Anda di halaman 1dari 51

A.

PENDAHULUAN
1. Dasar Pemikiran
Bimbingan karir merupakan bentuk layanan khusus yang merupakan
usaha bimbingan di sekolah dengan tujuan menyiapkan siswa untuk
menghadapi dunia kerja yang berhasil dan bertanggung jawab di dalam
masyarakat. Bimbingan karir tidak berdiri sendiri melainkan lebih kepada
penekanan yang merupakan salah satu wujud kegiatan atau program umum
bimbingan di sekolah. Sebagai usaha pendidikan, Bimbingan karirberfungsi
sebagai penunjang pelaksanaan kurikulum yang berlaku sehingga bimbingan
karir memusatkan pada individu dan penciptaan situasi belajaryang berpusat
dan bertolak dari kebutuhan siswa, cita-cita pendidikan dan karir, ciri-ciri
pribadi dan masalahnya.
Perencanaan dan program dalam bimbingan karir merupakan soal
penting, tidak pandang apakah bimbingan karir itu diselenggarakan di sekolah
yang kecil atau yang besar, dan apakah penyelenggaraannya di suatu sekolah
itu masih baru atau sudah lama. Pengamatan terhadap pelaksanaan paket
bimbingan karir di sekolah memberikan kesan seakan-akan hal itu terlepas
dari keseluruhan program bimbingan dan pendidikan di sekolah. Demikian
juga diperoleh kesan bahwa penyelenggaraan itu bersifat rutin.
Individu dapat berkembang secara optimal jika ia berada dalam
lingkungan kerja yang memiliki sifat yang sesuai dengan kepribadiannya.
Pilihan karir menjadi suatu hal yang penting untuk dapat mengoptimalkan
potensi yang dimiliki oleh seseorang.
Remaja yang telah menyelesaikan Sekolah Menengah Atas memiliki
kebutuhan untuk mencapai karir yang sesuai dengan mereka. Bimbingan karir
yang umumnya dilakukan pada tahap ini meliputi pengukuran terhadap minat,
kemampuan, dan nilai yang mereka miliki. Umumnya dalam upaya
menentukan pilihan karir yang tepat, remaja akan mengunjungi konselor
untuk mendapatkan bantuan. Ketika berdiskusi dengan remaja mengenai
dunia kerja, konselor akan menemukan pengukuran dan konseling dapat
membantu mereka.

Saat ini sudah cukup banyak alat ukur psikologis yang dapat digunakan
untuk melakukan pengukuran untuk dapat membantu siswa secara optimal.
Muncul kebutuhan akan alat ukur praktis yang dapat dipergunakan sebagai
alat bantu bagi para konselor untuk dapat memberikan konseling awal yang
tepat bagi para siswanya. Alat ukur yang dapat digunakan sebagai jaringan
awal mengenai informasi tentang siswa, terutama kesesuaian antara
karakteristik individu dengan karakteristik pekerjaan yang diinginkan. Alat
ukur yang juga dapat menjaring informasi umum tentang siswa itu sendiri.
2. Ruang Lingkup
Pada laporan bab ini secara keseluruhan akan dibahas mengenai Alat
dan Teknik Pengukuran yang membahas 5 sub bab penting yaitu, refleksi
sistematis, grafis dan penggambaran tertulis, jenis kartu (card sorts), daftar
dan skala penilaian informal, inventori dan tes Psikometri.
B. ALAT DAN TEKNIK PENGUKURAN
Setelah kami membaca buku yang disusun oleh Jennifer M Kidd (2006),
dengan judul Understanding Career Counseling: Theory, Research and Practice
khususnya pada bab enam dengan pokok bahasan Alat dan Teknik Pengukuran.
Kami memaparkan kembali pokok bahasan dari bab enam mengenai beberapa alat
dan teknik dalam pengukuran yang dapat menentukan pemilihan dan perencanaan
karier seseorang.
Dalam bab ini terdapat lima sub pokok bahasan yakni: (1) Refleksi Sistematis
dari Pengalaman yang mencakup (a) Penilaian Tema Karir; (2) Grafis dan
Penggambaran Tertulis; (3) Jenis Kartu (card sorts); (4) Daftar dan Skala
Penilaian Informal; (5) Inventori dan Tes Psikometri yang mencakup (a) Penilaian Isi
Instrumen Pilihan Karir diantaranya The Strong Interest Inventory, Pertanyaan
Penting Minnesota, (b) Instrumen menilai proses pilihan karir diantaranya Inventori
Kematangan Karir (CMI), Inventori Perkembangan Karir, dan Skala Keputusan Karir,
(c) Tes Penilaian Akhir dan Inventori, (d) Penggunaan alat pengukuran dalam
konseling karir.

Sedikit mengenai bab yang akan dibahas lebih terfokus pada alat dan teknik
pengukuran. Pengukuran melibatkan pengumpulan bukti tentang individu untuk
membantu karirnya. Tinjauan alat dan teknik pengukuran diharapkan akan membantu
untuk meningkatkan pengetahuan konselor karir dan mendorong konselor untuk
mencari pelathian lebih lanjut.
1. REFLEKSI SISTEMATIS DARI PENGALAMAN
Pada dasarnya, teknik ini melibatkan klien mendorong untuk
menganalisis pengalaman masa lalu mereka untuk menemukan apa yang dapat
dipelajari dari mereka. Hal ini, Kidd mengacu pada model Kolb (1976) dari
pengalaman belajar, yang ia gambarkan sebagai suatu proses yang terdiri dari
empat tahapan:
1) Pengalaman kongkrit
2) Observasi reflektif
3) Konseptualisasi abstrak
4) Eksperimen aktif
Pada setiap tahap, tuntutan yang berbeda ditempatkan pada individu.
Pada tahap pertama, 'pengalaman konkret', ia berpendapat bahwa peserta didik
harus melibatkan diri secara penuh dan terbuka dalam pengalaman baru.
Selama 'pengamatan reflektif' tahap kedua, mereka harus melangkah mundur
dan merefleksikan pengalaman. Pada tahap 'konseptualisasi abstrak' mereka
harus berusaha untuk memahami dan secara teoritis mengintegrasikan
pengamatan. Terakhir, selama 'percobaan aktif', mereka harus merencanakan
langkah-langkah berikutnya dengan menguji apa yang telah mereka pelajari dan
menggunakannya sebagai dasar untuk perencanaan apa yang harus dilakukan
selanjutnya.
Model ini digunakan dalam teknik refleksi sistematik pengalaman
dengan cara berikut. Pertama, klien diminta untuk merefleksikan pengalaman,
misalnya, pekerjaan mereka di masa lalu atau minat. Mereka kemudian diminta
untuk:

1) Tinjau pengalaman, dengan menjelaskan bagaimana mereka melakukan


aktivitas, dan kepuasan mereka mencari dan mencapai.
2) Simpulkan dari pengalaman, dengan menjelaskan apa yang mereka rasakan
dari kegiatan belajar tentang kemampuan mereka, nilai-nilai, kepribadian
dll.
3) Merencanakan langkah selanjutnya, dengan mengidentifikasi situasi lain
yang pembelajaran yang mungkin sesuai dan menggambarkan bagaimana
mereka bisa menggeneralisasi belajar untuk situasi ini.
Ilustrasi ini akan membantu memberikan contoh:
Jean berusia 35 tahun dan 15 tahun sudah menjadi ibu rumah tangga. Ia sangat
ingin kembali bekerja tetapi tidak memiliki kualifikasi dan pengalaman
pekerjaan. Ketika berkonsultasi dengan konselor karir, konselor memintanya
untuk membuat daftar pekerjaan rumah yang dianggapnya menyenangkan dan
dapat dikerjakannya dengan baik. Akhirnya setelah berkonsultasi dengan
konselor, didapatkan kesimpulan bahwa Jean memiliki kemampuan yang baik
dalam mengatur keuangan keluarganya.
Dari contoh tersebut dapat dilihat salah satu cara sederhana untuk
membantu individu mengidentifikasi keterampilannya dapat dilihat dari refleksi
pengalamannya. Manfaat dari pendekatan ini adalah fokus pada kekuatan bukan
kelemahan klien. Teori sosial kognitif karir dapat membantu klien
meningkatkan persepsi keyakinan diri (self-efficacy) nya yang memiliki
keuntungan bukan hanya membantu klien mengidentifikasi kemampuannya saja
melainkan berpikir tentang sifat, kepribadian, dan minatnya.
a. Penilaian Tema Karir
Kidd mengutip pernyataan Gybers dkk. (2003) bahwa praktisi sering
memfokuskan penggunaan pendekatan naratif dalam mengidentifikasi karir
atau tema kehidupan karir dalam konseling karir. Tema kehidupan karir telah
dideskripsikan sebagai jalan seseorang untuk menyatakan ide, kepercayaan,
sikap, dan nilai tentang dirinya sendiri, orang lain, dan tentang pandangan
mereka terhadap dunia secara umum.
Lebih lanjut, Kidd mengutip pernyataan Gisbers dkk. (2003) bahwa
pendekatan klien kepada pekerjaan dan hubungan sosial dapat dianalisis

dengan menggunakan hal ini, dan mereka menyediakan seorang pemandu


yang bermanfaat yang melakukan wawancara yang sesuai dengan
pendekatan ini. Sebuah tugas yang diberikan dari konselor kepada klien akan
membantu klien mengerti diri mereka mengenai perasaan dan makna hidup
bagi mereka. Hal ini mungkin terlihat agak berlebihan, namun teknik ini
biasanya sangat bermanfaat untuk melakukan diskusi lebih dalam tentang
kelemahan, kekuatan, nilai, dan minat seseorang. Mereka menyarankan
struktur wawancara penilaian kehidupan karir terdapat diskusi tentang:
1) Pengalaman kerja, pendidikan, pexlatihan, termasuk apa yang disuka
atau tidak disukai.
2) Aktivitas di waktu luang.
3) Kebiasaan yang dilakuakn setiap hari, termasuk seberapa jauh individu
terlepas/lebih mandiri dan seberapa jauh mereka menyukai kegiatan
rutin/spontan.
4) Kekuatan dan hambatan yang dirasakan.
2.

