Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN LEUKEMIA


DI RUANG POLI ANAK RSUP DR. KARIADI SEMARANG

DISUSUN OLEH :

WANDA DWISETIA ARDIANA


P.17420113077

PRODI DIII KEPERAWATAN SEMARANG


JURUSAN KEPERAWATAN SEMARANG
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2015

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN LEUKEMIA

A. DEFINISI
Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah dalam
sumsum tulang dan limfa nadi (Reeves, 2001). Leukemia adalah istilah umum yang
digunakan untuk keganasan pada sumsum tulang dan sistem limpatik (Wong, 2000).
Leukemia adalah keganasan organ pembuat darah, sehingga sumsum tulang
didominasi oleh limfoblas yang abnormal. Leukemia limfoblastik akut adalah
keganasan yang sering ditemukan pada masa anak-anak (25-30% dari seluruh
keganasan pada anak), anak laki lebih sering ditemukan dari pada anak perempuan, dan
terbanyak pada anak usia 3-4 tahun. Faktor risiko terjadi leukimia adalah faktor
kelainan kromosom, bahan kimia, radiasi faktor hormonal,infeksi virus (Ribera, 2009).
Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah dalam
sumsum tulang dan limfa nadi (Reeves, 2001). Sifat khas leukemia adalah proliferasi
tidak teratur atau akumulasi sel darah putih dalam sumusm tulang, menggantikan
elemen sumsum tulang normal. Juga terjadi proliferasi di hati, limpa dan nodus
limfatikus, dan invasi organ non hematologis, seperti meninges, traktus gastrointesinal,
ginjal dan kulit.
B. KLASIFIKASI
1. Leukemia secara umum
Secara sederhana leukemia dapat diklasifikasikan berdasarkan maturasi sel dan tipe
sel asal yaitu :
a. Leukemia Akut
Leukemia akut adalah keganasan primer sumsum tulang yang berakibat
terdesaknya komponen darah normal oleh komponen darah abnormal
(blastosit) yang disertai dengan penyebaran ke organ-organ lain. Leukemia
akut memiliki perjalanan klinis yang cepat, tanpa pengobatan penderita akan
meninggal rata-rata dalam 4-6 bulan.
1. Leukemia Limfositik Akut (LLA)
LLA merupakan jenis leukemia dengan karakteristik adanya proliferasi dan
akumulasi sel-sel patologis dari sistem limfopoetik yang mengakibatkan
organomegali (pembesaran alat-alat dalam) dan kegagalan organ.

2.

Leukemia Mielositik Akut (LMA)

LMA merupakan leukemia yang mengenai sel stem hematopoetik yang akan
berdiferensiasi ke semua sel mieloid. LMA merupakan leukemia nonlimfositik
yang paling sering terjadi. LMA atau Leukemia Nonlimfositik Akut (LNLA)
lebih sering ditemukan pada orang dewasa (85%) dibandingkan anak-anak
(15%). Permulaannya mendadak dan progresif dalam masa 1 sampai 3 bulan
dengan durasi gejala yang singkat. Jika tidak diobati, LNLA fatal dalam 3
sampai 6 bulan.
b. Leukemia Kronik
Leukemia kronik merupakan suatu penyakit yang ditandai proliferasi neoplastik
dari salah satu sel yang berlangsung atau terjadi karena keganasan hematologi.
1. Leukemia Limfositik Kronis (LLK)
LLK adalah suatu keganasan klonal limfosit B (jarang pada limfosit T).
Perjalanan penyakit ini biasanya perlahan, dengan akumulasi progresif yang
berjalan lambat dari limfosit kecil yang berumur panjang.
2. Leukemia Granulositik/Mielositik Kronik (LGK/LMK)
LGK/LMK adalah gangguan mieloproliferatif yang ditandai dengan produksi
berlebihan sel mieloid (seri granulosit) yang relatif matang. LGK/LMK
mencakup 20% leukemia dan paling sering dijumpai pada orang dewasa usia
pertengahan (40-50 tahun). Abnormalitas genetik yang dinamakan kromosom
philadelphia ditemukan pada 90-95% penderita LGK/LMK.
Sebagian besar penderita LGK/LMK akan meninggal setelah memasuki fase
akhir yang disebut fase krisis blastik yaitu produksi berlebihan sel muda
leukosit, biasanya berupa mieloblas/promielosit, disertai produksi neutrofil,
trombosit dan sel darah merah yang amat kurang.
2. Leukemia Limfoblastik Akut (LLA)
FAB (French-American-British) dibuat klasifikasi LLA berdasarkan morfologik untuk
lebih memudahkan pemakaiannya dalam klinik, antara lain sebagai berikut:
a. L-1 terdiri dari sel-sel limfoblas kecil serupa dengan kromatin homogen, nucleus
umumnya tidak tampak dan sitoplasma sempit
b. L-2 pada jenis ini sel limfoblas lebih besar tapi ukurannya bervariasi, kromatin lebih
besar dengan satu atau lebih anak inti
c. L-3 terdiri dari sel limfoblas besar, homogeny dengan kromatin berbecak, banyak
ditemukan anak inti serta sitoplasma yang basofilik dan bervakuolisasi

