Anda di halaman 1dari 48

BAB I

DATA UMUM PERUSAHAAN

1.1 Sejarah Perusahaan


PT KMI Wire and Cable Tbk merupakan salah satu produsen utama
kabel di Indonesia dan merupakan salah satu pemasok kabel listrik untuk PT
Perusahaan Listrik Negara (PT PLN) Persero. Perusahaan ini juga
merupakan pemasok kabel utama untuk sektor swasta dan industry, yaitu
minyak dan gas, pertambangan, industry dan banyak yang lain, baik secara
langsung atau melalui rantai perusahaan nasional distributor dan reseller.
Perusahaan didirikan pada tahun 1972 berdasarkan Undang-Undang
Penanaman Modal Asing (PMA) dengan mitra bisnis asing, kabel-und
Metallwerke Guetehoffnungshuette AG dari Jerman dan memulai produksi
kabel listrik tegangan rendah serta kabel telepon diatas lahan seluas 10
hektar di daerah Cakung, Jakarta Timur, pada tahun 1974. Pada tanggal 8
juni 1992, Perusahaan memperoleh pernyataan efektif dari ketua BAdan
Pengawasan Pasar Modal (BAPEPAM) dengan suratya N. S-945/PM/1992
untuk melakukan penawaran umum atas 10.000.000 saham perusahaan
kepada masyarakat.
Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham yang diselenggarakan
pada tanggal 19 Juni 2008 dari Isyana Wisnuwardhani Sadjarwo, S.H.,
notaris di Jakarta, pemegang saham Perusahaan telah bernama PT GT Kabel
Indonesia Tbk menjadi PT KMI Wire and Cable Tbk. Akta perubahan ini
telah disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia dengan Surat Keputusannya NO. AHU-42970.AH.1.02, Tahun
2008 tanggal 18 Juli 2008.
PT KMI Wire and Cable Tbk telah menerima sejumlah sertifikat mutu
internasional sebagai pengakuan atas kemampuan Perseroan dalam menjaga
1

produknya. Pada tahun 1995, Perseroan memperoleh sertifikat ISO 9002


dari SGS Yarsley International Certification Services Ltd.
Tahun 1996, Perseroan memasukkan proses peleburan aluminium dan
tembaga dalam cakupan assessment sistem mutu ISO 9002. Pada tahun
1997, Perseroan memperoleh sertifikat ISO 14001 untuk sistem manajemen
lingkungan. Sejak tahun 1998, Perseroan menerapkan sistem mutu pada
desain kabel yang mengacu pada standar ISO 9001 dan memperoleh
sertifikat ISO 9001:2000 pada bulan Desember 2001
Selain mengutamakan kualitas produk dan memperhatikan lingkungan
dengan ditandai adanya sertifikat ISO 9001:2008 dan ISO 14001:2004 maka
sejak Maret 2007 Perseroan juga menerapkan sistem manajemen
keselamatan dan kesehatan kerja karyawan dengan dimilikinya sertifikat
SMK3 PER.05/MEN/1996 dan OHSAS 18001 yang diterbitkan oleh
Sucofindo. Selain itu Perseroan memperoleh sertifikat PROPER (Program
Penilaian Peringkat Kinerja Lingkungan) yag dikeluarkan oleh Kementerian
Lingkungan Hidup untuk periode 2012-2013 dengan peringkat biru.
PT KMI wire and Cable Tbk pada tahun 2013 telah menerima dua
penghargaan yaitu pada tanggal 2 Mei 2013 Perseroan memperoleh
penghargaan dari Majalah Investor sebagai Emiten Terbaik si Sektor Logam
dan Kabel. Pada tanggal 5 Juni 2013 Perseroan memperoleh penghargaan
dari PT Hariff Daya Tunggal Engineering sebagai Vendor Manufaktur
Terbaik 2013.
1.2 Lokasi Perusahaan
Perusahaan berdomisili di Jakarta Timur dengan Pabrik berlokasi di
Jalan Raya Bekasi KM 23,1 Cakung-Jakarta Timur. Kantor pusat
perusahaan beralamat di Wisma Sudirman Lt. 5, Jl. Jendral Sudirman Kav.
34, Jakarta Pusat 10220 Indonesia.
1.3 Visi dan Misi Perusahaan
PT KMI Wire and Cable Tbk bergerak dibidang produksi kabel listrik
tegangan rendah, pemasok listrik tegangan rendah dan menengah untuk PT

Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero. Maka dari itu PT KMI Wire and
Cable Tbk ini sangat berorientasi kepadamtu untuk membuat produk kabel
yang dipercaya oleh masyarakat. Untuk mencapai target yang diinginkan
oleh PT KMI Wire and Cable Tbk ini maka perusahaan cable and wire ini
membuat visi dan misi. Berikut adalah Visi dan Misi secara umum PT KMI
Wire and Cable Tbk :
Visi
Menjadi produsen kabel yang maju, tangguh dan terpercaya.
Misi
1. Memberikan kualitas produk dan pelayanan terbaik untuk pelanggan.
2. Menjaga hubungan kemitraaan yang saling menghargai.
3. Memberdayakan karyawan dengan memajukan budaya kerja
professional.
4. Meningkatkan daya sain melalui inovasi berkelanjutan.
5. Meningkatkan nilai perusahaan dalam jangka panjang.
1.4 Struktur Organisasi
Struktur organisasi pada PT KMI Wire and Cable Tbk terbagi atas
beberapa bagian. Bagian tertinggi adalah Pimpinan Direktur (President
Director), dibawahya terdapat Wakil Pimpinan Direktur (Vice President
Director), selanjtnya terdapat Chief Operating Officer lalu pada struktur
organisasi PT KMI Wire and Cable Tbk terdapat 8 Divisi yaitu Quality &
Product Development Division, Cable Production Division, Casting &
Technical Division, Project Engineering Division, Free Marketing Division,
Power Authority Marketing Division, HR & ORG Development Division dan
Finance & Accounting Division. Dan terdiri dari 22 Departemen yaitu
Quality

Assurance,

Quality

Control,

Product

Engineering,

Cable

Production, Production Plan & Control, Purchasing, Rod & Wire


Production,

Process

Engineering,

Technical

Maintenance,

Project

Engineering Specialist, Domestic Free Market, Overseas, Marketing


Specialist,

Power

Transmission,

Power

Distribution,

People

&

Organization Development, Personel & Industial Relation, General Service,


Finance, Accounting, dan MIS.
Tiap departemen dipimpin oleh seorang General Manager. Struktur
Organisasi perusahaan ini memiliki suatu struktur organisasi yang
fungsional. Struktur disini berguna untuk menetapkan dan menguraikan
pembagian tugas, wewenang dan pelaporan pertanggungjawaban masingmasing bagian pada perusahaan. Untuk lebih lengkapnya dibawah ini
terdapat struktur organisasi PT KMI Wire and Cable Tbk :

Gambar 1.4
Struktur Organisasi Perusahaan

Sumber : PT KMI Wire and Cable Tbk

1.5

Bidang Usaha
Sesuai dengan pasal 3 anggaran dasar Perusahaan, ruang lingkup
kegiatan Perusahaan terutama meliputi bidang pembuatan kabel dan kawat
almunium dan tembaha serta bahan baku lainnya, beserta seluruh
komponen, suku cadang, asesori yang terkait dan perlengkapanperlengkapannya, termaksud teknik rekayasa dan instalasi kabel. Perusahaan
memiliki kapasitas produksi kabel sebesar 33.000 ton/tahun, terdiri dari
kabel listrik aluminium sebesar 12.000 ton/tahun dan kabel listrik tembaga
sebesar 21.000 ton/tahun. Hasil produksi perusahaan dipasarkan di dalam
negeri dan luar negeri.
Saat ini, perusahaan memproduksi lebih dari 2.000 jenis dan ukuran
kabel, yang terdiri dari kabel listrik tegangan rendah dan menengah, kabel
control serta kabel special lainnya seperti kabel data/instrumen, kabel flame
retardant dan tahan api, kabel berjaket nilon dll. Perusahaan juga
memproduksi berbagai jenis penghantar telanjang berbahan kawat tembaga,
aluminium dan aluminium campuran yang banyak digunakan untuk
transmisi dan distribusi tenaga listrik saluran udara.
Kabel Listrik Tegangan Rendah
Perusahaan memproduksi kabel listrik tegangan rendah dengan tegangan
kerja sampai dengan 1 kV. Kabel listrik tegangan rendah ini terutama
menggunakan

bahan

isolasi

PVC

(Polyvinylchloride)

atau

XLPE

(Crosslnked Polyethylene), EPR (Ethylene Propylene Rubber) dengan


penghantar kawat tembaga atau aluminium. Kabel jenis ini banyak
digunakan pada jaringan pemasok listrik tegangan rendah sarta instalasi
listrik di indutri dan geung-gedung.
Kabel Listrik Tegangan Menengah
Perusahaan memproduksi kabel listrik tgangan menengah dengan tegangan
kerja diatas 1 kV sampai dengan 36 kV. Kabel listrik tegangan menengah ini
terutama menggunakan bahan isolasi XLPE dengan penghantar kawat

tembaga atau aluminum. Kabel jenis ini banyak digunakan pada jaringan
distribusi tenaga listrik tegangan menengah bawah tanah dan bawah laut
yang menghubungkan gardu listrik denga konsumen industry atau komplek
perumahan .
Kabel Instrumen/Kontrol dan Kabel Spesial lainnya
Perusahaan telah memproduksi kabel dengan lapisan timah hitam (Lead
Sheathed Cable) sejak tahun 199. Kabel jenis ini banyak dipergunakan oleh
sektor

industri

minyak,

gas

dan

pertambangan.

