Anda di halaman 1dari 46

Laporan Kasus : Skizofrenia

Paranoid (F20.0)

IDENTITAS PASIEN
Tn. Y, laki-laki, berusia 25 thn, Islam,
tinggal di Jl Bilawiayah No, 13 Panaikang,
Makassar, pendidikan terakhirnya SD,
bekerja sebagai tukang parkir dan belum
menikah.
Pasien masuk
Februari 2014.

RSKD

Keluhan utama : gelisah

pada

tanggal

16

ALLOANAMNESIS
Alloanamnesis diperoleh dari Ny. R. Ny. R
beragama Islam, tinggal bersama pasien
di Tello Panaikang, pendidikan terakhirnya
SD, seorang ibu rumah tangga, dan
merupakan ibu kandung pasien.

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Pasien sering gelisah dan tidak tenang yang
dialami sejak sehari sebelum dibawa ke RSKD
Dadi.
Pasien
melempar
barang-barang
dirumahnya, sering bicara sendiri, tertawa sendiri
dan kadang telanjang dirumahnya. Pasien mudah
emosi sehingga mengamuk. Pasien juga sering
tidak dapat tidur nyenyak pada waktu malam dan
mondar-mandir ke rumah keluarga. Pasien juga
ada mendengar suara-suara bisikan dan melihat
bayangan, yang diantaranya berupa cahaya
putih. Pasien masih bisa makan dan minum
dengan teratur.

RIWAYAT PENYAKIT
SEKARANG
Pasien sering merasakan sering dibedabedakan oleh keluarganya. Selain itu,
pasien mengatakan bahwa dia jadi begini
karena masalah ekonomi keluarga dan
sering
memikirkan
masalah
tentang
perkembangan Indonesia. Pasien juga
mengakui
bahwa
dia
mempunyai
kemampuan indera ke-6 yaitu membaca
aura dan pikiran orang lain.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Pasien pernah mengalami sakit seperti ini
sebelumnya sebanyak 2 kali. Kali pertama
pada tahun 2011, dirawat selama 1
minggu dan kedua kalinya pada tahun
2011 juga, dirawat selama 3 bulan. Pasien
masuk RSKD dengan keluhan gelisah
kedua-dua
kalinya.
Dokter
telah
memberikan obat yang berwarna pink,
putih, dan orange tapi pasien hanya
minum obat yang berwarna putih (THD)
saja.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Hubungan gangguan sekarang dengan
riwayat
penyakit
fisik
dan
psikis
sebelumnya didapatkan pasien pernah
mengalami kecelakaan motor sewaktu
sekolah dan yang terluka ialah dadanya.
Tiada riwayat infeksi dan juga kejang.
Pasien sering merokok kurang lebih dua
bungkus sehari dan pasien juga ada
minum ballo sewaktu tidak bisa tidur
malam.

RIWAYAT KELUARGA
Keterangan :
Laki-laki
Perempuan
Pasien
merupakan
anak
ketiga
dari
tiga
bersaudara
(, , ). Hubungan pasien dengan keluarga tidak
baik. Pasien mengatakan bahwa keluarganya
sering mengungkit kisah lalu pasien dan hal ini
membuatkan pasien marah. Terdapat riwayat
penyakit jiwa dalam keluarga yaitu sepupunya.

RIWAYAT PRIBADI
Riwayat masa kecil dan
perkembangan :
Pasien lahir normal tanpa komplikasi
dirumah dibantu dukun pada 30 Januari
1989. Pasien lahir cukup bulan dan tidak
ada cacat bawaan. Pasien merupakan
anak yang diinginkan. Ibu pasien tidak
mengalami masalah selama mengandung
pasien. Pada riwayat masa kanak-kanak
awal (usia 1-3 tahun), perkembangan dan
pertumbuhan pasien baik. Pasien tidak
pernah mengalami sakit parah. Hubungan

