Anda di halaman 1dari 8

REKOMENDASI KEPERAWATAN BAGIAN SISTEM INFORMASI

ANTISIPASI MEDICAL ERROR SEBAGAI UPAYA


PATIENT SAFETY

Oleh : Erin Rika Herwina


NPM : 1006749094

Abstrak : Patient safety menjadi fenomena dalam budaya international. Isu utama yang
menjadi tantangan terhadap patient safety adalah clean care is safer care, safe surgery saves
lives dan culture of safety. Telaah jurnal ini memberikan informasi tentang pentingnya system
informasi terhadap anisipasi yang seharusnya dilakukan dalam upaya patient safety di rumah
saki pada khususnya. Penelitian yang berhubungan dengan patient safety yang dilakukan oleh
perawat, resiko kesalahan pemberian obat karena pendokumentasian yang tidak efektif yang
dilakukan oleh perawat primer dan catatan farmasi, serta bagaimana pengaruh medical error
terhadap pasien. Tujuan telaah jurnal ini untuk mengetahui gambaran system informasi
manajemen yang dibutuhkan pasien terhadap rekomedasi pemberian obat sebagai upaya
patient safety terhadap medical error di lingkungan rumah sakit sehingga dapat memberikan
masukan pada kebijakan rumah sakit dalam melalukan standard operasional procedure (SOP).
Metode penulisan ini dilakukan dengan dengan cara telaah jurnal dan literature secara
deskriptif analisis terhadap jurnal. yang berhubungan dengan system informasi manajemen
patient safety yang berhubungan dengan medical error di rumah sakit ini untuk mengangkat
beberapa data tentang penelitian yang ada tentang patient safety terhadap medical error. Hasil
telaah ini memberikan masukan kepada stakeholder terhadap system informasi yang
berhubungan dengan medical error dalam upaya patient safety di rumah sakit.
Kata kunci : patient safety, medication error, system information
A. PENDAHULUAN
Human: Building a Safer Health System,
the Institute
of Medicine
(IOM)
menekankan perlunya untuk teknologi
khusus
dirancang
untuk
mencegah
kesalahan medis. Teknologi tersebut
mencakup sistem order entry otomatis,
obat-obat yang behubungan dengan
perangkat lunak, dan sistem pendukung
keputusan. Memanfaatkan data klinis dari
sistem electronic health record systems
(EHR), teknologi seperti ini menjanjikan
mengurangi kesalahan dalam pengambilan
keputusan medis yang karena informasi
yang tidak memadai terhadap area
keperawatan.Setiap tahun, puluhan juta
pasien di seluruh dunia mengalami keadaan
cedera yang menetap atau kematian akibat
perawatan medis yang tidak aman. Hampir

Mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit


saat ini menjadi isu yang sangat penting
dalam memberikan pelayanan kesehatan
yang bermutu. Pada tahun 1996, Depkes
memberikan program dalam penjaminan
mutu dengan nama Quality Assurance
(QA).Konsep mutu pelayanan kesehatan
menurut IOM (1999) dan National Health
Service menggunakan konsep mutu
pelayanan kesehatan dalam 6 aspek, yaitu
safety,effectiveness, timeliness, efficiency,
equity, dan patient awareness.
Teknologi informasi sebagai kunci untuk
meningkatkan
keamanan
pelayanan
kesehatan. Pada tahun 1999 , To Err Is

satu dari sepuluh pasien dirugikan saat


menerima perawatan kesehatan di rumah
sakit baik pemerintah atau rumah sakit
swasta yang menggunakan teknologi maju
(WHO,2008). The Institute of Medicine
memprediksikan bahwa 100.000 kematian
pertahun terjadi akibat salah pemberian
obat (Kohn, Corrigan & Donaldson, 2000).
Bahkan lebih penting lagi, kita memiliki
bukti yang sangat sedikit tentang beban
perawatan yang tidak aman di negaranegara berkembang di mana mungkin ada
risiko lebih besar membahayakan pasien
karena keterbatasan infrastruktur, teknologi
dan sumber daya.
WHO (2011) menuliskan terdapat enam
urutan teratas penelitian yang dibutuhkan
untuk menidentifikasi tentang patient
safety, yaitu : obat palsu dan obat yang
belum memenuhi standar, kompetensi dan
keahlian yang inadequate, maternal and
newborn care, health care-assosiated
infectionas, pemberian injeksi yang tidak
aman, dan pemberian transfuse darah yang
tidak aman. Transfusi darah yang tidak
aman,diprediksikan memberikan kontribusi
terhadap penyebaran HIV sekitar 5-15%.
Studi WHO memperlihatakan bahwa 60
negara tidak memiliki penapisan terhadap
prosedur pemberian transfuse yang aman.
Dilaporkan 23 kota di Amerika bahwa telah
terjadi medical error. Penelitian yang
dilakukan oleh WHO (2011), pemberian
injeksi yang tidak aman, memberikan
kontribusi 40% di seluruh dunia bahwa