Gambar dan Penggambaran Tertulis


Menurut Kidd, Klien diminta untuk menggambarkan diri mereka pada
grafis

secara

tertulis. Beberapa

klien

merasa

lebih

mudah

untuk

mengekspresikan diri menggunakan diagram bukan kata-kata, terutama ketika


mereka ingin mengeksplorasi ide-ide dan perasaan yang mungkin sulit untuk
verbal. Pendekatan ini dapat menjadi titik awal yang baik untuk merefleksikan
pengalaman masa lalu, menetapkan tujuan masa depan dan menganalisis
kekuatan dan kelemahan. Untuk contoh:
1) 'Jalan peta' dan 'baris hidup' dapat digunakan untuk membantu klien
meninjau kehidupan mereka hingga saat ini atau di masa depan. Mereka
mungkin akan diminta untuk menarik garis yang mewakili warna peristiwa
penting dan simbol. Atau, mereka bisa menggunakan grafik dua dimensi
dengan waktu sebagai sumbu x dan, katakanlah, harga diri atau
kesejahteraan sebagai sumbu y.

2) Penggambaran tertulis dapat menggunakan pertanyaan-pertanyaan seperti


'Apa yang tampaknya anda cari, atau menghindari, dalam hidup Anda?',
Prestasi apa yang paling memuaskankamu? " atau 'Apa yang akan Anda
paling ingin lakukan dalam sepuluh tahun waktu?'
3.

JENIS KARTU (CARD SORTS)


Selanjutnya Kidd menjelaskan bahwa jenis kartu adalah kegiatan di
mana seorang individu diberikan satu set kartu dan diminta untuk
mengurutkannya dalam beberapa urutan bermakna. Setiap kartu biasanya
merepresentasikan sesuatu yang berkaitan dengan pengambilan keputusan karir,
misalnya, keterampilan nilai kerja (kepuasan dicari dari kerja). Individu
mungkin diminta untuk menempatkan kartu dalam urutan peringkat, menurut
pentingnya mereka. Alternatifnya, klien mungkin diperlukan untuk mereka ke
dalam berbagai semacam tumpukan sebagai contoh, mereka yang sangat
penting, agakpenting atau tidak penting.
Kidd menyertakan salah satu contoh jenis kartu baru dikembangkan oleh
Parker (2002) adalah Intelegent Carrer Card Sort. Pernyataan Kidd didasarkan
pada Arthur, Claman dan Defillipi (1995) model 'intelegent carrer'. Para penulis
menyarankan bahwa kesuksesan karir dan kepuasan tergantung pada tiga
'kompetensi karir' atau 'investasi karir': 'mengetahui-mengapa', 'mengetahuibagaimana' dan 'mengetahui-siapa'. Mengetahui mengapa termasuk nilai kerja
dan

makna

pribadi

dari

keseimbangan. Mengetahui

pekerjaan,

serta

masalah

bagaimana-mencerminkan

kerja

kehidupan

keterampilan

dan

kemampuan individu, dan termasuk keterampilan baik yang berhubungan


dengan karir dan pekerjaan terkait dengan pengetahuan. Mengetahui-siapa
mengacu pada ikatan kontak sosial dan hubungan yang membuat individu di
dalam dan di luar organisasi mereka.
Menurut Kidd, jenis kartu itu sendiri berisi kartu menggambarkan aspek
dari masing-masing jenis investasi karir. Contoh 'mengetahui-mengapa' adalah:
'Saya ingin ditantang dalam pekerjaan saya', dan 'Aku ingin bekerja dalam suatu

industri yang penting'. 'Mengetahui-bagaimana' kartu meliputi: 'Saya berusaha


untuk menerapkan keterampilan yang saya miliki' dan 'Aku berusaha untuk
menjadi pemimpin yang lebih baik'. Contoh 'mengetahui-siapa' adalah: 'Saya
mencari dukungan dari orang-orang yang tertarik dalam karir saya' dan 'Saya
bekerja dengan orang-orang dari siapa saya bisa belajar'. Individu diminta untuk
memilih tujuh kartu di masing-masing kelompok yang paling menggambarkan
situasi karir mereka saat ini. Mereka kemudian diberitahu untuk peringkat
setiap rangkaian dalam tujuh urutan kepentingan. Salah satu prinsip dasar dari
latihan ini adalah bahwa setiap orang menafsirkan kartu dengan cara mereka
sendiri, dan karena itu diskusi tentang arti dari kartu yang dipilih sangat penting
dalam interpretasi hasil. Seperti alat-alat lain, jenis kartu menyediakan struktur
dalam berurusan dengan tugas yang rumit dan asing. Juga, menyelesaikan
semacam kartu bisa menyenangkan dan menarik dan karena itu dapat
berkontribusi banyak untuk mengembangkan aliansi kerja.
4.

Daftar Dan Skala Penilaian Informal


Kontras dengan instrumen psikometrik standar. Sebuah daftar sederhana
bakat atau minat, misalnya, mungkin berguna bagi klien yang membutuhkan
stimulus untuk diskusi yang dapat diberikan cukup cepat. Banyak contoh dari
ini dapat ditemukan dalam bahan self-help dan workbook perencanaan
karir. Kidd mengutip temuan Hirsh dan Jackson (1994), yang telah
mengembangkan beberapa alat-alat sederhana bagi individu untuk menilai
kekuatan, kepentingan dan nilai-nilai, dan membandingkan pilihan.
Jenis-jenis alat dan teknik yang dijelaskan sejauh ini dalam bab ini
sering disebut sebagai instrumen 'informal'. Keuntungannya termasuk: biaya
rendah dan fleksibilitas, mereka sering tidak harus dipesan dari penerbit,
mereka mungkin membutuhkan waktu lebih sedikit daripada teknik yang lebih
formaluntuk mengelolanya, klien mungkin merasa kurang cemas dalam
menyelesaikannya dibandingkan dengan teknik formal, dan memiliki lebih
besar rasa kepemilikan hasil, dan praktisi mungkin tidak perlu pelatihan yang
panjang dalam penggunaannya.

Namun,

karakteristik

kurang

positif

beberapa

alat

ini

harus

dicatat. Misalnya, cara standar menafsirkan hasil dari kegiatan ini jarang
diberikan, dan oleh karena itu interpretasi mereka sepenuhnya diserahkan
kepada keterampilan praktisi. Juga metode yang lebih kuantitatif, seperti jenis
kartu dan daftar cek, seperti keandalan atau validitas, dan mereka jarang
didukung oleh data yang memungkinkan individu untuk membandingkan nilai
mereka dengan orang lain.
Perkembangan jenis instrumen menunjukkan banyak 'menciptakan
kembali roda'. Tertarik untuk mengembangkan alat-alat mereka sendiri, praktisi
dan peneliti jarang mencurahkan waktu yang cukup untuk meninjau instrumen
yang ada dan mempertimbangkan apakah akan menggunakannya utuh atau
beradaptasi mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
5.

INVENTORI DAN TES PSIKOMETRI


Menurut Kidd, Inventori dan tes psikometri umumnya digunakan
didalam konseling karir untuk menilai bukan hanya sebagai atribut yang
relevan dengan pilihan kerja, seperti kepentingan kerja, nilai pekerjaan, bakat
dan kepribadian, tetapi juga komponen lain dari pengembangan karir, seperti
gaya dan keterampilan pengambilan keputusan, dan kematangan karir (atau
kesiapan tugas-tugas psikologis untuk pengembangan karir). Tes Data base
British

Psychological

Society

(BPS)

diakui

tersedia

di

www.psychtesting.org.uk, dan ini berisi daftar orang-orang yang berguna untuk


konseling dan pengembangan karir. Banyak dari jenis instrumen yang hanya
tersedia bagi individu dengan pengalaman dan pelatihan yang tepat. Di Inggris,
misalnya, tes dan inventori yang paling tersedia hanya untuk mereka yang
memegang Tingkat BPS A atau Level kualifikasi B dalam pengujian kerja.
(Untuk informasi lebih lanjut tentang kualifikasi ini, lihat Jackson (1996).
Namun, klien sering datang ke konseling karir dengan hasil tes yang diberikan
dalam pengaturan lainnya, sehingga sangat penting bagi konselor karir
memahami beberapa prinsip dasar pengujian.

Kidd lebih cenderung menggunakan istilah 'tes' untuk mengacu pada


langkah-langkah yang menilai kinerja maksimal. Asumsi yang mendasari ini
adalah bahwa individu akan berusahauntuk menampilkan dibagian atas formulir
mereka. Instrumen ini dapat dibandingkan dengan ukuran respon yang khas,
yang sering disebut inventori. Ini didasarkan pada self-report, pada individu
menggambarkan suka dan tidak suka, atau bagaimana mereka biasanya
berperilaku.
Perbedaan juga bisa dibuat antara instrumen yang membantu individu
menilai konten pilihan karir, atau 'apa yang harus dipilih', dan orang-orang yang
menilai proses pilihan, atau 'bagaimana memilih'. Kekuatan dan kelemahan, ciri
kepribadian,

dan

kepentingan

dan

nilai-nilai

yang

penting

dalam

mempertimbangkan isi pilihan. Membantu klien menilai karakteristik ini


memungkinkan mereka untuk mengeksplorasi karakteristik yang membantu
mereka mengidentifikasi atau mempertimbangkan pekerjaan, mengikuti
lingkungan seseorang sesuai dengan pendekatan.
Menurut Kidd, Klien konseling karir juga memerlukan bantuan dengan menilai
keterampilan pengambilan keputusan, dan instrumen telah dikembangkan dengan
menilai kematangan karir (kesiapan individual untuk pengambilan keputusan), ketidak
tegasan karir, dan aspek lain dari proses pemilihan karir. Misalnya, jika membantu
klien untuk menilai minat dan kemampuan tampaknya tidak memungkinkan mereka
untuk bergerak maju dalam pengambilan keputusan mereka, mungkin akan lebih
kearah membantu untuk mencoba mengidentifikasi hambatan atau keyakinan irasional
yang mungkin menghambat kemajuan. Kidd mengutip Skala Keputusan Karir yang
dikembangkan oleh Osipow dkk. (1997), dijelaskan di bawah ini, adalah salah satu
contoh dari instrumen yang mengidentifikasi beberapa sikap dan hambatan.

a.

