Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
Gagasan Islam kultural secara geonologis yang diungkapkan oleh
Abdurahman Wahid dengan sebutan pribumisasi Islam pada tahun 1980-an. Dalam
pribumisasi Islam tergambar bagaimana islam sebagai ajaran yang normatif berasal
dari Allah Swt diakomondasikan ke dalam kebudayaan yang berasal dari manusia
tanpa kehilangan identitasnya masing masing. Menurut Abdurahman Wahid,
Arabisasi atau proses mengindentifikasi diri dengan budaya Timur Tenggah berarti
tercabutnya masyarakat dari akar budaya sendiri.1
Inti Islam kultural adalah kebutuhan bukan untuk menghindari polarisasi
antara agama dan budaya, melainkan menemukan jembatan yang menghubungkan
antara agama dan budaya.
Hal ini penting untuk diketahui agar kita dapat mengetahui persoalan Islam
dan kebudayaan. Disamping itu, kita lebih mengetahui sejarah Islam kultural dan
kebudayaan di Indonesia, serta tradisi dan inovasi keislaman di Indonesia.

BAB II
ISI
1.1 Perkembangan Islam Pada Awal Orde Baru dan Faktor Pendorong Munculnya
Islam Kultural
Pada masa awalnya pemerintahan Orde Baru muncul harapan baru di kalangan umat
islam bahwa mereka dapat berperan aktif dalam politik.2 Munculnya harapan itu
dikarnakan beberapa tindakan pemerintah Orde Baru yang menunjukkan pemihakan
kepada umat Islam, seperti pembebasan tokoh tokoh Islam dan diizinkanya koran dam
majalah Islam diterbitkan kembali setelah sebelumnya pada masa Soekarno dilarang.
Tahap pertama yang dilakukan oleh umat Islam untuk mewujudkan harapanya adalah
merehabilitasi Masjumi.3 Pada permulaan Juni 1966, organisasi organisasi Islam,
seperti Muhammadiyah dan NU, secara terbuka mulai menganjurkan perehabilitasian
1 Lihat Wahid, Abdurahman, Pergulatan Negara, Agama, dan Kebudayaan
(Jakarta: Desantara, 2001)
2 Harapan ini muncul dikarenakan sebelumnya, pada masa Demokrasi Terpimpin
aspirasi umat Islam banyak dibungkam oleh Soekarno, seperti misalnya
pembubaran Masjumi dan penangkapan tokoh tokoh penting umat Islam (tokoh
tokoh Masjumi)
3 Majumi dianggap sebagai partai terbesar Islam. Dibunktikan dengan
kemenangan Masjumi dalam Pemilu 1955 di wilayah wilayah Indonesia. Oleh
karna itu, ketika ada kesempatan pada masa Orde baru, umat Islam segera
berusaha melakukan rehabilitas Masjumi.
1

