Anda di halaman 1dari 2

SINOPSIS TESIS

PROGRAM MAGISTER KEPERAWATAN PEMINATAN GAWAT DARURAT


PROGRAM PASCA SARJANA JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
PENGARUH MANAJEMEN STRESS PERAWAT TERHADAP KETERAMPILAN
PERAWAT DALAM PENGKAJIAN GAWAT DARURAT

Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan yang berada di Unit Gawat Darurat
secara total akan melibatkan emosi mereka dalam penanganan kasus pasien, sehingga akan
menimbulkan sterss yang merupakan komponen esensial dalam kesehatan dan dapat muncul
jika tuntutan pada fisik dan emosi pada individu melebihi batas. Maka stress akan menjadi
distress. Hal ini membutuhkan manajemen penanganan yang sesuai untuk mengatasinya
(Davis, 2006).
Menurut Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI, 2006) sebanyak 50,9%
perawat indonesia yang bekerja mengalami stress kerja sering merasa pusing, lelah, kurang
ramah, kurang istirahat akibat beban kerja terlalu tinggi. Sementara itu dijelaskan bahwa 74%
perawat mengalami kejadian stress kerja yang mana sumber utamanya adalah lingkungan
kerja yang menuntut kekuatan fisik dan keterampilan (frasser, 2003).
Asuhan keperawatan gawat darurat adalah rangkaian kegiatan praktek
keperawatan gawat darurat yang diberikan kepada klien oleh perawat yang
berkompeten di ruang gawat darurat. Asuhan keperawatan yang diberikan meliputi
biologis, psikologis, dan sosial klien baik aktual yang timbul secara bertahap maupun
mendadak. (Dep.Kes RI, 2005).
Pengkajian pada kasus gawat darurat dibedakan menjadi dua, yaitu : pengkajian
primer dan pengkajian sekunder. Pertolongan kepada pasien gawat darurat dilakukan
dengan terlebih dahulu melakukan survei primer untuk mengidentifikasi masalahmasalah yang mengancam hidup pasien, barulah selanjutnya dilakukan survei sekunder.
Tahapan pengkajian primer meliputi : A: Airway, mengecek jalan nafas dengan tujuan
menjaga jalan nafas disertai kontrol servikal; B: Breathing, mengecek pernafasan dengan
tujuan mengelola pernafasan agar oksigenasi adekuat; C: Circulation, mengecek sistem
sirkulasi disertai kontrol perdarahan; D: Disability, mengecek status neurologis; E:
Exposure, enviromental control, buka baju penderita tapi cegah hipotermia (Holder,
2002).
Pengkajian yang dilakukan secara terfokus dan berkesinambungan akan
menghasilkan data yang dibutuhkan untuk merawat pasien sebaik mungkin. Dalam
melakukan pengkajian dibutuhkan kemampuan kognitif, psikomotor, interpersonal, etik
dan kemampuan menyelesaikan maslah dengan baik dan benar. Perawat harus
memastikan bahwa data yang dihasilkan tersebut harus dicatat, dapat dijangkau, dan
dikomunikasikan dengan petugas kesehatan yang lain. Pengkajian yang tepat pada
pasien akan memberikan dampak kepuasan pada pasien yang dilayani. (Kartikawati, 2012)
Oleh karena itu diperlukan perawat yang mempunyai kemampuan atau
ketrampilan yang bagus dalam mengaplikasikan asuhan keperawatan gawat darurat untuk
mengatasi berbagai permasalahan kesehatan baik aktual atau potensial mengancam
kehidupan tanpa atau terjadinya secara mendadak atau tidak di perkirakan tanpa atau

disertai kondisi lingkungan yang tidak dapat dikendalikan. Keberhasilan pertolongan


terhadap penderita gawat darurat sangat tergantung dari kecepatan dan ketepatan dalam
melakukan pengkajian awal yang akan menentukan keberhasilan Asuhan Keperawatan
pada sistem kegawatdaruratan pada pasien dewasa. Dengan Pengkajian yang baik akan
meningkatkan mutu pelayanan keperawatan. Aspek aspek yang dapat dilihat dari
mutu pelayanan keperawatan yang dapat dilihat adalah kepedulian, lingkungan fisik,
cepat tanggap, kemudahan bertransaksi, kemudahan memperoleh informasi, kemudahan
mengakses, prosedur dan harga. (Joewono, 2003)