Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
Abortus merupakan salah satu penyebab kematian ibu di negara
berkembang khususnya negara yang melarang tindakan abortus legal.
Abortus buatan yang dilakukan terhadap kehamilan yang tidak diinginkan
, baik untuk kepentingan medis maupun non medis yang berhubungan
dengan kriminalis yang

didalamnya terdapat

masalah global

yang

menyangkut segi moral , hukum , agama , ekonomi , budaya serta politik


suatu negara. Saat ini kehamilan yang diakibatkan hubungan bebas diluar
nikah semakin bertambah , dan jika mereka datang ketenaga ahli mereka
akan ditolak dengan alasan terikat hukum , moral etika serta agama.
Sehingga akhirnya mereka mencari alternatif lain untuk menggugurkan
kandungan

meskipun dengan komplikasi yang berbahaya. Komplikasi

yang utama adalah adanya infeksi yang biasanya diakibatkan manipulasi


rongga rahim dengan benda yang tidak steril.

( Pramono A, Saputro HH , 1994 )

Syok sepsis didefinisikan suatu keadaan Sepsis

ditambah

hipotensi walaupun telah diberikan resusitasi cairan dan adanya perfusi


jaringan yang tidak adekuat. Syok sepsis merupakan keadaan yang lebih
jarang dijumpai di bagian Obstetri dan Ginekologi dibandingkan dengan
syok hemoragik. Tetapi perlu penanganan yang segera

oleh karena

angka kematian yang tinggi. ( Cunningham FG , 2001)


Abortus sepsis merupakan salah satu penyebab kematian ibu ,
kondisi ini terutama terjadi dinegara berkembang sebagian besar
diakibatkan

abortus kriminalis . Di Amerika serikat kematian akibat

abortus sepsis telah menurun semenjak dilegalkan abortuss. Sekarang


angka

kematian kurang

dari 1 per 100.000 tindakan abortus. Di

Indonesia belum didapatkan angka resmi kematian karena syok sepsis


ini namun diprediksikan sangat tinggi .

( Gabbe GS , 1996)

Berikut ini akan dipresentasikan sebuah kasus wanita 22 tahun ,


status belum menikah , mengalami kehamilan diluar nikah datang
1

kedukun dilakukan abortus buatan , kemudian datang kerumah sakit


M.Djamil Padang , setelah dilakukan pemeriksaan didiagnosa dengan
G1P0A0H0 gravid 6-8 minggu + Abortus infeksiosus e.c abortus
provokatus , pasien dirawat dan berlanjut dalam keadaan syok sepsis dan
pasien meninggal sehari setelah dirawat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Abortus adalah

ancaman

atau

pengeluaran

hasil

konsepsi

sebelum usia kehamilan 28 minggu dihitung dari hari pertama haid


terakhir atau berat janin kurang dari 1000 gram. Menurut cara terjadinya
abortus dapat digolongkan menjadi 2 bagian : yaitu abortus spontan dan
abortus buatan. Sementara WHO tahun 1993 membagi abortus buatan
menjadi ( Wiknjosastro GH 1997 ) :
1. Safe abortion : yaitu abortus yang aman dimana tindakan
pengakhiran kehamilan dilakukan oleh tenaga profesional dengan
fasilitas medis yang memenuhi syarat .
2. Unsafe abortion : yaitu abortus yang tidak aman dimana tindakan
pengakhiran kehamilan yang tidak diinginkan

dilakukan oleh

tenaga tidak terdidik dan dilakukan ditempat yang tidak memenuhi


syarat standar medis serta sering menyebabkan komplikasi.
Abortus infeksiosus adalah berakhirnya kehamilan sebelum
waktunya dengan usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin
kurang dari 500 gram yang disertai infeksi pada uterus , parametrium ,
adneksa

, parametrium dan peritoneum dan akibat lebih jauh

menyebabkan sepsis.( Stoval GT ,McCord LM

1996 )

Penyebab utama komplikasi ini adalah manipulasi dari alat- alat


genital seperti memasukkan benda asing dalam rongga rahim dalam
keadaan tidak steril. Beberapa faktor yang berperanan pada abortus
infeksiosus seperti adanya abortus infeksiosus sebelumnya , paritas ,
status perkawinan , usia penderita , kuman penyebab , usia kehamilan.
Komplikasi yang serius kebanyakan terjadi pada unsafe abortion
walaupun kadang kadang dijumpai

juga pada abortus

spontan ,

komplikasi dapat berupa perdarahan , kegagalan ginjal , syok akibat


perdarahan dan infeksi , sepsis.