Masjumi.4 Sebagaimana diketahui, Masjumi pada masa Demokrasi Terpimpin telah


dipaksa Soekarno membubarkan diri.
Keadaan terpinggirnya Islam politik ini, menurut Rusli Karim.5 Menimbulkan dua reaksi
umat Islam. Reaksi pertama adalah reaksi yang bersifat negatif, yaitu munculnya
pergerakan berlebihan, oposisi terhdap pemerintah, bahkan berkali kali melakukan
kekerasan dengan mengatasnamakan agama. Tindakan seperti ini makin membuka
peluang bagi pemerintah untuk menekan umat Islam. Reaksi kedua adalah munculnya
kreativitas untuk mencari jalan keluar dari kebuntuan Islam politik. Dengan
demikian, kejatuhan Islam politik (dalam arti politik formal) di Indonesia tidaklah
menyebabkan Islam kehilangan elan vital dalam kerja intelektual.6
Sementara itu, Nurcholish Madjid melihat para tokoh dan pemimpin umat Islam
masih saja terlibat konflik konflik politik perkepanjangan dan melelahkan dengan
sesamanya atau dengan pemerintah. Sedang di pihak lain, muncul perkembangan
perkembangan baru yang menurut adanya pemikiran alternatif baik di bidang agama
maupun sosial politik. Dalam pandangan Nurcholish Madjid, partai dan organisasi
organisasi Islam justru tidak peka terhadap adanya perubahan sosial (sosial Change) yang
terjadi di masyarakat.7
Menurut Nucholish Madjid yang sakral hanyalah Allah semata, sedangkan persoalan
lain seperti negara Islam, partai Islam, dan ideologi Islam tidaklah sakral, karena
Alquran maupun Hadits tidak memerintahan hal tersebut. Gagasan Nurcholish Madjid
itu kemudian dikenal dengan nama Islam kultural.8 Kemunculan Islam kultural dapat
disebut sebagai langkah strategis untuk menjaga dan mengembangkan keberadaan Islam
dan umat Islam. Rusli Karim menyebutkan ada empat faktor yang mendorong
kemunculan Islam kultural sebagai suatu gerakan pembaharuan di Indonesia.9 Pertama,
kemerdekaan yang dicapai bangsa indonesia pada tahun 1945 telah menghilangkan sekat
4 Boland, The Struggle, hal. 151
5 Karim, Negara dan Peminggiran. Hal. 50-51
6 Ahmad Syafii Maarif, Pengaruh gerakan modern Islam Indonesia terhadap
Perkembangan pemikiran Islam Di indonesia Dewasa ini, dalam Akmal Nesery B,
Percakapan Cendikiawan Pembaharuan Islam di Indonesia, cet. III, Bandung:
Mizan, 1991, hal. 49
7 M. Syafii Anwar. Pemikiran dan Aksi Islam Indonesia: Sebuah Kajian Politik
tentang Cendikiawan Muslim Orde Baru, Jakarta: Paramadina, 1995, hal. 48
8 Lihat catatan kaki nomor 9 Bab I. Yang menyebutkan dengan istilah gerakan
pemikiran baru. Pada tahun 1980an, gerakan yang dilakukan oleh Nurcholish
Madjid itu kemudian dikenal dengan istilah Islam kultural
9 Karim. Negara dan Peminggiran, hal. 196
2

sekat bagi umatIslam sehingga mereka mempunyai kesempatan yang sama dengan
warga negara lainya. Kedua, sebagai hasil dari sosialisasi nilai modern melalui
pendidikan umum telah membuka mata umat Islam untuk lebih ralistik dalam
menghadapi realitas kehidupan sekarang ini. Ketiga, sebagai kesinambungan sepanjang
abad ke-20. Keempat, sebagai realisasi dari tanggung jawab agama yang bertumpu
kepada iman yang benar dan pemahaman yang cukup terhadap berbagai aspek ajaran
Islam.

