Anda di halaman 1dari 28

REFERAT

Bolos Sekolah

Disusun oleh:
Fitriyah Hardiyanti Astutik 102011101035
Athira Sarah Maulyta

102011101054

Ika Niswatul Chamidah 102011101086


Dokter Pembimbing :
dr. Alif Mardijana, Sp.KJ
dr. Justina Evy Tyaswati, Sp.KJ

SMF ILMU KESEHATAN JIWA


RSD DR. SOEBANDI JEMBER
5/17/15

5/17/15

Pengertian Bolos Sekolah


Bolos

dapat diartikan sebagai perilaku


siswa yang tidak masuk sekolah
dengan alasan yang tidak tepat. Atau
bisa juga dikatakan ketidak hadiran
tanpa alasan yang jelas.
Membolos merupakan salah satu
bentuk dari kenakalan siswa, yang
jika tidak segera diselesaikan atau
dicari solusinya dapat menimbulkan
dampak yang lebih parah.
5/17/15

Faktor-faktor Penyebab
Bolos Sekolah
Bersumber Dari Anak Itu
Sendiri
2. Bersumber Dari Keluarga
3. Bersumber Dari Sekolah
4. Bersumber dari lingkungan
masyarakat
1.

5/17/15

1. Bersumber Dari Anak Itu


Sendiri
Bolos

sekolah bukan hanya terjadi


pada anak/siswa yang mempunyai
kemampuan rendah, tetapi juga pada
siswa-siswa yang tergolong pandai
tetapi tidak mempunyai bakat dan
minat dalam bidang studi tertentu.
Siswa-siswa tertentu yang memiliki
kelainan jasmani sering merasa
rendah diri,malu dan seterusnya
mengisolasi diri dari teman-temannya.
5/17/15

Bersumber Dari Keluarga


a) Pendidikan yang salah oleh orang tua

pada anak yang tidak/ kurang mendapat perhatian yang


cukup dari orang tuanya terutama dari guru dan temantemannya bolos sekolah untuk mencari perhatian
orang tua tidak melihat pentingnya anak masuk
sekolah, atau menganggap bahwa bersekolah itu hanya
membuang waktu saja, atau juga mereka menanamkan
perasaan pada anak, bahwa ia tidak akan berhasil, anak
itu akan berkurang semangatnya untuk masuk sekolah.
Bila orang tua itu sendiri kurang berpendidikan,
mereka akan merasa bahwa pendidikan itu tidak
penting. Tetapi tidak boleh dilupakan, bahwa ada juga
orang tua yang kurang berpendidikan namun
seringkali sangat menghargai pendidikan. Bahkan
mereka menuntut agar anak-anaknya memperoleh
hasil yang lebih besar daripada kemampuan anak
tersebut.
5/17/15

b) Keadaan ekonomi orang tua

orang tua yang ekonominya lemah, tidak


dapat memenuhi kebutuhan anak
disekolah. anak merasa malu bolos
sekolah.
anak yang terpaksa harus membantu
orang tua untuk mencukupi kebutuhan
hidup sehari-hari pada keluarga misalnya
membantu orang tua berjualan di pasar
pada hari-hari tertentu, bekerja di sawah
atau menjual jasa tenaga di pelabuhan,
terpaksa bolos pada hari-hari tersebut
5/17/15

3. Bersumber Dari
Sekolah
Adanya

fobia sekolah, yakni bentuk


kecemasan yang tinggi terhadap sekolah
yang biasanya disertai dengan berbagai
keluhan yang tidak pernah muncul atau pun
hilang ketika masa keberangkatan sudah
lewat, atau hari Minggu / libur.
Fobia sekolah dapat sewaktu-waktu dialami
oleh setiap anak hingga usianya 14 15
tahun, saat dirinya mulai bersekolah di
sekolah baru atau menghadapi lingkungan
baru atau pun ketika ia menghadapai suatu
pengalaman yang tidak menyenangkan di
sekolahnya.
5/17/15

Tingkatan dan Jenis Penolakan


Terhadap Sekolah
Initial school refusal behavior

5/17/15

Gejala Fobia Sekolah (1)


Menolak

untuk berangkat ke sekolah.


Mau datang ke sekolah, tetapi tidak lama
kemudian minta pulang
Pergi ke sekolah dengan menangis, menempel
terus dengan mama/papa atau pengasuhnya,
atau menunjukkan tantrumnya seperti
menjerit-jerit di kelas, agresif terhadap anak
lainnya (memukul, menggigit, dsb.) atau pun
menunjukkan sikap-sikap melawan/menentang
gurunya
Menunjukkan ekspresi/ raut wajah sedemikian
rupa untuk meminta belas kasih guru agar
diijinkan pulang dan ini berlangsung selama
periode tertentu.
5/17/15

10

Gejala Fobia Sekolah (2)


Tidak

masuk sekolah selama beberapa hari.


