Anda di halaman 1dari 9

KONTRAKSI OTOT JANTUNG PADA IKAN (Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Air)

KONTRAKSI OTOT JANTUNG PADA IKAN


(Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Air)

Oleh:
Widi Indra Kesuma
1114111058

JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2013
I.

PENDAHULUAN

A.
Latar Belakang
Dalam kehidupan suatu makhluk hidup, jantung merupakan salah satu organ
tubuh yang paling penting. Jantung merupakan suatu pembesaran massa otot
yang spesifik dari pembuluh darah yang bentuknya seperti piramida serta
diselimuti oleh kantung perikardial. Jantung pada ikan memiliki dua kamar, yaitu
satu serambi (atrium) dan satu bilik (ventrikel). Sistem jantung pada ikan
merupakan organ sirkulasi darah dalam tubuh. Kontraksi otot jantung ikan yang
ditimbulkan merupakan sarana untuk mengkonversi energi kimiawi menjadi
mekanik dalam bentuk tekanan dan aliran darah.
Jantung sangat berperan penting. sebab kita tahu bahwa kerja jantung adalah
Memompa darah ke seluruh tubuh melalui sistem sirkulasi darah. Sirkulasi darah
adalah sistem yang berfungsi dalam pengangkutan dan penyebaran enzim, zat
nutrisi, oksigen, karbondioksida, garam-garam, antibodi (kekebalan) dan senyawa
N, dari tempat asal ke seluruh bagian tubuh sehingga diperlukan tekanan yang
cukup untuk menjamin aliran darah sampai ke bagian-bagian jaringan-jaringan
tubuh (Groman 1982 in Affandi dan Tang 2002).
Oleh karena pentingnya organ jantung terhadap kelangsungan hidup ikan, penting
bagi kita untuk mengetahui bagaimana kerja otot jantung pada ikan dan juga
mengetahui ketahanan jantung ikan apabila dikeluarkan dari tubuhnya.
B. Tujuan
Tujuan praktikum yaitu untuk mengetahui kerja jantung tanpa pengaruh organ
tubuh lain, mengetahui ketahanan jantung ikan diluar tubuh dan membuktikan
bahwa otot jantung adalah otot lurik tetapi bekerja seperti otot polos.
II.

TINJAUAN PUSTAKA

A.
Biologis Ikan
Ikan nila (Oreochromis niloticus).
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan jenis ikan yang berasal dari sungai
nila dan danau-danau yang menghubungkan sungai tersebut. Ikan nila
didatangkan ke Indonesia secara resmi oleh Balai Penelitian Perikanan Air Tawar
pada tahun 1969, bibit ikan nila yang ada di Indonesia berasal dari Taiwan adapun
dengan ciri berwarna gelap dengan garis-garis vertikal seanyak 6-8 buah dan
Filipina yang berwarna merah (Suyanto 1998).
Menurut Saanin (1982), klasifikasi ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah sebagai
berikut:
Kingdom
: Animalia
Filum
: Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas
: Osteichtes
Sub Kelas : Acanthoptherigii
Ordo
: Percomorphii
Sub Ordo
: Percoidae
Famili
: Cichlidae
Genus
: Oreochromis

