Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Filsafat Yunani klasik merupakan permulaan dari pemikiran filsafat atau
pembahasan filsafat secara spekulatif rasional dan irrasional dogmatis. Filsafat Yunani
klasik merupakan contoh ilustrasi pemikiran dan pembahasan masalah filsafat secara
sistematis dan lengkap dan berlaku sampai sekarang.1
Berbagai pemikiran tentang filsafat mengalami kemajuan pada masa Renaissance.
Memasuki abad ke-17 beberapa filosuf mencapai penyempurnaan dan kedewasaan
pemikiran. Pengaruhnya sangat besar bagi pemikiran-pemikiran filsafat pada masa
berikutnya.
Oleh karena itu, pada masa ini yang dipandang sebagai sumber pengetahuan
hanya apa yang secara alamiah dapat dipakai manusia yaitu akal atau rasio dan
pengalaman atau empiris. Orang cenderung untuk memberikan tekanan kepada salah satu
dari keduanya. Pada abad ini muncul dua aliran filsafat yang saling bertentangan yaitu
rasionalisme dan empirisme.2
Rasionalisme adalah sebuth aliran filsafat yang menekankan akal atau rasio
sebagai sumber pengetahuan yang memiliki nilai kebenaran dan dapat diuji
keilmiahannya. Maka pengetahuan yang diperoleh melalui akal yang memenuhi syarat
kebenaran ilmiah secara mutlak. Adapun pengalaman hanya dapat dipakai untuk
meneguhkan pengetahuan yang telah diperoleh akal. Akal tidak memerlukan pengalaman
karena akal dapat menurunkan kebenaran dari pada dirnya sendiri yaitu atas dasar asasasas yang pasti. Metode yang diterapkan adalah deduktif dengan pendekatan ilmu pasti.

1 Makalah revisi dibuat sebagai materi Ujian Semester Gasal mata kuliah Filsafat Ilmu :
Topik-topik Epistemologi Dosen Pengampu Dr. H. Sumedi, M.Ag.

2 Harun Hadiwijoyo, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta: Kanisius, 2002, hlm. 18.

Segala sesuatu dapat dan harus dimengerti secara rasional. Suatu pernyataan
hanya boleh diterima sebagai benar dan sebuah claim hanya dapat dianggap sah apabila
dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Wewenang tradirsional otoritas dan dogma
merupakan pernyataan yang dianggap tidak dapat dipertanggungjawabkan secara
rasional.
Rasionalisme merupakan semacam pemberontakan terhadap otoritas-otoritas
tradisional yang bersifat dogmatis. Tidak cukup untuk mendasarkan sebuah tuntutan atas
wewenang pihak yang menuntut, melainkan isi tuntutan itu sendiri harus dapat
dipertanggungjawabkan secara rasional. Aliran filsafat ini secara hakiki bersifat anti
tradisional.
Adapun aliran empirisme berpendapat bahwa empirik atau pengalamanlah yang
menjadi sumber pengetahuan baik pengalaman yang batiniyah maupun yang lahiriayah.
Akal bukan menjadi sumber pengetahuan, akan tetapi akal mendapatkan tugas untuk
mengolah bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman. Metode yang diterapkan adalah
induksi. Semula aliran ini seperti masih menganut semacam realisme yang naif yang
menganggap bahwa pengenalan yang diperoleh melalui pengalaman tanpa penyelidikan
lebih lanjut telah memiliki nilai yang obyektif. Akan tetapi kemudian nilai pengenalan
yang diperoleh memalui pegalaman itu sendiri dijadikan sasaran atau obyek penelitaian.
Aliran ini muncul di Inggris pada awalnya dipelopori Francis Bacon (1531-1626).
Pada perkebangannya dilanjutkan oleh tokoh-tokoh pasca Descartes seperti Thomas
Hobbes (1588-1679), John Locke (1632-1704), Berkeley (1685-1753), dan yang
terpenting adalah David Hume (1711-1776).3
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian singkat dalam latar belakang, pemakalah mengajukan
permaslahan sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan empirisme beserta konstruksinya?

3 Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu-ilmu, Yogyakarta: Belukar, 2005, hlm. 53.