RIWAYAT PRIBADI
Riwayat pendidikan :
Pada riwayat masa kanak-kanak pertengahan
(usia 4-11 tahun), pasien tamat SD di salah
satu sekolah di Tello Panaikang. Prestasi
pasien di sekolah biasa saja. Pasien seorang
yang peramah dan periang serta banyak
temannya. Pada riwayat masa kanak-kanak
akhir dan remaja (usia 12-18 tahun), pasien
tidak melanjutkan sekolah di tingkat SMP dan
SMA.
Riwayat pekerjaan :
Pasien tidak melanjutkan pendidikan karena
bekerja
membantu
keluarga.
Pelbagai
pekerjaan yang pernah ia lakukan. Sebelum ia

Riwayat Pribadi
Riwayat perkawinan :
Pasien belum menikah.
Riwayat penggunaan zat (alkohol dan
obat-obatan):
Ia merokok kurang lebih 2 bungkus
perhari. Ia juga sering minum ballo 1 botol
saat tidak bisa tidur malam. Pasien tidak
pernah menggunakan obat terlarang
lainnya.
Riwayat forensik :
Tidak ada.

Riwayat Pribadi
Riwayat sosial :
Hubungan sesama tetangga masih akrab. Pasien
banyak temannya dan biasa kumpul-kumpul
waktu malam minggu.
Kepribadian premorbid :
Ia menggambarkan dirinya sebagai seorang yang
mampu bersosialisasi, orang yang periang dan
peramah serta memiliki teman yang banyak. Ia
juga rajin menguruskan urusan rumah dan
membantu orang tuanya mencari wang. Ia sangat
suka menyanyi dan menari. Ia mengatakan
bahwa dia beragama Islam dan juga Kristian.

PEMERIKSAAN STATUS
MENTAL

A. Deskripsi Umum
1. Penampilan : Tampak laki-laki, kulit agak gelap, memakai
baju kaos putih dan celana pendek.
Wajah
sesuai umur, perawakan sedang dan
perawatan
diri cukup.
2. Kesadaran : Berubah
3. Perilaku dan aktivitas psikomotor : Gelisah
4. Pembicaraan : Lancar, spontan, intonasi agak tinggi
5. Sikap terhadap pemeriksa : Kooperatif
B. Keadaan Afektif (Mood), Perasaan, Empati dan Perhatian
1. Mood : Baik
2. Afek : Restriktif
3. Empati : Tidak dapat dirabarasakan
4. Keserasian : Serasi

PEMERIKSAAN STATUS MENTAL


C. Fungsi Intelektual (Kognitif)
1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan :
sesuai dengan taraf pendidikan
2. Daya konsentrasi : Cukup
3. Orentasi
- Waktu : Baik
- Tempat : Baik
- Orang : Baik
4. Daya ingat
- Jangka panjang : Cukup
- Jangka pendek : Baik
- Jangka segera : Baik
5. Pikiran abstrak : Terganggu
6. Bakat kreatif : Tidak ada
7. Kemampuan menolong diri sendiri : Cukup

D. Gangguan Persepsi
1. Halusinasi : Halusinasi auditorik (+). Pasien mendengar suarasuara yang banyak
dan ada yang dikenalinya. Suara itu sering
mengatakan pergi dari
rumah, tapi ada juga mengatakan hal-hal yang
baik dan positif.
: Halusinasi visual (+). Pasien melihat bayangan
seperti cahaya putih.
2. Ilusi : Tidak ditemukan
3. Depersonalisasi : Tidak ditemukan
4. Derealisasi : Tidak ditemukan
E. Proses Berpikir
1. Arus pikiran :
a. Produktivitas : Cukup
b. Kontinuitas : Kesan membanjir, asosiasi longgar
c. Hendaya berbahasa : Tidak ada
2. Isi pikiran :
a. Preokupasi : Tidak ada
b. Gangguan isi pikiran : Waham kebesaran (+). Pasien
mengaku memiliki

