Anda di halaman 1dari 8

Pendahuluan

Rinitis vasomotor merupakan suatu bentuk rinitis yang tidak berhubungan dengan reaksi alergi
(rinitis non alergi) tetapi memiliki gejala yang mirip dengan rinitis alergi. Pada penderita dengan
rinitis vasomotor akan dikeluhkan adanya sumbatan pada hidung yang dapat terjadi secara berulang
disertai dengan pengeluaran sekret yang encer dan bersin-bersin. Perjalanan penyakit ini cenderung
bersifat kronis dan bisa berlangsung seumur hidup, kondisi ini yang kadang membuat pasien
terganggu sehingga menjadi tidak nyaman dan frustasi akan penyakitnya yang berdampak
terganggunya aktivitas dan produktivitas penderita sehari-hari disamping penderita juga harus
mengeluarkan biaya ekstra untuk obat yang biasanya hanya bersifat simtomatis saja.1
Klasifikasi dari rinitis telah lama diperdebatkan menurut beberapa kepustakaan. Rinitis dibagi
menjadi dua kelompok yaitu rinitis yang berhubungan dengan reaksi alergi (rinitis alergi) dan rinitis
yang tidak berhubungan dengan reaksi alergi (rinitis non-alergi), di mana rinitis vasomotor
termasuk ke dalam kelompok rinitis non-alergi. Rinitis non-alergi dapat disebabkan oleh terapi
medikamentosa, hormonal, dan infeksi. Rinitis vasomotor

terjadi akibat gangguan vasomotor

hidung yaitu terdapat gangguan fisiologik lapisan mukosa hidung yang disebabkan oleh
bertambahnya aktifitas parasimpatis.

Isi
Anamnesis
Pada kasus Rinitis Vasomotor anamnesis cukup berperan dalam menegakkan diagnosis. Anamnesis
dilakukan dengan menanyakan keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu,
riwayat penyakit keluarga dan riwayat sosial. Pada kasus Rinitis Vasomotor keluhan utama biasanya
1

ditemukan pasien sering mengalami hidung tersumbat serta keluar ingus yang encer dan jernih dan
disertai bersin. Biasanya penderita tidak mempunyai riwayat alergi dalam keluarganya dan keluhan
dimulai pada usia dewasa. Beberapa pasien hanya mengeluhkan gejala sebagai respon terhadap
paparan zat iritan tertentu tetapi tidak mempunyai keluhan apabila tidak terpapar.1

Pemeriksaan Fisik dan Penunjang


Pada pemeriksaan rinoskopi anterior tampak gambaran klasik berupa edema mukosa hidung, konka
hipertrofi dan berwarna merah gelap atau merah tua (karakteristik), tetapi dapat juga dijumpai
berwarna pucat. Permukaan konka dapat licin atau berbenjol (tidak rata). Pada rongga hidung
terdapat sekret mukoid, biasanya sedikit. Akan tetapi pada golongan rinore, sekret yang ditemukan
bersifat serosa dengan jumlah yang banyak. Pada rinoskopi posterior dapat dijumpai post nasal
drip.2
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan rinitis alergi. Test kulit
(skin test) biasanya negatif, demikian pula test RAST, serta kadar IgE total dalam batas normal.
Kadang- kadang ditemukan juga eosinofil pada sekret hidung, akan tetapi dalam jumlah yang
sedikit. Infeksi sering menyertai yang ditandai dengan adanya sel neutrofil dalam secret.
Pemeriksaan radiologik sinus memperlihatkan mukosa yang edema dan mungkin tampak gambaran
cairan dalam sinus apabila sinus telah terlibat.2,3

Diagnosis Kerja
1. Rinitis Vasomotor
Diagnosis penyakit ini ditegakkan berdasarkan anamnesa yang lengkap dan
pemeriksaan status lokalis (THT). Dari anamnesa dicari faktor pencetusnya dan disingkirkan
kemungkinan rinitis alergi. Rinitis vasomotor menimbulkan gejala sumbatan pada hidung,
rinore dan bersin. Karena mekanisme terjadinya rinitis vasomotor dipengaruhi oleh sistem saraf
otonom, maka dapat dipahami mengapa gangguan emosi sering ditemukan pada pasien rinitis
dengan gejala hidung tersumbat.2 Reaksi vasomotor selain disebabkan oleh disfungsi sistem
saraf otonom, dipengaruhi juga oleh faktor iritasi, fisik dan endokrin. Penderita rinitis
vasomotor umumnya menunjukkan gambaran sensitivitas yang berlebihan terhadap iritasi,
rangsangan dingin atau perubahan kelembaban udara. Keluhan yang dominan pada rinitis
vasomotor ini adalah sumbatan pada hidung dan rinore yang hebat. Keluhan bersin dan gatal
tak begitu dominan pada kasus ini.4