2. Bagaimanakah pemikiran para filosuf empiriseme tentang ilmu pengetahuan?


3. Jelaskan telaah krititis pemikiran filsafat empirisme?
C. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pokok permsalahan, maka penulis menysun makalah ini
dengan sistematika sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan, pemakalah menyajikan latar belakang, permasalahan dan kerangka
teori serta sistematika penulisan.
Bab II : Pembahasan berisi tentang pengertian dan konstruksi empirisme, pemikiran
empirisme beserta filosofnya dan telaah kritis tentang pemikiran filsafat
empirisme.
Bab III : Penutup, disajikan beberapa kesimpulan, saran/kritik dan kata penutup.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Kajian Filsafat Empirisme
Dalam ilmu pengetahuan yang paling berguna, pasti dan benar itu deperoleh
orang melalui inderanya. Empirislah yang memegang peranan amat penting bagi
pengetahuan, malahan barangkali satu-satunya dasar pendapat di atas itu disebut
empirisme.4
Empirisme merasa puas untuk menggarap hasil pekerjaannya dalam bidang
materi hanya sebagai hipotesa yang dapat diubah menurut pengalaman di kemudian hari.5
Pada perkembangannya, empirispun diupayakan menjadi radikal dengan klaimnya harus
tidak menerima dalam bentuknya unsur apa saja yang tidak dialami secara langsung atau
mengeluarkan dari bentuknya unsur yang dialami secara langsung. Pengalamanpengalaman dan fakta-fakta kehidupan sehari-hari merupakan dasar, realitas adalah hal
yang dialami baik merupakan benda atau perubahan keadaan.
1. Pengertian Empirisme
Beberapa pemahaman tentang pengertian empirisme cukup beragam, namun
intinya adalah pengalaman
Di antara pemahaman tersebut antara lain:
a. Empirisme berasal dari kata Yunani empirikos yang berasal dari kata empeiria,
artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui
pengalamnnya. Bila dikembalikan kepada kata Yunaninya pengalaman yang

4 I.R. Poedjawijatna, Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, Jakarta: Rineka Cipta, 1990, hlm.
103.

5 Harold H. Titus, et.all, terj. Muhammad Rasjidi, Persoalan-persoalan Filsafat, Jakarta: Bulan Bintang, tt,
hlm. 343.

dimaksud adalah pengalaman inderawi. Manusia tahu es dingin karena ia


menyentuhnya, gula manis karena ia mencicipinya.6
b. Empirisme adalah faham filsafat yang mengajarkan bahwa benar adalah yang logis
dan ada bukti empiris. Menurut empirisme yang benar adalah anak panah bergerak
sebab secara empiris dapat dibutktikan bahwa anak panah itu bergerak. Coba saja
perut anda menghadang anak panah itu perut anda akan tembus, benda yang
tembus sesuatu haruslah benda yang bergerak.[9]
c. Empirisme dalam bahasa Inggris, empiricism; dari Yunani empeiria, empiris
(berpengalaman dalam, berkenalan dengan, terampil untuk) latin experienta
(pengalaman). Empirisme adalah doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan harus
dicari dalam pengalaman. Salah satu teori mengenai asal pengetahuan.
d. Secara etimologi, istilah empirisme berasal dari kata Yunani empeiria yang berarti
pengalaman.[10]
2. Konstruk Empiris
Rome Harre dalam tulisannya Varieties of Realism (1986) membedakan tiga
realm (domein) entitas empirik sebagaimana dinukil Prof. Dr. H. Noeng Muhadjir.[11]
a. Realm 1 adalah entitas empirik yang dapat ditangkap dengan panca indera manusia.
Benda-benda yang bisa diamati indera manusia adalah nyata. Yang benar-benar
nyata adalah gerak dari bagian-bagian kecil benda itu yang menunjukkan sifatnya.
[12]
b. Realm 2 adalah entitas empirik yang tidak dapat ditangkap panca indera secara
langsung.
Mikro-organisme, senar X merupakan entitas empiris yang hanya dapat ditangkap
panca indera kita dengan instrumen. Entitas empiris realm 2 ini merupakan
6 Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati sejak Thales sampai James, Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2003, hlm. 21.