C. ETIOLOGI
1. Genetik
a. keturunan
1. Adanya Penyimpangan Kromosom
Insidensi leukemia meningkat pada penderita kelainan kongenital, diantaranya pada
sindroma Down, sindroma Bloom, Fanconis Anemia, sindroma Kleinfelter.
Kelainan-kelainan kongenital ini dikaitkan erat dengan adanya perubahan informasi
gen, misal pada kromosom 21 atau C-group Trisomy, atau pola kromosom yang
tidak stabil, seperti pada aneuploidy.
2. Saudara kandung
Dilaporkan adanya resiko leukemia akut yang tinggi pada kembar identik dimana
kasus-kasus leukemia akut terjadi pada tahun pertama kelahiran. Hal ini berlaku juga
pada keluarga dengan insidensi leukemia yang sangat tinggi
b. Faktor Lingkungan
Beberapa faktor lingkungan di ketahui dapat menyebabkan kerusakan kromosom
dapatan, misal : radiasi, bahan kimia, dan obat-obatan yang dihubungkan dengan
insiden yang meningkat pada leukemia akut, khususnya ALL ,
2. Virus
Salah satu virus yang terbukti dapat menyebabkan leukemia pada manusia
adalah Human T-Cell Leukemia .
3. Bahan Kimia dan Obat-obatan
a. Bahan Kimia
Paparan kromis dari bahan kimia (misal : benzen) dihubungkan dengan peningkatan
insidensi leukemia akut
b. Obat-obatan
Obat-obatan anti neoplastik (misal : alkilator dan inhibitor topoisomere II) dapat
mengakibatkan
penyimpangan
kromosom
yang
menyebabkan
AML. Kloramfenikol, fenilbutazon, dan methoxypsoralen dilaporkan menyebabkan
kegagalan sumsum tulang yang lambat laun menjadi AML

