Anda di halaman 1dari 24

ANALISIS ETNIK BESUKI

MAKALAH

Oleh
Kelompok 2

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2015

ANALISIS ETNIK BESUKI

MAKALAH
diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Transkultural
Pembina Mata Kuliah : Hanny Rasni,S.Kp,M.Kep

oleh
Ropikchotus Salamah

NIM 132310101002

Fikri Nur Latifatul Qolbi

NIM 132310101011

Dwi Yoga Setyorini

NIM 132310101027

Insiyah Noryza Ayu Sativa

NIM 132310101037

Rizka Inna Safitri

NIM 132310101047

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2015
ii
ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Swt. yang melimpahkan karunia-Nya sehingga


penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Analisis Etnik Besuki.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas terstruktur dalam mata
kuliah Transkultural yang diampu oleh Hanny Rasni S.Kp,M.Kep di Program Studi
Ilmu Keperawatan (PSIK) Universitas Jember.
Penyusunan makalah ini tentunya tidak lepas dari kontribusi berbagai pihak.
Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Hanny Rasni S.Kp,M.Kep selaku Dosen Penanggung Jawab Mata Ajar
Transkultural yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menjadi
pembelajaran bagi penulis;
2. Keluarga di rumah yang senantiasa memberikan dorongan dan doanya demi
terselesaikannya makalah ini;
3. Semua pihak yang secara tidak langsung membantu terciptanya makalah ini
yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Penulis juga menerima segala kritik dan saran dari semua pihak demi
kesempurnaan makalah ini. Akhirnya penulis berharap, semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.

Jember, Mei 2015

Penulis

iii
iii

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ................................................................................ iii
DAFTAR ISI................................................................................................ iv
BAB 1. PENDAHULUAN ........................................................................... 1
1.1 Latar Belakang......................................................................................... 1
1.2 Tujuan .................................................................................................... 2
1.3 Manfaat .................................................................................................. 2
BAB 2. TINJAUAN TEORI ....................................................................... 3
2.1 Model Transcultural Nursing .................................................................. 3
2.2 Pengkajian Transcultural Nursing............................................................ 5
BAB 3. STUDI KASUS BUDAYA ............................................................. 8
3.1 Kajian Budaya Masyarakat Suku Besuki ................................................ 8
3.2 Pengkajian Transkultural Nursing............................................................ 9
3.3 Diagnosis Keperawatan Lintas Budaya ..................................................10
3.4 Perencanaa Keperawatan lintas Budaya..................................................10
3.5 SOP Keperawatan Transkultural..............................................................13
3.6 Tujuan dan Indikator Pencapaian............................................................14
BAB 4. PEMBAHASAN............................................................................ 15
4.1 Analisis Kesenjangan (Pengkajian)........................................................ 15
4.2 Analisis Kesenjangan (Pendekatan) ...................................................... 16
4.3 Implikasi Keperawatan ......................................................................... 17
BAB 5. PENUTUP .................................................................................... 18
5.1 Kesimpulan .......................................................................................... 18
5.2 Saran .................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. v

iv
iv

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tuntutan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan terhadap asuhan
keperawatan yang berkualitas akan semakin besar. Salah satu teori yang
diungkapkan pada midle range theory adalah Transcultural Nursing Theory. Teori
ini menjabarkan konsep keperawatan yang didasari oleh pemahaman tentang
adanya perbedaan nilai-nilai kultural yang melekat dalam masyarakat. Leininger
beranggapan bahwa sangatlah penting memperhatikan keanekaragaman budaya
dan nilai-nilai dalam penerapan asuhan keperawatan kepada klien. Bila hal tersebut
diabaikan oleh perawat, akan mengakibatkan terjadinya cultur shock.
Cultural shock akan dialami oleh klien pada suatu kondisi dimana perawat tidak
mampu beradaptasi dengan perbedaan nilai budaya dan kepercayaan. Menjadi
seorang perawat bukanlah tugas yang mudah. Perawat terus ditantang oleh
perubahan-perubahan yang ada, baik dari lingkungan maupun klien. Peran perawat
sangat komprehensif dalam menangani klien karena peran perawat adalah
memenuhi kebutuhan biologis, sosiologis, psikologis, dan spiritual klien. Namun
peran spiritual ini sering kali diabaikan oleh perawat. Padahal aspek spiritual ini
sangat penting terutama untuk pasien terminal yang didiagnose harapan sembuhnya
sangat tipis dan mendekati sakaratul maut.
Oleh karena itu sebagai seorang perawat perlu bagi kita untuk memahami
agama dan kepercayaan setiap budaya. Pada makalah ini kita menganalisis tentang
kepercayaan dan kebiasaan suku Besuki yang dikaitkan dengan bidang kesehatan
atau medis.

