawah temperatur minimum atau
sedikit di atas temperatur maksimum, tidak akan segera mati melainkan berada di dalam
keadaan tidur atau dormancy ( Melliawati, R. 2009).
Fermentasi gliserol menggunakan Escherichia coli menghasilkan produk lain
selain etanol yaitu asam suksinat, asam format dan asam asetat (Thapa dkk, 2013)
Berikut merupakan jalur metabolik fermentasi gliserol menggunakan Esherichia coli:

Gambar 2. Jalur Metabolik Escherichia coli dalam Fermentasi gliserol (Durnin,


G., et al, 2009)
Dalam Escherichia coli, gliserol dikonversi melalui intermediate glikolisis
dihydroxyacetone phosphate (DHAP) dalam 2 jalur, melibatkan glycerol dehydrogenase
(glyDH) and dihydroxyacetone kinase (DHAK). Ketika enzim glikolitik pyruvat kinase
mengkonversi PEP (phosphoenol pyruvate) menjadi pyruvate selama metabolisme dari
sumber karbon lain, karakteristik unik dari metabolisme gliserol yaitu konversi PEP
menjadi pyruvate digandengkan dengan DHA fosforilasi (sejak DHAK menggunakan
PEP sebagai grup fosfat donor). Penggandengan reaksi ini adalah komponen kritikal
fermentasi gliserol dalam Escherichia coli dan membentuk sebuah lingkaran dalam
jalur metabolik. Yang mana untuk maksud model yang diperbolehkan maka
diasumsikan aktivitas pyruvat kinase tidak diperhatikan (Thapa L.P., et al, 2013).

10

Biosintesis acetyl-CoA dari pyruvate dapat terjadi melalui 2 enzim berbeda,


pyruvate dehydrogenase complex (PDHC) dan pyruvate formatelyase (PFL).
Mempertimbangkan tingginya rasio NADH/NAD yang terpantau selama fermentasi
gliserol dan diketahui NADH/NAD mengatur secara negatif PDHC, menjadikan PFL
yang menjadi enzim utama. Reaksi terakhir dalam jalur biosintesis bioetanol dalam
Escherichia coli terdiri dari dua step konversi Acetyl-coA menjadi etanol melalui aksi
acetaldehyde/alcohol dehydrogenase (ALDH/ADH) (Thapa L.P., et al, 2013).
5. Fermentasi
Fermentasi adalah suatu proses dimana komponen - komponen kimiawi
dihasilkan sebagai akibat adanya pertumbuhan maupun metabolisme mikroba. (Wasito
dalam Apriwinda, 2013). Fermentasi berdasarkan kebutuhan O2, dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu:
1. Fermentasi aerob (proses respirasi), yaitu fermentasi yang prosesnnya memerlukan
oksigen. Dengan adanya oksigen maka mikroorganisme dapat mencerna glukosa
menghasilkan air, karbondioksida dan sejumlah besar energi. Contoh : fermentasi
asam asetat, asam nitrat, dan sebagainya (Hasanah, 2008).
2. Fermentasi anaerob, yaitu fermentasi yang tidak membutuhkan adanya oksigen,
Beberapa mikroorganisme dapat mencerna bahan energinya tanpa adanya oksigen.
Jadi hanya sebagian bahan energi itu dipecah, yang dihasilkan adalah sebagian dari
energi, karbondioksida dan air, termasuk sejumlah asam laktat, asetat, etanol, asam
volatil, alkohol dan ester. Biasanya dalam fermentasi ini menggunakan mikroba
yeast, jamur dan bakteri (Hasanah, 2008).
6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Fermentasi
Keberhasilan fermentasi ditentukan oleh beberapa faktor yaitu:
1. Lama fermentasi
Semakin lama fermentasi, kadar alkohol yang dihasilkan akan optimum dan akhirnya
akan menurun. Waktu yang sesuai akan menghasilkan etanol yang optimum
(Apriwinda, 2013). Pada tahap awal mikroba mulai memasuki fase eksponensial
dimana etanol sebagai metabolit primer dihasilkan, sedangkan tahap selanjutnya
mikroba mulai memasuki fase stasioner dan kematian sehingga alkohol yang
dihasilkan menurun.