pemberian injeksi dilakukan tanpa alat


yang streril, beberapan negara bahkan
sampai 70% yang. Diprediksikan 1,3 juta
kematian setiap tahun disebabkan oleh
pemberian injeksi yang tidak aman.
Penelitian tentag pemberian obat yang
merugikan di estimasi 10% terjadi pada
pasien dengan perawatan akut. The joint
commission
(2006)
mengidentifikasi
terdapat masalah terhadap obat, smetzer
dan Cohen (2005) menemukan 50%
terhadap medication error dan 20%
dilaksanakan kesalahan pemberian obat
dikarenakan komunikasi dan dokumentasi
yang kurang efektif..
Perkembangan
ilmu
tentan
system
informasi dan patient safety telah
memberikan perubahan yang besar dalam
undang-undang kesehatan dalam upaya
perlindungan terhadap pasien, pelayanan
kesehatan dan struktur organisasi dan
standar alat
dilengkapi dengan standar prosedur.

B. Telaah Literatur
1. Sistem Informasi
System adalah setiap kesatuan secara
kkonseptual atau fisik yang terdiri dari
bagian-bagian yang saling mempengaruhi
(L. Ackof, 1997) dalam Eti (2011),system
merupakam bagian-bagian yang beroperasi
secara bersama-sama untuk mencapai
beberapa tujuan (Gordon B. Davis, 1995).
Salah satu klasifikasi informasi adalah
sebagai system terbuka dan tertutup.
System terbuka adalah system yang
dipengaruhi lingkungan, sedangkan system
tertutup yaitu sebuah system yang memiliki
sasaran,pengendalian dibutuhkan dalam
pemahaman fakta-fakta yang ada.

System adalah setiap kesatuan secara


konseptual atau fisik yang terdiri dari
bagian-bagian yang saling mempengaruhi
(L. Ackof, 1997) dalam Eti (2011),system
merupakam bagian-bagian yang beroperasi
secara bersama-sama untuk mencapai
beberapa tujuan (Gordon B. Davis,
mekanis dan umpan balik (Raymond,
2009). Informasi menurut Budi Sutedjo
(2002) dalam Eli (2011), yaitu merupakan
hasil pemrosesan data yang diperoleh dari
setiap elemen system tersebut menjadi
bentuk yang mudah dipahami dan
merupakan pengetahuan yang relevan dan

.
2. Sistem Informasi Keperawatan
Standar pengetahuan perawat yang harus
dimiliki,diantaranya-ilmu
biomedis,farmakologi, hukum, manajemen
dan yang lainnya,. Sehingga di lapangan
perawat
akhirnya
harus
memiliki
2

kemampuan melakukan analisa kebutuhan


pasien dengan analisa keilmuan yang tepat
dan benar. Perawat melakukan interaksi di
rumah sakit selama 24 jam, sehingga tahu
pada setiap perubahan respon pasien.
Kebutuhan pengobatan yang dilakukan oleh
dokter akan memberikan respon terhadap
pasien,sehingga perawat melakukan fungsi
advocacy pasien sehubungan dengan
pengobatan yang diberikan oleh dokter.
System informasi berbasis computer ini
akan mengidentifikasi berbagai macam
kebutuhan pasien, mulai dari dokumentasi
asuhan
keperawatan,
dokumentasi
pengobatan, sampai perhitungan keuangan
yang harus dibayar oleh pasien terhadap
perawatan yang telah diterima (Callie,
2010).
Di luar negeri kasus hilangnya dokumentasi
serta tidak tersedianya form pengisian tidak
lagi menjadi masalah. Hal ini karena pada
rumah sakit yang sudah maju,seluruh
dokumentasi yang berkaitan dengan pasien
termasuk dokumentasi asuhan keperawatan
telah dimasukkan dalam komputer. Sistem
ini sering dikenal dengan Sistem Informasi
Manjemen.Sistem informasi keperawatan
adalah kombinasi ilmu komputer, ilmu
informasi dan ilmu keperawatan yang
disusun untuk memudahkan manajemen
dan proses pengambilan informasi dan
pengetahuan yang digunakan untuk
mendukung
pelaksanaan
asuhan
keperawatan (Callie, 2010).Sedangkan
menurut ANA (Mcline, 2005) dalam Callie
(2010) system informasi keperawatan
berkaitan
dengan
legalitas
untuk
memperoleh dan menggunakan data,
informasi dan pengetahuan tentang standar
dokumentasi,komunikasi,
mendukung
proses
pengambilan
keputusan,
mengembangkan dan mendesiminasikan
pengetahuan baru, meningkatkan kualitas,
efektifitas
dan
efisiensi
asuhan
keperawaratan dan memberdayakan pasien
untuk memilih asuhan kesehatan yang
diiinginkan. Kehandalan suatu sistem
informasi pada suatu organisasi terletak
pada keterkaitan antar komponen yang ada
sehingga dapat dihasilkan dan dialirkan