1.2 Tujuan
Untuk memberikan gambaran tentang kebiasaan dan adat suku Besuki yang
dikaitkan dengan bidang kesehatan.

1.3 Manfaat
Untuk menambah pengetahuan dan pemahaman mahasiswa keperawatan
tentang kebiasaan dan adat suku Besuki yang dikaitkan dengan bidang
kesehatan.

BAB 2. TINJAUAN TEORI TRANSCULTURAL NURSING

2.1 Model Transcultural Nursing

Sunrise Model (Model Matahari Terbit) yang dikemukakan oleh Leininger


merupakan

pengembangan

dari

konseptual

model

asuhan

keperawatan

transkultural. Didalam Sunrise model terdapat 7 (tujuh) komponen yaitu sebagai


berikut:

1.

Faktor Teknologi (Technological Factors)


Perawat perlu mengkaji berupa persepsi individu tentang penggunaan dan
pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan saat ini,
alasan mencari kesehatan, persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat atau
mengatasi masalah kesehatan berkaitan dengan pemanfatan teknologi
kesehatan.

2.

Faktor agama dan falsafah hidup (Religous and Philosofical Factors)


Faktor agama yang perlu dikaji perawat meliputi agama yang dianut, kebiasaan
agama yang berdampak positif terhadap kesehatan, berikhtiar untuk sembuh
tanpa mengenal putus asa, dan mempunyai konsep diri yang utuh.

3. Faktor sosial dan kekerabatan (Kinship and Social Factors)


Faktor sosial dan kekerabatan yang perlu dikaji oleh perawat meliputi nama
lengkap dan nama panggilan dalam keluarga, umur atau tempat dan tanggal
lahir, jenis kelamin, status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam
anggota keluarga, hubungan klien dengan kepala keluarga, serta kebiasaan
yang dilakukan rutin oleh keluarga.

4. Faktor nilai budaya dan gaya hidup (Cultural Values and Lifeways)
Hal-hal yang perlu dikaji berhubungan dengan nilainilai budaya dan gaya
hidup meliputi posisi dan jabatan, bahasa yang digunakan, kebiasaan
membersihkan diri, kebiasaan makan, makanan pantangan yang berkaitan
dengan kondisi sakit, sarana hiburan yang dimanfaatkan, serta persepsi sakit
berkaitan dengan aktivitas sehari-hari.

5. Faktor politik dan hukum (Polithical and Legal Factor)


Politik dan hukum yang berlaku merupakan segala sesuatu yang
mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatan transkultural.
Misalnya, peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan jam berkunjung dan
jumlah anggota keluarga yang menunggu.

6. Faktor ekonomi (Economical Faktor)


Klien yang dirawat dapat memanfaatkan sumber-sumber material yang
dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh. Sumber ekonomi yang
ada pada umumnya dimanfaatkan klien antara lain asuransi, biaya kantor, dan
tabungan. Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat antara lain seperti
pekerjaan klien dan sumber biaya pengobatan.

7. Faktor pendidikan (Educational Factor)


Latar belakang pendidikan individu merupakan pengalaman individu dalam
menempuh jalur pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi
pendidikan individu, maka keyakinannya harus didukung oleh bukti-bukti
ilmiah yang rasional dan dapat beradaptasi terhadap budaya yang sesuai
dengan kondisi kesehatannya. Perawat perlu mengkaji latar belakang
pendidikan meliputi tingkat pendidikan, jenis pendidikan, serta kemampuan
belajar secara aktif mandiri tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak
terulang kembali.