11

2. Konsentrasi inokulum
Konsentrasi inokulum yang terlibat dalam fermentasi sangat mempengaruhi
efektifitas penghasil produk. Jika konsentrasi inokulum yang digunakan terlalu
sedikit maka proses fermentasi berjalan dengan lambat, sedangkan konsentrasi
inokulum yang terlalu banyak akan mempengaruhi persaingan pengambilan nutrisi
oleh khamir, sehingga sangat berpengaruh pada pertumbuhan khamir dan kadar
alkohol yang dihasilkan. Semakin tinggi penambahan konsentrasi inokulum belum
tentu menghasilkan kadar alkohol yang tinggi (Apriwinda, 2013).
3. Substrat
Substrat sebagai sumber energi yang diperlukan oleh mikroba untuk proses
fermentasi. Energi yang dibutuhkan berasal dari karbohidrat, protein, lemak, mineral
dan zat gizi lainnya yang terdapat dalam substrat. Bahan energi yang banyak
digunakan oleh mikroorganisme adalah glukosa (Apriwinda, 2013). Selain itu,
gliserol juga dapat digunakan karena gliserol dalam substrat digunakan sebagai
sumber energi dan sumber karbon (Purwadi ,R., dkk, 2013)
4. Suhu
Suhu selama proses fermentasi sangat menentukan jenis mikroorganisme dominan
yang akan tumbuh. Umumnya diperlukan suhu 30 C untuk pertumbuhan
mikroorganisme (Apriwinda, 2013). Escherichia coli tumbuh baik pada temperatur
antara 8 - 46C dan temperatur optimum 37C ( Melliawati, R., 2009).
6. pH substrat
Kebanyakan bakteri mempunyai pH optimum berkisar 6,5 7,5. Di bawah 5,0 dan di
atas 8,5 bakteri tidak dapat tumbuh dengan baik. Dalam fermentasi, kontrol pH
penting sekali dilakukan karena pH yang optimum harus dipertahankan selama
fermentasi (Apriwinda, 2013).
G METODOLOGI PENELITIAN
1

Metode Penelitian
Pengambilan data penelitian menggunakan metode analisa dan metode
eksperimen.

Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini kami menggunakan 2 variabel:

12

Variabel tetap:
- suhu autoklaf (sterilisasi)

: 1210C

- Waktu sterilisasi

: 15 menit

- Waktu fermentasi

: 120 jam

- Suhu proses fermentasi

: 370C

- pH

: 6,3

2. Variabel berubah
- Konsentrasi Gliserol

: 10; 20; 30; 40 g/L

- Waktu pengambilan sampel

: 12; 24; 36; 48; 60; 72; 84; 96; 108; 120
jam

3. Alat dan bahan


Alat yang digunakan yaitu:

Bahan yang digunakan:

- Spektrofotometer

- Escherichia coli

- Kawat ose

- Ekstrak ragi

- Autoklaf

- Peptone

- Hot plate

- NaCl

- Magnetic stirrer

- NH4Cl

- Penyaring vakum

- KH2PO4

- Corong pisah

- Na2SO4

- Gas Chromatography

- NaCl

- pH meter

- MgSO4.7H2O

- Erlenmeyer 500 ml

- Buffer fosfat pH 6,3

- Gelas Kimia

- Aquades

- Gelas Ukur

- Gliserol limbah biodiesel

- Pipet ukur

- H2SO4 pekat

- Cawan petri
- Pipet volume
- Bulp
- Pipet tetes
- Inkubator
- Oven
- Timbangan analitik

13

- Spatula
- Botol sampel
- Tabung reaksi
- Kaca arloji
- Shaker
- Laminar air flow
- Six reactor system
2. Prosedur penelitian
a. Purifikasi limbah biodiesel
Memanaskan limbah biodiesel sambil dihomogenkan dengan magnetik
stirrer hingga mencapai suhu 400C, kemudian ditambahkan H2SO4 pekat
dengan menggunakan pipet sebanyak 2,5% (v/v). Selanjutnya dipisahkan
dengan penyaring vakum, sehingga hasil dari purifikasi diperoleh gliserol
dan endapan.
b.