Keluhan fisik yang sering dijadikan alasan
seperti sakit perut, sakit kepala, pusing, mual,
muntah-muntah, diare, gatal-gatal,
gemetaran, keringatan, atau keluhan
lainnya. Anak berharap dengan mengemukakan
alasan sakit, maka ia diperbolehkan tinggal di
rumah.
Mengemukakan keluhan lain (di luar keluhan
fisik) dengan tujuan tidak usah berangkat ke
sekolah.
Senang berdiam diri di dalam kamar dan kurang
mau bergaul .
5/17/15

11

Faktor-faktor yang bersumber dari


sekolah yang menjadi penyebab siswa
bolos sekolah

5/17/15

12

GURU
Sikap

guru yang otoriter /acuh tak acuh


Guru yang membeda-bedakan siswa, tidak
memberikan perhatian yang sama kepada
seluruh siswa
Kadang-kadang anak merasa ditolak atau tidak
disukai gurunya, bahkan oleh seluruh temantemannya di kelas. Penolakan ini mungkin tersa
sekali bagi anak, misalnya bila guru menyambut
anak dengan kata- kata Alangkah tenang dan
tentramnya kemarin di kelas waktu kamu tidak
masuk.
Guru yang membosankan atau tidak
memperhatikan kemampuan murid-muridnya.
Guru yang selalu mengajar dengan
5/17/15
menggunakan metode ceramah
atau diskusi

13

Hubungan dengan siswa lain


Siswa

yang terisolir dari temantemannya sering memutuskan


untuk tidak masuk kelas(bolos
sekolah).
Siswa yang di tolak oleh
teman-teman sekelasnya, akan
merasa lebih aman berada
dirumah atau akan mencari-cari
alasan untuk tinggal dirumah
misalnya dengan alasan sakit
5/17/15

14

Fasilitas sekolah yang kurang


lengkap
Bila

sekolah yang memiliki fasilitas


sekolah yang kurang lengkap,
misalnya ruang kelas yang sedikit
sehingga siswa terpaksa harus
berdesak-desakan dalam satu kelas,
tidak terdapatnya perpustakaan yang
lengkap, laboratorium untuk praktek,
ruang keterampilan dan sebagainya,
menyebabkan siswa tidak bergairah
untuk datang di sekolah.
5/17/15

15

Tata tertib sekolah


Tata

tertib sekolah yang terlalu


ketat atau yang terlalu longgar
dapat pula membuat siswa bolos
sekolah. Siswa merasa tertekan
dengan peraturan-peraturan
yang ada di sekolah, sehingga ia
ingin melepaskan diri dari
tekanan-tekanan itu.

5/17/15

16

4. Bersumber dari
lingkungan masyarakat
a)

Kegiatan dalam masyarakat

Kegiatan yang dilakukan dalam masyarakat dan


bertepatan dengan waktu sekolah seperti
pertunjukan atau hiburan-hiburan lainnya,
menyebabkan anak lebih tertarik mengikuti
hiburan/kegiatan tersebut dari pada masuk sekolah.

b)

Teman bergaul

Pengaruh teman bergaul sering menyebabkan anak


bolos sekolah, apalagi jika teman-teman itu tidak
berstatus sebagai siswa. Bila masyarakat tempat ia
hidup tidak beranggapan bahwa pendidikan
penting bagi setiap orang, maka orang-orang
tertentu akan percaya bahwa mereka tidak harus
bersekolah.
5/17/15

17

Usaha-usaha
Mengatasi Anak Bolos
Sekolah
a) Usaha dilakukan oleh Guru

5/17/15

18

a) Usaha dilakukan oleh Guru


Menciptakan

sekolah sebagai suatu tempat yang


menarik dan menyenangkan. Menciptakan
sekolah sebagai tempat yang menarik dan
menyenangkan bagi siswa sehingga mereka
betah berada disekolah. Seorang guru yang
propesional selalu berusaha mengetahui
kemampuan dasar anak, dan metode yang
digunakan harus bervariasi. Dengan itu guru
mengadakan kerja sama dengan orang tua
sekolah berharap mengadakan kontak dengan
orang tua siswa, sehingga mereka dapat
mengetahui keadaan siswa yang dirumah,
sebaliknya orang tua dapat mengetahui
perkembangan anak disekolah.
5/17/15

19

b) Usaha dilakukan oleh


Orang tua
Orang

tua dapat memberikan perhatian


sepenuhnya terhadap anak dirumah. Sebagai
pemimpin di dalam rumah tangga, orang tua
perlu menunjukan sikap demokratis sehingga
setiap anak bebas mengemukakan pendapat,
mengemukakan masalah yang di hadapinya, dan
bukan mencari pemecahan masalah yang tidak
tepat. Dapat menciptakan suasana yang
harmonis dalam rumah tangga. Selalu
mengadakan kontak dengan sekolah, tidak saja
ada undangan rapat atau penyebab raport orang
tua datang kesekolah, namun di waktu-waktu lain
orang tua perlu mengunjungi sekolah.
5/17/15