2.2 Pengkajian Transcultural Nursing


Pengkajian

merupakan

kegiatan

mengumpulkan

data

untuk

mengidentifikasi masalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang kebudayaan


klien. Pengkajian transcultural nursing dirancang berdasarkan tujuh komponen
dalam Sunrise Model.

a. Faktor teknologi (technological factors)


Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau mendapatkan
penawaran penyelesaian masalah kesehatan. Hal yang perlu dikaji oleh perawat
dalam faktor teknologi antara lain: persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat atau
mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuan kesehatan, alasan klien
memilih pengobatan alternative dan persepsi klien tentang
penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan
yang dialami.

b. Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors)


Agama merupakan simbol yang merupakan pandangan realistis bagi
penganutnya. Agama dapat memberikan dorongan moral bagi pemeluknya dalam
menjalani kehidupan. Hal yang perlu dikaji oleh perawat dalam faktor agama dan
falsafah hidup yaitu: agama yang dianut, cara pandang klien terhadap penyebab
penyakit yang dialami, cara pengobatan yang dijalani oleh klien, dan kebiasaan
agama yang berdampak terhadap kesehatan klien.

c.

Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social faktors)


Hal yang dapat dikaji dalam faktor ini antara lain: nama klien, usia, tipe

keluarga, jenis kelamin, pengambilan keputusan dalam keluarga, dan hubungan


klien dengan kepala keluarga.

d. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways)
Nilai budaya merupakan sesuatu yang ditetapkan oleh penganut kebudayaan
baik yang benar maupun salah. Hal yang perlu dikaji dalam faktor ini antara lain:
bahasa yang digunakan, kebiasaan makan, makanan pantangan ketika klien sakit,
dan kebiasaan membersihkan diri.

e.

Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors)
Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala sesuatu yang

mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatan lintas budaya. Hal


yang harus dikaji dalam faktor ini antara lain: peraturan dan kebijakan yang
berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah anggota yang boleh menunggu, cara
pembayaran untuk klien yang dirawat.

f. Faktor ekonomi (economical factors)


Klien yang dirawat di rumah sakit akan menggunakan material yang dimiliki
untuk biaya selama pengobatan yang dijalani. Hal yang perlu dikaji dalam hal ini
antara lain: pekerjaan, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki keluarga,
sumber biaya yang lain, dan penggantian biaya dari pihak lain.

g.

Faktor pendidikan
Pendidikan formal yang telah dilalui oleh suatu individu merupakan latar

belakang pendidikan yang difokuskan dalam faktor ini. Hal yang perlu dikaji antara
lain: tingkat pendidikan klien, jenis pendidikan dan kemampuan belajar aktif
mengenai pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.

BAB 3. STUDI KASUS BUDAYA

3.1 Kajian atau Deskripsi Budaya Masyarakat Suku Besuki


Tradisi ojung merupakan salah satu budaya yang masih dilestaikan warga
Besuki hingga saat ini.Warga terus berdatangan menuju Dusun Belengguwen, Desa
Bugeman, Kecamatan Kendit, Situbondo. Mereka tidak lain untuk menyaksikan
tradisi ojung yang digelar secara rutin setiap tahun dalam rangka selamatan desa
setempat. Jika suatu desa tidak menggelar ritual tersebut, terbukti sering terjadi
cekcok bahkan perkelahian antar warga, serta banyak terjadi kejahatan di desa
setempat."Kami memang tidak berani untuk tidak menggelar ritual ini, karena kami
sangatyakin jika dilanggar akan terjadi bencana di desa kami," kata Kades
Bugeman, Udit Yuliasto.Sementara Roddi, salah satu warga setempat yang ikut
dalam pertandingan ujong ini, mengaku setiap tahun tampil untuk bertanding.
"Yang jelas kalau kena pukul rotan sangat sakit mas, tetapi ini bentuk penghargaan
kami terhadap adat kami ini".Tradisi ojung tidak hanya menarik simpati warga
situbondo, melainkan wisatawan dari manca negara.Ojung merupakan tradisi
masyarakat yang merupakan peninggalan sesepuh desa yang sudah berlangsung
turuntemurun.
Peserta ojung tidak hanya dikuti warga Desa Bugeman saja, melainkan juga di
ikuti peserta dari luar desa di situbondo. berbagai nama julukan juga melekat di
setiap peserta, seperti halnya Sapujagat, Unyil, Ronggeng dan Petir. Para peserta
ini, tidak pernah absen dan selalu tampil berlaga setiap ada pagelaran ojung.Pada
saat dua peserta mulai membuka baju yang dikenakan, penonton yang memadati
arena pentas ojung yang mirip ring tinju itu langung berteriak sambil bertepuk
tangan menandakan pertandingan ojung akan dimulai. Dua orang peserta ojung
siap berlaga diatas pentas, diawasi beberapa juri untuk melihat dan mengamati
sabetan rotan yang mengenai peserta. Sabetan rotan akan yang mengenai tubuh
peserta akan membekas, bahkan sampai kulitnya mengelupas.Salah seorang peserta
ojung berjuluk Sapujagat mengaku dirinya sudah sering mengikuti pertandingan