D. PATOFISIOLOGI
Komponen sel darah terdiri atas eritrosit atau sel darah merah (RBC) dan leukosit atau
sel darah putih (WBC) serta trombosit atau platelet. Seluruh sel darah normal diperoleh
dari sel batang tunggal yang terdapat pada seluruh sumsum tulang. Sel batang dapat
dibagi ke dalam lymphpoid dan sel batang darah (myeloid), dimana pada kebalikannya
menjadi cikal bakal sel yang terbagi sepanjang jalur tunggal khusus. Proses ini dikenal
sebagai hematopoiesis dan terjadi di dalam sumsum tulang tengkorak, tulang belakang.,
panggul, tulang dada, dan pada proximal epifisis pada tulang-tulang yang panjang.
ALL meningkat dari sel batang lymphoid tunggal dengan kematangan lemah dan
pengumpulan sel-sel penyebab kerusakan di dalam sumsum tulang. Biasanya dijumpai
tingkat pengembangan lymphoid yang berbeda dalam sumsum tulang mulai dari yang
sangat mentah hingga hampir menjadi sel normal. Derajat kementahannya merupakan
petunjuk untuk menentukan/meramalkan kelanjutannya. Pada pemeriksaan darah tepi
ditemukan sel muda limfoblas dan biasanya ada leukositosis, kadang-kadang
leukopenia (25%). Jumlah leukosit neutrofil seringkali rendah, demikian pula kadar
hemoglobin dan trombosit. Hasil pemeriksaan sumsum tulang biasanya menunjukkan
sel-sel blas yang dominan. Pematangan limfosit B dimulai dari sel stem pluripoten,
kemudian sel stem limfoid, pre pre-B, early B, sel B intermedia, sel B matang, sel
plasmasitoid dan sel plasma. Limfosit T juga berasal dari sel stem pluripoten,
berkembang menjadi sel stem limfoid, sel timosit imatur, cimmom thymosit, timosit
matur, dan menjadi sel limfosit T helper dan limfosit T supresor.
Peningkatan prosuksi leukosit juga melibatkan tempat-tempat ekstramedular sehingga
anak-anak menderita pembesaran kelenjar limfe dan hepatosplenomegali. Sakit tulang
juga sering dijumpai. Juga timbul serangan pada susunan saraf pusat, yaitu sakit kepala,
muntah-muntah, seizures dan gangguan penglihatan.
Sel kanker menghasilkan leukosit yang imatur / abnormal dalam jumlah yang
berlebihan. Leukosit imatur ini menyusup ke berbagai organ, termasuk sumsum tulang
dan menggantikan unsur-unsur sel yang normal. Limfosit imatur berproliferasi dalam
sumsum tulang dan jaringan perifer sehingga mengganggu perkembangan sel normal.
Hal ini menyebabkan haemopoesis normal terhambat, akibatnya terjadi penurunan
jumlah leucosit, sel darah merah dan trombosit. Infiltrasi sel kanker ke berbagai organ
menyebabkan pembersaran hati, limpa, limfodenopati, sakit kepala, muntah, dan nyeri
tulang serta persendian. Penurunan jumlah eritrosit menimbulkan anemia, penurunan
jumlah trombosit mempermudah terjadinya perdarahan (echimosis, perdarahan gusi,
epistaksis dll.). Adanya sel kanker juga mempengaruhi sistem retikuloendotelial yang
dapat menyebabkan gangguan sistem pertahanan tubuh, sehingga mudah mengalami
infeksi. Adanya sel kaker juga mengganggu metabolisme sehingga sel kekurangan
makanan. (Ngastiyah, 1997; Smeltzer & Bare, 2002; Suriadi dan Rita Yuliani, 2001,
Betz & Sowden, 2002).

E. PATHWAY

F. MANIFESTASI KLINIS
1. Anemia: mudah lelah, letargi, pusing, sesak, nyeri dada
2. Anoreksia, kehilangan berat badan, malaise
3. Nyeri tulang dan sendi (karena infiltrasi sumsum tulang oleh sel leukemia), biasanya
terjadi pada anak
4. Demam, banyak berkeringat pada malam hari(hipermetabolisme)
5. Infeksi mulut, saluran napas, selulitis, atau sepsis. Penyebab tersering adalah
gramnegatif usus
6. Perdarahan kulit, gusi, otak, saluran cerna, hematuria
7. Hepatomegali, splenomegali, limfadenopati
8. Massa di mediastinum (T-ALL)
9. Leukemia SSP (Leukemia cerebral); nyeri kepala, tekanan intrakranial naik,
muntah,kelumpuhan saraf otak (VI dan VII), kelainan neurologik fokal, dan
perubahan statusmental.

G. KOMPLIKASI
1. Perdarahan

2. Infeksi
3. Pembentukan batu ginjal dan kolik ginjal.
4. Anemia
5. Masalah gastrointestinal.

H. Asuhan keperawatan
1. Pengkajian keperawatan
a. Identitas
b. Riwayat Kesehatan
1)

Keluhan Utama : demam, lesu dan malas makan atau nafsu makan berkurang,
pucat (anemia) dan kecenderungan terjadi perdarahan.

