Anda di halaman 1dari 47

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

MAKALAH TAKSONOMI TUMBUHAN


NON-VASKULER

Disusun oleh:
Denis Prasetia
(061109)

Dosen Pembimbing:
Dra. Triastinurmiatiningsih, M.Si.

PROGRAM STUDI BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2012

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan hidayahnya sampai hari ini sehingga penulis masih sempat
menyelesaikan makalah mengenai tumbuhan non-Vaskuler ini. Shalawat dan
salam tidak lupa dipanjatkan kehadirat baginda Rosulullah SAW.
Akhir-akhir ini kita sering ditimpa masalah global mengenai lingkungan,
hal ini disebabkan karena sudah berkurangnya lahan hutan yang merupakan
ekosistem yang kompleks yaitu tempat tingglnya hewan dan tumbuhan.
Tumbuhan menyokong kehidupan di bumi dengan menyerap Karbon lalu
menghasilkan Oksigen yang kemudian dipergunakan oleh hewan bahkan manusia.
Sering bertamnbahnya waktu, biodiversitas tumbuhan semakin berkurang
dikarenakan kegiatan manusia, hal ini sudah pasti dapat merugikan semua
makhluk yang hidup didaratan bumi, tumbuhan yang merupakan penghasil
Oksigen sudah semakin terbatas, oleh karena itu penulis berinisiatif untuk
mengumpulkan informasi mengenai dunia tumbuhan khususnya tumbuhan tingkat
rendah dan tumbuhan tidak berpembuluh (non-Vaskuler) yang sekarang ini sudah
sangat jarang diperhatikan. Melalui makalah ini penulis berharap semoga dapat
menanmbah wawasan dan informasi mengenai dunia tumbuhan khususnya
tumbuhan tingkat rendah dan tumbuhan tidak berpembuluh non-Vaskuler..
Tiada gading yang tak retak, mungkin itulah ungkapan yang tepat untuk
menilai makalah ini, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
bermanfaat dari para pembaca, akhir kata penulis ucapkan Wassalamualaikum
warahmatullah wabarakatuuh.

Bogor, 31 Juli 2012

Penulis

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR .............................................................................. i
DAFTAR ISI ........................................................................................... ii
DAFTR GAMBAR ................................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................... 1
1.2 Tujuan ........................................................................................ 1
BAB II ISI ............................................................................................... 2
2.1 Briophita .................................................................................... 2
2.1.1 Karakteristik Briophita ..................................................... 3
2.1.2 Klasifikasi Briophita ......................................................... 4
2.1.1 Lumut Daun/Musci (Brioceae) ................................ 4
2.1.2 Lumut Hati (Hepaticeae) ......................................... 6
2.1.3 Lumut Tanduk ......................................................... 7
2.1.3 Reproduksi Briophita ....................................................... 7
2.1.4 Siklus Hidup Briophita ..................................................... 8
2.1.5Perkembangan Briophita ................................................. 10
2.1.6 Pergiliran Keturunan Briophita ....................................... 11
2.1.7 Mnfaat Briophita ............................................................ 11
2.2 Lichens ....................................................................................
2.2.1 Karakteristik Lichens .....................................................
2.2.2 Morfologi Thallus Lichens .............................................
2.2.3 Klasifikasi Lichens .........................................................
2.2.4 Perkembangbiakan Lichens ............................................
2.2.5 Peranan Lichens .............................................................

12
16
17
20
22
23

2.3 Fungi .......................................................................................


2.3.1 Habitat Fungi .................................................................
2.3.2 Karakteristik Morfologi dan Fisiologi Fungi ...................
2.3.3 Posisi Fungi dalam Taksonomi .......................................
2.3.4 Reproduksi Fungi ...........................................................
2.3.5 Klasifikasi Fungi ............................................................

25
27
27
29
31
31

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

2.4 Tumbuhan Paku (Pteridhopyta) ................................................


2.4.1 Morfologi Tumbuhan Paku .............................................
2.4.2 Reproduksi Tumbuhan Paku ...........................................
2.4.3 Daur Hidup Tumbuhan Paku ..........................................
2.4.4 Klasifikasi Tumbuhan Paku ............................................
2.4.5 Manfaat Tumbuhan Paku bagi Manusia ..........................

32
32
34
34
35
39

BAB III PENUTUP ............................................................................... 40


3.1 Kesimpulan .............................................................................. 40
3.2 Saran ........................................................................................ 40
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 41

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1 Briophita ................................................................................... 3
Gambar 2 Morfologi Briophita .................................................................. 4
Gambar 3 Lumut Daun ............................................................................. 5
Gambar 4 Lumut Hati ............................................................................... 6
Gambar 5 Lumut Tanduk .......................................................................... 7
Gambar 6 Siklus Hidup Briophita ............................................................. 9
Gambar 7 Lichens ................................................................................... 13
Gambar 8 Jenis-jenis Fungi ..................................................................... 25
Gambar 9 Siklus Hidup Kapang Rhizopus orizeae ................................... 30
Gambar 10 Tumbuhan Paku .................................................................... 33

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kingdom plantae merupakan makhluk hidup yang sudah dapat dibedakan
antara akar, batang dan daun (kormophyta). Para ahli membagi dunia tumbuhan
menjadi 2 kelompok yaitu tumbuhan non vaskuler (tumbuhan tak berpembuluh)
dan tumbuhan vaskuler (tumbuhan berpembuluh).
Tumbuhan non vaskuler artinya tumbuhan yang belum memiliki
pembuluh. Pembuluh merupakan jaringan yang tersusun atas sel sel yang
dihubungkan satu sama lain yang berfungsi mengangkut air dan zat-zat hara ke
seluruh tubuh tumbuhan.
Tumbuhan tingkat rendah atau yang sering disebut dengan tumbuhan
tidak berpembuluh (non-Vaskuler) ini merupakan tumbuhan perintis yang pertama
kali hidup di daratan bumi. Organisme ini menjadi tumbuhan perintis pada
daerah-daerah yang dingin, kering maupun lembab sehingga pada akhirnya dapat
mendukung pertumbuhan organisme lainnya.
Tumbuhan non-Vaskuler terbagi menjadi 4 golongan besar tanaman,
yaitu: Briophita (Lumut), Lichens, Fungi, dan yang sudah termasuk tumbuhan
tingkat tinggi yaitu Pteridhopita (Paku). Sebenarnya tumbuhan paku sudah
mempunyai jaringan pembuluh berupa xylem dan floem dan sudah jelas dapat
dibedakan antara daun, batang dan akarnya, hanya saja belum memiliki biji untuk
reproduksinya, tumbuhan ini masih menggunakan spora sebagai alat perbanyakan
generatifnya, sama seperti lumut dan fungi.
2.1 Tujuan
Mempelajari karakter , Klasifikasi, Siklus hidup, Pola Reproduksi, serta
manfaat dalam kehidupan yang dapat dimanfaatkan pada tumbuhan nonvaskuler.
Sebagai salah satu syarat penilaian dalam mata kuliah Taksonomi
Tumbuhan non-vaskuler.

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

BAB II
ISI
2.1 Briophita (Lumut)
Lumut merupakan kelompok tumbuhan yang telah beradaptasi dengan
lingkungan darat. Kelompok tumbuhan ini penyebarannya menggunakan spora
dan telah mendiami bumi semenjak kurang lebih 350 juta tahun yang lalu. Pada
masa sekarang ini Bryophyta dapat ditemukan disemua habitat kecuali di laut.
Dalam skala evolusi lumut berada diantara ganggang hijau dan tumbuhan
berpembuluh (tumbuhan paku dan tumbuhan berbiji). Persamaan antara ketiga
tumbuhan tersebut adalah ketiganya mempunyai pigmen fotosintesis berupa
klorofil A dan B, dan pati sebagai cadangan makanan utama.
Perbedaan mendasar antara ganggang dengan lumut dan tumbuhan
berpembuluh telah beradaptasi dengan lingkungan darat yang kering dengan
mempunyai organ reproduksi (gametangium dan sporangium), selalu terdiri dari
banyak sel (multiselluler) dan dilindungi oleh lapisan sel-sel mandul, zigotnya
berkembang menjadi embrio dan tetap tinggal di dalam gametangium betina.
Oleh karena itu lumut dan tumbuhan berpembuluh pada umumnya
merupakan tumbuhan darat tidak seperti ganggang yang kebanyakan aquatik
Lumut dapat dibedakan dari tumbuhan berpembuluh terutama karena lumut
(kecuali Polytrichales) tidak mempunyai sistem pengangkut air dan makanan.
Selain itu lumut tidak mempunyai akar sejati, lumut melekat pada substrat dengan
menggunakan rhizoid.
Siklus hidup lumut dan tumbuhan berpembuluh juga berbeda. Pada
tumbuhan berpembuluh, tumbuhan sesungguhnya di alam merupakan generasi
aseksual

(sporofit),

sedangkan generasi

gametofitnya

sangat

tereduksi.

Sebaliknya pada lumut, tumbuhan sesungguhnya merupakan generasi seksual


(gametofit). Sporofit lumut sangat tereduksi dan selama perkembangannya
melekat dan tergantung pada gametofit.

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

Gambar 1 Briophita
Briophyta

merupakan salah satu bentuk adaptasi

yang membuat

tumbuhan aquatik berpindah kedaratan untuk yang pertama kalinya. Maka


briophyta seringkali disebut sebagai tumbuhan perintis atau pioner. Briphyta
merupakan nama dari bahsa Yunani bryon yang artinya lumut. Hampir pada
semua jenis lumut tidak memiliki jaringan yang diperkuat oleh lignin seperti pada
tumbuhan tingkat tinggi. Oleh karena itu briophyta selalu memiliki profil yang
rendah.
2.1.1 Karakteristik Briophita
Lumut mempunyai ciri dan karakter yang khas dibanding dengan
tumbuhan lain, yaitu diantaranya:
Berwarna hijau, karena sel-selnya memiliki kloroplas (plastida).
Struktur tubuhnya masih sederhana, belum memiliki jaringan pengangkut.
Proses pengangkutan air dan zat mineral di dalam tubuh berlangsung
secara difusi dan dibantu oleh aliran sitoplasma.
Hidup di rawa-rawa atau tempat yang lembab.
Ukuran tinggi tubuh 20 cm.
Dinding sel tersusun atas sellulose.
Gametangium terdiri atas anteredium dan archegoniom.

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

Daun lumut tersusun atas selapis sel berukuran kecil mengandung


kloroplas seperti jala, kecuali pada ibu tulang daunnya.
Hanya mengalami pertumbuhan primer dengan sebuah sel pemula
berbentuk tetrader.
Belum memiliki akar sejati, sehingga menyerap air dan mineral dalam
tanah menggunakan rhizoid.
Rhizoid terdiri atas beberapa lapis deretan sel parenkim.
Sporofit terdiri atas kapsul dan seta.
Sporofit yang ada pada ujung gametofit berwarna hijau dan memiliki
klorofil, sehingga bisa melakukan fotosintesis.

