Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A LATAR BELAKANG MASALAH


Indonesia adalah salah satu Negara di dunia yang menerapkan sistem politik
demokrasi. Demokrasi di Indonesia ini, mempunyai sebuah slogan yang cukup
singkat, akan tetapi mempunyai makna yang cukup dalam. Slogan yang dimaksud
adalah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Bercermin dari slogan tersebut,
dapatlah kita ketahui bahwa demokrasi yang diterapkan di Indonesia ini adalah
demokrasi keterwakilan, yang mana salah satu contoh pengejawantahan daripada
demokrasi ini adalah adanya pesta demokrasi, yaitu Pemilihan Umum (Pemilu). Salah
satu pemilu yang krusial atau penting dalam katatanegaraan Indonesia adalah pemilu
untuk memilih wakil rakyat yang akan duduk dalam parlemen, yang biasa kita kenal
dengan sebutan Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD dan DPRD. Dalam pemilu ini,
rakyat dapat mencalonkan dirinya untuk menjadi peserta pemilu tersebut sesuai
dengan ketentuan yang ada. Kemudian daripada itu, yang berperan dalam hal
memilih, juga rakyat. Rakyatlah yang memilih para wakilnya yang akan duduk dalam
parlemen. Setelah terpilih menjadi anggota parlemen, para konstituen tersebut pada
hakikatnya adalah bekerja untuk rakyat secara menyeluruh. Itulah yang dinamakan
dengan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Akan tetapi, dewasa ini tidak sedikit para anggota parlemen yang melupakan
rakyatnya ketika mereka telah duduk enak di kursi empuk. Mereka sibuk dengan
urusan pribadi mereka masing-masing, mengutamakan kepentingan golongan, dan
berpikir bagaimana caranya mengembalikan modal mereka ketika kampanye.
Fenomena ini sudah tidak aneh lagi bagi bangsa Indonesia. Para elite politik saat ini,
sudah tidak lagi pada bingkai kesatuan, akan tetapi berada pada bingkai kekuasaan
yang melingkarinya. Seperti misalnya, adanya sengketa hasil pemilu, black campaign

ketika kampanye dan sebagainya, yang penting bisa mendapatkan kekuasaan.


Semboyan Bhinneka Tunggal Ika pun telah luntur dalam dirinya. Ini hanya sebagai
refresh, karena yang akan dibahas bukan mengenai masalah ini.
Selain sebagai Negara demokrasi, Indonesia juga merupakan Negara hukum,
yang mana menempatkan hukum itu pada kedudukan yang paling tinggi, atau lebih
akrab kita kenal dengan sebutan supremacy of law. Sebagai Negara hukum, Indonesia
juga mempunyai ciri-ciri sehingga bisa disebut sebagai Negara hukum. Salah dua
diantara ciri-ciri tersebut adalah, adanya pengakuan dan penegakkan Hak Asasi
Manusia (HAM), dan equality before of law atau perlakuan yang sama dimuka
hukum. Dengan adanya perlakuan yang sama dimuka hukum, maka setiap orang
berhak untuk diperlakukan sama, adil dan tidak pandang bulu.
Pada pokok bahasan kali ini, ada kaitannya dengan masalah Hak Asasi Manusia
(HAM), sebagaimana seperti apa yang telah diuraikan sebelumnya. Pokok bahasan
pada makalah ini adalah tentang hak konstitusional warga Negara dalam bidang
politik yang dirugikan dengan terbitnya suatu undang-undang, yaitu UU No. 12 tahun
2003 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD. Dengan terbitnya
undang-undang tersebut, maka hak warga Negara yang dijamin dalam pasal 28C ayat
(2) UUD 1945 telah dilanggar, sedangkan itu merupakan salah satu bagian daripada
HAM.
Hak Asasi Manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat
dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa dan merupakan
anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilinungi oleh Negara,
hukum, pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan
martabat manusia. Dari definisi diatas, telah jelas bahwa salah satu ketentuan pasal
dalam UU tersebut, telah melanggar HAM.1
Singkatnya, jika kita merujuk pada pengertian HAM diatas, serta merujuk pada
UUD 1945, dapat dikatakan bahwa ketentuan pasal dalam UU No. 12 tahun 2003
telah melanggar HAM, khususnya dalam bidang politik.
1 Pasal 1 angka 1 UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM.