Spesies

: Oreochromis niloticus

Ikan nila pada umumnya mempunyai bentuk tubuh panjang dan ramping,
perbandingan antara panjang dan tinggi badan rata-rata 3 : 1. Sisik-sisik ikan nila
berukuran besar dan kasar. Ikan nila berjari sirip keras, sirip perut torasik, letak
mulut subterminal dan berbentuk meruncing. Selain itu, tanda lainnya yang dapat
dilihat adalah dari ikan nila adalah warna tubuhnya yang hitam dan agak
keputihan. Bagian bawah tutup insang berwarna putih, sedangkan pada nila lokal
putih agak kehitaman bahkan ada yang kuning. Sisik ikan nila besar, kasar, dan
tersusun rapi. Sepertiga sisik belakang menutupi sisi bagian depan. Tubuhnya
memiliki garis linea lateralis yang terputus antara bagian atas dan bawahnya.
Linea lateralis bagian atas memanjang mulai dari tutup insang hingga belakang
sirip punggung sampai pangkal sirip ekor. Ukuran kepalanya relatif kecil dengan
mulut berada di ujung kepala serta mempunyai mata yang besar (Merantica
2007).
Ikan nila memiliki karakteristik sebagai ikan parental care yang merawat anaknya
dengan menggunakan mulut (mouth breeder) (Effendie 1997 dalam Prasetiyo
2009). Ikan ini dicirikan dengan garis vertikal yang berwarna gelap pada sirip
ekornya sebanyak 6 buah. Selain pada sirip ekor, garis tersebut juga terdapat pada
sirip punggung dan sirip anal (Suyanto 1994 dalam Saputra 2007 dalam Prasetiyo
2009).
Seperti halnya ikan nila yang lain, jenis kelamin ikan nila yang masih kecil, belum
tampak dengan jelas. Perbedaannya dapat diamati dengan jelas setelah bobot
badannya mencapai 50 gram. Ikan nila yang berumur 4-5 bulan (100-150 g) sudah
mulai kawin dan bertelur Tanda-tanda ikan nila jantan adalah warna badan lebih
gelap dari ikan betina, alat kelamin berupa tonjolan (papila) di belakang lubang
anus, dan tulang rahang melebar ke belakang. Sedangkan tanda-tanda ikan nila
betina adalah alat kelamin berupa tonjolan di belakang anus, dimana terdapat 2
lubang. Lubang yang di depan untuk mengeluarkan telur, sedang yang di belakang
untuk mengeluarkan air seni dan bila telah mengandung telur yang masak,dan
perutnya tampak membesar (Suyanto, 2003).
Ikan nila merupakan ikan omnivora yang memakan fitoplankton, perifiton,
tanaman air, avertebrata kecil, fauna bentik, detritus, dan bakteri yang berasosiasi
dengan detritus. Ikan nila dapat menyaring makanannya dengan menangkap
partikel tersuspensi, termasuk fitoplankton dan bakteri, pada mukus yang terletak
pada rongga buccal. Tetapi sumber nutrisi utama ikan nila diperoleh dengan cara
memakan makanan pada lapisan perifiton (FAO, 2006).
Ikan nila merupakan ikan tropis yang menyukai perairan yang dangkal. Ikan nila
dikenal sebagai ikan yang tahan terhadap perubahan lingkungan tempat hidupnya.
Nila hidup di lingkungan air tawar, air payau, dan air asin. Kadar garam air yang
disukai antara 0-35 ppt. Ikan nila air tawar dapat dipindahkan ke air asin dengan
proses adaptasi bertahap. Kadar garam air dinaikkan sedikit demi sedikit.
Pemindahan ikan nila secara mendadak ke dalam air yang kadar garamnya sangat
berbeda dapat mengakibatkan stress dan kematian ikan (Suyanto, 2004).
Tempat hidup Ikan nila biasanya berada pada perairan yang dangkal dengan arus

yang tidak begitu deras, ikan ini tidak suka hidup di perairan yang bergerak
(mengalir),akan tetapi jika dilakukan perlakuan terhadap ikan nila seperti
pengadaptasian terhadap lingkungan air yang mengalir maka ikan nila juga bisa
hidup baik pada perairan yang mengalir. (Djarijah, 2002).
Lingkungan tumbuh (habitat) yang paling ideal adalah perairan air tawar yang
memiliki suhu antara 14oC 38 oC, atau suhu optimal 25oC 30oC. Keadaan suhu
yang rendah yaitu suhu kurang dari 140C ataupun suhu yang terlalu tinggi di atas
300C akan menghambat pertumbuhan nila. Ikan nila memiliki toleransi tinggi
terhadap perubahan lingkungan hidup. Batas bawah dan batas atas suhu yang
mematikan ikan nila berturut-turut adalah 11-12oC dan 42oC. Keadaan pH air
antara 5 11 dapat ditoleransi oleh ikan nila, tetapi pH yang optimal untuk
pertumbuhan dan perkembangbiakkan ikan ini adalah 7- 8. Ikan nila masih dapat
tumbuh dalam keadaan air asin pada salinitas 0-35 ppt. Oleh karena itu, ikan nila
dapat dibudidayakan di perairan payau, tambak dan perairan laut, terutama untuk
tujuan usaha pembesaran (Rukmana, 1997).
B.