Penilaian Isi Instrumen Pilihan Karir


Menurut Kidd, Instrumen psikometrik yang paling umum digunakan
dalam konseling karir adalah inventori minat pekerjaan. Inventori minat
digunakan terutama sebagai bantuan untuk mengukur diri, membantu
individu mengidentifikasi bidang pekerjaan yang cenderung cocok pada
pekerjaan tersebut. Biasanya, tanggapan individu untuk item dalam

inventori dibandingkan dengan tingkatan orang yang bekerja diberbagai


pekerjaan, dan orang tersebut kemudian dapat menilai betapa miripnya
minat mereka dengan orang-orang yang bekerja pada pekerjaan mereka.
Beberapa inventori menyediakan profil individu dengan nilai pada berbagai
dimensi kepentingan dan membandingkan profil individu dengan profil
pekerja dipekerjaan tertentu.
1) The Strong Interest Inventory
Menurut Kidd, salah satu yang paling terkenal dalam inventori
minat adalah The Strong Interest Inventory yang dikembangkan oleh
Harmon dkk. (1994). Hal ini didasarkan pada Holland (1997) model
kepentingan kerja, dan menggunakan kedua pendekatan di atas dalam
interpretasi skor individu. Tabel 6.1 menunjukkan kategori tema
pekerjaan umum dan kepentingan dasar yang digunakan dalam
instrumen ini.
Tujuan menggunakan inventori minat dalam konseling karir
bukanlah untuk mengidentifikasi suatu pekerjaan khusus yang sesuai
dengan individu, melainkan untuk membantu klien belajar tentang
potensial pekerjaan dan bagaimana mereka itu berbeda. Daftar
kepentingan yang digunakan dalam inventori minat juga memberikan
'kerangka pekerjaan kognitif' untuk digunakan dalam pengambilan
keputusan.
Tabel 6.1 Tema pekerjaan umun dan skala minat dasar yang digunakan dalam
strong inventory interest
Tema pekerjaan

Skala minat dasar

umun
Realistis

Pertanian, Alam, Kegiatan Militer; Atletik; Mekanik

Investigasi
Artistik

Kegiatan
Sains, Matematika, Ilmu Kedokteran
Musik Drama, Seni, Seni Terapan; Menulis; Kuliner
Seni

Sosial

Pengajaran, Layanan Sosial, Layanan Medis;

Enterprising

Kegiatan Keagamaan
Public speaking, Hukum/Politik; Merchandising;

Konvensional

Penjualan; Manajemen Organisasi


Data Manajemen, Kegiatan Komputer; Kantor
Layanan

2) Pertanyaan Penting Minnesota


Menurut Kidd, Mengukur nilai-nila kerja, atau dasar keyakinan
tentang apa yang penting bagi individu dalam pekerjaan konteks, juga
sering digunakan dalam konseling karir. Salah satu contoh adalah daftar
pertanyaan penting minnesota (Rounds, Henley, Dawis, Lofquist &
Weiss, 1981). Instrumen ini memerlukan individu untuk menilai arti
penting dari 20 hubungan nilai-nilai atau kebutuhan, masing-masing
yang diwakili oleh sebuah pernyataan. 20 nilai-nilai dan pernyataan
yang digunakan untuk menilai mereka, adalah sebagai berikut :
a) Ability utilisation. Saya dapat melakukan sesuatu yang membuat
kemampuan saya berguna.
b) Penghargaan. Pekerjaan bisa memberikanku perasaan dihargai
c) Aktivitas. saya bisa menjadi sibuk sepanjang waktu.
d) Kemajuan. Pekerjaan akan menyediakan kesempatan untuk
kemajuan,
e) Otoritas. Saya dapat mengatakan kepada orang-orang apa yang
dilakukan
f) Kebijakan perusahaan dan praktek.Perusahaan akan melaksanakan
kebijakan secara adil.
g) Kompensasi. Gaji saya lebih baik dibandingkan dengan pekerja
lain.
h) Relasi kerja. Relasi kerjaku dengan mudah untuk menjalin
hubungan pertemanan
i) Kreativitas.saya bisa melatih beberapa ide-ide saya sendiri.
j) Kebebasan. saya dapat megerjakan sendiri pekerjaan ku.
k) Nilai-nilai moral. saya bisa melakukan pekerjaan tanpa merasakan
moral yang salah.

l) Pengakuan. Saya bisa mendapatkan penghargaan untuk pekerjaan


m)
n)
o)
p)
q)

yang saya lakukan.


Tanggung jawab. Saya dapat membuat keputusan saya sendiri
Keamanan. Pekerjaan dapat menyediakan pekerjaan yang tetap
Pelayanan sosial. Saya dapat melakukan sesuatu untuk orang lain
Status Sosial. Saya dapat menjadi seseorng di suatu komunitas
Pengawasan-Hubungan manusia. Atasanku akan mem back up para

pekerja
r) Pengawasan teknik. Atasanku akan melatih para pekerja dengan
baik.
s) Keragaman. Saya akan melakukan sesutu yang berbeda setiap hari
t) Kondisi Kerja. Pekerjaan akan menghasilkan sesuatu yang baik
apabila lingkungan nya juga baik.
Selain itu, Menurut Kidd Mengukur kemampuan kurang sering
digunakan dalam konseling karir. Namun, beberapa klien butuh
bantuan untuk menilai apakah mereka sudah memiliki, atau bisa
memperoleh kemampuan dan keterampilan yang diperlukan untuk
melakukan pekerjaan tertentu. Tes kemampuan dan bakat tertentu yang
umum dapat digunakan dalam hal ini. Ukuran kemampuan yang
banyak digunakan di Inggris adalah Watson Glaser Critical Thinking
Appraisal (Watson & Glaser, 1994). Ini memerlukan individu untuk
membaca bagian dan menjawab pertanyaan di atasnya. Tes menilai
kemampuan untuk membuat kesimpulan, mengakui asumsi, membuat
pengurangan, menafsirkan data, dan mengevaluasi argument.
Mengukur kepribadian dapat digunakan untuk membantu
individu menilai gaya pribadi mereka berhubungan dengan orang dan
mengerti pribadi orang juga dapat membantu dalam memilih seorang
cocok kerja pengaturan serta pekerjaan tertentu. Umumnya digunakan
mengukur termasuk Cattell's 16PF (Cattell, Eber &Tatsuoka, 1970),
daftar pertanyaan kepribadian yang kerja (Saville,Holdsworth, Nyfield,
Cramp & Mabey, 1984). Pengukuran 16PF dimensi kepribadian
sebagai berikut:

a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)
k)
l)
m)
n)

Pendiam: Aktif
Lebih cerdas: kurang cerdas
Emosional: tenang
Sederhana: Tegas
Serius: Keberuntungan
Teliti: bijaksana
Pemalu : Pemberani
Tangguh : Lembut
Mempercayai: mencurigakan
Praktis: imajinatif
Terus terang: perhitungan
Meyakinkan sendiri: memprihatinkan
Konservatif: radikal
Santai: tegang
Bagian minat, nilai-nilai, kemampuan dan kepribadian, penulis

mencatat semakin diperlukannya 'soft skills' untuk penyesuaian dalam


perubahan lingkungan kerja. Chartrand dan Walsh (2001), berpendapat
bahwa keterampilan interpersonal tertentu dan karakteristik gaya
kognitif (misalnya, kreativitas dan efektif pemecahan masalah)
semakin penting. 'Kecerdasan emosional' (Salovey & Mayer, 1990)
juga menekankan kepada kemampuan seperti pengendalian diri,
ketekunan, dan kemampuan untuk menilai emosi orang lain. Psikolog
telah melakukan cukup banyak usaha dalam mengembangkan
instrumen untuk mengukur konstruksi ini, tetapi sedikit digunakan
dalam konseling karir.

b. Instrumen menilai proses pilihan karir


Menurut Kidd, instrumen ini berfokus pada penilaian terhadap jenis
keterampilan yang diperlukan untuk pengambilan keputusan yang efektif
terhadap masalah dan proses pengambilan keputusan karir. Instrumen baru
sering muncul, namun sebagian besar berkonsentrasi pada penilaian
kematangan karir, kebingungan karir dan ketidakpastian, dan hambatan

untuk membuat pilihan karir. Di sini berfokus pada dua tipe pengukuran:
kematangan karir dan keraguan karir.
Di Amerika Serikat, banyak perhatian telah diberikan kepada penilaian
kualitas

pribadi

yang

membantu

mempersiapkan

individu

untuk

pengambilan keputusan karir. Kidd mengutip pernyataan Super dan


Overstreet (1960) bahwa 'kematangan karir' untuk menggambarkan perilaku
coping yang dibutuhkan untuk menangani tugas-tugas karir.Pada tahap
eksplorasi awal, kematangan karir didefinisikan sebagai kesiapan individu
untuk pengambilan keputusan karir. Kemudian model dan pengukuran pada
pekerjaan ini, dan sejak itu beberapa pengukuran kematangan karir telah
dikembangkan. Dua contohnya yaitu inventori kematangan karir dan
inventori pengkembangan karir.
1)

Inventori Kematangan Karir (CMI)


Kidd mengutip pernyataan Crities (1978) bahwa inventori
kematangan karir memiliki dua bagian: test kompetensi dan skala
sikap. Tes kompetensi ini dirancang untuk menilai sejauh mana
individu memiliki informasi karir, perencanaan dan keterampilan
pengambilan keputusan untuk membuat keputusan yang realistis dan
bijaksana. Ada lima sub-skala:
a) Penilaian diri - mengetahui diri sendiri.
b) Informasi pekerjaan- mengetahui tentang pekerjaan.
c) Tujuan seleksi - memilih pekerjaan.
d) Perencanaan - melihat ke depan.
e) Pemecahan masalah - apa yang harus mereka lakukan?
Terdapat lima sub-skala mengukur sikap terhadap pengambilan
keputusan berikut, diantaranya sebagai berikut:
a) Ketegasan - sejauh mana individu pasti tentang membuat pilihan
karir.
b) Keterlibatan - sejauh mana individu secara aktif berpartisipasi
dalam proses membuat pilihan.
c) Independen - sejauh mana individu bergantung pada orang lain
dalam pilihan pekerjaan.
d) Orientasi - orientasi kesenangan dalam sikap terhadap pekerjaan.

Kompromi - sejauh mana individu bersedia untuk kompromi antara


kebutuhan dan kenyataan.
2) Inventori Perkembangan Karir (CDI)
Kidd mengutip temuan Inventori perkembangan karir dari Super
dkk. (1981) dirancang untuk menilai atribut yang sama. Sub-skala adalah
sebagai berikut:
a) Perencanaan karir
b) Eksplorasi karir
c) Pengambilan keputusan
d) Dunia informasi kerja
e) Pengetahuan kelompok kerja disukai
CMI dan CDI digunakan untuk diagnostik dalam konseling karir
individu, untuk menilai di mana klien mungkin memerlukan dukungan
tertentu. Konseling karir telah ditemukan untuk mempengaruhi secara
positif kematangan karir yang diukur oleh instrumen ini. 'Keraguan'
dalam pilihan karir mengacu pada ketidakmampuan individu untuk
berkomitmen ke karir. Menyimpulkan, Kiddd mengutip pernyataan
Osipow dkk. (1997) bahwa salah satu contoh alat yang dirancang untuk
mengukur kebingungan adalah skala keputusan karir.
3) Skala Keputusan Karir
Dua item dari skala ini meminta individu untuk menunjukkan atau
tidak dalam membuat pilihan yang pasti yaitu pendidikan dan karir.
Jumlah

skor

indeks

kejuruan/pendidikan.