(Arias MD , 1993 )

Umumnya infeksi terbatas pada desidua dan dapat juga menyebar ke


miometrium , tuba , parametrium bahkan ke peritoneum

yang

menyebabkan peritonitis difusa. Sementara syok akibat infeksi disebut


dengan endotoksin syok yang sering berakibat fatal , pada abortus yang
tidak diobati akan mengakibatkan infeksi bila tidak ditanggulangi akan
menyebabkan

sepsis akibat endotoksin yang dihasilkan oleh kuman

penyebab. ( Prabowo RP , 1997 , Saifuddin AB 2000 )


PATOFISIOLOGI SYOK SEPSIS
Syok adalah suatu keadaan klinis yang akut pada penderita yang
bersumber pada berkurangnya perfusi jaringan dengan darah akibat
gangguan sirkulasi mikro . Kekurangan oksigen dalam keadaan syok ini
akan diimbangi dan dikompensasi oleh metabolisme

anaerob namun

bila kekurangan perfusi

lama kelamaan

metabolisme

anaerob

tidak dapat diperbaiki

dengan glukosa akan menimbulkan

timbunan

asam laktat dan asam piruvat sehingga terjadi asidosis metabolik yang
mengganggu kehidupan sel sel . Dengan demikian

hipoksia

jaringanakibat kekurangan perfusi yang berlangsung terlalu lama dan


progresif akan merusak sel sel dan pada akhirnya

menyebabkan

kematian. ( Prabowo RP , 1997 )


Sepsis adalah Systemic Inflammatory

Response

Syndrome

(SIRS ) yaitu proses inflamasi yang disebabkan oleh infeksi , sedangkan


fase klinis dari SIRS bila ditemukan 2 ataulebih dari gejala berikut :
1. Temperatur > 380 C atau < 360 C
2. Denyut jantung > 90 x/menit
3. Nafas > 32 x/menit
4. Leukosit > 12000 / mm3 atau < 4000/mm3

Sepsis yang berat adalah sepsis ditambah dengan disfungsi


organ , hipoperfusi organ organ terminal . Syok sepsis didefinisikan
keadaan sepsis ditambah hipotensi walaupun telah dilakukan resisutasi
cairan dan adanya perfusi jaringan yang tidak adekuat. Terjadinya SIRS
, Sepsis dan syok sepsis biasanya dihubungkan dengan onfeksi bakteri ,
tetapi bakteremia

bisa saja

tidak ditemukan . Bakteremia adalah

ditemukannya bakteri pada komponen cairan darah . Bakteremia mungkin


saja sementara , seperti yang terjadi pada trauma permukaan mukosa .
Bakteremia dapat primer ( tanpa adanya fokus yang jelas dari infeksi )
atau sekunder ( dengan adanya fokus intravaskuler atau ekstravaskuler ).
Syok sepsis disebabkan oleh

suatu endotoksin

suatu kompleks

lipopolisakarida yang berasal dari dinding bakteri gram negatif.


1996 , Cunningham FG 2001 )

Gambar : Struktur kimia Endotoksin


Sumber : Cunningham FG , 2001

( Mabie WC ,

Kemungkinan zat bakteri lainnya menghasilkan

mediator dengan

aktifasi komplemen yaitu kinin dan aktifasi sistem koagulasi . Mediator


lain

yang memicu

terjadinya syok sepsis adalah

asam arakhidonic

( leukotrin , prostaglandin , tromboxan ) , sistem komplemen , katekolamin


, fibrinolisisn , glukokortikoid , bradikinin , histamin , beta endhorpins ,
interlekin 1 .
Sepsis membuat

sistem sirkulasi hiperdinamik

. Keadaan ini

membuat curah jantung meningkat dan menimbulkan vasodilatasi pada


pembuluh

- pembuluh darah

Endotoksin menyebabkan

prekapiler

vasospasme

dalam sirkulasi mikro .

yang kuat pada vena vena

kecil dan venula karena pembuluh - pembuluh darah postkapiler ini


sangat sensitif terhadap endotoksin. ( Prabowo RP , 1997 , Cunningham FG ,2001 )
Dengan adanya vasodilatasi
vasokonstriksi

pembuluh darak

pembuluh darah postkapiler

prekapiler

dan

dalam sirkulasi mikro

terjadilah pengumpulan darah pada vena. Keadaan ini menyebabkan


peningkatan tekanan hidrostatik dalam kapiler. Endotoksin juga dapat
menimbulkan kerusakan

pada dinding kapiler

yang menimbulkan

perembesan cairan dari ruangan vaskuler ke ruangan ekstravaskuler.


Keadaan mengurangi

volume darah yang beredar. Endotoksin

dan

komponen struktur kuman akan berinteraksi dengan netrofil , monosit ,


makrofag dan sel endotel sehingga menimbulkan respon tubuh yang
disebut dengan SIRS.(Cunningham FG ,2001)
Endotoksin juga dapat merusak sel sel trombosit . Kerusakan
pada sel trombosit dan dinding kapiler ( pembuluh darah ) serta adanya
anoksia umum menimbulkan keadaan

yang memudahkan terjadinya

DIC. Dengan terjadinya DIC terbentuklah gumpalan gumpalan darah


dan trombin trombin fibrin
menyumbat

dalam pembuluh darah, sehingga dapat

dan mengganggu

aliran darah

didalamnya. Dengan

demikian volume darah yang mengalir kembali kejantung berkurang.


