Anda di halaman 1dari 16

SEPUTAR UU NO.

11 TAHUN 2008
TENTANG INFORMASI DAN
TRANSAKSI ELEKTRONIK
(UU ITE)
BUKU PANDUAN UNTUK MEMAHAMI
UU NO.11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI
DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK

DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA


JL. MEDAN MERDEKA BARAT JAKARTA PUSAT 10110
www.depkominfo.go.id

KATA PENGANTAR
Sulit dibayangkan, bagaimana ketika banyak masyarakat Indonesia menggunakan internet
untuk menjalankan usaha dan transaksi elektronik merupakan bagian dari itu, sementara
kehidupan kita tanpa internet.
Inilah salah satu hal yang mendasari lahirnya UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi
dan Transaksi Elektronik (ITE), yang telah ditandatangan oleh Presiden RI Susilo Bambang
Yudhoyono, pada 21 April 2008 lalu, yang sebelumnya pada 25 Maret 2008 ditelah disetujui
oleh DPR, sebagai upaya untuk menyediakan payung hukum bagi kegiatan ekonomi global.
Opini publik yang berkembang saat ini, diperluas oleh liputan media dan komentar, banyak
menyoroti perihal pelarangan oleh undang-undang ini terhadap akses situs web pornografi.
Padahal hal itu bukanlah satu-satunya yang paling penting dalam UU ini. UU ITE lebih
menekankan pada segi penjaminan dan pengesahan transaksi elektronik guna melindungi
masyarakat pengguna internet.
Didorong untuk memberikan pemahaman terhadap UU ITE, maka disusunlah Buku
Panduan Seputar UU ITE, agar masyarakat luas setidaknya (i) dapat memahami bagaimana
proses RUU ITE hingga ditetapkannya menjadi UU; (ii) memberikan dukungan kepada
peraturan-peraturan yang akan ditetapkan kemudian untuk menjamin transaksi elektronik,
beserta implikasinya bagi ekonomi di masa datang.
Semoga bermanfaat.
Jakarta, 28 April 2008
Direktur Jenderal Aplikasi Telematika

Cahyana Ahmadjayadi

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
I.

PENDAHULUAN
A. Urgensi RUU ITE
B. Kronologis RUU ITE

II.

PROSES PEMBAHASAN RUU ITE


A. Pembentukan Pansus dan RDPU
B. Rapat-Rapat Pansus, Panja dan Timmus/Timsin
C. Pleno Pansus dan Rapat Paripurna Dewan

III.

PENGERTIAN DAN CAKUPAN MATERI UU ITE


A. Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik
B. Transaksi Elektronik
C. Tanda tangan elektronik
D. Certification Authority
E. Nama Domain
F. HaKI
G. Data Pribadi (Privasi)
H. Perbuatan Dilarang dan Ketentuan Pidana
I. Peraturan Pemerintah ITE

IV.

