Anda di halaman 1dari 16

Perpajakan Internasional

Studi Kasus

Disusun Oleh:
Ade Putri Ilmi Bandari (1206316723)
Astrianti (1206316856)
Dianis Nurmala Mayanda (1206317064)
Elvan Wirasta (13

Kasus I
PROFIL PERUSAHAAN
PT. FOUNTAIN INDONESIA (Perusahaan) adalah sebuah perusahaan yang bergerak
di bidang perdagangan alat-alat berat dan juga penyedia jasa perakitan alat-alat
berat. Perusahaan berkedudukan di Jl. Jend. Sudirman No. 5, Jakarta Pusat 10210
yang sudah memulai usahanya sejak tahun 1998. Di Indonesia, Perusahaan
melakukan perdagangan alat-alat berat dengan menggunakan Merk Dagang
Kitaro dengan lisensi dari Kitaro Corporation, sebuah perusahaan afiliasi di Jepang.
PEMEGANG SAHAM
Berikut ini adalah para pemegang saham Perusahaan:
1. Kitaro Corporation, berkedudukan di Jepang, persentase kepemilikan saham:
30%.
2. Fountain International Pty.Ltd, berkedudukan di Australia, persentase
kepemilikan saham: 25%.
3. PT. Biru Laut, berkedudukan di Surabaya, persentase kepemilikan saham:
15%.
4. Handoko Darusman, WNI berkedudukan di Jakarta, persentase kepemilikan:
10%
5. Hendra Darusman, WNI berkedudukan di Bandung, persentase kepemilikan:
10%
6. Noni Darusman, WNI berkedudukan di Bali, persentase kepemilikan: 10%
TRANSAKSI BISNIS PERUSAHAAN DI TAHUN 2013
Di tahun 2013 ini Perusahaan memiliki beberapa rencana untuk melakukan
beberapa transaksi bisnis. Pada bulan Maret 2013, Perusahaan akan membagikan
dividen untuk para pemegang sahamnya. Karena posisi kas perusahaan tidak dalam
kondisi yang excessive, maka dividen yang akan dibagikan adalah dalam bentuk
stock dividend.
Terkait dengan penggunaan merk dagang Kitaro, Perusahaan memiliki kewajiban
membayar royalti sebesar USD2ribu setiap bulan kepada Kitaro Corporation di
Jepang. Kitaro Corporation telah memberikan Certificate of Domicile (CoD)
tertanggal 31 Desember 2011. Pembayaran royalti tersebut telah dimulai sejak
tahun 1998, yaitu sejak Perusahaan memulai usahanya di Indonesia.
Seperti telah disebutkan di awal kasus bahwa selain melakukan perdagangan alatalat berat, Perusahaan juga memberikan jasa perakitan alat-alat berat. Saat ini
konsumen Perusahaan tersebar di penjuru Indonesia dan juga memiliki konsumen
dari luar negeri, terutama dari Malaysia dan Filipina. Dalam melakukan jasa
perakitan alat-alat berat, Perusahaan dibantu oleh tenaga ahli dari Jepang yang
dikirimkan oleh Kitaro Corporation. Pada bulan April 2013, Perusahaan
mendapatkan order dari PT. Seribu Pulau untuk merakit sebuah alat berat untuk
melakukan pengerukan di beberapa pulau di Indonesia. Terkait dengan order

tersebut, Perusahaan meminta bantuan dari Kitaro Corporation untuk mengirimkan


dua orang tenaga ahli yang memiliki spesialisasi dalam perakitan alat tersebut. Dua
orang tenaga ahli tersebut datang ke Jakarta sejak tanggal 8 April 2013 sampai 10
Mei 2013. Pembayaran gaji tenaga ahli tersebut tetap dilakukan oleh Kitaro
Corporation, Perusahaan hanya akan membayarkan fee ke Kitaro Corporation
sebesar USD3 ribu per bulan.
Di tahun 2013 ini, Perusahaan berniat untuk melakukan ekspansi usaha guna
meningkatkan pangsa pasar baik domestik maupun internasional. Untuk melakukan
ekspansi usaha tersebut, tentu saja dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Maka,
pihak manajemen Perusahaan memutuskan untuk melakukan pinjaman ke Fountain
International Pty. Ltd. dengan menerbitkan obligasi berjangka waktu 10 tahun
sebesar USD200ribu dengan suku bunga sebesar 20%, suku bunga pasar adalah
15%. Bunga dibayarkan tiap 3 bulan sekali dimulai sejak bulan Maret 2013.
Selanjutnya, pada bulan Agustus 2013, Kitaro Corporation menjual 5%
kepemilikannya di Perusahaan kepada Seaworld Corporation yang berkedudukan di
Singapore dengan nilai transaksi sebesar USD300ribu.

