Anda di halaman 1dari 11

KESULITAN DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN

SKABIES NORWEGIAN

Oleh:
Michael Wong
030.09.153
Pembimbing:
dr. Suswardana, M.Kes, Sp. KK

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN KULIT DAN PENYAKIT KELAMIN


RUMAH SAKIT TNI-AL Dr. MINTOHARDJO JAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
PERIODE 5 JANUARI 6 FEBRUARI 2015

KESULITAN DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN SKABIES


NORWEGIAN
Michael Wong1, Suswardana2
1

Dokter Muda Fakultas Kedokteran Trisakti di

SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSAL dr. Mintohardjo


2

SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSAL dr. Mintohardjo

PENDAHULUAN
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan infestasi dan sensitisasi terhadap
Sarcoptes scabiei var, hominis dan produknya. Gambaran klinis skabies pada umumnya
ditemukan lesi papul, pustul, lesi kronik akibat garukan di predileksi infestasi tungau serta lesi
lesi akibat infeksi sekunder. Penderita yang memiliki defek imunitas seluler dan kelemahan
mental, lesi scabies memiliki bentuk khusus yang dikenal sebagai skabies Norwegian (krustosa).1
Skabies Norwegia (krustosa) merupakan varian skabies klasik yang jarang dijumpai.
Berbeda dengan skabies biasa, rasa gatal pada skabies Norwegia tidak menonjol tetapi bentuk ini
sangat menular karena jumlah tungau yang menginfestasi sangat banyak ( jutaan ).Diagnosis
varian ini sering dikelirukan sebagai dermatosis berkrusta seperti psoriasis, dermatitis seboroik,
dermatitis kontak, dan berbagai penyebab eritroderma lainnya karena gambaran klinisnya berupa
lesi eritrodermik,hiperkeratotis ekstensif disertai krusta-krusta tebal pada kulit kepala, telinga,
siku, lutut, telapak tangan, telapak kaki, serta penebalan kuku.
Skabies Norwegian sangat mudah menular karena tungau berada dalam jumlah yang
banyak dan diperkirakan lebih dari sejuta tungau berkembang di kulit, sehingga dapat menjadi
sumber wabah di tempat pelayanan kesehatan. Kadar IgE yang tinggi, eosinofil perifer, dan
perkembangan krusta di kulit yang hiperkeratotik disertai skuama dan penebalan menjadi
karakteristik penyakit ini. Plak hiperkeratotik tersebar pada daerah palmar dan plantar diikuti
penebalan dan distrofi kuku jari kaki dan tangan. Lesi tersebut menyebar secara generalisata
seperti daerah leher dan kulit kepala. telinga, bokong, siku, dan lutut. Kulit yang lain biasanya
terlihat xerotik.

Untuk membantu menegakkan diagnosis skabies Norwegian, terdapat beberapa cara yang
bisa digunakan untuk menemukan tungau dan produknya yaitu
1.

Kerokan kulit
Papul atau kanalikuli yang utuh ditetesi KOH 10% lalu dilakukan kerokan menggunakan

scalpel steril yang bertujuan untuk mengangkat atap papul atau kanalikuli. Bahan pemeriksaan
diletakkan di gelas objek dan ditutup menggunakan kaca penutup lalu diperiksa dibawah
mikroskop.

2.

Mengambil tungau menggunakan jarum


Bila menemukan terowongan, jarum suntik yang runcing ditusukkan kedalam

terowongan yang utuh dan digerakkan secara tangensial ke ujung lainnya kemudian dikeluarkan.
Bila positif, Tungau terlihat pada ujung jarum sebagai parasit yang sangat kecil dan transparan.
Cara ini mudah dilakukan tetapi memerlukan keahlian tinggi.

3.

Tes tinta pada terowongan (Burrow ink test)


Identifikasi terowongan dapat menggunakan cara mewarnai daerah lesi dengan tinta

hitam. Papul skabies yang dilapisi tinta, dibiarkan selama 20-30 menit. Setelah tinta dibersihkan
dengan kapas alkohol, terowongan tersebut akan kelihatan lebih gelap dibandingkan kulit di
sekitarnya karena akumulasi tinta di dalam terowongan. Tes dinyatakan positif bila terbetuk
gambaran kanalikuli yang khas berupa garis menyerupai bentuk zigzag.2

4.

Membuat biopsi irisan (epidermal shave biopsy)


Diagnosis pasti dapat ditegakkan melalui identifikasi tungau, telur atau skibala secara

mikroskopik. Caranya: menjepit lesi menggunakan ibu jari dan telunjuk kemudian dibuat irisan
tipis, dan dilakukan irisan superficial menggunakan pisau dan berhati-hati melakukannya agar
tidak berdarah. Kerokan tersebut diletakkan di atas kaca objek dan ditetesi minyak mineral yang
kemudian diperiksa dibawah mikroskop. Biopsi irisan dengan pewarnaan Hematoksilin dan
Eosin.

5.