Diagnosis Banding
1. Rinitis Alergi
2

Rhinitis alergi adalah penyakit peradangan yang diawali oleh dua tahap sensitisasi yang diikuti
oleh reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari dua fase yaitu :5
a. Immediate Phase Allergic Reaction, Berlangsung sejak kontak dengan allergen hingga 1 jam
setelahnya.
b. Late Phase Allergic Reaction, Reaksi yang berlangsung pada dua hingga empat jam dengan
puncak 6-8 jam setelah pemaparan dan dapat berlangsung hingga 24 jam.
Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi
yang sebelumnya sudah tersensitasi dengan allergen yang sama serta dilepaskannya suatu
mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan allergen spesifik tersebut.
a. Bersin berulang-ulang, terutama setelah bangun tidur pada pagi hari (umumnya bersin lebih
dari 6 kali).
b. Hidung tersumbat.
c. Hidung meler. Cairan yang keluar dari hidung meler yang disebabkan alergi biasanya bening
dan encer, tetapi dapat menjadi kental dan putih keruh atau kekuning-kuningan jika
berkembang menjadi infeksi hidung atau infeksi sinus.
d. Hidung gatal dan juga sering disertai gatal pada mata, telinga dan tenggorok.
e. Badan menjadi lemah dan tak bersemangat.

Gambar 1. Rinitis alergi dan rinitis vasomotor

2. Rinitis ec viral
Rhinitis virus akut (flu biasa) dapat disebabkan oleh berbagai macam virus. Gejala terdiri dari
pilek, bersin, hidung, postnasal drip, batuk, dan demam ringan. Tersumbat dapat diatasi dengan
menggunakan dekongestan, seperti oxymetazoline atau fenilefrin sebagai semprot hidung atau
pseudoefedrin oral.

Etiologi dan Patofisiologi


3

Etilogi pasti rinitis vasomotor belum diketahui dan diduga akibat gangguan keseimbangan sistem
saraf otonom yang dipicu oleh zat-zat tertentu.4,5,6
Etiologi pasti dari rinitis vasomotor belum diketahui dengan pasti akan tetapi diperkirakan
disebabkan oleh:
1.

Adanya ketidakseimbangan sistem saraf otonom ( hipoaktif sistem saraf simpatis)


Hal ini diakibatkan karena terjadinya aktifitas sistem saraf parasimpatis yang lebih
dominan dari pada aktifitas sistem saraf simpatis, sehingga menimbulkan vasodilatasi
pembuluh darah kecil di mukosa hidung. Vasodilatasi ini akan menimbulkan gejala klinis yang
dominan, yang berupa hidung tersumbat. Mukosa hidung beserta struktur yang ada didalamnya
mempunyai fungsi untuk mempersiapkan udara yang akan masuk kedalam paru-paru antara
lain melembabkan, menyaring, dan memanaskan udara. Semua ini dikontrol oleh serat-serat
saraf parasimpatis dan saraf simpatis.

2.

Adanya trauma pada hidung (komplikasi akibat tindakan pembedahan serta non
pembedahan).

3.

Neuropeptida
Zat-zat neuropeptida ini menyebabkan:
a.

Disfungsi sistem saraf otonom dan saraf-saraf sensoris


Hal ini mengakibatkan gangguan pada saraf nosiseptif tipe C, yang disebabkan oleh
peningkatan ekspresi dari p-substance dan calcitonin gene-related peptides. Terjadi
peningkatan sekresi kelenjar serta pengeluaran cairan plasma, di mana hal ini dirangsang
oleh adanya reflek dari sistem saraf parasimpatis yang menyebabkan peningkatan sekresi
kelenjar submukosa hidung.

b.

