Anda di halaman 1dari 10

Tortikolis Spasmodik

DEFINISI.
Spasmodik tortikolis adalah kekakuan dari pada otot-otot
leher, yang disebabkan oleh kontraksi klonik atau tonik
dari otot-otot servikal pada leher dengan gejala terjadi
kekakuan pada sistem saraf dan terdapatnya hysteria. Juga
merupakan bentuk dari distonia dengan karakteristik
intermitten dan gerakan involunter dari kepala yang
rekuren bersamaan dengan terjadinya kontraksi dari otot
leher.

PENYEBAB
Biasanya penyebabnya tidak diketahui.
Kadang beberapa keadaan berikut bisa menyebabkan terjadinya
tortikolis:
- Hipertiroidisme
- Infeksi sistem saraf
- Diskinesia tardiv (gerakan wajah abnormal akibat obat anti-psikosa)
- Tumor leher.
Bayi baru lahir bisa mengalami tortikolis (tortikolis kongenitalis) karena
adanya kerusakan otot leher pada proses persalinan.

GEJALA
Kejang otot leher disertai nyeri tajam bisa terjadi secara tiba-tiba dan
bisa terjadi terus menerus atau hilang-timbul.
Biasanya hanya satu sisi leher yang terkena.
Arah dari miring dan berputarnya kepala tergantung kepada otot leher
mana yang terkena.
Sepertiga penderita juga mengalami kejang di daerah lainnya, yaitu
biasanya di kelopak mata, wajah, rahang atau tangan.
Kejang terjadi secara mendadak dan jarang timbul pada waktu tidur.
Tortikolis bisa menetap sepanjang hidup penderita dan menyebabkan
nyeri berkepanjangan, terbatasnya gerakan leher serta kelainan bentuk
sikap tubuh.

Etiologi dan patologi


Pada masa lalu terjadinya tortikolis adalah kegagalan pada otot
leher dimana timbul hysteria yang berlebihan.
Dimana gejalanya sama dengan kelainan yang disebabkan secara
organik. Ketika tortikolis diketahui berhubungan dengan efek
voluter bentuk dari gejala yang ada adalah hysteria, dimana bentuk
awal dari gejala ini adalah tic. Bentuk hysteria berasal dari gejala
yang merupakan respon dari pengobatan dari terjadinya kelainan
emosional yang utama.
Spasme tortikolis ini disebabkan oleh keadaan
keturunan dimana terjadinya dari gen autosomal
dominan atau autosomal resesif

Secara fisiologis tortikolis adalah kelainan bentuk


atau posisi dari kepala. Perputaran posisi dari
kepala
diikuti
dengan
perubahan
secara
unilateral pada bagian leher dan terjadi aktivasi
pada N.VIII (N.Vestibulokohlearis) yang gunanya
untuk mempertahankan posisi dari kepala dan
tortikolis kemungkinan disebabkan dari kelainan
fungsi-fungsi diatas termasuk kalainan yang
terjadi pada korpus striatum

Spasmodik tortikolis dapat saja terjadi pada remaja atau dewasa


Onset terjadinya spasmodik tortikolis ialah intermiten terjadi saat
rotasi dan fleksi pada kepala pada satu sisi. Pada kebanyakan kasus
gerakan dari kepala terjadi secara intermiten dan berhubungan
dengan kontraksi dari otot leher yang terjadi secara periodik
irregular
Spasmodik tortikolis biasanya disertai komplikasi bleparospasme
atau distonia mandibular dan writers cramp.
Tortikolis bisa menetap sepanjang hidup penderita dan
menyebabkan nyeri berkepanjangan, terbatasnya gerakan leher serta
kelainan bentuk sikap tubuh

Diagnosis
Perbedaan antara tortikolis hysteria dan tortikolis organic sangat sulit
dibedakan .
Pemeriksaan diagnosis:
1.Elektromiografi (EMG) menunjukkan adanya kontraksi otot yang
persisten pada otot leher termasuk m.sternocleidomastoideus, m.splenius
capitus dan m.trapezius.
2. Pemeriksaan fungsi tiroid, hal ini harus dilakukan karena dapat saja
terjadi perubahan pada tiroid yaitu hipertiroidisme. Beberapa pasien
dapat saja memperlihatkan keadaan eutiroid.
3. Pemeriksaan MRI/CT-Scan pada servikal vertebrae harus dilakukan
bila ada nyeri pada leher.

Penatalaksanaan
Hysteria tortikolis harus diterapi secara psikoterapi atau abreasi
bersamaan dengan terjadinya gejala hysteria ( Peterson 1945) dan pasien
harus diberikan pelumpuh otot (muscle relaxan), sedatif dan obat-obat
penenang seperti klordiazepoxid (Librium) 10 mg 3-4 kali per hari atau
diazepam (valium) 2-5 mg 3 kali sehari dapat diberikan.
Pemijatan dapat saja dilakukan untuk mengurangi rasa sakit yang ada
Kadang dilakukan pembedahan untuk mengangkat saraf dari otot yang
mengalami kelainan. Pembedahan dilakukan jika pengobatan lainnya
tidak berhasil
Pada tortikolis kongenitalis dilakukan terapi fisik yang intensif untuk
meregangkan otot yang rusak, yang dimulai pada bulan-bulan pertama.
Jika terapi fisik tidak berhasil dan dimulai terlalu lambat, maka otot
harus diperbaiki melalui pembedahan

Terapi

1.Kasus ringan menunjukkan respon yang baik terhadap benzodiazepine sama halnya pada
diazepam 10-40 mg 4 hari. Atau lorazepam 3-6 mg selama 4 hari dalam 2-3 kali pemberia
Pada kasus yang sama terapi bisa dimulai dengan dosis rendah kemudian ditingkatkan,
hal ini dilakuakn untuk menghindari kekeringan pada mulut.
2. Dosis tinggi diberikan untuk Triheksilpenidil 20-40 mg/hari. Biasanya dosis ini diberikan
kepada pasien yang menderita secara kronik.
3. Haloperidol 0,5 mg 2 kali sehari ditingkatkan hingga 5 mg selama 4 hari.
4. Baklofen dengan dosis tertinggi 120 mg/ hari menunjukkan hasil yang baik
pada beberapa kasus.
5. Dengan melakukan pelatihan sensorik pada beberapa kasus menunjukkan hasil yang baik.
6. Injeksi pada 2 atau lebih otot leher dengan menggunakan
toksin botulinum dibawah control EMG.
Terapi sangat efektif terhadap gejala yang telah ada selama beberapa minggu atau bulan.
Penggunaan terapi diatas memiliki efek samping disfagia. Injeksi diatas
dapat diulang bila gejala kembali muncul.
7. Stimulasi pada bagian sensorik tertentu dapat dilakukan pada bagian anatomi tertentu.
Stimulasi dilakukan berulangkali.

Prognosis
Tortikolis umumnya dapat diatasi tetapi dengan adanya kejadian hysteria
maka hal yang harus dilakukan Ialah terapi kejiwaan (psikoterapi),
abreasi atau hypnosis. Operasi radikal dari radikulotomi dan neurektomi
memberikan hasil yang bagus pada beberapa kasus yang diduga
penyebabnya adalah organic, meskipun kekakuan dapat terjadi setelah
dilakukan operasi