Persiapan Inokulum
Plate berisi LB medium ( peptone 10 kg/m3, ekstrak ragi 5 kg/m3, NaCl 10
kg/m3) dan agar 1,5%. Plate diinkubasi pada 370C selama 24 jam. Koloni
tunggal selanjutnya ditempatkan dalam 10 ml tabung reaksi berisi LB
medium dan diinkubasi dalam shaker pada 370C dan 1,7 Hz selama 2 jam.
Setelah itu, isi tabung reaksi dicampur dengan 24 ml larutan phosphate
buffer, gliserol 150 kg/m3, NH4Cl 4,88 kg/m3, KH2PO4 1,53 kg/m3, Na2SO4
0,4 kg/m3, NaCl 0,23 kg/m3, MgSO4.7H2O 0,46 kg/m3. Medium ini disebut
LB + G. 50 ml inokulasi LB+G medium dimasukkan kedalam erlenmeyer
tertutup dan di inkubasi secara anaerobik pada 370C dan 2,5 Hz selama 14
jam sampai OD (600 nm) = 0,6.

d . Fermentasi
Medium untuk fermentasi adalah 4,88 kg/m3 NH4Cl, 1,53 kg/m3 KH2PO4,
0,4 kg/m3 Na2SO4, 0,23 kg/m3 NaCl, dan 0,46 kg/m3 MgSO4.7H2O, buffer
fosfat pH 6,3, dan gliserol yang divariasikan konsentrasi 10;20;30;40 g/L.
Fermentasi batch diawali dengan menginokulasi 10% starter kedalam 500
ml reaktor. Fermentasi dilakukan dengan menggunakan crude gliserol pada

14

konsentrasi 10, 20, 30, 40 g/L pada 37oC dengan selama 120 jam. Fermentor
dialiri gas nitrogen secara kontinyu untuk menciptakan kondisi anaerobik.
Pengambilan sampel dilakukan pada waktu yang ditentukan.
5. Metode Analisa
1.

Konsentrasi

sel

ditentukan

melalui

optical

density

spectrophotometer dengan panjang gelombang 600 nm.


2.

Konsentrasi etanol ditentukan melalui Gas Chromatography.

3.

Kadar gliserol ditentukan dengan metode titrasi.

6. Deskripsi Peralatan

Gambar 3. Six Reactor System (Cofre, et al, 2012)


Keterangan gambar:
1. Reaktor 500 ml
2. Kondensor
3. Inlet gas filter
4. Pipa sampel
5. Rotameter
6. Gas Nirogen
7. Cooling system (air 40C)
8. Water bath 370C

menggunakan

15

A. DATA PENGAMATAN
Tabel 3. Data Pengamatan Pengaruh Konsentrasi Substrat
Konsentrasi
Konsentrasi Etanol (g/L)
Substrat gliserol
Waktu (jam)
awal (g/L)
12 24 36 48 60 72 84 96 108

120

10
20
30
40

Konsentrasi
Substrat gliserol
awal (g/L)

Tabel 4. Data Pengamatan Yield Etanol


Yield Etanol (g/g gliserol)
Waktu (jam)
12 24 36 48 60 72 84 96

108

10
20
30
40
Tabel 5. Data Pengamatan Pertumbuhan Escherichia coli
Waktu (jam)
0
12
24
36
48
60
72
84
96
108
120

Optical Density

120

16

B. JADWAL KEGIATAN
Tabel 6. Jadwal kegiatan
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kegiatan

Bulan ke
3
4

Studi Literatur
Persiapan bahan baku dan alat
Tahap pelaksanaan
Analisa data
Evaluasi
Pembuatan Laporan

