Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Dengan semakin meningkatnya perkembangan perrekonomian, terutama di bidang
tehnologi informasi, apalagi dalam era globalisasi, meningkatnya persaingan baik dalam tingkat
local, nasional maupun internasional. Bagi perusahaan yg tidah mampu mengantisipasi
perkembangan serta tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan tersebut maka
usahanya akan semakin mengecil dan akhirnya mengalami kesulitan dan kegagalan keuangan
akhirnya jatuh bangkrut. Kegagalan atau kesulitan keuangan (failure) dan kebangkrutan
(bankruptcy) sudah menjadi istilah umum untuk menerangkan keadaan perusahaan yang
mengalami kesulitan keuangan.
Kegagalan keuangan dapat diartikan sebagai ketidakmampuan perusahaan untuk
membayar kewajiban keuangannya pada saat jatuh tempo yang menyebabkan perusahaan
mengalami kebangkrutan, atau menyebabkan terjadinya perjanjian khusus dengan para kreditor
untuk mengurangi atau melunasi hutangnya. Kebangkrutan suatu perusahaan akan merugikan
berbagai pihak antara lain pemberi pinjaman (tidak terbayarnya bunga atau pokok pinjaman),
investor (turunnya atau bahkan tidaklakunya investasi pada saham atau obligasi pada perusahaan
yang bangkrut), dan karyawan (adanya pemutusan hubungan kerja), serta manajemen.

BAB II
PEMBAHASAN

PENYEBAB KEBANGKRUTAN
Pada dasarnya kebangkrutan dapat disebabkan oleh factor internal perusahaan maupun
factor eksternal perusahaan baik yang bersifat khusus yg berkaitan langsung dengan perusahan
maupun yg bersifat umum. Factor internal dapat disebabkan oleh:

Adanya

manajemen yg tidak baik dan tidak efisien. Kerugian yang terus

menerusmengindikasikan adanya kesulitan keuangan dan menjurus pada kebangkrutan.


Manajemen yang tidak efisien mungkin disebabkan oleh kurangnya kemampuan,

pengalaman, dan keterampilan manajemen tersebut.


Tidak seimbangnya antara modal perusahaan dengan jumlah utang-piutangnya. Utang
yang terlalu besar dapat mengakibatkan beban bunga yang besar dan memberatkan
perusahaan. Namum piutang yang terlalu besarpun dapat merugikan perusahaan, karena
modal kerja yang tertanam pada piutang terlalu besar akan mengakibatkan berkurangnya
likuiditas perusahaan atau ahkan mengalami kesulitan keuangan, lebih parah lagi kalau
debitur-debitur perusahaan tersebut tidak mampu memenuhi kewajibannya tepat pada

waktunya atau bahkan menjadi kredit macet.


Sumber daya secara keseluruhan yang tidak memadai keterampilannya, integritas dan
loyalitas dan bahkan moralitas rendah sehingga banyak terjadi kesalahan, penyimpangan
dan kecurangan terhadap keuangan perusahaan serta penyalahgunaan wewenang yang
akibatnya akan sangan merugikan perusahaan.
Factor eksternal yang bersifat umum yang dapat mengakibatkan kebangkrutan

perusahaan adalah factor politik, ekonomi, social dan budaya serta tingkat campur tangan
pemerintah tempat perusahaan tersebut berada. Di samping itu, penggunaan teknologi yang
keliru akan mengakibatkan biaya impolementasi dan biaya pemeliharaan yang besar, atau adanya
perkembangan teknologi produksi, teknologi informasi maupun transportasi yang tidak bias
diikuti perusahaan akan mengakibatkan kerugian atauh bahkan kebangkrutan perusahaan.

