Anda di halaman 1dari 19

I.

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
FOME adalah kegiatan yang dimana dalam pelaksanaannya di harapkan
mahasiswa mampu dalam mengenal masalahkesehatan keluarga secara
komprehensif

dan

holistik,

mengidentifikasikan

faktor-faktor

yangmempengaruhi masalah kesehatan keluarga, dan dapat memberikan solusi


secara promotif dan preventif serta dapat menimbulkan rasa empati terhadap
pasien dan keluarganya.
Sebagai agent of change dan social control, mahasiswa Fakultas Kedokteran
memiliki pengaruh yang cukup besar di masyarakat, terutama dalam bidang
kesehatan . Berbaga itindakan promotif dan preventif seperti edukasi yang
mengarah pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan menciptakan
masyarakat yang proaktif dan peduli terhadap kesehatan, merupakan suatu
kewajiban dan tugas yang besar bagi mahasiswa kedokteran .Oleh karena itu, di
harapkan melalui kegiatan ini dapat terbentuk dalam diri mahasiswa kedokteran
sifat empati dan pengenalan berbagai masalah kesehatan disekitarnya secara
komprehensif dan holistik guna tercapainya tujuan utama dari kegiatan ini
berupa pendekatan yang berlandaskan dokter keluarga.

2. Tujuan dan Manfaat


A. Tujuan
Mengidentifikasi masalah dan resiko kesehatan individu dan keluarga
Bapak-H, serta menerapkan tindakan promosi dan pencegahan untuk
mengatasi masalah kesehatan yang ada pada keluarga.

Mengembangkan hubungan yang baik dengan keluarga Bapak- H


1

Melakukan intervensi dalam bentuk promosi dan prevensi kepada

keluarga Bapak H
Mengidentifikasi dan memahami masalah kesehatan keluarga,
Mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan masalah
kesehatan keluarga (internal daneksternal)

B. Manfaat
Bagi mahasiswa, dapat memahami masalah kesehatan secara luas
dan tidak hanya dilihat dari individu, serta juga melihat pengaruh
penyakit terhadap keluarga dan pengaruh keluarga terhadap

penyakit individu.
Bagi keluarga, terwujudnya keluarga yang sehat dan lebih
memprioritaskan untuk pemeliharaan kesehatan dan pencegahan
penyakit. Serta memperhatikan konsumsi makanan untuk gizi yang

seimbang
Bagi pemerintah/institusi, mendukung upaya pemerintah untuk
meningkatkan angka kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

II. Hasil Kegiatan


1. IdentitasKeluarga
Pada tanggal 10 dan 17 April 2014 ,kami melakukan kunjungan pertama untuk
perkenalan sekaligus mengidentifikasi seluruh data tentang keluarga.

Keluarga merupakan keluarga inti yang beranggotakan 3 orang. Terdiri dari


seorang Kepala Keluarga (Bapak-H) dan Ibu Rumah Tangga (Ibu-A) dan
mempunyai 1 orang anak laki-laki (Anak-MN) .

1
2

3
4

7
6

Gambar 1. Siklus kehidupan keluarga Bapak-H menurut Duvall (1967)

Keterangan :
1

Tahap awal perkawinan (baru kawin, belum punya anak)

Tahap keluarga dengan bayi (sampai umur 3 tahun)

Tahap keluargadengan ana kusia prasekolah (umur 4-6 tahun)

4. Tahap keluarga dengan anak usia sekolah (umur >6 13 tahun)


5

Tahap keluarga dengan anak usia remaja (umur > 13 20 tahun)

Tahap keluarga dengan anak-anak meninggalkan keluarga (satu per satu)

Tahap orang tua usia menengah (ortu sampai masa pensiun, semua anak telah
meninggalkan keluarga)

