Anda di halaman 1dari 3

2 jenis tannin

Secara kimia terdapat dua jenis tanin yang tersebar tidak merata dalam dunia tumbuhan
yaitu tanin terkondensasi (Proantosianidin) dan tanin terhidrolisis (Hydrolyzable tannin)
(Harborne, 1987). Kedua golongan tanin menunjukkan reaksi yang berbeda dalam larutan
garam Fe (III). Tanin terkondensasi menghasilkan warna hijau kehitaman sedangkan tanin
terhidrolisis memberikan biru kehitaman (Etherington, 2002).
1. Tannin terkondensasi
Tanin terkondensasi secara biosintesis dapat dianggap terbentuk dengan cara
kondensasi katekin tunggal (galokatekin) yang membentuk senyawa dimer dan kemudian
oligomer yang lebih tinggi. Proantosianidin merupakan nama lain dari tanin
terkondensasi karena jika direaksikan dengan asam panas, beberapa ikatan karbon
penghubung satuan terputus dan dibebaskanlah monomer antosianidin (Harborne, 1987).
Proantosianidin didefinisikan sebagai oligo atau polimer flavonoid (flavan-3-ol atau
flavan-3-4-diol), dimana ikatan C-C tidak mudah untuk dihidrolisis (Etherington, 2002).
Proantosianidin lebih banyak terdistribusi daripada tanin terhidrolisis, merupakan
oligomer atau polimer satuan flavonoid (misalnya flavan-3-ol) yang terikat oleh ikatan
karbon-karbon yang tidak mudah terpecah dengan adanya hidrolisis (Giner-Chavez,
2001).
Proantosianidin dapat dideteki langsung dalam jaringan tumbuhan hijau dengan
mencelupkan ke dalam HCl 2M mendidih selama setengah jam. Bila terbentuk warna
merah yang dapat diekstraksi dengan amil atau butil alkohol, maka ini merupakan bukti
adanya senyawa tersebut (Harborne, 1987).
2. Tannin terhidrolisis
Tanin terhidrolisis merupakan molekul dengan poliol (umumnya Dglikosa) sebagai
pusatnya. Tanin terhidrolisis adalah pecahnya karbohidrat dan asam fenolik oleh asam
lemah atau basa lemah (Hagerman, 1998). Gugus hidroksi pada karbohidrat sebagian atau
semuanya teresterifikasi dengan gugus karboksil pada asam gallat (gallotanin) atau asam
ellagat (ellagitanin). Tanin terhidrolisis biasanya sedikit terdapat dalam tanaman (GinerChavez, 2001).
a. Gallotanin
Gallotanin terbentuk dari asam gallat dan gula, biasanya glukosa. Beberapa
asam gallat terikat pada satu molekul gula. Asam gallat mungkin terikat bersama
pada gugus ester yang terbentuk antara gugus karboksil molekul satu dan gugus
hidroksi pada molekul lain (Luchner, 1984 dalam skripsi Nuraini, 2002).
Sifat fisik dari gallotanin berupa polimer amorf, berwarna putih kekuningan,
mempunyai bau spesifik, dapat larut dalam air, gliserol, dan sangat larut dalam
alkohol, aseton. Gallotanin tidak larut dalam benzen, kloroform, eter dan
petroleum eter, karbon disulfida, karbon tetraklorida (Gohen, 1976).
Sifat kimia dari gallotanin adalah berwarna coklat jika terkena cahaya, dengan
albumin, tepung, gelatin, alkaloid dan garam metalik memberikan endapan yang

