Anda di halaman 1dari 4

Aplikasi klinis :

1. Diabetes Melitus Tipe 1


DM tipe 1 adalah kelainan sistemik akibat gangguan metabolisme glukosa yang ditandai
dengan hiperglikemik kronis. Keadaan tersebut disebabkan kerusakan sel beta pankreas baik
oleh proses autoimun maupun idiomatik sehingga produksi insulin berkurang bahkan
terhenti. Gangguan hormon insulin merupakan dasar terjadinya gejala pada DM. Insulin
diproduksi organ pankreas yang terletak di dekat hati dan berperan dalam melepaskan dan
menyimpan bahan bakar tubuh. Hormon insulin diproduksi sesuai pesanan artinya
kadarnya dapat naik dan turun tergantung kebutuhan. Insulin bekerja pada keadaan makan
dan puasa. Setelah makan banyak, kadar insulin akan naik dan gula
(glukosa) akan disimpan oleh tubuh. Sebaliknya saat puasa, kadar insulin akan turun dan gula
yang disimpan dalam organ tubuh seperti hati, otot, dan lemak dilepaskan untuk memenuhi
kebutuhan tubuh. Semakin lama puasa, energi yang tadinya berasal dari pemecahan gula
semakin habis,
digantikan oleh lemak dan protein yang dapat menimbulkan
efek merugikan. Pada DM, kadar insulin terus menerus rendah atau kadarnya cukup tetapi
tidak efektif sehingga meskipun penyandang DM sudah makan banyak, insulin tidak
meningkat dan tubuh tidak dapat menyimpan gula berlebihan. Faktor keturunan (genetik)
diduga sebagai penyebab utama meskipun kebanyakan anak ternyata tidak punya riwayat DM
pada keluarga. Sebaliknya, dapat pula terjadi dalam satu keluarga terdapat lebih dari satu
anak yang mengidap DM tipe 1. Seseorang yang memiliki gen tertentu lebih rentan terkena
DM tipe 1. Gen itu akan aktif bila dicetuskan faktor lingkungan seperti virus atau racun.
Enterovirus merupakan pencetus yang paling jelas dan paling
sering diteliti, salah satunya pada penyakit tangan, kaki, dan mulut (hand, foot, and mouth
disease) dan polio. Diduga virus mengubah gen tersebut sehingga gen yang tadinya adem
ayem menjadi aktif membentuk antibodi yang menyerang tubuh sendiri disebut
autoantibodi. Defisiensi vitamin D belakangan ini juga dikaitkan dengan terjadinya DM pada
anak. Organ tubuh Organ tubuh yang diserang adalah sel beta pankreas yang kerja utamanya
memproduksi insulin. Alhasil, pankreas tak mampu lagi memenuhi kebutuhan insulin tubuh
bahkan produksinya dapat terhenti sama sekali. Sebagai perbandingan, normalnya pankreas
memproduksi 31 unit insulin perhari, sedangkan pasien DM tipe 1 memproduksi hanya 0-4
unit perhari; sehingga membutuhkan tambahan insulin dari luar. Faktor genetik dan
lingkungan akan menentukan kapan dan seberapa parah DM yang mengenai anak.
Penatalaksanaan diabetes berdasarkan pada regimen diabetik, yang meliputi diet,
olahraga, obat obatan, edukasi mengenai diabetes, manajemen diri, dan pemantauan kadar
glukosa dirumah. Untuk terapi penderita diabetes tipe 1, penekanan adalah pada suntikan
insulin harian atau yang berfrekuensi lebih sering yang di seimbangkah secara seksama
dengan olahraga dan diet.
2. Diabetes Melitus tipe 2
Perubahan pola makan serba instant, tinggi lemak, banyak mengandung gula dan
protein, ditambah kurangnya olahraga menjadikan semakin banyak orang mengalami
obesitas. Kondisi ini harus dicegah karena selain mengurangi estetika penampilan diri,
obesitas juga memicu timbulnya beragam penyakit seperti diabetes melitus (DM).
Diabetes melitus merupakan penyakit endokrin yang paling umum ditemukan.
Penyakit ini ditandai oleh hiperglikemik dan glikosuria (Budiyanto, 2002). Di antara tipe DM
yang ada, DM tipe 2 adalah jenis yang paling banyak ditemukan (lebih dari 90%).