ojung itu.Menurutnya, dirinya tidak merasa takut, meski kulit tubuhnya akan
terluka dan mengelupas.Pertandingan ojung ini diyakini oleh masyarakat suku
Besuki untuk meminta turunnya hujan.Masyarakat yang ikut dalam pertandingan
ojung merasakan panas menyengat ketika batang rotan mendarat dibagian
tubuhnya.

3.2 Pengkajian Transcultural Nursing


Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi
masalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien. Pengkajian
dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada Sunrise Model yaitu :
a. Faktor teknologi (tecnological factors)
Pada masyarakat Besuki Tradisi ini tidak berkaitan dengan teknologi
dikarenakan tradisi ini berupa tradisi adat sederhana.
b.

Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors)


Tradisi ini menggambarkan tentang dua orang yang saling bertarung dan
adat untuk meminta turun hujan dan menolak kesialan yang akan ada pada
daerah tersebut.

c. Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors)


Sebagai ajang untuk menjalin kekerabatan karena dengan diadakanya acara
ini setiap tahun sekali maka acara ini dapat menjalin silahturahmi dengan
orang lain.
d. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways)
Tradisi ojung yang digelar secara rutin setiap tahun dalam rangka selamatan
desa setempat. Pertandingan ojung akan dimulai dengan dua orang peserta
ojung yang siap berlaga diatas pentas dan diawasi beberapa juri untuk
melihat dan mengamati sabetan rotan yang mengenai peserta. sabetan rotan
yang akan mengenai tubuh peserta sehingga membekas, bahkan sampai
kulitnya mengelupas.

e. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors)
Budaya ini tidak berhubungan dengan politik serta budaya ini tidak
melanggar hukum meskipun dapat melukai orang lain..
f. Faktor ekonomi (economical factors)
Dana yang dikeluarkan cukup besar, yaitu sebelum acara dan sesudah acara
berlangsung (digunakan untuk biaya pengobatan luka)
g. Faktor pendidikan (educational factors)
Budaya ini merupakan adat yang berkembang dan telah diajarkan turun
temurun dari keluarga dan dari suku tersebut.

3.3 Diagnosis Keperawatan Lintas Budaya


1. Nyeri berhubungan dengan adanya luka pada kulit yang ditandai dengan
kulit mengelupas karena sabetan atau pecutan
2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kulit mengelupas karena
sabetan
3. Resiko infeksi berhubungan dengan kulit mengelupas karena sabetan

3.4 Perencanaan Keperawatan Lintas Budaya


No
1.

Diagnose

Tujuan dan kriteria

keperawatan

hasil

Nyeri

berhubungan Setelah dilakukan

1. Jelaskan pada

dengan adanya luka tindakan keperawatan,

klien tentang

pada

konsep nyeri

kulit

yang klien akan dapat

ditandai dengan kulit menghindari melakukan


mengelupas

1.

Intervensi

karena tindakan yang

sabetan atau pecutan

menimbulkan nyeri pada

Data subjektif:

luka bekas pukulan rotan

salah satu masyarakat

2. Jelaskan pada
klien tentang
penyebab nyeri
3. Berikan
kesempatan pada

suku

besuki Kriteria hasil:

mengatakan

bahwa

klien untuk

1. Nyeri berkurang

10

ketika terkena pukul


rotan rasnya sangat
sakit.