Item

dalam

menilai

kemungkinan penyebab berbagai keraguan karir ada dalam empat faktor:


a)

Kurangnya struktur dan kepercayaan diri - kurang identitas diri yang jelas.

b)

Pendekatan-pendekatan konflik - kesulitan dalam memutuskan antara


beberapa pilihan.

c)

Hambatan eksternal - constsaints untuk pilihan yang timbul dari faktor luar
individu.

d)

Konflik pribadi - akan melawan keinginan orang lain.

Ukuran ini telah digunakan baik dalam diagnosis individu dan evaluasi.
c. Tes Penilaian Akhir dan Inventori
Tes psikologis dan inventori harus menghasilkan pengukuran akurat
dari konstruksi yang mereka nilai. Oleh karena itu, mereka harus
reliabilitas. Instrumen koefisien reliabilitas menunjukkan sejauh mana itu
stabil, atau mampu menghasilkan hasil yang konsisten. Sebuah instrumen
juga harus berlaku, mengukur apa yang bertujuan untuk mengukur. Skor
baku diperoleh langsung dari ukuran yang sering muncul kecuali
dipertimbangkan dalam kaitannya dengan kinerja kelompok tertentu
individu. Namun, norma-norma yang digunakan untuk menafsirkan skor
yang diberikan tergantung pada klien dan tujuan yang penilaian sedang
dilakukan. Keadilan juga penting, dan praktisi perlu tahu mana populasi
telah digunakan untuk menguji dan standarisasi instrumen. Latar belakang
etnis Gender, usia dan jenis kecacatan semua akan relevan.
d. Menggunakan Alat Pengukuran dalam Konseling Karir
Hasil dari alat pengukuran umumnya dipandang hanya sebagai salah
satu unsur dalam membantu. Orientasi perkembangan untuk konseling karir
menunjukkan klien harus terlibat dalam pemilihan alat, dan sebagai mitra
sejajar, bukan penerima pengetahuan yang pasif. Klien harus cukup siap
untuk proses penilaian, hal ini mungkin termasuk menjelaskan kepada
mereka apa yang akan keluar dari penilaian, menjelaskan kegiatan dan
berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya, memberitahu
mereka ketika hasil akan tersedia (jika akan ada penundaan); menjelaskan
bagaimana hasilnya akan dilaporkan, dan menjadi jelas apa yang akan
terjadi pada hasil.
Kidd mengutip pendapat Nathan dan Hill (2006) yang menekankan
pentingnya

memberikan

klien

ruang

untuk

mendiskusikan

dalam

menyelesaikan latihan atau instrumen. Dalam kutipan dari sesi konseling


karir, mereka menunjukkan bagaimana berbicara melalui reaksi terhadap

kekuatan latihan yang menyebabkan diskusi, bahkan sebelum isi dari


latihan dibahas:
Dave
Konselor karir
Dave

: Saya tidak punya waktu untuk melakukan semua latihan


: Anda benar-benar sibuk
: Ya, dan aku hanya tidak bisa berpikir bagaimana untuk
memulai
Konselor karir
: Jadi,pertanyaan-pertanyaan itu sulit?
Dave
: Tidak...saya berarti ya...saya tidak berpikir saya pernah
mencapai apa-apa
Konselor karir
: Ya, prestasi adalah kata yang kuat.
Dave
: Hmm...juga ada beberapa kali yang baik.
Konselor karir
: Dapatkah Saya bisa mendengar tentang salah satu dari
mereka? (Nathan &Hill,2006:80)
Selain itu, praktisi memiliki tanggung jawab etis untuk bergerak
melampaui penafsiran langsung dari penilaian untuk membantu klien untuk
menggunakan hasil dalam mengelola karir mereka. Ini melibatkan
pergeseran dari penyajian data untuk membuat kesimpulan tentang arti dari
data. Bila menggunakan instrumen yang berhubungan atribut individu
untuk pekerjaan, hal ini berguna untuk:
a) Pertimbangkan atribut yang diukur dengan instrumen dan memeriksa
dengan akurasi klien.
b) Periksa dengan klien, apakah beberapa atribut diatas atau di bawah
ditekankan dalam gambaran total
c) Diskusikan dengan klien apakah beberapa informasi dari penilaian ini
hanya relevan untuk tahap tertentu atau tahap yang lewat dalam
pengembangan
d) Diskusikan dengan klien seberapa jauh informasi memperhitungkan
diri atau masa depan
e) Membantu klien untuk berpikir luas tentang bagaimana kombinasi
karakteristik berhubungan dengan berbagai pekerjaan.
f) Membantu klien untuk mempertimbangkan implikasi gaya hidup dari
pekerjaan yang diidentifikasi oleh instrumen, termasuk perjalanan,
pendapatan dan jam kerja.

g) Saran kancara untuk mengeksplorasi pilihan pekerjaan ketika mereka


telah diidentifikasi, misalnya, membayangi pekerjaan, melihat video,
magang dan kerja part time
Setelah beberapa eksplorasi ini telah dilakukan, tawarkan
wawancara tindak lanjut untuk membantu mereka mengevaluasi apa yang
telah mereka pelajari, dan untuk memutuskan apakah akan menjaga
pekerjaan tertentu dalam daftar pendek atau membuangnya.
C. PEMBAHASAN
Berdasarkan laporan BAB II, disimpulkan bahwa ada beberapa alat dan teknik
pengukuran yang digunakan dalam konseling karir, diantaranya: (1) Refleksi
Sistematis dari Pengalaman yang mencakup (a) Penilaian Tema Karir; (2) Grafis dan
Penggambaran Tertulis; (3) Jenis Kartu (card sorts); (4) Daftar dan Skala
Penilaian Informal; (5) Inventori dan Tes Psikometri yang mencakup (a) Penilaian Isi
Instrumen Pilihan Karir, (b) Instrumen menilai proses pilihan karir, (c) Tes Penilaian
Akhir dan Inventori, (d) Penggunaan alat pengukuran dalam konseling karir.
Dalam BAB ini kami akan membahas lebih lanjut mengenai alat dan teknik
pengukuran karir yang lainnya, yaitu:
1. Alat Penulusuran Minat
2. Genogram, dan
3. Inventori Minat Lainnya
Sebelum membahas lebih lanjut kami akan mengulas sedikit mengenai
pengertian minat. Menurut Nathan dan Hill (2012, hlm 143) Minat adalah kegiatankegiatan yang menyenangkan. Sedangkan Menurut Slameto (2003, hlm.180) Minat
adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktifitas, tanpa
ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan
antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan
tersebut, semakin besar minatnya.

Dari pengertian minat di atas, dapat disimpulkan bahwa minat adalah kesukaan
atau kecenderungan terhadap objek,kegiatan atau sesuatu hal lainnya dengan perasaan
senang tanpa ada paksaan.
1. Alat Penelusuran Minat
Instrumen ini diberi nama Alat Penelusuran Minat, yang digunakan
untuk mengungkap keinginan atau kadar kesukaan peserta didik SMP
terhadap 14 objek peminatan yang mengacu pada kegiatan kelompok mata
pelajaran yanng ada pada jenjang pendidikan menengah. Instrumen ini
berbentuk kuesioner berupa daftar cek dengan model pilihan paksa (force
choice) YA/TIDAK (Kemendikbud, 2013,hlm.83).
Alat Penelusuran Minat ini diberikan kepada siswa kelas IX, karena
memiliki instrumen yang berbeda dengan penulusuran minat untuk kelas VII,
dan VIII. Diupayakan setelah melakukan penelusuran minat ini, siswa kelas
IX mendapatkan rekomendasi dari guru BK, sehingga mempunyai gambaran
atau pilihan mengenai minatnya dan jenjang pendidikan lanjutan yang akan
dipilihnya sesuai minatnya.
Karena, tujuan instrumen ini digunakan untuk membantu peserta didik
dalam memilih dan menetapkan mata pelajaran yang diikuti pada jenjang
pendidikan menengah, memahami dan memilih arah pengembangan karier,
dan menyiapkan diri, serta memilih pendidikan lanjutan sampai ke jenjang
pendidikan tinggi sesuai dengan kemampuan dasar umum, bakat, minat, dan
kecenderungn

pilihan

masing-masing

peserta

didik

(Kemendikbud,

2013,hlm.23).
Pelaksanaan penulusuran minat di kelas IX ini, terdiri dari:
a) Tahapan Pengungkapan Minat
Pada tahapan ini kegiatan inti yang dilakukan siswa yaitu siswa
mengisi instrumen penulusuran minat yang dibagikan oleh guru BK, dengan
perkiraan waktu mengisi 15 menit. Cara pengerjaannya yaitu dengan

membubuhkan tanda cek () pada kolom pernyataan dengan memilih YA atau


tidak pada setiap pernyataan.
b) Tahapan Pemahaman
Pada tahap pemahaman, kegiatan yang dilakukan oleh siswa dengan
bimbingan guru BK, siswa melakukan penskoran dengan cara memberi skor 1
pada jawaban YA dan skor 0 pada setiap jawaban TIDAK, kemudian
mengtung skor jawaban YA pada setiap kelompok bidang minat.
c) Tahapan Penentuan Pilihan
Pada tahap penentuan pilihan ini dilakukan oleh siswa sendiri. Siswa
memilih bidang mata pealajaran yang diminati atau disukai dari urutan minat
yang didapatkan dari Alat Penulusuran Minat.
d) Tindak Lanjut
Tindak lanjut ini dilakukan oleh guru BK dengan memberikan
rekomendasi

penyaluran

dan/atau

penempatan

kegiatan

kokulikuler/ekstrakulikuler, kelompok mata pelajaran, serta jurusan pada


jenjang pendidikan menengah.
Bagi peserta yang mengalami kesulitan atau ragu-ragu, maka kegiatan
tindak lanjut yang dilakukan guru BK dalam bentuk pelayanan responsif atau
konseling.
2. GENOGRAM
Secara etimologis, genogram berarti silsilah, yaitu gambar asal-usul
keluarga klien sebanyak tiga generasi. Penggunaan teknik genogram dilandasi
oleh asumsi bahwa ada pengaruh dari orang lain yang berarti (significant
orther) terhadap individu dalam identifikasi perencanaan dan pemilihan karir
(Supriatna dan Ilfiandra, 2006).
Dengan menggunakan teknik genogram, konselor dapat mengarahkan
atau menggali minat peserta didik dengan melihat pekerjaan keluarganya, baik
dari ayahnya, ibunya, kakek atau neneknya, dan keluarga yang lainnya lagi.
Diharapkan dengan melihat pekerjaan keluarganya, siswa berminat atau
terinspirasi mengikuti pekerjaan keluarganya.

