Anda di halaman 1dari 10

1

BAB I
PENDAHULUAN

Kornea adalah selaput bening mata, tembus cahaya, dan merupakan


lapisan yang menutupi bola mata bagian depan. Kornea terdiri dari epitel,
membran bowman, stroma, membran descement dan endotel. Kornea dipersarafi
oleh banyak saraf sensoris, tetapi tidak memiliki pembuluh darah. Kornea
berfungsi untuk pembiasan sinar yang normalnya 30-40 Dioptri.1,2
Ulkus kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea akibat
kematian jaringan kornea. Terbentuknya ulkus kornea berhubungan erat dengan
ditemukannya kolagenase yang dibentuk oleh sel epitel baru dan sel radang.
Keadaan tersebut terjadi akibat erosi pada kornea dan terbatas pada lapisan terluar
kornea yang merupakan area tembus cahaya pada bagian anterior bola mata. Ulkus
kornea akan memberikan gejala mata merah, sakit mata ringan sampai berat,
fotofobia, penglihatan menurun kotor. Ulkus kornea akan memberikan kekeruhan
pada kornea dengan defek epitel yang bila diberi pewarna akan terwarnai hijau.1,2
Di Indonesia kekeruhan kornea masih merupakan masalah kesehatan mata
sebab kelainan ini menempati urutan kedua dalam penyebab utama kebutaan.
Kekeruhan kornea ini terutama disebabkan oleh infeksi mikroorganisme berupa
bakteri, jamur, dan virus dan bila terlambat didiagnosis atau diterapi secara tidak
tepat akan mengakibatkan kerusakan stroma dan meninggalkan jaringan parut
yang luas.3
Insiden ulkus kornea tahun 1993 adalah 5,3 juta per 100.000 penduduk di
Indonesia, sedangkan predisposisi terjadinya ulkus kornea antara lain terjadi
karena trauma, pemakaian lensa kontak, dan kadang-kadang tidak diketahui
penyebabnya.4
Pengobatan umumnya dengan medikamentosa untuk ulkus kornea adalah
dengan obat topikal, sistemik maupun subkonjungtiva sesuai agen penyebab

ditambahkan dengan sikloplegik, analgetik, dan roburantia. Pemilihan antibiotik


pada ulkus kornea bervariasi sesuai penyebabnya. Untuk itu perlu dilakukan
pemeriksaan kultur sekret dan kerokan ulkus agar dapat diketahui secara spesifik
kausa dari ulkus kornea ini sehingga dapat diberikan pengobatan yang tepat. Pada
ulkus kornea bakterial dapat diberikan antibiotik untuk mengurangi infeksi
bakteri, pada ulkus kornea virus akibat herpes virus dapat diberikan antivirus, dan
pada ulkus kornea jamur dapat diberikan antijamur. Tindakan pembedahan yang
dapat dilakukan seperti keratektomi, keratoplasti, dan transplantasi kornea.1,2,3,5
Berikut akan dilaporkan suatu kasus Pemilihan Antibiotik pada Ulkus
Kornea di RSU Prof. DR. Dr. R. D. Kandou.