2. Mampu mengontrol
nyeri
3. Mampu mengenal
nyeri

memahami
dampak dari nyeri
4. Diskusikan pada
klien apa yang
seharusnya
dilakukan untuk
menghindari nyeri

2.

Kerusakan
kulit

integritas Tujuan:

berhubungan Setelah dilakukan

dengan

kulit tindakan keperawatan

mengelupas

karena klien akan menunjukkan

sabetan
Data

penyembuhan jaringan
Objektif: Kriteria Hasil:

adanya luka sabetan

1. Tidak ada luka


atau lesi pada
kulit
2. Perfusi jaringan
pada kulit baik
3. Mampu

1. Anjurkan
menggunakan
pakaian yang
longgar
2. Hindari
kerutan pada
tempat tidur
3. Jaga
kebersihan
kulit agar
tetap bersih
dan kering

melindungi kulit
dan
mempertahankan
kelembaban kulit
3.

Resiko

infeksi Tujuan:

berhubungan

dengan Setelah dilakukan

kulit

mengelupas tindakan keperawatan,

karena sabetan

1. Jelaskan proses
terjadinya infeksi
2. Mengajarkan

klien akan terhindar dari

perawatan luka

resiko infeksi akibat

yang benar

mengelupasnya kulit
Kriteria hasil:

3. Ajarkan teknik cuci


tangan

11

1. Menunjukkan

4. Anjurkan cuci

perilaku hidup

tangan sebelum dan

sehat

setelah melakukan

2. Menunjukkan

perawatan luka

kemampuan
mencegah
timbulnya
infeksi
3. Klien bebas dari
tanda dan gejala
infeksi

12

3.5

SOP Keperawatan Transkultural

JUDUL SOP: TINDAKAN PEMBERSIHAN LUKA


PSIK
UNIVERSITAS
JEMBER
NO DOKUMEN NO REVISI
PROSEDUR TETAP

TANGGAL

HALAMAN

DITETAPKAN OLEH

TERBIT
1 PENGERTIAN

Tindakan pembersihan luka.

2 TUJUAN

1. Mencegah infeksi sekunder


2. Luka bersih dan kering
3. Meminimalkan mikroorganisme
Untuk luka (tidak ada jaringan yang hilang)

3 INDIKASI
4 KONTRAINDIKASI

Klien dengan kanker hidung, mulut, faring,


esophagus

5 PERSIAPAN ALAT

6 CARA BEKERJA

1.
2.
3.
4.
5.
6.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Plester
Kasa
Baskom
Larutan garam
Betadine
Sabun
Siapkan alat dan bahan
Tuang larutan garam ke dalam baskom
Cuci tangan bersih menggunakan sabun
Masukkan kasa pada baskom yang berisi
larutan garam kemudian peras
Oleskan kasa pada luka
Beri betadine pada luka secukupnya
Bersihkan sisa betadine pada luka dengan kasa
yang telah di masukkan kedalam larutan
Cuci tangan
Bereskan alat-alat

13

3.6

Tujuan dan Indikator Pencapaian

Diagnosa 1 Nyeri berhubungan dengan adanya luka pada kulit yang ditandai
dengan kulit mengelupas karena sabetan atau pecutan
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien akan dapat menghindari
melakukan tindakan yang menimbulkan nyeri pada luka bekas pukulan rotan
Indikator Pencapaian:
1. Menyebutkan faktor-faktor yang meningkatkan nyeri
2. Menyatakan nyeri berkurang secara verbal
3. Mampu mengontrol nyeri
Diagnosa 2 Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kulit mengelupas
karena sabetan
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien akan menunjukkan penyembuhan
jaringan
Indikator Pencapaian:
1. Tidak ada luka atau lesi pada kulit
2. Perfusi jaringan pada kulit baik
Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit
Diagnosa 3 Resiko infeksi berhubungan dengan kulit mengelupas karena
sabetan
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien akan terhindar dari resiko infeksi
akibat mengelupasnya kulit
Indikator Pencapaian:
1. Memperlihatkan teknik cuci tangan yang tepat dan di waktu yang tepat
2. Menunjukkan kemampuan mencegah timbulnya infeksi
3. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi

14

BAB 4. PEMBAHASAN

4.1 Analisis Kesenjangan antara teori dan kasus pengkajian lintas budaya
(Sunrise Models Leininger)
Analisis pengkajian transcultural nursing dirancang berdasarkan tujuh
komponen dalam Sunrise Model. Berikut analisis kesenjangan antara teori dan
kasus pengkajian lintas budaya tradisi ojung di Besuki.

a. Faktor teknologi (technological factors)


Tradisi ojung merupakan tradisi tradisional yang diterapkan disuku Besuki.
Tradisi ini tidak berkaitan dengan teknologi dikarenakan tradisi ini hanya
berupa tradisi adat sederhana yang tidak menggunakan alat-alat berteknologi.

b. Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors)


Berdasarkan faktor agama dan falsafah hidup tradisi ini menggambarkan
tentang dua orang yang saling bertarung dan merupakan adat untuk meminta
turun hujan dan menolak kesialan yang akan ada pada daerah tersebut. Hal ini
bertentangan dengan agama terutama agama islam, karena untuk meminta
apapun hanya boleh meminta kepada Allah Tuhan yang menciptakan
segalanya.

c. Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social faktors)


Adat ojung ini sangat menjalin kekerabatan karena dengan diadakanya acara
ini yang diadakan setiap tahun sekali maka acara ini dapat menjalin
silahturahmi dengan orang lain dan dengan begitu dapat saling akrab.

d. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways)
Tradisi ini sangat berkaitan dengan gaya hidup orang Besuki yang keras.
Budaya ini sangat berkaitan dengan adat yang ada serta gaya hidup ini sangat
menyebabkan kesakitan.

15

e. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors)
Berdasarkan faktor politik maka budaya ini tidak berhubungan dengan politik
serta budaya ini tidak melanggar hukum meskipun dapat melukai orang lain
karena tidak ada unsure-unsur pemaksaan dan penganiayaan.

f. Faktor ekonomi (economical factors)


Budaya ini mengelurakan dana yang lumayan besar dan budaya ini juga
mengeluarkan dana setelah selesai acara dikarenakan biaya berobat dari luka
yang diterima oleh pemeran dari acara ojung ini.

g.

Faktor pendidikan
Budaya ini sangat berbeda dengan nilai pendidikan karena budaya ini
merupakan adat yang berkembang dan telah diajarkan turun temurun dari
keluarga dan dari suku tersebut.

4.2 Analisis Kesenjangan Antara Teori dan Kasus Pada Pendekatan Lintas
Budaya
Tradisi yang dilakukan turun temurun itu dilakukan oleh dua orang yang
berdiri tegak diatas gelanggang dengan menggunakn senjata tongkat senjata tongkat
yang terbuat dari rotan sebagai pemukul badan lawan. Masing-masing memegang
tongkat rotan yang berfungsi sebagai alat pukul.
Tradisi seni itu berlangsung selama tiga sampai lima ronda. Bagian tubuh
yang boleh dipukul hanya di bawah leher hingga di atas pusar, pukulan yang
mengenai tubuh lainnya dianggap tidak sah. Meskipun dampaknya tidak langsung
muncul, setelah bertahun-tahun para pemain pasti merasakan dampak disegi
kesehatannya dari tradisi seni ini.

16

4.3 Implikasi Keperawatan Transkultural


Masyarakat Besuki selalu menggelar pertunjukan Ojung setiap tahunnya,
tujuan mereka melaksanakan tradisi tersebut sangat banyak sekali. Tujuan
dilakukan tradisi tersebut diantaranya yaitu untuk mengucap syukur kepada Tuhan
atas rahmat yang telah diberikan, sehingga tradisi ini berlangsung sakral dan tidak
main-main. Selain itu, tujuan dilakukan tradisi ini setiap tahunnya adalah untuk
mempererat tali persaudaraan dengan masyarakat dari wilayah lain di Besuki,
misalnya antar desa. Tradisi Ojung ini juga dilakukan untuk memohon datangnya
hujan dan meminta dihindarkan dari musibah.
Budaya dan tradisi Ojung ini sangat bertentangan terhadap kesehatan
pemainnya. Hal ini disebabkan karena, permainan Ojung sendiri yang
menggunakan rotan untuk dipecuti kepada lawannya dan memenangkan
pertandingan. Tindakan ini dapat membahayakan bagi tubuh pemain tersebut,
seperti diantaranya lebam, bengkak dan kemerahan. Pemain juga dapat mengalami
cedera saat rotan dipukulkan kepada lawannya. Perawat harus meengkaji
bagaimana pemahaman mereka terkait dampak dari tradisi Ojung terhadap dirinya
khususnya tubuh pemain. Selain itu, dengan mengajak tokoh-tokoh yang memiliki
pengaruh besar di masyarakat untuk melakukan negoisasi budaya dan memberikan
penjelasan terkait dampak yang akan diakibatkan dari tradisi Ojung. Dengan adanya
dukungan penuh dari tokoh masyarakat dapat membantu proses pendekatan,
sehingga diharapkan terciptanya perubahan perilaku yang lebih baik sehubungan
dengan kesehatan dan perilaku yang menyimpang.

