Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah


Elektroplating atau pelapisan logam merupakan salah satu proses

pelapisan bahan padat dengan lapisan logam menggunakan arus listrik searah
melalui suatu larutan elektrolit. Elektroplating digunakan untuk berbagai
keperluan, baik untuk skala industri maupun rumah tangga. Elektroplating
menggunakan larutan elektrolit yang berupa bahan-bahan kimia beracun dan
berbahaya.
Elektroplating selain menghasilkan produk yang berguna seperti kabel,
komponen-komponen, electrical detonator, perlengkapan elektronik, stabilizer
juga menghasilkan limbah padat, emisi gas dan cair. Limbah padat berasal dari
proses penghilangan kerak, polishing,

maupun kotoran sisa pada bak

elektroplating. Limbah gas pada umumnya berasal dari penguapan larutan


elektrolit, solvent, uap asam, maupun cairan pembersih. Sedangkan limbah cair
dapat berupa air limbah yang berasal dari pencucian, pembersihan dan
elektroplating. Proses pelapisan ini menggunakan bahan-bahan kimia antara lain
perak, kalium, emas, sianida, tembaga sianida, tembaga sulfat, nikel klorida, nikel
sulfat, asam kromat, natrium karbonat, asam klorida, asam sulfat, asam nitrat,
asam fosfat, asam borat, ammonium hidroksida dan natrium hidroksida.
Berdasarkan dari bahan-bahan yang digunakan dalam elektroplating ini maka
dimungkinkan limbah cairnya mengandung logam berat seperti emas, perak,
tembaga, nikel, krom, asam-asam anorganik, senyawa-senyawa sianida serta
anion yang dapat membentuk garam bersama sisa-sisa logam. Limbah yang
dihasilkan tersebut akan berbahaya bagi kesehatan manusia baik yang terlibat
langsung dengan kegiatan industri maupun lingkungan sekitarnya, sehingga
keberadaan logam tersebut harus diminimalisasi.

Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat No. 6 Tahun


1999 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri di Jawa Barat
mengatakan bahwa setiap jenis industri yang menghasilkan limbah cair wajib
memenuhi baku mutu limbah cair sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan
seperti yang ditunjukkan pada Tabel I.1 berikut ini:
Tabel I.1 Baku Mutu Limbah Cair Industri Pelap isan Logam

No

Parameter

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

pH
Total Suspended Solid (TSS)
Sianida (CN)
Total Krom (Cr)
Krom Heksavalen (Cr6+)
Tembaga (Cu)
Zink (Zn)
Nikel (Ni)
Kadmium (Cd)
Timbal (Pb)

Persyaratan
Nilai
Satuan
6,0 - 9,0
20
mg/L
0,2
mg/L
0,5
mg/L
0,1
mg/L
0,6
mg/L
1
mg/L
1
mg/L
0,1
mg/L
0,1
mg/L

Su mber: Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat No. 6 Tahun 1999

Salah satu parameter yang telah diatur oleh Keputusan Gubernur Kepala
Daerah Tingkat I Jawa Barat No. 6 Tahun 1999 tentang Baku Mutu Limbah Cair
Bagi Kegiatan Industri di Jawa Barat yaitu kadar tembaga maksimal 0,6 mg/L.
Berdasarkan hal diatas maka bila kandungannya berlebih di lingkungan akan
menyebabkan kerusakan dan membahayakan kesehatan serta mengganggu
kelangsungan hidup manusia maupun makhluk hidup lainnya. Dengan bahaya
yang dapat ditimbulkan dari limbah cair yang mengandung tembaga tersebut
maka perusahaan-perusahaan yang melakukan serangkaian elektroplating perlu
melakukan analisis terhadap limbah yang dihasilkannya agar limbah tersebut
memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan. Dalam hal ini, PT. SUCOFINDO
sebagai salah satu penyedia layanan jasa dibidang analisis dapat melakukan
analisis terhadap kadar tembaga dalam limbah cair elektroplating menggunakan
metode yang mengacu pada APHA (American Public Health Association)Standard Method for Examination of Water and Waste Water 22nd Edition.
Validasi Metode Analisis Kadar Tembaga Dalam Limbah Cair Elektroplating
Berdasarkan American Public Health Association (APHA) 3111-B

Berdasarkan latar belakang diatas maka penelitian ini dilakukan dengan


tujuan untuk memvalidasi metode analisis kadar tembaga berdasarkan APHA
(American Public Health Association)-Standard Method for Examination of
Water and Waste Water 22nd Edition. Hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan
untuk perusahaan agar mendapatkan metode analisis yang akurat. Penelitian ini
dilakukan di Laboratorium Analisis Kimia Lingkungan PT. SUCOFINDO Cabang
Bandung.