Kandungan Aquades, NaCl fisiologis, dan Deterjen.

Aquades tersusun atas hydrogen perixida maksimal 49.9%, aquades ini berwarna
putih bening seperti air. Aquades adalah air biasa yang telah mengalami
penyulingan sehingga tidak memiliki kandungan mineral apapun dan juga ridak
ada campuran apapun, berperan sebagai pelarut (Fatih,2008).
NaCl fisiologis adalah larutan isotonik yang terbuat dari NaCl 0,9% yang sama
dengan cairan tubuh atau darah (adhil, 2009) menurut Rustidja(1985) dalam
dalam hidayaturahmah (2007) penggunaan larutan fisiologis yang mengandung
NaCl dan urea karna dapat mempertahankan daya hidup spermatozoa antara 2025 menit. larutan fisiologis lebih kecil dari NaCl 0,9 % (0,8 %; 0,6 %; 0,3 %; 0,1 %)
disebut hipotonis. larutanfisiologis lbh besar dari NaCl 0,9 % ( 1 %; 2 %) disebut
hipertonis. Darah bila dimasukkan ke dalam larutan hipotonis maka membran akan
mengembang karena larutan hipotonis masuk ke dalam sel darah merah,
kemudian pecah di satu tempat sehingga Hb keluar disebut dengan hemolisis.
Darah bila dimasukkan ke dalam larutan hipertonis maka membran akan di tarik
kesegala arah sehinga pecah di banyak tempat sehingga sel darah merah
mengkerut akibatnya Hb juga keluar dan disebut krenasis Anonim (2010).
Pada umumnya, deterjen mengandung bahan-bahan berikut:
1. Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang
mempunyai ujung berbeda yaitu hydrophile (suka air) dan hydrophobe (suka
lemak). Bahan aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga
dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan.
Secara garis besar, terdapat empat kategori surfaktan yaitu:

Anionik :
Alkyl Benzene Sulfonate
Linier Alkyl Benzene Sulfonate (LAS)
Alpha Olein Sulfonate (AOS)

Kationik : Garam Ammonium

Non ionik : Nonyl phenol polyethoxyle

Amphoterik : Acyl Ethylenediamines.

2. Builder (Permbentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari


surfaktan dengan cara menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air.
a. Phosphates : Sodium Tri Poly Phosphate (STPP)
b. Acetates :
Nitril Tri Acetate (NTA)
Ethylene Diamine Tetra Acetate (EDTA)
c. Silicates : Zeolith
d. Citrates : Citrate acid
3. Filler (pengisi) adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai
kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas. Contoh :
Sodium sulfate.
4. Additives adalah bahan suplemen / tambahan untuk membuat produk
lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dst, tidak
berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen. Additives ditambahkan lebih
untuk maksud komersialisasi produk. Contoh : Enzyme, Borax, Sodium chloride,
Carboxy Methyl Cellulose (CMC) (Anonim, 2011).
C.
Sistem Kerja Otot Jantung pada Ikan
Jantung merupakan suatu pembesaran otot yang spesifik dari pembuluh darah
atau suatu struktur muskular berongga yang bentuknya menyerupai kerucut dan
dilingkupi atau diselimuti oleh kantung perikardial (perikardium). Pada ikan
terdapat dibagian restral dari hati dan bagian ventral dari rongga mulut (Afandi
dan Tang, 2002).
Peranan jantung sangat penting dalam hubunganya dengan pemompaan darah
keseluruh tubuh melalui sistem sirkulasi darah, sirkulasi darah adalah sistem yang
berfungsi dalam pengangkutan dan penyebaran enzim, zat nutrisi, oksigen,
karbondioksida, garam-garam, antibodi dan senyawa N, dari tempat asal keseluruh
bagian tubuh sehingga diperlukan tekanan yang cukup untuk menjamin aliraqn
darah sampai ke bagain-bagian jaringan jaringan tubuh (Groman dalam Afandi dan
Tang, 2002).
Menurut Fujaya (2004) sistem peredaran darah pada ikan bersifat tunggal, artinya
hanya terdapat satu jalur sirkulasi peredaran darah, yakni dari jantung darah
dipompa ke insang untuk melakukan pertukaran ke gas kemudian keberbagai
organ tubuh, setelah itu darah kembali lagi kejantung. untuk menjamin aliran
darah terus berlangsung, maka daerah dipompa dengan perbedaan tekanan.
tekanan jantung lebih besar dari tekanan arteri, dan tekanan arteri lebih besar dari
tekanan arterionale, akibat adanya perbedaan tekanan maka aliran darah dapat
terjadi. Ada dua jenis energi yang disalurkan ke darah pada setiap kontraksi
jantung yaitu energi kinetik yang menyebabkan darah mengalir dan energi yang
tersimpan dalam pembuluh darah dan menimbulkan tekanan darah.
III.