2)

Riwayat kesehatan sekarang, masa lalu, keluarga

3) Riwayat prenatal, intranatal, postnatal, riwayat tumbuh kembang dan imunisasi


4) Pola Persepsi - mempertahankan kesehatan
5) Pola Nurisi : Anak sering mengalami penurunan nafsu makan, anorexia,
muntah, perubahan sensasi rasa, penurunan berat badan dan gangguan
menelan, serta pharingitis. Dari pemerksaan fisik ditemukan adanya distensi
abdomen, penurunan bowel sounds, pembesaran limfa, pembesaran hepar
akibat invasi sel-sel darah putih yang berproliferasi secara abnormal, ikterus,
stomatitis, ulserasi oal, dan adanya pmbesaran gusi (bisa menjadi indikasi
terhadap acute monolytic leukemia)
6) Pola Eliminasi : Anak kadang mengalami diare, penegangan pada perianal,
nyeri abdomen, dan ditemukan darah segar dan faeces berwarna ter, darah
dalam urin, serta penurunan urin output. Pada inspeksi didapatkan adanya
abses perianal, serta adanya hematuria.
7) Pola Tidur dan Istrahat : Anak memperlihatkan penurunan aktifitas dan lebih
banyak waktu yang dihabiskan untuk tidur /istrahat karena mudah mengalami
kelelahan.
8) Pola Kognitif dan Persepsi : Anak penderita ALL sering ditemukan mengalami
penurunan kesadaran (somnolence) , iritabilits otot dan seizure activity,
adanya keluhan sakit kepala, disorientasi, karena sel darah putih yang
abnormal berinfiltrasi ke susunan saraf pusat.

9)

Pola Mekanisme Koping dan Stress : Anak berada dalam kondisi yang lemah
dengan pertahan tubuh yang sangat jelek. Dalam pengkajian dapt ditemukan
adanya depresi, withdrawal, cemas, takut, marah, dan iritabilitas. Juga
ditemukan peerubahan suasana hati, dan bingung.

10) Pola Seksual : Pada pasien anak-anak pola seksual belum dapat dikaji
11) Pola Hubungan Peran : Pasien anak-anak biasanya merasa kehilangan
kesempatan bermain dan berkumpul bersama teman-teman serta belajar.
12) Pola Keyakinan dan Nilai : Anak pra sekolah mengalami kelemahan umum
dan ketidakberdayaan melakukan ibadah.
12) Pengkajian tumbuh kembang anak.

2.DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia
c. Resiko terhadap cedera: perdarahan berhubungan dengan penurunan jumlah trombosit
d. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah
e. Perubahan membran mukosa mulut: stomatitis berhubungan dengan efek samping , agen
kemoterapi
f. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, malaise,
mual dan muntah, efek samping kemoterapi dan atau stomatitis
g. Nyeri berhubungan dengan efek fisiologis dari leukemia
h. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemberian agens kemoterapi, radioterapi,
imobilitas
i. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak yang menderita leukemia

3. RENCANA KEPERAWATAN

N
O
1

DIAGNOSA
TUJUAN
KEPERAWATAN
Resiko infeksi b.d
Kriteria Hasil :
menurunnya sistem
Klien bebas dari tanda
pertahanan tubuh
dan gejala infeksi

Menunjukkan
kemampuan
untuk

mencegah
timbulnya
infeksi
Jumlah leukosit dalam
batas normal
Menunjukkan
perilaku

hidup sehat

INTERVENSI
Infection Control (Kontrol
infeksi)
Bersihkan
lingkungan
setelah dipakai pasien lain
Instruksikan
pada
pengunjung untuk mencuci
tangan saat berkunjung dan
setelah
berkunjung
meninggalkan pasien
Infection
Protection
(proteksi terhadap infeksi)
Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan lokal
Monitor hitung granulosit,
WBC
Monitor kerentanan terhadap
infeksi
Partahankan teknik aspesis
pada pasien yang beresiko
Berikan perawatan kuliat
pada area epidema
Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
Ispeksi kondisi luka / insisi
bedah