Hasil Analisis Kasus:


1. Macam-macam objek pajak dalam kasus di atas:
a. Dividen kepada para pemegang saham
b. Royalti atas merk dagang penggunaan merk dagang Kitaro, kepada Kitaro
Corporation di Jepang
c. Fee dua orang tenaga ahli jasa perakitan yang dikirimkan dari Kitaro
Corporation
d. Bunga atas obligasi berjangka ke Fountain International Pty. Ltd di Australia
e. Penjualan 5% kepemilikan Kitaro Corporation kepada Seaworld Corporation
(tetapi bukan objek pajak di Indonesia
2. Pemenuhan kewajiban perpajakan yang tepat serta mekasnisme untuk setiap
transaksi:

A. Dividen
1. Dividen Sebagai Objek Pemotongan PPh Pasal 23
Wajib Pajak Badan Dalam Negeri atau Bentuk Usaha Tetap (BUT) yang menerima
atau memperoleh penghasilan berupa dividen, maka atas penghasilan dividen
tersebut dipotong PPh Pasal 23 sebesar 15% dari penghasilan bruto sebagaimana
diatur dalam Pasal 23 ayat (1) huruf a UU PPh. Dividen tersebut dikenakan PPh Pasal
23 sepanjang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana disebutkan dalam pasal 4
ayat 3 huruf f UU PPh.
2.

Dividen Sebagai Objek Pemotongan PPh Final Pasal 4 ayat (2)

Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri yang menerima atau memperoleh

penghasilan berupa dividen, maka atas penghasilan dividen tersebut dipotong PPh
Pasal 4 ayat (2) yang bersifat final sebesar 10% dari penghasilan bruto
sebagaimana diatur dalam PP No. 19 Tahun 2009 tanggal 9 Februari 2009.
3.

Dividen Sebagai Objek Pemotongan PPh Pasal 26

Wajib Pajak Luar Negeri yang menerima atau memperoleh penghasilan yang
bersumber dari Indonesia berupa dividen, maka atas penghasilan dividen tersebut
dipotong PPh Pasal 26 sebesar 20% dari penghasilan bruto sebagaimana diatur
dalam Pasal 26 ayat (1) huruf a UU PPh. Namun, apabila penerima dividen ini
adalah WPLN dimana Negara domisili yang bersangkutan mempunyai perjanjian
perpajakan dengan Indonesia dan terdapat Surat Keterangan Domisili (COD), maka
tarif yang dikenakan adalah tarif yang sesuai dengan Tax Treaty
4.
P3B Indonesia-Jepang
Pasal 10 ayat 2a-b
Dividen dapat dikenakan pajak di Negara dimana badan yang membayarkan dividen
itu berkedudukan
sesuai dengan perundang-undangan Negara itu, tetapi apabila si penerima dividen
adalah pemilik yang
menikmatinya, maka pajak yang dikenakan tidak akan melebihi :
(a)

10 persen dari jumlah kotor dividen jika penerima dividen adalah, suatu
badan yang selama 12
bulan pada akhir masa pembukuan dimana pembagian keuntungan dilakukan,
memiliki sekurang kurangnya 25 persen modal dari badan yang

membayarkan dividen.
(b)
15 persen dari jumlah kotor dividen dalam hal lainnya.
Pasal 23 ayat 1b
jika pendapatan itu berupa dividen yang dibayarkan oleh suatu badan yang
berkedudukan di Indonesia kepada suatu badan yang berkedudukan di Jepang
dan yang memiliki tidak kurang dari 25 persen dari hak suara dari badan yang
membayar dividen atau dari seluruh saham yang dikeluarkan oleh badan itu, maka
pajak yang dibayar di Indonesia oleh badan yang memberikan dividen itu
akan diperhitungkan
5. P3B Indonesia-Australia
Article 10 (Dividends)
paragraph 1. Dividends paid by a company which is a resident of one of the
Contracting States under the law of that State relating to its tax, being dividends to