WHO memastikan peningkatan penderita DM tipe 2 paling banyak akan


terjadi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Sebagian peningkatan
jumlah penderita DM tipe 2 karena kurangnya pengetahuan tentang pengelolaan DM.
Pengetahuan pasien tentang pengelolaan DM sangat penting untuk mengontrol kadar
glukosa darah. Penderita DM yang
mempunyai pengetahuan yang cukup tentang diabetes, kemudian selanjutnya mengubah
perilakunya, akan dapat mengendalikan kondisi penyakitnya sehingga dapat hidup lebih lama
(Basuki, 2005).
Untuk penderita diabetes melitus tipe 2, penekanan adalah pada diet, pengendalian
berat badan, dan olahraga,. Pengobatan seperti agen antidiabetes dan insulin digunakan
seperlunya. Agen anti diabetik oraldapat berhasil digunakan pada pengobatan diabetes tipe 2.
a. Sulfonilurea ( misal : glipzid, gliburid ) menggunakan efek primernya untuk
merangsang pelepasan insulin endogen.
b. Metformin ( suatu biguanid ) menekan pelepasan glukosa hati dan menekan
pelepasan glukosa hati dan meningkatkan sensitivitas insulin.
c. Tiazolidinediones ( misal : rosiglitazon, pioglitazon ) demikian juga dalam membagi
kapasitas metformin untuk mengurangi resistensi insulin, menurunkan kadar glukosa
dan insulin dengan risiko hipoglikemia yang kecil.
d. Akarbosa menunda absorpsi karbohidrat yang dikonsumsi, sehingga menurunkan
penigkatan kadar glukosa postprandial pada pasien pasien ini.
3. Dispepsia
Dispepsia merupakan kumpulan gejala seperti keluhan nyeri, perasaan tidak nyaman pada
saluran cerna bagian atas. Penyebab timbulnya dispepsia adalah faktor diet dan lingkungan,
sekresi cairan asam lambung, fungsi motorik lambung, persepsi visceral lambung, psikologi,
dan infeksi Helicobacter pylori (Djojoningrat, 2001). Pola makan sebagian besar proses dan
hubungannya belum jelas diketahui. Berdasarkan penelitian tentang gejala gastrointestinal,
jeda antara jadwal makan yang lama dan ketidakaturan makan berkaitan dengan gejala
dispepsia (Reshetnikov, 2007). Jika proses ini berlangsung sangat lama, produksi asam
lambung akan berlebihan sehingga mengiritasi dinding mukosa pada lambung yang akhirnya
menyebabkan rasa perih dan mual (Robert, 2000). Aktivitas yang tinggi baik kegiatan di
sekolah maupun di luar sekolah menyebabkan makan menjadi tidak teratur (Sayogo, 2006).
Angka kejadian dispepsia di masyarakat luas tergolong tinggi. Berdasarkan penelitian yang di
lakukan pada komunitas remaja selama 6 bulan, tingkat keluhan dispepsia mencapai 38%
(Jones dkk, 1989). Dimana pada penelitian tersebut dinyatakan bahwa keluhan dispepsia
banyak di dapatkan pada usia yang lebih muda (Jones dkk 1990).
Berdasarkan ada tidaknya penyebab dan kelompok gejala maka dispepsia dibagi atas
dispepsia organik dan dispepsia fungsional. Dikatakan dispepsia organik apabila penyebab
dispepsia sudah jelas, misalnya adanya ulkus peptikum, karsinoma lambung, kholelithiasis,
yang bisa ditemukan secara mudah. Dan dikatakan dispepsia fungsional apabila penyebabnya
tidak diketahui atau tidak didapati kelainan pada pemeriksaan gastroenterologi konvensional,
atau tidak ditemukan adanya kerusakan organik dan penyakit-penyakit sistemik (1,2,4).
Heyse (1994) memperkirakan di United Kingdom, dispepsia yang ditemui dokter umum
sampai
25 % sementara oleh gastroenterohepatologist sampai 70 %. Kejadian dispepsia
fungsional 6 10 kali kejadian tukak peptik dan ini merupakan beban bagi
gastroenterohepatologist.
Penelitian yang dilakukan Mudjadid dan Manan mendapatkan 40 % kasus dispepsia disertai
dengan gangguan kejiwaan dalam bentuk anxietas, depresi atau kombinasi keduanya.