METODELOGI

A.

Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 27 April 2013 pukul 10.00 WIB
bertempat di Laboratorium Perikanan Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Pertanian
Universitas Lampung.
B. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat bedah, cawan
petri, stopwatch, baki, timbangan, lap/tissue dan alat tulis.. Adapun bahan-bahan
yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan nila, NaCl fisiologis, aquades, dan
deterjen.
C. Metode Kerja
Adapun cara kerja yang dilakukan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan.
2. Ambil 3 ekor ikan nila lalu timbang.
3. Ikan yang masih hidup tersebut dipingsankan dengan cara menusuk bagian
otak.
4. Bedah mulai dari arah anus kearah depan hingga ingsan, lalu pisahkan organ
jantung.
5. Letakan jantung tersebut pada 3 cawan petri berbeda.
6. Cawan petri pertama ditetesi dengan larutan NaCl fisiologis, cawan petri
kedua ditetesi dengan akuades, dan cawan petri ketiga ditetesi dengan larutan
deterjen.
7. Pengamatan dilakukan dengan menghitung detak jantung tiap menit.
8. Pengamatan selesai dilakukan setelah jantung tidak berdetak lagi..
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil.

Kelompok
1

4
5

Perlakuan
Aquades
NaCl fisiologi
Deterjen
Aquades
NaCl fisiologi
Deterjen
Aquades
NaCl fisiologi
Deterjen
Aquades
NaCl fisiologi
Deterjen
Aquades
NaCl fisiologi