Gambar 2 Morfologi Briophita


2.1.2 Klasifikasi Briophita
Briophyta terbagi kedalam 3 kelompok/kelas yaitu lumut daun (Musci),
lumut hati (Hepaticae), dan lumut tanduk (Anthocerotaceae). Walaupun dalam
taksonomi yang tegolong kedalam briophyta hanya lumut daun, tetapi para ahli
biologi masih sepakat untuk memsukan lumut hati dan lumut tanduk kedalam
briophyta. Hal itu tetap dianggap sah karena pada ketiga lumut tersebut masih
memiliki persamaan karakteristik.
2.1.2.1 Lumut Daun/Musci (Brioceae)
Disebut lumut daun karena pada jenis lumut ini telah ditemukan daun
meskipun ukurannya masih kecil. Lumut daun merupakan jenis lumut yang
banyak dijumpai sehingga paling banyak dikenal. Contoh-contoh spesiesnya
adalah Polytrichum juniperinum, Furaria, Pogonatum cirratum, dan Sphagnum.

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

Lumut daun mudah dikenali karena secara morfologi telah memiliki akar
(rizhoiod), batang, dan daun walaupu strukturnya tidak homolog seperti pada
tumbuhan vaskulrer. Lumut daun memiliki ukuran yang relatif kecil, tingginya
antara 1-2 cm dan yang tertinggi hanya mencapai 20 cm.
Lumut daun memiliki dampak yang cukup kolektif terhadap permukaan
bumi. Hampir 3% daratan dipermukaan bumi ditutupi Sphagnum lumut gambut
yang banyak mengikat karbon organik. Lumut gambut juga berperan dalam
menstabilkan konsentrasi karbondioksida dipermkaan bumi akbat dari efek
rumah kaca.

Gambar 3 Lumut Daun


Lumut daun hidup berkelompok membentuk hamparan yang luas.
Meskipun lumut daun memiliki ukuran tubuh pendek, dampak kolektifnya pada
bumi sangat besar. Contoh lain dari lumut daun yang berperan dalam menyerap
karbon adalah Polytrichum.
Lumut daun memiliki cirr yaitu: Bentuk menyerupai tumbuhan tingkat
tinggi. Ada bagian seperti akar (rhizoid), batang, dan daunb, reproduksi dengan
spora dan membentuk gamet. Contoh Polytricum juniperinum, Furaria,
Pogonatum cirratum, Aerobrycis longgisima, Sphagnum sp. (Lumut gambut).

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

2.1.2.2 Lumut Hati (Hepaticeae)


Lumut hati tubuhnya berbentuk lembaran, menempel di atas permukaan
tanah, pohon atau tebing. Terdapat rizoid berfungsi untuk menempel dan
menyerap zat-zat makanan. Tidak memiliki batang dan daun. Reproduksi secara
vegetatif dengan membentuk gemma (kuncup), secara generatif dengan
membentuk gamet jantan dan betina. Contohnya: Ricciocarpus, Marchantia dan
lunularia.
Tubuhnya terbagi menjadi dua lobus sehingga tampak seperti lobus pada
hati. Siklus hidup lumut ini mirip dengan lumut daun. Didalam spongaria terdapat
sel yang berbentuk gulungan disebut alatera. Elatera akan terlepas saat kapsul
terbuka , sehingga membantu memencarkan spora. Lumut ini juga dapat
melakukan reproduksi dengan cara aseksual dengan sel yang disebut gemma, yang
merupakan struktur seperti mangkok dipermukaan gametofit.
Lumut hati (Hepaticae), merupakan tumbuhan yang kurang mencolok
mata dibandingkan dengan lumut daun. Memiliki generasi gametofit berbentuk
talus yang datar. Lumut ini banyak dijumpai pada daerah yan belum tercemar
sehingga dapat dijadikan indikator pencemaran udara dan hutan tropis merupakan
rumah bagi spesies lumut ini. Salah satu jenis lumut hati yang sering dijumpai
adalah Marchantia polymorpha.

Gambar 4 Lumut Hati


Ada 2 tipe lumut hati yaitu lumut hati bertalus (thallose liverwort) dan
lumut hati berdaun (leafy liverwort). Lumut hati melekat pada substrat dengan
rhizoid uniselluler. Pada kebanyakan lumut thalloid selain rhizoid juga dijumpai

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

sisik-sisik. Sporofit pada kelompok lumut ini hidupnya hanya sebentar, lunak dan
tidak berklorofil. Spora yang telah masak dikeluarkan dari kapsul dengan cara
kapsul pecah menjadi 4 bagian memanjang atau lebih.
2.1.2.3 Lumut Tanduk
Bentuk tubuhnya seperti lumut hati yaitu berupa talus, tetapi sporofitnya
berupa kapsul memanjang. Sel lumut tanduk hanya mempunyai satu kloroplas.
Hidup di tepi sungai, danau, atau sepanjang selokan. Reproduksi seperti lumut
hati. Contohnya Anthocerros sp.
Mempunyai gametofit lumut hati; perbedaannya adalah terletak pada
sporofit lumut ini mempunyai kapsul memanjang yang tumbuh seperti tanduk dari
gametofit, masing masing mempunyai kloroplas tunggal yang berukuran besar,
lebih besar dari kebanyakan tumbuhan lumut.Contoh lumut tanduk adalah
Anthoceros laevis.

Gambar 5 Lumut Tanduk


Bukti terbaru perbedaan antara lumut hati dengan lumut tanduk yaitu
didasarkan pada urutan asam nukleat menunjukkan bahwa , di antara semua
briofita, lumut tanduk yang paling dekat hubungan kekerabatannya dengan
tumbuuhan vaskuler lainnya.
2.1.3 Reproduksi Briophita
Kebanyakan dari tanaman memiliki dua bagian kromosom di sel-selnya
(diploid, beberapa kromosom hidup dengan sebuah pasangan yang mengandung
informasi genetik yang sama). Sedang lumut (dan Bryophyta lain) hanya memiliki

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

satu set kromosom (haploid, beebrapa kromosom hidup dalam sebuah salinan sel
yang unik). Periode siklus hidup lumut secara lengkap, merusak kromosom, tetapi
hal ini hanya pada sporofit.
Secara aseksual, menggunakan spora dan tunas, secara seksual, ex:
Maechantia. Anteridium terpancang pada permukaaan atas, bentuknya seperti
cakram. Dasar bunga betina agak melebar dan membentuk paying, dengan cuping
berbentuk jari, umumnya berjumlah 9. Arkegonium tumbuh pada alur-alur
diantara cuping-cuping dengan leher menekuk ke bawah. Anteridium merekah
mengeluarkan sperma menuju ke arkegonium. Generasi sporofit dari telur yang
sudah dibuahi (zigot).
Zigot membelah membentuk embrio (bentuk bola), bagian pangkal dari
embrio membentuk kaki masuk kejaringan reseptakel. Bagian terbesar dari janin
membentuk kapsulyang dipisahkan dari bagian kaki zona yang terdiri dari sel-sel
yang disebut tangkai. Kapsul berisi sel induk spora yang berkelompok (elater)
yaitu benang-benang memanjang dengan dinding bagian dalam terpilin.
Setelah miosis terbentuklah tetraspora, tangkainya yang memanjang
arkegonium yang melebar jadi pecah dan kapsul jadi terdorong ke bawah. Kapsul
lalu mongering dan terbuka memancarkan spora, lepasnya spora dari kapsul
dibantu dengan adanya elater yang sifatnya higroskopik. Akibat mengeringnya
kapsul elater menggulung, menjadi kering dan mengadakan gerakan sentakan
yang melempar spora ke udara
2.1.4 Siklus Hidup Briophita
Lumut hidup diawali dari sebuah spora haploid, yang bertunas untuk
memproduksi sebuah protonema, yang menumpuk filamen atau thalloid (flat dan
thallus like). Ini merupakan tingkatan sementara dalam hidup lumut. Dari
protonema tumbuh gametophore yang dideferensiasi menjadi tangkai dan akar/
leaves (mikrofil). Dari keterangan dari tangkai atau cabang develop organ sex
lumut. Organ betina disebut archegonia (archegonium) dan terlindungi oleh
kumpulan tangkai yang termodifikasi yang disebut perichaetum (plural,
perichaeta).

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

Archegonia memiliki leher disebut venters dimana sperma jantan turun.


Organ jantan disebut antheridia (singular antheredium) dan tertutup oleh
modifikasi tangkai disebut perigonium (plural, perigonia).Lumut bisa menjadi
dioicous atau monoicous. Pada lumut dioicous, kedua organ sex, jantan dan betina
terlahir pada gametofit tanaman. Pada monoicous (juga disebut autoicous) lumut,
mereka terlahir pada tanaman yang sama. Pada pengairan, sperma dari antheridia
berjalan ke archegonia dan terjadi fertilisasi, mengawali produksi sporofit diploid.
Sperma lumut adalah biflagellate, mereka memiliki dua flagella yang membantu
sebagai daya pendorong.
Tanpa air, fertilisasi tidak dapat terjadi. Setelah fertilisasi, sporofit
mandul didorong keluar dari archegonial venter. Ini membutuhkan kira-kira
seperempat sampai setengah tahun untuk sporofit untuk matang. Badan sporofit
terdiri dari gagang panjang, disebut seta, dan capsule disebut operculum. Capsule
dan operculum terlapisi oleh calyptra yang merupakan sisa archegonial venter.
Calyptra biasanya mengecil / berkurang ketika capsule matang. Withing the
capsule, sel-sel pereproduksi spora mengalami meiosis untuk membentuk spora
haploid, dimana siklus dapat berjalan lagi.
Mulut capsule biasanya dikelilingi oleh set gigi disebut peristome. Ini
mungkin tidak terjadi pada beberapa lumut.Pada beberapa lumut, struktur
vegetatif hijau disebut gemmae yang diproduksi pada tangkai atau cabang, yang
bisa merusak dan membentuk kembali tanaman tanpa perlu melalui fertilisasi. Ini
disebut dengan reproduksi asexual.