Selain terhadap pembuluh darah endotoksin juga berpengaruh terhadap
jantung yaitu menekan kerja otot jantung sehingga otot jantung menjadi
6

lemah . Dalam keadaan hipotensi ini pembuluh darah prekapiler dalam


keadaan vasodilatasi. ( Prabowo RP , 1997 , Cunningham FG , 2001 , Smith OH , 1997 )
Suhu penderita masih tinggi dan badannya terasa panas , pada
keadaan ini penderita berada dalam stadium hipotensi hangat ( warm
hypotensive phase ). Dengan terjadinya hipotensi mulailah terjadi
mekanisme

kompensasi seperti yang dijumpai pada hemoragik syok.

Terjadi vasokonstriksi pada pembuluh darah , terjadi sympathetic


squeezing , agar terjamin aliran darah ke organ organ vital. Karena
adanya

vasokonstriksi pada pembuluh darah

tepi , badan penderita

menjadi dingin dan suhu menurun sampai dibawah normal , keadaan ini
penderita berada dalam stadium hipotensi dingin / cold hypotensive
phase.
Bila syok dalam stadium ini tidak diatasi dan endotoksemia tidak
terkendali maka reaksi pembuluh pembuluh darah sepenuhnya dalam
keadaan pengaruh zat zat vasodilator yang disebabkan oleh jaringan
yang mengalami kerusakan . Dengan terjadinya vasodilatasi dalam
sirkulasi mikro , maka syok septik menjadi irreversible dengan segala
akibatnya. ( Prabowo RP , RP 1997 , Gabbe GS , 1996 , Cunningham FG 2001 )

Gambar : Patogenesa Syok sepsis


Sumber : Smith OH , in Te Linde Operative Gynecology 1996

GEJALA KLINIS
Syok sepsis pada pasien obstetri umumnya dikaitkan dengan 4
macam infeksi spesifik yaitu

abortus sepsis , pielonefritis akut ,

endometritis atau chorioamnionitis yang berat . Hanya 5 % dari pasien


infeksi diatas yang berkembang menjadi syok sepsis.
Syok sepsis menurut gejala klinis terbagi 2 fase yaitu

( Cunningham FG , 2001 )

1. Fase reversible ( terdiri dari early ( warm hypotensive phase ) dan


late ( cold hypotensive phase ).
2. Fase irreversible
Klinis dari warm hypotensive phase berupa hipotensi , suhu badan tinggi
sampai 40 C , naiknya suhu badan sering disertai dengan menggigil ,
tidak jarang penderita mengeluarkan keringat , kulit teraba hangat , nadi
agak cepat , penderita biasanya dalam keadanan gelisah.
Bila penyakit berjalan terus akibat vasokonstriksi yang luas , maka timbul
gejala dari cold hypotensive phase berupa hipotensi disertai suhu badan
yang dibawah normal , penderita terlihat pucat , kulit teraba dingin dan
lembab , nadi menjadi lebih cepat terjadi oliguria atau anuria , nafas
cepat dan dalam

, curah jantung menurun. Jantung menjadi aritmia

dengan tanda iskemia miokard dapat terjadi. Ikterik dapat terjadi sebagai
tanda adanya hemolysis . Produksi urine akan berkurang bahkan dapat
timbul suatu anuria.

Pada fase ini terdapat trias

yang khas yaitu

hipotensi , takikardi dan oliguria. ( Prabowo RP , 1997 , Cunningham FG , 2001)


Dalam syok sepsis yang irreversible
berat karena

pada hipoksia seluler

terjadi asidosis metabolik

dan metabolisme anaerob yang

berlangsung terus , dalam darah ditemukan penumpukan asam laktat ,


dalam stadium ini mulai timbul gangguan fungsi alat alat vital seperti
paru paru , ginjal , susunan saraf pusat dan sebagainya. Dapt juga
timbul adanya endotel kapiler pulmoner

yang mengalami kerusakan

dengan kebocoran kedalam alveoli sehingga timbul edema pulmoner

atau disebut ADRS ( adult systress respiratory syndrome )

( Cunningham FG ,

2001 )

Pada pemeriksaan laboratorium dapat ditemui leukositosis pada stasium


awal , lekopeni pada stadium lanjut , hemoglobin menurun oleh karena
adanya hemolisis. Fungsi pembekuan seperti jumlah trombosit , kadar
fibrinogen serum , protrombin time , parsial tromboplastin time umumnya
tak normal. Kadar enzym transaminase
Peningkatan kadar

dan bilirubin sering meningkat.

ureum darah dan kreatinin

darah mencerminkan

keadaan fungsi ginjal yang tidak normal. Enzim SGOT dan SGPT
meningkat juga . Pemeriksaan radiologi pada pasien dengan syok sepsis
dilakukan apakah terdapat suatu keadaan pnemonia . Sedangkan
pemeriksaan CT scan , MRI dan Ultrasound akan dapat berguna untuk
menentukan lokasi abses.