evidensi instrumentatif. Benda-benda yang bisa diamati walaupun dengan alat


bantu karena memiliki sifat kebendaan sehingga bisa ditangkap dengan panca
indera adalah nyata.
c. Entitas empirik realm 3 adalah evidensi seperti neutron, chip dengan berjuta fungsi
dan lain-lain. Entitas empirik realm 3 dapat dibuktikan dengan terapan disertai
penjelasan teoretik logik.
Prof. Dr. Noeng Muhadjir membedakan konstruk empirik atas pengahanyatan
empirik sensual, penghayatan empirik logik, penghayatan empirik etik dan penghayatan
empirik transendental. 7konstruk empirik ini ternyata lebih detail dan datarannya lebih
berlanjut. Namun bila dikorelasikan denga pendapat Rome Hare sebenarnya sangat
berhubungan dan saling mendukung.
Entitas empirik realm 1 termasuk dalam penghayatan empirik sensual. Sedangkan
realm 2 dan realm 3 termasuk dalam penghayatan empirik logik. Penghayatan konstruk
empirik tersebut dapat diteruskan pada dataran berikutnya, yakni penghayatan empirik
etik dan penghayatan empirik transendental.
Dengan meminjam konsep entitas emprik Rome Harre barangkali telaah entitas
emprik konsep Noeng Muhadjir; entitas empirik bisa dikategorikan sebagai realm 4.
Entitas empirik etik secara konseptual merupakan entitas empirik yang kebenarannya
dapat dibuktiakan dengan uji koherensi pada values yang diakui sebagai kriteria moral
universal.
Penghayatan empirik transendental dapat pula disebut sebagai realm 5. Realm 5
ini merupakan entitas empirik yang dapat dihayati oleh banyak orang dalam tampilan
rahmah, himah, maghfirah dan semacamnya. 8karena bersifat pribadi perseorangan
namun bisa juga dialami oleh banyak orang dalam term yang bervariatif berdasar tingkat
keimanan maupun rasio yang mereka miliki.
B. Beberapa Pemikiran Filosof Empirisme
7 Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Rakesarasin, 2001, hlm. 190.
8 Ibid.

Pada abad 17 masa Ranaissance bermunculan berbagai pandangan filsafat atas


ilmu pengetahuan. Empirisme adalah bagian dari filsafat pada masanya dengan
memunculkan beberapa tokoh filosof. Berikut penulis sampaikan tiga filosuf sebagai
sampel pemikiran empirisme yang cukup berpngaruh, yaitu Thomas Hobbes, John
Locke, dan David Hume.
1. Thomas Hobbes (1588-1679)
Thomas Hobbes adalah anak seorang pedeta, minatnya dari semula terarahkan
kepada kesusastraan dan filsafat. 9Ia seorang filosuf Inggris, memahami manusia
secara mekanik semata. Cita-citanya untuk mengembangkan suatu filsafat atau teori
negara yang dapat membantu untuk menyusun masyarkat dalam keadaan damai dan
adil.
Bukanlah yang abstrak dan umum yang sungguh-sungguh ada. Pengertian
umum itu hanya nama belaka yang sesungguhnya ada ialah hal sendiri. Adapun hal ini
hanya tercapai pengenalannya dengan persentuhan indera. Hanya kalau dapat disentu
dengan indera itulah suatu tanda kebenaran dan kesungguhannya. Pengetahuan kita
tak mengatasi pengideraan; dengan kata lain pengetahuan yang benar hanyalah
pengetahuan indera saja selainnya bukanlah pengetahuan.
Materialisme yang dianut Thomas Hobbes mensinyalir bahwa segala sesuatu
yang ada bersifat bendawi yakni segala kejadian adalah gerak yang berlangsung
karena keharusan dan realitas tidak bergantung pada gagasan kita, terhisap di dalam
gerak itu. Sebagai penganut empirisme, ia beranggapan bahwa pengalaman
merupakan permulaan segala pengenalan.
Ada yang menyebut ia seorang penganunt sensualisme, karena ia amat
mengutamakan sensus (indera) dalam pengetahuan, memang tidak salah tetapi dalam
hubungan ini tentulah ia dianggap salah satu dari penganut empirisme-yang
mengatakan bahwa persentuhan dengan indera (empirik) itulah yang menjadi pangkal
dan sumber ilmu pengetahuan.
9 I.R. Poedjawijatna, Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, Jakarta: Rineka Cipta, 1990, hlm.
104.

Pengalaman inderawi sebagai permulaan segala pengenalan. Pengalaman


intelektual tidak lain semacam perhitungan (kalkulus) yaitu penggabungan data-data
inderawi yang sama dengan cara yang berlainan.10 Hobbes telah menyusun suatu
sistem yang lengkap, berpangkal kepada empirisme secara konsekuen. Sekalipun ia
berpangkal pada dasar-dasar empiris, namun ia menerima juga metode yang dipakai
dalam ilmu alam yang bersifat matematis. Ia telah mempersatukan empirisme dengan
rasionalisme matematis.
Baginya filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang bersifat umum, sebab
filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan tentang efek-efek atau akibat-akibat atau
tentang penampakan-penampakan yang sedemikian seperti yang kita peroleh dengan
merasionalisasikan pengetahuan yang semula kita miliki dari sebab-sebab atau
asalnya.
Sasaran filsafat adalah fakta-fakta yang diamati dengan maksud mencari
sebab-sebabnya. Dalam pengamatan disajikan fakta-fakta yang dikenal dalam bentuk
pengertian-pengertian yang ada dalam kesadaran kita seperti: ruang, waktu, bilangan
dan gerak dari pengamatan pada benda.
Tidak semua yang diamati pada benda-benda itu nyata. Yang benar-benar
nyata adalah gerak dari bagian-bagian kecil benda-benda itu. Segala gejala pada benda
yang ada pada pengamat saja, segala yang ada ditentukan oleh sebab, dunia adalah
suatu keseluruhan sebab-akibat. 11
Pengalaman adalah keseluruhan atau totalitas segala pengamatan yang
disimpan di dalam ingatan dan dibagungkan dengan suatu pengharapan akan masa
depan sesuai dengan apa yang telah diamati pada masa yang lampau. Pengamatan
inderawi terjadi karena gerak benda-benda di luar kita menyebabkan adanya suatu
gerak di dalam indera kita. Gerak ini diteruskan kepada otak kemudian diteruskan ke

10 Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Belukar, hlm. 53.