Intoleransi aktivitas b/d


Kriteria Hasil :
Energy Management
fatigue
Berpartisipasi dalam
Observasi adanya pembatasan
aktivitas fisik tanpa
klien dalam melakukan
disertai peningkatan
aktivitas
tekanan darah, nadi dan Dorong anak untuk
RR.
mengungkapkan perasaan
Mampu melakukan
terhadap keterbatasan
aktivitas sehari hari
Kaji adanya factor yang
(ADLs) secara mandiri
menyebabkan kelelahan
Monitor pasien akan adanya

Resiko terhadap
cedera/perdarahan yang
berhubungan dengan
penurunan jumlah
trombosit

kelelahan fisik dan emosi


secara berlebihan
Monitor respon kardivaskuler
terhadap aktivitas
Monitor pola tidur dan
lamanya tidur/istirahat pasien

Activity Therapy
Kolaborasikan dengan Tenaga
Rehabilitasi Medik
dalammerencanakan progran
terapi yang tepat.
Bantu klien untuk
mengidentifikasi aktivitas
yang mampu dilakukan
Bantu untuk memilih aktivitas
konsisten yangsesuai dengan
kemampuan fisik, psikologi
dan social
Bantu untuk mengidentifikasi
dan mendapatkan sumber
yang diperlukan untuk
aktivitas yang diinginkan
Bantu untuk mendpatkan alat
bantuan aktivitas seperti kursi
roda, krek
Bantu untu mengidentifikasi
aktivitas yang disukai
Bantu klien untuk membuat
jadwal latihan diwaktu luang
Bantu pasien/keluarga untuk
mengidentifikasi kekurangan
dalam beraktivitas
Sediakan penguatan positif
bagi yang aktif beraktivitas
Bantu pasien untuk
mengembangkan motivasi
diri dan penguatan
Monitor respon fisik, emoi,
social dan spiritual
Tujuan : klien tidak
Gunakan semua tindakan
menunjukkan bukti-bukti untuk mencegah perdarahan
khususnya pada daerah
perdarahan
ekimosis
Cegah ulserasi oral dan rectal
Gunakan jarum yang kecil
pada saat melakukan injeksi

Menggunakan sikat gigi yang


lunak dan lembut
Laporkan setiap tanda-tanda
perdarahan (tekanan darah
menurun, denyut nadi cepat,
dan pucat)
Hindari obat-obat yang
mengandung aspirin
Ajarkan orang tua dan anak
yang lebih besar ntuk
mengontrol perdarahan
hidung
Defisit Volume Cairan
Kriteria Hasil :
Fluid management
b.d mual dan muntah Mempertahankan
urine
Timbang
popok/pembalut
output sesuai dengan usia jika diperlukan
dan BB, BJ urine normal,
Pertahankan catatan intake
HT normal
dan output yang akurat
Tekanan darah, nadi, suhu
Monitor
status
hidrasi
tubuh dalam batas normal (
kelembaban
membran
Tidak ada tanda tanda mukosa,
nadi
adekuat,
dehidrasi,
Elastisitas tekanan darah ortostatik ),
turgor
kulit
baik, jika diperlukan
membran
mukosa
Monitor vital sign
lembab, tidak ada rasa
Monitor masukan makanan /
haus yang berlebihan
cairan dan hitung intake
kalori harian
Kolaborasikan
pemberian
cairan IV
Monitor status nutrisi
Berikan cairan IV pada suhu
ruangan
Dorong masukan oral
Berikan
penggantian
nesogatrik sesuai output
Dorong
keluarga
untuk
membantu pasien makan
Tawarkan snack ( jus buah,
buah segar )
Kolaborasi dokter jika tanda
cairan
berlebih
muncul
meburuk
Atur kemungkinan tranfusi