EKG diperlukan untuk monitoring

mendeteksi adanya tanda aritmia atau tanda iskemia.

dan

( Prabowo RP , 1997 )

PENATALAKSANAAN
Prinsip

umum

penatalaksanaan

syok

sepsis

adalah

menghilangkan infeksi dan mempertahankan hemostasis kardiovaskuler


dan respirasi. Terapi segera diberikan untuk mencegah

keadaan

irreversible.
Bagi wanita dengan abortus septik, hasil konsepsi harus segera
dikeluarkan melalui kuretase. Menurut Pritchart dan Whalley disamping
para pakar lainnya histerektomi jarang dilakukan kecuali bila uterus sudah
mengalami leserasi atau jelas infeksi berat.

(CunninghamFG , 2001)

1. Perbaiki Ventilasi
Tindakan pertama terhadap pasien syok sepyik adalah pemberian
oksigen serta pembebasan jalan napas, oksigen diberikan lewat masker
untuk memperbaiki hipoksia jaringan yang tengah terjadi. Jika jalan napas

10

tidak bebas atau pernapasan tidak adekuat, dapat dilakukan pemasangan


intubasi endotrakea. (Rinaldi N ,1989)
Jika pemberian cairan yang agresif tidak segera diikuti oleh
produksi urin sedikitnya sebanyak 30 cc dan sebaiknya 50 cc per jam,
disamping tidak ditemukannya indikator lain yang menunjukkan perbaikan
perfusi, maka kita harus memasang Central Venous Pressure (CVP).
( Cunningham , FG 2001 )

2. Pemberian Antibiotika
Preparat antimikroba berspektrum luas dibariakn dalam dosis tinggi
setelah pengambilan contoh yang tepat untuk pemeriksaan kultur.
Pemeriksaan

ini

mencakup

pemeriksaan

kultur

darah

bersama

pemeriksaan spesimen eksudat yang tidak terkontaminasi oleh flora


normal. Untuk pasien yang menglami abortus septik atau infeksi fasia
yang dalam, pemeriksaan sediaan apus dengan pewarnaan gram
mungkin dapat membantu mengetahui kuman penyebab infeksi.

(Cunningham

FG , 2001,Saifuddin AB 2000)

3. Kortikosteroid
Penggunaan kortikosteroid pada syok septik adalah untuk :
menurunkan tingkat mediator kuman seperti hitamin dan serotonin dengan
mencegah endotoxin-complement fixation dan kemudian mencegah
produksi anaphylatoxin. Disamping itu juga merangsang glukoneogenesis
dan mempunyai efek vasodilatasi dan menstabilkan membran lisosomal.
(Cunningham FG, 2001)

4. Obat Penunjang
-

Diuretika dibarikan bila terdapat oliguria dan mencegah


terjadinya acut tubuler necrosis yaitu dengan pemberian cairan
manitol 20% 200 cc selama 20 menit atau furosemid 40 200
mg i.v. juga untuk mengurangi kelebihan cairan dan edema paru
11

Digitalisasi bila ada payah jantung

Pengobatan DIC. Bila terdapat level fibrinogen yang rendah,


penurunan jumlah platelet dan peningkatan hasil degradasi
fibrin, dipertimbangkan untuk pemberian heparin. Alternatif lain
adalah Fresh Frozen Plasma atau Whole Blood .

( Dutta DC 1998

,Cunningham, FG ,2001)

5. Koreksi asidosis
Pada syok dihasilkan asam laktat yang merupakan metabolisme
anaerob dari glukosa. Asam laktat yang meninggi pada sepsis
menyebabkan asidosis. Untuk mengtasi asidosis dapat diberikan sodium
bikarbonat. Dosis pertama adalah 50 100 meq sodium bikarbonat dan
dosis selanjutnya tergantung pada status klinis pasien dan hasil analisa
gas darah. (Dutta DC, 1998)
Prognosis
Pada umumnya prognosis syok septik buruk. Karena angka
kematian syok ini sangat tinggi maka sangat perlu penggunaan antibiotiak
untuk dapat mencegah terjadinay syok septik. kematian karena sepsis dan
syok septik bervariasi tergantung kondisi dasar pasien, kuman penyebab,
pemberian antibiotika dan komplikasi yang menyertai. ( Gabbe GS ,1996)
-

Pasien dengan penyakit dasar yang berat seperti leukemia


mempunyai prognosis yang jelek, pasien tanpa penyakit dasar
mempunyai prognosis yang lebih baik.

End-organ failure merupakan penyebab kematian terbanyak.