C. RENCANA BIAYA
1. Biaya habis pakai
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
10
11
12
13
14
15

Keterangan
Escherichia coli
Peptone
Ekstrak ragi
NaCl
Agar
NH4Cl
KH2PO4
Na2SO4
MgSO4.7H2O
Buffer fosfat
Aquades
Gliserol
H2SO4
Gas Nitrogen
Biaya analisa GC
Biaya analisa kadar
gliserol

Tabel 7. Biaya Habis Pakai


Jumlah
Harga satuan (Rp)
1
Rp. 300.000;
20
Rp. 6000/gr
10
Rp. 7000/gr
20
Rp. 2000/gr
10
Rp. 2000/gr
10
Rp. 4000/gr
4
Rp. 3000/gr
2
Rp. 3000/gr
2
Rp. 3000/gr
0,5
Rp. 400.000/0,5L
20
Rp. 1.000/L
2
Rp.200.000/L
30
Rp. 1000/ml
1
Rp.2.000.000
40
Rp. 150.000
1

Rp.50.000

TOTAL

Biaya (Rp)
Rp.300.000
Rp. 120.000
Rp. 70.000
Rp. 40.000
Rp. 20.000
Rp. 40.000
Rp. 12.000
Rp. 6.000
Rp. 6.000
Rp. 400.000
Rp.20.000
Rp.400.000
Rp. 30.000
Rp.2.000.000
Rp.6.000.000
Rp.50.000
Rp. 9.514.000

2. Biaya Peralatan
Tabel 8. Biaya peralatan
N
o
1
2
3
4
5
6

Keterangan
Sewa Autoklaf
Sewa Spectophotometry
Sewa Rotary Shaker
Six reactor system
Sewa lab
Sewa Glassware dll

Jumlah

Harga Satuan (Rp)

Biaya ( Rp)

1
1
1
1

Rp. 200.000
Rp. 200.000
Rp. 200.000
Rp. 600.000
Rp. 600.000
Rp. 300.000

Rp. 200.000
Rp. 200.000
Rp. 200.000
Rp. 600.000
Rp. 600.000
Rp. 300.000

17

TOTAL

Rp. 2.100.000

3. Biaya Penunjang
Tabel 9. Biaya penunjang
N
o
1
2

Keterangan

Jumlah

Biaya perjalanan
Biaya pembuatan laporan

Harga Satuan (Rp)

Biaya ( Rp)

Rp. 100.000
Rp. 300.000

Rp. 100.000
Rp. 300.000
Rp. 400.000

TOTAL
4. Rekapitulasi rencana biaya
Tabel 10. Rekapitulasi Rencana Biaya
N
o
1
2
3
4

Keterangan

Biaya ( Rp)

Biaya habis pakai


Biaya peralatan
Biaya penunjang
TOTAL

Rp. 9.514.000
Rp. 2.100.000
Rp. 400.000
Rp. 12.014.000

K. DAFTAR PUSTAKA
Adnan, N.A.A., et al, 2014. Optimization of Bioethanol Production from Glycerol by
Escherichia coli SS1. Renewable Energy a International Journal 66 (625-633).
Ainy E.Q, 2013. Seleksi Isolat Bakteri dan Optimasi Konsentrasi Awal Substrat Gliserol
dalam Fermentasi Etanol, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Apriwinda. 2013. Studi Fermentasi Nira Batang Sorgum Manis (Sorghum Bicolor (L)
Moench) untuk Produksi Etanol, Skripsi, tidak diterbitkan, Fakultas Pertanian
Universitas Hasanuddin Makassar.
Bajammal, F., dkk. 2007. Kajian Awal Produksi Etanol dari Gliserol sebagai Hasil
Samping Industri Biodiesel, KKPP Produk Teknik Kimia, Fakultas Teknologi
Industri, Institut Teknologi Bandung.
Chaudhary, N. 2010. Anaerobic Fermentation Of Glycerol By Escherichia Coli K12 For
The Production Of Ethanol. Canada: McGill University Montreal.