which a resident of the other Contracting State is beneficially entitled, may be taxed
in that other State.
paragraph 2. Those dividends may be taxed in the first-mentioned Contracting State
and according to the law of that State, but the tax so charged shall not exceed
15% of the gross amount of the dividends. The competent authorities of the
Contracting States shall by mutual agreement settle the mode of application of this
limitation.

Implikasi Perpajakan:

No
.

1.

Pemegang Saham

Kitaro Corporation, berkedudukan di


Jepang

%
Kepemilika
n Saham

PPh Pasal
23/26/4(2)

30%

PPh Pasal 26
dengan tax treaty,
tarif 10%

2.

Fountain International Pty.Ltd,


berkedudukan di Australia

25%

- PPh Pasal 26 non


tax treat, tarif
20% (kalau tidak
bisa menyerahkan
COD)
- PPh Pasal 26 tax
treat, tarif 15%
(kalau bisa
menyerahkan
COD)

3.

PT. Biru Laut, berkedudukan di


Surabaya

15%

PPh Pasal 23, tarif


15%

4.

Handoko Darusman, WNI


berkedudukan di Jakarta

10%

PPh Pasal 4(2),


tarif 10%

5.

Hendra Darusman, WNI

10%

PPh Pasal 4(2),

berkedudukan di Bandung
6.

Noni Darusman, WNI berkedudukan


di Bali

tarif 10%
10%

PPh Pasal 4(2),


tarif 10%

B. Royalti.
P3B Indonesia-Jepang
Pasal 12 ayat (2)
Royalti dapat juga dikenakan pajak di Negara dimana royalti itu berasal, sesuai
dengan perundang-undangan Negara itu, tetapi apabila sipenerima adalah pemilik
royalti yang menikmatinya, pajak yang dikenakan tidak akan melebihi 10
persen dan jumlah kotor royalti.
Implikas Perpajakan:
Atas royalty yang dibayarkan PT Fountain Indonesia kepada Kitaro Corp., dapat
dipajaki di Indonesia sesuai dengan Pasal 12 ayat (2) P3B Indonesia Jepang
sebesar 10% (sepanjang Kitaro Corp. adalah beneficial owner dari royalti tersebut).
Karena Kitaro Corp. dapat memberikan CoD sebagai syarat administratif tertanggal
31 Desember 2011 (berlaku satu tahun) untuk memperoleh manfaat P3B Indonesia
Jepang sesuai Per 61/2009, Sehingga, PPh Pasal 26 yang terutang setiap bulannya
tahun 2012 sesuai dengan manfaat tarif P3B Indonesia Jepang adalah 10% x USD
2.000 x Kurs KMK.

C. Fee atas tenaga ahli jasa perakitan


P3B Indonesia-Jepang
Pasal 5 ayat (5)
Perusahaan dari suatu Negara akan dianggap mempunyai pendirian tetap di Negara
lainnya apabila perusahaan tersebut memberikan jasa konsultan atau jasa
pengawasan sehubungan dengan pendirian bangunan, konstruksi atau proyek
instalasi melalui pekerja-pekerja atau pegawai lainnya kecuali oleh agen yang
berdiri sendiri dimana ketentuan ayat 8 berlaku dimana kegiatan-kegiatan itu
berlangsung (untuk dua atau lebih proyek yang sama atau yang berhubungan)
dalam jangka waktu lebih dari 6 bulan dalam suatu tahun pajak. Namun
apabila pemberian jasa-jasa tersebut dilakukan sebagai akibat adanya perjanjian
antara kedua Negara yang menyangkut kerjasama ekonomi atau tehnik, maka
perusahaan tersebut tidak dianggap mempunyai pendirian tetap di Negara lain
tersebut