Gambar 6 Siklus Hidup Briophita

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

2.1.5 Perkembangan Briophita


Perkembangan lumut secara singkat berlangsung sebagai berikut : spora
yang kecil dan haploid, berkecambah menjadi suatu protalium yang pada lumut
dinamakan protonema. Protonema pada lumut ada yang menjadi besar, adapula
yang tetap kecil. Pada protoneme ini terdapat kuncup-kuncup yang tumbuh dan
berkembang menjadi tumbuhan lumut.
Tubuh tumbuhan lumut berupa tallus seperti lembaran-lembaran daun
(hepaticae), atau telah mempunyai habitus seperti pohon kecil dengan batang dan
daun-daunnya (pada musci), tetapi belum terdapat akar yang sesungguhnya,
melainkan hanya rizoid-rizoid yang berbentuk benang-benang atau kadangkadang memang telah menyerupai akar. Pada tumbuhan inilah dibentuk
gametangium.
Setelah sel telur dibuahi oleh spermatozoid yang bentuknya seperti spiral
atau alat pembuka gabus tutup botol dengan dua bulu cambuk, maka zigot tidak
memerlukan waktu istirahat tetapi terus berkembang menjdi embrio yang diploid.
Bagian bawah embrio dinamakan kaki embrio . Kaki masuk ke jaringan lumut
yang lebih dalam dan berfungsi sebagai alat penghisap (haustorium).
Embrio lalu tumbuh suatu badan yang bulat atau lonjong dengan tangkai
pendek atau panjang dan seperti sporogonium. Di dalam bagian yang bulat itu
dibentuk spora, oleh sebab itu bagian tersebut juga disebut capsule spora. Capsule
spora juga dianggap sinonim dengan sporogonium karena leher arkegonium amat
sempit, maka sporogonium tidak dapat menembusnya dan bekas dinding
arkegonium ikut terangkat dan merupakan tudung capsule spora.
Mengingat bentuknya seperti tudung akar, pada ujung akar dan mungkin
juga mempunyai fungsi yang sama sebagai pelindung, maka bekas dinding
arkegonium juga dinamakan kaliptra. Jaringan dalam capsule spora dinamakan
arkespora. Arkespora membentuk sel induk spora, dan dari satu sel induk spora
dengan pembelahan reduksi terjadilah 4 spora yang berkelompok merupakan
tetrade.
Seringkali pada pembentukan spora ditentukan pula jenis kelaminnya.
Dari spora, bergantung pada macam sporanya, akan utmbuh lumut yang berumah

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

satu atau berumah dua. Spora membulat sebelum terpisah-pidah dan terlepas dari
capsule spora.
2.1.6 Pergiliran Keturunan Briophita
Tumbuhan lumut mengalami pergiliran keturunan dalam daur hidupnya.
Apa yang dikenal orang sebagai tumbuhan lumut merupakan tahap gametofit
(tumbuhan penghasil gamet) yang haploid (x = n). Dengan demikian, terdapat
tumbuhan lumut jantan dan betina karena satu tumbuhan tidak dapat
menghasilkan dua sel kelamin sekaligus.Sel-sel kelamin jantan (sel sperma)
dihasilkan dari anteridium dan sel-sel kelamin betina (sel telur atau ovum) terletak
di dalam arkegonium.Kedua organ penghasil sel kelamin ini terletak di bagian
puncak dari tumbuhan.
Anteridium yang masak akan melepas sel-sel sperma. Sel-sel sperma
berenang (pembuahan terjadi apabila kondisi lingkungan basah) menuju
arkegonium untuk membuahi ovum.Ovum yang terbuahi akan tumbuh menjadi
sporofit yang tidak mandiri karena hidupnya disokong oleh gametofit. Sporofit ini
diploid (x = 2n) dan berusia pendek (3-6 bulan untuk mencapai tahap kemasakan).
Sporofit akan membentuk kapsula yang disebut sporogonium pada bagian ujung.
Sporogonium berisi spora haploid yang dibentuk melalui meiosis. Sporogonium
masak akan melepaskan spora. Spora tumbuh menjadi suatu berkas-berkas yang
disebut protonema. Berkas-berkas ini tumbuh meluas dan pada tahap tertentu akan
menumbuhkan gametofit baru.
2.1.7 Manfaat Briophita
1. Sebagai tanaman hias
Platycerum bifurcatum (paku tanduk rusa)
Asplenium nidus (paku sarang burung)
Adiantum cuneatum (Suplir)
Selaginella wildenowii (paku rane)
2.

Sebagai bahan penghasil obat-obatan, contoh: Asipidium filix-mas dan


Lycopodium clavatum.

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

3. Sebagai sayuran, Contoh: Marsilea crenata dan Salvinia natans.


4. Sebagai pupuk hijau, Contoh: Azolla pinnata bersimbiosis dengan
Anabaena azollae
5. Sebagai pelindung tanaman di persemaian, Contoh: Gleichenia linearis
6. Sebagai tempat untuk menanam anggrek, Contoh: Alsophilla glauca.

2.2 Lichens
Lichenes (lumut kerak) merupakan gabungan antara fungi dan alga
sehingga secara morfologi dan fisiologi merupakan satu kesatuan. Lumut ini
hidup secara epifit pada pohon-pohonan, di atas tanah terutama di daerah sekitar
kutub utara, di atas batu cadas, di tepi pantai atau gunung-gunung yang tinggi.
Tumbuhan ini tergolong tumbuhan perintis yang ikut berperan dalam
pembentukan tanah. Tumbuhan ini bersifat endolitik karena dapat masuk pada
bagian pinggir batu. Dalam hidupnya lichenes tidak memerlukan syarat hidup
yang tinggi dan tahan terhadap kekurangan air dalam jangka waktu yang lama.
Lichenes yang hidup pada batuan dapat menjadi kering karena teriknya matahari,
tetapi tumbuhan ini tidak mati, dan jika turun hujan bisa hidup kembali.
Lichenes menghasilkan lebih dari 500 senyawa biokimia yang unik untuk
dapat beradaptasi pada habitat yang ekstrim. Senyawa tersebut berguna untuk
mengontrol sinar terik matahari, mengusir/menolak (repellen) herbivora,
membunuh mikroba dan mengurangi kompetisi dengan tumbuhan, dll.
Diantaranya berbagai jenis pigmen dan antibiotik yang juga membuat
lichenes ini sangat berguna bagi manusia pada masyarakat tradisional. Tumbuhan
ini memiliki warna yang bervariasi seperti putih, hijau keabu-abuan, kuning,
oranye, coklat, merah dan hitam.
Alga dan jamur bersimbiosis membentuk lichenes baru jika bertemu jenis
yang tepat. Para ahli mengemukakan berbagai pendapat mengenai pengelompokan
atau klasifikasi lichenes dalam dunia tumbuhan. Ada yang berpendapat bahwa
lichenes dimasukkan ke dalam kelompok yang tidak terpisah dari jamur, tapi
kebanyakan ahli berpedapat bahwa lichenes perlu dipisahkan dari fungi atau
menjadi golongan tersendiri.

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

Gambar 7 Lichens
Alasan dari pendapat yang kedua ini adalah karena jamur yang
membangun tubuh lichenes tidak akan membentuk tubuh lichenes tanpa alga. Hal
lain didukung oleh karena adanya zat-zat hasil metabolisme yang tidak ditemui
pada alga dan jamur yang hidup terpisah.
Dengan demikian, Lumut kerak (atau Lichenes dalam istilah ilmiah)
adalah suatu organisme majemuk yang merupakan suatu bentuk simbiosis erat
dari fungus(sebagai mycobiont) dengan mitra fotosintetik (photobiont), yang
dapat berupa alga hijau (biasanya Trebouxia) atau sianobakteri (biasanyaNostoc).
Kerja sama ini demikian eratnya sehingga morfologinya pun berbeda
dari komponen simbiotiknya. Pada beberapa kasus bahkan masing-masing
komponen akan mengalami kesulitan hidup apabila ditumbuhkan terpisah.
Organisme ini sebenarnya kumpulan antara Fungi dan Algae, tetapi sedemikian
rupa, hingga dari segi morfologi dan fisiologi merupakan suatu kesatuan.
Tumbuhan ini tergolong dalam tumbuhan perintis yang ikut berperan dalam
pembentukan tanah. Beberapa jenis dapat masuk pada bagian pinggir batu-batu,
oleh karenanya disebut bersifat endolitik.
Pertumbuhan thalusnya sangat lambat, dalam satu tahun jarang lebih dari
1 cm. tubuh buah baru terbentuk setelah mengadakan pertumbuhan vegetatif
bertahun-tahun. Algae yang ikut menyusun tubuh Lichenes disebut gonidium,
dapat bersel tunggal atau berkoloni. Kebanyakan gonidium adalah ganggang biru
(Cyanophyceae) antara lain Chroococcus dab Nostoc, kadang-kadang juga
ganggang hijau 9chlorophyceae) misalnya Cystococcus dan Trentepohlia.

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

Kebanyakan cendawan yang ikut menyusun Lichenes tergolong ke dalam


Ascomycetes terutama Discomycetales, hanya kadang-kadang Pyrenomycetales.
Mungkin juga Basidiomycetes mengambil bagian dalam pembentukan Lichenes.
Kebanyakan cendawan-cendawan tertentu bersimbiosis dengan ganggang
tertentru pula. Untuk memelihara Lichenes pada medium buatan dijimpai
bamnyak kesukaran. Tetapi jika cendawan dan ganggangnya dipisahkan, masingmasing dapat dipiara dengan mudah pada medium buatan.
Pada umumnya Lichenes pada medium buatan tidak memperlihatkan
pertumbuhan yang kuat. Jadi daya untuk hidup sendiri telah hilang, sehingga
cendawan itu dalam jarang sekali ditemukan dalam keadaan hidup bebas. Dalam
kultur murni cendawan itu memperlihatkan susunan morfologi menurut jenisnya,
tetapi bentuk thalus seperti Lichenes baru terjadi, jika bertemu dengan jenis
ganggang yang tepat. Lain ganggang akan menghasilkan lain Lichenes. Jadi
bentuk lichenes bergantung pada macam cara hidup bersama antara kedua macam
organisme yang menyusunnya. Hidup bersama antara dua organisme yang
berlainan jenis umumnya disebut simbiosis. Masing-masing organisme itu sendiri
disebut simbion. Dalam pembicaraan sehari-hari simbiosis itui sering diartikan
sebagai hidup bersama dengan keuntungan bagi kedua simbion, yang seharusnya
dinamakan mutualisme.
Pada lichenes simbiosis antara fungi dan algae diberikan tafsiran yang
berbeda-beda. Ada yang menafsirkan sebagai mutualisme, karena dipandang
kedua-duanya dapat memperoleh keuntungan dari hidup bersama itu. Ganggang
memberikan hasil-hasil fotosintesis terutama yang berupa karbohidrat kepada
cendawan, dan sebaliknya cendawan memberikan air dan garam-garam kepada
ganggang. Dapat juga hubungan antara ganggang dan jamur itu dianggap sebagai
suatu helotisme. Keuntungan yang timbal balik itu hanya sementara, yaitu pada
permulaan saja, tetapi akhirnya ganggan diperalat oleh cendawan, hubungan mana
menyerupai hunbungan seorang majikan dengan budaknya (heloot).
Dalam hal ini hidup bersama antara cendawan dan ganggang pada
Lichenes dinamakan helotisme. . Mengenai hal tersebut memang masih belum
tercapai persesuaian paham. Pada penampang melintang talus lichenes tampak

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

hifa cendawan sering kali membalut sel-sel ganggang, bahkan ada yang
memasukkan haustorium ke dalam sel-sel ganggang. Ganggang tetap hidup, tetapi
tidak dapat membiak dengan sel-sel lembaganya sendiri. Adapula yang miselium
cendawan hanya msuk kedalam selaput lender sel-sel ganggang.
Dalam hal tersebut bentuk ganggang menentukan bentuk Lichenes. Pada
umumnya miselium cendawan jauh lebih banyak bagian dalam takus terdiri atas
anyaman hiva yang renggang dan merupakan lapisan teras(lapisan empulur).
Dalam lapisan ini dekat dengan permukaan sel-sel ganggang, bergerombol yang
merupakan lapisan yang dinamakan lapisan gonidium. Kulit luarnya terdiri atas
mislelium cendawan lagi yang teranyam sebagai plektenkim dengan rapat.
Menurut habitusnya kita membedakan Lichenes yang talusnya menyerupai
lembaran-lembaran, dan seperti semak. Yang pertama biasanya melekat dengan
benang-benang menyerupai rizoid pada substratnya dengan seluruh sisi bawah
talus, sedang yang kedua mempunyai ujung talus yang bebas dalam udara.
Pembagian ini sama sekali tidak menunjukkan hubungan filogenetik antara
anggota-anggota yang tergolong di dalamnya.
Kebanyakan Lichenes berkembang biak vegetatif, karena bila sebagian
talus terpisah lalu tumbuh menjadi individu baru. Pada bebarapa jenis
Lichenes,pembiakan berlangsung dengan perantaraan soredium, yaitu kelompok
kecil sel-sel ganggang yang sedang membelah dan diselubungi benang-benang
miselium menjadi suatu badan yang dapat terlepas dari indukknya. Dengan
robeknya dinding talus soredium tersebar seperti debu yang ditiup angin. Bendabenda tersebut pada tempat lain dapat tumbuh menjadi Lichenes baru.
Seringkali soredium itu tetjadi dalam talus pada tempat-tempat yang
mempunyai batas yang jelas yang dinamakan soralum. Pada talus Lichenes,
cendawan akhirnya dapat membentuk tubuh buah yang menurut jenis cendawan
dapat berupa apotesium atau peritesium. Spora yang dilepaskan , di tempat yang
baru jika menjumpai jenis ganggang yang tepat, yang sama dengan jenis
ganggang pada talus indukknya.Menurut habitusnya, Lichen dibagi menjadi dua
yaitu :
1. Lichenes dengan talus berbentuk lembaran-lembaran