12

BAB III
KASUS
Identitas :
Nama

: Sri Suhartati

Umur

: 22 thn

Pekerjaan : Mahasiswi
Alamat

: Parak Gadang no 15

Status

: Belum menikah

Seorang pasien wanita umur 22 tahun masuk IGD tanggal 10-11-2001


jam 21.15 dengan :
Keluhan utama : Keluar darah dari kemaluan sejak 1 minggu yang lalu.
Riwayat Penyakit Sekarang :
Keluar darah dari kemaluan sejak 1 hari yang lalu , kemudian
pergi berobat kebidan namun karena masih terjadi perdarahan
kemudian pasien pergi berobat ke rumah sakit.
-

Pasien mengaku menikah sejak 2 bulan yang lalu , kemudian


pasien terlambat haid , HPHT tanggal 25 - 9 01 , kemudian oleh
pasien dicoba diurut , menstruasi tidak keluar keluar juga lalu
dimasukkan kayu oleh dukun sebanyak 2 kali , yang pertama satu
minggu yang lalu , yang kedua 3 hari yang lalu.

Demam sejak 3 hari yang lalu , mual (+) , muntah (+)

Sesak nafas sejak 10 jam yang lalu

Buang air kecil normal.

Riwayat Penyakit Dahulu : Tidak pernah menderita penyakit hati , paru ,


jantung , ginjal , hipertensi , Diabetes Melitus.
Riwayat Penyakit Dahulu : tidak ada anggota keluarga menderita penyakit
keturunan , kejiwaan , menular ,
Riwayat Perkawinan : 1 kali tahun 2001
Riwayat kehamilan : sekarang
PEMERIKSAAN FISIK :
13

Kesadaran : Komposmentis kooperatif


Keadaan umum : buruk
Tekanan darah : 90 / 60 mmhg
Nadi : 115 x /menit
Suhu : 39,5 0 C
Pernafasan : 40 x/menit
Kulit

: sianosis ( - )

Kepala

: tidak ada kelainan

Mata

: Konjungtiva tak anemis, sklera tak ikterik

Telinga

: tidak ada kelainan.

Leher

: JVP 5 2 cmH2O, kel. Tyroid tidak membesar

Paru

: Ronkhi ( - ), Wheezing ( - )

Jantung

: LVH, irama teratur, bising ( - )

Abdomen

: status ginekologis

Genitalia

: status ginekologis

Ekstremitas

: edema +/+, Refleks Fisiologis +/+, Refleks


Patologis-/-

STATUS GINEKOLOGIS
Muka : Khloasma gravidarum (+)
Mamae : membesar , A/P hiperpigmentasi , colostrum (+)
Abdomen : Inspeksi : tak nampak membuncit , Line mediana
Hiperpigmentasi , striae (-) , sikatrik (-) venectasi (-)
Palpasi : FUT tak teraba , massa (-) , nyeri tekan (+) , Nyeri
lepas (-) , Defans muskuler (-) .
Perkusi : Shifting dullness (-)
Auskultasi : tympani
Genetalia : Inspeksi vulva uretra tenang
Vagina : fluxus (+) , warna merah kehitaman menumpuk di
forniks posterior , berbau busuk , laserasi (-) , tumor (-).
Porsio : Nulipara ukuran sebesar jempol kaki dewasa , tumor
14

(-), laserasi (-) , OUE terbuka 1 cm , fluxus (+) , warna


merah kehitaman , merembes sedikit dari kanalis
servikalis.
Pemeriksaan Dalam :
Vagina : tumor (-)
Porsio: Nulipara , ukuran sebesar jempol kaki dewasa ,
tumor (-),nyeri goyang (+)
Corpus uteri : sebesar telur bebek , permukaan rata , konsistensi
Kenyal .
Adneksa parametrium : lemas kiri = kanan
Kavum Douglasi : tak menonjol , nyeri tekan (-).
Laboratorium : tgl 19 11-2001
Gula darah random : 88 mg %
HB : 8,3 gr %
Leukosit : 31.200/mm
Plano tes : (-)
Trombosit : 91.000/ mm3
Urinalisis : kimia : protein : +++
Reduksi : Sedimen : Leukosit : +
Eritrosit : ++
Silinder : Kristal : Epitel : gepeng
Bilirubin : Urobilin : +
Diagnosa : G1P0A0H0 gravid 6-8 minggu + abortus infeksiosus e.c
abortus provokatus
Sikap : Perbaiki keadaan umum
Kontrol vital sign
Antibiotik
15