PEMERIKSAAN STATUS
MENTAL

F. Pengendalian Impuls
Terganggu
G. Daya Nilai
1. Normo sosial : Terganggu
2. Uji daya nilai : Baik
3. Penilaian realitas : Terganggu
H. Tilikan (Insight)
Derajat 1 (penyangkalan penuh bahwa
dirinya
sakit)
I. Taraf Dapat Dipercaya
Dapat dipercaya

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LANJUT


Pemeriksaan Fisik :
Status Internus
- Tekanan darah :120/80 mmHg
- Nadi
: 76x/menit
- Suhu tubuh
: 36.6C
- Pernapasan
: 20x/menit
- Ektremitas atas dan bawah tidak ada kelainan
Status neurologis
- Glasgow Coma Scale (GCS) 15 ( E4M6V5)
- Fungsi motorik : derajat kekuatan motorik 5
(kekuatan penuh untuk
beraktivitas)
- Fungsi sensorik (tes nyeri, suhu, raba halus, gerak,
tekan) pasien normal

IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Seorang laki-laki berumur 25 tahun datang ke UGD RSKD
pada tanggal 16 Februari 2014 dengan keluhan utama
sangat gelisah dan tidak tenang sejak sehari yang lalu, yakni
pada tanggal 15 Februari 2014. Pasien melempar barangbarang di rumahnya, sering bicara dan tertawa sendiri.
Pasien kadang telanjang di rumahnya. Pasien mudah emosi
sehingga mengamuk. Pasien juga sering tidak dapat tidur
nyenyak pada waktu malam dan mondar-mandir ke rumah
keluarga. Pasien sering merasakan dibeda-bedakan oleh
keluarganya. Pasien juga mengatakan bahwa keluarganya
mau menyingkirkannya dengan menghantarnya ke RSKD.
Perubahan perilaku bermula sejak 4 tahun yang lalu dan
sudah 2 kali masuk RSKD sebelumnya dengan keluhan yang
sama. Riwayat minum obat (warna putih, pink, orange) yang
pernah diberikan RSKD tidak teratur. Pasien cuma minum
obat yang berwarna putih (THD).

IKHTISAR PENEMUAN
BERMAKNA
Pada status mental didapatkan tampak seorang laki-laki wajah sesuai
umur, kulit agak gelap, penampilan cukup rapi, memakai baju kaos
putih, celana pendek hijau tua, cara jalan biasa, kesadaran berubah,
perilaku dan aktivitas psikomotor agak gelisah. Pembicaraan spontan,
lancar dan intonasi agak tinggi. Pasien kooperatif, mood baik, afek
restriktif, empati tidak dapat dirabarasakan dan keserasian serasi.
Pengetahuan umum dan kecerdasan sesuai tingkat pendidikannya.
Daya konsentrasi cukup, orientasi dan daya ingat baik, pikiran abstrak
terganggu, kemampuan menolong diri sendiri cukup. Produktivitas
cukup, kontinuitas kesan membanjir dan asosiasi longgar, tidak ada
hendaya berbahasa. Preokupasi tidak ada dan uji daya nilai baik.
Selain itu, didapatkan juga halusinasi auditorik dan gangguan isi pikir
berupa waham kebesaran (+), pasien mengaku punya indera ke-6 dan
bisa membaca pikiran orang, dan juga waham curiga (+), pasien yakin
orang rumahnya mahu menyingkirkannya dengan mengirimnya ke
RSKD. Tilikan berupa Insight derajat I yakni penyangkalan penuh
bahwa dirinya sakit, dan dapat dipercaya.
Pemeriksaan fisis ditemukan tekanan darah 120/80 mmHg, nadi
76x/menit, pernafasan 20x/menit dan suhu 36,6C.

