Anda di halaman 1dari 5

MIKROBIOLOGI TANAH

Beberapa mikrobia memiliki kemampuan untuk menyerap fosfat dengan kadar tinggi

dalam bentuk polifosfat, sebagai simpanan energi ketika kondisi miskin oksigen.
Mikrobia seringkali memiliki efisiensi yang lebih tinggi dalam uptake fosfat

dibandingkan akar tanaman.


Produksi hormon tanaman oleh mikrobia rhizosfer dapat mempengaruhi arsitektur
akar, perkembangan rambut akar, dan afinitas akar terhadap fosfat -> secara tidak

langsung mempengaruhi uptake fosfat oleh tanaman.


Mayoritas tanaman pertanian merupakan host bagi Arbuskular Mikorhiza.

Senyawa metabolit sekunder yang dilepaskan tanaman ke daerah perakaran dibedakan


menjadi 5 jenis yaitu ;
a. Eksudat : meliputi senyawa-senyawa dengan berat molekul rendah, seperti gula,
asam amino, dan aromatik yang dikeluarkan oleh sel ke ruang di antara sel dan
tanah di sekitarnya.
b. Sekresi : bioproduk dari aktivitas metabolik tanaman yang secara aktif
dikeluarkan dari sel, meliputi senyawa dengan berat molekul rendah maupun
tinggi
c. Mucilage : senyawa yang berasal dari sel-sel yang rontok dari ujung akar yang
sedang tumbuh, mengandung seulosa, pektin, pati, dan lignin
d. Mucigel : lapisan tipis yang menyelimuti permukaan akar yang akan
menghubungkan akar dengan lingkungan tanah di sekitarnya
e. Lysate : senyawa yang keluar dari dalam sel-sel epidermal akar ketika ujung
akar tersebut mati dan pecah sehingga senyawa ini menjadi tersedia bagi
-

komunitas mikrobia rhizosfer.


Hasil metabolit sekunder yang dilepaskan tanaman ke rizosfir menjadi sumber
makanan dan energi bagi mikroba tanah, baik mikroflora maupun mikrofauna.
Mikroflora yang umum ditemukan di rhizosfir antara lain bakteri, fungi dan archaea,
sedangkan mikrofauna yang umum ditemukan di rhizosfir di antaranya protozoa,

nematoda, collembola, dan mikrofauna lainnya.


Goodman (1998) menyatakan bahwa dari total mikroba yang menghuni rizosfir yang
bisa diobservasi dengan mikroskop, 90% diantaranya tidak dapat dikulturkan pada
media buatan (viable but non culturable). Dengan demikian hanya sekitar 10% saja

mikroba hidup penghuni rizosfir yang dapat dibiakkan pada media buatan.
Fulthrope et.al (2008) menganalisis dari 4 daerah yang mempunyai letak geografis
berbeda dengan menggunakan metode penandan 16S RNA. Hasilnya menunjukkan
bahwa spesies bakteri yang paling melimpah di rhizosfer adalah Chitinobacteria spp.,
Acidobacterium spp., dan Acidovorax spp. Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa
terdapat 10 genus yang selalu ditemukan pada berbagai rhizosfer, urutan dari yang

paling melimpah : Bacillus, Flavobacterium, Pseudomonas, Proteobacteria,


-

Bacteriodetes, Acidobacteria, Firmicutes, dan Gemmatimonades (Kielak et.al., 2009).


Ada perubahan musiman pada populasi mikrobia penghuni rhizosfer sejalan dengan
pertumbuhan akar. Komposisi komunitas mikrobia pada akar muda dan dewasa akan

berbeda. Hubungannya dengan jumlah eksudat yg dihasilkan oleh akar.


Perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan tanaman menyediakan niche yang
khusus bagi mikroba tanah sehingga komunitas mikroba rizosfir akan berbeda
dengan yang ditemukan di daerah di sekitarnya. Komunitas tersebut membentuk
suatu niche yang disebut rhizosfer effect (Curl and Truelove, 1986; Lynch and

Hobbie, 1988).
Fungi mikoriza secara umum dibedakan menjadi 2 yang menghuni bagian luar akar

(ektomikoriza) dan yang menghuni jaringan dalam akar (endomikoriza).


Fungi mikoriza arbuskula (FMA) umumnya membentuk asosiasi dengan rumput2an

dan herba.
Mikoriza membantu tanaman dalam memperoleh unsur hara karena memiliki enzimenzim yang dapat melepaskan unsur hara yang terikat oleh logam-logam ->
membantu melarutkan fosfat tanaman menyerap fosfat dalam bentuk orthofosfat,
namun ikatannya sangat tidak stabil sehingga mudah terikat dengan logam sehingga
menjadi tidak larut dalam air dan tidak bisa diserap oleh tumbuhan. Mikoriza
membantu melepas ikatan tsb dengan logam.