Rawat bangsal ginekologi


Rencana kuratage setelah 3 hari
Lapor konsulen advis : konsul penyakit dalam
Follow up tgl 20-11-01
Anamnesa : Keluar darah dari kemaluan sedikit sedikit
Demam (-)
Perut kembung (+)
Pemeriksaan fisik :
Keadaan umum : Buruk
Kesadaran : komposmentis kooperatif
Tekanan darah : 90 / 60 mmhg
Nadi : 108 x/mnt
Nafas : 42x/mnt
Suhu : 39C
Mata : konjungtiva anemis
Sklera tak ikterik
Leher : JVP 5 2 cmH2O , Kel getah bening tak membesar
Thorak : Cor dan Pulmo dalam batas normal
Abdomen : I : tak nampak membuncit
P : FUT tak teraba , Nyeri tekan (+) , Nyeri lepas (-) , Defans
muskular (-)
Perkusi : timpani , meteorismus (+)
Auskultasi : bising usus (+) Normal
Genetalia : Inspeksi Vulva / uretra tenang
Kateter urine terpasang : urine 10 cc warna merah kehitaman
Diagnosa : G1 P0A0H0 Gravid 6-8 minggu + syok septik e.c Abortus
infeksiosus e.c abortus provokatus
Sikap : tidur semifowler
Oksigen 4 liter /menit
Fortagyl 3 x 1
16

Gentamicyn 2 x 80 gr
Kalfoxim 2 x 1gram
Infus Nacl 28 tts / mnt
Metergin 3 x 1 amp
Periksa labor lengkap
Konsul penyakit dalam
Rencana : curettage setelah perbaikan keadaan umum
Hasil Konsul penyakit Dalam jam 11.30 WIB
Kesan : Syok Sepsis e.c abortus infeksiosus
Terapi : Istirahat
Makanan lunak
Infus Na Cl tetesan cepat sampai tensi > 90 mmhg lalu lanjutkan
4 jam / kolf
Antibiotik sesuai TS
Kalmetason 4 x 20 mg iv
Anjuran : Periksa Bilirubin darah I ,II
Ureum , kreatinin
Faal hemostatis , PT , APT, PTT , CT , BT, Trombosit
Jam 13.00
Pasien apnoe
Pemeriksaan fisik :
Keadaan Umum : jelek
Kesadaran : Soporos komatus
Nadi : tak teraba
Tekanan darah : tak teraba
Nafas : apnoe
Suhu : 38,5
Mata : konjungtiva anemis , sklera ikterik
Pupil midriasis 4 mm / 4 mm
17

Reflek pupil + / +
Leher : JVP 5 2 cm H20
Kelenjar tiroid tak membesar
Thoraks : Jantung dan paru tak terdengar
Gerak pernafasan tak ada
Abdomen : status ginekologis
Ekstremitas : RF + / +
RP - / Edema - / akral dingin
Laboratorium tgl 20-11-01 jam 13.00
Hemoglobin 8,8 gr %
Lekosit : 10.200 / mm
Ureum : 112 mgr %
Kreatinin : 4, 20 mg%
Trombosit : 87.000/mm
SGOT : 76 u/ml
SGPT : 42 u/ml
Diagnosa : syok sepsis e.c abortus infeksiosus e.c abortus provokatus
Dilakukan resusitasi kardiopulmonal dan intubasi
Jam 13.30 : pasien dinyatakan meninggal dihadapan petugas medis ,
paramedis , dan keluarga pasien.

18

Tabel Kontrol keadaan umum

Tanggal /
Jam
19-11-01
22.00

Suhu

Nadi

Nafas

Tensi

Urine

Keterangan

39,5

116

40

80 / 60

30 cc
kehitaman

Infus RL
guyur 1000
cc
Dexametason
2 amp
Oksigen 4 L /
Menit

22.15
22.30

116
116

40
44

80 / 60
90 / 60

22.45
23.00
23.15
23.30
23.45
24.00

116
112
112
112
112
116

44
44
44
44
48
48

90 / 60
90 / 60
90 / 60
90 / 60
90 / 60
90 / 60

20-11-01
00.15
01.00
01.30

116
114
116

48
54
54

90 / 60
100 / 90
100 / 90

120

56

90 / 60

Cepat
dan
halus
120
116
116
116
112
112
112
112

56

60 / pols

56
54
54
54
52
48
48
48

80 / 60
90 / 60
90 / 60
90 / 60
90 / 60
90 / 60
90 / 60
90 / 60

02.00
02.15
02.30
03.00
03.15
03.30
04.00
04.15
04.30
04.45

38

19

Elyzol 1 kolf
Cefotaxim 1
gr
Gentamicin
80 gr

20 cc
Kehitaman
Dexametason
2 amp

Pasien
pindah ke
ZGL

05.30
05.45
06.00
06.15
06.30
06.45
07.00
07.15
07.30
07.45
08.00
08.30
09.00
09.30
10.00
10.30
11.00
11.30
12.00
12.30
13.00
13.15
13.30

39,5
39,5
39,2
39,1
39,0
39,0
38,8
38,8
38,5
38,5

108
108
108
108
108
108
108
112
108
108
107
112
114
112
110
112
114
112
116
120
Tak
teraba
Tak
teraba
Tak
teraba