Implikasi Perpajakan:
Sesuai dengan Pasal 26 UU PPh, atas imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan,
dan kegiatan yang dibayarkan ke Wajib Pajak luar negeri selain BUT oleh subjek
pajak dalam negeri (Kitaro Corp), dapat dikenakan pajak dengan tarif 20%. Meski
demikian, dengan adanya tax treaty antara Indonesia dengan Jepang, perlu dilihat
implikasi pemajakan kepada Wajib Pajak yang merupakan penduduk dari negara
yang saling berjanji.
Pasal 5 ayat (5) P3B Indonesia menyebutkan yang disebut terminologi BUT antara
lain termasuk atas pemberian jasa melalui pengiriman pegawai dalam jangka waktu
lebih dari 6 bulan dalam suatu tahun pajak. Karena pemberian jasa yang dilakukan
oleh Kitaro Corp melalui pengiriman pegawainya ke Indonesia tidak melebihi time
test Pasal 5 ayat (1) P3B Indonesia Jepang, maka dapat disimpulkan tidak ada BUT
dari Kitaro Corp di Indonesia. Jadi untuk transaksi tersebut tidak dikenai pajak di
negara sumber penghasilan Indonesia).

D. Bunga Obligasi

P3B Indonesi - Australia


Article 11 par 1,2,8
Interest arising in one of the Contracting States, being interest to which a resident
of the other Contracting State is beneficially entitled, may be taxed in that other
State.
That interest may be taxed in the Contracting State in which it arises, and
according to the law of that State, but the tax so charged shall not exceed 10%
of the gross amount of the interest. The competent authorities of the
Contracting States shall by mutual agreement settle the mode of application of this
limitation.
Where, owing to a special relationship between the payer and the person
beneficially entitled to the interest, or between both of them and some other
person, the amount of the interest paid, having regard to the indebtedness for
which it is paid, exceeds the amount which might have been expected to
have been agreed upon by the payer and the person so entitled in the absence
of that relationship, the provisions of this Article shall apply only to the lastmentioned amount. In that case, the excess part of the amount of the interest paid
shall remain taxable according to the law, relating to tax, of each Contracting State,
but subject to the other provisions of this Agreement.

UU No. 7 Tahun 1983 stdd. UU No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak


Penghasilan (UU PPh)
Pasal 26 ayat (1)
Atas penghasilan tersebut di bawah ini, dengan nama dan dalam bentuk apa pun,
yang

dibayarkan,

disediakan

untuk

dibayarkan,

atau

telah

jatuh

tempo

pembayarannya oleh badan pemerintah, subjek pajak dalam negeri, penyelenggara


kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya
kepada Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia dipotong
pajak sebesar 20% (dua puluh persen) dari jumlah bruto oleh pihak yang wajib
membayarkan:
a. dividen;
b. bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan
c.
d.
e.
f.
g.
h.

jaminan pengembalian utang;


royalti, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;
imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan;
hadiah dan penghargaan;
pensiun dan pembayaran berkala lainnya;
premi swap dan transaksi lindung nilai lainnya; dan/atau
keuntungan karena pembebasan utang.

Implikasi Perpajakan
Atas bunga yang dibayarkan PT Fountain International Pty.Ltd, (pihak berelasi) di
Australia, dapat dipajaki di Indonesia sesuai dengan Pasal 11 ayat (2) P3B Indonesia
Australia sebesar 10% (sepanjang PT Fountain International Pty.Ltd. adalah
beneficial owner dari bunga tersebut). Meski demikian, memperhatikan hubungan
istimewa di antara kedua perusahaan tersebut, Pasal 11 ayat (6) P3B Indonesia
Australia mensyaratkan besarnya nilai bunga yang dibayarkan antar pihak berelasi
hanyalah sebesar nilai yang dibayarkan jika transaksi tersebut terjadi antar pihak
yang tidak memiliki hubungan istimewa (tidak berelasi). Dengan demikian,
besarnya bunga yang dibayarkan seharusnya menggunakan tingkat suku bunga
pasar 15% dan dipajaki sebesar 10%. Sedang atas kelebihan pembayaran bunga
5% (20%-15%), pajaknya diperhitungkan sesuai dengan tarif PPh Pasal 26.
Asumsi jika PT Fountain International Pty.Ltd menyerahkan CoD nya maka
perhitungan bunga dan pajaknya menjadi:
Pokok Bunga 3 bulanan ( 1/4 x 15% x USD 200.000)
USD 7.500