Tahap keluarga jompo / usia lanjut

Bapak H dan keluarga tinggal di Jl Teluk Bone Gg Masjid Jami Nurul Huda
Kampung Baru Kelurahan Kota Karang Kecamatan Teluk Betung Barat pertama
kali menikah yaitu tahun 2010. Bapak H ( 30 tahun ) merupakan kepala rumah
tangga. Pendidikan terakhir Bapak H adalah Sekolah Menengah Pertama
( SMP ) dan sekarang telah bekerja sebagai buruh pabrik. Sedangkan ibu A
pendidikan terakhir adalah Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) dan sekarang
hanya sebagai ibu rumah tangga. Saat ini bapak H dan ibu A memiliki 1 orang
anak laki-laki yaitu MN berusia 1 tahun 5 bulan.
Suku bapak H dan ibu A adalah Sunda, namun bahasa yang mereka gunakan
sehari-hari adalah bahasa indonesia. Pendapat perbulan yang didapat oleh bapak
H adalah Rp. 1.200.000,00 pendapatan ini dirasa sudah cukup untuk memenuhi
kebutuhan hidup keluarga bapak H.
Bapak H dan ibu A tidak memiliki riwayat keturunan penyakit yang perlu
diperhatikan dan mereka juga tidak pernah menderita penyakit yang
membahayakan. Penyakit yang sering di derita bapak H dan ibu A hanya sekedar
flu, demam, atau badan terasa lemas jika terlalu capek bekerja. Saat ini masalah
yang ada dalam keluarga bapak H adalah pada anak MN yang sulit makan, baik

makanan pokok nasi,sayur, ataupun jajanan, MN hanya mau minum ASI dari ibu
A.
Bapak H merupakan anak ke tiga dari 7 bersaudara. Sedangkan ibu A adalah
anak ke 7 dr 8 bersaudara. Orang tua bapak H ( bapak A dan ibu A ) sudah lama
meninggal dunia, penyebab kematian orang tua bapak M bukan karena suatu
penyakit menahun dan ibu dari ibu A ( ibu H) juga lama sudah meninggal dunia
sedangkan bapak dari ibu A ( bapak A ) belum lama meninggal dunia pada awal
bulan April 2014 lalu dikarenakan usia yang sudah tua, tidak ada suatu penyakit
yang diderita.

Genogram keluarga bapak H


Tanggal pembuatan

: 17 April 2014

Pembuat

: Fitrianisa Burmana dan Fabella Khoiriah

gambar 2. Genogram keluarga bapak H


keterangan :

laki-laki

laki laki meninggal

perempuan

perempuan meninggal

tinggal satu rumah

keturunan
menikah

2. Keadaan Rumah
Bapak H dan ibu A tinggal dirumah berukuran 17 x 9 m 2. Luas rumah sangat
cukup untuk dihuni oleh 3 orang. Lantai sudah disemen dan berkeramik. Jenis
atap genteng dilapisi plapon dan ada sebagian ruangan yang dialpisi
menggunakan terpal dengan alasan supaya tidak jebol jika ada tikus di plapon.
Dinding rumah tembok dilapisi cat. Terdapat 3 kamar tidur, 1 kamar mandi dan
1 dapur. Setiap kamar tidur dan ruang keluarga terdapat jendela yang selalu
dibuka pada pagi hari. Kamar mandi bersih, tidak licin dan dapur juga bersih dan
rapi. Letak septitank tidak berdekatan dengan dapur atau sumur.
Sinar matahari mampu masuk keruang tamu, ruang keluarga, kamar tidur dan
kamar mandi melalui jendela. Pada siang hari masih bisa membaca tulisan/huruf
tanpa bantuan lampu listrik. Perbandingan luas jendela dengan lantai di ruang
tidur cukup yaitu lebih > 20% dan perbandingan luas jendela dengan lantai
ruang keluarga cukup yaitu >20%.
Kebersihan rumah bagian ruang tamu dan kamar tidur masih terlihat baik. Ruang
tamu memiliki pencahayaan matahari yang baik karena jendela dan pintu yang
sering dibuka. Kamar tidur juga terlihat baik dan rapih, jendela sering dibuka,
sprei kasur sering diganti dan dibersihkan, kasur juga sering dijemur. Keluarga
Bapak H juga tidak memelihara binatang di dalam maupun diluar rumah.
Keadaan dapur cukup rapi, terdapat rak piring dan tempat pencucian piring,
masak menggunakan kompor gas. Untuk kamar mandi berada didalam rumah
dibagian belakang, cukup baik dengan lantai keramik, tidak licin, ada bak

mandi, closet, ada pintu, air berasal dari sumur yang menggunakan sanyo, air
tidak keruh dan tidak berbau.