17

BAB 5. PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Keperawatan transkultural merupakan salah satu area utama dalam
keperawatan yang berfokus pada komparatif dan analisis tentang budaya dan
subbudaya yang berbeda di dunia yang menghargai perilaku caring, layanan
keperawatan, nilai-nilai, keyakinan tentang sehat-sakit, serta pola-pola tingkah laku
yang bertujuan mengembangkan body of knowledge yang ilmiahdan humanistic
guna member tempat praktik keperawatan pada budaya tertentu dan budaya
universal (Marriner-Tomey, 1994). Pemahaman yang benar pada diri perawat
mengenai budaya klien, baik individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat,
dapat mencegah terjadinya culture shock maupun culture imposition.
Culture shock terjadi saat pihak luar (perawat) mencoba mempelajari atau
beradaptasi secara efektif dengan kelompok budaya tertentu (klien). Klien akan
merasakan perasaan tidak nyaman, gelisah dan disorientasi karena perbedaan nilai
budaya, keyakinan, dan kebiasaan. Sedangkan culture imposition adalah
kecenderungan tenaga kesehatan (perawat), baik secara diam-diam maupun terangterangan, memaksakan nilai-nilai budaya, keyakinan dan kebiasaan/perilaku yang
dimilikinya kepada individu, keluarga, atau kelompok dari budaya lain.
Leininger menggambarkan teori keperawatan transcultural matahariterbit,
sehingga disebut juga sebagai sunrise model. Model matahariterbit (sunrise model)
ini melambangkan esensi keperawatan dalam transcultural yang menjelaskan
bahwa sebelum memberikan asuhan keperawatan kepada klien (individu, keluarga,
kelompok, komunitas, lembaga), perawat terlebih dahulu harus mempunyai
pengetahuan mengenai pandangan dunia (world view) tentang dimensi dan budaya
serta struktur social yang berkembang di berbagai belahan dunia (secara global)
maupun masyarakat dalam lingkup yang sempit.

18

5.2. Saran
Diharapkan bagi petugas kesehatan dapat melakukan penatalaksanaan dan
asuhan keperawatan transkultural dengan benar.
.

19

DAFTAR PUSTAKA
Dongoes, Marilynn E. dan Mary F. M., Alice C. M. 2008. Nurses Pocket Guide:
Diagnoses, Prioritized Interventions, and Rationals Philadelphia: F.
A.Davis
Friedman, M.M., Bowden, V.R., & Jones, E.G. (2003). Family Nursing: Research
Theory & Practice. New Jersey: Prentice Hall.

Giger, Joyce Newman., Ruth Elaine Davidhizar. (2001). Transkultural Nursing:


Assessment and Intervention 2nd ed. St Louis: Mosby A Times Miror
Company.

Leininger, Madeleine M. 2002. Transcultural Nursing. McGraw-Hill: Medical

Publication Giger , Joyce Newman . 2012. Transcultural Nursing Assasement and


intervention. USA: Elsevier Health Sciences
Lundy & Janes. 2009. Community Health Nursing: Caring for The Publics Health
Second Edition. Amerika Serikat: Jones and Bartlett Publishers, LLC.

http://jurnalbesuki.com/index.php?option=com_content&task=view&id=100
84&Itemid=43
http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/wpcontent/uploads/sites/37/2014/06/Pendhalu
ngan.pdf

v
v