PPh Pasal 26 sesuai dengan P3B (USD 7.500 x Kurs KMK x 10%)
xxx (a)
Kelebihan pembayaran bunga ( 1/4 x 20%x USD 200.000)
(USD 10.000-7.500)
PPh Pasal 26 ayat (1) huruf b (USD 2.500 x Kurs KMK x 20%)

Rp

= USD 2.500
= Rp

xxx (b)
+
Total PPh Pasal 26 yang seharusnya dibayarkan

Rp

xxx (a+b)
PPh Pasal 26 yang dipotong (USD 10.000 x Kurs KMK x 10%)

Rp

xxx
PPh Pasal 26 yang kurang dipotong

= Rp xxx

Atas kekurangan pemotongan PPh Pasal 26 tersebut, Perusahaan dapat terpapar


beberapa kemungkinan, misalnya Sanksi bunga Pasal 9 ayat (2a) UU KUP 2%/bulan,
jika Perusahaan membetulkan sendiri, atau Sanksi bunga Pasal 14 ayat (3) UU KUP
2%/bulan max 24 bulan, jika atas kekurangan pemotongan tersebut diterbitkan STP
oleh KPP (tidak dibetulkan sendiri).
5. Penjualan Saham
Menurut ketentuan tentang sumber penghasilan (KTSP) mengenai Penghasilan
dari saham dan sekuritas lainnya serta keuntungan dari pengalihan saham dan
sekuritas lainnya. yang berhak mengenakan pajak adalah negara tempat badan
yang menerbitkan saham atau sekuritas tersebut didirikan atau bertempat
kedudukan.
Atas penjualan saham PT Fountain sebanyak 5% oleh Kitaro Corp. Pada bulan
Agustus 2013 kepada Seaworld Corporation yang berkedudukan di Singapore
dengan nilai transaksi sebesar USD300 ribu. Apabila terdapat keuntungan atas
pelepasan saham, maka dikenakan tarif pajak 20% (tidak mempunyai CoD) dari
keuntungan penjualan saham tersebut.

MAS ELVAN

PT HANA adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang penjualan eceran (retail)
barang-barang elektronik. Saham PT HANA dimiliki oleh SUJU CO. dan AKHI CORP.

dengan proporsi masing-masing 50%:50%. PT HANA berdomisili di Indonesia,


sementara SUJU CO. berdomisili di Korea Selatan dan AKHI CORP. berdomisili di
Kuwait. Di Indonesia, SUJU CO. dan AKHI CORP. hanya memiliki penyertaan langsung
pada PT HANA (tidak memiliki BUT atau investasi lain di Indonesia).
Berikut adalah petikan beberapa transaksi PT HANA selama tahun 2014. Kurs
IDR/USD yang berlaku untuk setiap transaksi adalah IDR11.200 (kurs tengah BI) dan
IDR11.150 (Kurs KMK).

Korea Selatan
Kuwait
SUJU Co.
(50%)

AKHI Corp.
(50%)

Penyertaan Langsung

PT
HANA
Indonesia

SOAL 1
Pada tanggal 11 Maret 2014, PT HANA melakukan pembayaran dividen total
sebesar USD300.000 kepada SUJU CO. dan AKHI CORP. Baik SUJU CO. maupun AKHI
CORP. telah menyerahkan SKD (CoD) kepada PT HANA dengan tanggal SKD SUJU
CO. 30 April 2013 dan tanggal SKD AKHI CORP. 31 Mei 2013.
- Pembayaran Dividen PT HANA (Indonesia) kepada SUJU Co. (Korea
Selatan)
Referensi :
a. P3B Indonesia-Korea Selatan
Pasal 10
DIVIDEN
1.

Dividen yang dibayarkan oleh suatu perseroan yang berkedudukan di suatu Negara pihak pada Persetujuan
kepada penduduk Negara pihak pada Persetujuan lainnya dapat dikenakan pajak di Negara pihak pada
Persetujuan lainnya tersebut.