1.2 Islam Kultural dalam Konsepsi Nurcholish Madjid


Islam kultural mempunyai arti bahwa Islam merupakan salah satu komponen yang
membentuk, melandasi, dan mengarahkan bangsa dan negara. Dalam hal ini, Islam
kultural tidak mengharuskan membentuknya negara Islam. Yang paling penting
menurut Islam kultural adalah dilaksanakanya nilai nilai subtansi Islam, yaitu
keadilan, kesamaan, partisipasi, dan musyawarah.10
Menurut Nurcholish Madjid ada beberapa kunci dalam pendekatan kultural (Islam
kultural) yang di tawarkanya, yaitu pertama yang dimaksud dengan tawaran kultural
itu tidak semata mata menunjuk hal hal sempit dan partisan, misalnyapolitik dan
ideologi semata, tetapi kultural dalam format yang meliputi segala galanya. Kedua,
itu berarti harus responsif terhadap tantangan zaman. Artinya Islam harus tampil
responsif terhadap tantangan zaman sehingga tidak ada istilah akhir perjalanan.
Ketiga, harus merupakan hasil dialog dengan tuntutan tuntutan ruang dan waktu,
misalnya untuk Indonesia, Islam harus melakukan dialog dengan tuntutan di
Indonesia. Oleh karena itu, terdapat semacam kesejajaran, jika tidak kesatuan, antara
ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an. Islamic values dengan Indonesian values itu
sebetulnya tidak bisa dipisahkan. Dan ini sebenernya sudah menjadi kenyataan
nasional kita, misalnya istilah perpolitikan yang berasal dari Islam: musyawarah,
mufakat, rakyat, dewan, hukum, tertib, aman, masalah dan sebagainya. Keempat,
ekslusivisme itu harus diakhiri, diganti dengan inklusivisme, serba meliputi siapa
saja.11
1.3 Kebudayaan
Dalam literatur antopologi terdapat tiga istilah yang boleh semakna dengan
kebudayaan, yaitu culture, civilization, dan kebudayaan. Term kultur dari bahasa
Latin, yaitu dari kata cultura (kata kerjayaan colo, colere). Arti kata kultur adalah
10 Effedy, Islam dan Negara. Hal. 16
11 Wawancara Majalah MATRA, Tidak Usah Munafik!, No. 77 Desember 1992
3

memelihara, mengerjakan, atau mengelola (S. Takbir Alisyahbana, 1986: 205).


Soerjono Soekanto (1993: 188) mengungkapkan hal yang sama. Namun, ia
menjelaskan lebih jauh bahwa yang dimaksud, ia mengartikan arti kultur adalah
mengolah tanah atau bertani. Dasar arti yang di kandung, berkebudayaan kemudian
bermakna sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah
alam.12
Nurcholish Madjid menjelaskan hubungan agama dan budaya. Menurutnya, agama
dan budaya adalah dua bidang yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan.
Agama bernilai mutlak, tidak berubah karena perubahan waktu dan tempat.
Sedangkan budaya, sekalipun berdasarkan agama, dapat berubah dari waktu ke waktu
dan dari tempat ke tempat. Sebagian besar budaya didasarkan pada agama; tidak
pernah terjadi sebaliknya. Oleh karena itu, agama adalah primer, dan budaya adalah
skunder. Budaya bisa menurpakan ekspresi hidup keagamaan, karena ia subordinat
terhdap agama, dan tidak pernah sebaliknya.13

1.4 Persentuhan Islam Dengan Kebudayaan Keraton di Indonesia


Indonesia pernah mengalami dualisme kebudayaan , yaitu antara kebudayaan keraton
dan kebudayaan populer. Kedua kebudayaan ini di katagorikan sebagai kebudayaan
tradisional. Berikut ini, kita akan melihat pengaruh Islam terhadap kedua bentuk
kebudayaan tradisonal itu.
Kebudayaan istana atau kebudayaan kraton dikembangkan oleh abdi-dalem atau
pegawai istana, mulai dari pujangga sampai arsitek. Raja berkepentingan menciptakan
simbol simbol budaya tertentu untuk melestarikan kekuasaanya, yaitu berupa mitos.
Dalam sastra kerajaan, mitos itu dihimpun dalam babad, hikayat, dan lontara. Hampir
semua mitos dalam sastra semacam ini berisi tentang kesaktian raja, kesucian, atau
kualitas suorainsani raja. Efek dari penciptaan mitos mitos tersebut agar rakyat loyal
terhdap kekuasaan raja. Salah satu contohnya, dalam babad Jawa digambarkan bahwa
raja adalah pemegang wahyu dengan itu ia merasa sah untuk mengklaim dirinya
sebagai wakil Tuhan untuk memerintah rakyatnya. Sultan Agung bergelar
Khalifatullah atau wakil tuhan di tanah Jawa (Kuntowijoyo, 1991: 230-1).
Konsep kekuasaan Jawa sangat berbeda dengan konsep kekuasaan Islam.
Dalam kebudayaan Jawa dikenal konsep Raja Absolut, Islam justu mengutamakan
konsep Raja Adil, al Malik al Adil. Tetapi, suatu yang harus kita ketahui, budaya
keraton di luar Jawa memiliki konsep yang lebih dekat dengan gagasan Islam. Di
Aceh, misalnya, raja memiliki sebutan al Malik al Adil. Kebudayaan kraton di