11 Harun Hadiwijoyo, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta: Kanisius, 2002, hlm. 32.

jantung. Di dalam jantung timbullah suatu reaksi, suatu gerak yang berlawanan.
Pengamatan yang sebenarnya terjadi pada awal gerak reaksi tadi.
Sasaran yang diamati adalah sifat-sifat inderawi. Penginderaan disebabkan
karena tekanan obyek atau sasaran kualitas dalam obyek-obyek yang sesuai dengan
penginderaan kita bergerak menekan indera kita. Warna yang kita lihat, suara yang
kita dengar bukan benda di dalam obyek melainkan di dalam subyeknya. Sifat-sifat
inderawi tidak memberi gambaran tentang sebab yang menimbulkan penginderaan.
Ingatan, rasa senang dan tidak senang dan segala gejala jiwani bersandar semata-mata
pada aosiasi gambaran-gambaran yang murni bersifat mekanis.
Thomas Hobbes menjadi besar namanya disebabkan karena teorinya yang
lebih modern tentang negara dibanding dengan teori tentang negara yang
mendahuluinya. Pemikirannya didasari dengan tabiat alamiah manusia hingga
dibutuhkan negara yang absolut bahkan hingga pemikiran atheisnya bahwa Allah yang
dapat mati.
Di antara pemikirannya antara lain:
Menurut tabiatnya segala manusia adalah sama, dalam keadaannya yang
alamiah tiap manusia ingin mempertahankan kebebasannya dan menguasai orang lain.
Pada dasarnya manusia cenderung untuk mempertahankan dirinya sendiri karena
waktu itu yang ada hanya hukum alam. Akibanya mereka tertekan sehingga
menimbulkan perang total sehingga hidup menjadi buruk, kasar dan singkat. Sebab
dalam perang total itu kebijakan pokok ialah kekautan dan kecurangan agar manusia
dapat bebas dari pada bahaya kehancuran, pengalaman mengajarkan bahwa akal sehat
menuntut supaya tiap orang mau melepaskan haknya untuk berbuat sekehendak
sendiri. Oleh karenanya mereka bersatu dan bersama-sama membuat perjanjian bahwa
mereka akan tunduk kepada penguasa pusat yang mereka bentuk. Oleh karena itu
warga negara tidak berhak untuk meberontak. Orang banyak yang dipersatukan
demikian itu disebut commonwealth. Commonwelath ini disebut Leviatan, Allah
yang dapat mati. Di dalam commonwealth yang dipentingkan adalah perdamaian yang
awet yang tahan lama. Pemerintah harus diberi kuasa mutlak tanpa batas. Sumber

segala hak, hukum, moral adalah kuasa yang memerintah. Baik dan jahat bagi
perbuatan manusia diukur menurut peraturan dan larangan negara. 12
2. Jhon Locke (1632-1704)
John Locke adalah filosof Inggris, lahir tahun 1632 di Wrington,
Somersetshire. Tahun 1647-1652 ia belajar di Westminster. Tahun 1652 ia memasuki
Universitas Oxford mempelajari agama Kristen, namun ia juga mempelajari
pengetahuan di luar tugas pokoknya. 13
Lock menyelidiki kemampuan pengetahuan manusia, sampai kemanakah ia
dapat mencapai kebenaran dan bagaimanakah mencapainya itu. Ia mempergunakan
istilah sensation dan reflection dalam upaya mencari kebenaran atas pengetahuan.
Reflection itu pengenalan intuitif serta memberi pengetahuan apakah kepada
manusia lebih baik lebih penuh dari pada sensation. Sansation merupakan suatu yang
memiliki hubungan dengan dunia luar tetapi tak dapat meraihnya dan tak dapat
mengerti sesungguhnya. Tetapi tanpa sensations manusia tak dapat juga suatu
pengetahuan
Tiap-tiap pengetahuan itu terjadi dari kerja sama antara sensation dan
reflections. Tetapi haruslah ia mulai dengan sensation sebab jiwa manusia itu waktu
dilahirkan merupakan yang putih bersih; tabula rasa, tak ada bekal dari siapa pun yang
merupakan ide innatae.
Seluruh

pengetahuan

kita

peroleh

dengan

jalan

menggunakan

dan

membandingkan gagasan-gagasan yang diperoleh dari pengindraan dan refleksi. Akal


manusia hanya merupakan tempat penampungan yang secara pasif menerima hasil
penginderaan kita. Menurut Locke kita tidak melihat pohon atau orang atau
mendengar bunyi sangkakala melainkan kita melihat kesan inderawi pada retina yang