Persiapan untuk tranfusi

Tujuan : pasien tidak Inspeksi mulut setiap hari


mengalami
mukositis untuk adanya ulkus oral
oral
Gunakan sikat gigi berbulu
lembut, aplikator berujung
kapas, atau jari yang dibalut
kasa
Berikan pencucian mulut yang
sering dengan cairan salin
normal atau tanpa larutan
bikarbonat
Gunakan pelembab bibir
Hindari penggunaan larutan
lidokain pada anak kecil
Berikan diet cair, lembut dan
lunak
Inspeksi mulut setiap hari
Dorong masukan cairan
dengan menggunakan sedotan
Hindari penggunaa swab
gliserin, hidrogen peroksida
dan susu magnesi
Berikan obat-obat anti infeksi
sesuai ketentuan
Berikan analgetik

Perubahan membran
mukosa mulut :
stomatitis yang
berhubungan dengan
efek samping agen
kemoterapi

Ketidakseimbangan
Kriteria Hasil :
nutrisi kurang dari
Adanya peningkatan berat
kebutuhan tubuh b/d
badan sesuai dengan

pembatasan cairan, diit,


tujuan
dan hilangnya protein Berat badan ideal sesuai
dengan tinggi badan
Mampu mengidentifikasi
kebutuhan nutrisi
Tidak ada tanda tanda
malnutrisi
Tidak terjadi penurunan
berat badan yang berarti

Nutrition Management
Kaji adanya alergi makanan
Kolaborasi dengan ahli gizi
untuk menentukan jumlah
kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien.
Anjurkan pasien untuk
meningkatkan intake Fe
Anjurkan pasien untuk
meningkatkan protein dan
vitamin C
Berikan makanan yang
terpilih
(
sudah
dikonsultasikan dengan ahli

gizi)
Monitor jumlah nutrisi dan
kandungan kalori
Berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi
Kaji kemampuan pasien
untuk mendapatkan nutrisi
yang dibutuhkan
Nutrition Monitoring

BB pasien dalam batas


normal
Monitor adanya penurunan
berat badan
Monitor tipe dan jumlah
aktivitas
yang
biasa
dilakukan
Monitor interaksi anak atau
orangtua selama makan
Monitor lingkungan selama
makan
Jadwalkan pengobatan dan
tindakan tidak selama jam
makan
Monitor kulit kering dan
perubahan pigmentasi
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan, rambut
kusam, dan mudah patah
Monitor mual dan muntah
Monitor kadar albumin, total
protein, Hb, dan kadar Ht
Monitor makanan kesukaan
Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
Monitor pucat, kemerahan,
dan kekeringan jaringan
konjungtiva
Monitor kalori dan intake
nuntrisi
Catat
adanya
edema,
hiperemik, hipertonik papila
lidah dan cavitas oral.

Catat jika lidah berwarna


magenta, scarlet
7

Nyeri b.d efek fisiologis Kriteria Hasil :


Pain Management
dari leukemia
Mampu mengontrol nyeri

Lakukan pengkajian nyeri


(tahu penyebab nyeri, secara
komprehensif
mampu
menggunakan termasuk lokasi, karakteristik,
tehnik nonfarmakologi durasi, frekuensi, kualitas dan
untuk mengurangi nyeri, faktor presipitasi
mencari bantuan)
Observasi reaksi nonverbal
Melaporkan bahwa nyeri dari ketidaknyamanan
berkurang
dengan
Gunakan teknik komunikasi
menggunakan
terapeutik untuk mengetahui
manajemen nyeri
pengalaman nyeri pasien
Mampu mengenali nyeri