Dalam memlih pekerjaan, tidak dapat dipungkiri bahwa lingkungan


mempengaruhi minat siswa untuk memilih pekerjaan yang diinginkan atau
dicita-citakannya.
Penerapan teknik genogram ditempuh dalam tiga tahap, yaitu:
a) Kontruksi Genogram
Proses ini merupakan tahap pertama untuk memetakan/membuat
gambar silsilah atau asal-usul keluarga klien sebanyak tiga generasi, yaitu
generasi klien, generasi orang tua dan generasi kakek nenek klien.
Pada

tahap

ini

klien

bersama-sama

dengan

konselor

akan

menggambarakan ketiga generasi yang diketahuinya dalam diagram.


b) Identifikasi Jabatan
Pada tahap ini konselor bersama klien berupaya menelusuri bidangbidang pekerjaan/jabatan yang ada pada anggota keluarga dari tiga
generasi itu, termasuk usaha yang ditempuh untuk memperoleh
pekerjaan/jabatan, tingkat keberhasilan, dan konsekuensinya dalam aspek
kehidupan yang bersangkutan.
c) Eksplorasi Klien
Pada tahap ini dilakukan wawancara yang bertujuan untuk
memperoleh pemahaman diri dan lingkungan serta dapat merencanakan
karirnya. Hal yang perlu dianalisis selama wawancara genogram, yaitu :a)
isi pengamatan diri klien, b) pemahaman lingkungan/dunia kerja, c) proses
pembuatan keputusan, d) model-model pola hidup, e) model-model
okupasional (Supriatna dan Ilfiandra, 2006).
Melalui media genogram, klien dapat dibantu untuk memahami
dirinya, lingkungan keluarga khususnya yang berkaitan dengan dunia kerja
serta pola-pola okuvasional anggota keluarga, hingga dirinya dapat
mengidentifikasi, memahami, merencanakan serta membuat keputusan karir
masa depan hidupnya (Supriatna, 2010, hlm. 66).
Teknik genogram ini dilakukan secara individual. Proses konseling
dengan menggunakan genogram yaitu, jika siswa memiliki kebingungan

dalam menentukan pekerjaan yang akan dipilihnya, dan disamping itu siswa
memiliki seseorang dalam keluarganya yang berarti/berpengaruh terhadap
pemilihan karirnya. Namun, dalam teknik ini memiliki kendala jika siswa
kurang mengetahui tentang silsilah keluarganya atau kurang dapat
bersosialisasi atau juga memiliki masalah terahadap keluarganya.
Selain menggunakan diagram, siswa dapat menggunakan pohon
pekerjaan keluarga dalam menggambarkan silsilah keluarganya.
Berikut gambar pohon keluarga (dalam Gladding, Samuel T.,2012,hlm. 421)

Model pohon pekerjaan keluarga ini dapat digunakan sebagai media


dalam melakukan wawancara dengan teknik genogram. Media ini menjadi
alternatif agar siswa menjadi lebih tertarik untuk menggambarkan pekerjaan
keluarganya.
Contoh Hasil Penelitian Menggunakan Teknik Genogram.
Penelitian

ini

berjudul

Penggunaan

Genogram

untuk

Mengembangkan Kemampuan Perencanaan Karier Siswa. Penelitian dalam


Skripsi ini dilakukan oleh salah satu mahasiswi PPB UPI yang bernama Rima
Irmayanti pada tahun 2011.

Sampel penelitiannya yaitu siswa SMP NEGERI 43 BANDUNG kelas


VIII. Rancangan pelaksanaan penelitian yang akan dilakukan, yaitu:
a) Pelaksanaan Pretest(O1) pada sampel penelitian untuk mengukur rata-rata
kemampuan perencanaan kariernya dengan menggunakan instrumen
kemampuan perencanaan karier sebelum mapel penelitian dikenakan
treatment.
b) Pelaksanaan treatment (X) berupa teknik layanan genogram pada sampel
penelitian.
c) Pelaksanaan post test (O2) pada sampel penelitian untuk mengukur tingkat
pencapaian kemampuan perencanaan karier setelah subjek dikenakan
teknik layanan genogram (X).
Berikut data yang didapatkan dari hasil pra dan post test.
Skor Kemampuan Perencanaan Karier Siswa Pra dan Post Test
N
O
1
2
3
4
5

NAMA
Aditya Aldiansyah
Afni Nuraini F.
Agita Putri G.
Dbi Ayu A.
Donny Syahputra

PRE
109
120
102
129
125

POS
135
122
155
123
135

Fahlevi M. F

109

127

Faisal Hibatulloh

107

116

Ghina Nurhidayah

110

144

M. Andy N.

93

132

10

M. Arief I. K.

128

118

11

M. Fahmi F.

118

117

12

M. Febrian P.

108

135

13

M. Holil

118

131

14

M. Rezaldi S.

108

114

15

M. Shiddiq P.

91

95

16

Mutia Fitriani

146

157

17

Nadya Sengia M.

119

121

18

Olivia Oktafiani

106

117

19

Reino Sahita

129

150

20

Rena Puji W.

122

137

21

Rizky F. R

119

121

22

Sekar M. S.

118

116

23

Thifari I.

112

97

24

Vanny Dwi N.

120

144

25

Wirda H. A.

111

122

26

Yushrina Farhani

98

113

JUMLAH
Hasil penelitiannya,

2975
3294
Irmayanti (2011; 111)

mengemukakan

penggunaan genogram terbukti efektif dalam mengembangkan kemampuan


perencanaan karier siswa SMP. Hal ini dibuktikan dengan perbandingan
hasil pretest dan posttest yang telah dilaksanakan., pada rata-rata pretest
diperoleh kemampuan perencanaan karier siswa sekitar 68,11%. Setelah
dilaksanakan teknik genogram rata-rata posttest kemampuan perencanaan
karier siswa sekitar 75%.
3. Inventori Minat Lainnya
Menurut Gibson dan Mitchell (2011, hlm. 370) ada beberapa inventori
minat yang dapat digunakan untuk menilai minat-minat pribadi, yaitu:
1) Inventori Minat Strong/SII(Strong Inventori Interest)
Assessmen SII sering disingkat dengan assessment Strong, merupakan
perevisian Strong-Campbell Interest Inventori dan diluncurkan pada tahun
1985.

SII ini membandingkan respon individu terhadap item-item dengan


pola respons individu di bidang kerja yang berbeda. Evolusi instrumen ini
lebih dari 50 tahun dan digunakan secara luas.
2) Sistem Perencanaan Karier Kuder/KCPS (Kuder Career Planning
System).
Frederick Kuder, sama seperti E.K.Strong, juga memiliki pengaruh
kuat dan substansial bagi assessment minat. Dua assessment yang populer
yaitu:
a) Survei Minat Kerja Kuder Format DD/KOIS-DD (Kuder
Occupational Interest Survey From DD)
KOIS-DD menilai minat siswa-siswa SMA, mahasiswa dan orang
dewasa. Terdiri 100 item, masing-masing menghadirkan triadik
aktivitas.
b) Survei Minat Umum Kuder/KGIS (Kuder General Interest Survey)
Instrumen ini diperuntukkan untuk para remaja, partisipan yang
lebih muda dari pada partisipan KOIS-DD, yaitu anak-anak di
kelas 6 sampai 9.
3) Inventori Penyelidikan-Diri/SDS (Self-Directed Search)
Basis konseptual SDS adalah teori Holland sehingga instrumen ini
bisa dikatakan mengukur enam tipe kepribadian dasar yang diusulkan
Holand.
4) Inventori Kematangan Karier/CMI (Career Maturity Inventory Revised)
CMI dibagi lagi menjadi CMI-R yang disusun dari skala sikap, skala
kompetensi, dan seluruh indikator kematangan karier, dan CDR yang
dikontruksi untuk menginterpretasikan setiap item.
5) Survei Minat Kerja Jackson/JVIS (Jackson Vocational Interest Survey)
Merupakan kontribusi relatif baru bagi assesment minat dan
dimaksudkan untuk digunakan remaja dan orang dewasa. JVIS unik
karena mengukur preferensi dalam Gaya Kerja dan Peran Kerja. Gaya

Kerja menyoroti prefensi bagi lingkungan kerja dan mencakup skala


Kepemimpinan Dominan, skala Keamanan kerja dan skala stamina.

BAB IV
IMPLIKASI DAN SIMULASI
A. IMPLIKASI
Implikasi untuk kegiatan bimbingan dan konseling karir di sekolah adalah guru BK terampil dalam menggunakan
alat dan teknik pengukuran karir, baik dalam menggungkapkan minat atau pilihan karirnya. Untuk itu berikut beberapa
teknik dan alat pengukuran karir disertai cara kerja, tujuan dan indikator yang dapat menjadi gambaran untuk guru dalam
menggunakannya. Alat dan teknik pengukurannya yaitu:
N
O
1.

TEKNIK

CARA KERJA

Refleksi Sistematis Pertama,


dari Pengalaman

klien

diminta

untuk

TUJUAN
merefleksikan Untuk menganalisis

INDIKATOR
Siswa dapat

pengalaman, misalnya, pekerjaan mereka di masa lalu pengalaman masa

merefleksikan

atau minat. Mereka kemudian diminta untuk:

lalu mereka untuk

pengalaman masa

menemukan apa

lalunya

yang dapat dipelajari

Siswa dapat

dari mereka.

mengambil pelajaran

4) Tinjau

pengalaman,

dengan

menjelaskan

bagaimana mereka melakukan aktivitas, dan


kepuasan mereka mencari dan mencapai.
5) Simpulkan
dari
pengalaman,
dengan
menjelaskan apa yang mereka rasakan dari
kegiatan belajar tentang kemampuan mereka,
nilai-nilai, kepribadian dll.
6) Merencanakan langkah selanjutnya,

dengan

dari pengalaman masa


lalunya

mengidentifikasi situasi lain yang pembelajaran


yang mungkin sesuai dan menggambarkan
bagaimana mereka bisa menggeneralisasi belajar
untuk situasi ini.
2.

3.