Seiring

dengan

meningkatnya kebtuhan pemakai, Perusahaan juga memproduksi kabel


instrument (2001), kabel fleksibel (2002), kabel tahan api (2003), kabel
flame retardant (2003), konduktor aluminium tahan panas/TAL 60% (2004)
dan kabel berjaket nilon (2005), kabel rubber Lv (2006), kabel rubber MV
(2007), kabel aluminium solid sector (2008), konduktor dull finish dan
kabel coppe tin (2011). Beberapa jenis kabel khusus lainnya yang masih
dalam tahap pengembangan akan diluncurkan ke pasar di tahun-tshun
mendatang.

BAB II
METODE PENELITIAN

2.1 Objek Penelitian


Dalam melakukan penelitian, yang pertama kali kita perlu perhatikan
adalah objek penelitian yang akan diteliti, dimana dalam objek penelitian
tersebut terkandung masalah yang akan dijadikan bahan penelitian untuk
dicari pemecahannya. Objek penelitian daalam penelitian ini yang hanya
terbatas pada PT KMI Wire and Cable Tbk, penganalisaan terhadap kinerja
keuangan tentang pengaruh perputaran piutang, perputaran persediaan
terhadap modal kerja pada periode tahun 2006 sampai tahun 2013.
Untuk mengetahui bagaimana pengaruh perputaran persediaan dan
perputaran piutang terhadap modal kerja, penulis menentukan operasional
variabel sebagai berikut :
1. Variabel Independen (Variabel X)
Variabel Independen atau variabel bebas yaitu variabel yang
mempengaruhi variabel lain yang tidak bebas. Dalam penelitian ini
yang menjadi variabel independen adalah perputaran persediaan dan
perputaran piutang. Skala pengukuran variabel ini adala skala rasio.
2. Variabel Dependen (Variabel Y)
Variabel Dependen atau variabel terikat yaitu variabel yang
dipengaruhi oleh variabel bebas, maka yang menjadi variabel
dependen adalah modal kerja. Skala penukuran variabel ini adalah
skala rasio.

Variabel, Indikator dan Skala Pengukuran yang digunakan baik untuk


variabel

X 1 , X 2 dan Y

dapat dilihat pada tabel berikut :


Tabel 2.1

Variabel, Indikator dan Skala Pengukuran


Variabel

Perputaran

Konsep Variabel
Perputaran piutang adalah

Indikator

rasio yang digunakan untuk

Ratarata Piutang
Penjualan

mengukur

berapa

lama

Piutang

penagih piutang selam satu

( X1 )

periode atau berapa kali dana Keterangan :


yang ditanam dalam piutang
Piutang awal+ Akhir
2
ini berputar dalam satu

Skala

Rasio

periode
Perputaran

persediaan

Perputaran

adalah rasio yang digunakan

Persediaan

untuk mengukur berapa kali

( X2 )

Ratarata Persediaan
Harga Pokok Penjualan

dana yang ditanam dalam Keterangan :


persediaan ini berputar dalam
Persediaan awal+ Akhir
2
satu periode.

Rasio

Modal kerja adalah modal


yan
Modal
Kerja
Bersih
( Y )

digunakan

untuk

membiayai

operasional

perusahaan

sehari-hari.

Sementara modal kerja bersih


adalah

seluruh

komponen

aktiva

lancar

dikurangi

dengan

seluruh

Aktiva lancarHutang lancar

total

kewajiban lancar.
Sumber : Kasmir. 2010. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada
9

Rasio

2.2 Sumber Data dan Jenis Data


Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
1. Data Primer
Dalam penelitian ini data primer yang penulis gunakan adalah berupa
data utama yang di peroleh dari perusahaan seperti Laporan Keuangan
PT KMI Wire and Cable Tbk periode tahun 2006 sampai tahun 2013,
profil perusahaan, visi dan misi perusahaan, sejarah singkat tentang
perusahaan, dan struktur organisasi PT. KMI Wire and Cable Tbk.
2. Data Sekunder
Dalam penilitian ini penulis juga menggunakan data sekunder yaitu
data yang dapat mendukung data primer seperti teori teori yang
berhubungan dengan permasalahan yang diteliti.
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
1. Data Kualitatif
Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata, kalimat, skema, dan
gambar. Jenis data kualitatif ini ialah data sekunder yaitu data yang
telah mengalami proses pengolahan oleh sumbernya.
2. Data Kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang disajikan dalam bentuk angka. Data
ini menunjukkan nilai terhadap besaran atau variabel yang
diwakilinya. Sifat data ini adalah data renten waktu yaitu data yang
merupakan hasil pengamatan dalam suatu periode tertentu.
2.3 Teknik Penentuan Data
Dalam melakukan penelitian ini, terlebih dahulu akan menjelaskan
mengenai populasi yang akan diteliti sehingga dapat diperoleh keputusan
apakah penelitian ini memerlukan sampel atau tidak dan bagaimana cara
pengambilan sampel tersebut.
1. Populasi
Menurut Sugiyono populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri
atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik
tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian

10

ditarik kesimpulannya1. Dalam penelitian ini populasi (N) yang


digunakan penulis adalah Laporan Keuangan dari perama kali
perusahaan terdaftar di bursa efek yaitu pada tahun 1992-2013 atau
selama 21 periode.
2. Sampel
Menurut Sugiyono sampel adalah sebagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut 2. Dari kutipan diatas
dapat disimpulkan bahwa sampel merupakan bagian jumlah yang
dimiliki oleh populasi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan
pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan teknik nonprobablity
sampling. Menurut Sugiyono diungkapkan bahwa Nonprobability
sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang tidak memberi
peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi
untuk dipilih menjadi sampel3. Teknik nonprobability sampling yang
digunakan penulis dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan
teknik purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik
penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.
Untuk itu penulis mempunyai kriteria terhadap sampel yang
akan diteliti yaitu berdasarkan :
1. Data yang diambil merupakan data terbaru yang telah diaudit
dan dipublikasikan.
2. Data yang diambil adalah 8 tahun dari tahun 2006 sampai tahun
2013 dikarenakan terjadinya suatu fenomena pada 8 tahun
terakhir, yaitu dari tahun 2006 sampai tahun 2013 yang menjadi
dasar dilakukannya penelitian.
3. Sampel yang diambil sebanyak delapan periode karena sudah
dianggap representatif (mewakili) untuk dilakukan penelitian.
Kriteria-kriteria tersebut dipilih agar sampel yang akan diambil
benar-benar mencerminkan kondisi yang terjadi di PT KMI Wire and
1 Sugiyono. 2010. Statistik Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta. hal 117
2 Ibid, hal 118
3 Ibid, hal 120

11

Cable Tbk. Berdasarkan uraian diatas, yang menjadi sampel dari


penelitian ini adalah laporan keuangan sebanak 8 tahun yaitu pada
tahun 2006 sampai tahun 2013 di PT KMI Wire and Cable Tbk.
2.4 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah dengan :
1 Observasi, yaitu pengumpulan data yang di lakukan dengan cara
2

melakukan penelitian langsung terhadap objek yang di teliti.


Wawancara, yaitu pengumpulan data dilakukan dengan cara
melakukan tanya jawab langsung dengan para pegawai di PT KMI

Wire and Cable Tbk.


Studi kepustakaan, yaitu pengumpulan data dilakukan dengan cara
menggunakan refrensi dari buku buku atau kajian kajian yang
relavan dengan permasalahan yang terkait.

2.5 Rancangan Analisis Data dan Uji Hipotesis


2.5.1
Rancangan Analisis Data
Berdasarkan pertimbangan tujuan penelitian, maka metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Deskriptif dan
Verifikatif pendekatan kuantitatif. Penelitian Verifikatif adalah
penelitian yang digunakan untuk menguji hipotesis dengan
menggunakan perhitungan statistik. Penelitian ini digunakan untuk
menguji pengaruh variabel

X1

dan

X2

terhadap

Y yang

diteliti. Verifikatif berarti menguji teori dengan pengujian suatu


hipotesis apakah diterima atau ditolak. Penelitian deskriptif adalah
jenis penelitian yang menggambarkan apa yang dilakukan oleh
perusahaan berdasarkan fakta-fakta yang ada untuk selanjutnya
diolah menjadi data. Data tersebut kemudian dianalisis untuk
memperoleh suatu kesimpulan.
Sugiyono mengemukakan bahwa analisis kuantitatif adalah :
Dalam penelitian kuantitatif analisis data menggunakan statistic.