menjadi suatu informasi yang berguna,


akurat, terpercaya, detail, cepat, relevan
untuk suatu organisasi.System informasi ini
diharapkan dapat meningkatkan kualitas
pelayanan dalam mencapai standar mutu
pelayanan. Indikator klinik mutu pelayanan
antara lain:pengukuran angka pasien
jatuh,angka
decubitus,
pneumonia
nosokomial, infeksi nosokomial, dan angka
kejadian medical error (Lewis, 2003).
Frank Dobson dalam Iwan (2008)
mendefinisikan clinical governance sebagai
"thebest care for all patients everywhere"
atau pelayanan yang terbaik untuk semua
penderita, di manapun berada. Dalam
definisi NHS di atas, ada 4 pilar utama dari
clinical governance, yaitu:
a. Accountability. Di sini mengandung
arti bahwa setiap upaya medik yang
dilakukan, apapun bentuknya, mulai
dari diagnosis hingga terapi dan
rehabilitasi,harus
dapat
dipertanggungjawabkan
secara
ilmiah berdasarkan bukti-bukti
ilmiah yang mutakhir dan valid
(current best evidence).
b. Continuous quality improvement
(CQI), yaitu bahwa pelayanan
kesehatan
harus
senantiasa
ditingkatkan
mutunya
secara
berkesinambungan.
Setiap
komponen yang terlibat dalam
proses pelayanan kesehatan haruslah
mampu
untuk
senantiasa
mengupdate ilmu, pengetahuan, dan
ketrampilannya untuk menjamin
bahwa mutu pelayanan kesehatan
yang diberikan telah sesuai dengan
yang diharapkan oleh konsumen.
c. High standard of care. Pesan ini
mengindikasikan bahwa setiap
upaya medikharuslah dilaksanakan
menurut standar pelayanan yang
tertinggi. Oleh sebab
itu setiap
unit
pelayanan kesehatan harus
memiliki berbagai standard, mulai
dari standard operating procedure
(SOP)
hingga
Evidence-based
clinical practice guideline. Hal ini
3

untuk menjamin bahwa pelayanan


yang diberikan adalah yang terbaik
untuk pasien
d. Menciptakan lingkungan yang dapat
mendorong terlaksananya pelayanan
klinik yang sempurna (excelence
clinical care). Dalam konteks ini
maka National Health Service
(NHS) mengisyaratkan agar setiap
unit pelayanan kesehatan yang ada
mampu memfasilitasi setiap upaya
pelayanan medik yang paling
efficacious, aman dan berorientasi
pada
keselamatan
pasien.Komunikasi
merupakan
kunci bagi staf untuk mencapai
keselamatan pasien. Standarnya
adalah :
1. Rumah sakit merencanakan dan
mendesain
proses
manajemen
informasi keselamatan pasien untuk
memenuhi
kebutuhan
informasi
internal dan eksternal.
2. Transmisi data dan informasi harus
tepat waktu dan akurat. Kriterianya
adalah :
a) Disediakan
anggaran
untuk
merencanakan
dan
mendesain
proses
manajemen
untuk
memperoleh data dan informasi
tentang hal-hal terkait dengan
keselamatan pasien.
b) Tersedia mekanisme identifikasi
masalah dan kendala komunikasi
untuk
merevisi
manajemen
informasi yang ada.