Dispepsia mungkin merupakan gejala awal dari penyakit gawat, misalnya tukak
peptik, kholelitiasis atau karsinoma lambung, tetapi sering juga pada penderita tidak
ditemukan kerusakan organ. Akibat gangguan pikiran, kelelahan karena terlalu banyak
bekerja dan problem keuangan juga bisa menimbulkan keluhan dispepsia. Sudah sejak
beberapa ratus tahun sebelum masehi, para ahli Socrates dan Hypocrates, yang
menyebutkannya melancholi dan mengakui bahwa faktor psikis berperan penting pada
kejadian dan perjalanan penyakit seseorang . Walaupun kemudian mengalami perkembangan
(sesuai alam fikiran pada zamannya), namun akhirnya para ahli yakin bahwa patologi suatu
penyakit tidak hanya terletak pada sel atau jaringan saja, tetapi terletak pada organisme yang
hidup dan kehidupan, tidak ditentukan oleh faktor biologis semata, tetapi erat sekali
hubungannya dengan faktor-faktor lingkungan yaitu lingkungan bio-sosio-kultural dan
agama.
Faktor faktor biologis (somatis), psikis dan lingkungan masing-masing mempunyai
interrelasi dan interaksi yang dinamis dan terus menerus, yang dalam keadaan normal atau
sehat keduanya dalam keadaan seimbang. Jika ada gangguan dalam satu segi, maka akan
mempengaruhi pada segi atau lingkungan yang lainnya dan sebaliknya (6) . Jadi jelaslah
bahwa setiap penyakit memiliki aspek somatis, psikis dan lingkungan bio-sosio-kulturil dan
bahkan agama. Dengan demikian konsep monokausal dari suatu penyakit sudah tidak dianut
lagi . Pengetahuan tentang hubungan antara jiwa dan badan terus berkembang sampai akhir
abad ke dua puluh ini, baik melalui pendekatan psikoanalisa maupun bukti-bukti yang
didapat dengan hasil penelitian modern. Inilah sebabnya keadaan depresi walaupun hal
tersebut merupakan gangguan emosi, akan tetapi terdapat pula gangguan somatik. Pasienpasien ini sering datang menghubungi dokter-dokter non psychiatrist dengan keluhan
somatiknya, yang paling sering mempengaruhi saraf pusat, saluran pencernaan,
kardiovaskuler, atau sistem muskuloskeletal . Wright mengatakan bahwa lebih dari 40 %
pasien depresi, pada awalnya muncul dengan ke luhan somatik dari pada simtom psikologi
dan selalu tidak bertingkah laku seperti pasien depresi.
Pasien-pasien depresi yang tidak diketahui ini, dikatakan kurang mengeluhkan
keadaan depresinya, tetapi dengan keluhan penyakit-penyakit fisik akan memperberat
depresinya. Whilist mengatakan mereka menutupi depresinya dengan banyaknya keluhankeluhan somatiknya. Yang harus kita pikirkan pada pasien-pasien dengan keluhan tersebut
adalah :
a. Masalah mungkin murni psikis yang diekspresikannya.
b. Mungkin ada sedikit kelainan organik yang bertumpang tindih dengan faktor
psikis.
c. Beberapa pasien yang jelas ada kelainan organik, mungkin memiliki sedikit
masalah psikis.
Diagnosis depresi dibuat dengan menegakkan tidak dijumpainya gangguan organik
yang menjelaskan keluhan fisik dan didapatinya tanda-tanda vegetatif yang selalu dijumpai
pada pasien depresi. Tiga jenis psikoterapi jangka pendek : terapi kognitif, terapi
interpersonal,dan terapi perilaku yang telah diteliti manfaatnya dalam pengobatan gangguan
depresi mayor. Harold G.K, dan kawan-kawan dalam penelitiannya memperoleh kesimpulan,
bahwa psikoterapi psikoreligius dapat mempersingkat masa remisi pada pasien pasien depresi
dengan penyakit-penyakit medis yang dirawat di rumah sakit.
4. Batu ginjal
Batu saluran kemih merupakan penyakit terbanyak ke tiga dibidang urologi
setelah penyakit infeksi saluran kemih dan penyakit kelenjar prostate.Insidensi dan
prevalensi setiap negara bervariasi,

tertinggi terutama negara kawasan Asia dan Afrikayang dilalui sabuk batu (stone belt) yaitu
sebesar
4%-20% dan Indonesia termasuk di dalam daerah sabuk batu itu. Penyakit ini diperkirakan
menyerang 1.4% dari jumlah keseluruhan penduduk Indonesia. Komposisi mineral dalam air
minum yang bersumber dari air permukaan (dataran tinggi/rendah) didominasi oleh unsur
kalsium dan magnesium, kadar kalsium (Ca2+) inilah diduga dapat mengakibatkan
hiperekskresi kalsium urin dan supersaturasi (kristalisasi kalsium oksalat) yang merupakan
proses awal terjadinya batu saluran kemih. Proses pembentukan batu saluran kemih
dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik. Masukan dari diet memiliki kontribusi
cukup besar untuk terjadinya batu saluran kemih, adapun kebiasaan makan yang menjadi
predisposisi pembentukan batu saluran kemih antara lain bahan makanan sumber protein
hewani, protein nabati, Ca dan P, oksalat, asam urat, dan asam sitrat. Komponen
pembentukan batu saluran kemih 59% merupakan batu kalsium oksalat murni atau campuran
dan 41% merupakan batu kalsium fosfat murni atau campuran. Terapi diberikan untuk
mengatasi keluhan, mencegah serta mengobati gangguan akibat batu saluran kemih.
Kesadahan air minum tidak berpengaruh
terhadap kadar kalsium urin dan sedimen kalsium oksalat. Kebiasaan minum dan kebiasaan
makan sumber asam sitrat merupakan dua hal yang sangat menentukan yaitu sebagai proteksi
atau penghambat (inhibitor) pembentukan kristalisasi kalsium oksalat. Untuk mengurangi
risiko terhadap sedimen kalsium oksalat diupayakan pada mengkonsumsi air yang telah
dimasak = 1,5 liter/hari dan perlunya menambahkan konsumsi sumber asam sitrat dalam
kebiasaan makan sehari-hari, kuantitas konsumsi disesuaikan dengan kebutuhan.