EVALUASI MULTIAKSIAL
Aksis I
Berdasarkan alloanamnesis dan autoanamnesis, didapatkan adanya
gejala klinis berupa gelisah dan tidak tenang, pasien melempar
barang-barang di rumahnya, pasien sering bicara serta tertawa
sendiri. Pasien kadang telanjang di rumah, mudah emosi sehingga
pasien mengamuk dan tidak dapat tidur nyenyak pada waktu
malam serta mondar-mandir ke rumah keluarga. Pasien juga tidak
mau minum obat yang diberikan RSKD cuma minum obat yang
berwarna putih. Perubahan perilaku dialami sejak 4 tahun yang lalu
sehingga dapat disimpulkan pasien mengalami Gangguan Jiwa.
Berdasarkan pemeriksaan status mental, pasien mengalami
gangguan isi pikiran berupa waham kebesaran. Pasien mengaku
memiliki indera ke-6 dan bisa membaca pikiran orang, normo sosial
serta penilaian terhadap realitas terganggu, sehingga terjadi
hendaya berat dalam fungsi kehidupan sehari-hari seperti tidak
mampu bekerja, berhubungan sosial dan melakukan kegiatan rutin,
sehingga digolongkan ke dalam Gangguan Jiwa Psikotik.

EVALUASI MULTIAKSIAL
Pada pemeriksaan status internus, tidak ditemukan kelainan dan
pada pemeriksaan neurologis juga tidak dapat ditemukan
adanya kelainan organobiologik, sehingga kemungkinan
gangguan mental organik dapat disingkirkan dan pasien
digolongkan ke dalam Gangguan Jiwa Psikotik Non-Organik.
Berdasarkan Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ III),
diagnosis pasien diarahkan pada Skizofrenia Paranoid
(F20.0) karena ditemukan pasien sangat gelisah dan tidak
tenang, afek yang restriktif, pikiran abstrak yang terganggu, ada
halusinasi auditorik dan visual, waham kebesaran dan waham
curiga serta arus pikiran dengan kontinuitas kesan membanjir,
normo sosial dan penilaian realitas juga terganggu sehingga sulit
untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan aktivitas
seharian.
Diagnosis bandingnya yaitu epilepsi dan psikosis yang diinduksi
oleh obat-obatan, keadaan paranoid involusional (F22.8) dan
paranoia (F22.0).

EVALUASI MULTIAKSIAL
Aksis II
Pasien sebelumnya seorang yang peramah dan banyak
teman.

Aksis III
Tidak ada diagnosis.
Aksis IV
Masalah keluarga dan kewangan/ekonomi.

Aksis V
Global Assesment of Functioning (GAF) Scale = 50-41,
yaitu gejala berat (serious), disabilitas berat.

DISKUSI PEMBAHASAN
Skizofrenia Paranoid (F20.0)
Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia.
Sebagai tambahan :
- Halusinasi dan/atau waham harus menonjol; suara-suara
halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah,
atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi
pluit (whistling), mendengung (humming), atau bunyi tawa
(laughing);
- Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual,
atau lain-lain perasaan tubuh; halusinasi visual mungkin ada tetapi
jarang menonjol;
- Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan
(delusion of control), dipengaruhi (delusion of influence), atau
passivity (delusion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang
beraneka ragam, adalah yang paling khas;
Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala
katatonik secara relative tidak nyata/tidak menonjol.

