Anda di halaman 1dari 2

Pada praktikum kali ini dilakukan anestesi terhadap hewan

percobaan menggunakan kloroform. Anestesi yang dihasilkan dengan


menggunakan kloroform merupakan anestesi umum karena terjadi
penurunan kesadaran secara bertahap karena adanya depresi susunan
saraf pusat. Kloroform adalah anestesi yang lebih efektif daripada nitro. Dosis
kloroform tergantung di dalam tubuh dan akan dimetabolisme didalam hati. Kloroform
pada suhu dan tekanan normal mudah menguap, jernih, tidak mudah terbakar. Nama lain
untuk cloroform adalah trichloromethane dan triklorid metil, tidak seperti eter, bau
chloroform manis tidak menyengat, walaupun uap chloroform pekat terinhalasi dapat
menyababkan iritasi permukaan mukosa yang terkena. Metabolit kloroform termasuk
phosgene, carbene dan chlorine, yang semuanya dapat berkontribusi terhadap aktivitas
sitotoksik. Penggunaan jangka panjang kloroform sebagai anestetik dapat menyebabkan
toxaemia. Keracuanan akut dapat menyebabkan sakit kepala, kejang, perubahan
kesadaran, kelumpuhan, gangguan pernapasan. Dari sistem otonom dapat mengakibatkan
pusing, mual dan muntah. Kloroform juga dapat menyebabkan delayed-onset kerusakan
pada hati, jantung dan ginjal.
Anestetikum akan bekerja mempengaruhi reseptor amino butiric
acid (GABA) terutama reseptor GABAA. Gamma-amino butiric acid
merupakan neurotransmiter inhibitori utama di otak, disintesis dari
glutamat dengan bantuan enzim glutamic acid decarboxylase (GAD),
didegradasi
berdifusi

oleh

GABA-transaminase.

menyeberangi

celah

sinap

Sekali
untuk

dilepaskan,
berinteraksi

GABA
dengan

reseptornya sehingga menimbulkan aksi penghambatan fungsi SSP.


Neurotransmiter GABA lepas dari ujung syaraf gabanergik, berikatan
dengan reseptornya, membuka saluran ion Cl, ion Cl masuk ke dalam
sel, terjadi hiperpolarisasi sel syaraf , terjadi efek penghambatan
transmisi syaraf , dan depresi SSP. Reseptor GABA sebagi tempat
terikatnya GABA terdiri dari dua jenis, yaitu iono tropik (GABA yang
merupakan reseptor inhibitori, dan reseptor glutamat yang merupakan
reseptor eksitatori kususnya pada sub tipe N-methyl D-aspartat

(NMDA).

Gamma-amino

butiric

acid merupakan

neurotransmiter

inhibitori utama di otak, disintesis dari glutamat dengan bantuan


enzim glutamic

acid

decarboxylase(GAD),

didegradasi

oleh GABA-

transaminase. Sekali dilepaskan, GABA berdifusi menyeberangi celah


sinap untuk berinteraksi dengan reseptornya sehingga menimbulkan
aksi penghambatan fungsi SSP. Neurotransmiter GABA lepas dari ujung
syaraf gabanergik, berikatan dengan reseptornya, membuka saluran
ion Cl, ion Cl masuk ke dalam sel, terjadi hiperpolarisasi sel syaraf ,
terjadi efek penghambatan transmisi syaraf , dan depresi SSP.