Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN
1. I. LATAR BELAKANG
Bagaimana kita menentukan sebuah Lembaga Pendidikan/Sekolah telah
melakukan tugasnya dengan berhasil ? Jika semua siswanya lulus dengan
predikat baik danHalalan Toyiban, serta semua siswanya mampu
melanjutkan ke sekolah atau perguruan tinggi unggulan. Apakah hal tersebut
menyatakan kepada kita bahwa sekolah tersebut efektif ? Atau apakah kita
harus melihat kenaikan kualitas input siswa baru, jumlah siswa, atau jumlah
gaji rata-rata para guru dan karyawan?
Contoh diatas dimaksudkan untuk secara sepintas melihat masalah yang
akan dijumpai jika kita menentukan atau mengukur keefektifan organisasi.
Keeefektifan organisasi dianggap sangat penting, oleh karena itu perlu
dibahas dalam makalah ini. Tapi sampai saat ini masih belum ada
kesepakatan umum mengenai arti yang sebenarnya dari keefektifan
organisasi.
1. II. RUMUSAN MASALAH
Dalam makalah ini akan dibahas mengenahi :
1.
2.
3.

Bagaimana definisi dari efektifitas organisasi ?


Bagaimana Pendekatan keefektifan organisasi ?
Bagaimana perbandingan keempat pendekatan keefektifan
organisasi ?
III. TUJUAN
Makalah ini bertujuan untuk membahas :
1. Definisi dari efektifitas organisasi
2. Pendekatan-pendekatan efektifitas organisasi
3. Perbandingan keempat pendekatan keefektifan organisasi.
BAB II
PEMBAHASAN
1. I. PENGERTIAN EFEKTIFITAS ORGANISASI
Menurut Soekarno K. (1986:42) efektif adalah pencapaian tujuan atau hasil
dikehendaki tanpa menghiraukan faktor-faktor tenaga, waktu, biaya, fikiran
alat dan lain-alat yang telah dikeluarkan/ digunakan. Hal ini berarti bahwa
pengertian efektivitas yang dipentingkan adalah semata-mata hasil atau
tujuan yang dikehendaki. Jadi pengertian efektivitas kinerja organisasi adalah
pencapaian tujuan atau hasil yang dilakukan dikerjakan oleh setiap individu
secara bersama-sama. Pandangan efektivitas kinerja organisasi
sebagaimana gambaran di bawah ini :

Efektifitas individu

Hubungan antara ketiga pandangan mengenai efektivitas diperlihatkan


dalam gambar 1. Anak panah yang menghubungkan setiap tingkat tidak
menunjukkan bentuk khusus dari hubungan tersebut. Yakni efektivitas
individual adalah harus merupakan sebab dari kelompok, begitu pula tidak
dapat dikatakan bahwa efektivitas kelompok adalah jumlah dari efektivitas
individu. Hubungan antara pandanganpandangan tersebut berubah-ubah
tergantung dari faktor-faktor seperti jenis organisasi, pekerjaan yang
dilaksanakan, teknologi yang digunakan dalam melaksanakan pekerjaan
tersebut.
Berdasarkan kajian histories tentang perkembangan konsep keefektifan
organisasi dapat dilihat pada awalnya sekitar tahun 1950-an, dimana
keefektifan diartikan secara sederhana sebagai sejauh mana sebuah
organisasi mewujudkan tujuan-tujuannya.
Keefektifan organisasi dapat didefinisikan sebagai tingkatan pencapaian
organisasi atas tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek.
II. PENDEKATAN-PENDEKATAN KEEFEKTIFAN ORGANISASI
1. Pendekatan Pencapaian Tujuan (goal attainment approach)
Pendekatan pencapaian tujuan mengasumsi bahwa organisasi adalah
kesatuan yang dibuat dengan sengaja, rasional, dan mencari tujuan. Oleh
karena itu, pencapaian tujuan yang berhasil menjadi sebuah ukuran yang
tepat tentang keefektifan. Namun demikian agar pencapaian tujuan bisa
menjadi ukuran yang sah dalam mengukur keefektifan organisasi, asumsiasumsi lain juga harus diperhatikan. Pertama, organisasi harus mempunyai
tujuan akhir. Kedua, tujuan-tujuan tersebut harus diidentifikasi dan
ditetapkan dengan baik agar dapat dimengerti. Ketiga, tujuan-tujuan
tersebut harus sedikit saja agar mudah dikelola. Keempat, harus ada
consensus atau kesepakatan umum mengenai tujuan-tujuan tersebut.
Beberapa permasalahan dalam pendekatan ini antara lain adalah :
1.