2.

Namun demikian, dividen itu dapat juga dikenakan pajak di Negara pihak pada Persetujuan di mana
perseroan yang membayarkan dividen tersebut berkedudukan dan sesuai dengan perundang- undangan
Negara tersebut, akan tetapi apabila penerima dividen adalah pemilik saham yang menikmati dividen itu,
maka pajak yang dikenakan tidak akan melebihi :

/(a) 10 persen dari jumlah kotor dividen apabila pemilik saham yang menikmati dividen
tersebut adalah perseroan (selain persekutuan) yang memiliki paling sedikit 25
persen dari modal perusahaan yang membayarkan dividen;
(b) 15 persen dari jumlah kotor dividen dalam hal lainnya.
Ayat ini tidak akan mempengaruhi pengenaan pajak atas laba suatu perseroan yang
menjadi dasar pembayaran dividen.
3.

Istilah "Dividen" sebagaimana digunakan dalam pasal ini berarti penghasilan dari saham-saham atau hakhak lainnya yang bukan merupakan surat-surat piutang, namun berhak atas pembagian laba, demikian pula
penghasilan dari hak-hak dari perseroan lainnya yang diperlakukan sama dalam pengenaan pajaknya
sebagai penghasilan dari saham-saham oleh undang-undang Negara pihak pada Persetujuan dimana
perusahaan yang membagikan dividen berkedudukan.

b. UU No. 7 Tahun 1983 stdd. UU No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak


Penghasilan (UU PPh)
Pasal 26 ayat (1)
Atas penghasilan tersebut di bawah ini, dengan nama dan dalam
bentuk apa pun, yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau
telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemerintah, subjek
pajak dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap,
atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak
luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia dipotong pajak
sebesar 20% (dua puluh persen) dari jumlah bruto oleh pihak yang
wajib membayarkan:
a. dividen;
b. bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan
dengan jaminan pengembalian utang;

c.

royalti, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan


penggunaan harta;
d. imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan;
e. hadiah dan penghargaan;
f. pensiun dan pembayaran berkala lainnya;
g. premi swap dan transaksi lindung nilai lainnya; dan/atau
h. keuntungan karena pembebasan utang.
c. Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2010 Tentang Penghitungan
Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam
Tahun Berjalan (PP 94/2010)
Penjelasan Pasal 15 ayat (3)
Saat terutangnya Pajak Penghasilan Pasal 23 Undang-Undang Pajak
Penghasilan adalah pada saat pembayaran, saat disediakan untuk
dibayarkan (seperti: dividen) dan jatuh tempo (seperti: bunga dan
sewa), saat yang ditentukan dalam kontrak atau perjanjian atau
faktur (seperti: royalti, imbalan jasa teknik atau jasa manajemen atau
jasa lainnya).
Yang dimaksud dengan "saat disediakan untuk dibayarkan":
a. untuk perusahaan yang tidak go public, adalah saat dibukukan
sebagai utang dividen yang akan dibayarkan, yaitu pada saat
pembagian dividen diumumkan atau ditentukan dalam Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS) Tahunan. Demikian pula apabila perusahaan
yang bersangkutan dalam tahun berjalan membagikan dividen
sementara (dividen interim), maka Pajak Penghasilan Pasal 23
Undang-Undang Pajak Penghasilan terutang pada saat diumumkan
atau ditentukan dalam Rapat Direksi atau pemegang saham sesuai
dengan Anggaran Dasar perseroan yang bersangkutan.
d. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per-61/PJ/2009 stdd. Per24/PJ/2010 tentang Tata Cara Penerapan Persetujuan Penghindaran
Pajak Berganda (Per 61/2009)
Pasal 3
(1) Pemotong/Pemungut Pajak harus melakukan pemotongan atau
pemungutan pajak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam P3B,
dalam hal :
a. Penerima penghasilan bukan SUbjek Pajak dalam negeri Indonesia,
b. Persyaratan administratif untuk menerapkan ketentuan yang
diatur dalam P3B telah dipenuhi; dan
c. Tidak terjadi penyalahgunaan P3B oleh WPLN sebagaimana dimaksud
dalam ketentuan tentang penyalahgunaan P3B.