44
44
44
44
44
44
42
44
42
42
42
44
44
44
42
42
44
42
44

90 / 60
90 / 60
90 / 60
90 / 60
90 / 60
80 / 60
80 / 60
90 / 60
90 / 60
90 / 60
80 / 60
80 / 60
80 / 60
80 / 60
80 / 60
80 / 60
80 / 60
80 / 60
80 / 60
60 / pols
Tak
teraba
Tak
teraba
Tak
teraba

20

10 cc warna
merah
kehitaman

Plasmafusin
Nacl 0,9 %
guyur
Apnoe tibatiba
RKP +
Intubasi
Meninggal

BAB IV
PEMBAHASAN

Pasien ini masuk Instalasi Gawat Darurat tgl 19 11 2001 ketika


masuk pasien mengaku sudah menikah namun belakangan diketahui
bahwa pasien bertatus belum menikah , hal ini sesuai dengan literatur
bahwa saat ini hubungan bebas diluar perkawinan cenderung bertambah
banyak yang mengakibatkan

kehamilan tidak diinginkan

dan pada

akhirnya akan melakukan abortus dengan segala akibatnya . Kehamilan


diluar perkawinan

khususnya di Indonesia dianggap sebagai aib dan

peristiwa yang memalukan bagi keluarga , dan jika mereka datang pada
tenaga ahli

untuk menggugurkan

kandungan akan ditolak

karena

alasan etik , moral , hukum , agama sehingga mereka mencari alternatif


lain yang berakhir
komplikasi

adalah

dengan berbagai komplikasi. Penyebab utama


akibat manipulasi

pada alat

kandungan berupa

pijatan atau memasukan benda asing kedalam rongga rahim dalam


kondisi tidak steril , dan pada pasien ini abotus buatan dilakukan oleh
tenaga tidak terlatih ( dukun ) dengan memasukan

benda asing

semacam kayu kedalam rongga rahim sehingga menimbulkan komplikasi


infeksi yang berlanjut pada keadaan sespis.
Diagnosa abortus infeksiosus pada saat ini belum seragam dimana
kriteria diagnosa yang diajukan masih berbeda beda

berdasarkan

gambaran klinis. Kriteria minimal yang diajukan adalah demam lebih dari
38 C walaupun sangat bervariasi tergantung dari perjalanan infeksinya ,
adanya tanda kehamilan , tanda infeksi dari rongga pelvis , nyeri tekan
pada uterus dan adneksa , pengeluaran sekret dari serviks yang purulen ,
berbau dan produk konsepsi yang terinfeksi .
Pada
akibat

(Dikutip dari Ichwan Z , 1999)

pasien ini adanya syok sepsis disebabkan


adanya

bakteremia

perjalanan penyakit

abortus infeksiosus sehingga menimbulkan adanya

mengakibatkan

adanya pelepasan endotoxin sehingga


21

menimbulkan endotoxemia yang menimbulkan

pelepasan endorphin ,

katekolamin

sehingga menimbulkan

, aktivasi komplemen kaskade

kerusakan seluler , kerusakan mikrovaskuler yang menimbulkan iskemia


jaringan , pelepasan histamin

yang menimbulkan transudasi cairan

intravaskuler kedalam ruangan ekstravaskuler

, sehingga hal tersebut

mengakibatkan penurunan volume sirkulasi darah yang menimbulkan


penurunan venous return

, selanjutnya

penurunan

tekanan darah

sistemik dan akibat lebih lanjut menimbulkan kerusakan jaringan lebih


lanjut sehingga timbul
hipotensi

asidosis

metabolik dan berlanjut menjadi

yang tak teratasi , multiple organ failure dan koma serta

berakhir dengan kematian. ( Gabbe GS , 1996 )


Keluhan dan gejala klinis

pada permulaan

sepsis

sangat tidak

spesifik , pasien mengeluh menggigil , berkeringat , nafas pendek , mual


, diare dan sakit kepala. Pada pasien ini

sepsis didasarkan adanya

gejala klinis suhu yang > 38C , leukosit 30.000/mm , frekuensi pernafasan
40 x/menit , frekuensi nadi 112 x/menit , hal ini sesuai dengan
kepustakaan bahwa untuk pengenalan dini bahwa pasien telah masuk
kedalam keadaan septik dengan menggunakan ciri kuantitatif SIRS yaitu
(Mabbie WC , 1996 )