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

2. Lichenes dengan talus berbentuk semak-semak


Pada tipe Lichen dengan talus lembaran, talus seluruhnya melekat
dengan sisi bawahnya pada alas sedangkan tipe Lichen dengan talus berbentuk
semak-semak, hanya pangkal talus saja yang melekat pada alas dan ujungnya
tetap bebas dan bercabang-cabang seperti batang Cormophyta.
2.2.1 Karakteristik Lichens
Lichenes memiliki ciri-ciri umum dan karakteristik yang khas sebagai
berikut:
1. Pada Penampang melintang talus Lichenes, kelihatan hifa cendawan
membalut sel-sel algae, bahkan ada yang memasukkan haustorium ke
dalam sel-sel algae. Algae tetap hidup tetapi tidak dapat membiak dengan
sel-sel lembaganya sendiri.
2. Ada pula yang miselium cendawannya hanya masuk ke dalam selaput
landersel-sel

algae,

sehingga

bentuk

algae

menentukan

bentuk

Lichenesnya.
3. Bagian dalam talus terdiri dari anyaman hifa yang renggang dan
merupakan lapisan teras / empulus. Dalam lapisan ini sel-sel algae
bergerombol membentuk lapisan gonidium. Kulit luarnya terdiri atas
miselium cendawan yang teranyam sebagai plektenkim yang rapat.
4. Bagi lichenes yang talusnya menyerupai lembaran, biasanya melekatF
dengan benang-benang yang menyerupai rizoid. Sedangkan ujung semak
menyerupai ujung talus yang bebas dalam udara.
5.

Lichenes hidup sebagai epifit pada pohon-pohonan, tetapi dapat juga di


atas tanah, terutama di daerah tundra, digolongkan sebagai tumbuhan
perintis yang ikut berperan dalam pembentukan tanah. Beberapa jenis
dapat masuk pada pinggir batuan, disebut endolitik.

6. Syarat hidupnya tidak sulit dan taha terhadap kekurangan air dalam waktu
yang lama.Dapat menjadi kering akibat terik matahari tetapi tidak mati,
dan jika kemudian turun hujan, Lichenes dapat hidup kembali

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

7. Pertumbuhaan talus sangat lambat. Tubuh buah baru terbentuk setelah


mengadakan pertumbuhan vegetative bertahun-tahun.
8. Kebanykan Lichenes bereproduksi dengan perantaan soredium.
9. Komponen cendawannya sering dapat membentuk spora dan hanya
membentuk lichenes jika jatuh dekat algae yang merupakan simbionnya.
2.2.2 Morfologi Thallus Lichens
1) Morfologi Luar
Tubuh lichenes dinamakan thallus yang secara vegetatif mempunyai
kemiripan dengan alga dan jamur. Thallus ini berwarna abu-abu atau abuabu kehijauan. Beberapa spesies ada yang berwarna kuning, oranye, coklat
atau merah dengan habitat yang bervariasi.
Bagian tubuh yang memanjang secara selluler dinamakan hifa. Hifa
merupakan organ vegetatif dari thallus atau miselium yang biasanya tidak
dikenal pada jamur yang bukan lichenes. Alga selalu berada pada bagian
permukaan dari thallus.
Berdasarkan bentuknya lichenes dibedakan atas empat bentuk :
a. Crustose

Lichenes yang memiliki thallus yang berukuran kecil, datar, tipis dan
selalu melekat ke permukaan batu, kulit pohon atau di tanah. Jenis ini
susah untuk mencabutnya tanpa merusak substratnya. Contoh : Graphis
scipta, Haematomma puniceum, Acarospora atau Pleopsidium.
Lichen Crustose yang tumbuh terbenam di dalam batu hanya bagian
tubuh buahnya yang berada di permukaan disebut endolitik, dan yang
tumbuh terbenam pada jaringan tumbuhan disebut endoploidik atau
endoploidal. Lichen yang longgar dan bertepung yang tidak memiliki
struktur berlapis, disebut leprose.
b.

Foliose
Lichen foliose memiliki struktur seperti daun yang tersusun oleh lobuslobus. Lichen ini relatif lebih longgar melekat pada substratnya.
Thallusnya datar, lebar, banyak lekukan seperti daun yang mengkerut

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

berputar. Bagian permukaan atas dan bawah berbeda. Lichenes ini


melekat pada batu, ranting dengan rhizines. Rhizines ini juga berfungsi
sebagai alat untuk mengabsorbsi makanan. Contoh : Xantoria, Physcia,
Peltigera, Parmelia dll.
c. Fruticose

Thallusnya berupa semak dan memiliki banyak cabang dengan bentuk


seperti pita. Thallus tumbuh tegak atau menggantung pada batu, daundaunan atau cabang pohon. Tidak terdapat perbedaan antara permukaan
atas dan bawah. Contoh : Usnea, Ramalina dan Cladonia
d. Squamulose

Lichen ini memiliki lobus-lobus seperti sisik, lobus ini disebut


squamulus yang biasanya berukuran kecil dan saling bertindih dan
sering memiliki struktur tubuh buah yang disebut podetia.
2). Morfologi dalam (Anatomi)
Struktur morfologi dalam diwakili oleh jenis foliose, karena jenis ini
mempunyai empat bagian tubuh yang dapat diamati secara jelas yaitu.
Korteks atas, berupa jalinan yang padat disebut pseudoparenchyma dari
hifa jamurnya. Sel ini saling mengisi dengan material yang berupa
gelatin.Bagian ini tebal dan berguna untuk perlindungan.
a. Daerah alga, merupakan lapisan biru atau biru hijau yang terletak di bawah
korteks atas. Bagian ini terdiri dari jalinan hifa yang longgar. Diantara
hifa-hifa itu terdapat sel-sel hijau, yaitu Gleocapsa, Nostoc, Rivularia dan
Chrorella. Lapisan thallus untuk tempat fotosintesa disebut lapisan
gonidial sebagai organ reproduksi.
b. Medulla, terdiri dari lapisan hifa yang berjalinan membentuk suatu bagian
tengah yang luas dan longgar. Hifa jamur pada bagian ini tersebar ke
segala arah dan biasanya mempunyai dinding yang tebal. Hifa pada bagian
yang lebih dalam lagi tersebar di sepanjang sumbu yang tebal pada bagian
atas dan tipis pada bagian ujungnya. Dengan demikian lapisan tadi
membentuk suatu untaian hubungan antara dua pembuluh.

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

c. Korteks bawah, lapisan ini terdiri dari struktur hifa yang sangat padat dan
membentang secara vertikal terhadap permukaan thallus atau sejajar
dengan kulit bagian luar. Korteks bawah ini sering berupa sebuah akar
(rhizines).
Ada beberapa jenis lichenes tidak mempunyai korteks bawah. Dan
bagian ini digantikan oleh lembaran tipis yang terdiri dari hypothallus
yang fungsinya sebagai proteksi. Dari potongan melintang Physcia sp.
terlihat lapisan hijau sel-sel alga dan rhizines coklat bercabang pada
bagian bawah. Bagian tengah yang berwarna putih terdiri dari sel-sel
jaringan jamur yang disebut medulla. Struktur pipih pada bagian atas dan
kanan disebut apothecia dan lapisan coklat di atasnya disusun oleh asci,
yaitu bagian dari ascomycete yang mengandung spora jamur.
3). Struktur Vegetatif
Struktur tubuh lichenes secara vegetatif terdiri dari:
a. Soredia
Soredia merupakan kelompok kecil sel-sel gangang yang sedang
membelah dan diselubungi benang-benang miselium menjadi satu badan
yang dapat terlepas dari induknya. Soredia ini terdapat di dalam soralum.
b. Isidia
Isidia berbentuk silinder, bercabang seperti jari tangan dan terdapat pada
kulit luar. Diamaternya 0,01 ? 0,03 m? dan tingginya antara 0,5 ? 3 m?.
Berdasarkan kemampuannya bergabung dengan thallus, maka dalam
media perkembangbiakan, isidia akan menambah luas permukaan luarnya.
Sebanyak 30 % dari spesies foliose dan fructicose mempunyai isidia.
Proses pembentukan isidia belum diketahui, tetatpi dianggap sebagai
faktor genetika.
c. Lobula
Lobula merupakan pertumbuhan lanjutan dari tahllus lichenes yang sering
dihasilkan di sepanjang batas sisi kulit luar. Lobula ini dapat berkembang
dengan baik pada jenis foliose, Genus Anaptycia, Neproma, Parmelia dan
Peltigera. Lobula sangat sukar dibedakan dengan isidia.