B IDENTIFIKASI MASALAH DAN RUMUSAN MASALAH


Setiap warga Negara mempunyai hak pasif untuk dipilih dalam pesta demokrasi
yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali itu, baik pemilu legislatif maupun pemilu
presiden, terkecuali bagi mereka warga Negara yang tidak cakap hukum, misalnya.
Rasanya tidak mungkin orang yang menderita gangguan jiwa mencalonkan dirinya
sebagai peserta pemilu, misalnya pemilu legislatif. Tetapi, yang banyak terjadi saat ini
adalah, menderita gangguan jiwa setelah mengikuti kompetisi pemilu, karena kalah
suara.
Kembali pada pokok bahasan, bagaimanakah sesungguhnya harmonisasi antara
UUD 1945 dan UU No. 12 tahun 2003 tersebut? Terkait dengan tidak bolehnya warga
Negara menggunakan hak pilih pasifnya dalam pemilu, karena eks tapol.
Oleh karena itu, dalam membahas permasalahan diatas, ada baiknya kita
menyusun

suatu

rumusan

masalah

agar

lebih

tersusun

sistematis

ketika

membahasnya.

Adapun perumusan masalah itu adalah :


1

Bagaimana permasalahan tersebut jika dipandang dari segi Hak Asasi

Manusia?
2 Bagaimanakah

putusan

Mahkamah

Konstitusi

dalam

memeriksa

permohonan judicial review dari pihak terkait?

Dalam makalah ini penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:


Apa pengertian Hak Asasi Manusia (HAM)
Penjelasan Hak Asasi Manusia (HAM) pada tataran Global
Permasalahan dan Penegakan HAM di Indonesia
Apa saja contoh-contoh pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM)

C METODE PENULISAN
Untuk memperoleh data-data atau informasi yang diperlukan dalam
menyelesaikan tugas makalah ini, penulis menggunakan metode penelitian hukum
normative dengan spesifikasi penulisan deskiptif analitis yang dilakukan dengan
penelitian kepustakaan (library research) dan mengumpulkan data sekunder di bidang
hukum, terutama yang berkaitan dengan pokok pembahasan.
Data sekunder tersebut berupa2 :
1 Bahan Hukum Primer, yaitu bahan hukum yang mempunyai kekuatan
mengikat yang terdiri dari norma dasar atau kaidah dasar, peraturan dasar,
2

peraturan perundang-undangan, dan sebagainya,


Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan hukum yang memberi penjelasan
mengenai bahan hukum primer yang dapat membantu menganalisis serta
memahami bahan hukum primer seperti, RUU, hasil penelitian, hasil karya

dari kalangan hukum, dan seterusnya,


Bahan Hukum Tertier, yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun
penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, seperti misalnya
kamus, ensiklopedia, indeks kumulatif, dan seterusnya.

2 Soerjono Soekanto, Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, PT. Raja


Grafindo Persada, Jakarta, 2003, hal. 13

D TUJUAN PENULISAN
Dalam memberikan tugas makalah ini, tentunya dosen pengasuh mempunyai
suatu tujuan yang dapat bermanfaat, baik sebagai komponen penilaian maupun bagi
diri sendiri. Adapun tujuan yang dimaksud diantaranya adalah :
1 Sebagai salah satu kriteria yang harus dipenuhi agar salah satu komponen
2

penilaian terpenuhi,
Sebagai sarana atau media pembelajaran bagi mahasiswa pada umumnya,
untuk lebih peka terhadap gejala social yang terjadi, terutama di bidang
hukum, serta juga sebagai media pembelajaran dalam membuat suatu karya
tulis ilmiah yang pada saatnya nanti dapat di konkritkan dalam pembuatan
skripsi atau tugas akhir.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Hak Asasi Manusia (HAM)
HAM adalah hak-hak dasar yang melekat pada diri manusia,tanpa hak-hak itu
manusia tidak dapat hidup layak sebagai manusia.Menurut John Locke HAM adalah
hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang
kodrati. Dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM
disebutkan bahwa Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada
hakekat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan
merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh
negara, hukum, pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan
harkat dan martabat manusia.
1)
2)
3)
4)

Ruang lingkup HAM meliputi:


Hak pribadi: hak-hak persamaan hidup, kebebasan, keamanan, dan lain-lain;
Hak milik pribadi dan kelompok sosial tempat seseorang berada;
Kebebasan sipil dan politik untuk dapat ikut serta dalam pemerintahan; serta
Hak-hak berkenaan dengan masalah ekonomi dan sosial.