18

Chaudhary, N., et al. 2011. Biosynthesis of Ethanol and Hydrogen by Glycerol


Fermentation Using Escherichia coli. Advances in Chemical Engineering and
Science (2011) P. 83-89.
Chaudary, N., et al. 2012. Comparison of Glucose, Glycerol, and Crude Glycerol
Fermentation by Escherichia coli K12. Bioprocessing & Biotechniques an Open
Acces Journal.
Ciptanto, A. 2009. Optimization on Ethanol Production from Glycerol Using
Enterobacter Aerogenes TISTR 1468. Thailand: Prince of Songkla University.
Cofre, O., et,al. 2012. Optimization of Culture Media for Ethanol Production from
Glycerol by Escherichia Coli. Biomass and Bioenergy 37 (2012) P. 275-281.
Cong, T.T., Friedrich, S. 2009. Metabolic of Escherichia Coli for Efficient Conversion
of Glycerol to Ethanol. Applied and Environmental Microbiology Vol. 75, No. 21.
Durnin, G., et al. 2009. Understanding and Harnessing the Microaerobic Metabolism of
Glycerol in Escherichia coli. Biotechnology and Bioengineering Vol. 103, No. 1, 1
Mei 2009.
Industry Update Vol 2 Februari 2014, Bank Mandiri.
Kovalski, G., et al. 2013. Microbiological Fermentation of Glycerol to Obtain Alcohol
in Tryptose Culture Medium. Materials and Process for Energy: Communicating
Current Research and Technological Development.
Hasanah, A. 2008. Pengaruh Lama Fermentasi Terhadap Kadar Alkohol Tape Ketan
Hitam (Oryza sativa L var forma glutinosa) dan Tape Singkong (Manihot
utilissima Pohl), Skripsi, tidak diterbitkan, Jurusan Kimia Fakultas Sains dan
Teknologi Universitas Islam Negeri Malang.
Ito, T., et al. 2005. Hydrogen and Ethanol Production from Glycerol-Containing Wastes
Discharged after Biodiesel Manufacturing Process. Journal of Bioscience and
Bioengineering Vol. 100, No. 3, 260265. Japan : The Society for Biotechnology.

19

Kunaepah, U. 2008. Pengaruh Lama Fermentasi Dan Konsentrasi Glukosa Terhadap


Aktivitas Antibakteri, Polifenol Total Dan Mutu Kimia Kefir Susu Kacang Merah,
Tesis, tidak ditebitkan, Program Studi Magister Gizi Masyarakat Universitas
Diponegoro Semarang.
Lailatul, Q., dkk. 2011. Pemanfaatan Produk Samping Biodiesel Menjadi Bahan Bakar
Alternatif Menggunakan Microwave. Prosiding Seminar Nasional Teknologi
Industri XV 12 Mei 2011.
Melliawati, R. 2009. Escherichia Coli Dalam Kehidupan Manusia. BioTrends Vol.4
No.1 Tahun 2009.
Murarka, A., et al. 2008. Fermentative Utilization of Glycerol by Escherichia coli and
Its Implications for the Production of Fuels and Chemicals. Applied and
Environmental Microbiology Vol. 74 No.4 P. 11241135.
Nwachukwu, R. S., et al. 2012. Bioconversion of glycerol to ethanol by a mutant
Enterobacter aerogene. AMB Express Springer Open Journal.
Nwachukwu, R. S., et al. 2013. Optimization of cultural conditions for conversion of
glycerol to ethanol by Enterobacter aerogenes S012. AMB Express Springer Open
Journal.
Purwadi, R,. dkk. 2013. Pengolahan Gliserol, Limbah Biodiesel, Menjadi Produk
Bermanfaat Melalui Proses Biologis 1: Pemilihan Mikroba Potensial Jurnal
Teknik Kimia Indonesia Vol. 11, No. 4, 2013.
Syarief. 2010. Pengaruh Konsentrasi Adsorbat, Temperatur, dan Tegangan Permukaan
Pada Proses Adsorpsi Gliserol Oleh Alumina. Universitas Sebelas Maret.
Surakarta.
Thapa, L.P., et al. 2013. Development Of Glycerol-Utilizing Escherichia Coli Strain For
The Production Of Bioethanol. Enzyme and Microbial Technology 53 (2013) 206
215

20