tidak larut, sedangkan dengan FeCl3 memberikan warna biru kehitaman, pada
suhu 215 C akan terdekomposisi menjadi pirogalol dan CO2 (Tyler, 1947).
Mekanisme reaksi hidrolisis ester berkatalis asam mempunyai tahap-tahap
yaitu tahap protonasi, adisi H2O, kemudian eliminasi ROH yang disusul dengan
deprotonasi. Asam gallat (3,4,5 trihidroksibenzoat) merupakan senyawa turunan
dari aromatik karboksilat, dengan berat molekul 170,12, mempunyai titik didih
200C, titik leleh 110 C, sedikit larut dalam air panas, alkohol, etil asetat,
gliserol. Asam gallat tidak larut dalam benzena, kloroform, petroleum eter,
dengan FeCl3 memberikan warna biru kehitaman (Tyler, 1947).
b. Ellagitanin
Ellagitanin terbentuk dari asam heksahidroksi difenil yang mungkin terbentuk
dari terikatnya dua molekul asam gallat melalui reaksi oksidasi (Fieser, 1961).
Hidrolisis dengan asam kuat akan menghasilkan asam ellagat. Asam ellagat
memberikan reaksi warna spesifik dengan adanya asam nitrit (HNO2). Reaksi ini
digunakan mendeteksi jaringan tumbuhan yang terekstrak dan merupakan metode
yang penting dalam penentuan ellagitanin (Bate, 1972).
Dalam penentuan ellagitanin diperlukan reaksi warna dengan asam nitrat
dalam lingkungan nitrogen, dimana akan memberikan warna merah yang lama
kelamaan berubah menjadi biru. Bila ada udara dilingkungannya maka lama
kelamaan berubah menjadi kuning (Bate, 1972).
Asam ellagat membentuk kristal jarum hijau kuning dengan piridin, meleleh
pada 360 C, tidak larut dalam eter, sedikit larut dalam air dan larut dalam alkali/
basa dengan warna kuning yag kuat. Asam ellagat mewarnai katunchrominummordant hijau pudar (Fieser, 1961).

Simplisia
Gunawan dan Mulyani, 2002 menjelaskan bahwa simplisia merupakan istilah yang
dipakai untuk menyebut bahan-bahan obat alam yang berada dalam wujud aslinya atau belum
mengalami perubahan bentuk. Pengertian simplisia menurut Departemen Kesehatan RI
adalah bahan alami yang digunakan untuk obat dan belum mengalami perubahan proses apa
pun, dan kecuali dinyatakan lain umumnya berupa bahan yang telah dikeringkan.
Simplisia dibagi menjadi tiga golongan, yaitu :
1. Simplisia nabati
Simplisia nabati adalah simplisia yang dapat berupa tanaman utuh, bagian tanaman, eksudat
tanaman, atau gabungan antara ketiganya, misalnya Datura Folium dan Piperis nigri Fructus.
Eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau dengan cara
tertentu sengaja dikeluarkan dari selnya. Eksudat tanaman dapat berupa zat-zat atau bahanbahan nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan/diisolasi dari tanamannya.

2. Simplisia hewani
Simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh atau zat-zat berguna yang
dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan kimia murni, misalnya minyak ikan (Oleum
iecoris asselli) dan madu (Mel depuratum).

Pathogen oportunis
Patogen oportunistik adalah bakteri yang berkemampuan sebagai patogen ketika
mekanisme pertahanan inang diperlemah (contoh E. coli menginfeksi saluran urin ketika
sistem pertahanan inang dikompromikan (diperlemah).
Patogen oportunis adalah patogen yang jarangmenyebabkan penyakit pada orang-orang
yang memiliki imunokompetensi (immunocompetent)namun dapat menyebabkan
penyakit/infeksi yang serius pada orang yang tidak memilikiimunokompetensi
(immunocompromised). Patogen oportunis ini umumnya adalah anggota dariflora normal
pada tubuh. Istilah oportunis sendiri merujuk kepada kemampuan dari suatuorganisme untuk
mengambil kesempatan yang diberikan oleh penurunan sistem pertahanan inanguntuk
menimbulkan penyakit.

Flavonoid
Senyawa fenol dan turunannya (flavonoid) merupakan salah satu antibakteri yang
bekerja dengan mengganggu fungsi membran sitoplasma. Pada konsentrasi rendah
dapat merusak membran sitoplasma yang menyebabkan bocornya metabolit penting
yang menginaktifkan sistem enzim bakteri, sedangkan pada konsentrasi tinggi mampu
merusak membran sitoplasma dan mengendapkan protein sel (Volk dan Wheller, 1993).

Flavonoid bekerja dengan cara merusak membran sitoplasma sehingga bakteri akan rusak
dan mati. Mekanisme kerja tanin sebagai antibakteri menurut Naim (2004) berhubungan
dengan kemampuan tanin dalam menginaktivasi adhesin sel mikroba (molekul yang
menempel pada sel inang) yang terdapat pada permukaan sel. Tanin yang mempunyai
target pada polipeptida dinding sel akan menyebabkan kerusakan pada dinding sel, karena
tanin merupakan senyawa fenol.

hgshucjs