Sedangkan factor eksternal yang bersifat khusus, artinya faktor-faktor luar yang berhubungan
langsung dengan perusahaan antara lain faktor pelanggan, pemasok, dan pesaing.
Perubahan selera atau kejenuhan konsumen yang tidak terdeteksi oleh perusahaan akan
mengakibatkan menurunnya penjualan dan akhirnya merugikan perusahaan. Pemasok dan
pesaingmerupakan faktor penting yang harus di perhatikan agar perusahaantidak mengalami
kebangkrutan. Perusahaan harus menjalin hubungan yang baik dengan para pemasok sehingga
pemasok tidak dengan semuanya sendiri menaikan harga yang dapat merugikan perusahaan. Di
samping itu perusahaan tidak boleh mengabaikan pesaing yang besar maupun kecil. Kemampuan
pesaing untuk menyesuaikan keinginan atau perilaku konsumen dan promosi yang efektif akan
merugikan perusahaan karena banyaknya pelanggan yang beralih ke perusahaan pesaing.

PROBEMATIKA KESULITAN KEUANGAN


Istilah kesulitan keuangan (finansial distress) digunakan untuk mencerminkan adanya
permasalahan dengan likuiditas yang tidak dapat dijawab atau diatasi tanpa harus melakukan
perubahan skala operasi atau restrukturisasi perusahaan. Pengelolan kesulitan keuangan jangka
pendek yang tidak tepat akan menyebabkan permasalahan yang lebih besar yaitu menjadi tidak
solvable

dan

akhirnya

mengalami

kebangkrutan.

Penelitian

empiris

(Foster

1986)

mengindikasikan bahwa perusahaan yang dalam kesulitan keuangan tetapi berhasil mengatasinya
maka perusahaan itu tidak bangkrut. Namun ada perusahaan yang tidak mengalami masalah
keuangan tetapi menghadapi kesulitan yang bersifat non-keuangan akhirnya perusahaan itu
memutuskan untuk menyatakan bangkrut.
Dalam kaitannya dengan kesehatan keuangan dan potensi kebangkrutan perusahaan dapat
dikelompokan menjadi empat kategori:
1. Perusahaan yang tidak mengalami kesulitan keuangan.
2. Perusahaan yang mengalamin kesulitan keuangan (jangka pendek) dan manajemen
berhasil mengatasi dengan baik sehingga tidak terjadi kebangkrutan.
3. Perusahaan yang tidak mengalami kesulitan keuangan tetapi mengalami kesulitan yang
bersifat non keuangan sehingga diambil keputusan untuk menyatakan bangkrut.

4. Perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan dan manajemen tidak berhasil


mengatasinya sehingga akhirnya jatuh bangkrut.

BEBERAPA INFORMASI KESULITAN KEUANGAN


Ada beberapa indicator atau sumber informasi tentang kemungkinan kesulitan keuangan.
Salah satu sumbernya adalah analisis terhadap laporan arus kas untuk saat kini dan periodeperiode mendatang. Keuntungan digunakannya sumber informasi tersebut adalah tekanannya
atau fokusnya yang langsung menunjukan gambaran kesulitan keuangan pada periode-periode
yang di kehendaki. Dimasukannya estimasi arus kas dalam analisis tersebut tergantung pada
kekritisan anggapan-anggapan yang digunakan dalam penyusunan anggaran.
Sumber informasi kedua tentang kesulitan keuangan suatu perusahaan adalah analisis
terhadap corporate strategy. Dalam analisis tersebut mempertimbangkan potensi para pesaing
prusahaan atau institusi yg bersangkutan yang berkaitan dengan struktur biaya secara relative,
perluasan atau ekspansi dalam industry, kemampuan manajemen mengendalikan biaya serta
kualitas manajemen dan sebagainnya. Analisis yg di fokuskan terhadap issue-issue strategy dapat
memberikan gambaran tentang konsekuensi atau pengaruh adanya perubahan secara tiba-tiba
dalam suatu industry. Sebagai contoh, dengan mempelajari titik break even dan struktur biaya
akan dapat diperoleh gambaran tentang potensi adanya kesulitan keuangan karena menurunnya
permintaan, oleh karena itu harus dilihat seberapa jauh penurunan penjualan dapat ditoleransi
agar perusahaan dapat memperoleh keuntungan.
Sumber informasi ketiga tentang kesulitan keuangan adalah analisis laporan keuangan
perusahaan dengan tehnik perbandingan dengan beberapa perusahaan. Analisis tersebut dapat
difokuskan pada variable keuangan tunggal atau dengan berbagai kombinasi variable keuangan.
Sumber informasi tentang kesulitan keuangan suatu perusahaan adalah variable-variabel
yang juga dapat diperoleh dari pihak eksternal, misalnya dari pasar modal atau lembaga penilai
obligasi atau konsultan investasi. Variable-variabel terseut secara implisit dapat memberikan
informasi tentang arus kas masa mendatang dan strategi perusahaan serta informasi tentang
laporan keuangan perusahaan.