Hakikat Hak Asasi Manusia sendiri adalah merupakan upaya menjaga


keselamatan eksistensi manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan antara
kepentingan perseorangan dengan kepentingan umum. Begitu juga upaya
menghormati, melindungi, dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia menjadi
kewajiban dan tangung jawab bersama antara individu, pemeritah (Aparatur
Pemerintahan baik Sipil maupun Militer),dan negara.
Berdasarkan beberapa rumusan hak asasi manusia di atas, dapat ditarik
kesimpulan tentang beberapa sisi pokok hakikat hak asasi manusia, yaitu :
a. HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun di warisi, HAM adalah bagian dari
manusia secara otomatis.

b. HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras,
agama, etnis, pandangan politik atau asal usul sosial, dan bangsa.
c. HAM tidak bisa dilanggar, tidak seorangpun mempunyai hak untuk
membatasi atau melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM
walaupun sebuah negara membuat hukum yang tidak melindungi atau
melanggar HAM.
2. Hak Asasi Manusia (HAM) pada tataran Global
Sebelum konsep HAM diritifikasi PBB, terdapat beberapa konsep utama
mengenai HAM ,yaitu:
a Ham menurut konsep Negara-negara Barat
1) Ingin meninggalkan konsep Negara yang mutlak.
2) Ingin mendirikan federasi rakyat yang bebas.
3) Filosofi dasar: hak asasi tertanam pada diri individu manusia.
4) Hak asasi lebih dulu ada daripada tatanan Negara.
b. HAM menurut konsep sosialis;
1) Hak asasi hilang dari individu dan terintegrasi dalam masyarakat
2) Hak asasi tidak ada sebelum Negara ada.
3) Negara berhak membatasi hak asasi manusia apabila situasi menghendaki.
c. HAM menurut konsep bangsa-bangsa Asia dan Afrika:
1) Tidak boleh bertentangan ajaran agama sesuai dengan kodratnya.
2) Masyarakat sebagai keluarga besar, artinya penghormatan utama terhadap
kepala keluarga.
3) Individu tunduk kepada kepala adat yang menyangkut tugas dan kewajiban
sebagai anggota masyarakat.
d. HAM menurut konsep PBB;
Konsep HAM ini dibidani oleh sebuah komisi PBB yang dipimpin oleh
Elenor Roosevelt dan secara resmi disebut Universal Decralation of Human
Rights.
Universal Decralation of Human Rights menyatakan bahwa setiap orang
mempunyai:
Hak untuk hidup
Kemerdekaan dan keamanan badan
Hak untuk diakui kepribadiannya menurut hukum
Hak untuk mendapat jaminan hukum dalam perkara pidana

Hak untuk masuk dan keluar wilayah suatu Negara


Hak untuk mendapat hak milik atas benda
Hak untuk bebas mengutarakan pikiran dan perasaan
Hak untuk bebas memeluk agama
Hak untuk mendapat pekerjaan
Hak untuk berdagang
Hak untuk mendapatkan pendidikan
Hak untuk turut serta dalam gerakan kebudayaan masyarakat
Hak untuk menikmati kesenian dan turut serta dalam kemajuan keilmuan.

3. Permasalahan dan Penegakan HAM di Indonesia


Sejalan dengan amanat Konstitusi, Indonesia berpandangan bahwa pemajuan
dan perlindungan HAM harus didasarkan pada prinsip bahwa hak-hak sipil, politik,
ekonomi, sosial budaya, dan hak pembangunan merupakan satu kesatuanyang tidak
dapat