Waktu (menit)
15
20
13
11
15
8
15
19
16
16
19
14
13
5

Detak Jantung
218
490
212
108
127
107
292
316
305
217
231
273
139
46

Deterjen
Aquades
NaCl fisiologi
Deterjen

3
11
12
13

16
202
611
115

B. Pembahasan
Telah dilakukan praktikum mengenai kontraksi otot jantung ikan pada berbagai
perlakuan, yaitu jantung ikan yang diberi perlakuan dengan larutan NaCl fisiologis,
aquades, dan deterjen. Dari praktikum ini terdapat perbedaan hasil dari setiap
perlakuan maupun antar Kelompok.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwajantung ikan
masih bisa berdetak walaupun berada di luar tubuh tanpa adanya jaringan sistem
saraf maka terbukti bahwa otot jantung adalah otot lurik dan bekerja tanpa sadar.
Jantung terus berdetak walaupun semua syaraf yang menuju ke jantung dipotong.
Hal ini disebabkan adanya jaringan permanen khusus dalam jantung yang
berfungsi membangkitkan potensial aksi yang berulang (pace maker). Otot jantung
ikan tetap berdetak meskipun jantung telah dikeluarkan dari tubuh ikan karena
ikan memiliki tipe jantung meogenik. Jantung miogenik denyutnya akan tetap
ritmis meskipun hubungan dengan syaraf diputuskan. Bahkan bila jantung diambil
selagi masih hidup dan ditaruh dalam larutan fisiologis yang sesuai akan tetap
berdenyut. Jantung miogenik terdapat pada jaringan otot jantung khusus yang
membuat simpul (nodal tissue) yang merupakan pacu jantung. Pada ikan letaknya
pada sinus venosus. Denyut jantung terjadi secara spontan dimulai dari simpul SA
lalu seluruh atrium berdenyut. Pada dasar sekat atrium terdapat simpul lain yang
menerima rangsang karena ada impuls dari simpul SA, simpul tersebut disebut
sebagai AV (atrio ventriculer). Dari simpul ini, impuls dilanjutkan melalui berkas
hiss dan purkinye yang serabutnya menyebar pada ventrikel kira dan kanan.
Dengan kemudian kedua ventrikel itu berdenyut bersama-sama (Affandi dan Tang
2002).
Dari setiap perlakuan tersebut dapat dirata-ratakan bahwa jantung ikan lebih lama
berdetak pada larutan NaCl fisiologis. Dan jantung ikan lebih sedikit berdetak pada
larutan deterjen. Hal ini karena pada larutan fisiologis terkandung bahan yang
komponenya lebih mirip dengan cairan yang ada pada tubuh ikan tersebut.
sehingga energi yang digunakan jantung lebih sedikit untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungan. sedangkan pada larutan berdeterjen berbeda dengan kondisi
cairan dalam tempat tinggal jantung sebelumnya sehingga jantung perlu
menyesuaikan diri kembali dengan lingkunganya. Akibatnya energi jantung banyak
digunakan dan bekerja lebih berat akhirnya daya tahan jantung lebih cepat habis.
jantung ikan terus dapat berdetak meskipun telah dikeluarkan hal ini karena
jantung bekerja dibawah kendali saraf otonom sehingga ikan sendiri tidak dapat
mengontrol kerja otot jantung. Faktor faktor yang mempengaruhi detak jantung
ikan diantaranya adalah ukuran jantung, suhu, cairan isoosmotik dengan jantung.
Fungsi larutan fisiologis diantaranya untuk mengetahui daya tahan maksimal
detak jantung diluar tubuh yang dimanipulasi sehingga mirip dengan didalam
tubuh ikan diantaranya seperti zat nutrisi, natrium oksigen dll (Fujaya, 1999).