dari rumah sakit atau unit pelayanan


kesehatan lainnya. Empat CEO rumah sakit
yang terlibat dalam safer patient initiatives
di Inggris mengatakan bahwa tanggung
jawab untuk keselamatan pasien tidak bisa
didelegasikan dan mereka memegang peran
kunci
dalam
membangun
dan
mempertahankan fokus patient safety di
dalam rumah sakit
b.Think small and make the right
thing easy to do
Memberikan pelayanan kesehatan yang
aman bagi pasien mungkin membutuhkan
langkah-langkah yang agak kompleks.
Tetapi dengan memecah kompleksitas ini
dan membuat langkah-langkah yang lebih
mudah
mungkin
akan
memberikan
peningkatan yang lebih nyata.
c. Encourage open reporting
Belajar dari pengalaman, meskipun itu
sesuatu yang salah adalah pengalaman yang
berharga. Koordinator patient safety dan
manajer rumah sakit harus membuat budaya
yang mendorong pelaporan. Mencatat
tindakan-tindakan yang membahayakan
pasien sama pentingnya dengan mencatat
tindakantindakan yang menyelamatkan
pasien.
Diskusi
terbuka
mengenai
insideninsiden yang terjadi bias menjadi
pembelajaran bagi semua staf.
d. Make data capture a priority
Dibutuhkan sistem pencatatan data yang
lebih baik untuk mempelajari dan
mengikuti perkembangan kualitas dari
waktu ke waktu. Misalnya saja data
mortalitas.
Dengan
perubahan
data
mortalitas dari tahun ke tahun, klinisi dan
manajer bisa melihat bagaimana manfaat
dari penerapan patient safety.
e. Use systems-wide approaches
Keselamatan pasien tidak bisa menjadi
tanggung jawab individual.Pengembangan
hanya bisa terjadi jika ada sistem
pendukung yang adekuat. Staf juga harus
dilatih dan didorong untuk melakukan
peningkatan kualitas pelayanan dan
keselamatan terhadap pasien. Tetapi jika
pendekatan
patient
safety
tidak
diintegrasikan secara utuh kedalam sistem
yang berlaku di rumah sakit, maka

3.Upaya Patient Safety


Selain itu, menurut Hasting G (2006) dalam
Pabuti (2011) ada delapan langkah yang
bisa dilakukan untuk mengembangkan
budaya Patient safety ini :
a.Put the focus back on safety
Setiap staf yang bekerja di rumah sakit pasti
ingin memberikan yang terbaik dan teraman
untuk pasien. Tetapi supaya keselamatan
pasien ini bias dikembangkan dan semua
staf merasa mendapatkan dukungan, patient
safety ini harus menjadi prioritas strategis
4

peningkatan yang terjadi hanya akan


berumah sakitifat sementara.
f.Build implementation
knowledge
Staf juga membutuhkan motivasi dan
dukungan
untuk
mengembangkan
metodologi,
sistem
berfikir,
dan
implementasi program. Pemimpin sebagai
pengarah
jalannya
program
disini
memegang
peranan
kunci.
Di
Inggris,pengembangan mutu pelayanan
kesehatan dan keselamatan pasien sudah
dimasukkan
ke
dalam
kurikulum
kedokteran dan keperawatan, sehingga
diharapkan sesudah lulus kedua hal ini
sudah menjadi bagian dalam budaya kerja.
g. Involve patients in safety efforts
Keterlibatan pasien dalam pengembangan
patient safety terbukti dapat memberikan
pengaruh yang positif. Perannya saat ini
mungkin masih kecil,tetapi akan terus
berkembang. Dimasukkannya perwakilan
masyarakat
umum
dalam
komite
keselamatan pasien adalah salah satu
bentuk kontribusi aktif dari masyarakat
(pasien). Secara sederhana pasien bisa
diarahkan
untuk
menjawab
ketiga
pertanyaan berikut: apa masalahnya? Apa
yang bias kubantu? Apa yang tidak boleh
kukerjakan?
h. Develop top-class patient safety
leader
Prioritisasi
keselamatan
pasien,
pembangunan sistem untuk pengumpulan
data-data berkualitas tinggi, mendorong
budaya
tidak
saling
menyalahkan,memotivasi
staf,dan
melibatkan pasien dalam lingkungan kerja
bukanlah sesuatu hal yang bisa tercapai
dalam semalam. Diperlukan kepemimpinan
yang kuat, tim yang kompak, serta dedikasi
dan komitmen yang tinggi untuk
tercapainya tujuan pengembangan budaya
patient safety. Seringkali rumah sakit harus
bekerja dengan konsultan leaderumah
sakithip untuk mengembangkan kerjasama
tim dan keterampilan komunikasi staf.
Dengan kepemimpinan yang baik, masingmasing anggota tim dengan berbagai peran
yang berbeda bisa saling melengkapi

dengan anggota tim


kolaborasi yang erat.