12

Statistic yang digunakan dapat berupa statistic deskriptif dan


inferensial/induktif.
Peneliti menggunakan statistik inferensial bila peneliti dilakukan
pada sampel yang dilakukan secara random. Data hasil analisis
selanjutnya disajikan dan diberikan pembahasan. Penyajian data
dapat berupa tabel, tabel distribusi frekuensi, grafik garis, grafik
batang, piechart (diagram lingkaran), dan pictogram. Pembahasan
hasil penelitian merupakan penjelasan yan mandala dan interpretasi
terhadap data-data yang telah disajikan. Adapun langkah-langkah
analisis kuantitatif yang diuraikan diatas adalah sebagai berikut :
1. Pengujian Asumsi Klasik Regresi
Untuk memperoleh hasil yang lebih akurat pada analisis
regresi berganda maka dilakukan pengujian asumsi klasik agar
hasil yang diperoleh merupakan persamaan regresi yang
memiliki sifat Best Linier Unbiased Estimator (BLUE).
Beberapa asumsi klasik regresi yang harus dipenuhi
terlebih

dahulu

sebelum

menggunakan

analisis

regresi

berganda (Multiple Linier Regression) sebagai alat untuk


menganalisis pengaruh variabel-variabel yang diteliti terdiri
atas :
a. Uji Normalitas Data Residual
Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah
model regresi mempunyai distribusi normal atau tidak.
Asumsi normalitas merupaka persyaratan yang sangat
penting pada pengujian signifikanansi koefisien regresi.
Model regresi yang baik adalah model regresi yang
memliki distribusi normal atau mendekati normal sehingga
layak

dilakukan

pengambilan

pengujian

keputusan

secara

statistik.

bisa dilakukan

Dasar

berdasarkan

probabilitas (Asymtotic Significance), yaitu :


a) Jika probabilitas > 0,05 maka distribusi dari populasi
adalah normal

13

b) Jika probabilitas < 0,05 maka populasi tidak


berdistribusi secara normal
Pengujian secara visual dapat juga dilakukan dengan
metode gambar normal Probability Plots dalam program
SPSS. Dengan dasar pengambilan keputusan sebagai
berikut :
a) Jika data menyebar disekitar garis diagonal da
mengikuti

arah

garis

diagonal,

maka

dapat

disimpulkan bahwa model regresi memenuhi asumsi


normalitas.
b) Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan tidak
mengikuti

arah

garis

diagonal,

maka

dapat

disimpulkan bahwa model regresi tidak memenuhi


asumsi normalitas.
Selain

itu

uji

normalitas

digunakan

untuk

mengetahui bahwa data yang diambil berasal dari populasi


berdistribusi normal. Uji yang digunakan untuk menguji
kenormalan adalah uji Kolmogorov-Smirnov. Berdasarkan
sampel ini akan diuji hipotesis nol bahwa sampel tersebut
berasal dari populasi berdistribusi normal melawan
hipotesis tandingan bahwa populasi berdistribusi tidak
normal.

b. Uji Multikolinieritas
Multikolinieritas merupakan suatu situasi dimana
beberapa atau semua variabel bebas berkorelasi kuat. Jika
terdapat korelasi yang kuat di antara sesama variabel
independen maka konsekuensinya adalah:
a) Koefisien-koefisien
14

regresi

menjadi

tidak

dapat

ditaksir.
b) Nilai standar error setiap koefisien regresi menjadi
tidak terhingga.
Dengan demikian berarti semakin besar korelasi
diantara sesama variabel independen, maka tingkat
kesalahan dari koefisien regresi semakin besar yang
mengakibatkan standar errornya semakin besar pula. Cara
yang

digunakan

untuk

mendeteksi

ada

tidaknya

multikoliniearitas adalah dengan:menggunakan Variance


Inflation Factors (VIF),
VIF=

1
2
1Ri

Dimana Ri2 adalah koefisien determinasi yang


diperoleh dengan meregresikan salah satu variabel bebas
Xi terhadap variabel bebas lainnya. Jika nilai VIF nya
kurang dari 10 maka dalam data tidak terdapat
Multikolinieritas.
c. Uji Heteroskedastisitas
Situasi heteroskedastisitas

akan

menyebabkan

penaksiran koefisien-koefisien regresi menjadi tidak


efisien dan hasil taksiran dapat menjadi kurang atau
melebihi dari yang semestinya. Dengan demikian, agar
koefisien-koefisien regresi tidak menyesatkan, maka
situasi heteroskedastisitas tersebut harus dihilangkan dari
model regresi.
Untuk menguji ada tidaknya heteroskedastisitas
digunakan

uji

Rank

Spearman

yaitu

dengan

mengkorelasikan masing-masing variabel bebas terhadap


nilai absolut dari residual. Jika nilai koefisien korelasi dari
masing-masing variabel bebas terhadap nilai absolut dari
residual (error) ada yang signifikan, maka kesimpulannya
terdapat heteroskedastisitas (varian dari residual tidak

15

homogen).
Selain itu, dengan menggunakan program SPSS,
heteroskedastisitas juga bisa dilihat dengan melihat grafik
scatterplot antara nilai prediksi variabel dependen yaitu
ZPRED dengan residualnya SDRESID. Jika ada pola
tertentu seperti titik-titik yang ada membentuk pola
tertentu

yang

teratur,

maka

telah

terjadi

heteroskedastisitas. Sebaliknya, jika tidak membentuk


pola

tertentu

yang

teratur,

maka

tidak

terjadi

heteroskedastisitas.
d. Uji Autokorelasi
Autokorelasi didefinisikan sebagai korelasi antar
observasi yang diukur berdasarkan deret waktu dalam
model regresi atau dengan kata lain error dari observasi
yang satu dipengaruhi oleh error dari observasi yang
sebelumnya. Akibat dari adanya autokorelasi dalam model
regresi, koefisien regresi yang diperoleh menjadi tidak
effisien, artinya tingkat kesalahannya menjadi sangat
besar dan koefisien regresi menjadi tidak stabil. Untuk
menguji ada tidaknya autokorelasi, dari data residual
terlebih dahulu dihitung nilai statistik dengan metode

Durbin-Watson (D-W):

DW =

(e t e t1)
e 2t

Kriteria uji: Bandingkan nilai D-W dengan nilai d dari


tabel Durbin-Watson:
a) Jika D-W< dL atau D-W > 4-dL, maka pada data
tersebut terdapat autokorelasi
b) Jika dU < D-W < 4-dU, kesimpulannya pada data tidak
terdapat autokorelasi
16

c) Tidak ada kesimpulan jika dL D-W dU atau 4-dU DWll4-dL


2. Analisis Regresi Linier Berganda
Penerapan analisis regresi berganda ini Menurut Sugiyono
(2005: 210), adalah analisis regresi linier digunakan oleh
peneliti, bila peneliti bermaksud meramalkan bagaimana
keadaan (naik turunnya) variabel dependen (kriterium), bila
dua atau lebih variabel independen sebagai factor predictor
dimanipulasi (dinaikturunkan nilainya). Jadi analisis regresi
ganda akan dilakukan bila jumlah variabel independennya
minimal dua.
Andi Supangat berpendapat tentang garis regresi yaitu.
Garis regresi (regression line/line of the best
fit/estimating line) adalah suatu garis yang ditarik diantara
titik-titik (scatter diagram) sedemikian rupa sehingga
dapat dipergunakan untuk menaksir besarnya variabel
yang satu berdasarkan variabel yang lain, dan dapat juga
dipergunakan untuk mengetahui macam korelasinya
(positif atau negatifnya).
Dalam penelitian ini analisis regresi linier berganda
digunakan

untuk

membuktikan

sejauh

mana

pengaruh

perputaran piutang dan perputaran persediaan terhadap modal


kerja pada PT KMI Wire and Cable Tbk.
Untuk dapat membuat ramalan melalui regresi, maka data
setiap variabel harus tersedia. Selanjutnya berdasarkan data itu
peneliti

harus

dapat

menemukan

persamaan

melalui

perhitungan. Dimana persamaan regresi untuk dua variabel


adalah sebagai berikut:
Y =a+b1 X 1 +b2 X 2
Dimana :
Y

= Variabel terikat (Modal Kerja)

17

= Bilangan berkonstanta

b1 , b2

= Koefisien arah garis

X1

= Variabel bebas X1 (Perputaran Piutang)

X2

= Variabel bebas X2 (Perputaran Persediaan)


Koefisien-koefisien a, b1, dan b2 dalam regresi linier

berganda dengan dua variabel bebas x1 dan x2 metode kuadrat


kecil dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :

18

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Laporan Keuangan pada PT KMI Wire and Cable Tbk


Tabel 3.1.1
PT KMI Wire and Cable Tbk
NERACA
31 Desember 2006-2013
31 Desember 2006

31 Desember 2007

31 Desember 2008

31 Desember 2009

31 Desember 2010

31 Desember 2011

31 Desember 2012

31 Desember 2013

(Rp)

(Rp)