BAB II
LAPORAN KASUS

Seorang penderita laki-laki, usia 21 tahun, suku Gorontalo, bangsa


Indonesia, agama Islam, pekerjaan TNI, alamat Akmil kema rarder teling bawah,
datang berobat di Poliklinik Mata RSU Prof. dr. R. D. Kandou pada tanggal 27
April 2015 dengan rujukan dari RS Robert Wolter Monginsidi Teling dengan
diagnosis Ulkus Kornea Perforasi OS + susp. Endoftalmitis + Prolaps Iris OS.
Riwayat penyakit sekarang, awalnya 2 minggu SMRS mata kiri pasien
terkena pasir ketika sedang membuat tugu, kemudian pasien membersihkan
dengan air keran. Lalu pasien meneteskan insto pada mata kiri, namun mata
pasien semakin sakit, kemudian pasien berobat ke RS Wolter Monginsidi Teling.
Pasien didiagnosis dengan keratokonjungtivitis kemudian dirawat jalan dan
diberikan obat tetes. 3 hari setelah itu pasien merasakan nyeri hebat pada mata kiri
tapi pasien tidak balik kontrol ke RS, 1 minggu kemudian pasien datang kontrol
ke RS teling dengan keluhan mata kiri merah, gatal, berair, dan terdapat sekret.
Kemudian pasien dirujuk ke RSU Prof.R.D.Kandou dengan diagnosis ulkus
kornea perforasi + susp.endoftalmitis + prolaps iris.
Riwayat penyakit diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung, penyakit
ginjal disangkal oleh penderita. Riwayat alergi obat dan penggunaan kacamata
sebelumnya disangkal.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan, pada status generalis keadaan umum
cukup, kesadaran kompos mentis, tekanan darah 130/90 mmHg, nadi 80 x/m,
respirasi 20 x/m, suhu badan 36,7C. Jantung dan paru dalam batas normal.
Abdomen datar, lemas, hepar dan lien tidak teraba adanya pembesaran. Pada
eksteremitas akral hangat, edema tidak ada. Kekuatan otot kesan normal,
sensibilitas baik, refleks fisiologis normal dan refleks patologis tidak ada. Status
psikiatri normal.

Pada pemeriksaan oftalmologis subyektif ketajaman penglihatan pada


mata kanan 6/6, mata kiri 2/60, sensasi warna baik, proyeksi cahaya pada ke-4
kuadran baik. Tekanan intraokuler mata kanan 17,3 mmHg dan mata kiri
normal/palpasi. Pergerakan kedua bola mata baik ke segala arah.
Pada pemeriksaan obyektif dari inspeksi pada mata kanan tidak ada
kelainan. Pada inspeksi mata kiri terlihat hiperemis konjungtiva, eksoftalmus
tidak ada, bilik mata kiri sukar dievaluasi, posisi bola mata normal, gerakan bola
mata baik, pada palpasi terdapat nyeri tekan.
Pada pemeriksaan kamar gelap dengan senter, Pada mata kanan tidak ada
kelainan. Pada mata kiri tampak kornea keruh, bilik mata depan keruh, iris
shadow tidak ada. Dengan pemeriksaan oftalmoskop pada mata kiri ditemukan
refleks fundus negatif
Dari pemeriksaan dengan slitlamp pada mata kiri ditemukan pada
daaerah palpebra: spasme (+), edema (+) dan hiperemis (+). Konjungtiva: kemosis
(+), injeksi konjungtiva (+), injeksi siliar (+). Kornea: ulkus sentral ukuran 4 x
1,5mm, 2/3 stroma, edema (+), perforasi (+). Camera oculi anterior (COA):
hipopion (+), iris prolaps. Pupil dan lensa sukar dievaluasi. Pada pemeriksaan
USG orbita mata kiri didapatkan gambaran vitritis.
Pasien didiagnosa dengan Ulkus kornea peroforasi OS, prolaps iris OS dan
endoftalmitis OS.
Pada penderita ini diberikan Injeksi Intravitreal Vancomycin (1mg/0,1ml)Ceftazidime (2mg/0,1ml), Ciprofloxacin tablet 2x750mg, sulfas atropin tetes mata
3x1 tetes pada mata kiri, fortified vancomycin-ceftadizime 1tetes / jam pada mata
kiri. Anjuran dilakukan keratoplasti mata kiri.
Prognosis pada pasien ini dibagi atas prognosis ad vitam yaitu dubia,
prognosis ad fungsionam yaitu dubia ad malam, dan prognosis ad sanationam
yaitu dubia.