Penilaian Tema

Pertama, konselor bertugas sebagai pemandu untuk

Diskusi lebih dalam

Siswa dapat

Karir

melakukan wawancara kepada konseli.

tentang kelemahan,

mengetahui

Kedua, konselor dan konseli melakukan diskusi

kekuatan, nilai, dan

kelemahan dan

tentang tema yang ditentukan.

minat seseorang.

kelebihan minatnya

Grafis dan

Konseli diminta untuk menggambarkan diri mereka

Untuk

masing-masing
Siswa dapat

Penggambaran

pada grafis secara tertulis, baik dalam bentuk diagram

mengekspresikan

mengekspresikan diri

Tertulis

ataupun kata-kata.

diri dengan

dengan bentuk

menggunakan

diagram bukan dengan

diagram bukan kata-

kata-kata

kata, terutama ketika


mereka ingin
mengeksplorasi ideide dan perasaan
yang mungkin sulit

untuk dikatakan
4.

Jenis Kartu (short

a. Konseli diberikan satu set kartu dan diminta untuk

card)

mengurutkannya dalam beberapa urutan bermakna.


b. Setiap kartu biasanya merepresentasikan sesuatu
yang berkaitan dengan pengambilan keputusan
karir, misalnya, keterampilan nilai kerja (kepuasan
dicari dari kerja).
c. Konseli mungkin diminta untuk menempatkan
kartu dalam urutan peringkat, menurut pentingnya

secara verbal
menggambarkan

Siswa dapat

aspek dari tiga

mengetahui 3

'kompetensi karir'

kompetensi karir

atau 'investasi karir'


yaitu 'mengetahuimengapa',
'mengetahuibagaimana' dan

mereka.

'mengetahui-siapa'.

ALAT

TUJUAN

O
1

The Strong Interest

Untuk membantu klien belajar tentang pekerjaan

2.

Inventory (SII)
Pertanyaan penting

yang potensial dan bagaimana perbedaanya


menilai apakah mereka sudah memiliki, atau bisa

Minnesota

memperoleh kemampuan dan keterampilan yang

16PF

diperlukan untuk melakukan pekerjaan tertentu.


Mengukur dimensi kepribadian

3.

4.

Inventori Kematangan

Memiliki dua bagian: test kompetensi dan skala

Karir (CMI)

sikap. Tes kompetensi ini dirancang untuk menilai


sejauh mana individu memiliki informasi karir,
perencanaan dan keterampilan pengambilan
keputusan untuk membuat keputusan yang
realistis dan bijaksana. Skala sikap : mengukur

Inventori

sikap terhadap pengambilan keputusan


untuk mempengaruhi secara positif kematangan

Perkembangan Karir

karir yang diukur oleh instrumen ini.

(CDI)
Skala Keputusan Karir

meminta individu untuk menunjukkan atau tidak


dalam membuat pilihan yang pasti yaitu

7
8

Alat Penelusuran Minat

pendidikan dan karir


Mengungkap minat siswa dalam mata pelajaran

Genogram

yang diminatinya
Menggambarkan pekerjaan keluarga dengan
melihat pekerjaan dari 3 generasi

Tema Penelitian
Tema-tema penelitian yang dapat dilakukan dengan menggunakan alat dan teknik pengukuran dalam konseling karir,
yaitu:
1. Keefektifan Penggunaan Alat Penelusuran Minat Kepada Siswa Kelas IX dalam Memilih Pendidikan Lanjutan

2. Pengaruh Penggunaan Teknik Genogram dalam Menentukan Pilihan Karir


B. SIMULASI
Simulasi Pelaksanaan Penulusuran Minat di kelas IX
Kegiatan yang akan dilakukan dalam simulasi ini adalah penggunaan Alat Penulusuran Minat di kelas IX.
Pelaksanaan penulusuran minat di kelas IX ini difokuskan sebagai upaya guru BK dalam membantu peserta didik
menentukan pilihan arah minat pelajaran pada jenjang pendidikan menengah.

Dengan kata lain guru BK harus

mempunyai keterampilan dalam menggunakan Alat Penulusuran Minat ini. Untuk itu, simulasi ini diharapkan dapat
membantu guru BK untuk lebih terampil menggunakan Alat Penulusuran Minat di kelas IX.
Pelaksanaan penulusuran minat di kelas IX ini, terdiri dari:
Pertemuan Pertama
1. Tahapan Pengungkapan Minat
Pertemuan Ke-Dua
2. Tahapan Pemahaman (penskoran dilakukan oleh siswa dan pengolahan data sampai kuaifikasi dilakukan oleh guru BK)
Pertemuan Ke-Tiga
3. Tahapan Penentuan Pilihan (membagikan dan menjelaskan lembar jawaban hasil pengolahan kepada siswa)
4. Tindak Lanjut
Rekan-rekan di kelas berperan sebagai:
1. Peserta didik kelas IX dalam pelaksanaan Alat Pengungkapan Minat
2. Dan berperan sebagai guru BK dalam pengolahan dan penafsiran
Pertemuan Pertama

1. Tahapan Pengungkapan Minat


Pada tahapan ini ada empat kegiatan interaktif yang dilakukan antara guru BK dengan peserta didik, yaitu kegiatan
awal, peralihan, inti dan penutup.
Kegiatan Awal. Sebelum memulai kegiatan alangkah baiknya kalau kita berdoa terlebih dahulu. Nah pada kegiatan ini
kalian perlu mengetahui bahwa penulusuran minat di SMP itu sangat penting. Beberapa manfaat yang diperoleh,
diantaranya agar kalian mempunyai gambaran mengenai mata pelajaran yang diminati, arah pengembangan karir dan
jenjang pendidikan lanjutan yang akan ditempuh. Selanjutnya kegiatan yang akan kalian lakukan yaitu mengisi Alat
Penulusuran minat.
Kegiatan Peralihan. Sebelum dibagikan instrumennya, apakah ada yang ingin ditanyakan atau belum mengerti
mengenai tujuan dan kegiatan yang akan dilakukan?. Jika tidak, mari kita lanjutkan kegiatan inti.
Kegiatan Inti. Langkah-langkah pengerjaaan yang harus kalian lakukan yaitu membubuhkan tanda cek () pada
kolom pernyataan dengan memilih YA atau tidak pada setiap pernyataan. Jika ada pertanyaan yang tidak dimengerti
silahkan tanyakan saja.
Kegiatan Penutup. Silahkan kalian periksa jawaban kalian, jangan ada yang terlewat.
Pertemuan Ke-dua
2. Tahapan Pemahaman
Kegiatan Awal. Selanjutnya kita akan memeriksa jawaban kalian bersama-sama. Caranya, kalian memberi skor 1 pada
jawaban YA dan skor 0 pada setiap jawaban TIDAK.
Kegiatan Peralihan. Bagaimana semuanya paham, ada yang perlu ditanyakan. Jika tidak kita berlanjut pada kegitan inti.
Kegiatan Inti. Setelah penskoran selesai, hitunglah skor jawaban YA pada setiap kelompok bidang minat. Setelah itu kalian
boleh mengumpulkannya ke depan.

Cara Pengolahan Data(dilakukan oleh guru BK)


Kami akan mendemontrasikan kepada teman-teman semuanya bagaimana caranya mengolah data menggunakan
excel dengan format perhitungan yang sudah kami buat.
Namun cara manualnya sebagai berikut:
a. Bagi banyaknya jawaban YA pada setiap kelompok dengan jumlah item pada setiap bagian dengan dikalikan 100., agar
didapatkan hasil dalam bentuk prosen.
JumlahYa

100
Jumlah Soal
b. Setelah itu diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu
%
>66,7
>33,3
<33,2

Klasifikasi
Tinggi
Sedang
Rendah

Pertemuan ke-tiga
3. Tahapan penentuan Pilihan
Kegiatan Awal. Nah pada tahap pemahaman kita sudah melakukan penskoran, selanjutnya kalian akan dibagikan lembar
jawaban hasil pengolahan.
Kegiatan Peralihan. Bagaimana, ada yang perlu ditanyakan. Jika tidak kita berlanjut pada kegitan inti.
Kegiatan Inti. Di lembar jawaban hasil pengolahan sesuai minat masing-masing, dalam tabel tersebut terdapat tiga bidang
peminatan dengan skor tertinggi. Namun, kalian mempunyai hak untuk memilih mata pelajaran yang disukai, kalian tidak harus
terpaku pada hasil pengolahan alat penulusuran minat.

Kegiatan Penutup. Bagaimana kalian sudah memiliki pilihan minat setelah melakukan penulusuran minat ini?. Jika sudah
kita akhiri kegiatan ini, sebelum keluar mari kita berdoa bersama-sama.

4. Tindak Lanjut (tidak disimulasikan kepada peserta)


Dilakukan

oleh

guru

BK

dengan

memberikan

rekomendasi

penyaluran

dan/atau

penempatan

kegiatan

kokulikuler/ekstrakulikuler, kelompok mata pelajaran, serta jurusan pada jenjang pendidikan menengah.
Bagi peserta yang mengalami kesulitan atau ragu-ragu, maka kegiatan tindak lanjut yang dilakukan guru BK dalam
bentuk pelayanan responsif atau konseling.
Hasil Pengolahan Data Kelas
Berikut ini merupakan hasil pengolahan data yang diperoleh dari penyebaran instrumen penelusuran minat di kelas IX
SMP.
Bidang
Keagaman
Matematika
Ilmu Pengetahuan Alam,
Ilmu Pengetahuan Sosial
Bahasa dan Budaya
Teknologi dan Rekayasa
Teknologi dan Informasi Komunikasi
Kesehatan
Agrobisnis dan Agroteknologi
Perikanan dan Kelautan

Tinggi
9
3
7
15
10
2
14
13
7
0

Sedang
26
19
18
17
18
6
16
13
4
6

Rendah
1
14
11
4
8
28
6
10
25
30

Bisnis dan Manajemen


Pariwisata
Seni dan Kerajinan
Keolahragaan

7
6
9
8

16
21
10
14

13
9
17
14

Berdasarkan data 36 siswa di kelas IX yang terbagi dalam 14 bidang minat, dapat diketahui bahwa 15 orang siswa
dari 36 siswa memiliki kualifikasi tinggi dalam bidang mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, lalu dalam kualifikasi
sedang terdapat 26 siswa dari 36 orang siswa pada bidang Mata pelajaran Keagamaan. Sedangkan dalam kualifikasi
rendah terdapat 30 siswa dari 36 orang siswa kurang meminati bidang Perikanan atau Kelautan. Hasil kualifikasi tersbut
dihitung berdasarkan nilai tertinggi pada tiap bidang mata pelajaran yang diminati oleh siswa.