Rinitis akibat iritasi kronis dari asap rokok


Hal ini diakibatkan oleh peningkatan ekspresi dari

calcitonin gene-related peptide, p-

substance, vasoactive intestinal peptide (VIP), neuropeptide tyrosine (NPY). NPY, senyawa
peptida yang terdiri dari 36 asam amino, merupakan zat vasokonstriktor yang sering
ditemukan bersamaan dengan noradrenalin pada serabut saraf simpatis perifer. VIP, zat
neurotransmiter yang bersifat antikholinergik pada sistem traktus respiratorius, memberikan
efek bronkodilatasi dan vasodilatasi.
c.

Paparan ozone yang berlebihan


Hal ini menyebabkan gangguan pada sel-sel epitel sehingga terjadi peningkatan
permeabilitas serta perangsangan terhadap sel-sel inflamasi. Akibatnya, jika berlangsung
lama akan berlangsung proses proliferasi sel-sel epitel yang akan merangsang peningkatan
sekresi kelenjar.
4

d.

Penurunan kemampuan dari silia mukosa hidung dalam menghalau partikel-pertikel


asing.

4.

e.

Peningkatan produksi radikal bebas

f.

Peningkatan sintesis DNA


Nitric Oxide (NO)

Zat ini menyebabkan nekrosis sehingga luas jaringan normal akan berkurang. Hal ini
diakibatkan adanya peningkatan ekspresi NO pada epitel hidung, sehingga terjadi peningkatan
kadar NO yang persisten. Peningkatan kadar NO ini membuat sel-sel epitel mengalami
gangguan secara terus menerus ( penurunan kemampuan silia mukosa hidung dalam menghalau
partikel-partikel asing, meregangnya epithel-junction mukosa hidung, diskontinuitas membran
basalis), serta terjadi perangsangan dari serat saraf aferen nervus trigeminus, yang
menyebabkan perangsangan reflek vaskular serta sekresi kelenjar, hal ini menyebabkan
timbulnya gejala dari rinitis vasomotor. Untuk menurunkan kadar NO, sangat dipengaruhi oleh
jumlah reseptor NPY di dalam sirkulasi darah, dapat diberikan alfa 2 adrenoreseptor agonis
yang diberikan secara intranasal.
Beberapa faktor yang mempengaruhi keseimbangan vasomotor :
1. Obat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf simpatis, seperti ergotamin,
chlorpromazin, obat anti hipertensi dan obat vasokonstriktor topikal.
2. Faktor fisik, seperti iritasi oleh asap rokok, udara dingin, kelembaban udara yang tinggi dan
bau yang merangsang.
3. Faktor endokrin, sepeti keadaan kehamilan, pubertas, pemakaian pil anti hamil dan
hipotiroidisme.
4. Faktorpsikis, seperti stress, ansietas dan fatigue.

Gejala Klinik
Gejala yang dijumpai pada rhinitis vasomotor kadang-kadang sulit dibedakan dengan rhinitis alergi
seperti hidung tersumbat dan rinore. Rinore yang hebat dan bersifat mukus atau serous sering
dijumpai. Gejala hidung tersumbat sangat bervariasi yang dapat bergantian dari satu sisi ke sisi
yang lain, terutama sewaktu perubahan posisi. Keluhan bersin-bersin tidak begitu nyata bila
dibandingkan dengan rhinitis alergi dan tidak terdapat rasa gatal di hidung dan mata.
5

Gejala dapat memburuk pada pagi hari waktu bangun tidur oleh karena adanya perubahan suhu
yang ekstrim, udara lembab, dan juga oleh karena asap rokok dan sebagainya.
Selain itu juga dapat dijumpai keluhan adanya ingus yang jatuh ke tenggorok (post nasal drip).
Berdasarkan gejala yang menonjol, rhinitis vasomotor dibedakan dalam dua golongan, yaitu
golongan obstruksi (blockers) dan golongan rinore (runners/sneezers). Oleh karena golongan rinore
sangat mirip dengan rhinitis alergi, perlu anamnesis dan pemeriksaan yang teliti untuk memastikan
diagnosisnya.4,6,7