Dermoscopy
Dermoskopi awalnya dipakai oleh dermatolog sebagai alat yang berguna untuk

membedakan lesi-lesi berpigmen dan melanoma.Dermoskopi juga dapat menjadi alat yang
berguna dalammendiagnosis scabies secara in vivo. Alat ini dapatmengidentifikasi struktur
bentuk triangular atau bentuk-V yangdiidentifikasi sebagai bagian depan tubuh tungau, termasuk
kepaladan kaki. Banyak laporan kasus yang didapatkan mengenai pengalaman dalam
mendiagnosis scabies dengan menggunakanDermoskopi. Dermoskopi sangat berguna, terutama
dalam kasus-kasus tertentu, termasuk kasus scabies pada pasien dengan terapisteroid lama,
pasien imunokompromais dan scabies nodular.

6.

Uji tetrasiklin

Lesi dioleskan salep tetrasiklin yang akan masuk ke dalam kanalikuli. Setelah
dibersihkan, dengan menggunakan sinar ultraviolet dari lampu Wood, tetrasiklin tersebut akan
memberikan fluoresensi kehijauan pada kanalikuli.

Dari berbagai macam pemeriksaan tersebut, pemeriksaan kerokan kulit merupakan cara
yang paling mudah dan hasilnya cukup memuaskan. Agar pemeriksaan berhasil, ada beberapa
hal yang perlu diperhatikan, yakni :
1.

Kerokan harus dilakukan pada lesi yang utuh (papul, kanalikuli) dan tidak
dilakukan pada tempat lesi yang tidak spesifik.

2.

Sebaiknya lesi yang akan dikerok diolesi terlebih dahulu menggunakan minyak
mineral agar tungau dan produknya tidak larut, sehingga dapat menemukan
tungau dalam keadaan hidup dan utuh.

3.

Kerokan dilakukan pada lesi di daerah predileksi.

4.

Oleh karena tungau terdapat dalam stratum korneum maka kerokan harus
dilakukan di superficial dan menghindari terjadinya perdarahan. Namun karena
sulitnya menemukan tungau maka diagnosis scabies harus dipertimbangkan pada
setiap penderita yang datang mengeluhkan gatal yang menetap.

TATALAKSANA SKABIES NORWEGIAN


Pada pasien anak dan scabies berkrusta, area wajah dan kulit kepala juga harus
dioleskan skabisid topikal. Pasien harus diinformasikan bahwa walaupun telah diberikan terapi
skabisidal yang adekuat, ruam dan rasa gatal di kulit dapat tetap menetap hingga 4 minggu. Jika
tidak diberikan penjelasan, pasien akan beranggapan bahwa pengobatan yang diberikan tidak
berhasil sehingga kemudian akan menggunakan obat anti scabies secara berlebihan. Steroid
topikal, anti histamin maupun steroid sistemik jangka pendek dapat diberikan untuk
menghilangkan ruam dan gatal pada pasien yang tidak membaik setelah pemberian terapi
skabisid yang lengkap.(2)
Edukasi pada pasien skabies :

(7)

1. Mandi air hangat dan keringkan badan.


2. Pengobatan yang diberikan dioleskan di kulit dan sebaiknya dilakukan pada malam
hari sebelum tidur.
3. Hindari menyentuh mulut dan mata dengan tangan.
4. Ganti pakaian, handuk, sprei, yang digunakan, selalu cuci teratur dan bila perlu
direndam air panas.

5. Pakaian bersih, handuk, speri, yang belum digunakan, dibungkus kantong plastik
hitam dan dijemur pada siang hari selama 3 hari.
6. Semua furniture dijemur selama 1 hari dn kemudian disemprot menggunakan antiserangga yang berbahan dasar air.
7. Jangan ulangi penggunaan skabisd yang berlebihan dalam seminggu walaupun rasa
gatal yang mungkin masih timbul selama beberapa hari.
8. Setiap anggota keluarga serumah sebaiknya mendapatkan pengobatan yang sama. (7)
Tujuan utama dari tatalaksana skabies Norwegian ini adalah mengeliminasi tungau.
Terapi pada skabies berkrusta menyerupai bentuk umum lainnya, meskipun skabies berkrusta
berespon lebih lambat dan umumnya membutuhkan beberapa pengobatan dengan skabisid. Kulit
yang diolesi meliputi kepala, wajah, kecuali sekitar mata, hidung, mulut dan khusus dibawah
kuku jari tangan dan jari kaki diikuti penggunaan sikat pada bagian bawah kuku. Antihistamin
dan antibiotik dapat diberikan sebagai penunjang pada keadaan gejala pruritus berat maupun
infeksi sekunder.
Permetrin 5% merupakan pengobatan lini pertama untuk mengeliminasi tungau Sarcoptes
scabiei. Permetrin memiliki toksisitas yang rendah meskipun digunakan dalam jumlah yang
banyak diabsorpsi minimal dan cepat di metabolisme tubuh. Pasien skabies Norwegian,
penggunaan keratolitik membantu untuk terapi. Tata cara penggunaan permetrin pada pasien
skabies Norwegian adalah : 1) krim diaplikasikan pada seluruh tubuh termasuk kulit kepala,
wajah ( hindari daerah mata, hidung, mulut ) serta daerah dibawah kuku jari tangna dan kaki, 2)
Permethrin diaplikasikan selama 8-12 jam dan setelah itu dicuci bersih, 3) Pemberian berulang
dianjurkan satu minggu setelah aplikasi pertama, 4) Saat terapi, anggota keluarga perlu juga
diberikan terapi.4,5
Lindane juga dikenal sebagai hexaklorida gamma benzena, adalah sebuah insektisida
yang bekerja pada sistem saraf pusat (SSP) tungau. Lindane dimetabolisme dan diekskresikan
melalui urin dan feses.6
Lindane tersedia dalam bentuk krim, lotion, gel, tidak berbau dan tidak berwarna.
Pemakaian secara tunggal dengan mengoleskan ke seluruh tubuh dari leher ke bawah selama 1224 jam dalam bentuk 1% krim atau lotion. Setelah pemakaian dicuci bersih dan dapat
diaplikasikan lagi setelah 1 minggu. Beberapa penelitian menunjukkan penggunaan Lindane

