Anda di halaman 1dari 4

Penyakit Komplek Imun Sistemik

Patogenesis penyakit kompleks imun sistemik dapat dibagi menjadi tiga


tahapan: (1) pembentukan kompleks antigen-antibodi dalam sirkulasi dan (2)
pengendapan kompleks imun di berbagai jaringan, sehingga mengawali (3) reaksi
radang di berbagai tempat di seluruh tubuh.
Patofisiologi
Kira-kira 5 menit setelah protein asing (misalnya, serum antitetanus kuda)
diinjeksikan, antibodi spesifik akan dihasilkan; antibodi ini bereaksi dengan antigen
yang masih ada dalam sirkulasi untuk membentuk kompleks antigen-antibodi
(tahap pertama). Pada tahap kedua, kompleks antigen-antibodi yang terbentuk
dalam sirkulasi mengendap dalam berbagai jaringan. Dua faktor penting yang
menentukan apakah pembentukan kompleks imun menyebabkan penyakit dan
pengendapan jaringan:

Ukuran kompleks imun. Kompleks yang sangat besar yang terbentuk pada
keadaan jumlah antibodi yang berlebihan segera disingkirkan dari sirkulasi
oleh sel fagosit mononuklear sehingga relatif tidak membahayakan. Kompleks
paling patogen yang terbentuk selama antigen berlebih dan berukuran kecil
atau sedang, disingkirkan secara lebih lambat oleh sel fagosit sehingga lebih
lama berada dalam sirkulasi.

Status sistem fagosit mononuklear. Karena normalnya menyaring keluar


kompleks imun, makrofag yang berlebih atau disfungsional menyebabkan
bertahannya kompleks imun dalam sisrkulasi dan meningkatkan kemungkinan
pengendapan jaringan.
Faktor lain yang mempengaruhi pengendapan kompleks imun yaitu muatan

kompleks (anionic vs kationik), valensi antigen, aviditas antibodi, afinitas antigen


terhadap berbagai jaringan, arsitektur tiga dimensi kompleks tersebut, dan
hemodinamika pembuluh darah yang ada.tempat pengendapan kompleks imun yang
disukai adalah ginjal, sendi, kulit, jantung, permukaan serosa, dan pembulah darah
kecil. Lokasinya pada ginjal dapat dijelaskan sebagian melalui fungsi filtrasi

glomerulus, yaitu terperangkapnya kompleks dalam sirkulasi pada glomerulus.


Belum ada penjelasan yang sama memuaskan untuk lokalisasi kompleks imun pada
tempat predileksi lainnya.
Untuk kompleks yang meninggalkan sirkulasi dan mengendap di dalam atau di
luar dinding pembuluh darah, harus terjadi peningkatan permeabilitas pembuluh
darah.Hal ini mungkin terjadi pada saat kompleks imun berkaitan dengan sel radang
melalui reseptor Fc dan C3b dan memicu pelepasan mediator vasoaktif dan/ atau
sitokin yang meningkatkan permeabilitas.Saat kompleks tersebut mengendap dalam
jaringan, terjadi tahap ketiga, yaitu reaksi radang.Selama tahap ini (kira-kira 10 hari
setelah pemberian antigen), muncul gambaran klinis, seperti demam, utikaria,
artralgia, pembesaran kelenjar getah bening, dan proteinuria.
Di mana pun kompleks imun mengendap, kerusakan jaringannya serupa.
Aktivitas komplemen oleh kompleks imun merupakan inti patogenesis jejas,
melepaskan fragmen yang aktif secara biologis seperti anafilatoksin (C3a dan C5a),
yang meningkatkan permeabilitas pembuluh darah dan bersifat kemotaksis untuk
leukosit polimorfonuklear. Fagositosis kompleks imun oleh neutrofil yang
terakumulasi

menimbulkan

pelepasan

atau

produksi

sejumlah

substansi

proinflamasi tambahan, termasuk proataglandin, peptida vasodilator, dan substansi


kemotaksis, serta enzim lisosom yang mampu mencerna membran basalis, kolagen,
elastin, dan kartilago.Kerusakan

jaringan juga diperantarai oleh radikal bebas

oksigen yang dihasilkan oleh neutrofil teraktivasi. Kompleks imun dapat pula
menyebabkan agregasi trombosit dan mengaktivasi faktor Hageman; kedua reaksi
ini meningkatkan proses peradangan dan mengawali pembentukan mikrotrombus
yang berperan pada jejas jaringan melalui iskemia lokal. Lesi patologis yang
dihasilkan disebut dengan vasokulitis jika terjadi pada pembuluh darah,
glomerulonefritis jika terjadi di glomerulus ginjal, arthritis jika terjadi di sendi, dan
seterusnya.
Jelasnya hanya antibodi pengikat komplemen (yaitu IgG dan IgM) yang dapat
menginduksi lesi semacam itu.Karena IgA dapat pula mengaktivasi komplemen
melalui jalur alternatif, kompleks yang mengandung IgA dapat pula menginduksi
jejas jaringan. Peran penting komplemen dalam patogenesis jejas jaringan didukung

oleh adanya pengamatan bahwa pengurangan kadar komplemen serum secara


eksperimental akan sangat menurunkan keparahan lesi, demikian pula yang terjadi
pada neutrofil. Selama fase aktif penyakit, konsumsi komplemen menurunkan kadar
serum.