BAB III
DISKUSI

Diagnosis pasien ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan


oftalmologi dan pemeriksaan penunjang.
Ulkus kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea akibat
kematian jaringan kornea.1 Pada anamnesis, didapatkan mata kiri merah sejak 1
minggu yang lalu. Sebelumnya mata kiri terkena pasir ketika sedang membuat
tugu, kemudian pasien membersihkannya dengan air keran. Selain itu penderita
juga merasa kalau mata kirinya sering keluar air mata, gatal, perih, terdapat sekret
hingga pandangannya menjadi kabur. Pada pemeriksaan oftalmologi, didapatkan
visus mata kiri 2/60, pada daaerah palpebra: spasme (+), edema (+) dan hiperemis
(+). Konjungtiva: kemosis (+), injeksi konjungtiva (+), injeksi siliar (+). Kornea:
ulkus sentral ukuran 4 x 1,5mm, 2/3 stroma, edema (+), perforasi (+). Camera
oculi anterior (COA): hipopion (+), iris prolaps. Pupil dan lensa sukar dievaluasi.
Hal diatas sesuai dengan kepustakaan yang menyebutkan bahwa pada
ulkus kornea akan memberikan gejala mata merah, terdapat sekret, merasa ada
benda asing dimata, pandangan kabur, mata berair, bintik putih pada kornea, silau,
dan nyeri. Tanda ulkus kornea pada pemeriksaan adalah terdapat injeksi silier,
kornea edema, hilangnya sebagian kornea dan adanya infiltrat, serta terdapat
hipopion.6
Penyebab ulkus kornea terbagi bagi menjadi 2 infeksi dan non infeksi.
Penyebab infeksi antara lain infeksi bakteri, yang paling tersering adalah P.
aeraginosa, streptococcus pneumonia dan spesies Moraxella. Penyebab ulkus
kornea 38,85% disebabkan oleh bakteri. Infeksi jamur yang paling tersering
disebabkan oleh candida, Fusarium, Aspergilus, Cephalosporium, dan spesies
mikosis fungoides. Penyebab ulkus kornea 40,65% disebabkan oleh jamur. Infeksi
virus tersering disebabkan oleh virus herpes simplex. Penyebab noninfeksi antara
lain bahan kimia, bersifat asam atau basa tergantung pH, radiasi atau suhu,

sinfrom Sjorgen, defisiensi vitamin A, obat-obatan, kelainan dari membran basal,


misalnya karena trauma, pajanan, neurotropik. Berdasarkan lokasi dikenal 2
bentuk ulkus kornea yaitu ulkus kornea sentral dan marginal atau perifer.6
Penatalaksanaan ulkus kornea harus dilakukan dengan pemberian terapi
yang tepat dan cepat sesuai dengan kultur serta hasil uji sensitivitas
mikroorganisme penyebab. Penatalaksanaan pada ulkus kornea pada dasarnya
penggunaan antibiotik karena penyebab dari ulkus kornea yang tersering yaitu
akibat infeksi bakteri. Pemilihan antibiotik harus sesuai penyebabnya atau yang
berspektrum luas, dapat diberikan berupa salep, tetes atau injeksi subkonjungtiva.
Pada ulkus sebaiknya tidak diberikan salep mata karena dapat memperlambat
pemnyembuhan dan dapat menimbulkan erosi kornea kembali.1,6
Pada pasien ini diberikan antibiotik injeksi vancomycin ceftazidim
intravitreal dan ciprofloxacin, karena antibiotik tersebut termasuk antibiotik
spektrum luas yang efektif terhadap bakteri gram negatif dan gram positif.
Antibiotik tersebut juga diberikan tanpa menunggu hasil kultur karena
keberhasilan pengobatan ditentukan oleh kecepatan penanganan infeksinya.
Pemilihan antibiotik pada ulkus kornea sesuai kepustakaan, yang
berspektrum luas seperti golongan quinolon yang bekerja menghambat DNAgirase dan efektif terhadap kuman gram negatif maupun positif. Golongan
sefalosporin juga efektif pada kuman bakteri gram negatif maupun positif dengan
cara kerja menghambat sintesis dinding sel mikroba.7
Pada pasien ini juga diberikan sulfas atropin tetes, Kebanyakan dipakai
sulfas atropin karena bekerja lama 1-2 minggu. Sulfas atropin berfungsi untuk
sedatif, dekongestif, menyebabkan paralysis M. siliaris dan M. konstriktor pupil.
Dengan lumpuhnya M. siliaris mata tidak mempunyai daya akomodsi sehingga
mata dalam keadaan istirahat. Dengan lumpuhnya M. konstriktor pupil, terjadi
midriasis sehinggga sinekia posterior yang ada dapat terlepas dan dapat mencegah
pembentukan sinekia posterior yang baru.6
Prognosis pada pasien ini dibagi atas prognosis ad vitam yaitu dubia

karena pada pasien dengan ulkus kornea dapat menyebabkan infeksi pada otak,
prognosis ad fungsionam dubia ad malam karena pada pasien ini fungsi dari mata
kirinya sudah tidak dapat berfungsi dengan normal, prognosis ad sanationam
dubia karena pada pasien tersebut sulit untuk pulih seperti semula.