selama 6 jam sudah efektif. Efek samping lindane antara lain menyebabkan toksisitas SSP,
kejang, dan bahkan kematian pada anak atau bayi walaupun jarang terjadi. Tanda-tanda klinis
toksisitas SSP setelah keracunan lindane yaitu sakit kepala, mual, pusing, muntah, gelisah,
tremor, disorientasi, kelemahan, berkedut dari kelopak mata, kejang, kegagalan pernapasan,
koma, dan kematian.
Crotamiton (crotonyl-N-etil-o-toluidin) digunakan sebagai krim 10% atau lotion. Tingkat
keberhasilan bervariasi antara 50% dan 70%. Hasil terbaik telah diperoleh bila diaplikasikan dua
kali sehari selama lima hari berturut-turut setelah mandi dan mengganti pakaian dari leher ke
bawah selama 2 malam kemudian dicuci setelah aplikasi kedua. Efek samping yang ditimbulkan
berupa iritasi bila digunakan jangka panjang. Crotamiton 10% dalam krim atau losion, tidak
mempunyai efek sistemik dan aman digunakan pada wanita hamil, bayi dan anak kecil.
Ivermectin merupakan obat oral satu satunya untuk terapi scabies yang diberikan dosis
tunggal 200 ug/kgB.3 Diberikan ulang 2 minggu kemudian. Digunakan pada umur lebih dari 5
tahun. Juga dilaporkan secara khusus tentang formulasi ivermectin topikal efektif untuk
mengobati scabies. Efek samping yang sering adalah kontak dermatitis dan toxicepidermal
necrolysis.
Benzil benzoate adalah ester asam benzoat dan alkohol benzil.7 Benzil benzoate bersifat
neurotoksik pada tungau skabies. Efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam
selama tiga hari. Efek samping dari benzil benzoate dapat menyebabkan dermatitis iritan, karena
itu penderita harus diingatkan untuk tidak menggunakan secara berlebihan. Terapi ini
dikontraindikasikan pada wanita hamil dan menyusui, bayi, dan anak-anak kurang dari 2 tahun.
Tapi benzil benzoate lebih efektif dalam pengelolaan resistant crusted scabies.

KESIMPULAN
Diagnosis skabies Norwegian sering dikelirukan dengan berbagai dermatosis
berkrusta seperti psoriasis, dermatitis seboroik, dermatitis kontak, dan berbagai penyebab
eritroderma lainnya karena gambaran klinisnya yang berupa lesi eritrodermik,hiperkeratotis
ekstensif disertai krusta-krusta tebal pada kulit kepala, telinga, siku, lutut, telapak tangan, telapak
kaki, serta penebalan kuku. Terdapat beberapa cara diagnosis untuk menemukan adanya tungau
Sarcoptei scabiei. Hasil terapi yang baik menggunakan permethrin 5% adekuat mengkonfirmasi
diagnosis Sarcoptei scabiei.
KEPUSTAKAAN
1.

Hurwitz S. Pediatric in Review, Am Acad Pediatric 1979;1:91-4.

2.

Scabies and Pediculosis, Orkin Miltoin, Howard L. Maibach. Fitzpatricks Dermatology


in General Medicine, 7th. USA: McGrawHill; 2008. 2029-31.

3.

Arndt KA, Bowrs KE, editors. Manual of Dermatologic Therapeutics with Essentials of
Diagnosis. 6th ed. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins; 2002.

4.

Sone S. Scabies and Pediculosis. In : Freedberg I, Eisan A, Wolff K, Austen K, Goldsmith


L, Katz S, Editors. Fitzpartricks Dermatology in General Medicine 6th ed. New York:
McGraw-Hill; 2003. P. 2283-5

5.

Eichenfield L, Frieden I, Esterly N. Fungal Infections, Infestations, and Parasitic


Infections in Neonates Textbook of Neonatal Dermatology. Philadelphia: WB Saunders
Company. 2001. p 231-3

6.

Hicks MI, Elston DM. Scabies. Dermatologic Therapy. 2009. November :22/279-292.

7.

Karthikeyan K. Treatment of Scabies: Newer Perspectives. Postgraduate Med J. 2005.


Januari. 1(951)/7-11.