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

d. Rhizines
Rhizines merupakan untaian yang menyatu dari hifa yang berwarna
kehitam-hitaman yang muncul dari kulit bagian bawah (korteks bawah)
dang mengikat thallus ke bagian dalam. Ada dua jenis rhizines yaitu
bercabang seperti pada Ctraria, Physcia dan Parmelia dan yang tidak
bercanag terdapat pada Anaptycis dan beberapa Parmelia.
e. Tomentum
Tomentum memiliki kepadatan yang kurang dari rhizines dan merupakan
lembaran serat dari rangkaian akar atau untaian yang renggang. Biasanya
muncul pada lapisan bawah seperti pada Collemataceae, Peltigeraceae dan
Stictaceae.
f. Cilia
berbentuk seperti rambut, menyerupai untaian karbon dari hifa yang
muncul di sepanjang sisi kulit. Cilia berhubungan dengan rhizines dan
hanya berbeda pada cara tumbuh saja.
g. Cyphellae dan Pseudocyphellae
Cypellae berbentuk rongga bulat yang agak besar serta terdapat pada
korteks bawah dan hanya dijumpai pada genus Sticta. Pseudocyphellae
mempunyai ukuran yang lebih kecil dari cyphellae dan terdapat pada
korteks bawah spesies Cetraria, Cetralia, Parmelia dan Pasudocyphellaria.
Rongga ini berfungsi sebagai alat pernafasan atau pertukaran udara.
h. Cephalodia.
Cephalodia merupakan pertumbuhan lanjutan dari thallus yang terdiri
darialga-alga yangg berbedadari inangnya. Pada jenis peltigera aphthosa,
cephalodia mulai muncul ketika Nostoc jatuh pada permukaan thallus dan
terjaring oleh hifa cephalodia yang berisikan Nostoc biru kehijauan. Jenis
ini mampu menyediakan nitrogen thallus seperti Peltigera, Lecanora,
Stereocaulon, Lecidea dan beberapa jenis crustose lain.
2.2.3 Klasifikasi Lichens
Lichenes sangat sulit untuk diklasifikasikan karena merupakan gabungan
dari alga dan fungi serta sejarah perkembangan yang berbeda. Para ahli seperti

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

Bessey (1950), Martin (1950) dan Alexopoulus (1956), berpendapat bahwa


lichenes dikelompokkan dan diklasifikasikan ke dalam kelompok jamur
sebenarnya. Bessey meletakkannya dalam ordo Leocanorales dari Ascomycetes.
Smith (1955) menganjurkan agar lichenes dikelompokkan dalam kelompok yang
terpisah yang berbeda dari alga dan fungi.
Lichenes memiliki klasifikasi yang

bervariasi dan dasar dasar

klasifikasinya secara umum adalah sebagai berikut :


1. Berdasarkan komponen cendawan yang menyusunnya
a. Ascolichens.

Cendawan penyusunnya tergolong Pyrenomycetales, maka tubuh buah


yang dihasilkan berupa peritesium. Contoh : Dermatocarpon dan
Verrucaria.
Cendawan penyusunnya tergolong Discomycetes. Lichenes membentuk
tubuh buah berupa apothecium yang berumur panjang. Contoh : Usnea
dan Parmelia.
Dalam Klas Ascolichens ini dibangun juga oleh komponen alga dari
famili: Mycophyceae dan Chlorophyceae yang bentuknya berupa
gelatin. Genus dari Mycophyceae adalah Scytonema, Nostoc, Rivularia,
Gleocapsa dan lain-lain. Dari Cholophyceae adalah Protococcus,
Trentopohlia, Cladophora dll.
b. Basidiolichenes

Berasal

dari

jamur

Basidiomycetes

dan

alga

Mycophyceae.

Basidiomycetes yaitu dari famili : Thelephoraceae, dengan tiga genus Cora,


Corella dan Dyctionema. Mycophyceae berupa filamen yaitu : Scytonema
dan tidak berbentuk filamen yaitu Chrococcus. Lichen Imperfect
Deutromycetes fungi, steril. Contoh : Cystocoleus, Lepraria, Leprocanlon,
Normandia, dll.

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

2. Berdasarkan alga yang menyusun thalus


a. Homoimerus
Sel alga dan hifa jamur tersebar merat pada thallus. Komponen alga
mendominasi dengan bentuk seperti gelatin, termasuk dalam Mycophyceae.
Contoh : Ephebe, Collema
b. Heteromerous
Sel alga terbentuk terbatas pada bagian atas thallus dan komponen jamur
menyebabkan

terbentuknya

thallus,

alga

tidak

berupa

gelatin

Chlorophyceae. Contoh : Parmelia


3. Berdasarkan type thallus dan kejadiannya
a. Crustose atau Crustaceous.
Merupakan lapisan kerak atau kulit yang tipis di atas batu, tanah atau kulit
pohon. Seperti Rhizocarpon pada batu, Lecanora dan Graphis pada kulit
kayu. Mereka terlihat sedikit berbeda antara bagian permukaan atas dan
bawah.
b. Fruticose atau filamentous
Lichen semak, seperti silinder rata atau seperti pita dengan beberapa
bagian menempel pada bagian dasar atau permukaan. Thallus bervariasi,
ada yang pendek dan panjang, rata, silindris atau seperti janggut atau
benang yang menggantung atau berdiri tegak. Bentuk yang seperti telinga
tipis yaitu Ramalina. Yang panjang menggantung seperti Usnea dan
Alectoria. Cladonia adalah tipe antara kedua bentuk itu.
2.2.4 Perkembangbiakan Lichens
1. Secara Vegetatif
i.

Fragmentasi
Fragmentasi adalah perkembangbiakan dengan memisahkan bagian
tubuh yang telah tua dari induknya dan kemudian berkembang menjadi
individu baru. Bagian-bagian tubuh yang dipisahkan tersebut dinamakan
fragmen. Pada beberapa fruticose lichenes, bagian tubuh yang lepas tadi,
dibawa oleh angin ke batang kayu dan berkembang tumbuhan lichenes

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

yang baru. Reproduksi vegetatif dengan cara ini merupakan cara yang
paling produktif untuk peningkatan jumlah individu.
ii. Isidia
Kadang-kadang isidia lepas dari thallus induknya yang masing-masing
mempunyai simbion. Isidium akan tumbuh menjadi individu baru jika
kondisinya sesuai.
iii. Soredia
Soredia adalah kelompok kecil sel-sel ganggang yang sedang membelah
dan diselubungi benag-benang miselium menjadi suatu badan yang dapat
terlepas dari induknya. Dengan robeknya dinding thallus, soredium
tersebar seperti abu yang tertiup angin dan akan tumbuh lichenes baru.
Lichenes yang baru memiliki karakteristik yang sama dengan induknya.
2. Secara Aseksual
Metode reproduksi aseksual terjadi dengan pembentukan spora yang
sepenuhnya bergantung kepada pasangan jamurnya. Spora yang aseksual
disebut pycnidiospores. Pycnidiospores itu ukurannya kecil, spora yang tidak
motil, yang diproduksi dalam jumlah yang besar disebut pygnidia. Pygnidia
ditemukan pada permukaan atas dari thallus yang mempunyai suatu celah kecil
yang terbuka yang disebut Ostiole. Dinding dari pycnidium terdiri dari hifa
yang subur dimana jamur pygnidiospore berada pada ujungnya.

Tiap

pycnidiospore menghasilkan satu hifa jamur. Jika bertemu dengan alga yang
sesuai terjadi perkembangan menjadi lichenes yang baru.
3. Secara Seksual
Perkembangan seksual pada lichenes hanya terbatas pada pembiakan
jamurnya saja. Jadi yang mengalami perkembangan secara seksual adalah
kelompok jamur yang membangun tubuh lichenes.
2.2.5 Peranan Lichens
1. Sebagai bahan makanan
Thallus dari lichenes belum digunakan sebagai sumber makanan secara
luas, karena lichenes memiliki suatu asam yang rasanya pahit dan dapat

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

menimbulkan gatal-gatal, khususnya asam fumarprotocetraric. Asam ini harus


dibuang terlebh dahulu dengan merebusnya dalam soda.Tanaman ini
mempunyai nilai, walaupun tidak sama dengan makanan dari biji-bijian. Pada
saat makanan sulit didapat, orang-orang menggunakan lichenes sebagai sumber
karbohidrat dengan mencampurnya dengan tepung.
Di Jepang disebut Iwatake, dimana Umbilicaria dari jenis foliose
lichenes digoreng atau dimakan mentah. Lichenes juga dimakan oleh hewan
rendah maupun tingkat tinggi seperti siput, serangga, rusa dan lain-lain. Rusa
karibu menjadikan sejumlah jenis lichenes sebagai sumber makanan pada
musim dingin, yang paling banyak dimakan adalah Cladina stellaris. Kambing
gunung di Tenggara Alaska memakan lichenes dari jenis Lobaria linita.
2. Sebagai obat-obatan
Pada abad pertengahan lichenes banyak digunakan oleh ahli pengobatan.
Lobaria pulmonaria digunakan untuk menyembuhkan penyakit paru-paru
karena Lobaria dapat membentuk lapisan tipis pada paru-paru. Selain itu
lichenes juga digunakan sebagai ekspektoran dan obat liver. Sampai sekarang
penggunaan lichenes sebagai obat-obatan masih ada.
Dahulu di Timur Jauh, Usnea filipendula yang dihaluskan digunakan
sebagai obat luka dan terbukti bersifat antibakteri. Senyawa asam usnat (yang
terdapat dalam ekstrak spesis Usnea) saat ini telah digunakan pada salep
antibiotik, deodoran dan herbal tincture. Spesies Usnea juga digunakan dalam
pengobatan Cina, pengobatan homeopathic, obat tradisional di kepulauan
Pasifik, Selandia Baru dan lain benua selain Australia.
Banyak jenis lichenes telah digunakan sebagai obat-obatan, diperkirakan
sekitar 50% dari semua spesies lichenes memiliki sifat antibiotik. Penelitian
bahan obat-obatan dari lichenes terus berkembang terutama di Jepang.
3. Sebagai antibiotic
Substrat dari lichenes yaitu pigmen kuning asam usnat digunakan sebagai
antibiotik yang ampu menghalangi pertumbuhan mycobacterium. Cara ini telah
digunakan secara komersil. Salah satu sumber dari asam usnat ini adalah
Cladonia dan antibiotik ini terbukti ampuh dari penisilin. Selain asam usnat

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

terdapat juga zat lain seperti sodium usnat, yang terbukti ampuh melawan
kanker tomat. Virus tembakau dapat dibendung dan dicegah oleh ekstrak
lichenes yaitu : lecanoric, psoromic dan asam usnat.
2.3 Fungi
Fungi adalah nama regnum dari sekelompok besar makhluk hidup
eukariotik heterotrof yang mencerna makanannya di luar tubuh lalu menyerap
molekul nutrisi ke dalam sel-selnya. Fungi memiliki bermacam-macam bentuk.
Awam mengenal sebagian besar anggota Fungi sebagai jamur, kapang, khamir,
atau ragi, meskipun seringkali yang dimaksud adalah penampilan luar yang
tampak, bukan spesiesnya sendiri. Kesulitan dalam mengenal fungi sedikit banyak
disebabkan adanya pergiliran keturunan yang memiliki penampilan yang sama
sekali berbeda.

Gambar 8 Jenis-jenis fungi


Fungi adalah eukariota, dan sebagian besar adalah eukariota multiseluler.
Meskipun fungi pernah dikelompakkan ke dalam kingdom tumbuhan, fungi
adalah organisme unik yang umumnya berbeda dari eukariota lainnya ditinjau dari
cara memperoleh makanan, organisasi stuktural, serta pertumbuhan dan
reproduksi. Fungi atau cendawan terdiri dari kapan dan khamir. Kapang bersifat
filamentus, sedangkan khamir biasanya bersifat uniseluler.
Fungi

atau

cendawan

adalah

organisme

heterotrofik.