MODEL UNIVARIATE
Analisis univarate apparoach (pendekatan tunggal) digunakan apabila penganalisis
mengasumsikan bahwa faktor yang mempengaruuhi variable dependen adalah sebuah variable
independen, sedangkan model multivariate mengasumsikan bahwa variable dependen
dipengaruhi oleh beberapa variable independen yang berinteraksi secara bersama-sama untuk
mempengaruhi variable dependen. Dengan demikian, dalam analisis multivariate ada dua
pengukuran (variable) untuk n sample dan analisis antara variable dilakukan bersamaan.
Untuk mengujihubungan tiap variable independen terhadap kebangkrutan dapat
digunakan logistic regression. Disamping itu, logistic regression juga dapat digunakan untuk
menguji ada tidaknya hubungan antara rasio keuangan dengan kebangkrutan. 1arah hubungan
antar variable independen dan variable dependen dapat diketahui dengan koefisiennya. Apabila
koefisien variable independen positif berarti ada hubungan yang searah antara variable
independen dengan variable dependen. Sebaiknya bila koefisien variable independen negative
maka ada hubungan yang berlawanan arah antara variable independen dengan variable dependen.
Seringkali data rasio-rasio keuangan memiliki distribusi data yang tidak normal, oleh
karena itu perlu dilakukan uji normalitas data. Uji normalitas data dapat dilakukan dengan
Kolmogorov-Smirnov Goodness of fit, sehingga dapat ditentukan metoda statistic yang tepat
untuk menguji kemampuan prediksi rasio keuangan terhadap kebangkrutan. Data berdistribusi
normal apabila nilai signifikannya atau nilai probabilitasnya (p-value) > 0,05 dan sebaliknya
berdistribusi tidak normal bila (p-value) < 0,05. Bila distribusi normal maka untuk mengetahui
ada tidaknya hubungan antara rasio keuangan dengan kebangkrutan digunakan t-Test (untuk
pendekatan univariate) atau logistic regression (multivariate), sedangkan kalau distribusi datanya
tidak normal dapat digunakan Mann-Whitney U Test (univariate) atau Kruskal Walls
(multivariate).
Laporan keuangan merupakan sumber utama untuk memperoleh informasi yang
berkaitan dengan posisi keuangan, hasil-hasil yang telah dicapai baik di masa lampau maupun
saat sekarang. Disamping itu, berdasarkan laporan keuangan yang ada akan didapat prediksi
kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa mendatang. Tehnik analisis rasio
keuangan sangat berguna untuk memprediksi atau memperingatkan kebangkrutan perusahaan di

masa mendatang dan secara akurat dapat membedakan antara perusahan yang akan dapat jatuh
pailit atau yang tidak pailit (Altman, 1968).
Pendekatan tunggal (univariate appoarch) adalah suatu model untuk memprediksi
kebangkrutan atau kesulitan keuangan dengan anggapan bahwa faktor yang mempengaruhi
variable dependen adalah sebuah variable independen. Ada dua anggapan pokok dalam
pendekatan tersebut:
1. Bahwa distribusi variable perusahaan yang mengalami kebangkrutan secara sistematis
berbeda dengan distribusi variable perusahaan yang tidak mengalami kebangkrutan.
2. Perbedaan distribusi variable tersebut dapat digunakan untuk tujuan prediksi.
William Beaver (The Accounting Review, Oktober 1968), dalam penelitiannya tentang
kebangkrutan dengan menggunakan satu variable mengklasifikasikan perusahaan yang
mengalami kesulitan atau kegagalan keuangan apabila salah satu kejadian dalam periode
kebangkrutan (1954 1964) : bangkrut atau pailit, dadal membayar utang obligasi dan tidak
mampu membayar dividen saham prioritas. Hasil penelitian Beaver menunjukan bahwa rasio
keuangan keuangan yang terbaik untuk memprediksi kegagalan keuangan adalah:

Cash flow/total debt.