(Rp)

(Rp)

(Rp)

(Rp)

(Rp)

(Rp)

KETERANGAN

ASET
ASET LANCAR
Kas dan setara kas

40.064.516.142

22.043.135.110

35.211.592.706

43.642.059.363

59.822.009.548

107.029.566.722

68.423.723.549

60.445.532.466

4.786.150.956

5.165.007.292

2.408.611.853

7.473.889.879

43.337.992.050

47.959.837.553

17.654.139.456

13.429.962.957

157.547.145.719

146.357.876.983

253.750.055.963

187.150.924.709

207.177.000.000

262.616.172.910

329.838.976.594

478.367.534.978

3.772.483.984

2.297.535.574

2.475.830.232

1.412.618.028

2.039.689.073

2.681.776.697

7.454.812.058

8.629.300.435

Persediaan

114.507.864.346

225.999.964.814

234.337.261.381

175.552.103.308

196.653.000.000

225.496.386.194

300.392.842.669

297.833.900.644

Uang muka

7.838.597.156

7.357.426.462

1.856.147.434

8.822.348.887

24.052.785.480

14.708.802.740

20.678.758.428

26.815.296.151

Pajak dibayar dimuka

18.205.876.970

9.387.754.374

3.163.360.271

2.725.818.352

10.726.081.106

10.726.081.106

5.041.828.375

27.979.285.618

Biaya dibayar dimuka

630.091.599

1.863.178.116

1.712.983.932

3.841.571.505

1.907.205.302

2.051.004.444

1.614.788.941

3.579.992.848

Jumlah Aset Lancar

347.352.726.872

420.471.878.725

534.915.843.772

430.621.334.031

545.715.762.559

673.269.628.366

751.099.870.070

917.080.806.097

Aset keuangan lainnya


Piutang usaha
Piutang lain-lain

19

ASET TIDAK LANCAR

20

Rekening bank yang dibatasi penggunaannya

4.233.904.881

939.852.702

898.903.457

906.458.227

Aset pajak tangguhan

21.473.859.320

17.730.260.277

16.946.915.428

19.002.183.644

16.151.460.973

13.966.747.097

17.082.601.338

20.935.828.388

Aset tetap

70.283.131.655

58.155.102.172

49.662.256.744

38.839.677.051

390.685.900.000

388.022.783.506

390.545.152.808

393.272.621.974

1.974.263.663

3.010.848.134

1.473.025.609

1.318.560.821

5.285.340.630

7.358.025.620

2.970.595.009

5.733.035.492

93.732.213.374

78.896.210.583

72.316.102.662

60.100.274.218

413.021.605.060

410.254.014.450

410.598.349.155

419.941.485.854

441.084.940.246

499.368.089.308

607.231.946.434

490.721.608.249

958.737.367.619

1.083.523.642.816

1.161.698.219.225

1.337.022.291.951

Aset lain-lain
Jumlah Aset Tidak Lancar

JUMLAH ASET

958.736

LIABILITAS DAN EKUITAS


LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang bank
Utang usaha
Utang lain-lain kepada pihak ketiga
Utang pajak

111.030.595.934
54.600.688.526

68.518.626.430

116.676.364.692

56.321.750.721

86.801.000.000

160.829.690.369

169.771.477.421

144.284.819.117

4.138.549.976

31.360.969.788

54.595.301.562

20.469.296.455

5.880.373.560

12.973.590.380

7.815.817.731

7.770.277.350

1.187.488.854

5.216.951.921

8.049.981.142

4.496.394.150

8.396.134.134

12.266.388.207

12.434.541.088

6.620.632.953

Uang muka penjualan

18.252.038.889

32.384.598.060

28.880.650.556

32.493.912.260

25.486.196.154

47.709.831.946

28.329.472.713

24.687.731.151

Biaya yang masih harus dibayar

11.208.028.514

16.674.749.795

18.036.562.897

13.395.805.811

24.641.662.790

20.839.098.865

24.665.473.190

21.232.913.808

234.296.570.990

10.227.132.667

11.913.047.611

10.094.385.653

9.275.167.605

52.658.398.239

1.080.645.176

866.606.408

40.500.000.000

500.000.000

500.000.000

43.123.862.570

Utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu


tahun
Jaminan penyalur
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek

323.683.365.749

164.383.028.661

238.151.908.460

137.271.545.050

200.980.534.243

307.776.998.006

244.597.427.319

359.617.439.291

4.601.020.055

97.775.069.725

102.369.606.842

63.897.920.479

52.046.157.918

97.759.058

94.545.885

745.746.929

LIABILITAS JANGKA PANJANG


Utang jangka panjang-setelah dikurangi bagian
jatuh tempo

21

Liabilitas imbalan pasca kerja


Liabilitas jangka panjang lainnya
Jumlah liabilitas Jangka Panjang

22.914.318.000

30.480.861.107

36.630.424.000

43.061.278.000

49.530.620.000

55.722.160.000

71.865.222.000

90.009.405.000

26.082.883.425

24.202.387.602

21.945.404.176

16.856.639.206

53.598.221.480

152.458.318.434

160.945.435.018

123.815.837.685

101.576.777.918

55.819.919.058

71.959.767.885

90.755.151.929

732.700.000.000

825.923.510.700

23.454.890.059

23.454.890.059

825.923.510.700

825.923.510.700

655.123.510.700

655.123.510.700

655.123.510.700

655.123.510.700

23.454.890.059

23.454.890.059

1.074.090.636

1.074.090.636

1.074.090.636

1.074.090.636

278.946.028

144.147.564

(892.578.075)

(98.202.111)

(17.545.878)

25.522.625

58.185.066

94.461.855

(692.630.483.070)

(666.995.806.110)

(640.351.219.728)

(619.645.973.134)

63.703.601.791

188.885.237.619

230.357.637.540

63.803.353.017

182.526.742.213

208.134.602.956

229.634.225.514

656.180.055.458

719.926.725.752

845.141.024.021

886.649.700.731

441.084.940.246

499.368.089.308

607.231.946.434

490.721.608.249

958.737.367.619

1.083.523.642.816

1.161.698.219.225

1.337.022.291.951

EKUITAS
Modal saham
Modal dasar
Modal ditempatkan dan disetor
Tambahan modal disetor
Pendapatan komprehensif lain
Saldo laba
Jumlah Ekuitas

JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS

Sumber : PT KMI Wire and Cable Tbk (Data diolah)

22

Tabel 3.1.2
PT KMI Wire and Cable Tbk
Laporan Laba Rugi
31 Desember 2006-2013
KETERANGAN

31 Desember 2006

31 Desember 2007

31 Desember 2008

31 Desember 2009

31 Desember 2010

31 Desember 2011

31 Desember 2012

31 Desember 2013

(Rp)

(Rp)

(Rp)

(Rp)

(Rp)

(Rp)

(Rp)

(Rp)

PENJUALAN BERSIH

1.130.748.428.391

1.280.445.849.352

1.731.928.919.684

822.273.437.407

1.228.092.212.266

1.841.939.308.817

2.273.197.243.380

2.572.350.076.614

HARGA POKOK PENJUALAN

1.033.315.412.717

1.178.534.758.339

1.590.183.543.693

738.809.421.509

1.093.120.589.699

1.673.156.315.204

1.996.605.849.502

2.295.595.684.236

LABA KOTOR

97.433.015.674

101.911.091.013

141.745.375.991

83.464.015.898

134.971.622.567

168.782.993.613

276.591.393.878

276.754.392.378

Beban penjualan

(27.405.207.565)

(32.712.645.757)

(53.336.663.121)

(31.847.505.480)

(51.229.153.395)

(49.732.897.409)

(63.397.158.226)

(68.858.632.206)

Beban umum dan administrasi

(13.308.705.229)

(17.124.977.853)

(18.494.031.754)

(17.961.242.026)

(19.170.889.552)

(21.916.961.480)

(26.279.192.079)

(32.001.827.170)

Beban keuangan

(12.868.516.058)

(8.960.929.370)

(2.221.845.399)

(2.009.703.699)

(2.921.244.163)

(3.474.100.480)

(6.078.185.514)

(10.254.472.750)

Penghasilan bunga

877.165.837

891.176.714

860.900.547

2.097.001.998

900.421.608

2.837.818.343

1.994.205.552

893.990.954

Amortisasi beban tangguhan - hak atas tanah

(42.287.929)

(42.287.929)

(42.287.929)

(42.287.929)

Keuntungan (kerugian) kurs mata uang asing

22.748.710.987

(8.912.323.376)

(17.311.931.008)

(3.109.314.707)

4.847.006.971

(3.071.508.138)

(12.620.709.421)

(60.765.808.246)

1.505.932.655

6.470.152.634

(2.981.124.796)

2.048.758.763

(681.417.398)

702.448.014

2.344.926.647

(588.168.733)

68.940.108.372

41.519.256.076

48.218.392.531

32.639.722.818

66.716.346.638

94.127.792.463

172.555.280.837

105.179.474.227

Keuntungan dan kerugian lain-lain

LABA SEBELUM PAJAK

MANFAAT (BEBAN) PAJAK

23

Pajak kini

(12.140.980.073)