DAFTAR PROBLEM
Organobiologik:
Diduga
terdapat
ketidakseimbangan
neurotransmitter
maka
pasien
memerlukan
psikofarmakoterapi.
Psikologik: Ditemukan adanya hendaya
berupa halusinasi auditorik, visual, waham
kebesaran
dan
curiga
sehingga
menimbulkan gejala psikis, maka pasien
memerlukan psikoterapi.
Sosiologik: Ditemukan adanya hendaya
dalam bidang sosial, pekerjaan dan
penggunaan waktu senggang sehingga

RENCANA TERAPI
Psikofarmakoterapi :
- Haloperidol 5mg 3x1/2
- Chlorpromazine 100mg 0-0-1

Psikoterapi Supportif :
Ventilasi : memberikan kesempatan kepada pasien untuk
mengungkapkan perasaan dan keluhannya sehingga pasien merasa
lega.
Konseling : memberikan penjelasan dan pengertian kepada pasien
sehingga dapat membantu pasien dalam memahami penyakitnya
dan bagaimana cara menghadapinya dan menganjurkan untuk
berobat teratur.
Sugestif : Menanam kepercayaan dan meyakinkan bahwa gejalanya
akan hilang dengan meningkatkan motivasi diri pasien.
Sosioterapi : memberikan penjelasan kepada pasien, keluarga
pasien dan orang-orang disekitarnya sehingga mereka dapat
memberikan dukungan moral dan menciptakan lingkungan yang
kondusif agar dapat membantu proses penyembuhan.

PROGNOSIS
Dubia et bonam.
Adapun faktor pendukung maupun faktor penghambat adalah
seperti berikut :

Faktor pendukung :
- Mempunyai faktor stressor yang jelas
- Riwayat pre morbid sosial yang baik
- Tidak terdapat kelainan interna dan neurologi
- Keinginan pasien untuk berobat dan sembuh

Faktor penghambat :
- Perlangsungan masalah yang sudah lama
- Status sosio-ekonomi rendah
- Belum menikah

Refarat : Gangguan Fobia


(F40)

DEFINISI
Fobia adalah sejenis rasa takut yang
khas, berasal dari istilah Yunani
phobos yang berarti lari (flight),
takut dan panik (panic-fear), takut
hebat (terror).
Suatu fobia adalah suatu ketakutan
yang tidak rasional yang
menyebabkan penghindaran yang
disadari terhadap objek, aktivitas,
atau situasi yang ditakuti.

KLASIFIKASI

Agorafobia (F40.0)
Pasien agorafobia secara kaku menghindari situasi di mana akan
sulit untuk mendapatkan bantuan. Mereka lebih suka disertai oleh
seorang teman atau anggota keluarga di tempat-tempat tertentu
seperti jalan yang sibuk, toko yang padat, ruang yang tertutup
(seperti di terowongan, jembatan dan elevator), dan kendaraan
tertutup (seperti kereta bawah tanah, bus, dan pesawat udara).
Fobia Sosial (F40.1)
Fobia sosial merupakan perasaan takut akan diperhatikan dengan
seksama oleh orang lain ketika berbicara di depan umum, ketika
menggunakan kamar mandi umum, wajah kemerahan, atau ketika
makan di tempat umum, dan sebagainya. Pasien mengendalikan
rasa takutnya dengan cara menghindar, yang akan menimbulkan
hendaya sosial.
Fobia Spesifik (F40.2)
Fobia spesifik merupakan jenis fobia yang tunggal (monofobia)
atau monosymptomatic yang dapat timbul pada tiap usia dan
menerus. Antara contoh fobia spesifik adalah fobia terhadap
hewan, badai, ketinggian, darah, jarum, dan sebagainya.

EPIDEMIOLOGI & PREVALENSI


Agorafobia sering mulai terjadi terhadap wanita yang
berumur di antara 20 hingga 40 tahun. Sebanyak 3,2
miliar penduduk atau kurang lebih 2,2% golongan
anak muda yang berumur di antara 18 hingga 54
tahun di Amerika Serikat mengidap agoraphobia.
Fobia spesifik lebih lazim pada perempuan dan
paling lazim kedua pada laki-laki setelah gangguan
terkait zat. Rasio perempuan banding laki-laki
sekitar2:1.
Fobia sosial juga lebih banyak pada perempuan di
banding laki-laki. Usia puncak awitan fobia sosial
adalah remaja walaupun awitannya lazim antara usia
5 tahun dan 35 tahun.