Mereka

memerlukan senyawa organik untuk nutrisinya. Bila mereka hidup dari benda

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

organik mati yang terlarut, mereka disebut sporofit. Fungi memiliki berbagai
macam penampilan tertgantung pada spesiesnya.
Jamur sering dianggap sebagai organisme yang tergolong dalam
tumbuhan, tetapi adapula yang menganggap jamur sebagai golongan organisme
yang terpisah dari tumbuhan. Dengan demikian terdapat pula perbedaan dalam
klasifikasinya, tetapi perbedaan tadi terletak pada taksa yang lebih tinggi dari
kelas, sedangkan taksa dari kelas kebawah tidak terdapat perbedaan.
Fungi merupakan organisme heterotrof yang mendapatkan nutriennya
melalui penyerapan (absorpsi). Dalam cara ini, fungi akan mencerna makanan
diluar tubuhnya dengan cara mensekresikan enzim-enzim hidrolitik yang sangat
ampuh kedalam makanan tersebut. Enzim-enzim itu akan menguraikan molekul
kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana yang dapat diserap dan
digunakan oleh fungi.
Fungi dapat hidup dari benda organik mati yang terlarut , yang disebut
dengan saprofit. Saprofit menghancurkan sisa-sisa ttumbuhan dan hewan yang
kompleks dan menguraikannya menjadi zat-zat kimia yang lebih sederhana, yang
kemudian dikembalikan ke dalam tanah, dan selanjutnya meningkatkan
kesuburan. Makanan fungi dapat berasal dari sumber-sumber seperti tanah subur,
produk makanan yang dibuat oleh pabrik, dan tubuh hewan dan tumbuhan (baik
yang mati maupun yang hidup).
Fungi parasitik menyerap zat-zat makanan dari inang yang masih
hidup. Beberapa jenis fungi misalnya seperti spesies tertentu yan menginfeksi
paru-paru manusia, bersifat patogenik. Disamping itu Fungi juga hidup dalam
bentuk dismorfisme yaitu fungi dapat ada dalam bentuk uniseluler (Khamir) dan
bentuk benang/filamen (Kapang). Fase khamir timbul bila organisme itu sebagai
parasit atau patogen dalam jaringan sedangkan bentuk kapang jika organisme itu
merupakan saprofit dalam tanah atau dalam medium laboratorium.
Manfaat dari adanya fungi adalah pada fungi yang hidup sebagai
saprofit dapat membantu proses pengambilan mineral dari tanah bagi inangnya,
disamping itu fungi saprofit juga penting dala fermentasi industri, misalnya

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

pembuatan anggur, bir, dan produksi antibiotik seperti penisilin. Peragian adonan
dan pemesakan beberapa keju juga bergantung pada kegiatan cendawan.
Selain sifat yang menguntungkan, fungi juga memiliki sifat yang
merugikan, fungi dapat membusukkan kayu, tekstil, makanan dan lain-lain.
Disamping itu fungi juga dapat menyebabkan penyakit pada manusia, hewan dan
tumbuhan, salah satu contoh cendawan patogen adalah Histoplasma capsulacum
yang menyebabkan histoplomosis (infeksi mikosis pada sistem retikuloendotelium
yang meliputi banyak organ).
2.3.1 Habitat Fungi
Fungi menempati lingkungan yang sangat beragam yang berasosiasi
secara simbiotik dengan banyak organisme. Meskipun paling sering ditemukan
pada habitat darat, fungi juga hiudp dilingkungan akuatik, dimana fungi tersebut
berasosiasi dengan organisme laut dan air tawar serta bangkainya. Lichen,
perpaduan antara fungi dan alga, banyak terdapat dimana-mana dan ditemukan
pada beberapa tempat yang tidak bersahabat sepeti gurun yang dingin dan kering
di Antartika, tundra alpin dan artik. Fungi simbiotik lainnya hidup dalam jaringan
tumbuhan yang sehat dan spesies lain membentuk mutualisme-mutualisme
pengkomsumsi selulosa dengan serangga, semut dan rayap.
Golongan Fungi yang termasuk hidup dalam air adalah oomycota dan
chytridiomycota, sedangkan golongan fungi yang hidup di darat (tanah) misalnya,
Mucorales, Ascomycota, deuteremycetes dan beberapa Peronosporales.
2.3.2 Karakteristik Morfologi dan Fisiologi Fungi
Sebagian besar fungi adalah organisem multiseluler dengan hifa yang
dibagi menjadi sel-sel oleh dinding yang bersilangan atau septa. Disamping itu
juga terdapat fungi asepta, yaitu hifanya tidak dibagi sel-selnya oleh septum.
Hifa adalah benang halus yang merupakan bagian dari dinding tubuler
yang mengelilingi membran plasma dan sitoplasma. Jamur sederhana berupa sel
tunggal atau benang-banang hifa saja.Jamur bertingkat tinggi terdiri dari anyaman
hifa yang disebut posenim atau pseudoparenkim.Prosenkim adalah jalinan hifa

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

yang kendor dan pseudoparenkimadalah anyaman hifa yang lebih padat dan
seragam.
Sering terdapat anyaman hifa yang padat dan berguna untuk mengatasi
kondisi buruk yaitu rhizomorfatau sklerotium.Ada pula yang disebut stroma yaitu
jalinan hifa yang padat dan berfungsi sabagai bantalan tempat tumbuhnya
bermacam-macam bagian lainnya.
Pada khamir ukurannya sangat beragam 1 sampai 5 m lebarnya dan
panjangnya 5 sampai 10 m atau lebih. Bisanya berbentuk bulat telur, tetapi ada
yang memanjang atau berbentuk bola dan khamir tidak dilengkapi dengan
flagelum sebagai alat bergerak. Sedangkan kapang, tubuh atau talusnya terdiri dari
2 bagian yaitu: miselium dan spora.
Jalinan masa hifa disebut miselium dan hifa dapat berada dalam bentuk
menjalar atau menegak, biasanya menghasilan alat-alat pembiakan yaitu spora
Septa pada umumnya memiliki pori yang sangat besar agar ribosom dan
mitokondria dan bahkan nukleus dapat mengalir dari satu sel ke sel yang lain.
Miselium fungi tumbuh dengan cepat, bertambah satu kilometer setiap hari. Fungi
merupakan organisme yang tidak bergerak, akan tetapi miselium mengatasi
ketidakmampuan bergerak itu dengan menjulurkan ujung-ujung hifanya denagan
cepat ke tempat yang baru.
Sebagian besar fungi membentuk dinding selnya terutama dari kitin, suatu
polisakarida yang mengandung pigemen-pigmen yang kuat namun fleksibel dan
pautan di antara gula-gula seperti yang terdapat pada selulosa dan peptidoglikan.
Fungi dapat lebih bertahan dalam keadaan alam sekitar yang tidak
menguntungkan. Sebagai contoh, khamir dan kapang dapat tumbuh dalam suatu
substrat atau medium berisikan konsentrasi gula yang dapat menghambat
pertumbuhan kebanyakan bakteri. Khamir merupakan mikroorganisme fakultatif,
artinya mereka dapat hidup dalam keadaan aerobik maupun anaerobik.
Fungi dapat tumbuh dalam kisaran suhu yang luas, dengan suhu optimum
bagi kebanyakan spesies saprofitik dari 22 sampai 30 0C, spesies patogenik
mempunyai suhu ptimum lebih tinggi, biasanya 30 sampai 37 0 C. Pada cendawan
akan tumbuh pada atau mendekati 0 C.

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

2.3.3 Posisi Fungi dalam Taksonomi


Sebelum dikenalkannya metode molekuler untuk analisis filogenetik,
dulu fungi dimasukkan ke dalam kerajaan tumbuhan/plantae karena fungi
memiliki beberapa kemiripan dengan tumbuhan yaitu tidak dapat berpindah
tempat, juga struktur morfologi dan tempat hidupnya juga mirip. Seperti tanaman,
kebanyakan fungi juga tumbuh di tanah.
Dalam perkembangannya, fungi dipisahkan dari kerajaan tumbuhan dan
mempunyai kerajaan sendiri karena banyak hal yang berbeda. Fungi bukan
autotrof seperti tumbuhan melainkan heterotrof sehingga lebih dekat ke hewan.
Usaha menyatukan fungi dengan hewan pada golongan yang sama juga
gagal karena fungi mencerna makanannya di luar tubuh (eksternal), tidak seperti
hewan yang mencerna secara internal. Selain itu, sel-sel fungi berdinding sel yang
tersusun dari kitin, tidak seperti sel hewan.
Beberapa ciri-ciri fungi yang mirip dengan makhluk hidup lain:
Dengan jenis eukariota lainnya: Sama seperti eukariota, sel fungi memiliki
membran inti dengan kromosom yang mengandung DNA. Selain itu, sel
fungi juga memiliki beberapa organel sitoplasmik seperti mitokondria,
sterol, dan ribosom.
Dengan hewan: Fungi tidak mempunyai kloroplas dan merupakan
organisme heterotrof, memerlukan senyawa organik sebagai sumber
energinya.
Dengan tumbuhan: Fungi mempunyai dinding sel dan vakuola. Fungi bisa
bereproduksi secara seksual maupun aseksual, dan seperti grup tanaman
basal lainnya (seperti tumbuhan paku dan lumut daun), fungi akan
menghasilkan spora. Mirip juga dengan lumut daun dan algae, fungi
memiliki nukleus yang haploid.
2.3.4 Reproduksi Fungi
Spora fungi memiliki berbagai bentuk dan ukuran, dan dapat
dihasilkan secara seksual maupun aseksual. Pada umumnya spora adalah
organisme uniseluler , tetapi ada juga spora multiseluler. Spora dihasilkan di

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

dalam atau dari struktur hifa yang terspesalisasi. Ketika kondisi lingkngan
memungkinkan, pertumbuhan yang cepat, fungi mengklon diri mereka sendiri
dengan cara menghasilkan banyak sekal spora secara aseksual. Terbawa oleh
angin atau air, spora-spora tersebut berkecamabh jika berada pada tempat yang
lembab pada permukaan yang sesuai (Campbell 2003).
Menurut Pelczar (1986), bahwa spora seksual yang dihasilkan dari
peleburan dua nukleus. Ada beberapa spora seksual yaitu:
1. Aksospora
Spora bersel satu ini terbentuk di dalam pundi atau kantung yang
dinamakan askus. Biasanya terdapat delapan askospora di dalam setiap
askus.
2. Basidiospora
Spora bersel satu ini terbentuk di atas struktur berbentuk gada yang
dinamakan basidium.
3. Zigospora
Merupakan spora besar berdinding tebal yang terbentuk apabila ujungujung dua hifa yang secara seksual serasi, disebut juga gametangin, pada
beberapa cendawan melebur.
4. Oospora
Spora ini terbentuk di dalam struktur betina khusus yang disebut
ooginium, pembuahan telur atau oosfer oleh gamet jantan yang terbentuk
di dalam anteredium mengasilkan oospora.

Gambar 9 Siklus Hidup Kapang Rhizopus orizeae

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

2.3.5 Klasifikasi Fungi


Klasifikasi fungi terutama berdasakan pada cirri-ciri spora seksual dan
tubuh buah yang ada selama tahap-tahap seksual dalam daur hidupnya. Cendawan
yang diketahui tingkat seksualnya disbut cendawan perfek/sempurna. Cendawan
yang dbelum diktahui tingkat seksualnya dinamakan cendawan imperfek.
Berdasarkan pada cara dan cirri reproduksinya terdapat empat kelas cendawan
sejati atau berfilamen di dalam dunia Fungi yaitu: Phycomycetes, Ascomycetes,
Basidiomycetes dan Deuteromycetes.
1.

Phycomycetes
Anggota kelas ini seringkali disebut sebagai cendawan tingkat rendah. Ciri
yang umum pada spesies ini adalah tidak adanya septum di dalam hifa
yang membedakan dengan tiga anggota yang lain. Phycomycetes
mempunyai talus miselium yang berkembang dengan baik. Hifa fertile
menghasikan sporangium pada ujung sporangiospora. Pada talus Rhizopus,
disamping hifa vegetatif dan sporangium terdapat juga hifa seperti hifa
pendek dan bercabang banyak yang disebut rizoid.