(2) Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
terpenuhi, Pemotong/Pemungut Pajak wajib memotong atau
memungut pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan yang
diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008.
Implikasi Perpajakan :
Atas pembayaran dividen yang dilakukan oleh PT HANA kepada SUJU Co. yang
berkedudukan di Korea Selatan, dapat dipotong pajaknya di Indonesia sesuai
dengan ketentuan P3B Indonesia-Korea Selatan selama besar pajaknya tidak
melebihi 10% dari jumlah bruto dividen yang dibayarkan. Sesuai dengan PP
94/2010, PPh pasal 26 tersebut terutang pada saat disediakan untuk dibayarkan.
Dalam hal ini, pada saat PT HANA melakukan RUPS Tahunan atau membagikan
dividen interim.
Dengan demikian, CoD yang tertanggal 30 April 2013 (berakhir April 2014) masih
berlaku karena PT HANA telah membayarkan dividen tersebut pada tanggal 11
Maret 2014. Sehingga, PPh pasal 26 yang terutang sesuai dengan manfaat tarif P3B
Indonesia-Korea Selatan adalah 10% * USD 300.000 * KMK IDR 11.150 * 50%
kepemilikan saham = IDR 167.250.000
- Pembayaran Dividen PT HANA (Indonesia) kepada AKHI Corp. (Kuwait)
Referensi :
a. P3B Indonesia-Kuwait
Pasal 10
DIVIDEN
1.

Dividen yang dibayarkan oleh suatu perseroan yang berkedudukan di suatu Negara pihak pada Persetujuan
kepada penduduk Negara pihak pada Persetujuan lainnya dapat dikenakan pajak di Negara pihak pada
Persetujuan lainnya tersebut.

2.

Namun demikian dividen itu dapat juga dikenakan pajak di Negara pihak pada Persetujuan di mana
perseroan yang membayarkan dividen tersebut berkedudukan dan sesuai dengan perundang- undangan
Negara tersebut, akan tetapi pajak yang dikenakan tidak akan melebihi 10 % (sepuluh persen) dari
jumlah bruto dividen.
Ayat ini tidak akan mempengaruhi pengenaan pajak atas laba perseroan darimana pembayaran dividen
dibayarkan.

3.

Menyimpang dari ketentuan-ketentuan ayat 1 dan 2, dividen dibayarkan oleh suatu perusahaan yang
erupakan penduduk suatu Negara pihak pada Persetujuan tidak akan dikenakan pajak di Negara pihak ada
Persetujuan itu apabila pemilik saham yang menikmati dividen adalah Pemerintah dari Negara ihak pada
Persetujuan lainnya atau setiap lembaga pemerintah atau bentuk lainnya, sebagaimana imaksud dalam
Pasal 4 ayat 2.

4.

Istilah "dividen" sebagaimana digunakan dalam Pasal ini berarti penghasilan dari saham-saham, ahamsaham "jouissance" atau hak "jouissance", saham-saham pertambangan, saham-saham pemilikan atau
hak-hak lain yang bukan merupakan surat tagihan piutang, yang berhak atas pembagian laba, maupun

penghasilan lainnya dari hak-hak perseroan yang oleh undang-undang perpajakan Negara pihak pada
Persetujuan dimana perseroan yang membagikan dividen itu berkedudukan, dalam pengenaan pajaknya
diperlakukan sama dengan penghasilan dari saham- saham.