ETIOLOGI
Teori Psikoanalitik
Teori psikoanalitik memandang serangan panik sebagai
akibat dari pertahanan yang tidak berhasil dalam
melawan impuls yang menyebabkan kecemasan. Apa
yang sebelumnya merupakan suatu sinyal kecemasan
ringan menjadi suatu perasaan ketakutan yang
melanda, lengkap dengan gejala somatik.
Teori Perilaku
Karya Kagan menyarankan bahwa , pada awal usia 18
bulan, anak-anak berbeda sehubungan dengan
kecenderungan mereka untuk berinteraksi dengan
orang lain, mainan, dan benda-benda. Anak-anak yang
pemalu dan menarik diri telah disebut inhibisi prilaku
dan telah diusulkan untuk menjadi faktor predisposisi
dalam pengembangan fobia sosial.

ETIOLOGI
Teori Genetika
Penelitian telah melaporkan bahwa duapertiga sampai tigaperempat
penderita yang terkena memiliki sekurangnya satu sanak saudara
derajat pertama.
Teori Neurokimiawi
Pasien dengan fobia mungkin melepaskan lebih banyak norepinefrin
dan epinefrin, baik di sentral maupun perifer, dan juga penurunan
GABA (Gamma-aminobutiric Acid), dopamine dan serotonin,
dibandingkan orang nonfobik.
Teori Struktur Otak
Melalui penelitian syaraf dapat ditemukan peranan berarti amygdala
dan hippocampus di otak ketika manusia mengalami kecemasan
maupun ketakutan. Amygdala mengirim perintah kewaspadaan pada
seluruh bagian otak atas kehadiran ancaman. Perintah dari amygdala
kemudian memicu reaksi cemas serta takut yang berlebihan atas
ancaman yang telah diprediksi terjadi dalam pikiran. Hippocampus
mengisyaratkan ingatan peristiwa-peristiwa mengancam ke dalam
memori manusia dan segera mengisyaratkan perhatian dalam pikiran
seseorang.

GAMBARAN KLINIS
Agorafobia
Pasien agorafobia secara kaku menghindari
situasi
di
mana
akan
sulit
untuk
mendapatkan bantuan. Mereka lebih suka
disertai oleh seorang teman atau anggota
keluarga di tempat-tempat tertentu seperti
jalanan yang sibuk, toko yang padat, ruang
yang tertutup, dan kendaraan tertutup.
Gejala penyerta serangan agoraphobia
dapat berupa depresif, kecemasan umum,
panik, pusing, depersonalisasi, sesak nafas,
rasa tercekik, ketakutan akan kematian dan
obsesi.

GAMBARAN KLINIS
Fobia sosial

Gejala Emosional

Sangat takut ketika sedang


bersama-sama dengan orang
asing
Takut situasi sosial di mana
ia / dia akan dievaluasi
Khawatir mempermalukan
dirinya / dirinya sendiri atau
membuat adegan
Takut ditemukan cemas
Emosi cemas seperti telah
mempengaruhi kehidupan
sehari-hari dan pekerjaan
Takut berbicara atau bekerja
dengan orang lain, karena
khawatir bahwa ia / dia
mungkin akan
mempermalukan dirinya
sendiri / dirinya
Hindari situasi di mana ia / dia

Gejala Fisik
Blushing
(kemerahan)
Berkeringat
Dengan gemetar,
suara gemetar
Mual
Kesulitan dalam
pidato
Sakit perut
Tangan dan kaki
dingin
Palpitasi

GAMBARAN KLINIS
Fobia Spesifik
Ketika menghadapi objek atau situasi, orang
fobia mengalami perasaan panik, berkeringat,
perilaku menghindar, kesulitan bernapas, dan
detak jantung yang cepat.
Fobia spesifik yang paling umum adalah rasa
takut akan binatang (biasanya laba-laba, ular,
atau
tikus),
terbang
(pterygophobia),
ketinggian
(acrophobia),
air,
suntikan,
transportasi
umum,
ruang
terbatas
(claustrophobia), dokter gigi (odontiatophobia),
badai, terowongan , dan jembatan.