12 Ibid., hlm. 34-35.

13 Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006, hlm. 137.

disebabkan oleh apa yng kita lihat sebagai pohon. Kita mendengarkan reaksi selaput
kuping terhadap getaran-getaran udara yang disebabkan oleh peniupan sangkakala.14
Buku Jhon Locke, "Essay Concerning Human Understanding" 1689 ditulis
berdasarkan premis yaitu semua pengetahuan datang dari pengalaman (halaman 108).
Ini berarti, tidak ada yang dapat di jadikan idea atau konsep tentang sesuatu yang
berada dibelakang pengalaman tidak ada idea yang diturunkan.
Faktor bawaan (innate) itu tidak ada, argumennya adalah:
1. Dari jalan masuknya pengetahuan kita mengetahui bahwa innate itu tidak ada.
Pengetahuan datang melalui daya-daya yang alamiah tanpa bantuan kesan-kesan
bawaan.
2. Persetujuan umum adalah argumen yang terkuat. Tidak ada sesuatu yang dapat
disetujui oleh umum tentang adanya innate idea itu sebagai suatu daya yang inhern.
3. Persetujuan umum membuktikan tidak adanya innate idea.
4. Apa innate idea itu sebernya tidaklah mungkin diakui dan sekaligus juga tidak
diketahui adanya. Bukti-bukti yang mengatakan ada innate idea justru sebagai
alasan untuk mengatakan ia tidak ada.
5. Tidak juga dicetakkan (ditempelkan) pada jiwa sebab pada anak idiot, idea innate
itu tidak ada. Padahal anak normal dan anak idiot sama-sama berpikir.
Bedasarkan asas-asas teori pengenalan, dalam etikanya Locke menolak adanya
pengertian keberhasialan yang tidak menjelaskan bawaan tabiat manusia. Apa yang
menjadi bawaan tabiat kita hanyalah kecenderungan- kecenderungan yang menguasai
perbuatan-perbuatan kita. Segala kecenderungan itu dapat di kombinasikan kepada
usaha untuk mendapatkan kebahagian.[26]
Kesimpulan Locke adalah subtance is we know not what. Tentang subtansi kita
tidak tahu apa-apa. Ia mengetahui menyatakan bahwa apa yang dianggapnya subtansi
14 Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006, hal. 138.

ialah pengertian tentang obyrk sebagai idea tentang obyek itu dibentuk oleh jiwa
berdasarkan masukan dari indera.15
3. David Hume (1711-1776)
Hume seorang Skot, lahir didekat kota Edinburgh Inggris tahun 1711. Ia telah
pernah mengajar di Universitas, barangkali juga karena ia dianggap ateis sehingga
tidak akan diterima sebagian profesor. Ia banyak berkeliling di Eropa terutama di
Perancis. [28] Buku yang ia tulis ketika berumur duapuluh tahunan adalah Kretise Of
Human Nature (1739), namun tidak banyak menarik perhatian orang. Waktu mudanya
ia juga berpolitik tetapi tak terlalu mendapat sukses,[29] kemudian ia beralih menjadi
sejarawan. Pada tahun 1948 ia menulis buku yang sangat terkenal, An Enquiry
Concerring the Princeiples of Morals (1751). Hume meninggal pada tahun 1776.
Ia menganalisis pengertian substansi, seluruh pengetahuan itu tak lain dari
jumlah pengalaman kita. Dalam budi kita tak ada suatu idea yang tidak sesuai dengan
impression yang disebabkan hal di luar kita. Adapun yang bersentuhan dengan
indera kita itu sifat-sifat atau gejala-gejala dari hal tersebut. Yang menyebabkan kita
mempunyai pengertian sesuatu yang tetapsubstansiitu tidak lain dari perulangan
pengalaman yang demikian acapkalinya. Subtansi itu hanya anggapan, khayal, yang
sebenarnya tak ada.[30]
Manusia tidak membawa pengtahuan bawaan dalam hidupnya. Sumber
pengetahuan adalah pengamatan. Pengamatan memberikan dua hal yaitu kesan-kesan
(impressions) dan pengertian-pengertian atau idea-idea (ideas).[31]
Yang dimaksud dengan impressions atau kesan-kesan adalah pengamatan
langsung yang diterima dari pengalaman baik pengalaman lahiriah maupun
pengalaman batiniah yang menampakkan diri dengan jelas, hidup dan kuat seperti
merasakan tangan terbakar. Adapun ideas adalah gambaran tentang pengamatan yang
hidup, samar-samar yang dihasikan dengan merenungkan kembali atau ter-refleksikan
dalam kesan-kesan yang diterima dari pengalaman.
15 Franz Magnis Suseno, 13 Tokoh Eika Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke-19,
Yogyakarta: kanisius, 1997, hal. 123.