(20.790.461.300)

(13.989.744.440)

(19.764.234.374)

(28.239.476.796)

(50.489.499.250)

(35.502.420.500)

(3.743.599.043)

(783.344.849)

2.055.268.216

1.363.437.131

(2.184.713.876)

3.115.854.241

3.853.227.050

(18.558.217.239)

(15.884.579.116)

(21.573.806.149)

(11.934.476.224)

(18.400.797.243)

(30.424.190.672)

(47.373.645.009)

(31.649.193.450)

50.381.891.133

25.634.676.960

26.644.586.382

20.705.246.594

48.315.549.395

63.703.601.791

125.181.635.828

73.530.280.777

80.656.233

43.068.503

32.662.441

36.276.789

48.396.205.628

63.746.670.294

125.214.298.269

73.566.557.566

Pajak tangguhan
Jumlah

LABA BERSIH TAHUN BERJALAN

Pendapatan komprehensif lain :


Perubahan nilai wajar efek yang belum
direalisasi

JUMLAH LABA KOMPERHENSIF

LABA PER SAHAM DASAR

50.381.891.133

16,38

25.634.676.960

6,40

26.644.586.382

6,65

20.705.246.594

5,17

Sumber : PT KMI Wire and Cable Tbk (Data diolah)

24

12,06

15,90

31,24

18,35

3.2 Tingkat Perputaran Piutang pada PT KMI Wire and Cable Tbk
Menurut Kasmir piutang adalah elemen utama dari modal kerja dan
juga merupakan aktiva yang selalu dalam keadaan berputar, dimana terus
menerus mengalami perubahan. Perputaran piutang menunjukan berapa kali
piutang tersebut berputar menjadi kas kembali setiap tahunnya4.
Tingkat perputaran piutang pada PT KMI Wire and Cable Tbk dapat
dilihat pada tabel perhitungan tingkat perputaran piutang. Untuk mengetahui
tingkat perputaran piutang barang terlebih dahulu harus diketahui penjualan,
piutang awal dan piutang akir dibagi dua untuk mengetahui berapa rata-rata
piutang, maka tingkat perputaran piutang dapat diketahui selama tahun 2006
sampai 2013. Untuk mengetahui tingkat perputaran piutang tahun 2006
sampai 2013 dapat dilihat dari tabel berikut :
Tabel 3.2.1
PT KMI Wire and Cable Tbk
Perputaran Piutang
Periode 2006-2013
Tahun

Penjualan Bersih
(Rupiah)

Piutang Awal
(Rupiah)

2006

1.130.748.428.391

99.036.853.395

1.280.445.849.352

161.319.629.703

1.731.928.919.684

148.655.412.557

822.273.437.407

256.225.886.195

1.228.092.212.266

188.563.542.737

1.841.939.308.817

209.216.689.073

2.273.197.243.380

265.297.949.607

2.572.350.076.614

337.293.788.652

2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013

Piutang Akhir
(Rupiah)

Rata-Rata
Piutang
(Rupiah)

161.319.629.70
3
148.655.412.55
7
256.225.886.19
5
188.563.542.73
7
209.216.689.07
3
265.297.949.60
7
337.293.788.65
2
486.996.835.41
3

130.178.241.54
9
154.987.521.13
0
202.440.649.37
6
222.394.714.46
6
198.890.115.90
5
237.257.319.34
0
301.295.869.13
0
412.145.312.03
3

Perputara
n Piutang
(kali)

Periode
Perputara
n Piutang
(hari)

41

44

42

97

58

46

48

58

Sumber : PT KMI Wire and Cable Tbk (Data diolah)


Dari data perkembangan diatas dapat diketahui bahwa tingkat
perputaran piutang berfluktuasi setiap tahunnya. Perputaran piutang
tertinggi terjadi pada tahun 2006 sebanyak 9 kali dengan lama perputaran 41
hari berarti periode tahun tersebut perputaran piutang sebanyak 9 kali atau
4 Kasmir. 2010. Pengantar Manajemen Keuangan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

25

setiap 41 hari dalam satu tahun. Sedangkan, perputaran piutang terendah


(terlama) pada tahun 2009 yaitu sebesar 4 kali atau setiap 97 hari dalam
setahun. Salah satu penyebab tingkat perputaran piutang yang rendah
tersebut dikarenakan perusahaan mengalami penurunan penerimaan order
sehingga penjualan menurun 53% dari tahun sebelumnya. Berikut tabel ratarata perputaran piutang sebagai berikut :
Tabel 3.2.2
PT KMI Wire and Cable Tbk
Rata-rata Perputaran Piutang
Periode 2006-2013

Tahun

Perputaran
Piutang
(kali)

Periode
Perputaran
Piutang (hari)

2006

41

2007

44

2008

42

2009

97

2010

58

2011

46

2012

48

2013
Jumlah

6
58

58
434

Rata-rata

54

Sumber : PT KMI Wire and Cable Tbk (Data diolah)


Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa rata-rata tingkat perputaran
piutang adalah 7 kali atau setiap 54 hari dalam satu tahun. Setiap tahun
kondisi perputaran piutang kurang baik, karena tingkat perputaran
piutangnya berada di bawah rata-rata industri atau kurang dari 10 kali.
Tingkat perputaran piutang yang rendah berarti modal yang tertanam di
piutang terlalu lama terikat.
Gambaran Perputaran Piutang PT KMI Wire and Cable Tbk tahun
2006-2013 dapat dilihat pada Grafik berikut :

26

Grafik 3.2.3
PT KMI Wire and Cable Tbk
Grafik Perputaran Piutang
Periode 2006-2013

PERPUTARAN PIUTANG
10
9
8
7
6
Perputaran Piutang (kali) 5
4
3
2
1
0
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013

Tahun

Sumber : PT KMI Wire and Cable Tbk (Data diolah)


Perputaran piutang terlihat memiliki tren menurun selama 8 tahun data
penelitian yang digunakan. Untuk penjelasan perputaran piutang PT KMI
Wire and Cable dari tahun ke tahun sebagai berikut :
1. Pada tahun 2006 perputaran piutang PT KMI Wire and Cable Tbk
sebanyak 9 kali, artinya dalam satu tahun dengan rata-rata penagihan
piutang 41 hari.
2. Pada tahun 2007 perputaran piutang PT KMI Wire and Cable Tbk
sebanyak 8 kali, artinya dalam satu tahun perputaran piutngnya
sebanyak 44 hari, menurun 11,11% dibandingkan dengan perputaran
piutang tahun 2006.
3. Pada tahun 2008 perputaran piutang PT KMI Wire and Cable Tbk
sebanyak 9 kali, artinya dalam satu tahun perputaran piutangnya
sebanyak 42 hari, meningkat 12,50% dibandingkan dengan perputaran
piutang tahun 2007.

27

4. Pada tahun 2009 perputaran piutang PT KMI Wire and Cable Tbk
sebanyak 4 kali, artinya dalam satu tahun perputaran piutangnya
sebanyak 97 hari, menurun 55,56% dibandingkan dengan perputaran
piutang tahun 2008 hal tersebut dikarenakan penjualan pada tahun
2009 menurun 52,52% diikuti dengan penurunan piutang karena
perusahaan mengalami penurunan penerimaan order.
5. Pada tahun 2010 perputaran piutang PT KMI Wire and Cable Tbk
sebanyak 6 kali, artinya dalam satu tahun perputaran piutangnya
sebanyak 58 hari, meningkat 50% dibandingkan dengan perputaran
piutang tahun 2009.
6. Pada tahun 2011 perputaran piutang PT KMI Wire and Cable Tbk
sebanyak 8 kali, artinya dalam satu tahun perputaran piutangnya
sebanyak 46 hari, meningkat 33,33% dibandingkan dengan perputaran
piutang tahun 2010.
7. Pada tahun 2012 perputaran piutang PT KMI Wire and Cable Tbk
sebanyak 8 kali, artinya dalam satu tahun perputaran piutangnya
sebanyak 48 hari.
8. Pada tahun 2013 perputaran piutang PT KMI Wire and Cable Tbk
sebanyak 6 kali, artinya dalam satu tahun perputaran piutangnya
sebanyak 58 hari, menurun 25% dibandingkan dengan perputaran
piutang tahun 2012 hal tersebut dikarenakan kenaikan piutang yang
terdiri dari piutang usaha kepada pihak ketiga dan piutang usaha lainlain kepada pihak ketiga. Kenaikan jumlah piutang ini karena
perusahaan berusaha menaikan omset penjualan.
Berdasarkan analisis di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat
perputaran piutang di PT KMI Wire and Cable Tbk setiap tahun
berfluktuasi. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan dan penurunan perputaran
piutang dari tahun 2006-2013. Perputaran piutang tertinggi terjadi pada
tahun 2006 sebanyak 9 kali dengan lama perputaran 41 hari berarti periode
tahun tersebut perputaran piutang sebanyak 9 kali atau setiap 41 hari dalam
satu tahun. Sedangkan, perputaran piutang terendah (terlama) pada tahun
2009 yaitu sebesar 4 kali atau setiap 97 hari dalam setahun. Hal ini sesuai

28

dengan teori yang dikemukakan kasmir bahwa salah satu penyebab tingkat
perputaran yang rendah karena adanya investasi yang berlebihan pada
piutang.