DIAGNOSIS
Agorafobia
Menurut buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa (PPDGJ III), semua kriteria dibawah ini harus
dipenuhi untuk diagnosis pasti :
Gejala psikologis, perilaku atau otonomik yang timbul harus
merupakan manifestasi primer dari anxietasnya dan bukan
sekunder dari gejala-gejala lain seperti misalnya waham atau
pikiran obsesif.
Anxietas yang timbul harus terbatas pada (terutama terjadi
dalam hubungan dengan) setidaknya dua dari situasi
berikut; banyak orang/ keramaian, tempat umum, bepergian
keluar rumah, dan bepergian sendiri.
Menghindari situasi fobik harus atau sudah merupakan
gejala yang menonjol (penderita menjadi house-bound). 5

DIAGNOSIS
Fobia Sosial

Menurut buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis


Gangguan Jiwa (PPDGJ III), semua kriteria dibawah ini
harus dipenuhi untuk diagnosis pasti :
Gejala psikologis, perilaku atau otonomik yang timbul
harus merupakan manifestasi primer dari anxietasnya dan
bukan sekunder dari gejala-gejala lain seperti misalnya
waham atau pikiran obsesif.
Anxietas harus mendominasi atau terbatas pada situasi
sosial tertentu (outside the family circle).
Menghindari situasi fobik harus atau sudah merupakan
gejala yang menonjol.
Bila terlalu sulit membedakan antara fobia sosial dengan
agoraphobia,
hendaknya
diutamakan
diagnosis
agoraphobia (F40.0).

DIAGNOSIS
Fobia Spesifik

Menurut buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis


Gangguan Jiwa (PPDGJ III), semua kriteria dibawah ini
harus dipenuhi untuk diagnosis pasti :
Gejala psikologis, perilaku atau otonomik yang timbul
harus merupakan manifestasi primer dari anxietasnya
dan bukan sekunder dari gejala-gejala lain seperti
misalnya waham atau pikiran obsesif.
Anxietas harus terbatas pada adanya objek atau situasi
fobik tertentu (highly specific situations).
Situasi fobik tersebut sedapat mungkin dihindarinya.
Pada fobia khas ini umumnya tidak ada gejala psikiatrik
lain, tidak seperti halnya agoraphobia dan fobia sosial.

PENATALAKSANAAN
Farmakoterapi
1. Golongan Trisiklik ( Misalnya clomipramine dan imipramin)
. Mekanisme kerja: Obatobat ini menghambat resorpsi dari
serotonin dan noradrenalin dari sela sinaps di ujung-ujung
saraf.
. Klomipramin: Dosis lazim : 10 mg dapat ditingkatkan
sampai dengan maksimum dosis 250 mg sehari.
. Imipramin: Dosis lazim : 25-50 mg 3x sehari bila perlu
dinaikkan sampai maksimum 250-300 mg sehari.
. Efek samping paling sering ialah overstimulasi selama awal
terapi
. Overstimulasi biasanya dihindari dgn menggunakan jadwal
titrasi dosis secara perlahan-lahan.

PENATALAKSANAAN
2. Monoamin Oxidase Inhibitors (MAOIs)
.

.
.

Sebagian besar penelitian telah menggunakan


phenelzine (Nardil), walaupun beberapa penelitian
telah menggunakan tranylcypromine (Parnate).
Beberapa penelitian telah menyatakan bahwa
MAOIs adalah lebih efektif dibandingkan obat
trisiklik.
Dosis awal MAOIs ialah 15 mg dan dosis
optimalnya ialah 30-90 mg perhari.
Efek samping MAOIs antaranya ialah sedasi,
insomnia, hipotensi, dan peningkatan berat badan.