Dari setiap hasil antar Kelompok terdapat perbedaan, hal tersebut dikarenakan
banyak factor, diantaranya adalah kesalahan penanganan yang dilakukan oleh
praktikan dan juga kondisi kesehatan ikan.Perbedaan tersebut terkadang juga
disebabkan perbedaan lamanya pembedahan setelah ikan dipingsankan dan
waktu pengambilan jantung ikan yang berbeda.
Fakta menunjukkan bahwa jantung ikan masih bisa tetap berdetak dalam
beberapa menit meskipun berada di luar tubuh. Lama bertahan jantung ikan di
luar tubuh berbeda-beda, tergantung ukuran ikan yang dijadikan sebagai bahan
praktikum, perlakuan yang diberikan, dan proses yang terjadi selama pembedahan
berlangsung.
Faktor-faktor yang mempengaruhi detak jantung ikan diantaranya energi yang
tersimpan di dalam jantung, dan juga perbedaan osmotik antara cairan di dalam
jantung dengan tekanan osmotik cairan di luar jantung (media
perlakuan) (Wulangi, 1998).
Denyut jantung terjadi secara spontan dimulai dari simpul SA lalu seluruh atrium
berdenyut. Pada dasar sekat atrium terdapat simpul lain yang menerima rangsang
karena ada impuls dari simpul SA, simpul tersebut disebut sebagai AV (atrio
ventriculer). Dari simpul ini, impuls dilanjutkan melalui berkas hiss dan purkinye
yang serabutnya menyebar pada ventrikel kiri dan kanan. Dan selanjutnya kedua
ventrikel itu berdenyut bersama-sama (Affandi dan Tang 2002).
Menurut Fujaya (2004) Untuk menjamin aliran darah terus berlangsung, maka
daerah dipompa dengan perbedaan tekanan. tekanan jantung lebih besar dari
tekanan arteri, dan tekanan arteri lebih besar dari tekanan arterionale, akibat
adanya perbedaan tekanan maka aliran darah dapat terjadi. Ada dua jenis energi
yang disalurkan ke darah pada setiap kontraksi jantung yaitu energi kinetik yang
menyebabkan darah mengalir dan energi yang tersimpan dalam pembuluh darah
dan menimbulkan tekanan darah. pada praktikum detak organ jantung terjadi
perbedaan antara banyak dan kekuatan detakan jantung.
Larutan fisiologis berfungsi seperti cairan infus yakni untuk mengkondisikan
seperti lingkungan yang sebenarnya. Kondisi larutan akan mempengaruhi lama
bertahannya detak jantung. Larutan fisiologis digunakan karena larutan ini mirip
dengan lingkungan dari jantung itu sendiri. Larutan fisiologis yang bersifat
hipoosmotis menyebabkan cairan dari larutan masuk ke sel-sel otot jantung
sehingga jantung menjadi mengembang. Sehingga cairan dalam sel mengalami
dialisis, yaitu pecahnya sel-sel jantung sehingga proses metabolisme dan kerja
jantung tergangggu. Larutan fisiologis yang bersifat hiperosmotik menyebabkan
cairan akan keluar dari sel-sel jantung secara difusi sehinnga jantung mengerut
dan berat jenisnya semakin besar dan akan mempengaruhi kerja otot jantung.
V.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum, maka dapat disimpulkan bahwa otot jantung ikan
tetap berdetak meskipun jantung telah dikeluarkan dari tubuh ikan karena ikan
memiliki tipe jantung meogenik. Otot jantung ikan adalah otot lurik yang bekerja
seperti otot polos. Ketahanan jantung ikan di luar tubuh lebih tahan pada larutan
NaCl fisiologis dibanding dengan aquades dan deterjen, hal tersebut karena NaCl
fisiologis memiliki kandungan yang hampir sama dengan cairan dalam tubuh.
B. Saran
Ada baiknya jika praktikum selanjutnya dilakukan dengan menggunakan beberapa
spesies ikan, dengan berbagai ukuran bobot sehinga dapat di jadikan
perbandingan antara spesies yang satu dengan spesies yang lainnya seberapa
lama jantung ikan dapat bertahan setelah dipisahkan dari tubuhnya. Ini dapat
bermanfaat untuk kita jika ingin melakukan pemindahan ikan dari wadah yang
satu dengan wadah yang lain tanpa harus menggunakan air sebagai media.
DAFTAR PUSTAKA
Affandi R dan Tang U.M. 2002.Fisiologi Hewan Air. Unri Press. Pekanbaru.
Anonim. 2011. http://www.duniakam pus.co.cc/11/. Diakses pada April 2013.
Djarijah, AS. 1995. Nila Merah Pembenihan dan Pembesaran Secara Intensif.
Kanisius. Yogyakarta.
Effendie, M. I. 1997. Biologi perkanan. Yayasan Pustaka nusantara. Yogyakarta. 163
hal.
Fatih , A. 2008. Kamus Kimia. Panji Pustaka Yogyakarta.
Fujaya, Y. 1999. Bahan Pengajaran Fisiologi Ikan. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan Universitas Hasanuddin. Makassar.
Fujaya, Y. 2004. Fisiologi Ikan. Rineka Cipta. Jakarta.
Rukmana R.1997.Ikan Nila. Budidaya dan Prospek Agribisnis. Kanisius. Yogyakarta.
Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Jilid I dan II. Bina Cipta.
Bandung.
Suyanto, SR. 1994. Nila. penebar swadaya. jakarta.
Wulangi. S kartolo. 1998. Prinsip-prinsip fisiologi Hewan. DepDikBud : Bandung.