2.

Ascomycetes
Ascomycetes menghasilkan dua macam spora, yang terbentuk secara
aseksual disebut konidiam, berkembang di dalam rantai ujung hifa.
Macam spora ke dua dihasilkan sebagai akibat reproduksi seksual. Empat
atau delapan spora ini disebut askospora, terbentuk di dalam askus berupa
kantung.
Kebanyakan hidup sebagai saprofit. Banyak khamir termasuk kelas
Ascomycetes karena membentuk askospora. Secara aseksual, genus
khamir Schizosaccharomyces ini memperbanyak diri dengan pembelahan
diri melintang.

3.

Basidiomycetes
Basidiomycetes merupakan pengurai penting bagi kayu dan bagian
tumbuhan yang lainnya. Kelompok ini dicirikan oleh adanya basidiospora
yang terbentuk di luar pada ujung atau sisi basidium. Basidiomycetes yang
banyak dikenal meliputi jamur, cendawan papan pada pepohonan, dan

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

cendawan karat serta cendawan gosong yang menghancurkan serealia.


Jamur adalah tubuh buah, atau Basidiokarp yang mengandung basidia
bersama basidiosporanya.
4.

Deuteromycetes
Kelas ini meliputi cendawan yang tingkat reproduksinya imperfek.
Sebagian besar cendawan yang patogenik pada manusia adalah
Deuteromycetes. Mereka seringkali membentuk spora aseksual beberapa
macam di dalam spesies yang sama. Di samping fase saprofitik yang
berbentuk miselium, banyak di antaranya parasitik seperti khamir. Salah
satu spesies yang patogen adalah Histoplasma capsulatum

2.4 Tumbuhan Paku (Pteridhopyta)


Tumbuhan paku (atau paku-pakuan) adalah sekelompok tumbuhan
yang telah memiliki sistem pembuluh sejati (kormus) tetapi tidak menghasilkan
biji untuk reproduksinya. Alih-alih biji, kelompok tumbuhan ini masih
menggunakan spora sebagai alat perbanyakan generatifnya, sama seperti lumut
dan fungi.
Tumbuhan paku tersebar di seluruh bagian dunia, kecuali daerah bersalju
abadi dan daerah kering (gurun). Total spesies yang diketahui hampir 10.000
(diperkirakan 3000 di antaranya tumbuh di Indonesia), sebagian besar tumbuh di
daerah tropika basah yang lembap. Tumbuhan ini cenderung menyukai kondisi air
yang melimpah karena salah satu tahap hidupnya tergantung dari keberadaan air,
yaitu sebagai tempat media bergerak sel sperma menuju sel telur. Tumbuhan paku
pernah merajai hutan-hutan dunia di Zaman Karbon sehingga zaman itu dikenal
sebagai masa keemasan tumbuhan paku. Serasah hutan tumbuhan pada zaman ini
yang memfosil dan mengalami mineralisasi sekarang ditambang orang sebagai
batu bara.
2.4.1 Morfologi Tumbuhan Paku
Bentuk tumbuhan paku bermacam-macam, ada yang berupa pohon (paku
pohon, biasanya tidak bercabang), epifit, mengapung di air, hidrofit, tetapi

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

biasanya berupa terna dengan rizoma yang menjalar di tanah atau humus dan ental
(bahasa Inggris frond) yang menyangga daun dengan ukuran yang bervariasi
(sampai 6 m). Ental yang masih muda selalu menggulung (seperti gagang biola)
dan menjadi satu ciri khas tumbuhan paku. Daun pakis hampir selalu daun
majemuk.
Batang tumbuhan paku tidak tampak karena terdapat di dalam tanah
berupa rimpang, sangat pendek, ada juga yang dapat mencapai 5 meter seperti
pada paku pohon atau paku tiang. Daun ketika masih muda melingkar dan
menggulung. Beradasarkan bentuk dan ukurandan susunannya daun tumbuhan
paku dibedakan menjadi mikrofil dan makrofil. Mikrofil bentuk kecil atau
bersisik, tidak bertangkai, tidak bertulang daun, belum memperlihatkan
diferensiasi sel.
Makrofil daun besar, bertangkai, bertulang daun, bercabang-cabang, sel
telah terdiferensiasi. Berdasarkan fungsinya daun tumbuhan paku dibedakan
menjadi tropofil dan sporofil. Tropofil merupakan daun yang khusus untuk
asimilasi atau fotosintesis. Sporofil berfungsi untuk menghasilkan spora.

Gambar 10 Tumbuhan Paku


Akar, batang,dan daun tumbuhan paku memiliki berkas pengangkut
xilem dan floem. Xiliem atau pembuluh kayu berfungsi untuk mengangkut air dan
zat hara dari tanah kedaun.Sedangkan floem berfungsi untuk mengangkut hasil
fotosintesis dari daun ke seluruh tubuh.

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

Struktur dan fungsi tumbuhan paku:


1. Memiliki berkas pembuluh xilem dan floem:untuk jarigan pengangkut
2. Batang tinggal di dalm tanah(rizom)
3. Daun majemuk menyirip penghasil spora dan untuk fotosintesis.
4. Spora dihasilkan oleh kotak spora (sporangium)
2.4.2 Reproduksi Tumbuhan Paku
Tumbuhan paku bereproduksi secara aseksual (vegetatif) dengan stolon
yang menghasilkan gemma (tunas). Gemma adalah anakan pada tulang daun atau
kaki daun yang mengandung spora. Reproduksi seksual (generatif) melalui
pembentukan sel kelamin jantan/spermatozoid (gametangium jantan/anteridium)
dan sel kelamin betina/ovum (gametangium betina/arkegonium). Seperti pada
lumut tumbuhan paku juga mengalami pergiliran keturunan/metagenesis.
Metagenesis tersebut dibedakan antara paku homospora dan heterospora.
2.4.3 Daur Hidup Tumbuhan Paku
Tumbuhan paku bereproduksi secara vegetatif dengan rizom. Rizom
tumbuh menjalar kesemua arah dan membentuk koloni-koloni tumbuhan paku.
Tumbuhan paku mengalami pergiliran keturunan atau metagenesis dengan dua
generasi yaitu : generasi sporofit dan generasi gametofit.
a. generasi sporofit
Generasi sporofit atau tumbuhan penghasil spora adalah tumbuhan paku itu
sendiri. Jadi , tumbuhan paku yang kita lihat itu merupakan tumbuhan dalam
fase sporofit . sporofit paku berumur lebih lama dibandingkan gametofit.
Sporofit dapat tumbuh, bertunas sehingga jumlahnya bertambah banyak. Ini
merupakan reproduksi secara Aseksual
b. generasi gametofit
Generasi gametofit atau tumbuhan penghasil gamet adalah tumbuhan yang
dikenal dengan nama protalium. Protalium yang berbentuk talus itu
berukuran kira-kira 1-2 cm. Bentuknya seperti daun waru, biasanya tumbuh
di permukaan lembab lainnya. Berbeda dengan tumbuhan lumut, gametofit
paku hanya berumur beberapa minggu.

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

2.4.4 Klasifikasi Tumbuhan Paku


Tumbuhan paku dibedakan menjadi empat kelompok yaitu: Psilotophyta,
Lycophyta, Sphenophyta, dan Pterophyta.
1. Psilotophyta mempunyai dua genera (ex Psilotum sp). Psilotum sp tersebar
luas di daerah tropik dan subtropik, mempunyai ranting dikotom, tidak
memiliki akar dan daun, pengganti akar berupa rizoma diselubungi rambutrambut yang dikenal rizoid.
2. Lycophyta, contoh dari Lycopita yaitu Lycopodium sp dan Selaginella sp.
Lycopodium sp sporanya dalam sporofit daun khusus untuk reproduksi dan
dapat bertahan dalam tanah selama 9 tahun, dapat menghasilkan spora
tunggal yang berkembang menjadi gametofit biseksual (memiliki baik organ
jantan dan betina), jenis homospora. Selaginella sp merupakan tanaman
heterospora, menghasilkan dua jenis spora (megaspora/gamet betina dan
mikrospora/gamet jantan).
3. Sphenophyta sering disebut paku ekor kuda, bersifat homospora,
mempunyai akar; batang; daun sejati, batangnya keras karena dinding sel
mengandung silika. Contohnya Equisetum debile (paku ekor kuda).
4. Pterophyta (paku sejati) umumnya tumbuh di darat pada daerah tropis dan
subtropis. Daunnya besar, daun muda menggulung. Sporangium terdapat
pada sporofil (daun penghasil spora). Contohnya: Adiantum cuncatum (paku
suplir untuk hiasan), Marsilea crenata (semanggi untuk sayuran), Asplenium
nidus (paku sarang burung), Pletycerium bifurcatum (paku tanduk rusa).
Menurut Backer (1939), berdasarkan habitatnya, tumbuhan paku
dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu:
1. Paku Tanah
Tumbuhan yang termasuk dalam kelompok ini ialah paku-pakuan
yang hidup di tanah, tembok dan tebing terjal. Holtum (1968) merinci
paku tanah menjadi dua bagian yaitu:
a.

Paku Pemanjat, Tumbuhan ini mempunyai rimpang yang ramping


dan panjang, berakar dalam tanah,memanjat pohon tapi tidak epifit.

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

Beberapa contohnya adalah Bolbitis heteroclita Ching, Lomagramma


J. Smith, Teratophyllum Mettenius, Lindsaya macracana.
b.

Paku batu-batuan dan tebing sungai, Tumbuhan paku jenis ini


tumbuh pada batu-batuan atau pada tebing sungai, menyukai
kelembaban. Rimpangnya menjalar pada permukaan batuan dan akarakarnya masuk ke celah-celah batu. Contohnya yaitu Pteris sericea
Ching, Dipteris lobbiana (Hk.) Moore, Lindsaya lucida Bl., L. Nitida
Bl.

2. Paku Epifit
Jenis tumbuhan ini hidup pada tumbuhan lain, terutama yang
berbentuk pohon. Holtum (1968) membagi paku epifit menjadi dua macam
yaitu:
a.

Epifit pada tempat-tempat terlindung, tumbuhan ini tumbuh pada


bagian bawah pohon di hutan terutama dekat aliran air atau di tempattempat yang dibayangi pegunungan. Contohnya antara lain anggota
Hymenophyllaceae, Antrophyum callifolium Bl., Asplenium tenerum
Forst.

b.

Epifit pada tempat-tempat terbuka, tumbuhan ini terdapat pada


tempat yang terkena sinar matahari langsung atau agak teduh dan
tahan terhadap angin. Contohnya antara lain: Drynaria J. Smith,
Asplenium nidus L., Platycerium Desvaux, Pyrrosia Mirbel,
Drymoglossum Presl.

3. Paku Akuatik
Tumbuhan yang termasuk kelompok ini mengapung bebas di
permukaan air. Contohnya ialah anggota famili Salviniaceae dan
Marsileaceae.
Selain itu terdapat juga tumbuhan paku yang sebagian hidupnya
berada pada air, misalnya Acrosticum aureum L. Pada daerah mangrove
Tectaria semibinnata (Wall.) C. Chr. Pada daerah pasang surut,
Ceratopteris thalictroides Brongn. Pada perairan dangkal.