20

c) Perubahan
kepribadian
perubahan

awal laki-laki dan perempuan telah


menyadari sifat-sifat yang baik dan buruk.
Penilaian mereka terhadap sifat-sifat itu sesuai
dengan teman-teman sebayanya. Dalam
perubahan itu, remaja menyesuaikan diri ke
arah yang lebih mantap, lebih stabil dan
semakin percaya diri yang akan memudahkannya
menuju kedewasaan.
Tetapi gambaran positif ini sangat bergantung
pada kemampuan remaja sendiri dalam
mengatasi berbagai konflik yang dihadapinya,
baik konflik remaja dengan orang tua atau dengan
kelompoknya karena alasan nilai dan norma
5/17/15

21

d) Kata hati yang


mengendalikan tingkah laku
Tidak

seperti masa anak-anak, remaja tidak bisa lagi diawasi


secara intensif oleh orang tua dan guru, sehingga mau tidak
mau, remaja harus bertanggung jawab untuk mengendalikan
diri dan tingkah lakunya.
Pengendalian utama remaja memang bukan lagi terfokus
pada orang tua atau guru, tetapi pada kata hatinya, yaitu
perasaan khawatirnya dari hukuman dan penolakan sosial
sehingga mencegahnya dari berbuat salah atau
memotivasinya untuk berbuat baik.
Rasa bersalah dan malu selalu ada pada diri seseorang yang
bermoral secara matang. Untuk mengendalikan perilaku,
bila pengendalian lahir tidak ada, rasa bersalah berperan
penting daripada rasa malu. Namun demikian, remaja yang
mampu mencapai tahap perkembangan moral yang demikian
masih relatif minim, sehingga sebutan orang yang matang
secara moral belum bisa ditujukan kepada remaja
5/17/15

22

Kontrak Perilaku (Behavior


Contracts)
Menurut

latipun (2008), kontrak perilaku adalah


persetujuan antara dua orang atau lebih
(konselor dan klien) untuk mengubah perilaku
tertentu pada klien.
Konselor dapat memilih perilaku yang realistik
dan dapat diterima oleh kedua belah pihak.
Setelah perilaku dimunculkan sesuai dengan
kesepakatan, ganjaran dapat diberikan kepada
klien.
Dalam terapi ini ganjaran positif terhadap
perilaku yang dibentuk lebih dipentingkan
daripada pemberian hukuman jika kontrak
perilaku tidak berhasil.
5/17/15

23

Tujuan dari teknik kontrak


perilaku diantaranya:
1) Melatih individu untuk
mengubah tingkah lakunya
yang maladaptif menjadi adaptif.
2) Melatih kemandirian
berperilaku individu
3) Meningkatkan kemampuan
dan ketrampilan behavioral
individu sehingga mampu
berperilaku secara tepat.
5/17/15

24

Bimbingan dan
Konseling
Keberhasilan

penyelenggaraan
bimbingan dan konseling di sekolah,
tidak lepas dari peranan berbagai
pihak di sekolah. Selain Guru
Pembimbing atau Konselor sebagai
pelaksana utama, penyelenggaraan
Bimbingan dan konseling di sekolah,
juga perlu melibatkan kepala
sekolah , guru mata pelajaran dan
wali kelas serta orang tua.
5/17/15

25

Kesimpulan
1.

2.

3.

4.

Bolos dapat diartikan sebagai perilaku siswa


yang tidak masuk sekolah dengan alasan yang
tidak tepat. Atau bisa juga dikatakan ketidak
hadiran tanpa alasan yang jelas.
Membolos merupakan salah satu kenakalan
siswa yang dalam penanganannya perlu
perhatian yang serius. Memang tidak
sepenuhnya kegiatan membolos dapat
dihilangkan, tetapi usaha untuk meminimalisir
tetap ada.
Faktor-faktor penyebab bolos sekolah
bersumber dari anak itu sendiri, keluarga,
sekolah dan dari lingkungan masyarakat.
Usaha-usaha untuk mengatasi
anak bolos
5/17/15
26

5. Salah satu penatalaksanaan anak bolos


sekolah adalah dengan kontrak perilaku.
Menurut Latipun (2008), kontrak perilaku
adalah persetujuan antara dua orang atau
lebih (konselor dan klien) untuk mengubah
perilaku tertentu pada klien.
7. Melalui program BK, pihak sekolah berupaya
mencari solusi bagi mereka yang suka
membolos. Karena membolos terkait berbagai
faktor, maka dalam penyelesaiannya tidaklah
mudah. Oleh karena itu pihak sekolah juga
mengikutsertakan orang tua.
5/17/15

27

TERIMA KASIH

5/17/15

28