D
C
A

gambar 3. denah bangunan rumah bapak H


keterangan

: Ruang Tamu

B
C
D
E
F
G
H

: Kamar I
: Kamar II
: Kamar III
: Dapur
: Kamar Mandi
: Tempat cuci piring dan cuci baju
: Ruang Keluarga
: pintu
: jendela

3. Keadaan keluarga
Bapak H dan ibu A memiliki 1 orang anak MN yang masih berusia 1 tahun 5
bulan. Untuk saat ini bapak H dan ibu A belum mau untuk memiliki anak lagi,
karena itu ibu A menggunakan KB suntik tiap 3 bulan sekali untuk menunda
kehamilan selanjutnya. Pengambilan keputusan dalam perencanaan keluarga
adalah hasil musyawarah bapak H dan ibu A, namun bapak H tetap paling
berperan penting dalam pengambilan keputusan karena selaku kepala keluarga.
Keluarga bapak H tinggal satu rumah dan selalu berkumpul. Meskipun bapak H

bekerja tapi bapak H selalu pulang kerumah pada sore hari tidak pernah bekerja
sampai tidak pulang kerumah.

Bapak
H

Anak
MN

Ibu A

gambar 4. Hubungan tiap anggota keluarga ( family map )

Keterangan

hubungan sangat erat / sangat dekat

4. Pemenuhan kebutuhan keluarga


Penghasilan dalam keluarga bapak H hanya berasal dari beliau saja sebesar Rp
1.200.000,- /bulan. Kebutuhan keluarga tercukupi dari sandang pangan hingga
papan, bisa dibilang kebutuhan keluarga bapak H terpenuhi hingga keperluan
tersier.
Di dalam rumah terdapat TV, speaker, kipas angin, magic com, kompor gas,
lemari baju, bapak H dan ibu A masing-masing memiliki handphone dan juga
mereka mempunya 1 sepeda motor. Bapak H rajin mengikuti sholat jamaah di
masjid jika beliau sedang dirumah, sedang ibu A menjalankan sholat fardu
dirumah walaupun tidak penuh 5 waktu.

Dalam kesehatan bapak H dan ibu A datang ke puskesmas / dokter hanya ketika
sakit dan sakitnya semakin parah. Sebelum ke puskesmas bapak H atau ibu A
membeli obat warung, jika tidak sembuh baru mereka berobat ke puskesmas /
dokter.
Untuk kesehatan pada anak mereka MN kegiatan imunisasi selalu diikuti sampai
tuntas dan jika anak mereka MN sakit, bapak H dan ibu A segera membawa ke
puskes atau dokter tanpa memberi obat warung terlebih dahulu.
5. Gaya hidup keluarga
Untuk sumber makanan, ibu A selalu memasak dan menghidangkan sendiri
dirumah. Makanan yang disajikan pun relatif sama namun makan pagi sampai
malam keluarga ini sangat teratur. Makan pagi biasa nya nasi uduk, telur,
gorengan, untuk anak nya ibu A biasanya membuatkan sarapan bubur tim
dicampur dengan telur atau ikan dan sayuran. Menu makan siang dan malam
biasanya sama yaitu nasi, tahu, tempe, sayur-sayuran ( bayam, kanggung,
kacang panajang, terong, dll ) ikan, atau ayam, untuk MN ( anak ) makan siang
diberikan lauk saja ikan, karena anak bapak H sulit untuk makan nasi dan hanya
menyukai lauk ikan. Ibu A dan bapak H mengaku jarang memasak daging
karena selain harga nya yang lebih mahal, mereka juga kurang suka makan
daging. Mengkonsumsi buah hampir setiap hari, terutama untuk anak mereka
MN. Buah yang sering mereka konsumsi adalah pisang karena anak bapak H
sangat menyukai pisang, tetapi ibu A dan bapak H juga sering mengkonsumsi
buah lain seperti jeruk dan mangga. Menu makan yang cukup seimbang
sehingga cukup sesuai dengan kebutuhan kalori bapak H dan ibu A.
Bapak H dan ibu A mengaku jarang berolahraga karena kesibukan masingmasing. Bapak H yang sibuk bekerja dan ibu A yang sibuk mengurus rumah dan