Kenaikan

jumlah

piutang

disebabkan

karena

perusahaan

memberikan syarat yang mudah kepada kreditur.5


3.3 Tingkat Perputaran Persediaan pada PT KMI Wire and Cable Tbk
Menurut Ridwan dan Inge persediaan adalah elemen utama dari modal
kerja dan juga merupakan aktiva yang selalu dalam keadaan berputar,
dimana terus menerus mengalami perubahan6. Untuk perusahaan industri
persediaan

merupakan

bagian

terbesar

dari

kekayaan

perusahaan.

Pendapatan perusahaan diperoleh dari penjualan persediaan tersebut.


Perputaran persediaan menunjukkan berapa kali persediaan tersebut diganti
atau dijual kembali setiap tahunnya.
Untuk mengetahui tingkat perputaran persediaan barang terlebih
dahulu harus diketahui harga pokok penjualan, persediaan awal dan akhir
dibagi dua untuk mengetahui berapa rata-rata persediaan, maka tingkat
perputaran persediaan dapat diketahui selama tahun 2006 sampai 2013.
Untuk mengetahui tingkat perputaran persediaan tahun 2006 sampai 2013
pada PT KMI Wire and Cable Tbk dapat dilihat dari tabel berikut :

Tabel 3.3.1
PT KMI Wire and Cable Tbk
Perputaran Persediaan
Periode 2006-2013
5 Ibid, hal 114
6 Sundjaja, Ridwan S dan Inge Barlian. 2002. Manajemen Keuangan. Jakarta :
Prehalindo

29

Tahun
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013

Penjualan Bersih
(Rupiah)
1.130.748.428.39
1
1.280.445.849.35
2
1.731.928.919.68
4
822.273.437.407
1.228.092.212.26
6
1.841.939.308.81
7
2.273.197.243.38
0
2.572.350.076.61
4

Piutang Awal
(Rupiah)
99.036.853.395
161.319.629.703
148.655.412.557
256.225.886.195
188.563.542.737
209.216.689.073
265.297.949.607
337.293.788.652

Piutang Akhir
(Rupiah)
161.319.629.70
3
148.655.412.55
7
256.225.886.19
5
188.563.542.73
7
209.216.689.07
3
265.297.949.60
7
337.293.788.65
2
486.996.835.41
3

Rata-Rata
Piutang
(Rupiah)
130.178.241.549
154.987.521.130
202.440.649.376
222.394.714.466
198.890.115.905
237.257.319.340
301.295.869.130
412.145.312.033

Perputaran
Piutang
(kali)

Periode
Perputaran
Piutang
(hari)

41

44

42

97

58

46

48

58

Sumber : PT KMI Wire and Cable Tbk (Data diolah)


Dari data perkembangan diatas dapat diketahui bahwa tingkat
perputaran persediaan berfluktuasi setiap tahunnya. Perputaran persediaan
tertinggi terjadi pada tahun 2011 sebanyak 8 kali dengan lama perputaran 45
hari berarti periode tahun tersebut perputaran persediaan sebanyak 8 kali
atau setiap 45 hari dalam satu tahun. Sedangkan, perputaran piutang
terendah (terlama) pada tahun 2009 yaitu sebesar 4 kali atau setiap 100 hari
dalam setahun. Salah satu penyebab tingkat perputaran piutang yang rendah
tersebut dikarenakan perusahaan mengalami penurunan penerimaan order
sehingga penjualan menurun 53% dari tahun sebelumnya. Berikut tabel ratarata perputaran persediaan sebagai berikut :

Tabel 3.3.2
PT KMI Wire and Cable Tbk
Rata-rata Perputaran Persediaan
Periode 2006-2013

30

Tahun

Perputaran
Persediaan
(kali)

Periode
Perputaran
Persediaan
(hari)

2006

48

2007

52

2008

52

2009

100

2010

61

2011

45

2012

47

2013

47

Jumlah

55

452

Rata-rata

57

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa rata-rata tingkat perputaran


persediaan adalah 7 kali atau setiap 57 hari dalam satu tahun. Kondisi ratarata tingkat perputaran persediaan perusahaan

baik karena tingkat

perputaran persediaannya berada di atas rata-rata industri atau lebih dari 6


kali. Salah satu faktor penyebab rendahna tingkat persediaan disebabkan
karena adana investasi yang berlebihan dalam persediaan, didalamnya
termaksud persediaan yang rusah atau cacat.
Gambaran Perputaran Persediaan PT KMI Wire and Cable Tbk tahun
2006-2013 dapat dilihat pada Grafik berikut :

Grafik 3.3.3
PT KMI Wire and Cable Tbk
Grafik Perputaran Persediaan
Periode 2006-2013

31

PERPUTARAN PERSEDIAAN

Perputaran Persediaan (kali)

9
8
7
6
5
4
3
2
1
0

Tahun

Sumber : PT KMI Wire and Cable Tbk (Data diolah)


Perputaran persediaan terlihat memiliki tren meningkat selama 8 tahun
data penelitian yang digunakan. Untuk penjelasan perputaran persediaan PT
KMI Wire and Cable dari tahun ke tahun sebagai berikut :
1. Pada tahun 2006 dapat diketahui perputaran persediaan PT KMI Wire
and Cable Tbk sebanyak 7 kali dengan rata-rata penjualan hari atau 48
hari. Artinya dalam satu tahun persediaannya sebanyak 7 kali jadi
lamanya barang yang disimpan dalam gudang adalah 48 hari.
2. Pada tahun 2007 dapat diketahui perputaran persediaan PT KMI Wire
and Cable Tbk sebanyak 7 kali dengan rata-rata penjualan hari atau 52
hari. Artinya dalam satu tahun persediaannya sebanyak 7 kali jadi
lamanya barang yang disimpan dalam gudang adalah 52 hari.
3. Pada tahun 2008 dapat diketahui perputaran persediaan PT KMI Wire
and Cable Tbk sebanyak 7 kali dengan rata-rata penjualan hari atau 52
hari. Artinya dalam satu tahun persediaannya sebanyak 7 kali jadi
lamanya barang yang disimpan dalam gudang adalah 52 hari.
4. Pada tahun 2009 dapat diketahui perputaran persediaan PT KMI Wire
and Cable Tbk sebanyak 4 kali menurun 42,86% jika dibandingkan
tahun 2008, artinya dalam tahun tersebut periode tingkat perputaranya

32

adalah 100 hari, jadi periode lamanya barang disimpan dalam gudang
adalah 100 hari dengan jumlah persediaan menurun diimbangi dengan
harga pokok penjualan yang menurun.
5. Pada tahun 2010 dapat diketahui perputaran persediaan PT KMI Wire
and Cable Tbk sebanyak 6 kali dengan rata-rata penjualan hari atau 61
hari. Dalam satu tahun perputaran persediaannya 6 kali meningkat
50% jika dibandingkan dengan tahun 2009. Artinya dalam satu tahun
persediaannya sebanyak 6 kali jadi lamanya barang yang disimpan
dalam gudang adalah 61 hari dengan persediaan meningkat sebesar Rp
21.100.896.692,- dari tahun sebelumnya.
6. Pada tahun 2011 dapat diketahui perputaran persediaan PT KMI Wire
and Cable Tbk sebanyak 8 kali dengan rata-rata penjualan hari atau 45
hari. Dalam satu tahun perputaran persediaannya 8 kali meningkat
33,33%

dari

tahun

sebelumnya. Artinya

dalam

satu

tahun

persediaannya sebanyak 8 kali jadi lamanya barang yang disimpan


dalam gudang adalah 45 hari dengan persediaan meningkat sebesar Rp
28.843.386.194,- dari tahun sebelumnya.
7. Pada tahun 2012 dapat diketahui perputaran persediaan PT KMI Wire
and Cable Tbk sebanyak 8 kali dengan rata-rata penjualan hari atau 47
hari. Artinya dalam satu tahun persediaannya sebanyak 8 kali jadi
lamanya barang yang disimpan dalam gudang adalah 47 hari. Dengan
jumlah persediaan yang meningkat sebesar Rp 74.896.456.475,- hal
tersebut dikarenakan timbulnya barang rusak akibat terlalu lama
disimpan di gudang.
8. Pada tahun 2013 dapat diketahui perputaran persediaan PT KMI Wire
and Cable Tbk sebanyak 8 kali dengan rata-rata penjualan hari atau 47
hari. Artinya dalam satu tahun persediaannya sebanyak 8 kali jadi
lamanya barang yang disimpan dalam gudang adalah 47 hari.
Berdasarkan analisis di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat
perputaran persediaan di PT KMI Wire and Cable setiap tahun berfluktuasi.
Hal ini dapat dilihat dari kenaikan atau penurunan perputaran persediaan
dari tahun 2006 2013. Perputaran persediaan tertinggi terjadi pada tahun