b. PPh Pasal 26
c. PP 94/2010
d. PP 61/2009
Implikasi Perpajakan :
Atas pembayaran dividen yang dilakukan oleh PT HANA kepada AKHI Corp. yang
berkedudukan di Kuwait, dapat dipotong pajaknya di Indonesia sesuai dengan
ketentuan P3B Indonesia-Kuwait selama besar pajaknya tidak melebihi 10% dari
jumlah bruto dividen yang dibayarkan. Sesuai dengan PP 94/2010, PPh pasal 26
tersebut terutang pada saat disediakan untuk dibayarkan. Dalam hal ini, pada saat
PT HANA melakukan RUPS Tahunan atau membagikan dividen interim.
Dengan demikian, CoD yang tertanggal 31 Mei 2013 (berakhir Mei 2014) masih
berlaku karena PT HANA telah membayarkan dividen tersebut pada tanggal 11
Maret 2014. Sehingga, PPh pasal 26 yang terutang sesuai dengan manfaat tarif P3B
Indonesia-Kuwait adalah 10% * USD 300.000 * KMK IDR 11.150 * 50% kepemilikan
saham = IDR 167.250.000
SOAL 2
Pada tanggal 3 Juli 2014, PT HANA membayar royalti kepada TAEGUK CO. atas
penggunaan merek dagang senilai USD250.000. TAEGUK CO. berdomisili di Korea
Selatan dan merupakan induk perusahaan dari SUJU CO. Nilai wajar dari
pembayaran royalti tersebut adalah USD200.000. TAEGUK CO. sudah
menyerahkan SKD bertanggal 1 Oktober 2013 kepada PT HANA.
Referensi :
a. P3B Indonesia-Korea Selatan
Pasal 12
ROYALTI
1.

Royalti yang berasal dari suatu Negara pihak pada Persetujuan dan dibayarkan kepada penduduk Negara
pihak pada Persetujuan lainnya dapat dikenakan pajak di Negara lain tersebut.

2.

Namun demikian, royalti tersebut dapat juga dikenakan pajak di Negara pihak pada Persetujuan dimana
royalti itu berasal dan sesuai dengan perundang-undangan negara tersebut, tetapi apabila penerima
royalti adalah pemilik hak yang menikmati royalti itu, maka pajak yang dikenakan tidak akan
melebihi 15% dari jumlah kotor royalti.

3.

Istilah "royalti" sebagaimana digunakan dalam Pasal ini berarti pembayaran dalam bentuk apapun yang
diterima sebagai balas jasa karena penggunaan atau hak untuk menggunakan, hak cipta
kesusasteraan, karya seni atau karya ilmiah, termasuk film-film sinematografi, atau film-film atau pita
-pita yang digunakan untuk siaran radio atau televisi, paten, merek dagang, pola atau model,
rencana, rumus, atau cara pengolahan yang dirahasiakan, atau untuk penggunaan, atau hak untuk
menggunakan perlengkapan industri, perniagaan atau ilmu pengetahuan, atau keterangan
menyangkut pengalaman di bidang industri, perniagaan dan ilmu pengetahuan.

b. Pasal 26 ayat (1) huruf c UU PPh

c. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per-61/PJ/2009 stdd. Per-24/PJ/2010 tentang


Tata Cara Penerapan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (Per 61/2009)
Pasal 3
(3) Pemotong/Pemungut Pajak harus melakukan pemotongan atau
pemungutan pajak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam P3B,
dalam hal :
d. Penerima penghasilan bukan SUbjek Pajak dalam negeri Indonesia,
e. Persyaratan administratif untuk menerapkan ketentuan yang
diatur dalam P3B telah dipenuhi; dan
f. Tidak terjadi penyalahgunaan P3B oleh WPLN sebagaimana dimaksud
dalam ketentuan tentang penyalahgunaan P3B.
(4) Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
terpenuhi, Pemotong/Pemungut Pajak wajib memotong atau
memungut pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan yang
diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008.
Implikasi Perpajakan :
Atas royalti yang dibayarkan PT HANA kepada TAEGUK Co. dapat dipajaki di Indonesia dengan berdasarkan pada
pasal 12 ayat (2) P3B Indonesia-Korea Selatan sebesar 15% (sepanjang TAEGUK Co. merupakan beneficial owner
atas royalti tersebut). Karena dalam hal ini syarat administrasi telah terpenuhi (CoD tertanggal 1 Oktober 2013,
berakhir Oktober 2014), maka perusahaan dapat menerima manfaat atas P3B Indonesia-Korea Selatan ini. Oleh
karena itu, perhitungan atas pajak yang dikenakan terhadap pembayaran royalti yang dimaksud adalah sebagai
berikut : 15% * USD 250.000 * KMK IDR 11.150 * 50% * 100% = IDR 209.062.500

tapi kenapa nilai wajarnya juga ditampilkan ????