10

anak. Bapak H tidak meroko dan tidak minum alkohol. Pola hidup bersih
terkadang sudah diterapakan oleh ibu A kepada anaknya, misal mencuci tangan
dengan sbaun sebelum menyuapi anak makan dan membiasakan anak memakai
alas kaki saat main keluar rumah.
Untuk sampah rumah tangga, saat ini rutin dikelola oleh pemerintah dan harus
membayariuran Rp5.000,-/bulan/KK yang seminggu 3 kali dilakukan petugas
kebersihan sehingga sampah rumah tangga rutin diambil oleh pengelola sampah.
6. Lingkungan hidup keluarga
Jenis perumahan bapak H adalah area tempat tinggal permanen. Lingkungan
perumahan pun cukup bersih karena sampah dikelola dengan baik namun
keadaan nya tidak teratur di halaman depan dan belakang. Setiap bulan iuran
Rp5.000,-/KK untuk pengelolaan sampah rumah tangga oleh pemerintah.
Keamanan sangat aman karena jarang ada peristiwa kemalingan dan jarak rumah
antar penduduk dangat dekat/padat penduduk. Tidak ada paparan zat / partikel
yang mungkin terjadi dilingkungan tempat tinggal bapak H.
Bapak H bekerja di pabrik Minyak Sinar Laut sebagi buruh pada bagian
pengaturan menggunakan panel untuk mengelola minyak mentah. Resiko
pekerjaan yang ada mungkin hanya debu dipabrik dan jika tejadi kebocoran pada
pipa, maka minyak panas yang didalam pipa keluar dapat melukai kulit.
Untuk lingkungan sosial terbilang keluarga ini cukup dikenal masyarakat, Bapak
H dan Ibu A dihormati sewajarnya. Keluarga ini juga menjadi anggota
perkumpulan sosial di lingkungannya, dikarenakan Ibu A mengikuti arisan
RT/RW. Bapak H juga rajin ikut sholat jamaah dimasjid jika beliau sedang ada
dirumah.

11

7. Identifikasi masalah kesehatan dalam keluarga


a. Resiko / masalah yang berhubungan dengan karakteristik keluarga
Dari permukaan tampak bahwa keluarga Bapak H tidak begitu memiliki
banyak permasalahan dalam bidang kesehatan tetapi ada hal yang perlu
dicermati lebih dalam, yaitu masalah makan pada anak bapak H.
MN adalah anak bapak H yang berumur 1 tahun 5 bulan mempunyai
masalah sulit makan. Sampai saat ini MN masih diberi ASI oleh ibu A,
sebelumnya saat berusia 5 bulan MN diberi makanan pendamping ASI
dan MN tidak sulit untuk makan. Tetapi setelah umur 1 tahun, MN
menjadi tidak doyan makan. Sudah berbagai jenis menu diberikan untun
MN tetapi MN tetap sulit untuk makan atau makan makanan cemilan,
susu formula juga MN tidak mau, MN hanya mau ASI saja.
b. Resiko atau masalah kesehatan yang berhubungan dengan keadaan
rumah
Lokasi hunian Bapak H dekat dengan laut. Udara yang panas, serta
banyaknya debu menjadi resiko untuk kesehatan. Untuk tempat tinggal
bapak H merupakan hunian yang layak huni karena tidak ditemukan
masalah yang bermakna pada keadaan rumah.
c. Resiko yang berhubungan dengan fungsi keluarga
Anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah berkumpul setiap hari.
Hubungan tiap anggota sama dan kasih sayang yang diberikan pun
merata. Hanya saja sedikit memperoleh perhatian dari ayah dikarenakan
tuntutan pekerjaan.
Bapak H dan Ibu A sejak awal pernikahannya telah membuat
perencanaan dalam keluarga, termasuk berapa jumlah anak yang
diinginkan.
d. Resiko masalah kesehatan dengan pemenuh kebutuhan keluarga
Pekerjaan bapak H memungkinkan penghasilannya mampu memenuhi
kebutuhan ekonomi hingga taraf tersier, keluarga tidak merasa
12

kekurangan dan cukup untuk memenuhi kebutuhan. Pengetahuan dan


pemahaman agama yang cukup baik membuat keluarga ini cukup
memenuhi kebutuhan spiritual dan kesehatan. Keluarga ini melakukan
tindakan pencarian pengobatan dengan berobat ke puskesmas setempat.
Keluarga Bapak H mendatangi puskesmas hanya untuk mencari
pengobatan kuratif saja.
e. Masalah kesehatan yang berhubungan dengan gaya hidup
MN anak Bapak H mengalami gangguan pada pola makannya, H hanya
makan bubur paling banyak 3-5 sendok makan selain itu juga H tidak
mau makan makanan yang amis seperti ikan, ayam dan telur. H juga
belum dibiasakan minum susu tambahan sehingga Ibu A khawatir MN
tidak memiliki keinginan untuk minum susu tambahan.
Keluarga ini tidak mengkonsumsi alkohol, juga tidak punya kebiasaan
berolahraga. Makanan yang dikonsumsi keluarga biasa diolah sendiri
dengan komposisi jenis makanan seimbang antara energi, protein dan
serat. Higienitas dan kehalalan makanan bisa terjamin.
f. Risiko/ Masalah kesehatan yang berhubungan dengan lingkungan
hidup keluarga
Dilingkungan sekitar rumah Bpk