di

pisahkan,

baik

dalam

penerapan,

pemantauan,

maupun

dalam

pelaksanaannya. Sesuai dengan pasal 1 (3), pasal 55, dan 56 Piagam PBB upaya
pemajuan dan perlindungan HAM harus dilakukan melalui sutu konsep kerja sama
internasional yang berdasarkan pada prinsip saling menghormati, kesederajatan, dan
hubungan antar negaraserta hukum internasional yang berlaku.
Program penegakan hukum dan HAM meliputi pemberantasan korupsi, antitrorisme,
serta pembasmian penyalahgunaan narkotika dan obat berbahaya. Oleh sebab itu,
penegakan hukum dan HAM harus dilakukan secara tegas, tidak diskriminatif dan
konsisten.
Kegiatan-kegiatan pokok penegakan hukum dan HAM meliputi hal-hal
berikut:
1) Pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RANHAM) dari
2004-2009 sebagai gerakan nasional Peningkatan efektifitas dan penguatan
lembaga / institusi hukum ataupun lembaga yang fungsi dan tugasnya
menegakkan hak asasi manusia Peningkatan upaya penghormatan persamaan
terhadap setiap warga Negara di depan hukum melalui keteladanan kepala
Negara beserta pimpinan lainnya untuk memetuhi/ menaati hukum dan hak

asasi manusia secara konsisten serta konsekuen Peningkatan berbagai


kegiatan operasional penegakan hukum dan hak asasi manusia dalam rangka
menyelenggarakan ketertiban sosial agar dinamika masyarakat dapat berjalan
sewajarnya.
2) Penguatan upaya-upaya pemberantasan korupsi melalui pelaksanaan Rencana,
Aksi Nasional Pemberantasan Korupsi.
3) Peningkatan penegakan hukum terhadao pemberantasan tindak pidana
terorisme dan penyalahgunaan narkotika serta obat lainnya.
4) Penyelamatan barang bukti kinerja berupa dokumen atau arsip/lembaga
Negara serta badan pemerintahan untuk mendukung penegakan hukum dan
HAM.
5) Peningkatan koordinasi dan kerja sama yang menjamin efektifitas penegakan
hukum dan HAM.
6) Pengembangan system manajemen kelembagaan hukum yang transparan.
7) Peninjauan serta penyempurnaan berbagai konsep dasar dalam rangka
mewujudkan proses hukum yang kebih sederhana, cepat, dan tepat serta
dengan biaya yang terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.
4. Contoh-Contoh Kasus Pelanggaran HAM
Terjadinya penganiayaan pada praja STPDN oleh seniornya dengan dalih
pembinaan yang menyebabkan meninggalnya Klip Muntu pada tahun 2003.
Dosen yang malas masuk kelas atau malas memberikan penjelasan pada suatu
mata kuliah kepada mahasiswa merupakan pelanggaran HAM ringan kepada setiap
mahasiswa.
Para pedagang yang berjualan di trotoar merupakan pelanggaran HAM
terhadap para pejalan kaki, sehingga menyebabkan para pejalan kaki berjalan di
pinggir jalan sehingga sangat rentan terjadi kecelakaan.
Orang tua yang memaksakan kehendaknya agar anaknya masuk pada suatu
jurusan tertentu dalam kuliahnya merupakan pelanggaran HAM terhadap anak,
sehingga seorang anak tidak bisa memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan
bakatnya.

Kasus Babe yang telah membunuh anak-anak yang berusia di atas 12 tahun,
yang artinya hak untuk hidup anak-anak tersebut pun hilang
Masyarakat kelas bawah mendapat perlakuan hukum kurang adil, bukti nya
jika masyarakat bawah membuat suatu kesalahan misalkan mencuri sendal proses
hukum nya sangat cepat, akan tetapi jika masyarakat kelas atas melakukan kesalahan
misalkan korupsi, proses hukum nya sangatlah lama
Kasus Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang bekerja di luar negeri mendapat
penganiayaan dari majikannya Kasus pengguran anak yang banyak dilakukan oleh
kalangan muda mudi yang kawin diluar nikah.
5. Hak Pilih Pasif Warga Negara dalam Sudut Pandang HAM
Secara umum, seperti yang telah ditulis sebelumnya, yang dimaksud dengan
Hak Asasi Manusia berdasarkan UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM adalah,
seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai
makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib
dihormati, dijunjung tinggi dan dilinungi oleh Negara, hukum, pemerintah dan setiap
orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Disini
dapat kita lihat bahwa, inti daripada HAM itu sendiri adalah hak mendasar
(fundamental) yang tidak boleh dikurangi sedikitpun.
Lalu dimana letak hak pilih pasif (hak dipilih) warga Negara?
Hak pilih pasif adalah salah satu contoh hak konstitusional warga Negara dalam
bidang politik yang juga merupakan bagian daripada HAM. Jadi, hak pilih pasif
seorang warga Negara, sudah seharusnya untuk dihormati, dijunjung tinggi dan
dilindungi oleh Negara, hukum dan pemerintah. Mengenai perlindungan hak pilih
pasif itu juga, telah diatur dan dilindungi oleh UUD 1945 negara Republik Indonsia,