Net income/total assets (return on assets).
Total debt/total assets (debt ratio).
Hasil penelitian Beaver juga menghitung nilai rata-rata dari 39 perusahaan masing-

masing tahum sebelum kebangkrutannya, dan beberapa rasio keuangan yang penting
mengindikasikan bahwa: (1) kegagalan suatu perusahaan karena kasnya tidak mencukupi dan
piutangnya terlalu besar, namun bila kas dan piutang ditambah bersama-sama, keduanga
merupakan quick assets dan current assets,perbedaan tidak jelas antara perusahaan yang gagal
dengan perusahaan yang sukses, dan (2) perusahaan yang gagal kecendrungannya karena
persediaan yang tidak mencukupi kebutuhannya. Hal tersebut mengindikasikan bahwa dalam
memprediksi kegagalan perusahaan harus memperhatikan ketiga aktiva lancar, yaitu kas,
piutang, dan persediaan. Penganalisis harus waspada terhadap rendahnya kas dan tingginya
piutang.

Namun demikian, rasio keuangan yang digunakan untuk memprediksi kebangkrutan


suatu perusahaan dapat berbeda satu dengan lain sehingga setiap penganalisis bebas memilih
rasio mana yang akan digunakan walaupun selanjutnya akan berdampak pada kemungkinan
terjadinya inkonsistensi antara penganalisis satu dengan penganalisis lainnya.
Kasus Kebangkrutan perusahaan kereta api
Pada tahun 1970, beberapa perusahaan kereta api di Amerika Serikat telah mengalami
kebangkrutan berdasarkan undang-undang kebangkrutan di Negara tersebut (Altman, 1973).
Untuk mengetahui kondisi keuangan sebelum kebangkrutannya dan data yang digunakan untuk
model univariate dipilih 10 perusahaan kereta api. Berikut adalah dua rasio keuangan yang
dihitung untuk setiap perusahan dari laporan keuangan 1969:
1. Transportation expenses to operating revenue (TE/OR). Biaya transportasi merupakan
biaya yang utama dalam operasi kereta api yang meliputi upah seluruh pegawai dan biaya
bahan bakar. Pendapatan terutama diperoleh dari pengangkutanpenumpang dan
pendapatan lain-lain misalnya pengiriman barang dan surat-surat pos.
2. Time interest earned (TIE). Beban bunga obligasi dan laba adalah sebelum bunga dan
pajak. Rasio yang negative menunjukan bahwa perusahaan labanya negative atau
mengalami kerugiansebelum membayar pajak dan bunga.
Anggapan utama dalam pendekatan univariate adalah bahwa distribusi rasio berbeda
antara perusahaan kereta api yang bangkrut dengan yang tidak bangkrut. Anggapan tersebut
secara tidak langsung menyatakan bahwa titik tengah (mean) atau selisih (variance) dari
distribusi tersebut berbeda diantara kedua kelompok perusahaan kereta api.
Mean rasio TE/OR dari dua kelompok perusahaan kereta api adalah: (1) kelompok
perusahaan yang tidak bangkrut = 0,356 dan (2) kelompok perusahaan yang bangkrut = 0,473.
Hal tersebut berarti bahwa kelompok perusahaan kereta api yang bangkrut rata-rata
menggunakan tiap rupian pendapatannya untuk biaya transportasi lebih besar daripada
perusahaan yang tidak bangkrut.
Mean rasio TIE untuk kelompok perusahaan yang tidak bangkrut 2,49 sedangkan untuk
kelompok yang bangkrut -0,26. Bearti terbukti bahwa kelompok perusahaan yang tidak bangkrut
rata-rata mempunyai kemampuan lebih besar untuk memperoleh pendapatan yang cukup untuk

menutup kewajiban bunga yang bersifat tetap. Perbedaan-perbedaan tersebut mengindikasikan


