Anda di halaman 1dari 9

Bahaya Zat Kimia Pada Roti

Pada puluhan tahun yang lalu atau sekitar 50 tahun yang lalu, proses pembuatan roti
membutuhkan waktu satu hari satu malam.
Akan tetapi pada saat ini waktu yang diperlukan dalam membuat roti tidaklah selama itu
karena hanya membutuhkan waktu sekitar 3 jam, yang biasanya menggunakan bread
improver dalam proses pembuatannya.
Akan tetapi bread remover ini memiliki bahaya yang tersembunyi yaitu ternyata bahan ini
mengandung zat kimia yang sebenarnya tidak aman bagi kesehatan tubuh.
Maka dari itu ada baiknya jika anda berpikir ulang jika sebelumnya anda terlalu sering
memberikan roti pada anak anda pada saat sarapan.
Hal ini karena belum lama ini telah ditemukan 2 macam zat kimia yang berbahaya di dalam
kandungan roti, yaitu Potassium Bromate dan Calcium Propianate.
Potassium Bromate merupakan zat kimia yang sering digunakan dalam pembuatan roti.
Namun pada akhirnya bahan ini telah resmi dilarang oleh beberapa negara seperti Inggris dan
Kanada setelah zat kimia ini dimasukkan ke dalam kelompok karsinogen yang bisa memicu
kanker oleh Environmental Protection Agency (EPA).
Selain itu BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) Indonesia juga melarang
penggunaan zat kimia ini untuk produk makanan.
Selain ditemukan dalam roti, Potassium Bromate juga sering digunakan untuk produksi karet,
busa dan plastik. Sedangkan zat kimia berbahaya berikutnya yang sering ditemukan di dalam
roti adalah Calcium propionate.
Calcium Propionate merupakan bahan pengawet makanan yang sering digunakan untuk
adonan yang mengandung sedikit air, misalnya untuk roti tawar ataupun untuk roti manis.
Penggunaan bahan kimia ini berguna untuk membuat roti terlihat semakin putih dan bersih
serta membuat roti menjadi lebih tahan terhadap jamur.

Namun sayangnya produsen roti di Indonesia masih banyak yang menggunakan bahan ini
bahkan dalam kadar yang sangat banyak dalam pembuatan roti supaya menjadi lebih putih
dan awet.
Yang lebih parah lagi adalah dengan alasan ingin menekan biaya produksi, ada sebagian
produsen roti yang menggunakan calcium propionate yang bukan untuk makanan.
Yang dikhawatirkan adalah apabila anak-anak mengkonsumsi roti yang mengandung bahan
ini karena Calcium Propionate bisa menyebabkan penyakit ADHD (Attention-deficit
hyperactivity disorder) dan ADD (Attention-deficit hyperactivity disorder) yang bisa dilihat
dengan gejala anak menjadi lebih sulit untuk berkonsentrasi serta selalu hiperaktif.
Sebenarnya beberapa guru di International School sudah sering menyampaikan hal ini pada
muridnya dimana mereka memberi saran untuk tidak terlalu sering memakan roti.

ke-2 jenis makanan ringan yang pernah ketahuan memasukkan MSG :


mengandung MSG (monosodium glutamate), tetapi tidak mencantumkannya dalam kemasan
:

1. Cheetos (1,20%),

2. Chitato dengan rasa sapi panggang (1,06%),

Efek Bahaya dari Penggunaan MSG :