Perbedaan kedua-keduanya terletak pada tingkat kekuatan dan garisnya


menuju jiwa dan jalan masuk kesadaran. Persepsi yang termasuk denagn kekuatan
besar dan kasar disebut impression (kesan) dan semua sensasim nafsu emosi termasuk
kategori ini begitu mereka masuk kedalam jiwa. Idea adalah gambaran kabur (faint
image) tentang persepsi yang masuk kedalam pemikiran.
Selanjutnya David Hume menyatakan sebagaimana dinukil Prof.Dr. Ahmad
Tafsir sebagai berikut:
Setelah saya pikirkan secara teliti ternyata persepsi itu dapat dibagi menjadi
dua macam yaitu pesepsi yang sederhana (simple) dan persepsi yang ruwet (complex).
Seluruh kesan dan idea kita saling berhubunan. Dalam penyelidikan saya ternyata
hanya idea yang kompleks yang tidak memiliki kesan (impression) yang berhubungan
dengan idea itu. Banyak juga kesan yang kompleks yang tidak direkam dalam idea
kita. Saya tidak bisa menggambarkan suatu kota yang belum pernah saya lihat. Akan
tetapi saya pernah melihat kota Paris namun saya harus mengatakan saya tidak
sanggup membentuk idea tentang kota Paris yang lengkap dengan gedung-gedung,
jalan dan lain lengkap dengan ukuran masing-masing. Mengapa? Karena tidak semua
kesan (impression) direkam dalam idea. 16
Pengalaman lebih memberi keyakinan dibandingkan kesimpulan logika atau
kemestian sebab akibat. Hukum sebab akibat tidak lain hanya hubungan saling
berurutan saja dan secara konstan terjadi seperti api membuat air mendidih. Dalam api
tidak bisa diamati adanya "daya aktif" yang mendidihkan air. Daya aktif yang disebut
hukum kausalitas itu tidak bisa diamati. Dengan demikian kausalitas tidak bisa
digunakan untuk menetapkan peristiw-peristiwa yang akan datang berdasarkan
peristiwa-peristiwa terdahulu.
Pemikirannya tentang eksistensi Tuhan adalah ketika kita percaya kepada
Tuhan sebagai pengatur alam ini kita berhadapan dengan dilema, kita berpikir tentang
Tuhan menurut pengalaman masing-masing sedangkan itu hanya setumpuk persepsi
16 M. Thoyibi (ed), Filsafat Ilmu dan Perkembangannya, Surakarta: Muhammadiyah
Universitas Press, 1994, hal. 69

dan koleksi emosi saja. Kemudian, bagaimana kita dapat mengatakan Tuhan itu Maha
sempurna dan Maha Kuasa, sedangkan di alam terjadi kejahatan dan berbagai
bencana. Seharusnya alam ini juga sempurna sesuai denga penciptanya tetapi ternyata
tidak. Tuhan juga sumber kejahatan, terbatas dan memiliki sifat mencintai dan
membenci. Penelitiannya tentang dunia tidak mampu membuktikan Tuhan kecuali
Tuhan itu tidak sempurna.
Lebih lanjut Hume berkomentar, tidak ada bukti yang dapat dipahami untuk
membuktikan bahwa Allah ada dan bahwa Ia menyelenggrakan dunia. Juga tidak ada
bukti bahwa jiwa tidak dapat mati. Dalam praktik, orang-orang yang beragama selalu
mengikuti kepercayaan yang dianggap pasti sedang akal tidak dapat membuktikannya.
Menurutnya banyak sekali keyakinan agama yang merupakan hasil khayalan, tidak
berlaku umum dan tidak berguna bagi hidup. Agama berasal dasri penghargaan dan
ketakutan manusia terhadap tujuan hidupnya. Itulah yang menyebabkan manusia
mengangkat berbagai dewa untuk disembah.
Mukjizat adalah ajaran agama yang juga diserang oleh David Hume. Dia
memberikan lima alasan untuk menolak mukjizat, yaitu:
1. Sepanjang sejarah mukjizat tidak pernah diakui oleh sejumlah ilmuan dan kaum
terpelajar.
2. Sebagian manusia memang memiliki kecenderungan untuk percaya kepada
peristiwa-peristiwa yang luar biasa. Namun keyakinan ini tidak mendukung
kebenaran mukjizat.
3. Kajian peradaban membuktikan bahwa mukjizat hanya cocok terutama bagi
masyarakat terbelakang sedangkan bagi masyarakat yang telah maju justru
menolaknya. Semakin kita percaya kepada ilmu semakin tidak mampu kita ditipu
oleh takhayul (the more we believe in science the less we are likely to be deceived
by superstition).
4. Semua agama wahyu memonopoli kebenaran mukjizat.
5. Data sejarah yang dapat dipecaya menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa di dunia
ini jelas, seperti kita bisa mengetahui tanggal terbunuhnya Julius Caesar.