apa yang dinyatakan secara resmi oleh sebuah organisasi sebagai


suatu tujuan tidak selalu mencerminkan tujuan yang sebenarnya.
2. Tujuan jangkan pendek sering kali berbeda dengan tujuan jangka
panjangnya.
3. Organisasi yang memiliki tujuan majemuk akan menciptakan
kesulitan.
1. Pendekatan Sistem (system approach)
Pendekatan system terhadap efektifitas organisasi mengimplikasikan bahwa
organisasi terdiri dari sub-sub bagian yang saling berhubungan. Jika slah satu
sub bagian ini mempunyai performa yang buruk, maka akan timbul dampak
yang negative terhadap performa keseluruhan system.

Keefektifan membutuhkan kesadaran dan interaksi yang berhasil dengan


konstituensi lingkungan. Manajemen tidak boleh gagal dalam
mempertahankan hubungan yang baik dengan para pelanggan, pemasok,
lembaga pemerintahan, serikat buruh, dan konstituensi sejenis yang
mempunyai kekuatan untuk mengacaukan operasi organisasi yang stabil.
Kekurangan yang paling menonjol dari pendekatan system adalah
hubungannya dengan pengukuran dan masalah apakah cara-cara itu
memang benar-benar penting. Keunggulan akhir dari pendekatan system
adalah kemampuannya untuk diaplikasikan jika tujuan akhir sangat samara
atau tidak dapat diukur.
1. Pendekatan Konstituen-Strategis (strategic-constituencies approach)
Pendekatan konstituensi-strategis memandang organisasi secara berbeda.
Organisasi diasumsikan sebagai arena politik tempat kelompok-kelompok
yang berkepentingan bersaing untuk mengendalikan sumber daya. Dalam
konteks ini, keefektifan organisasi menjadi sebuah penilaian tentang sejauh
mana keberhasilan sebuah organisasi dalam memenuhi tuntutan
konstituensi kritisnya yaitu pihak-pihak yang menjadi tempat bergantung
organisasi tersebut untuk kelangsungan hidupnya di masa depan.
Kekurangan dari pendekatan ini adalah dalam praktik, tugas untuk
memisahkan konstituensi strategis dari lingkungan yang lebih besar mudah
untuk diucapkan, tetapi sukar untuk dilaksanakan. Karena lingkungan
berubah dengan cepat, apa yang kemarin kritis bagi organisasi mungkin
tidak lagi untuk hari ini. Dengan mengoperasikan pendekatan konstituensi
strategis, para manajer mengurangi kemungkinan bahwa mereka mungkin
mengabaikan atau sangat mengganggu sebuah kelompok yang
kekuasaannya dapat menghambat kegiatan-kegiatan sebuah organisasi
secara nyata.
1. Pendekatan Nilai-nilai Bersaing (Competing-values approach)
Nilai-nilai bersaing secara nyata melangkah lebih jauh dari pada hanya
pengakuan tentang adanya pilihan yang beraneka ragam. Pendekatan
tersebut mengasumsikan tentang adanya pilihan yang beraneka ragam.
Pendekatan tersebut mengasumsikan bahwa berbagai macam pilihan
tersebut dapat dikonsolidasikan dan diorganisasi. Pendekatan nilai-nilai
bersaing mengatakan bahwa ada elemen umum yang mendasari setiap
daftar criteria Efektifitas Organisasi yang komprehensif dan bahwa elemen
tersebut dapat dikombinasikan sedemikian rupa sehingga menciptakan
kumpulan dasar mengenahi nilai-nilai bersaing. Masing-masing kumpulan
tersebut lalu membentuk sebuah model keefektifan yang unik.
III. PERBANDINGAN KEEMPAT PENDEKATAN
Setelah membahas empat pendekatan yang berbeda untuk menilai
keefektifan organisasi yang masing-masing mempunyai cara tersendiri serta