TANYA JAWAB SEPUTAR UU ITE

BAB I
PENDAHULUAN
A. Urgensi UU ITE
Pemanfaatan Teknologi Informasi (TI) saat ini merupakan bagian penting dari aktivitas
masyarakat dan pemerintah. Ini terbukti makin meluasnya penggunaan TI di berbagai
sektor, seperti e-banking, e-government, e-procurement serta transaksi-transaksi lainnya,
disamping untuk kepentingan riset ilmu pengetahuan dan pengembangan teknologi.
Kehadiran UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
akan memberikan manfaat, beberapa diantaranya; (i) menjamin kepastian hukum bagi
masyarakat yang melakukan transaksi secara elektronik; (ii) mendorong pertumbuhan
ekonomi Indonesia; (iii) sebagai salah satu upaya untuk mencegah terjadinya kejahatan
berbasis teknologi informasi; (iv) melindungi masyarakat pengguna jasa dengan
memanfaatkan teknologi informasi.
Beberapa terobosan penting yang dimiliki UU ITE antara lain; tanda tangan elektronik
diakui memiliki kekuatan hukum sama dengan tandatangan konvesional (tinta basah dan
materai); alat bukti elektronik diakui seperti alat bukti lainnya yang diatur dalam
KUHAP; UU ITE berlaku untuk tiap orang yang melakukan perbuatan hukum, baik
berada di wilayah Indonesia maupun di luar Indonesia, yang memiliki akibat hukum di
Indonesia; penyelesaian sengketa juga dapat diselesaikan dengan metode penyelesaian
sengketa alternatif atau arbitrase.
B. Kronologis UU ITE
UU ITE mulai dirancang sejak Maret 2003 oleh Kementerian Negara Komunikasi dan
Informasi (Kominfo) dengan nama Rancangan Undang Undang Informasi Elektronik
dan Transaksi Elektronik (RUU-IETE). Semula UU ini dinamakan Rancangan Undang
Undang Informasi Komunikasi dan Transaksi Elektronik (RUU IKTE) yang disusun
Ditjen Pos dan Telekomunikasi - Departemen Perhubungan serta Departemen
Perindustrian dan Perdagangan, bekerja sama dengan Tim dari Fakultas Hukum
Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Tim Asistensi dari ITB, serta Lembaga Kajian
Hukum dan Teknologi Universitas Indonesia (UI).
Setelah Departemen Komunikasi dan Informatika terbentuk berdasarkan Peraturan
Presiden RI No 9 Tahun 2005, tindak lanjut usulan UU ini kembali digulirkan. Pada 5
September, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
melalui surat No.
R./70/Pres/9/2005 menyampaikan naskah RUU ini secara resmi kepada DPR RI.
Bersamaan dengan itu, pemerintah melalui Departemen Komunikasi dan Informatika
membentuk Tim Antar Departemen Dalam rangka Pembahasan RUU Antara
Pemerintah dan DPR RI dengan Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika No.
83/KEP/M.KOMINFO/10/2005 tanggal 24 Oktober 2005 yang kemudian
disempurnakan dengan Keputusan Menteri No.: 10/KEP/M.Kominfo/01/2007

tanggal 23 Januari 2007 dengan Pengarah: Menteri Komunikasi dan Informatika,


Menteri Hukum dan HAM, Menteri Sekretaris Negara, dan Sekretaris Jenderal
Depkominfo. Ketua Pelaksana Ir. Cahyana Ahmadjayadi, Dirjen Aplikasi Telematika
Depkominfo, Wakil Ketua Pelaksana I: Dirjen Peraturan Perundang-undangan
Departemen Hukum dan HAM dan Wakil Ketua Pelaksana II: Staf Ahli Menteri
Komunikasi dan Informatika Bidang Hukum.

BAB II
PROSES PEMBAHASAN UU ITE
A. Pembentukan Pansus dan RDPU
Merespon surat Presiden No. R./70/Pres/9/2005, DPR membentuk Panitia
Khusus (Pansus) RUU ITE yang awalnya diketuai oleh R.K. Sembiring Meliala
(FPDIP) untuk selanjutnya digantikan oleh Suparlan, SH (FPDIP). Pansus DPR
beranggotakan 50 orang dari 10 (sepuluh) fraksi yang ada di DPR.
Pansus mulai bekerja sejak 17 Mei 2006 hingga 13 Juli 2006 dengan menggelar
Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan berbagai pihak sebanyak 13 kali;
antara lain operator telekomunikasi, perbankan, aparat penegak hukum, dan
kalangan akademisi, serta Lembaga Sandi Negara.
Setelah menyelesaikan RDPU dengan 13 institusi, pada Desember 2006 Pansus
DPR RI menetapkan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM). Ada 287 DIM yang
berasal dari 10 fraksi yang tergabung dalam Pansus.
B. Rapat Pansus, Panja, dan Timus-Timsin
Pembahasan DIM RUU ITE antara Pansus DPR dengan Pemerintah (Tim Antar
Departemen Pembahasan RUU ITE) mulai dilaksanakan pada 24 Januari 2007 di
Ruang Komisi I DPR. Pembahasan dilakukan sekali dalam seminggu (Rabu atau
Kamis) sesuai undangan DPR.
Pada pembahasan RUU ITE tahap Pansus, sesuai ketentuan, Pemerintah diwakili
oleh Menteri Komunikasi dan Informatika atau Menteri Hukum dan HAM serta
didampingi anggota Tim Antar Departemen Pembahasan RUU ITE. Rapat Pansus
yang dilaksanakan sejak 24 Januari hingga 6 Juni 2007, dilakukan sebanyak 17 kali
dan berhasil membahas seluruh DIM
Setelah Pansus, pembahasan dilakukan pada tahap Panitia Kerja (Panja),
berlangsung mulai 29 Juni 2007 sampai 31 Januari 2008, dengan jumlah rapat
sebanyak 23 kali. Selesai Rapat Panja, pembahasan dilanjutkan pada tahap Tim
Perumus (Timus) dan Tim Sinkronisasi (Timsin) yang berlangsung sejak 13 Februari
sampai 13 Maret 2008 dengan jumlah rapat sebanyak 5 kali.
C. Rapat Pleno Pansus dan Paripurna Dewan
Tahap selanjutnya setelah Rapat Pansus, Panja, dan Timus-Timsin dilalui, digelar
Rapat Pleno Pansus RUU ITE dilakukan untuk pengambilan keputusan tingkat
pertama terhadap naskah akhir RUU ITE. Ini dilangsungkan pada 18 Maret 2008,
dan hasilnya menyetujui RUU ITE dibawa ke pengambilan keputusan tingkat II.