Data Kelas IX SMP

No

Nama

Ya

M. Keagamaan
J.Soa
Kualifikas
%
l
i

Ya

Ahmad Fajri

55.6

Ahmad Fathurrozak

33.3

Anne Indramayanti

88.9

Annita Orientianta

66.7

Atik Asriandani

33.3

Cindy Chintia
Krismerina

66.7

Cynthia Eliza Rachman

66.7

Fikri Yanda

44.4

Gina Andriani

44.4

10

Gina Nazmi

100.
0

11

Hanifia N. Hafshah

44.4

12

Herlin Khoeronisa

100.
0

77.8

55.6

13
14

Idham Cholid Bay


Hakky
Intan Citra Dewi
Mufatir

M. Matematika
J.Soa
Kualifikas
%
l
i
25.
8
R
0
25.
8
R
0
87.
8
T
5
75.
8
T
0
62.
8
S
5
62.
8
S
5
37.
8
S
5
25.
8
R
0
50.
8
S
0
25.
8
R
0
62.
8
S
5
50.
8
S
0
62.
8
S
5
37.
8
S
5

M. IPA
Ya

J.Soa
l

Kualifikas
i

77.8

77.8

44.4

33.3

66.7

77.8

55.6

55.6

33.3

55.6

66.7

66.7

66.7

77.8

15

Lestari Indra Sumantri

44.4

16

Mahardhika Rifni Asyifa

55.6

17

Muhamad Didit

55.6

18

Megafitri

44.4

19

Mia Maya Ulfah

88.9

20

Munggarani Ramadhan

100.
0

21

Nida Safa Hanipah

11.1

22

Novia Nuryati

55.6

23

Nunie Widieani Y.

77.8

24

Nur Nena Aminah

66.7

25

Oka Fachrudin Sonjaya

33.3

26

Nurlola Danilasari

55.6

27

Rena Andini

55.6

28

Rian Andrian

88.9

29

Rinda Hidayanti

55.6

30

Susi Lestari

55.6

31

Tri Asmi Bunga F.

66.7

25.
0
37.
5
62.
5
25.
0
25.
0
50.
0
25.
0
25.
0
50.
0
50.
0
37.
5
25.
0
12.
5
50.
0
62.
5
62.
5
12.

0.0

33.3

100.
0

11.1

0.0

33.3

0.0

44.4

22.2

100.
0

22.2

11.1

22.2

77.8

44.4

11.1

33.3

32

Ulfah Sofiatunnisa

66.7

33

Vevi Supriyanti

55.6

34

Yoeli Yoeliana Haedi

55.6

35

Yuliastina Hamzah

100.
0

36

Yunisa Mukarromah

44.4

T
S
R

9
26
1

Rata-Rata Tiap Bidang

M. IPS
No

Nama

1
2
3
4
5
6
7
8

Ahmad Fajri
Ahmad Fathurrozak
Anne Indramayanti
Annita Orientianta
Atik Asriandani
Cindy Chintia K
Cynthia Eliza Rachman
Fikri Yanda

9
10

6
4
3
3
4
3
5
6

J.Soa
l
6
6
6
6
6
6
6
6

100.0
66.7
50.0
50.0
66.7
50.0
83.3
100.0

Kualifika
si
T
S
S
S
S
S
T
T

Gina Andriani

83.3

Gina Nazmi

83.3

Ya

Ya
1
4
2
5
7
6
5
1

5
50.
0
50.
0
75.
0
12.
5
25.
0
T
S
R

33.3

11.1

22.2

55.6

44.4

T
S
R

7
18
11

3
19
14

M. Bahasa dan Budaya


J.Soa
%
Kualifikasi
l
8
12.5
R
8
50.0
S
8
25.0
R
8
62.5
S
8
87.5
T
8
75.0
T
8
62.5
S
8
12.5
R
100.
8
T
0
8
12.5
R

M. Teknologi dan Rekayasa


Ya

J.Soal

Kualifikasi

6
7
3
0
0
1
1
5

8
8
8
8
8
8
8
8

75.0
87.5
37.5
0.0
0.0
12.5
12.5
62.5

T
T
S
R
R
R
R
S

25.0

12.5

11

Hanifia N. Hafshah

50.0

12

Herlin Khoeronisa

100.0

13
14
15

Idham Cholid Bay H.


Intan Citra Dewi M.
Lestari Indra Sumantri

2
3
4

6
6
6

33.3
50.0
66.7

S
S
S

0
3
6

8
8
8

16

Mahardhika Rifni A

83.3

17
18
19
20
21
22
23
24

Muhamad Didit
Megafitri
Mia Maya Ulfah
Munggarani Ramadhan
Nida Safa Hanipah
Novia Nuryati
Nunie Widieani Y.
Nur Nena Aminah

0
2
1
4
0
2
4
5

6
6
6
6
6
6
6
6

0.0
33.3
16.7
66.7
0.0
33.3
66.7
83.3

R
S
R
S
R
S
S
T

4
3
3
6
4
4
4
2

8
8
8
8
8
8
8
8

25

Oka Fachrudin Sonjaya

50.0

26
27

Nurlola Danilasari
Rena Andini

3
3

6
6

50.0
50.0

S
S

4
6

8
8

28

Rian Andrian

100.0

29
30
31
32
33
34

Rinda Hidayanti
Susi Lestari
Tri Asmi Bunga F.
Ulfah Sofiatunnisa
Vevi Supriyanti
Yoeli Yoeliana Haedi

4
7
5
6
7
5

6
6
6
6
6
6

66.7
116.7
83.3
100.0
116.7
83.3

S
T
T
T
T
T

4
3
5
3
4
2

8
8
8
8
8
8

12.5
100.
0
0.0
37.5
75.0
100.
0
50.0
37.5
37.5
75.0
50.0
50.0
50.0
25.0
100.
0
50.0
75.0
100.
0
50.0
37.5
62.5
37.5
50.0
25.0

12.5

12.5

R
S
T

1
0
0

8
8
8

12.5
0.0
0.0

R
R
R

12.5

S
S
S
T
S
S
S
R

5
0
1
0
0
0
2
2

8
8
8
8
8
8
8
8

62.5
0.0
12.5
0.0
0.0
0.0
25.0
25.0

S
R
R
R
R
R
R
R

50.0

S
T

0
0

8
8

0.0
0.0

R
R

0.0

S
S
S
S
S
R

4
1
0
0
0
0

8
8
8
8
8
8

50.0
12.5
0.0
0.0
0.0
0.0

S
R
R
R
R
R

35
36

Yuliastina Hamzah
Yunisa Mukarromah

6
1

6
6

Rata-Rata Tiap Bidang

No

Nama
Ya

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Ahmad Fajri
Ahmad Fathurrozak
Anne Indramayanti
Annita Orientianta
Atik Asriandani
Cindy Chintia
Krismerina
Cynthia Eliza Rachman
Fikri Yanda
Gina Andriani
Gina Nazmi
Hanifia N. Hafshah
Herlin Khoeronisa
Idham Cholid Bay
Hakky
Intan Citra Dewi
Mufatir

5
4
4
4
4

100.0
16.7
T
S
R

T
R
15
17
4

M. Teknologi dan Informasi


Komunikasi
Kualifikas
J.Soal
%
i
6
83.3
T
6
66.7
S
6
66.7
S
6
66.7
S
6
66.7
S

4
4

8
8

50.0
50.0
T
S
R

S
S
10
18
8

M. Kesehatan

4
1
5
3
2

57.1
14.3
71.4
42.9
28.6

Kualifikas
i
S
R
T
S
R

8
8

50.0
12.5
T
S
R

S
R
2
6
28

M. Agrobisnis dan Agroteknologi

J.Soa
l
7
7
7
7
7

Ya

4
1

Ya

J.Soal

Kualifikasi

4
1
3
1
1

10
10
10
10
10

40.0
10.0
30.0
10.0
10.0

S
R
R
R
R

33.3

42.9

10

0.0

5
6
5
5
5
0

6
6
6
6
6
6

83.3
100.0
83.3
83.3
83.3
0.0

T
T
T
T
T
R

1
4
5
2
6
5

7
7
7
7
7
7

R
S
T
R
T
T

2
4
6
8
1
10

10
10
10
10
10
10

20.0
40.0
60.0
80.0
10.0
100.0

66.7

14.3
57.1
71.4
28.6
85.7
71.4
100.
0

10

10.0

83.3

42.9

10

10

100.0

R
R
S
S
T
R
T
R
T

83.3

14.3

10

0.0

100.0

28.6

10

70.0

17
18
19
20
21
22
23
24
25

Lestari Indra Sumantri


Mahardhika Rifni
Asyifa
Muhamad Didit
Megafitri
Mia Maya Ulfah
Munggarani Ramadhan
Nida Safa Hanipah
Novia Nuryati
Nunie Widieani Y.
Nur Nena Aminah
Oka Fachrudin Sonjaya

4
3
1
5
2
4
5
2
2

6
6
6
6
6
6
6
6
6

66.7
50.0
16.7
83.3
33.3
66.7
83.3
33.3
33.3

S
S
R
T
S
S
T
S
S

6
3
4
5
5
4
5
4
2

7
7
7
7
7
7
7
7
7

T
S
S
T
T
S
T
S
R

8
1
9
0
0
1
1
5
1

10
10
10
10
10
10
10
10
10

80.0
10.0
90.0
0.0
0.0
10.0
10.0
50.0
10.0

26

Nurlola Danilasari

16.7

10

0.0

27
28
29
30

Rena Andini
Rian Andrian
Rinda Hidayanti
Susi Lestari
Tri Asmi Bunga
Febrianty
Ulfah Sofiatunnisa
Vevi Supriyanti
Yoeli Yoeliana Haedi
Yuliastina Hamzah
Yunisa Mukarromah

5
5
4
2

6
6
6
6

83.3
83.3
66.7
33.3

T
T
S
S

5
4
4
2

7
7
7
7

85.7
42.9
57.1
71.4
71.4
57.1
71.4
57.1
28.6
100.
0
71.4
57.1
57.1
28.6

T
S
S
R

1
1
8
1

10
10
10
10

10.0
10.0
80.0
10.0

83.3

71.4

10

20.0

1
1
1
3
2

6
6
6
6
6

16.7
16.7
16.7
50.0
33.3
T
S

R
R
R
S
S
14
16

1
0
3
6
3

7
7
7
7
7

14.3
0.0
42.9
85.7
42.9
T
S

R
R
S
T
S
13
13

2
1
2
3
0

10
10
10
10
10

20.0
10.0
20.0
30.0
0.0
T
S

15
16

31
32
33
34
35
36

Rata-Rata Tiap Bidang

R
T
T
R
T
R
R
R
R
S
R
R
R
R
T
R
R
R
R
R
R
R
7
4

No

Nama

Ahmad Fajri

2
3

Ahmad Fathurrozak
Anne Indramayanti

Annita Orientianta

7
8
9

Atik Asriandani
Cindy Chintia
Krismerina
Cynthia Eliza Rachman
Fikri Yanda
Gina Andriani