H mudah didapati debu yang

kemungkinan berasal dari pasir-pasir sekitar laut yang sampai ke


lingkungan rumah. Keadaan ini jika berlangsung terus-menerus, dapat
mengganggu pernafasan.
Kebersihan lingkungan rumah sudah mendapat perhatian, meskipun tata
letak barang-barang yang ada disekitarnya belum tertata rapih.
Keamanan secara umum tidak bermasalah.
Bahaya potensial yang timbul dan berhubungan dengan masalah
kesehatan berupa debu yang berasal dari luar rumah. Di lingkungan
sosial masyarakat, keluarga ini dihormati sewajarnya.
g. Masalah kesehatan yang ada dalam keluarga
1. MN yang susah makan dan berat badan yang tidak kunjung meningkat
2. Anggota keluarga yang tidak pernah berolahraga

13

3. Tempat tinggal yang terletak didaerah padat penduduk, serta daerah


tepi laut yang banyak terdapat debu pasir

8. Urutan Prioritas masalah kesehatan keluarga


a. Prioritas Masalah
Dari hasil identifikasi beberapa resiko atau masalah kesehatan di atas
yang dianalisis, maka kami mengambil masalah Pola Makan Sehat
Anak Usia 1-3 Tahun sebagai prioritas masalah yang akan
diintervensi.
b. Berikut ini alasan pemilihan prioritas masalah:
Keterbatasan dana, bila harus mengintervensi semua masalah
memerlukan biaya yang tidak sedikit. Misalnya: masalah
lingkungan rumah yang merupakan tempat tinggal yang sudah
lama dihuni keluarga besar.
Keterbatasan waktu untuk melakukan intervensi yang dapat
dievaluasi hasilnya. Masalah kesehatan yang berhubungan
dengan hal tersebut seperti: Anggota keluarga yang tidak pernah
melakukan olahraga.
Kemudahan mendapatkan media dan informasi yang dapat
digunakan untuk mengintervensi pola makan anak usia 1-3 tahun
kecukupan waktu untuk mengevaluasinya, serta mengingat
bahwa gangguan makan ini menjadi kendala sehingga berat
badan anak tidak kunjung naik, maka kami lebih memilih untuk
memprioritaskannya.

14

III. PEMBAHASAN
Dari berbagai masalah yang didapatkan di keluarga Bapak H dapat di prioritaskan
masalah yang akan kami fokuskan adalah gangguan pola makan yang dialami MN.
Setelah kami amati MN yang memiliki gangguan pola makan memang memiliki berat
badan yang kurang dan dilihat dari bukti KMS terdapat penurunan berat badan seiring
bertambahnya usia MN. Informasi yang diberikan ibu A bahwa MN sudah diberikan
makanan tambahan sejak usia 5 bulan. Sejak usia 5 bulan MN sudah mendapatkan pola
makan yang baik dari ibu A dan ASI masih diberikan sampai sekarang. Pengamatan
yang kami lakukan kepada MN memang susah mengkonsumsi makanan, MN hanya
mampu makan 3-5 sendok makan jika diberikan makanan. Pola Makan yang kurang
baik juga ditunjukan MN yang menolak untuk memakan sumber protein, yaitu berupa
ikan, ayam, daging, dan telur dikarenakan MN tidak terbiasa diberikan makanan
tersebut dan amis yang dia rasakan . Seharusnya MN diberikan pola makan yang baik
yang meliputi pemberian ASI saja sampai usia 6 bulan tanpa pemberian makanan
tambahan lainnya. Seusia MN yang sekarang juga harusnya mulai dibiasakan
memberikan makanan yang mengandung protein, sehingga MN tidak menolak jika
diberikan makanan yang mengandung protein seperti sekarang.
Dari masalah yang terjadi pada MN maka masalah yang akan diintervensi yang akan
kami lakukan berupa meningkatkan pengetahuan ibu mengenai aturan pemberian Pola
Makan Usia Anak 1-3 Tahun yang baik dengan penyampaian materi yang akan kami
berikan kepada ibu Pola Makan Sehat anak usia 1-3 tahun. Kami menyampaikan materi
dengan cara memotivasi kepada ibu A agar menjaga pola makan yang baik terutama

15

pola makan untuk anak usia 1-3 tahun. Memberikan gambaran tentang dampak kepada
ibu A bila tidak merubah pola makan MN dan manfaat bila ibu A merubah pola makan
MN menjadi lebih baik.