A. Chinese Restaurant Syndrome
Tahun 1968 dr. Ho Man Kwok menemukan penyakit pada pasiennya yang gejalanya cukup
unik. Leher dan dada panas, sesak napas, disertai pusing-pusing. Pasien itu mengalami
kondisi ini sehabis menyantap masakan cina di restoran. Masakan cina memang dituding
paling banyak menggunakan MSG. Karena itulah gejala serupa yang dialami seseorang
sehabis menyantap banyak MSG disebut Chinese Restaurant Syndrome.
Bagaimana sampai MSG bisa menimbulkan gejala di atas, masih dugaan sampai saat ini.
Tetapi diperkirakan penyebabnya adalah terjadinya defisiensi vitamin B6 karena
pembentukan alanin dari glutamat mengalami hambatan ketika diserap. Konon menyantap 2
12 gram MSG sekali makan sudah bisa menimbulkan gejala ini. Akibatnya memang tidak
fatal betul karena dalam 2 jam Cinese Restaurant Syndrome sudah hilang.
B. Kerusakan Sel Jaringan Otak
Hasil penelitan Olney di St. Louis. Tahun 1969 ia mengadakan penelitian pada tikus putih
muda. Tikus-tikus ini diberikan MSG sebanyak 0,5 4 mg per gram berat tubuhnya.
Hasilnya tikus-tikus malang ini menderita kerusakan jaringan otak. Namun penelitian
selanjutnya menunjukkan pemberian MSG yang dicampur dalam makanan tidak
menunjukkan gejala kerusakan otak.
Asam glutamat meningkatkan transmisi signal dalam otak, gamma-asam aminobutrat
menurunkannya. Oleh karenanya, mengkonsumsi MSG berlebihan pada beberapa individu
dapat merusak kesetimbangan antara peningkatan dan penurunan transmisi signal dalam otak.
C. Kanker

MSG menimbulkan kanker betul adanya kalau kita melihatnya dari sudut pandang berikut.
Glutamat dapat membentuk pirolisis akibat pemanasan dengan suhu tinggi dan dalam waktu
lama. pirolisis ini sangat karsinogenik. Padahal masakan protein lain yang tidak ditambah
MSG pun, bisa juga membentuk senyawa karsinogenik bila dipanaskan dengan suhu tinggi
dan dalam waktu yang lama. Karena asam amino penyusun protein, seperti triptopan,
penilalanin, lisin, dan metionin juga dapat mengalami pirolisis dari penelitian tadi jelas cara
memasak amat berpengaruh.
D. Alergi

MSG tidak mempunyai potensi untuk mengancam kesehatan masyarakat umum, tetapi juga
bahwa reaksi hypersensitif atau alergi akibat mengkonsumsi MSG memang dapat terjadi pada
sebagian kecil sekali dari konsumen. Beberapa peneliti bahkan cenderung berpendapat
nampaknya glutamat bukan merupakan senyawa penyebab yang efektif, tetapi besar
kemungkinannya gejala tersebut ditimbulkan oleh senyawa hasil metabolisme seperti
misalnya GABA (Gama Amino Butyric Acid), serotinin atau bahkan oleh histamin (Winarno
2004).

Sejarah MSG :

Monosodium Glutamate (MSG) mulai terkenal tahun 1960-an, tetapi sebenarnya memiliki
sejarah panjang. Selama berabad-abad orang Jepang mampu menyajikan masakan yang
sangat lezat. Rahasianya adalah penggunaan sejenis rumput laut bernama Laminaria japonica.
Pada tahun 1908, Kikunae Ikeda, seorang profesor di Universitas Tokyo, menemukan kunci
kelezatan itu pada kandungan asam glutamat. Penemuan ini melengkapi 4 jenis rasa
sebelumnya asam, manis, asin dan pahit dengan umami (dari akar kata umai yang dalam
bahasa Jepang berarti lezat) (Anonimous 2006). Sebelumnya di Jerman pada tahun 1866,
Ritthausen juga berhasil mengisolasi asam glutamat dan mengubahnya menjadi dalam bentuk
monosodium glutamate (MSG), tetapi belum tahu kegunaannya sebagai penyedap rasa.
Sekarang ini MSG digolongkan sebagai GRAS (Generally Recognized As Save) atau secara
umum dianggap aman. Hal ini juga didukung oleh US Food and Drugs Administration
(FDA), atau badan pengawas makanan dan obat-obatan (semacam Ditjen POM) di Amerika
yang menyatakan MSG aman. Tentu dalam batas konsumsi yang wajar (Anonimous 2003).
Batasan aman yang pernah dikeluarkan oleh badan kesehatan dunia WHO (World Health
Organization), asupan MSG per hari sebaiknya sekitar 0-120 mg/kg berat badan.