33

2011 sebanyak 8 kali dengan lama perputaran 45 hari berarti periode tahun
tersebut perputaran persediaan sebanyak 8 kali atau setiap 45 hari dalam
satu tahun. Sedangkan, perputaran piutang terendah (terlama) pada tahun
2009 yaitu sebesar 4 kali atau setiap 100 hari dalam setahun. Salah satu
faktor penyebab rendahna tingkat persediaan disebabkan karena adana
investasi yang berlebihan dalam persediaan. Hal ini sesuai dengan teori
yang dikeukakan oleh Kasmir bahwa salah satu penyebab tingkat perputaran
persediaan yang rendah karena adanya investasi yang berlebihan pada
persediaan. Kenaikan jumlah persediaan juga termaksud didalamnya
terdapat persediaan barang yang rusak atau cacat7.
3.4 Perkembangan Modal Kerja pada PT KMI Wire and Cable
Modal kerja merupakan selisih antara total aktiva lancar dan utang
lancar, maka jumlah modal kerja akan naik atau turun hanya karena
transaksi-transaksi yang mempengaruhi baik aktiva lanca maupun hutang
lancar. Modal kerja pada PT KMI Wire and Cable Tbk tahun 2006-2013
dapat dilihat pada tabel dibawh ini :

Tabel 3.4.1
PT KMI Wire and Cable Tbk
Modal Kerja
Periode 2006-2013
Tahun

Aktiva Lancar
(Rupiah)

Hutang Lancar
(Rupiah)

Modal Kerja
(Rupiah)

Perkembangan
(Rupiah)

2006

347.352.726.872

323.683.365.749

23.669.361.123

2007

420.471.878.725

164.383.028.661

256.088.850.064

232.419.488.941

2008

534.915.843.772

238.151.908.460

296.763.935.312

40.675.085.248

2009

430.621.334.031

137.271.545.050

293.349.788.981

(3.414.146.331)

2010

545.715.762.559

200.980.534.243

344.735.228.316

51.385.439.335

2011

673.269.628.366

307.776.998.006

365.492.630.360

20.757.402.044

2012

751.099.870.070

244.597.427.319

506.502.442.751

141.009.812.391

7 Kasmir. Op Cit Hal 110

34

2013

917.080.806.097

359.617.439.291

557.463.366.806

50.960.924.055

Sumber : PT KMI Wire and Cable Tbk (Data diolah)


Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa modal kerja pada PT
KMI Wire and Cable Tbk pada tahun 2006-2013 selalu bernilai positif,
arinya aktiva lancar selalu berada diatas hutang lancar. Dengan demikian
modal kerja tersebut benar-benar dapat digunakan untuk membiayai
kegiatan operasional perusahaan sehari-hari tanpa mengganggu likuiditas
perusahaan.
Gambaran Modal Kerja PT KMI Wire and Cable Tbk tahun 20062013 dapat dilihat pada Diagram berikut :

Diagram 3.4.2
PT KMI Wire and Cable Tbk
Diagram Modal Kerja
Periode 2006-2013

35

MODAL KERJA
600,000,000,000

557,463,366,806
506,502,442,751

500,000,000,000
400,000,000,000
Modal Kerja

300,000,000,000

296,763,935,312

200,000,000,000
100,000,000,000
23,669,361,123
0
2006
256,088,850,064
2007 2008
293,349,788,981
2009
344,735,228,316
2010
365,492,630,360
2011 2012 2013
Tahun

Dari diagram di atas dapat dilihat modal kerja PT KMI Wire and
Cabel selama 8 tahun, Untuk penjelasan perkembangan modal kerja PT
KMI Wire and Cable dari tahun ke tahun sebagai berikut :
1. Pada tahun 2006 modal kerja PT KMI Wire and Cable Tbk sebesar Rp
23.669.361.123,2. Pada tahun 2007 modal kerja PT KMI Wire and Cable Tbk sebesar Rp
256.088.850.064,- pada tahun tersebut aktiva lancar meningkat dan
hutang lancar menurun sehingga pada tahun tersebut perusahaan
mengalami peningkatan modal kerja sebesar Rp 232.419.488.941,3. Pada tahun 2008 modal kerja PT KMI Wire and Cable Tbk sebesar Rp
296.763.935.312,- pada tahun tersebut aktiva lancar meningkat
diimbangi dengan hutang lancar yang meningkat sehingga pada tahun
tersebut perusahaan mengalami peningkatan modal kerja sebesar Rp
40.675.085.248,4. Pada tahun 2009 modal kerja PT KMI Wire and Cable Tbk sebesar Rp
293.349.788.981,- pada tahun tersebut aktiva lancar mengalami
penurunan

diikuti

dengan

penurunan

hutang

lancar

sehingga

menyebabkan penurunan modal kerja sebesar Rp 3.414.146.331,5. Pada tahun 2010 modal kerja PT KMI Wire and Cable Tbk sebesar Rp
344.735.28.316,- pada tahun tersebut aktiva lancar meningkat diimbangi

36

dengan hutang lancar yang meningkat sehingga pada tahun tersebut


perusahaan

mengalami

peningkatan

modal

kerja

sebesar

Rp.

51.385.439.335,6. Pada tahun 2011 modal kerja PT KMI Wire and Cable Tbk sebesar Rp
365.492.630.360,- pada tahun tersebut aktiva lancar meningkat
diimbangi dengan hutang lancar yang meningkat sehingga pada tahun
tersebut perusahaan mengalami peningkatan modal kerja sebesar Rp
20.757.402.044,7. Pada tahun 2012 modal kerja PT KMI Wire and Cable Tbk sebesar Rp
506.502.442.751,- pada tahun tersebut aktiva lancar meningkat dan
hutang lancar yang menurun sehingga pada tahun tersebut perusahaan
mengalami peningkatan modal kerja sebesar Rp 141.009.812.391,8. Pada tahun 2013 modal kerja PT KMI Wire and Cable Tbk sebesar Rp
557.463.366.806,- pada tahun tersebut aktiva lancar meningkat
diimbangi dengan hutang lancar yang meningkat sehingga pada tahun
tersebut perusahaan mengalami peningkatan modal kerja sebesar Rp
50.960.924.005,3.5 Pengujian Asumsi Klasik
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis menggunakan analisis regresi
linier berganda, ada beberapa asumsi yang harus terpenuhi agar kesimpulan
dari regresi tersebut tidak bias, diantaranya adalah uji normalitas, uji
multikolinieritas (untuk regresi linear berganda), uji heteroskedastisitas dan
uji autokorelasi (untuk data yang berbentuk deret waktu). Pada penelitian ini
keempat asumsi yang disebutkan diatas tersebut diuji karena variabel bebas
yang digunakan pada penelitian ini lebih dari satu (berganda) dan data yang
dikumpulkan mengandung unsur deret waktu (8 tahun pengamatan).
1. Uji Asumsi Normalitas
Asumsi normalitas merupakan persyaratan yang sangat penting
pada pengujian kebermaknaan (signifikansi) koefisien regresi, apabila
model regresi tidak berdistribusi normal maka kesimpulan dari uji F
dan uji t masih meragukan, karena statistik uji F dan uji t pada analisis
regresi diturunkan dari distribusi normal. Pada penelitian ini

37

digunakan uji satu sampel Kolmogorov-Smirnov untuk menguji


normalitas model regresi.
Tabel 3.5.1
Hasil Uji Normalitas

Sumber : Output SPSS (Data diolah)


Dari tabel 3.5.1 dapat dilihat bahwa nilai Dhitung = 0,204 dengan
p-value (nilai sig) sebesar 0,200. Hasil pengujian normalitas model
regresi menunjukkan bahwa nilai residual dari model berdistribusi
normal. Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan normalitas
menunjukan nilai probabilitas (sig.) Kolmogorov-Smirnov Test yang
diperoleh untuk nilai residual sebesar 0,200 lebih besar dari 0,05.
Untuk mengetahui normalitas hasil regresi yang diperoleh dapat
dilhat dari normal plot. Hasil PP plot untuk uji normalitas dapat dilihat
pada grafik berikut.
Grafik 3.5.2
Hasil Uji Normalitas

38

Sumber : Output SPSS (Data diolah)


Dari grafik di atas terlihat data menyebar disekitar garis
diagonal sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai residual hasi
taksiran regresi memenuhi asumsi berdistribusi normal.

2. Uji Asumsi Multikolinieritas


Multikolinieritas berarti adanya hubungan yang kuat di antara
beberapa atau semua variabel bebas pada model regresi. Jika terdapat
Multikolinieritas maka koefisien regresi menjadi tidak tentu, tingkat
kesalahannya menjadi sangat besar dan biasanya ditandai dengan nilai
koefisien determinasi yang sangat besar tetapi pada pengujian parsial
koefisien regresi, tidak ada ataupun kalau ada sangat sedikit sekali
koefisien regresi yang signifikan. Pada penelitian ini digunakan nilai
variance inflation factors (VIF) sebagai indikator ada tidaknya
39

multikolinieritas diantara variabel bebas.