Pada Rapat Paripurna DPR RI, tanggal 25 Maret 2008, 10 Fraksi sepakat menyetujui
RUU ITE ditetapkan menjadi Undang-Undang untuk selanjutnya dikirim ke
Presiden untuk ditandatangani.

BAB III
PENGERTIAN DAN CAKUPAN MATERI UU ITE
A. Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik
Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi
tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data
interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau
sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah
yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.
Dokumen Elektronik adalah setiap Informasi Elektronik yang dibuat, diteruskan,
dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik,
optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui
Komputer atau Sistem Elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara,
gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses,
simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang
yang mampu memahaminya.
B. Transaksi Elektronik
Transaksi Elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan
komputer, jaringan komputer, dan/atau media elektronik lainnya.
C. Tanda Tangan Elektronik
Tanda Tangan Elektronik adalah tanda tangan yang terdiri atas informasi elektronik
yang dilekatkan, terasosiasi atau terkait dengan informasi elektronik lainnya yang
digunakan sebagai alat verifikasi dan autentifikasi.
D. Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (Certification Authority)
Certification Authority atau Penyelenggara Sertifikasi Elektronik adalah badan
hukum yang berfungsi sebagai pihak yang layak dipercaya, yang memberikan dan
mengaudit Sertifikat Elektronik.
E. Nama Domain
Nama Domain adalah alamat internet penyelenggara negara, orang, badan usaha,
dan/atau masyarakat, yang dapat digunakan dalam berkomunikasi melalui internet,
yang berupa kode atau susunan karakter yang bersifat unik untuk menunjukkan
lokasi tertentu dalam internet.
F. HaKI
Informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang disusun menjadi karya
intelektual, situs internet, dan karya intelektual yang ada di dalamnya dilindungi

sebagai Hak Kekayaan Intelektual berdasarkan ketentuan Peraturan Perundangundangan (Pasal 25 UU ITE).
G. Data Pribadi (Privasi)
Penggunaan tiap informasi melalui media elektronik yang menyangkut data pribadi
seseorang harus dilakukan atas persetujuan orang yang bersangkutan, kecuali
ditentukan lain oleh Peraturan Perundang-undangan,
H. Perbuatan Dilarang dan Ketentuan Pidana
1.

Indecent Materials/Illegal Content (Konten Ilegal)


Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan,
mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik
dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar
kesusilaan, perjudian, pencemaran nama baik serta pemerasan, pengancaman,
serta yang menimbulkan rasa kebencian berdasarkan atas SARA serta yang
berisi ancaman kekerasan. (Pasal 27, 28 dan 29 UU ITE).
Setiap orang yang melanggar ketentuan Pasal 27, 28 dan 29 UU ITE, dipidana
dengan pidana penjara paling lama 6 hingga 12 tahun dan/atau denda antara
Rp 1 miliar hingga Rp 2 miliar. (Pasal 45 UU ITE).