dapat menjadi model yang bermanfaat. Untuk menentukan dalam kondisi


bagaimana dari masing-masing pendekatan itu agar dapat dicapai hasil yang
optimal, berikut ini akan diikhtisarkan setiap pendekatan tersebut dengan
cara mengidentifikasikan apa yang dibutuhkan dalam menetapkan
keefektifan beserta kondisi-kondisi yang diperlukan.
PENDEKATAN

DEFINISI

BERGUNA PADA SAAT

Pencapaian tujuan

Organisasi efektif jika


organisasi dapat
mencapai tujuan yang
telah ditetapkan

Tujuan jelas, dibatasi


waktu, dan dapat
diukur

Sistem

Organisasi memperoleh Ada hubungan yang


sumber yang
jelas antara masukan
dibutuhkan
dan keluaran

Konstituensi
strategis

Semua konstituensi
strategis paling tidak
dipenuhi

Konstituensi
mempunyai pengaruh
yang kuat terhadap
organisasi, dan
organisasi harus
menanggapi tuntutantuntutan

Nilai-nilai bersaing

Pendekatan organisasi
dikeempat bidang
utama sesuai dengan
preferensi dan
konstituen

Organisasi sendiri tidak


jelas mengenai apa
yang menjadi
penekanannya, atau
mengenahi minat
dalam perubahan
kriteria dalam jangka
waktu tertentu.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Membuat definisi tentang keefektifan organisasi memang sulit dan kompleks,
dengan menggunakan empat pendekatan dalam menilai keefektifan yang
meliputi : (1) Pendekatan pencapaian tujuan menetapkan bahwa EO sebagai
pencapaian tujuan akhir; (2) Pendekatan system memfokuskan pada caracara dan kemampuan organisasi memperoleh masukan, memproses
masukan tersebut, menyalurkan keluaran, dan mempertahankan stabilitas
dan keseimbangan dalam system ; (3) Pendekatan konstituensi-strategis
yang mendefinisikan EO sebagai sesuatu yang dapat memenuhi tuntutan

dari konstituen di dalam lingkungan organisasi disebabkan organisasi


memerlukan dukungan terus menerus sehingga keberhasilannya diukur dari
kemampuan untuk memuaskan individu, kelompok, serta lembaga yang
menjadi tempat bergantung bagi kelangsungan hidup organisasi tersebut;
(4) Perspektif terakhir adalah pendekatan yang berdasarkan pada nilai-nilai
bersaing, yang mencoba mempersatukan sejumlah besar kriteria tentang EO
kedalam empat model, masing-masing didasarkan atas suatu kelompok nilai
serta dalam tahap mana organisasi tersebut berada di daur hidupnya.
Secara konseptuan Efektifitas Organisasi memang kompleks begitu juga
upaya untuk mendefinisikan, bahwa keefektifan organisasi secara umum
dapat didefinisikan sebagai tingkatan pencapaian organisasi atas tujuan
jangka pendek dan jangka panjang.
DAFTAR PUSTAKA
Robbins Stephen P, Jusuf Udaya,1994, Teori Organisasi:Struktur, Desain &
Aplikasi, Edisi 3, Arcan, Jakarta, 1994, hal.52-85
Patria, Sutopo, 2001, Keefektifan Organisasi, Semarang, Universitas
Diponegoro
-, 2003, Perancangan Organisasi, www.lspitb.org, diakses tanggal 27-092009