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

Hampir semua paku-pakuan adalah herba atau agak berkayu. Tetapi ada
pula yang berupa pohon, misalnya pada anggota Cyatheaceae (Haupt, 1953). Pada
umumnya akar dari tumbuhan paku adalah serabut yang bercabang-cabang secara
dikotom. Ada pula yang bercabang monopodial atau tidak bercabang. Namun
tidak semua tumbuhan paku mempunyai akar, misalnya pada bangsa Psilotales,
fungsi akarnya digantikan oleh rizoid.
Letak akar dari tumbuhan paku bermacam-macam, antara lain pada
sepanjang bagian bawah rimpang yang menjalar, misalnya Lycopodium, pada
seluruh permukaan rimpang, misalnya pada Pteris biaurita, pada pangkal rimpang
yang tegak, misalnya Adiantum, pada bawah buku dan hanya kadang-kadang saja
pada ruasnya, misalnya Marsilea crenata. Akar pada Selaginellales terbentuk
pada ujung rizofora yaitu percabangan dari batang utama yang tidak berdaun,
selain itu juga dari pangkal hipokotil atau langsung dari batang (Haupt,1959).
Bentuk akar ada yang tipis, keras atau kasar, ada pula yang tebal dan
berdaging, misalnya pada bangsa Marattiales. Warnanya ada yang hitam atau
coklat tua (Vasishta,1972).
Semua batang tumbuhan paku cenderung berupa rimpang karena pada
umunya arah tumbuhnyamenjalar atau memanjat, meskipun ada yang tegak,
misalnya pada Cyatheaceae. Diantara beberapa jenis tumbuha paku (yang
termasuk Equisetaceae, Lycopodiaceae, dan Psilotaceae), disamping mempunyai
rimpang juga mempunyai cabang dengan arah tumbuh tegak atu menggantung.
Sedangkan batang pada Selaginellaceae arah tumbuhnya menjalar atau tegak
(Backer,1939).
Permukaan tumbuhan paku tidak selalu halus, tetapi kadang dihiasi
dengan bentukan tertentu. Diantara bentukan tersebut yaitu:
1. Duri, misalnya pada Teratophillum Mettenius
2. Rambut-rambut uniseluler, misanya pada Selaginella braunii, S. biformis,
S. vogelii.
3. Ramenta, Bentukan seperti rambut yang terletak pada rimpang atau sering
pula pada tangkai daun, tulang dan urat daun, juga dapat berbentuk perisai,
misalnya pada Lycopodium L.

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

4. Lapisan lilin yang berwarna putih atau kebiruan, misalnya pada Davallia
corniculata
5.

Lubang-lubang yang biasanya ditempati semut

6. Sisa-sisa tangkai
Daun tumbuhan paku terbagi menjadi bermacam-macam bagian.
Berdasarkan tulang daunnya, dapat dibedakan:
1. Sisik, daun ini tidak mempunyai tulang daun meskipun pada pangkal
masing-masing daun dihubungkan dengan jaringan pembuluh, mislanya
anggota Psilotales.
2. Mikrofil, daun ini mempunyai tulang daun tunggal tak bercabang dari
pangkal ke ujung, misalnya anggota Lycopodiales, Selaginellales dan
Equisetaceae.
3. Makrofil/ Megafil, daun ini mempunyai tulang daun dengan sistem
percabangan baik terbuka atau tertutup.
Menurut Tjitrosoepomo (1981) beradasarkan fungsinya, daun tumbuhan
paku dibedakan menjadi dua, yaitu:
a) Tropofil (daun steril), daun yang hanya berfungsi untuk fotosintesis.
b) Sporofil (daun fertil), yang fungsi utamanya adalah menghasilkan
sporangium. Biasanya hampir semua sporofil juga berfungsi sebagai
organ untuk fotosintesis.
Daun tumbuhan paku mempunyai bentuk yang khas, yang berbeda
dengan tumbuhan lain, sehingga biasa disebut ental (frond). Tangkai enta disebut
tangkai (stipe) untuk membedakan dari tangkai yang lain. Bagian pipih ental
sering disebut lamina yang bisa berbentuk tunggal atau terbagi-bagi menjadi
beberapa atau banyak anak daun yang tersusun menjari atau sebagian besar
menyirip.
Tiap anak daun yang menyirip disebut dengan sirip (pinna) dan poros
tempat sirip berada disebut rakis (rachis).Tepi anak daun yang terbagi oleh tulang
daun di sisi yang menuju ujung ental disebut akroskopi, yang menuju pangkal
ental disebut basiskopi (Holttum,1968).

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

Berdasarkan ukuran daunnya, tumbuhan paku dibagi menjadi 2 macam,


yaitu:
a.

Isofil, yaitu daun-daun yang mempunyai ukuran sama atau serupa.

b.

Anisofil, yaitu daun-daunnya terdiri dari 2 ukuran yaitu yang satu lebih
besar dari yang lain.
Pada beberapa tumbuhan paku, selain memiliki ciri umum, juga memiliki

ciri khusus, antara lain yaitu:


1. Vernasi bergelung, daun mudanya menggelung, yang akan membuka jika
telah dewasa, akibat lebih lambatnya pertumbuhan permukaan atas dari
pada permukaan pada perkembangan awalnya.
2. Dimorfisme, antara tropofil dan sporofil terdapat dalam satu individu,
berbeda bentuk dan ukurannya saja.
3. Daun tereduksi, terdapat pada daun yang majemuk menyirip.
4. Daun sarang, daun ini berukuran cukup kecil, cepat kehilangan hijau daun
dan fungsi asimilasinya.
5. Ligula, Pada bagian bawah daun Pada Selaginella terdapat suatu lembaran
kecil yang disebut lidah (ligula) yang berfungsi sebagai penghisap air
6. Daun penumpu, pada pangkal tangkai daun dari Marattiaceae terdapat
sepasang lembaran yang disebut daun penumpu.
2.4.5 Manfaat Tumbuhan Paku bagi Manusia
Tumbuhan paku dapat dimanfaatkan oleh manusia seperto berikut:
a) Tumbuhan paku yang hidup pada zaman karbon telah memfosil, fosil
tersebut berupa batu bara yang dapat dijadikan bahan bakar
b) Sebagai tanaman hias, seperti suplir , paku sarang burung, dan paku
tanduk rusayang bentuknya seperti tanduk rusa dan sering ditanam
dengan ditempelkan pada pohon. Selain itu ada spesies lain yaitu nephro
lepis, merupakan pakis yang sering ditanam dikebun-kebun.
c) Berguna untuk obat-obatan, misalnya dyoptoris filix-mas, lycopodium
clavatum.

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tumbuhan non-Vaskuler terbagi menjadi 4 golongan besar tanaman, yaitu:

Briophita (Lumut), Lichens, Fungi, dan yang sudah termasuk tumbuhan


tingkat tinggi yaitu Pteridhopita (Paku).
Briophyta

merupakan salah satu bentuk adaptasi

yang membuat

tumbuhan aquatik berpindah kedaratan untuk yang pertama kalinya. Maka


briophyta seringkali disebut sebagai tumbuhan perintis atau pioner.
Lichens merupakan organism yang bersimbiosis antara fungi dengan
algae.
Fungi merupakan organism peralihan antara hewan dan tumbuhan, yang
artinya fungi sebagai organisme heterototrof yang mendapatkan bahan
organic melalui organism lain ataupun dapat pula sebagai pelapuk
komposisi tanah.
Tumbuhan paku merupakan sekelompok tumbuhan yang telah memiliki
sistem pembuluh sejati (kormus) tetapi tidak menghasilkan biji untuk
reproduksinya.
3.2 Saran
Perlu adanya kajian lebih lanjut mengenai beberapa tumbuhan nonVaskuler sehingga didapat informasi yang lengkap.
Perlu adanya pelestarian terhadap beberapa tumbuhan tersebut, apabila
dilihat dari fungsinya yaitu sebagai pemasok O2 yang cukup untuk
kebutuhan bumi dan mengurangi efek rumah kaca.

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

DAFTAR PUSTAKA
A.R.Smith, A.R.Kathleen M. Pryer, E. Schuettpelz, P.Korall, H. Schneider &
P.Gbuh.
Wolf.2006.
A
Classification
for
Extant
Ferns.
http://commons.wikimedia.org
Biologi Jilid 2, Erlangga oleh Campbell, Reece dan Mitchell.
Bold, H.C., C.J. Alexopoulus, T. Delevoryas, 1987. Morphology Plants of Fungi.
Fifth edition. Harper and Row Publishers. New York.
Campbell, dkk. 2003. Biologi jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Cvm. Tamu. Edu/fungi. (Diakses, 30 Juli 2012, 20.00 WITA).
Drajad Sasmitamihardja. 1990. Dasar-dasar fisiologi tumbuhan. Bandung: FMIPA
ITB.
Duta, A.C. 1968. Botany for Degree Stuudens. Oxford University Press. BombayCalcuta-Madras.
Fauzi,ahmad. 1998. Lingkar Tahun Lingkar Air. Jember: Prima Harta.
Gandjar, indrawati. 2006. Mikologi Dasar dan Terapan . Bogor :Yayasan Obeor
Indonesia.
Gunawan, Agustin Wydia, dkk. 2004. Cendawan dalam Praktek Laboratorium.
Bogor: IPB-Press.
Holttum, R.E.1972. Cyatheaceae in Flora Maesiana.Vol.6.Serie II.Groningen:
Noordhoff publishing.
http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Sejarah%20Perkembangan%20Mi
krobiologi&&nomorurut_artikel=216 (Diakses, 30 Juli 2012, 20.30 WIB).
http://id.shvoong.com/humanities/history/2065753-pengantar-sejarahmikrobiologi/ (Diakses, 30 Juli 2012, 20.00 WIB).
Kimball, John W. 1999. Biologi jilid 3. Jakarta: Erlangga.
Misra, A. ,R.P. Agrawal. 1978. Lichens (A Preliminary Text). Oxford and IBH
Publishing Co. New York-Bombay-Calcuta.
Moore R.T. 1980. Taxonomic proposals for the classification of marine yeasts and
other yeast-like fungi including the smuts. Botanica Marine 23: 36173.

Taksonomi Tumbuhan non-Vaskuler

Nur Aliefah. 2002. Karya Ilmiah Remaja. Bandung: Adi cita.


Pelczar, Michael J. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI-Press. Hal: 131.
Sharnoff. S. D. 2002. Lichen Biology And The Environment The Special Biology
OfLichens. http:/ www.lichen.com.
_________________. Lichens And Wildlife. http://www.lichen.com
_________________. Lichens And People. For a Bibliographical Database of the
Human Uses of Lichens. http://www.lichen.com.
Sofi Cholifah. 2008. Penelitian Tanaman Hias. Jakarta: Gramedia.
Sufyan H.D. 2007. Penelitian Air. Malang: Balai Pustaka.
Sulisetijono, 2011. Taksonomi Tumbuhan Tinggi.Malang: UIN Press.
Tjitrosoepomo, G. 1989. Taksonomi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Tjitrosoepomo,Gembong.1994.Taksonomi Tumbuhan Thallophyta, Schizophyta,
Bryophyta, Pteridophyta.Yogyakarta:UGM Press.
Tjitrosoepomo, Gembong. 2003. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah
Mada University Press.
Www.plantamor.com