PENATALAKSANAAN
3. Selective Seratonin Reuptake Inhibitors/SSRIs (Misalnya
fluoxetin, sertralin, citalopram, fluvoxamine,
paroxetine)
. SSRIs lebih disukai karena efek sampingnya lebih
sedikit dan tidak terlalu menyebabkan ketergantungan
fisik.
. SSRIs dengan cepat menjadi first-line pengobatan
yangbaku untuk fobia sosial.
. SSRIs yang sering digunakan adalah fluoxetine dgn
dosis anjurannya 20-40 mg perhari.
. Efek samping SSRIs bisa berupa nyeri kepala, sedasi,
insomnia, berkeringat, fungsi seks menurun dan
withdrawal sindrom.

PENATALAKSANAAN
4. Benzodiazepine
. Antara obat golongan benzodiazepine ialah
alprazolam dan diazepam yang efektif untuk fobia
sosial.
. Pengobatan alprazolam dapat dimulai dengan 0,5
mg empat kali sehari. Dosis anjurannya ialah 3 x
0,25 0,5 mg perhari.
. Golongan obat ini bisa menyebabkan
ketergantungan fisik dan menimbulkan beberapa
efek samping, misalnya rasa mengantuk,
gangguan koordinasi dan perlambatan waktu
reaksi.

PENATALAKSANAAN
5. Beta-blocker seperti propranolol
. Propranolol dapat mencegah gejala-gejala fisik
yang menyertai gangguan kecemasan tertentu,
terutama fobia sosial.
. Antara gejala-gejala tersebut ialah palpitasi,
berkeringat dan gementar.
. Dosis propranolol yang dianjurkan ialah 20-40 mg
yang diambil satu jam sebelum menghadapi
situasi yang mendebarkan.
. Efek samping Propranolol sangat jarang namun
bisa mengakibatkan insomnia, keletihan, diare,
dan nadi yang lemah

PENATALAKSAAN
Psikoterapi
1. Terapi kognitif-perilaku (CBT)
. CBT membantu orang dengan fobia sosial belajar
bagaimana untuk mengatasi keyakinan bahwa orang
lain selalu mengawasi dan menilai mereka
. CBT terapis juga mengajarkan napas dalam-dalam dan
jenis-jenis latihan untuk mengurangi kecemasan dan
mendorong relaksasi.
. CBT atau terapi perilaku sering berlangsung sekitar 12
minggu. Ini dapat dilakukan secara individual atau
dengan sekelompok orang yang memiliki masalah
yang sama.
2. Antara terapi lain yang digunakan adalah terapi
perilaku eksposur , penerapan relaksasi, latihan
pernafasan dan pemaparan in vivo.

PENATALAKSANAAN
Terapi Psikososial
1. Terapi keluarga
. Keluarga pasien dengan gangguan panik dan
agorafobia mungkin menjadi terganggu selama
perjalanan serangan panik, sehingga keluarga
perlu untuk diarahkan agar bisa menerima
keadaan pasien.
2. Psikoterapi berorientasi tilikan
. Pengobatan memusatkan pada membantu pasien
mengerti arti bawah sadar dari kecemasan,
simbolisme situasi yang dihindari, kebutuhan
untuk merepresi impuls, dan tujuan sekunder dari
gejala.

PROGNOSIS
Agorafobia
Seringkali membaik dengan berjalannya waktu.
Depresi dan alkohol sering mengkomplikasikan
perjalanan agorafobia.
Fobia Sosial dan Fobia Spesifik
Perjalanan penyakit bergantung kepada morbiditas
pasien.
Berlakunya hendaya dalam bidang pekerjaan, sosial,
maupun prestasi sekolah dapat memperlambatkan
kesembuhan fobia.
Penggunaan zat juga memperburuk perjalanan
penyakit dan prognosis fobia.