10

M. Perikanan dan Kelautan


J.Soa
Ya
%
Kualifikasi
l
33.
3
9
3
S
0
9
0.0
R
0
9
0.0
R
22.
2
9
2
R
0
9
0.0
R
1

11.1

0
0
1

9
9
9

Gina Nazmi

11

Hanifia N. Hafshah

12

Herlin Khoeronisa

0.0
0.0
11.1
33.
3
0.0
33.
3

11.1

11.1

13
14

Idham Cholid Bay


Hakky
Intan Citra Dewi
Mufatir

R
R
R
R
S
R
S
R
R

10

M.Bisnis dan Manajemen


J.Soa
Ya
%
Kualifikasi
l
3

33.3

0
6

9
9

0.0
66.7

22.2

55.6

33.3

6
8
6

9
9
9

66.7
88.9
66.7

33.3

55.6
100.
0

66.7

77.8

S
R
S
R
S
S
S
T
S
S
S
T
S
T

25

M. Pariwisata
Ya

J.Soa
l

37.5

5
4

8
8

62.5
50.0

50.0

37.5

25.0

3
4
5

8
8
8

37.5
50.0
62.5

62.5

75.0
100.
0

37.5

25.0

Kualifikasi
S
S
S
S
S
R
S
S
S
S
T
T
S
R

15
16

Lestari Indra Sumantri


Mahardhika Rifni Asyifa

0
0

9
9

17

Muhamad Didit

18
19
20
21
22
23

Megafitri
Mia Maya Ulfah
Munggarani Ramadhan
Nida Safa Hanipah
Novia Nuryati
Nunie Widieani Y.

0
0
0
0
0
0

9
9
9
9
9
9

24

Nur Nena Aminah

25
26
27
28

Oka Fachrudin Sonjaya


Nurlola Danilasari
Rena Andini
Rian Andrian

0
0
0
0

9
9
9
9

29

Rinda Hidayanti

30

32
33

Susi Lestari
Tri Asmi Bunga
Febrianty
Ulfah Sofiatunnisa
Vevi Supriyanti

1
1

9
9

0.0
0.0
22.
2
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
44.
4
0.0
0.0
0.0
0.0
44.
4
11.1
22.
2
11.1
11.1

34

Yoeli Yoeliana Haedi

11.1

31

35

Yuliastina Hamzah

36

Yunisa Mukarromah

22.
2
33.
3

R
R
R
R
R
R
R
R
R
S
R
R
R
R
S
R
R
R
R
R
R
S

4
2

9
9

44.4
22.2

22.2

2
1
8
1
2
7

9
9
9
9
9
9

22.2
11.1
88.9
11.1
22.2
77.8

55.6

3
0
4
4

9
9
9
9

33.3
0.0
44.4
44.4

66.7

22.2

77.8

2
1

9
9

22.2
11.1
100.
0

33.3

22.2

S
R
R
R
R
T
R
R
T
S
S
R
S
S
S
R
T
R
R
T
S
R

6
1

8
8

75.0
12.5

37.5

5
0
2
3
5
5

8
8
8
8
8
8

62.5
0.0
25.0
37.5
62.5
62.5

75.0

2
5
2
3

8
8
8
8

25.0
62.5
25.0
37.5

62.5

3
2

8
8

37.5
100.
0
37.5
25.0

12.5

75.0

62.5

T
R
S
S
R
R
S
S
S
T
R
S
R
S
S
S
T
S
R
R
T
S

Rata-Rata Tiap Bidang

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Nama

Ahmad Fajri
Ahmad Fathurrozak
Anne Indramayanti
Annita Orientianta
Atik Asriandani
Cindy Chintia Krismerina
Cynthia Eliza Rachman
Fikri Yanda
Gina Andriani
Gina Nazmi
Hanifia N. Hafshah
Herlin Khoeronisa
Idham Cholid Bay Hakky
Intan Citra Dewi Mufatir
Lestari Indra Sumantri
Mahardhika Rifni Asyifa
Muhamad Didit
Megafitri
Mia Maya Ulfah
Munggarani Ramadhan

T
S
R

0
6
30

Ya
2
1
6
4
2
1
0
3
5
7
3
7
2
2
3
1
0
5
1
2

T
S
R

M. Seni dan Kerajinan


J.Soal
%
Kualifikasi
7
28.6
R
7
14.3
R
7
85.7
T
7
57.1
S
7
28.6
R
7
14.3
R
7
0.0
R
7
42.9
S
7
71.4
T
7
100.0
T
7
42.9
S
7
100.0
T
7
28.6
R
7
28.6
R
7
42.9
S
7
14.3
R
7
0.0
R
7
71.4
T
7
14.3
R
7
28.6
R

7
16
13

6
21
9

Ya
5
3
2
2
1
3
4
5
1
1
1
5
1
0
3
2
1
3
1
0

Minat Keolahragaan
J.Soal
%
Kualifikasi
5
100.0
T
5
60.0
S
5
40.0
S
5
40.0
S
5
20.0
R
5
60.0
S
5
80.0
T
5
100.0
T
5
20.0
R
5
20.0
R
5
20.0
R
5
100.0
T
5
20.0
R
5
0.0
R
5
60.0
S
5
40.0
S
5
20.0
R
5
60.0
S
5
20.0
R
5
0.0
R

21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36

Nida Safa Hanipah


Novia Nuryati
Nunie Widieani Y.
Nur Nena Aminah
Oka Fachrudin Sonjaya
Nurlola Danilasari
Rena Andini
Rian Andrian
Rinda Hidayanti
Susi Lestari
Tri Asmi Bunga Febrianty
Ulfah Sofiatunnisa
Vevi Supriyanti
Yoeli Yoeliana Haedi
Yuliastina Hamzah
Yunisa Mukarromah
Rata-Rata Tiap Bidang

2
2
1
4
3
5
5
4
3
1
4
0
1
7
6
3

7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7

28.6
28.6
14.3
57.1
42.9
71.4
71.4
57.1
42.9
14.3
57.1
0.0
14.3
100.0
85.7
42.9
T
S
R

R
R
R
S
S
T
T
S
S
R
S
R
R
T
T
S
9
10
17

1
3
4
3
3
2
2
4
4
3
4
2
0
1
1
1

5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5

20.0
60.0
80.0
60.0
60.0
40.0
40.0
80.0
80.0
60.0
80.0
40.0
0.0
20.0
20.0
20.0
T
S
R

R
S
T
S
S
S
S
T
T
S
T
S
R
R
R
R
8
14
14

Berikut ini merupakan salah satu contoh hasil pengolahan dari salah satu individu,
Lembar Hasil Pengolahan
No

Nama

Ahmad
Fajri

Bidang

YA

IPS
Keolahragaan
TIK
IPA
Teknologi dan Rekayasa
Kesehatan
Keagamaan
Agrobisnis dan
Argoteknologi
Parawisata
Perikanan dan Kelautan
Bisnis dan Manajemen
Seni dan Kerajinan
Matematika
Bahasa dan Budaya

6
5
5
7
6
4
5

J.SOAL
6
5
6
9
8
7
9

4
3
3
3
2
2
1

10
8
9
9
7
8
8

%
KUALIFIKASI
100.0
T
100.0
T
83.3
T
77.7
T
75.0
T
57.1
S
55.5
S
40.0
37.5
33.3
33.3
28.5
25.0
12.5

S
S
S
S
R
R
R

Bidang yang Diminati Peserta Didik (Minat)


No
1
2
3

Bidang Peminatan
IPS
Keolahragaan
TIK

%
100%
100%
83.3
%

Kualifikasi
T
S
R

Kesimpulan
Berdasarkan data di atas, yang bersangkutan cenderung meminati:
1. Bidang IPS
2. Bidang Keolahragaan
3. Bidang TIK
Dari hasil pengolahan data tersebut, guru BK memberikan rekomendasi
penyaluran dan/atau penempatan kegiatan kokulikuler/ekstrakulikuler, kelompok
mata pelajaran, serta jurusan pada jenjang pendidikan menengah sesuai dengan hasil

pengolahan data dari instrumen penyaluran minat yang telah diberikan kepada
seluruh siswa.
Bagi siswa yang mengalami kesulitan atau ragu-ragu dari hasil pengolahan
penelusuran minat yang diberikan oleh guru BK, maka kegiatan tindak lanjut yang
dilakukan guru BK berupa layanan responsif atau konseling yang berupaya
membantu peserta didik dalam memahami potensi yang dimilikinya.

DAFTAR PUSTAKA
Gibson, Robert L. Dan Marianne H. Mitchell. Bimbingan dan Konseling.Yogyakarta:
PUSTAKA PELAJAR
Gladding, Samuel T.(2012).Konseling:Profesi yang Menyeluruh.Jakarta Barat: PT
INDEKS
Irmayanti, Rima. (2011). Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan
Kemampuan Perencanaan Karier Siswa. Skripsi PPB FIP UPI (Tidak
Diterbitkan).
Kemendikbud.(2013). Pedoman Penelusuran Minat Peserta Didik Sekolah
Menengah Pertama. Jakarta.
Nathan, Robert dan Linda Hill.(2012). Konseling Karier.Yogyakarta:PUSTAKA
PELAJAR
Slameto. (2003). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya.Jakarta: Rineka
Cipta.
Supriatna, Mamat dan Ilfiandra.(2006). Apa dan Bagaimana Bimbingan Karier.
(Materi
Workshop
Bimbingan
dan
Konseling
Politeknik
Kesehatan,Tasikmalaya). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia,
Fakultas Ilmu Pendidikan, Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan.
Supriatna, Mamat.(2010).Layanan Bimbingan di Sekolah.Bandung: PPB FIP UPI.

GLOSARIUM

Self-Efficacy

: Keyakinan diri/ Perasaan, keyakinan, persepsi, kepercayaan


terhadap kemampuan mengatasi suatu situasi tertentu yang
nantinya akan berpengaruh pada cara individu mengatasi
situasi tersebut.

Self-help

: Kemampuan dalam menolong dirinya sendiri disamping


mampu menolong orang lain

Soft skills

: Kemampuan seseorang dalam sosial.

LAMPIR
AN