lainnya

melalui

4.Hasil Penelitian
Pada telaah jurnal ini memberikan
gambaran bahwa dalam pelaksanaan asuhan
keperawatan, perawat memegang peranan
penting terhadap control pemberian obat
yang diberikan oleh dokter. Hal ini terjadi
bisa disebabkan karena pemberian resep
obat yang diberikan dokter bisa terjadi
double
atau
interaksi
obat
yang
menyebabkan
komplikasi
terhadap
pemberian beberapa obat apabila pasien
ditangani oleh beberapa dokter.Medical
error terjadi bisa disebabkan control yang
kurang terhadap suatu system pelayanan
terutama yang terjadi di rumah sakit. Hal ini
dapat dihindari sebagai upaya perlindungan
terhadap keselamatan pasien/ patient safety
yang dapat menyebabkan keadaan pasien
yang merugikan baik yang bersifat
kecacatan
atau
kematian.Beberapa
penelitian yang berhubungan dengan upaya
patient safety
a. Penelitian yang dilakukan Albert S.
Chan, dkk (2010). Pelaksanaan system
informasi yang dilakukan oleh perawat
dalam
memberikan
rekomendasi
kepada dokter pemberian obat yang
dilakukan oleh dokter, perawat
memiliki alasan mengapa dalam sistem
pendukung
keputusan
berbasis
computer penting untuk ke dalam alur
kerja klinis:
Hilang data yang mengarah ke
rekomendasi dari obat yang
kontraindikasi. Potensi interaksi
obat dengan obat lain yang
dianjurkan yang telah diresepkan
untuk pasien.
ketidakakuratan
dalam
logika
program yang dapat menyebabkan
rekomendasi yang salah.
Potensi bahaya akibat penggantian
dokter sehingga dokter memberikan
obat yang berbeda sehingga dengan
penggunaan diperlukan system
pendukung keputusan (misalnya,
5

menyerukan sistem pendukung


keputusan untuk hipertensi ketika
hipertensi bukan prioritas klinis
untuk kunjungan tersebut).
Para dokter-pengguna memiliki
kesenjangan pengetahuan yang
secara langsung relevan dengan
rekomendasi sistem pendukung
keputusan
(misalnya,
mempromosikan penggunaan obat
secara
bersamaan
pedoman
direkomendasikan
tanpa
memberikan informasi tentang batas
dosis).
Dokter hanya mengandalkan sistem
bahwa sistem akan mengingatka
mereka untuk semua masalah.
Potensi data overload
Sistem itu tidak dirancang untuk
menangani
pemberian
obat,
sehingga akan sangat penting
ditambahkan
dengan
kolom
rekomendasi,
karena
system
computer tersebut belum memiliki
system terhadap interaksi antar obat.

pasien tentang prosedur pemberian obat


sehingga
pasien
maupun
petugas
melakukan aspek legal, mempertahankan
keakuratan data dan mempertahankan
kondisi lingkungan yang kondusif. Kedua,
adalah dengan mengembangkan system
informasi dan pendokumentasi secara
elektronik, sehingga memudahkan dan
informasi terhadap mutlidisiplin terutama
dengan melakukan control terhadap
pemberian obat terhadap pasien, dimana
perawata melakukan fungsi advocacy
terhadap resiko medical error dengan
menuliskan rekomendasi dalam catatan
pasien di computer. Hasil yang diharapkan
dengan
system
informasi
dapat
meningkatkan mutu pelayanan di rumah
sakit, sehingga medical error dapat
dihindari.