10

yaitu pada ketentuan pasal 28C ayat (2) 3, pasal 28D ayat (1)4, pasal 28D ayat (3)5,
pasal 28I ayat (2)6.
Disamping UUD 1945 yang mengatur tentang perlindungan hak pilih pasif
tersebut, article 21 Universal Declaration of Human Rights tahun 1948, juga
mengatur tentang hal tersebut. Article 21 berbunyi : everyone has the right to take
part in the government of his country, directly or through freely chosen
representatives. The will of the people shall be the basis of the authority of
government; this will shall be expressed in periodic and genuine elections which
shall be by universal and equal suffrage and shall be held by secret vote or by
equivalent free voting procedures. Dengan demikian jelas bahwa dalam suatu
masyarakat demokratis, yang telah diterima secara universal oleh bangsa-bangsa
beradab, hak atas partisipasi politik adalah suatu hak asasi manusia, yang dilakukan
melalui pemilu yang jujur sebagai manifestasi dari kehendak rakyat yang menjadi
dasar dari otoritas pemerintah.7

3 Pasal 28C ayat (2) menyatakan bahwa, setiap orang berhak


memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk
membangun masyarakat, bangsa dan negaranya.
4 Pasal 28D ayat (1) menyatakan bahwa, setiap orang berhak atas
pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukumyang adil serta
perlakuan yang sama di depan hukum.
5 Pasal 28D ayat (3) menyatakan bahwa, setiap warga Negara berhak
memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan.
6 Pasal 28I ayat (2) menyatakan bahwa, setiap orang berhak bebas dari
perlakuan yang diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan
perlindungan terhadap perlakuan yang diskriminatif itu.
7 Soedarsono, Mahkamah Konstitusi Sebagai Pengawal Demokrasi, Sekjen
dan Kepaniteraan MKRI, Jakarta, 2006, hal. 172.

11

Jadi, berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan diatas, ketentuan pasal suatu
peraturan perundang-undangan yang melarang bagi eks tapol mempergunakan hak
pilih pasifnya dalam pemilu, telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).
6. Putusan MK Terkait Permohonan Judicial Review
Dasar atau permasalahan pokok dalam pengajuan judicial review ini adalah
dimuatnya ketentuan pasal 60 huruf g pada UU No. 12 tahun 2003, yang mana dalam
pasal tersebut dinyatakan bahwa adanya larangan menjadi anggota DPR, DPD, dan
DPRD bagi mereka yang bekas anggota organisasi terlarang PKI, termasuk
organisasi massanya, atau bukan orang yang terlibat langsung atau pun tak langsung
dalam G30S PKI atau organisasi terlarang lainnya.
Pemerintah dalam keterangannya dalam sidang pleno MK mengenai
permohonan diatas menegaskan baha pada saat penyusunan undang-undang
dimaksud, pemerintah dan DPR RI sangat taat asas terhadap sumber hukum yaitu
dengan

memperhatikan

masih

diberlakukannya

Tap.

MPRS-RI

No.

XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan


sebagai Organisasi Terlarang di seluruh Wilayah Negara RI bagi PKI Indonesia dan
Larangan Setiap Kegiatan untuk menyebarkan atau mengembangkan paham atau
ajaran Komunis/Leninisme.8
Selain dari pihak pemerintah yang memberikan keterangan dalam sidang pleno
Mahkamah Konstitusi, pihak pemohon pun juga tiada hentinya memberikan opiniopini guna meloloskan niatnya tersebut untuk menghapuskan pasal 60 huruf g UU
No. 12 tahun 2003 tersebut. Bahkan sampai terjadinya dissenting opinion antara
pihak yang terkait dalam sidang pleno tersebut. Jika kita mengingat sejarah pada
dahulu kala, Partai Komunis Indonesia (PKI) memang merupakan suatu partai yang
begitu kejam dan memiliki haluan yang bertolak belakang dengan Indonesia yang
mana Indonesia menganut Ketuhanan Yang Maha Esa.
8 Soedarsono, Mahkamah Konstitusi Sebagai Pengawal Demokrasi, Sekjen dan
Kepaniteraan MKRI, Jakarta, 2006, hal. 178.