BAB IV
PENUTUP

Ulkus kornea adalah keadaan patologik pada kornea yang ditandai dengan
adanya infiltrat supuratif disertai defek kornea bergaung dan diskontinuitas
jaringan yang terjadi dari epitel sampai stroma. Ulkus ini menunjukkan gambaran
hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan tersebut.1
Demikian telah dilaporkan suatu laporan kasus dengan judul Pemilihan
Antibiotik pada Ulkus Kornea, dari seorang penderita laki-laki, usia 21 tahun,
yang datang berobat ke Poliklinik Mata RSU Prof.Dr.R.D.Kandou Manado.
Diagnosis ulkus kornea pada kasus ini ditegakkan berdasarkan anamnesis
dan pemeriksaan status oftalmologi.
Gejala klinis pada ulkus kornea secara umum dapat berupa eritema pada
kelopak mata dan konjungtiva, sekret mukopurulen, merasa ada neda asing di
mata, pandangan kabur, mata berair, bintik putih pada kornea sesuai lokasi ulkus,
silau, nyeri, injeksi silier, edema kornea, hilangnya sebagian kornea dan adanya
infiltran, serta hipopion.1,6
Tujuan pengobatan ulkus kornea adalah mengeliminasi penyebab dasarnya
dan mengurangi nyeri. Penyebab tersering ulkus kornea adalah infeksi bakteri.
Adapun pengobatan ulkus kornea bervariasi menurut penyebab (bakterial, viral,
Acanthamoeba, fungal), yang meliputi medikamentosa seperti pemberian
antibiotika topikal maupun sistemik, anti viral, anti fungal topikal maupun
sistemik, sikloplegik, anti nyeri, roburantia dan pembedahan.5 Pemilihan antibiotik
yang tepat pada kasus ulkus kornea harus sesuai penyebabnya dan pemberian
antibiotik berspektrum luas yang dapat efektif pada bakteri gram negatif maupun
positif dapat diberikan tanpa menunggu hasi kultur karena keberhasilan
pengobatan ditentukan oleh kecepatan penanganan infeksinya.6

Prognosis pada pasien ini dibagi atas prognosis ad vitam yaitu dubia
karena pada pasien dengan ulkus kornea dapat menyebabkan infeksi pada otak,
prognosis ad fungsionam dubia ad malam karena pada pasien ini fungsi dari mata
kirinya sudah tidak dapat berfungsi dengan normal, prognosis ad sanationam
dubia karena pada pasien tersebut sulit untuk pulih seperti semula, tetapi perlu
dilakukan evaluasi secara berkala untuk melihat perkembangan proses
penyembuhan.

10

DAFTAR PUSTAKA
1. Wijaya N. Kornea dalam Ilmu Penyakit Mata, cetakan ke-6. Jakarta:

Universitas Diponegoro; 2005.


2. American Academy of Ophthalmology. Basic and Clinical Science Course.
External Disease and Cornea. San Francisco; 2005-6:174-5.
3. Ilyas, S. Mata merah dengan PenglihatanTturun Mendadak. Dalam: Ilmu

Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas


Indonesia; 2009:175-176.
4. Perhimpunan Dokter Spesislis Mata Indonesia, Ulkus Kornea dalam : Ilmu

Penyakit Mata Untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran, edisi ke 2.


Jakarta: Sagung Seto; 2002.
5. Unknown. Coneal ulcers. Available from URL: http://wrongdiagnosis.com/c/
cornealulcer/book-diseases-12a.htm. Accessed May 10, 2015.
6. Farida Y. Corneal Ulcers Treatment. Vol 4 Nomor 1. Lampung: Fakultas
Kedokteran Universitas Lampung; 2015:119-127.
7. Cosgrove SE, Avdic E, Dzintars K. Antibiotics Guidelines 2014-2015.
Maryland: John Hopkins Medicine; 2014.