Apa relevansi filsafat yang amat ekstrem dan memang sudah sering dikritik
itu? Bahwa kita tidak dapat mempunyai dan memang sudah pasti dan tidak dapat
memahami apa-apa. Jadi, sebaiknya kita hidup bagi sesaat saja. Paham seperti Allah,
tanggung jawab dan nilai adalah tanpa arti. Empirisme mempersiapkan nihilisme.
4. George Berkeley
George Berkeley sebagai penganut empirisme mencanangkan teori yang
dinamakan immaterialisme atas dasar prinsip-prinsip empirisme. Ia bertolak
belakang dengan pendapat John Locke yang masih menerima substansi dari luar.
Berkeley berpendapat sama sekali tidak ada substansi-substansi material dan yang ada
hanya pengalaman ruh saja karena dalam dunia material sama dengan ide-ide.17
Berkeley mengilustrasikan dengan gambar film yang ada dalam layar putih
sebagai benda yang riil dan hidup. Pengakuannya bahwa aku merupakan suatu
substansi rohani. Tuhan adalah asal-usul ide itu ada yang menunjukkan ide-ide pada
kita dan Tuhanlah yang memutarkan film pada batin kita.
Sepintas kita pahami bahwa konsep pemikirannya ada kemiripan dengan
paham fatalism dari Inggris, perbuatan-perbuatan manusia telah ditentukan dari
semula oleh Tuhan. Juga hampir sama dengan paham Jabariyah yang menyatakan
bahwa manusia tidak memiliki kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan
perbuatan.
C. Telaah Krits atas Pemikiran Filsafat Empirisme
Meskipun aliran filsafat empirisme memiliki beberapa keunggulan bahkan
memberikan andil atas beberapa pemikiran selanjutnya, kelemahan aliran ini cukup
banyak. Prof. Dr. Ahmad Tafsir mengkritisi empirisme atas empat kelemahan,18 yaitu:
17 Mahdi Ghulsyani, Filsafat Sains Menurut Al Quran, Bandung : Mizan, 1989, hlm. 89.

18 Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006, hlm. 21-22.

1. Indera terbatas, benda yang jauh kelihatan kecil padahal tidak. Keterbatasan
kemampuan indera ini dapat melaporkan obyek tidak sebagaimana adanya.
2. Indera menipu, pada orang sakit malaria, gula rasanya pahit, udara panas dirasakan
dingin. Ini akan menimbulkan pengetahuan empiris yang salah juga.
3. Obyek yang menipu, conthohnya ilusi, fatamorgana. Jadi obyek itu sebenarnya tidak
sebagaimana ia ditangkap oleh alat indera; ia membohongi indera. Ini jelas dapat
menimbulkan pengetahuan inderawi salah.
4. Kelemahan ini berasal dari indera dan obyek sekaligus. Dalam hal ini indera (di sisi
meta) tidak mampu melihat seekor kerbau secara keseluruhan dan kerbau juga tidak
dapat memperlihatkan badannya secara keseluruhan.
Metode empiris tidak dapat diterapkan dalam semua ilmu, juga menjadi
kelemahan aliran ini, metode empiris mempunyai lingkup khasnya dan tidak bisa
diterapkan dalam ilmu lainnya. Misalnya dengan menggunakan analisis filosofis dan
rasional, filosuf tidak bisa mengungkapkan bahwa benda terdiri atas timbuanan molekul
atom, bagaimana komposisi kimiawi suatu makhluk hidup, apa penyebab dan obat rasa
sakit pada binatang dan manusia. Di sisi lain seluruh obyek tidak bisa dipecahkan lewat
pengalaman inderawi seperti hal-hal yang immaterial.
Kritik

Hume

terhadap

agama

tampaknya

tidak

seluruhnya

dapat

dipertanggungjawabkan. Ia terlalu tergesa-gesa mengambil kesimpulan tentang teologia.