1. Suhu badan > 380 C


2. Frekuensi denyut jantung > 90 x / menit
3. Frekuensi pernafasan > 20 x / menit
4. Hitung leukosit > 12.000/mm3 , < 4000/mm3
Adanya multiple organ failure pada pasien ini berdasarkan produksi urine
sedikit 6 cc/ 1jam warna merah kehitaman , hasil laboratorium ureum
( 112 mgr %) dan

kreatinin ( 4,2 mgr %) yang

tinggi dari normal

merupakan tanda kerusakan pada ginjal . Kerusakan ginjal yang menetap


pada abortus biasanya disebabkan oleh bermacam

efek dari infeksi ,

dimana endotoksin dapat menyebabkan kerusakan ginjal bukan pada


epitel tubulus tetapi pada membrane basalis rusak , epitel tidak dapat
mengadakan regenerasi untuk membentuk fungsi nefron.
22

(Smith OH , 1997 )

Kerusakan pada hepar ditandai dengan tingginya SGOT ( 76 u/ml)dan


SGPT (42 u/ml) .Sehungga pada pasien ini sudah terjadi keadaan multiple
organ failure.
Pada pasien ini monitoring terhadap pasien kurang adekuat , mengingat
sepsis merupakan penyebab mortalitas yang tinggi dan harus diatasi
sebelum terjadinya keadaan yang lebih parah , monitoring yang tidak
dilakukan pada pasien berupa pemeriksaan EKG , pemeriksaan rontgen ,
dan laboratorium seperti analisa gas darah , elektrolit , kultur darah ,
urine .
Prognosis umumnya buruk , dengan multiple organ failure
merupakan penyebab

kematian terbanyak. Penyebab kematian pada

pasien ini adalah adanya muliple organ failure dan adanya hipotensi yang
tidak dapat diatasi.

23

BAB V

KESIMPULAN
1. Kehamilan yang terjadi pada pasien ini akibat hubungan bebas
diluar perkawinan .
2. Penyebab abortus infeksiosus pada
komplikasi infeksi

pasien ini adalah adanya

akibat abortus buatan yang dilakukan oleh

tenaga tidak terlatih dengan memasukan benda kedalam rongga


rahim dalam keadaan tidak steril.
3. Penyebab kematian pada pasien ini adalah adanya hipotensi yang
tidak teratasi dan adanya multiple organ failure.
SARAN
1. Perlunya pemberian informasi kepada masyarakat tentang bahaya
komplikasi akibat abortus buatan yang dilakukan oleh tenaga tidak
terlatih.

24

DAFTAR PUSTAKA
1. Pramono A , Saputro HH : Karakteristik Abortus Infeksiosus :
Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia , April 15:2 ,. Bagian
Obstetri dan Ginekologi Fakutas kedokteran Universitas
Diponegoro Semarang 1994 , hal 118-28.
2. Prabowo RP : Syok dalam kebidanan , Ilmu Kebidanan , Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo , Jakarta , 1997 , hal 675
88.
3. Smith HO : Shock in Gynaecologic Patien in the Te Linde
Operative Gynecologic 8th ed, Lippincott Raven , Philadelphia
New York , 1997, p 245-259.
4. Saifuddin AB : Manajemen

kegawatdaruratan dalam Acuan

Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal , Yayasan


Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo , Jakarta , 2000 , hal 72-77.
5. Rinaldi N, Dachlan R : Syok dalam Anestesiologi, Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia , Jakarta , 1989 , hal 172-81.
6. Wiknjosastro GH : Abortus dalam ilmu Kebidanan , Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo , Jakarta , 1997 ,hal 110-18
7. Arias MD , Early Pregnancy Loss Practical

Guide

to High

Pregnancy and Delivery 2th edition , Mosby Year Book Company


ST Louis 1993 p 55-70
8. Ichwan Z , Tesis Kejadian Endometritis Pada Abortus Inkomplet
selama 3 Bulan di RSUP Dr.M.Djamil Padang 1 Juni 1999 31
Agustus 1999. Laboratorium / SMF Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran UNAND Padang 1999.
9. Mabie WC : Septic Shock in Obstetrics Normal and Problem
Pregnancies , Churchill Livingstone , New York , 1996 , p 550-52
10. Dutta DC : Shick in Obstetrics , Text Book of Obstetrics , 4 th edition ,
New India Central Book Agency ( P) LTD , 1998, P 655 62.

25

11. Smith OH , Shock in Gynecology Patient , in TeLinde Operative


Gynecology , eight edition , Lippincott Raver , 1997 , p 245 62.
12. Howard FJ :Family Planning in Novaks Textbook of Gynecology 12 th
edition , William & Wilkins , Baltimore , Maryland , 1996 , p 264-9
13. Cunningham FG , Critical Care and Trauma , Williams Obstetrics ,
21th edition , Prentice Hall International , 2001 , p 1059-78
14. Gabbe GS , Maternal and Perinatal Infection obstetrics normal
and Problems Pregnancy , 3 rd edition , Churchill LivingstoneInc ,
1996 , p 1193-1247.
15. Stovall GT , Early Pregnancy Loss and Ectopic Pregnancy Novaks
Textbook of Gynecology 12th edition , William & Wilkins , Baltimore ,
Maryland , 1996 , p 487-502

26