bahwa minimal satu tahun sebelum kebangkrutan, rasio keuangan antara perusahaan yang
bangkrut dengan yang tidak bangkrut sangat berbeda. Perlu dilakukan pengujian secara statistic
untuk menentukan perbedaan mean dari dua kelompok perusahaan tersebut. Hasilnya
menunjukan adanya perbedaan yang signifikan pada tingkat 5% untuk masing-masing rasio.
Persoalan berikutnya adalah apakah perbedaan nilai mean dari rasio-rasio tersebut dapat
digunakan untuk tujuan prediksi? Untuk menjawab persoalan tersebut perlu diadakan pengujian
kemampuan prediksi dengan dichotomous classification test, meliputi langkah pertamanya
menentukan ranking perusahaan kereta api berdasarkan nilai rasio-rasionya, kemudian
menentukan cut-off point pembatas optimal untuk memprediksi suatu perusahaan sebagai
perusahaan yang bankrupt atau tidak bangkrut.
Teknik pemilihan titik cut-off yang didasarkan pada sepuluh perusahaan kereta api
sebagai sample estimasi mengarah kepada keadaan yang membahayakan karena karakteristik
perusahaan dalam dua kategori sangat mempengaruhi titik cut-off, dengan demikian titik cut-off
tersebut tidak representative. Oleh karena itu perlu dilakukan pengujian kemampuan prediksi
model univariate tersebut dengan sample yang independen atau perusahaan lain diluar sample.
Pengujian dikotomi klasifikasi yang diuraikan diatas merupakan salah satu dari beberapa
pendekatan univariate untuk memprediksi kebangkrutan. Suatu pendekatan alternative untuk
mendapatkan titik cut-off adalah dengan menggunakan nilai rata-rata mean atau median dari
rasio sample. Mean rasio dari TE/OR dari 10 perusahaan kereta api adalah 0,356. Dengan
demikian perusahaan diprediksi tidak akan bangkrut jika rasio TE/OR < 0,356, sebaliknya jika
TE/OR > 0,356 perusahaan diprediksi bangkrut.
Pengujian Prediksi Univariate
Pengujian dikotomi klasifikasi atau kemampuan prediksi rasio-rasio keuangan
sebagaimana diterangkan diatas, pertama kali digunakan oleh Beaver (1966) dengan sample 79
perusahaanyang gagal dan 79 yang tidak gagal. Titik cut-off dipilih dengan menyusun nilai
masing-masing rasio kemudian dipilih nilai yang dapat meminimalisir presentase jumlah
kesalahan klasifikasi. Sample dibagii menjadi dua kelompok secara acak. Titik cut-off dipilih
dari kelompok pertama yang digunakan untuk memprediksi atau mengklasifikasi, perusahaan

kelompok kedua sebagai perusahaan yang gagal dan tidak gagal. Persentase kesalahan klasifikasi
dengan uji validasi menggunakan 1sampai 5 tahun sebelum kegagalan.
Dari pengujian dikotomi klasifikasi diatas keduanya menunjukan misklasifikasi hanya
13%. Hasil yang menarik dari penelitian Beaver adalah bahwa titik cut-off yang meminimkan
total jumlah kesalahan klasifikasi dihasilkan dalam prosentase yang berbeda pada kesalahan tipe
I dan kesalahan tipe II. Kesalahan tipe II (prediksi bangkrut tetapi kenyataannya tidak bangkrut)
sesalu lebih kecil dibandingkan kesalahan tipe I (prediksi tidak bangkrut tetapi kenyataannya
bangkrut), sehingga pemilihan titik cut-off dipengaruhi juga oleh beberapa tipe kesalahan.
Zmijewski (1963) yang dikutip Foster (1986) melakukan penelitian dengan menggunakan
72 perusahaan yang bangkrut dan 3.573 perusahaan yang tidak bangkrut selama periode 19721978 dan mengklasifikasikan rasio keuangan dalam Sembilan kelompok. Dari data tersebut
dihitung:

Mean atau rata-rata dari 75 variabel pada tahun sebelum kebangkrutan.