12

Setelah melalui masa-masa sidang pleno yang cukup alot, pada akhirnya
Putusan Mahkamah Konstitusi menyatakan pasal 60 huruf g UU No. 12 tahun 2003
tentang pemilihan umum anggota DPR, DPD, dan DPRD (Lembaran Negara Tahun
2003 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4277) bertentangan dengan
UUD 1945. Menyatakan pasal 60 huruf g UU No. 12 tahun 2003 tentang pemilihan
umum anggota DPR, DPD, dan DPRD (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 37,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 4277) tidak mempunyai kekuatan hukum
mengikat.

13

BAB III
PENUTUP
A KESIMPULAN
HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia sesuai dengan
kiprahnya. Setiap individu mempunyai keinginan agar HAM-nya terpenuhi, tapi satu
hal yang perlu kita ingat bahwa Jangan pernah melanggar atau menindas HAM orang
lain.Dalam kehidupan bernegara HAM diatur dan dilindungi oleh perundangundangan RI, dimana setiap bentuk pelanggaran HAM baik yang dilakukan oleh
seseorang, kelompok atau suatu instansi atau bahkan suatu Negara akan diadili dalam
pelaksanaan peradilan HAM, pengadilan HAM menempuh proses pengadilan melalui
hukum acara peradilan HAM sebagaimana terdapat dalam Undang-Undang
pengadilan HAM.
Berdasarkan pasal 1 angka 1 UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM dan UU No.
26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, yang sebagaimana tercantum di dalam
Pembukaan Hak Asasi Manusia menurut Tap. MPR No. XVII/MPR/1998, yang
dimaksud dengan Hak Asasi Manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang melekat
pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa dan
merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilinungi oleh
Negara, hukum, pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan
harkat dan martabat manusia.
Sedangkan yang dimaksud dengan Tapol itu sendiri adalah, Tahanan Politik
yang mana ketika zaman rezim orde baru menjadi pengurus atau anggota organisasi
terlarang Partai Komunis Indonesia (PKI) atau menjadi anggota organisasi massanya.
Dalam putusannya, MK menyatakan bahwa pasal 60 huruf g UU No. 12 tahun
2003 tentang pemilu anggota DPR, DPD, dan DPRD bertentangan dengan UUD 1945
dan tidak mempunyai kekuatan hukum tetap.
B SARAN
Sebagai makhluk

sosial

kita

harus

mampu

mempertahankan

dan

memperjuangkan HAM kita sendiri. Di samping itu kita juga harus bisa menghormati

14

dan menjaga HAM orang lain jangan sampai kita melakukan pelanggaran HAM. Dan
jangan sampai pula HAM kita dilanggar dan dinjak-injak oleh orang lain.Jadi dalam
menjaga HAM kita harus mampu menyelaraskan dan mengimbangi antara HAM kita
dengan orang lain.
Dalam mengantisipasi agar tidak terjadi lagi ketidak harmonisan antara satu
peraturan perundang-undangan dengan peraturan lainnya, seyogyanya DPR dan
Pemerintah, ketika membentuk suatu undang-undang (UU), tidak seharusnya melulu
mempertimbangkannya hanya dari aspek politisnya saja, akan tetapi juga
mempertimbangkannya dari aspek hukumnya juga.

15

DAFTAR PUSTAKA
Undang-Undang Dasar Negara RI tahun 1945
Soedarsono, S. H.. Mahkamah Konstitusi Sebagai Pengawal Demokrasi. Sekjen dan
Kepaniteraan MKRI. Jakarta : 2006.
Soekanto, Soerjono, Sri Mamudji. Penelitian Hukum Normatif. PT. Raja Grafindo
Persada. Jakarta : 2003.
Kaelan. 2004. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta : Paradigma.
Sadjiman, Djunaedi. 2009. Pendidikan Kewarganegaraan. Daerah :Tanpa Nama
Penerbit.
Sumarsono, dkk. 2006. Pendidikan kewarganegaraan. Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama.

16