C. Kesimpulan
Pendokumentasian sangat penting untuk
dilakukan oleh seluruh tenaga kesehatan
yang langsung maupun tidak langsung
berhubungan dengan pasien. Keadaan
medical error sangat mempengaruhi
terhadap pasien safety, sehingga diperlukan
suatu kebijakan yang diambil oleh
pemerintah dan rumah sakit untuk
melindungi masyarakat. Bukan saja
menimbulkan cedera tetapi dapat resiko
kematian.
Beberapa
alternative
penyelesaian masalah yang berhubungan
dengan dokumentasi yang kurang efektif.
Pertama, memberikan informasi kepada
Daftar Pustaka :
Agency for Healthcare Research and Quality.(2008). Agency for Healthcare Research and
Quality. www.psnet.ahrq.gov/glossary.aspx (diakses tanggal 25 Oktober 2011)
Albert S. Chan, Susana B. Martins, Robert W. Coleman, dkk.(2005). Post-fielding
Surveillance of a Guideline based Decision Support System. Advances in Patient Safety:
From Research to Implementation (Volume 1: Research Findings). Rockville (MD): Agency
6

for Healthcare Research and Quality (US). http://www.ncbi.com. (diakses tanggal 25 Oktober
2011).
Callie Chiah-Lee Chan. (2010). Nurse's perceptions on the impact of health
information system usage in their workplace. Volume 37 No.2, Juni 2010.
Singapore Nursing Journal. www.ebscho.com (diakses tanggal 25 Oktober 2011)
Eti Rochaety, Tupi Setyowaty, Faizal Ridwan Z. (2011). Sistem Informasi Manajemen. Mitra
Wacana Media, Jakarta.
Greenswald, J.L,.Halasyamani,L,. Greene L,. LaCivita C,. Stucky E,. Benjamin,.
Williams M. (2010). Making inpatient medication reconciliation patient centered, clinically
relevant and implementable : A concencus statement on key principles and necessary first
step. Journal of Hospital Medicine, 5(8), 477-485.
Iwan Dwiprahastohttp. (2008). Implementasi clinical governance dalam pelayanan
kesehatan Primer yang bermutu. www.dkk-bpp.com - Sysinfokes Kota Balikpapan. (diakses
tanggal 03 Oktober 2011)
Jeannet S Adam,. Denise K,. (2011). Global patient safety effort. Hispanic Health Care
International, Vol 9, No 3. Springer Publishing Company.www.proquest.com (diakses
tanggal 25 Oktober 2011).
Jennifer Balon,. Stephanie A. Thomas. (2011). Comparison of Hospital Admission
Medication Lists With Primary Care Physician and Outpatient Pharmacy Lists. Jornal of
Nursing Scholarship. www.proquest.com (diakses tanggal 25 Oktober 2011).
John Klarke. (2006). How System for Reporting Medical Errors Can and Cannot Improve
Patient Safety. The American Surgeon. www.proquest.com (diakses tanggal 25 Oktober
2011).
Kimberly A. Galt, Ann M. Rule, Bartholomew E. Clark, James D. Bramble, Wendy Taylor,
Kevin G. Moores. Best Practices in Medication Safety:Areas for Improvement in the Primary
Care Physicians Office Advances in Patient Safety: Vol. 1. www.ahrq/gov/qual Vol 1 (diakses
tanggal 25 Oktober 2011)
Kohn LT, Corrigan JM, Donaldson MS,. (2000). To Err Is Human Building a safer
Healt System. Washington, DC. National Academy Press. www.proquest.com (diakses
tanggal 25 Oktober 2011).
Lewis and Latney. (2003). Achieve Best Practice With an Evidence-Based Approach,
Critical-Care Nurses, Vol 23, No 6. from: ccn.aacnjournals.org. (30 October 2011).
Louise Folkmann and Janet Rankin. (2010). Nurses medication work: what do nurses
know?. Journal of Clinical Nursing. www.ebscho.com (diakses tanggal 25 Oktober 2011).
Murphy, C. R., Corbett, C. L., Setter, S. M., & Dupler, A. (2009). Exploring the concept of
medication discrepancy within the context of patient safety to improve population health.
Advances in Nursing Science.www.proquest.com (diakses tanggal 25 Oktober 2011).

Pabuti, Aumas. (2011) Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien di Rumah sakit.
Proceedings of expert lecture of medical student of Block 21st of Andalas Universitity,
Indonesia.
The Joint Commission on Accreditation of Health Care Organization. (2006). Fact about
2006 national patient safety. http://www.jointcommission.org/.(diakses tanggal 28 Oktober
2011).
World Health Organization. (2009). Patient Safety Research. World Health Organization,
Geneva, available at: www.who.int/patientsafety/en/ (diakses tanggal 25 Oktober 2011).