Di antara kritikan Hume yang tidak relevan itu ada tiga,19 yakni:
Pertama, Hume cenderung mempertentangkan dua bentuk teisme yang
monopolar dan mengabaikan sintesis dipolar. Dalam hal ini ada dua pola, yaitu
mistisisme dan antropromorpisme. Dalam mistisisme, Tuhan berada dalam konsepsi
positif tetapi tidak sempurna. Tuhan adalah sempurna, abadi dan wajib ada. Dunia di lain
pihak tidak sempruna, terbatas dan mungkin ada. Sesuatu yang sempurna hanya dapat
dijelaskan lewat pendekatan dipolar, bukan monopolar sebagaimana yang dikemukakan
Hume.

19 Amsal Baktiar, Filsafat Agama 1, Jakarta: Logos, 1997, hlm. 112.

Kesempurnaan Tuhan dapat digambarkan dari ketidaksempurnaan dunia.


Seandainya dunia tidak ada atau ada tetapi sempurna, maka kesempurnaan Tuhan akan
sulit diidentifikasi. Kritikan Hume hanya terbatas pada aspek empiris saja, yakni Tuhan
yang tak terbatas berada dalam dunia yang terbatas. Contoh lain memperkuat argumen
ini adalah kebaikan hanya dapat dipahami kalau ada kejahatan.
Kedua, Hume mengabaikan peranan akal dalam menangkap realitas. Padahal
akal mampu menghubungkan kejadian-kejadian yang lampau dengan kejadian sekarang
bahkan meramalkan sesuatu yang akan datang. Akal juga mampu memberikan ide-ide
umum tentang fakta-fakta yang beragam. Contohnya mobil, sepeda dan pesawat
diabstraksikan oleh akal menjadi alat transportasi.
Ketiga, Hume terlalu meredusir semua realitas dalam kajian empiris sehingga dia
terjerumus pada determinisme empiris. Realitas alam menjadi sempit dan kecil serta
mutlak dan tidak pernah berubah. Padahal realitas sangat luas dan di luar alam empiris
masih tedapat wujud lain.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pemikiran filsafat mengalami kemajuan pesat pada abad 17-18. Setelah para sarjana
menyelesaikan studinya di Barat. Empirisme dan rasionalisme adalah dua aliran
filsafat yang cukup berpengaruh pada saat itu.
2. Emprisme adalah suatu paham filsafat yang mengajarkan bahwa kebenaran itu adalah
yang logis dan ada bukti empris.
3. Peletak dasar empiris pertama adalah Francis bacon, bapak empirisnya Jhon Locke
dan beberapa filsuf lainya seperti Thomas Hobbes, Berkeley, David Hume dan
lainnya.
4. Meskipun aliran empirisme sangat berpengaruh atas pemikiran-pemikiran filsafat
selanjutnya namun banyak dijumpai kelemahan baik metode, obyek tentang empiris.
5. Empirisme menganggap agama, mukjizat, bahkan Tuhan sebagai keyakinan yang tidak
logis dan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah hanya karena empirisme tidak mampu
membuktikan eksistensi immateri.
B. Saran Kritik
Dengan kerendahan hati, penulis merasa makalah ini sangat sederhana dan jauh
dari kesempuraan. Saran kritik yang konstuktif sangat diperlukan demi kesempurnaan
makalah sehingga akan lebih bernanfaat kontibusinya bagi hazanah keilmuan. Wallahu
alam.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006.
Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai James, Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2003.
Ali Saifullah, Antara Filsafat dan Pendidikan, Surabaya : Usaha Nasional, 1403.
Amsal Baktiar, Filsafat Agama 1, Jakarta: Logos, 1997.
Franz Magnis-Suseno, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, Yogyakarta: Kanisius, 2002.
Franz Magnis-Suseno, 13 Tokoh Eika Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke-19, Yogyakarta:
kanisius, 1997.
Harold H. Titus, et.all, terj. Muhammad Rasjidi, Persoalan-persoalan Filsafat, Jakarta: Bulan
Bintang, tt.
Harun Hadiwijoyo, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta: Kanisius, 2002.
I.R. Poedjawijatna, Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, Jakarta: Rineka Cipta, 1990.
Juhana S. Praja, Aliran-aliran Filsafat dan Etika, Jakarta : Prenada media, 2008.
Mahdi Ghulsyani, Filsafat Sains Menurut Al Quran, Bandung : Mizan, 1989.
Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu-ilmu, Yogyakarta: Belukar, 2005.
M. Thoyibi (ed), Filsafat Ilmu dan Perkembangannya, Surakarta: Muhammadiyah
Universitas Press, 1994.
Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Buku Dasar Filsafat Islam, Bandung: Mizan, tt.
Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Rakesarasin, 2001.

Maulana Choirul Aziz (1420411159)