Tabel 3.5.3
Hasil Perhitugan VIF

Sumber : Output SPSS (Data diolah)


Berdasarkan nilai VIF yang diperoleh seperti terlihat pada tabel 3.5.3
diatas menunjukkan tidak ada korelasi yang cukup kuat antara sesama
variabel bebas, dimana nilai VIF dari kedua variabel bebas lebih kecil
dari 10 dan dapat disimpulkan tidak terdapat multikolinieritas diantara
kedua variabel bebas.
3. Uji Asumsi Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas merupakan indikasi bahwa varians residual
tidak homogen yang mengakibatkan nilai taksiran yang diperoleh
tidak lagi efisien. Pengujian dilakukan dengan menggunakan
pendekatan uji Gletser yaitu dengan menghitung regresi antara nilai
residual absolut (absr) dengan variabel bebas (X 1 dan X2) diberikan
pada tabel berikut :
Tabel 3.5.4
Hasil Uji Heteroskedastisitas

40

Sumber : Output SPSS (Data diolah)


Hasil regresi yang diperoleh menunjukkan variabel X1 dengan
absolut error tidak singgnifkan (nilai sig 0,086 > 0,05) dan variabel X2
dengan absolut error tidak singnifkan (nilai sig 0,630 > 0,05).
Sehingga dapat disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas. Untuk
mengetahui hasil Heteroskedastisitas dapat juga dilakukan dengan
melihat grafik Scetter plot nilai residual. Hasil plot yang diperoleh
dari SPSS dapat dilihat pada grafik di bawah ini:

Grafik 3.5.5
Hasil Uji Heteroskedastisitas

41

Sumber : Output SPSS (Data diolah)


Pada grafik scatterplot diatas terlihat titik-titik menyebar secara
acak serta tersebar baik diatas maupun dibawah angka 0 pada sumbu
Y. Hal inimerupakan indikasi bahwa varian residu hasil persamaan
regresi yang diperoleh homogen dan dapat disimpulkan tidak terjadi
gejala heteroskedastistas dalam persamaan regresi yang diperoleh.
4. Uji Asumsi Autokorelasi
Autokorelasi didefinisikan sebagai korelasi antar observasi yang
diukur berdasarkan deret waktu dalam model regresi atau dengan kata
lain error dari observasi tahun berjalan dipengaruhi oleh error dari
observasi tahun sebelumnya. Pada pengujian autokorelasi digunakan
uji Durbin-Watson untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi pada
model regressi dan berikut nilai Durbin-Watson yang diperoleh
melalui hasil estimasi model regressi. Pengujian autokorelasi pada
model regresi dilihat melalui statistik Durbin-Watson (D-W). Hasil
perhitungan statistik Durbin-Watson (D-W) untuk model regresi
Perputaran Piutang (X1) dan Perputaran Persediaan (X2) terhadap

42

Modal kerja (Y) diperoleh sebesar 1,986. Nilai D-W yang diperoleh
dari model dibandingkan terhadap nilaitabel Durbin-Watson. Untuk
jumlah observasi 8 dan variabel X dalam model regresi sebanyak 2,
diperoleh dari tabel Durbin-Watson (D-W) nilai batas bawah DL
sebesar 0,559 dan nilai batas atas DU sebesar 1,777. Hasil keputusan
uji dapat dilihat dari gambar berikut :
Tabel 3.5.6
Hasil Uji Asumsi Autokorelasi

Sumber : Output SPSS (Data diolah)


Dengan melihat angka DW berada dalam rentang dL dan dU yaitu dL
< d < dU = Tidak ada kesimpulan yang pasti, sehingga perlu dilakukan uji
Runtun (Run test) untuk melihat keacakan nilai residual.

Tabel 3.5.7
Hasil Runs Test

43

Sumber : Output SPSS (Data diolah)


Hasil runs test pada tabel 3.5.7 dapat dilihat bahwa nilai Asymp. Sig.
(2-tailed) > 0.05 yang berarti nilai residual model regresi menunjukkan sifat
acak sehingga dapat disimpulan tidak ada autokorelasi.
3.6 Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi berganda digunakan untuk menguji pengaruh variabel
independen yaitu perputaran persediaan dan perputaran piutang terhadap
modal kerja. Estimasi model regresi linier berganda ini menggunakan
software SPSS 22 dan diperoleh hasil output sebagai berikut :
Tabel 3.5.8
Hasil Perhitungan Regresi Linier Berganda

Sumber : Output SPSS (Data diolah)


Diperoleh persamaan regresi taksiran untuk melihat pengaruh
perputaran piutang dan perputaran persediaan terhadap modal kerja pada PT
KMI Wire and Cable Tbk adalah sebagai berikut :

44

Dimana :
Y = Modal Kerja

X 1 = Perputaran Piutang
X 2 = Perputaran Persediaan
Koefisien yang terdapat pada persamaan diatas dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1. Nilai konstan sebesar 166.336.560.276,646 menjelaskan jika modal
kerja tidak dipengaruhi oleh kedua variabel bebasnya, maka besarnya
nilai modal kerja akan bernilai 166.336.560.276,646. Dengan pengertian
lain yaitu modal kerja akan bernilai 166.336.560.276,646 jika didalam
perusahaan tidak terdapat tingkat perputaran piutang dan perputaran
persediaan. Namun dalam realitasnya hal ini tidak mngkin terjasi karena
adanya investasi yang berlebihan dalam piutang dan persediaan yang
dilakukan oleh perusahaan.
2. Koefisien regresi untuk perputaran piutang (

) bertanda negatif

sebesar -97.854.168.300,051 menunjukkan perubahan modal kerja ( )


jika perputaran piutang meningkat sebesar satu kali. Jadi dapat diketahui
jika perputaran piutang meningkat sebesar satu kali maka akan terjadi
penuruan modal kerja sebesar Rp -97.854.168.300,051.
3. Koefisien regresi untuk perputaran persediaan ( ) bertanda positif
sebesar 127.071.179.689,141 menunjukkan perubahan modal kerja ( )
jika perputaran persediaan meningkat sebesar satu kali. Jadi dapat
diketahui jika perputaran persediaan meningkat satu kali maka akan
terjadi peningkatan modal kerja sebesar Rp. 127.071.179.689,141

45

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Hasil analisis yang dilakukan menggunakan data tahunan dari laporan
keuangan PT KMI Wire and Cable Tbk tahun 2006 sampai dengan 2013
diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. Perputaran Persediaan dan Modal kerja PT KMI Wire and Cable Tbk
pada periode 2006 sampai dengan 2013 dalam kondisi baik karena
berada diatas rata-rata industri dan telihat ada tren meningkat selama
kurun waktu 2006 sampai dengan 2013 akan tetapi keadaan
perpuataran piutang dalam keadaan kurang baik terlihat ada tren
menurun selama periode tersebut.
2. Modal kerja pada PT KMI Wire and Cable juga dalam keadaan baik
karena pada periode 2006 sampai dengan 2013 selalu bernilai positif,
artina aktiva lancar selalu melebihi utang lancar. Dengan demikian,
modal kerja netto dapat digunakan untuk membiayai operasional
perusahaan sehari-hari tanpa mengganggu likuditas perusahaan.
3. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh hasil bahwa tingkat
perputaran persediaan berpengaruh terhadap modal kerja berdampak
positif. Artinya, jika perputaran persediaan meningkat, maka modal
kerjanya juga mengalami kenaikan. Dan sebaliknya, tingkat perputaran
piutang berpengaruh terhadap modal kerja berdampak negatif. Artinya,
jika perputaran piutang meningkat, maka modal kerja akan mengalami
penurunan.

46

4.2 Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, saran yang dapat penulis
berikan yaitu :
1. Untuk meningkatkan perputaran piutang, yaitu dengan cara perusahaan
memberikan syarat kredit yang tidak mudah bagi kreditur sehingga
jumlah penjualan kredit berkurang dan menyebabkan jumlah piutang
menurun sehingga perputaran piutang akan meningkat.
2. Untuk meningkatkan perputaran persediaan, yaitu dengan cara
menaikan harga pokok penjualan atau menurunkan investasi (modal
kerja) dalam persediaan. Apabila HPP dinaikan, akibatnya harga jual
akan tinggi sehingga perusahaan kemungkinan besar akan ditinggalkan
pelanggan. Maka cara yang lebih baik adalah menurunkan jumlah
persediaan sehingga tidak terjadi investasi yang berlebihan pada
persediaan.
3. Perusahaan hendaknya menilai kembali kebijakan-kebijakan investasi
(modal kerja) dalam persediaan dan piutang.

47

DAFTAR PUSTAKA

Kasmir. 2010. Pengantar Manajemen Keuangan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada


Sugiyono. 2010. Statistik Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta.
Sundjaja, Ridwan S dan Inge Barlian. 2002. Manajemen Keuangan. Jakarta : Prehalindo

Sarwono, Jonathan. 2013. 12 Jurus Ampuh SPSS untuk Riset Skripsi. Jakarta :
PT Elex Media Komputindo

48