1.2

Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini terdapat beberapa rumusan masalah, yaitu:
1.

Apakah metode standar yang digunakan merupakan metode yang


valid atau sesuai dengan penggunaan pada sampel limbah cair
elektroplating.

2.

Berapakah nilai linieritas, presisi (repeatability dan reproducibility),


akurasi,

batas deteksi (MDL),

batas kuantitasi (LOQ) dan

membandingkan hasil pengukuran dengan uji secara statistik.

1.3

Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.

Melakukan pengukuran kadar tembaga yang terkandung dalam sampel


limbah cair elektroplating.

2.

Melakukan validasi penentuan kadar tembaga dalam sampel limbah


cair

elektroplating

menggunakan

AAS

(Atomic

Absorption

Spectrophotometer).

1.4

Ruang Lingkup
-

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lingkungan, PT.


Superintending Company of Indonesia (SUCOFINDO) Cabang

Validasi Metode Analisis Kadar Tembaga Dalam Limbah Cair Elektroplating


Berdasarkan American Public Health Association (APHA) 3111-B

Bandung selama 2 bulan terhitung dari tanggal 1 April 2014 hingga 30


Mei 2014.
-

Sampel yang digunakan

untuk

analisis adalah

limbah cair

elektroplating.
-

Metode yang digunakan berdasarkan American Public Health


Association (APHA) 3111B.

Parameter yang digunakan yaitu linieritas, presisi (repeatability dan


reproducibility), batas deteksi (MDL), batas kuantitasi (LOQ), dan uji
secara statistik.

Validasi metode APHA ini mengacu pada Pedoman Pengendalian


Mutu Internal Pengujian Parameter Kualitas Lingkungan (Kementrian
Negara Lingkungan Hidup RI Tahun 2009), Association of Analytical
Communities (AOAC) dan Collaborative International Pesticides
Analytical Council (CIPAC).

1.5

Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan laporan Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut:

Bab 1 Pendahuluan
Dalam bab ini akan diuraikan mengenai latar belakang, tujuan penelitian,
ruang lingkup, dan sistematika penulisan.
Bab 2 Tinjauan Pustaka
Bab ini berisi tentang konsep dasar dan teori-teori yang berkaitan dengan
Tembaga (Cu), AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer), Validasi
metode yang meliputi parameter-parameter seperti linieritas, presisi
(repeatability dan reproducibility), akurasi, batas deteksi (MDL), batas
kuantitasi (LOQ) dan uji secara statistik.

Validasi Metode Analisis Kadar Tembaga Dalam Limbah Cair Elektroplating


Berdasarkan American Public Health Association (APHA) 3111-B

Bab 3 Metedologi Penelitian


Bab ini berisi mengenai tahapan yang dilakukan dalam melaksanakan
penelitian Tugas Akhir. Tahapan tersebut yaitu pembuatan kurva kalibrasi,
pelaksanaan validasi metode serta pengujian kadar tembaga (Cu).
Bab 4 Hasil dan Pembahasan
Bab ini berisi tentang hasil penelitian yang dilakukan berbentuk data yang
telah diolah. Hasil penelitian ditampilkan dalam bentuk grafik dan juga
tabel kemudian disertai dengan pembahasan terhadap data yang telah
diperoleh.
Bab 5 Kesimpulan dan Saran
Bab ini berisi mengenai kesimpulan yang didapat dari hasil penelitian serta
saran yang diberikan sebagai bentuk tindak lanjut dari penelitian yang
telah dilakukan.

Validasi Metode Analisis Kadar Tembaga Dalam Limbah Cair Elektroplating


Berdasarkan American Public Health Association (APHA) 3111-B