2.

Illegal Access (Akses Ilegal)


Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses
Komputer dan/atau Sistem Elektronik milik orang lain dengan cara apa pun
untuk memperoleh Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik serta
melanggar, menerobos, melampaui, atau menjebol sistem pengamanan (Pasal
30 UU ITE).
Setiap orang yang melanggar ketentuan Pasal 30 UU ITE, dipidana dengan
pidana penjara paling lama 6 hingga 8 tahun dan/atau denda antara Rp 600
juta hingga Rp 800 ratus juta (Pasal 46 UU ITE).

3.

Illegal Interception (Penyadapan Ilegal)


Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak melakukan intersepsi atas
Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dalam suatu Sistem
Elektronik tertentu milik orang lain, baik yang tidak menyebabkan perubahan
apa pun maupun yang menyebabkan adanya perubahan, penghilangan,
dan/atau penghentian Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik
yang sedang ditransmisikan (Pasal 31 UU ITE).
Setiap orang yang melanggar ketentuan pasal 31 UU ITE, dipidana dengan
pidana penjara paling lama 10 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 800
juta (Pasal 47 UU ITE).

4.

Data Interference (Gangguan Data)


Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mengubah, menambah,
mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan,
menyembunyikan, memindahkan atau mentransfer suatu Informasi Elektronik
dan/atau Dokumen Elektronik milik Orang lain atau milik publik kepada
Sistem Elektronik Orang lain yang tidak berhak, sehingga mengakibatkan
terbukanya suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang
bersifat rahasia menjadi dapat diakses oleh publik dengan keutuhan data yang
tidak sebagaimana mestinya (Pasal 32 UU ITE).
Setiap orang yang melanggar ketentuan Pasal 32 UU ITE, dipidana dengan
pidana penjara paling lama 8 hingga 10 tahun dan/atau denda antara Rp
miliar hingga Rp 5 miliar (Pasal 48 UU ITE).

5.

System Interference (Gangguan Sistem)


Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak melakukan tindakan apa pun yang
berakibat terganggunya Sistem Elektronik dan/atau mengakibatkan Sistem
Elektronik menjadi tidak bekerja sebagaimana mestinya (Pasal 33 UU ITE).
Setiap orang yang melanggar ketentuan pasal 33 UU ITE, dipidana dengan
pidana penjara paling lama 10 tahun dan/atau denda paling banyak Rp10
miliar rupiah. (Pasal 49 UU ITE)

6.

Misuse of devices (Penyalahgunaan Perangkat)


Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak memproduksi, menjual,
mengadakan untuk digunakan, mengimpor, mendistribusikan, menyediakan,
atau memiliki perangkat keras atau perangkat lunak komputer yang dirancang
atau secara khusus dikembangkan untuk memfasilitasi perbuatan yang dilarang
dan sandi lewat Komputer, Kode Akses, atau hal yang sejenis dengan itu, yang
ditujukan agar Sistem Elektronik menjadi dapat diakses dengan tujuan
memfasilitasi perbuatan yang dilarang (Pasal 34 UU ITE)
Setiap orang yang melanggar ketentuan Pasal 34 UU ITE, dipidana dengan
pidana penjara paling lama 10 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 10
miliar (Pasal 50 UU ITE).

7.