Hipersensitivitas tipe lambat (DTH-Delayed-Tipe Hypersensitivity)


Contoh klasik DTH adalah reaksi tuberkulin. Delapan hingga 12 jam setelah
injeksi tuberkulin intrakutan, muncul suatu area eritema dan indurasi setempat, dan
mencapai puncaknya (biasanya berdiameter 1 hingga 2 cm) dalam waktu 24 hingga
72 jam (sehingga digunakan kata sifat delayed [lambat/ tertunda]) dan setelah itu
akan mereda secara perlahan.secara histologis , reaksi DTH ditandai dengan
penumpukan sel helper-T CD4+ perivaskular (seperti manset) dan makrofag
dalam jumlah yang lebih sedikit. Sekresi lokal sitokin oleh sel radang mononuklear
ini

disertai

dengan

peningkatan

permeabilitas

mikrovaskular,

sehingga

menimbulkan edema dermis dan pengendapan fibrin; penyebab utama indurasi


jaringan dalam respon ini adalah deposisi fibrin.Respon tuberkulin digunakan untuk
menyaring individu dalam populasi yang pernah terpejan tuberkulosis sehingga
mempunyai sel T memori dalam sirkulasi.Lebih khusus lagi, imunosupresi atau
menghilangnya sel T CD4+ (misalnya, akibat HIV) dapat menimbulkan respon
tuberkulin yang negatif, bahkan bila terdapat suatu infeksi yang berat.
Patofisiologi
Limfosit CD4+ mengenali antigen peptida dari basil tuberkel dan juga antigen
kelas II pada permukaan monosit atau sel dendrit yang telah memproses antigen
mikobakterium tersebut. Proses ini membentuk sel CD4+ tipe TH1 tersensitisasi
yang tetap berada di dalam sirkulasi selama bertahun-tahun. Masih belum jelas
mengapa antigen tersebut mempunyai kecendurungan untuk menginduksi respon
TH1, meskipun lingkungan sitokin yang mengaktivasi sel T naf tersebut tampaknya
sesuai. Saat dilakukan injeksi kutan tuberkulin berikutnya pada orang tersebut, sel
memori memberikan respon kepada antigen yang telah diproses pada APC dan akan

diaktivasi (mengalami transformasi dan proliferasi yang luar biasa), disertai dengan
sekresi sitokin TH1. Sitokin TH1 inilah yang akhirnya bertanggungjawab untuk
mengendalikan perkembangan respon DHT. Secara keseluruhan, sitokin yang
paling bersesuaian dalam proses tersebut adalah sebagai berikut:

IL-12 merupakan suatu sitokin yang dihasilkan oleh makrofag setelah interaksi
awal dengan basil tuberkel. IL-12 sangat penting untuk induksi DTH karena
merupakan sitokin utama yang mengarahkan diferensiasi sel TH1; selanjutnya,
sel TH1 merupakan sumber sitokin lain yang tercantum di bawah. IL-12 juga
merupakan penginduksi sekresi IFN- oleh sel T dan sel NK yang poten.

IFN- mempunyai berbagai macam efek dan merupakan mediator DTH yang
paling penting. IFN- merupakan aktivator makrofag yang sangat poten, yang
meningkatkan produksi makrofag IL-12. Makrofag teraktivasi mengeluarkan
lebih banyak molekul kelas II pada permukaannya sehingga meningkatkan
kemampuan penyajian antigen. Makrofag ini juga mempunyai aktivitas
fagositik

dan

mikrobisida

yang

meningkat,

demikian

pula

dengan

kemampuannya membunuh sel tumor. Makrofag teraktivasi menyekresi


beberapa faktor pertumbuhan polipeptida, termasuk faktor pertumbuhan yang
berasal dari trombosit (PDGF) dan TGF-, yang merangsang proliferasi
fibroblas dan meningkatkan sintesis kolagen. Secara ringkas, aktivitas IFN-
meningkatkan kemampuan makrofag untuk membasmi agen penyerangan; jika
aktivasi makrofag terus berlangsung, akan terjadi fibrosis.

IL-2 menyebabkan proliferasi sel T yang telah terakumulasi pada tempat DTH.
Yang termasuk dalam infiltrat ini adalah kira-kira 10% sel CD4+ yang antigenspesifik, meskipun sebagian besar adalah sel T penonton yang tidak spesifik
untuk agen penyerang asal.

TNF dan limfotoksin adalah sitokin yang menggunakan efek pentingnya pada sel endotel: (1)
meningkatnya sekresi nitrit oksida dan prostasiklin, yang membantu peningkatan aliran darah
melalui vasodilatasi local; (2) meningkatnya pengeluaran selektin-E, yaitu suatu molekul adhesi
yang meningkatkan perlekatan sel mononuklear; dan (3) induksi dan sekresi faktor kemotaksis
seperti IL-8. Perubahan ini secara bersama memudahkan keluarnya limfosit dan monosit pada
lokasi terjadinya respon DHT

Anda mungkin juga menyukai