A. Rencana Intervensi
Rencana
Tujuan
Kegiatan

Materi
Kegiatan

Intervensi
Cara
Pembinaan

Tahap
Intervensi

Hasil Intervensi

Sasaran
Individu

16

Meningkatk
an
pengetahua
n mengenai
aturan pola
makan
untuk anak
usia
1-3
tahun yang
baik

Pola
Makan
Sehat Anak 1-3
Tahun

Motivasi
keluarga
untuk
menjaga pola
makan yang
baik terutama
pola makan
anak usia 1-3
tahun

Ibu

Menanyakan
tentang
bagaimana pola
makan untuk
anak usia 1-3
tahun
yang
baik

Semua
anggota
keluarga
tahu
tentang pola makan
yang baik serta
dapat
mengingatkan ibu
agar menjalani pola
makan yang baik

Menjelaskan
tentang
bagaimana pola
makan
yang
baik khusunya
untuk anak usia
1-3 tahun
Menggunakan
kalender yang
terdapat materi
yang
menjelaskan
secara
detail
yang
berhubungan
dengan
pola
makan dan diet
yang baik
Diskusi
jawab

tanya

Menanyakan
kembali poinpoin
penting
intervensi
untuk
mengetahui
penerimaan
terhadap info
Merangkum
kegiatan
intervensi pada
saat itu

Tabel 2. Rencana Intervensi

17

B. Pelaksanaan Intervensi
Intervensi dilakukan pada awal pertengahan bulan 17 April 2014, di rumah Bapak
H yang beralamatkan: Jalan Teluk Bone Gg.Masjid Jami Nurul-Huda, Kampung
Baru, Teluk Betung Barat, Kota Karang, Bandar Lampung.
Kami menggunakan media cetak sebagai alat peraga untuk menyampaikan
informasi yang berhubungan dengan materi intervensi. Jenis media cetak yang
kami gunakan adalah kalender yang berisi pesan gizi seimbang, kalender juga
memuat menu makan sebanyak 12 menu makan pagi, makan siang dan makan
malam sebagai contoh menu makan MN, jam yang mengingatkan waktu makan
MN yang baik, dan checklist untuk mencatat makanan yang telah dimakan MN
setiap hari selama masa intervensi.

C. Hasil Evaluasi Intervensi


Setelah dilakukan intervensi terhadap Ibu A selama lebih kurang lebih 14 hari,
kami memperoleh hasil yang signifikan. Kebiasaan pola makan yang buruk sudah
mulai ditinggalkan dan sudah mengarah ke kebiasaan makan yang baik dan
memakan makanan yang baik pula. Banyak faktor yang mendukung keberhasilan
ini, tidak semata-mata karena intervensi yang kami lakukan, tetapi setidaknya ada
andil intervensi ini terhadap keberhasilan tersebut.
Dari hasil wawancara langsung kepada Ibu A ketika evaluasi, kami mendapat info
bahwa beliau sudah mengatur pola makan dengan cukup baik dan meningkatkan
makan bahan-bahan makanan yang memiliki zat gizi yang lengkap. Selain itu,
kami melihat langsung MN yang sudah sangat senang makan bahkan sekarang
sudah mau minum susu. Sebelumnya MN tidak mau makan sumber protein
hewani dan susu.

18

V. PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Masalah utama yang dimiliki oleh keluarga Bapak H adalah perilaku gizi
seimbang pada MN anak usia 1-3 tahun di rumah tersebut dan gaya hidup
yang tidak pernah melakukan olahraga.
2. Hasil intervensi terhadap perilaku gizi seimbang pada MN anak usia 1-3
tahun di rumah tersebut sudah berhasil, MN sudah mau makan berbagai
macam jenis makanan yang sehat seperti telur dan susu yang awalny
sebelum intervensi MN tidak mau. Akan tetapi MN masih belum mau
mengkonsumsi protein hewani dengan alasan amis. Konsumsi karbohidrat
masih kurang untuk seusianya.

A. Saran

C. Keluarga Bapak H harus bersama-sama memonitor dan mengintervensi


terhadap perilaku gizi seimbang pada MN anak usia 1-3 tahun di rumah
tersebut serta dalam mewujudkan rumah yang sehat.
D. Peran tenaga kesehatan puskesmas terdekat sangat penting untuk
mengetahui anak yang kurang gizi.

19