Kaji
kultur
yang
(skala,
intensitas, mempengaruhi respon nyeri
frekuensi
dan
tanda
Evaluasi pengalaman nyeri
nyeri)
masa lampau
Menyatakan rasa nyaman
Evaluasi bersama pasien
setelah nyeri berkurang
dan tim kesehatan lain
Tanda vital dalam rentang tentang
ketidakefektifan
normal
kontrol nyeri masa lampau
Bantu pasien dan keluarga
untuk
mencari
dan
menemukan dukungan
Kontrol lingkungan yang
dapat mempengaruhi nyeri
seperti
suhu
ruangan,
pencahayaan dan kebisingan
Pilih dan lakukan penanganan
nyeri
(farmakologi,
non
farmakologi
dan
inter
personal)
Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan intervensi
Ajarkan tentang teknik non
farmakologi
Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
Evaluasi keefektifan kontrol
nyeri
Tingkatkan istirahat
Kolaborasikan dengan dokter

jika ada keluhan dan tindakan


nyeri tidak berhasil
Monitor penerimaan pasien
tentang manajemen nyeri

Kerusakan intergritas
kulit b/d edema dan
menurunnya tingkat
aktivitas

Kriteria Hasil :
Integritas kulit yang baik

bisa
dipertahankan
(sensasi,
elastisitas,
temperatur,
hidrasi,

pigmentasi)
Tidak ada luka/lesi pada

kulit

Analgesic Administration
Tentukan lokasi, karakteristik,
kualitas, dan derajat nyeri
sebelum pemberian obat
Cek instruksi dokter tentang
jenis obat, dosis, dan
frekuensi
Cek riwayat alergi
Pilih analgesik yang
diperlukan atau kombinasi
dari
analgesik
ketika
pemberian lebih dari satu
Tentukan pilihan analgesik
tergantung tipe dan beratnya
nyeri
Tentukan analgesik pilihan,
rute pemberian, dan dosis
optimal
Pilih rute pemberian secara
IV, IM untuk pengobatan
nyeri secara teratur
Monitor vital sign sebelum
dan
sesudah
pemberian
analgesik pertama kali
Berikan analgesik tepat waktu
terutama saat nyeri hebat
Evaluasi efektivitas analgesik,
tanda dan gejala (efek
samping)
Pressure Management
Anjurkan pasien untuk
menggunakan pakaian yang
longgar
Hindari kerutan padaa tempat
tidur
Jaga kebersihan kulit agar
tetap bersih dan kering

Perfusi jaringan baik

Menunjukkan
pemahaman dalam proses

perbaikan
kulit
dan
mencegah
terjadinya
sedera berulang

Mampu melindungi kulit


dan
mempertahankan
kelembaban kulit dan

perawatan alami

Perubahan
proses pasien atau keluarga
keluarga
berhubungan menunjukkan
pengetahuan
tentang
dengan mempunyai anak
prosedur diagnostik atau
yang menderita leukemia terapi

Mobilisasi pasien (ubah


posisi pasien) setiap dua jam
sekali
Monitor kulit akan adanya
kemerahan
Oleskan lotion atau
minyak/baby oil pada daerah
yang tertekan
Monitor aktivitas dan
mobilisasi pasien
1) Jelaskan

alasan

setiap

prosedur

yang

akan

dilakukan pda anak


2) Jadwalkan waktu

agar

keluarga dapat berkumpul


tanpa gangguan dari staff
3) Bantu
keluarga
merencanakan

masa

depan, khususnya dalam


membantu anak menjalani
kehidupan yang normal
4) Dorong keluarga untuk
mengespresikan
perasaannya

mengenai

kehidupan anak sebelum


diagnosa
anak

dan

untuk

hidup
5) Diskusikan
keluarga

prospek
bertahan
bersama
bagaimana

mereka memberitahu anak


tentang hasil tindakan dan
kebutuhan
pengobatan
kemungkinan
tambahan
6) Hindari

terhadap
dan
terapi
untuk

menjelaskan hal-hal yang


tidak

sesuai

dengan

kenyataan yang ada

I. REFERENSI
hidayat, alimul azis. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta : Salemba
Medika.
Wong, Donna L dkk. 2009. Buku ajar keperawatan pediatrik vol 2. Jakarta : EGC
Yuliani rita, Suriadi. 2001. Asuhan Keperawatan pada Anak. Jakarta : Perpustakaan
Nasional RI
http://arinkuu.blogspot.com/2012/06/leukemia-limfoblastik-akutall.html
http://juwitazhewitha.blogspot.com/2014/02/makalah-dan-askepleukemia.html