Computer related fraud & forgery (Penipuan dan Pemalsuan yang


berkaitan dengan Komputer)
Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak melakukan manipulasi, penciptaan,
perubahan, penghilangan, pengrusakan Informasi Elektronik dan/atau
Dokumen Elektronik dengan tujuan agar Informasi Elektronik dan/atau
Dokumen Elektronik tersebut dianggap seolah-olah data yang otentik (Pasal
35 UU ITE)

Setiap orang yang melanggar ketentuan pasal 35 UU ITE, dipidana dengan


pidana penjara paling lama 12 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 12
miliar (Pasal 51 UU ITE).
I. Peraturan Pemerintah (PP) ITE
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

PP tentang Lembaga Sertifikasi Keandalan (Psl 10 RUU ITE)


PP tentang Tanda Tangan Elektronik (Psl 11 RUU ITE)
PP tentang Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (Psl 13 RUU ITE)
PP tentang Penyelenggaraan Sistem Elektronik (Psl 16 RUU ITE)
PP tentang Transaksi Elektronik (Psl 17 RUU ITE)
PP tentang Penyelenggara Agen Elektronik (Psl 22 RUU ITE)
PP tentang Pengelola Nama Domain (Psl 24 RUU ITE)
PP tentang Lawful Interception (Psl 31 RUU ITE)
PP tentang Lembaga Data Strategis (Psl 40 RUU ITE)

Selanjutnya dari 9 PP tersebut akan dikelompokkan menjadi 3 RPP, yaitu :


1. PP tentang Penyelenggaraan Informasi dan Transaksi Elektronik, yang terdiri
dari Chapter/Bab :
a. Lembaga Sertifikasi Keandalan
b. Tanda Tangan Elektronik
c. Penyelenggaraan Sertifikasi Elektronik
d. Penyelenggaraan Sistem Elektronik
e. Transaksi Elektronik
f. Penyelenggara Agen Elektronik
g. Pengelola Nama Domain
2. PP tentang Perlindungan Data Strategis
3. PP tentang Lawful Interception/Penyadapan Ilegal

BAB IV
TANYA JAWAB SEPUTAR UU ITE
A. Aspek Hukum
Tanya : Bila dilihat dari content UU ITE, apakah semua hal penting sudah diakomodir dan
diatur dalam UU tersebut?
Jawab: UU ITE sudah cukup komprehensif mengatur informasi elektronik dan
transaksi elektronik. Mari kita lihat beberapa cakupan materi UU ITE yang
merupakan terobosan baru. UU ITE mengakui tanda tangan elektronik
memiliki kekuatan hukum yang sama dengan tandatangan konvesional (tinta
basah dan materai), alat bukti elektronik diakui seperti alat bukti lainnya yang
diatur dalam KUHAP, UU ITE berlaku untuk tiap orang yang melakukan
perbuatan hukum baik yang berada di wilayah Indonesia maupun di luar
Indonesia, yang memiliki akibat hukum di Indonesia; penyelesaian sengketa
juga dapat diselesaiakan dengan metode penyelesaian sengketa alternatif atau
arbitrase. Setidaknya akan ada sembilan Peraturan Pemerintah sebagai
peraturan pelaksana UU ITE.
Tanya : Pasal 5-22 mengatur transaksi elektronik. Apakah itu bisa berjalan dengan baik?
Mohon penjelasan.
Jawab: Pasal 5 sampai dengan Pasal 22 UU ITE tidak hanya mengatur transaksi
elektronik, tapi juga mengatur informasi elektronik, dokumen elektronik,
tanda tangan elektronik, sertifikat elektronik, sistem elektronik,
penyelenggaraan sistem elektronik dan juga penyelenggaraan sertifikasi
elektronik. Dengan kerjasama semua stakeholder, baik pemerintah maupun
swasta, penegakan hukum atas UU ITE ini bisa berjalan baik. Perlu diingat,
kegiatan transaksi elektronik sudah berlangsung jauh sebelum ada UU ITE.
UU ITE hadir untuk menjadi payung hukum bagi kegiatan itu, sehingga tiap
terjadi masalah atau konflik antara pelaku transaksi elektronik,
penyelesaiannya dapat merujuk pada UU ITE.
Tanya : Maraknya carding atau pencurian kartu kredit di internet berasal dari Indonesia, karena
itu kemungkinan Indonesia dipercaya oleh komunitas trust internasional menjadi
sangat kecil. Apakah hal ini akan menghambat implementasi Pasal 5-22?
Jawab: Justru sebaliknya, dengan hadirnya UU ITE, diharapkan bisa mengurangi
terjadinya praktik carding di dunia maya. Dengan adanya UU ITE ini, para
pengguna kartu kredit di internet dari negara kita tidak akan di-black list oleh
toko-toko online luar negeri. Sebab situs-situs seperti www.amazon.com
selama ini masih mem-back list kartu-kartu kredit yang diterbitkan Indonesia,
karena mereka menilai kita belum memiliki cyber law. Nah, dengan adanya UU
ITE sebagai cyber law pertama di negeri ini, negara lain menjadi lebih percaya
atau trust kepada kita.