12 Atang Abd. Hakim, Jaih Mubarok, Meteologi Studi Islam. Hal. 27


13 Nurcholish Madjid, dalam Yustion dkk. (Dewan Redaksi, 1993: 172-3)
4

Jawa lebih mengutamakan kekuasaan, berbeda dengan kraton di luar Jawa lebih
mengutamakan keadilan.14

1.5 Inovasi Pengaruh Islam Dalam Seni dan Arsitek


Islam dan kebudayaan dalam perspektif ekspresi etetik Islam di Indonesia, dan tradisi
serta inovasi keislaman dalam kebudayaan Indonesia. Ekspresi estetik Islam
tergambarkan dalam arsitek masjid masjid tua. Citra masjid tua adalah contoh dari
interaksi agama dengan tradisi arsitek pra Islam di Indonesia dengan kontruksi kayu
dan atap tumpang berbentuk limas. Seperti contohnya Masjid di Indonesia, Masjid
Demak, Masjid Kudus, Masjid Cirebon, dan Masjid Banten sebagai mesjid di Jawa.
Sedangkan, di Aceh dan Medan corak mesjid tua memperlihatkan atap kubah.
Menurut Nurcholish Madjid, arsitektur mesjid Indonesia banyak diilhami oleh gaya
arsitektur kuil Hindu yang atapnya bertingkat tiga. Seni arsitektur ini sering di
tafsirkan sebagai lambang tiga jenjang perkembangan penghayatan keagamaan
manusia, yaitu tingkat dasar permulaan (purwa), tingkat menengah (madya), tingkat
akhir yang maju dan tinggi (wusana). Gambaran itu dianggap sejajar dengan jenjang
vertikal Islam, Iman, dan Ihsan. Hal ini, dianggap sejajar dengansyariat, thariqat, dan
marifat. 15
Inovasi keislaman di Indonesia ini menarik antara lain salah satu contohnya
bedug, dan kentungan. Sampai saat ini kita masih mendapatkan mesjid yang
menggunakan bedug dan kentungan. Bedug ini tidak hanya dianggap sebagai sarana
untuk memberi tahu waktu shalat, tetapi bedug dianggap sebagai simbol identitas.

14 Atang Abd. Hakim, Jaih Mubarok, Meteologi Studi Islam. Hal. 45-46
15 Atang Abd. Hakim, Jaih Mubarok, Meteologi Studi Islam. Hal. 50
5

DAFTAR PUSTAKA

DRS. Atang Abd. Hakim, MA, DR. Jaih Mubarok. 2014. Meteologi Studi Islam. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Nurcholish Madjid, dalam Yustion dkk. (Dewan Redaksi, 1993: 172-3)
Wawancara Majalah MATRA, Tidak Usah Munafik!, No. 77 Desember 1992
Effedy, Islam dan Negara.
M. Syafii Anwar. Pemikiran dan Aksi Islam Indonesia: Sebuah Kajian Politik tentang
Cendikiawan Muslim Orde Baru, Jakarta: Paramadina, 1995
Ahmad Syafii Maarif, Pengaruh gerakan modern Islam Indonesia terhadap Perkembangan
pemikiran Islam Di indonesia Dewasa ini, dalam Akmal Nesery B, Percakapan
Cendikiawan Pembaharuan Islam di Indonesia, cet. III, Bandung: Mizan, 1991
Karim, Negara dan Peminggiran.
Boland, The Struggle.
Wahid, Abdurahman, Pergulatan Negara, Agama, dan Kebudayaan (Jakarta: Desantara,
2001)
Muhammad Tholhah Hasan, Islam dalam Perspektif Sosio Kultural. Jakarta: Lantabora Press,
2005