Penatalaksanaan
Pengobatan pada rinitis vasomotor bervariasi, tergantung pada faktor penyebab dan gejala
yang menonjol. Secara garis besar, pengobatan dibagi dalam :4,6,7
1. Menghindari penyebab
2. Pengobatan simtomatis, dengan obat-obatan dekongestan oral, diatermi, kauterisasi konka yang
hipertofi dengan memakai larutan AgNO3 25% atau triklor asetat pekat. Dapat juga diberikan
kortikosteroid topikal, dua kali sehari dengan dosis 100-200 mikrogram sehari. Dosis dapat
ditingkatkan sampai 400 mikrogram sehari. Hasilnya akan terlihat setelah pemakaian paling
sedikit selama 2 minggu. Saat ini terdapat kortikosteroid topical baru dalam aqua seperti
flutikason propionate dengan pemakaian cukup satu kali sehari dengan dosis 200 mcg.
3. Operasi, dengan cara bedah beku, elektrokauter atau konkotomi inferior, bila pengobatan yang
diberikan gagal memperbaiki gejala klinis.
4. Sphenopalatina ganglion blok dan neurektomi n.vidianus, yaitu dengan melakukan pemotongan
pada n.vidianus, bila dengan cara diatas tidak memberikan hasil. Operasi ini tidaklah mudah,
dapat menimbulkan komplikasi, seperti sinusitis, diplopia, buta, gangguan lakrimasi, anesthesia
infraorbita dan anesthesia palatum. Hal ini dianjurkan untuk mengatasi intractable rinitis
vasomotor.

Komplikasi
Komplikasi yang sering timbul pada rinitis vasomotor adalah:
1.

Sinusitis paranasalis

2.

Polip nasi

3.

Otitis media

Prognosis
6

Prognosis dari rhinitis vasomotor bervariasi. Penyakit kadang-kadang dapat membaik dengan tibatiba, tetapi bisa juga resisten terhadap pengobatan yang diberikan. Prognosis pengobatan golongan
obstruksi lebih baik daripada golongan rinore. Oleh karena golongan rinore sangat mirip dengan
rhinitis alergi, perlu anamnesis dan pemeriksaan yang teliti untuk memastikan diagnosisnya.

Kesimpulan
Rhinitis vasomotor merupakan suatu gangguan fisiologik neurovaskular mukosa hidung dengan
gejala hidung tersumbat, rinore yang hebat dan kadang-kadang dijumpai adanya bersin-bersin.
Penyebab pastinya tidak diketahui. Diduga akibat gangguan keseimbangan sistem saraf otonom
yang dipicu oleh faktor-faktor tertentu. Biasanya dijumpai setelah dewasa (30 40 tahunan).
Rhinitis vasomotor sering tidak terdiagnosis karena gejala klinisnya mirip dengan rhinitis alergi,
oleh sebab itu sangat diperlukan pemeriksaan yang teliti untuk menyingkirkan kemungkinan rhinitis
lainnya terutama rhinitis alergi dan mencari faktor pencetus yang memicu terjadinya gangguan
vasomotor.

Daftar Pustaka
1

Soepardi EA. Buku ajar ilmu kesehatan telingan hidung teggorok kepala leher (pemeriksaan
telinga, hidung, tenggorok kepala dan leher). 6th ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; hal 3-9.

Lynn SB, Peter GS. 2009. Bates buku ajar pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan. 8th ed.
Jakarta: EGC; hal 142-3.
7

Bickley LS. 2009. Buku ajar pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan BATES. 8th ed. Jakarta:
ECG; hal162-3.

Irawati N, Poerbonegoro N, Kasakeyan E. 2007. Buku ajar ilmu kesehatan telingan hidung
teggorok kepala leher (rinitis vasomotor). 6th ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; hal 135-38.

Wijaya C. 2000. Boies buku ajar penyakit tht. 6th ed. Jakarta: EGC; hal 206-20.

Rusmono Nikmah, Irawati N. 2007. Buku ajar ilmu kesehatan telingan hidung teggorok kepala
leher (rinitis alergi). 6th ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; hal 128-134.

Probst R, Grevers G, Iro H. 2006. Basis otorhinolaryngolory a step-by-step learning guide.


New York: Georg Thieme Verlag Stuttgart; hal 49-53.