Tanya : Dalam Bab VII: Perbuatan yang dilarang pasal 27-37, semua Pasal menggunakan
kalimat, Setiap orang..... dan seterusnya. Padahal perbuatan yang dilarang seperti:
spam, penipuan, cracking, virus, flooding, sebagian besar akan dilakukan oleh mesin olah
program, bukan langsung oleh manusia. Apakah hal ini merupakan kelemahan?
Jawab :Ini bukanlah kelemahan. Sebab di belakang mesin olah program yang
menyebarkan spam, penipuan, cracking, virus, flooding atau tindakan
merusak lainnya tetap ada manusianya, the man behind the machine. Jadi kita tak
mungkin menghukum mesinnya, tapi orang yang berada di belakang mesin
itu.
Tanya : Mengacu pada pasal 27-37, hanya akan ditangkap Orang Yang Menyebar Virus.
Tapi tampaknya bukan pembuat virus. Apakah ini merupakan kelemahan juga? Dan
bagaimana sebaiknya menyikapinya?
Jawab: Logikanya sederhana, virus tak akan merusak sistem komputer atau sistem
elektonik jika tidak disebarkan melalui sistem elektronik. Artinya, jika sampai
virus itu disebarkan, maka si penyebar virus itu yang akan dikenakan delik
pidana. Tentu hal ini harus dibuktikan di pengadilan, apakah si penyebar
virus itu melakukan dengan sengaja dan tanpa hak.
Tanya : Sebagian besar, situs porno yang diakses oleh pengguna internet Indonesia bearda di luar
negeri, walau mungkin sebagian gambarnya dari Indonesia. Lantas, apakah secara
hukum memungkinkan menjalankan hukum Indonesia ke situs yang lokasinya di server
di luar Indonesia?
Jawab: Secara hukum, sangat memungkinkan. Coba perhatikan bunyi Pasal 2 UU
ITE. Undang-Undang ITE berlaku untuk setiap orang yang melakukan
perbuatan hukum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, baik yang
berada di wilayah hukum Indonesia maupun di luar wilayah hukum
Indonesia, yang memiliki akibat hukum di wilayah hukum Indonesia
dan/atau di luar wilayah hukum Indonesia dan merugikan kepentingan
Indonesia. Artinya UU ITE telah memberikan kita ruang untuk menegakkan
hukum bidang TIK ini dengan menerapkan asas extrateritorial jurisdiction. Asas
inilah yang menjadi salah satu terobosan penting UU ITE.
Tanya : Konsep kerja software anti pornografi adalah melakukan intersepsi trafik yang lewat.
Ironisnya, intersepsi termasuk tindakan melanggar hukum berdasarkan Pasal 31.
Bagaimana?
Jawab: Benar tindakan intersepsi atau penyadapan terhadap informasi dan/atau
dokumen elektronik adalah tindakan melawan hukum sebagaimana
diamanatkan oleh Pasal 31 ayat (1) UU ITE. Intersepsi hanya bisa dalam
rangka penegakan hukum atas permintaan kepolisian, kejaksaan, dan/atau
institusi penegak hukum lainnya yang ditetapkan berdasarkan undang-undang.
(Pasal 31 ayat (3) UU ITE.