Minuman bersoda telah menjadi favorit jutaan orang. Rasanya yang manis dan menyegarkan
memang menjadi candu tersendiri bagi para penikmatnya. Terlepas dari rasanya, banyak
penelitian yang menemukan efek negatif dari kebiasaan minum soda. Mulai dari obesitas,
hingga
ancaman
penyakit
jantung.
Belum lama ini, masyarakat di AS dan Eropa kembali diingatkan mengenai bahaya bahwa
salah satu zat pewarna yang digunakan dalam produk soda buatan Coca-cola dan Pepsi
ditenggarai mampu memicu penyakit kanker. Parahnya, studi lain yang dilakukan oleh
beberapa pakar kesehatan dari Centre for Science in the Public Interest menemukan bahwa satu
kaleng
soda
ternyata
mengandung
zat
pewarna
yang
cukup
tinggi.
Lalu sebenarnya apa yang menyebabkan minuman soda yang dimiliki oleh Coca-cola atau
Pepsi begitu membahayakan? situs Daily Mail, menyebut ada beberapa kandungan dalam
minuman soda yang dianggap sangat membahayakan bagi kesehatan. Dan beberapa kandungan
tersebut memiliki efek negatif tersendiri bagi kesehatan tubuh.

1. Zat Pewarna

Warna yang ada dalam minuman seperti Coca-cola, Pepsi atau minuman sejenis lainnya berasal
dari zat yang disebut dengan methylimidazole (4-MI). Dalam sebuah penelitian yang dilakukan
di California, konsumsi zat 4-MI secara berlebihan dan terus menerus dapat memicu kanker.
Bahayanya, teryata dalam satu kaleng soda terkandung hampir 140 mcg zat 4-MI. Hal ini
membuat Dinas Kesehatan di AS memaksa Coca-cola dan Pepsi memangkas kadar zat yang
digunakan.
2. Kafein

Tahukah Anda? satu kaleng soda mengandung 40 mg kafein. Dengan kata lain, jumlah kafein
yang ada hampir sepertiga dari satu cangkir kopi biasa. Meski masih banyak perdebatan
mengenai manfaat kafein, namun fakta menunjukkan jika Kafein dapat meningkatkan tekanan
darah tinggi dan mempercepat detak jantung. Selain itu, kafein menghentikan proses
pencernaan zat besi dari makanan. Jadi orang yang gemar meminum soda kemungkinan besar
beresiko
mengalami
kekurangan
zat
besi.

3. Gula

Menurut para dokter, ancaman terbesar dari minuman soda adalah kadar gulanya yang sangat
tinggi. Besarnya kandungan itu tentu saja menyebabkan seseorang rentan mengidap obesitas.
Jika sudah begitu, mereka juga akan semakin mudah terkena penyakit diabeter tipe 2, sakit
jantung dan terserang stroke. Penelitian lain juga menemukan bahwa konsumsi gula berlebih
dapat menyebabkan depresi, gangguan ingatan dan gigi yang mudah rapuh.

4. Asam fosfat

Menurut penelitian, asam fosfat diklaim menjadi salah satu penyebab terbesar masalah
gangguan pada ginjal. Dan studi yang dilakukan oleh para peneliti dari US National Institutes
of Health di Maryland, AS, menemukan bahwa minum lebih dari dua kaleng soda setiap hari
beresiko meningkatkan gangguan pada ginjal dua kali lipat yang disebabkan oleh kandungan
asam
fosfat.
Studi lain di AS menyebutkan bahwa wanita yang mengkonsumsi soda lebih dari tiga kaleng
dalam sehari dapat mengikis ketebalan tulang dan membuat tulang mudah keropos.

5. Bisphenol A

Kandungan bisphenol A diketahui memiliki kaitan terhadap penyakit jantung, kanker dan cacat
pada anak. Zat ini banyak ditemukan di botol susu, garpu plastik, serta kaleng alumunium yang
biasa
digunakan
untuk
minuman
soda
seperti
Coca-cola
dan
Pepsi.

6. Asam sitrat

Asam sitrat merupakan salah satu zat utama yang membuat rasa menendang pada soda.
Alaminya, zat ini ada pada buah-buahan seperti jeruk dan lemon. Kendati demikian, konsumsi
asam sitrat berlebih dapat membuat korosi pada gigi. Dalam kasus yang ekstrim, korosi ini
dapat
menyebabkan
gigi
mudah
patah.
Hal itu dibuktikan dengan hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal General Density. Dalam
tulisannya, para peneliti mengatakan bahwa dalam tiga menit pertama saat diminum, soda
sepuluh kali lebih korosif dibandingkan dengan minuman jus.

Anda mungkin juga menyukai