F test univariate untuk hipotesa bahwa mean dari kedua kelompok adalah sama.
Presentase kebenaran klasifikasi menggunakan single-variable discriminant function.
Dari nilai rata-rata rasio keuangan prediksi kebangkrutan tersebut menunjukan

kemampuan prediksi rasio-rasio keuangan dengan nilai rata-rata rasio keuangan tersebut, dan
presentase klasifikasi yang benar dengan menggunakan model diskriminan tunggal. Empat
kategori variable menunjukan perbedaan antara perusahaan yang bangkrut dan yang tidak
bangkrut secara konsisten, yaitu:

Rate of return, perusahaan yang bangkrut memiliki tingkat profitabilitas yang rendah.
Financial leverage, perusahaan yang bangkrut menggunakan utang yang lebih tinggi.
Fixed payment coverage, perusahaan yang bangkrut mempunyai kemampuan untuk

membayar beban tetap dari laba atau aliran kas yang lebih rendah.
Stock return volatility, perusahaan yang bangkrut mempunyai rata-rata stock return yang
lebih rendah dan mempunyai fluktuasi return saham yang lebih tinggi.

MODEL MULTIVARIATE

Model multivariate mengasumsikan bahwa variable dependen dipengaruhi oleh beberapa


variable independen yang berinteraksi secara bersama-sama untuk mempengaruhi variable
dependen. Dengan demikian, dalam analisis multivariate ada dua pengukuran (variable) untuk n
sample dan analisis antara variable dilakukan bersamaan.
Variable bebas adalah rasio-rasio keuangan yang diperkirakan mempengaruhi
kebangkrutan, sedangkan variable tidak bebas adalah prediksi kebangkrutan (bangkrut dengan
nilai 0 dan tidak bangkrut dengan nilai 1) atau probabilitas kebangkrutan (0-1). Issue yang timbul
dalam model multivariate antara lain:
1. Variable apa yang harus dimasukan.
2. Bentuk apa yang harus dipakai (linear additive fashion atau nonlinier multiplicative
fashion)
3. Bobot yang harus diterapkan pada variable-variabel yang dipilihh.
Idealnya harus ada teori ekonomi tentang kebangkrutan yang dapat memberikann
pedoman atau membantu dalam mengambil keputusan masalah. Namun karena sangat sedikitnya
teori untuk mendukung prediksi kebangkrutan, maka tidak mengherankan apabila digunakan
hasil dari penelitian sebelumnya sebagai pedoman dalam memilih variable. Teknik statistic yang
digunakan oleh sebagian besar peneliti adallah satu di antara tiga klasifikasi berikut:
1. Analisis diskriminan yang dapat membantu dalam mengklasifikasikan observasi ke
dalam dua kelompok yaitu bangkrut dan tidak bangkrut.
2. Logit atau probit analysis, yang dapat membantu untuk mengestimasi probabilitas
peristiwa yang akan terjadi berdasarkan variable tertentu yang sudah dirancang
sebelumnya.
3. Recursive partitioning, adalah teknik klasifikasi nonparametic.
Kasus Kebangkrutan Perusahaan Kereta Api
Dengan menggunakan kasus kebangkrutan perusahaan kereta api pada 1970 di Amerika
dan menggunakan analisis diskriminan, perusahaan kereta api dibedakan antara perusahaan
bangkrut dan tidak bangkrut. Masing-masing perusahaan memiliki dua variable yang akan
digunakan dalam model multivariate: transportation, expenses-to-operating revenue ratio (Xi =
TE/OR) dan time interest earned ratio (Yi = TIE). Diasumsikan bahwa rasio-rasio tersebut berasal
dari populasi dengan distribusi normal dan variance-covariance matrice dari kedua kelompok

tersebut adalah sama. Model linier discriminant analsys yang digunakan untuk tujuan klasifikasi
adalah:
Zi=aXi+b Yi
Jika skor Zi lebih rendah berarti semakin besar kemungkinan perusahaan kereta api
tersebut untuk bangkrut. Koefisien negative pada variable Xi berarti ada hubungan negative
antara variable tersebut dengan nilai Zi berarti bahwa semakin besar TE/OR maka semakin
rendah skor Zi, dan semakin besar kemungkinan bangkrut.