Kebijakan melakukan filter atau penyaringan terhadap konten pornografi di


internet tidak termasuk dalam tindakan intersepsi yang Saudara maksudkan.
Kita sepakat bahwa pornografi adalah kejahatan, dan karena itu harus ada
perlindungan hukum, terutama kepada anak-anak. Jadi bedakan kebijakan
membatasi konten porno dengan intersepsi informasi elektonik. Untuk
diketahui, terkait penyadapan, akan diatur lebih lanjut dalam salah satu
Peraturan Pemeirntah.
Tanya : Setelah diluncurkan UU ITE, apa sebaiknya yang harus dilakukan pemerintah kepada
seluruh pelaku Teknologi Informasi agar produk hukum ini tidak disalahgunakan oleh
pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab?
Jawab: Untuk mencegah kesalahan dalam memahami cakupan materi dan dasar
filosofis, yuridis serta sosiologis dari UU ITE ini, Departemen Komunikasi
dan Informatika akan melakukan kegiatan diseminasi informasi kepada
seluruh masyarakat, baik lewat media, maupun kegiatan sosialisasi ke daerahdaerah.
Tanya : Lantas, bagaimana melakukan proses edukasi kepada masyarakat?
Jawab : Edukasi kepada masyarakat dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya
dengan menkampanyekan internet sehat lewat media, membagikan software
untuk memfilter situs-situs bermuatan porno dan kekerasan.
Tanya : Menyikapi berbagai kekurangan UU ITE, apa yang harus dilakukan agar tidak
mengganggu aktivitas/ transaksi di dunia maya, bisa melindungi user serta menjaga
budaya bangsa?
Jawab: Kita belum bisa menilai apakah UU ITE ini kurang. Kita butuh waktu untuk
melihat penegakannya nanti. Yang pasti, beberapa hal yang belum secara
spesifik diatur dalam UU ITE, akan diatur dalam Peraturan Pemerintah, juga
peraturan perundang-undangan lainnya.
Tanya : Secara keseluruhan, apakah UU ITE menjawab permasalahan terkait dunia aktivitas/
transaksi di dunia maya?
Jawab: Ya benar, sebab selama ini banyak orang ragu melakukan transaksi elektronik
di dunia maya karena khawatir belum dilindungi oleh hukum. Hal yang paling
penting dalam kegiatan transaksi elektronik, adalah diakuinya tanda tangan
elektronik sebagai alat bukti yang sah dalam proses hukum. Jadi seluruh
pelaku transaksi elektronik akan terlindungi.
Tanya : Dalam Pasal 43 Ayat (3) dinyatakan: Penggeledahan dan/atau penyitaan terhadap
sistem elektronik yang terkait dengan dugaan tindak pidana harus dilakukan atas izin
ketua pengadilan negeri setempat, bagaimana jika ada operasi yang dilakukan oleh pihak
kepolisian yang tanpa dilengkapi izin, apakah kami perlu menolak?

Jawab: Pelaksanaan penggeledahan dan/atau penyitaan sebagai upaya paksa yang


diatur di dalam UU ITE harus memenuhi ketentuan yang diatur dalam UU
ITE dan KUHAP (Pasal 42 UU ITE). Kemudian pada prinsipnya upaya
paksa adalah tindakan penyidik yang bersifat memaksa orang lain untuk
melakukan hal tertentu, sehingga dengan sendirinya upaya tersebut berpotensi
melanggar hak azasi seseorang, namun tindakan tersebut dibenarkan secara
hukum sepanjang dilakukan oleh aparat untuk melakukan penegakan hukum.
Oleh karena itu, untuk mencegah penyalahgunaan kewenangan tersebut,
undang-undang memberikan batas-batas dalam melakukan upaya paksa
tersebut.
Perlunya izin dalam melakukan penggeledahan dan/atau penyitaan
sebagaimana diatur di dalam UU ITE adalah selaras dan melengkapi
ketentuan dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. Selain
memerlukan izin ketua pengadilan negeri setempat, pelaksanaan upaya paksa
sebagaimana diatur di dalam KUHAP juga harus, antara lain, (i) disaksikan
oleh minimal dua orang saksi dan (ii) dibuat berita acara atas penggeledahan
dan/atau penyitaan tersebut. (Pasal 34 ayat (1) KUHAP).
Akan tetapi, KUHAP mengatur bahwa penggeledahan dan/atau penyitaan
dapat dilakukan tanpa ada surat izin ketua pengadilan apabila: (i) dalam
keadaan yang sangat perlu dan mendesak, (ii) penyidik harus segera bertindak,
(iii) tidak mungkin untuk mendapatkan surat izin terlebih dahulu. (Pasal 34
ayat (2) dan Pasal 38 ayat (2) KUHAP) Karena UU ITE tidak mengatur hal ini
dengan tegas, maka ketentuan KUHAP, seperti Pasal 34 dan Pasal 38, juga
berlaku terhadap penggeledahan dan/atau penyitaan yang diatur di dalam UU
ITE.
Jika Penyidik melakukan penggeledahan dan/atau penyitaan tanpa mematuhi
ketentuan tersebut, maka tiap pihak terkena upaya paksa dapat menolak, dan
jika penyidik tetap melakukannya pihak itu dapat mengajukan upaya hukum
pra peradilan (Pasal 95 jo. Penjelasan Pasal 95 KUHAP) Sebab dapat
dikatakan bahwa penyitaan tanpa wewenang sama dengan pencurian.
Tanya : Sebagai pemilik Warnet, apakah kami akan dikenai hukuman atau sanksi jika ada
seorang pengguna (user) mengakses situs porno yang memang dilarang sebagaimana
dinyatakan dalam Pasal 27 ayat (1)?
Jawab: Pada dasarnya Orang yang diancam berdasarkan Pasal 27 UU ITE adalah
Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan,
mentransmisikan, dan/atau membuat dapat diakses nya Informasi dan/atau
Dokumen Elektronik.
Akan tetapi dalam hukum pidana di Indonesia dikenal konsep perbuatan turut
serta. Artinya jika pemilik Warnet tidak melakukan pengamanan dan
pencegahan semaksimal mungkin agar tidak terjadi pendistribusian,
pentransmisian dan/atau pemberian akses terhadap situs porno, maka pemilik

warnet dapat dikenai pasal tersebut dengan dasar perbuatan turut serta atas
tindak pidana tersebut. Pada sisi yang lain, Pemilik warnet menjadi tidak dapat
dikenai Pasal 27 ayat (1) jika mereka telah melakukan pengamanan semaksimal
mungkin, sehingga tidak terpenuhi 'unsur kesengajaan' itu.
Tanya: Sebagai pengelola Warnet, kami berusaha untuk berbisnis sesuai aturan, pertanyaannya,
apakah kami akan menerima sanksi atau hukuman jika oleh karena ulah pelanggan
yang setelah men-down load situs-situs negatif dan meletakkannya pada server atau
hardisk lokal kami, kemudian Warnet kami terjaring operasi oleh pihak berwajib?
Jawab:

Sebagaimana telah diuraikan dalam jawaban sebelumnya, pada dasarnya


Orang yang diancam dengan UU ITE adalah Orang yang dengan sengaja dan
tanpa hak melakukan perbuatan yang dilarang dalam UU ITE. Akan tetapi
UU ITE mengenal konsep perbuatan turut serta. Artinya jika Pemilik Warnet
tidak melakukan pengamanan dan pencegahan semaksimal mungkin agar
perbuatan yang dilarang tersebut tidak terjadi, Orang itu dikenai pasal
perbuatan yang dilarang itu dengan dasar perbuatan turut serta. Ini juga
berarti bahwa pemilik Warnet tidak dapat dikenai Pasal perbuatan yang
dilarang jika telah melakukan pengamanan semaksimal mungkin, karena tidak
terjadi atas pengetahuan dan kehendaknya.

Tanya : Pada akhir Desember 2007 lalu, tempat usaha Warnet rekan kami dioperasi polisi dan
beberapa perangkatnya disita, sementara dalam UU ITE, penyitaan dapat dilakukan
hanya dengan peng-copy hardisk, apakah UU ITE berlaku surut, sehingga rekan kami
bisa mengambil perangkatnya yang disita untuk keperluan usaha saat ini?
Jawab: UU ITE tidak berlaku surut sebagaimana diatur pada Pasal 54 undang-undang
ITE.

Anda mungkin juga menyukai