Karbon yang terkandung dalam eksudat akar akan meningkatkan populasi


mikrofauna di rhizosfer. Nematoda di rhizosfer populasinya meningkat 27 x lipat,

protozoa 35 x lipat dibandingkan populasinya di tanah non-rhizosfer.


Populasi mikrofauna mencapai maksimum pada bagian aar yang lebih tua

dibandingkan dengan pada daerah ujung akar yang lebih muda.


Populasi amoeba mencapai maksimum pada bagian yang dekat dengan ujung akar.
Peningkatan populasi protozoa terutama terjadi pada tanaman menahun selama

masa akuisisi nutrisi menjelang musim berbunga.


Peranan mikrofauna di rhizosfer adalah sebagai pengadali populasi bakteri atau
mikroflora di rhizosfer (predator-prey).

INTERAKSI ANTAR MIKROBIA DI RHIZOSFER


-

Interaksi antar mikrobia diantaranya terjadi pada proses pengurairan bahan organik
antara bakteri, actinomycetes, dan fungi

Fungi merupakan aktor utama pada proses dekomposisi bahan organik yang padat
dan rekalsitran. Bakteri melanjutkan mendegradasi bahan organik yang sudah dalam
bentuk lebih sederhana dan mudah larut yang sudah diinisiasi oleh fungi menjadi

unsur-unsur hara yang siap diserap oleh tanaman.


Actinomycetes mempunyai spesialisasi mendegradasikan polimer padat seperti

selulosa menjadi senyawa sederhana misalnya gula.


Yeast dan fungi akan secara cepat mendegradasikan bahan organik ketika terdaat

penambahan suplai gula ke dalam lingkungannya.


Beberapa fungi mampu scr khusus mendegradasi selulosa, hemiselulosa, dan lignin
dengan cara menghasilkan enzim ekstraseluler yang dibantu oleh senyawa

monomer dan oligomer yang disekresikan oleh enzim hidrolitik ekstraseluler akar.
DEKOMPOSISI BAHAN ORGANIK TIDAK DAPAT DILAKUKAN SECARA
SEMPURNA OLEH SUATU JENIS MIKROBIA TETAPI HARUS DILAKUKAN OLEH

KONSORSIUM BEBERAPA KELOMPOK MIKROBIA SECARA SINERGIS.


Peranan utama protozoa dan nematoda di rhizosfer adalah untuk mengendalikan
populasi bakteri (bakteriovor) [grazing] konsumen utama.
INTERAKSI MIKROFLORA, MAKROFAUNA, DAN TANAMAN

Eksudat tanaman memacu pertumbuhan bakteri, protozoa akan terpacu populasinya


dengan pertumbuhan populasi bakteri, protozoa yang jumlah populasinya meningkat
akan meningkatkan laju dekomposisi bahan organik akibatnya nutrisi menjadi lebih

tersedia dan akan memacu pertumbuhan tanaman.


Amoeba di rhizosfer memberikan dampak memacu pertumbuhan akar tanaman ->

meningkatkan populasi bakteri penghasil auksin (salah satunya, Bacilllus sp.).


Mikorhiza yang terbentuk pada ekosistem pertanian hifa fungi dapat mencapai
panjang 400 m/gr tanah, sedangkan pada ekosistem hutan dapat mencapai panjang

2000 m/gr tanah.


Collembola merupakan pemakan fungi, sehingga akan memutuskan jaringan hifa
mikoriza dari akar.

FMA menyimpan fosfat dalam bentuk orthofosfat, polifosfat, dan fosfat organik di

vakuolanya dan mentransfernya ke akar tanaman inang.


3 mikrobia utama yang menguntungkan : (1). Bakteri saprofitik rhizosfer yang
mengkoloni akar, (2). Mikrosimbion arbuskular mikorhiza, (3). Bakteri mikrosimbion

N2-fixing
Yang bertanggung jawab pada terbentuknya mikorizha adalah Ordo Glomales,

Zygomicota, atau fungi anggota filum Glomeromicota.


FMA juga dapat meningkatkan kesehatan tanaman dengan meningkatkan proteksi

terhadap stress biotik dan abiotik.


Bakteri yang bersimbiosis dengan Legume antara lain ; Rhizobium, SinoRhizobium,
BradyRhizobium, MesoRhizobium, dan AzoRhizobium = Rhizobium.

Ektomikorhiza biasanya terjadi di tanaman berkayu perennial


Pada ektomikorhiza tidak ada penetrasi hifa ke dalam sel. Terbentuk lapisan jaringan

Hartig (Hartigs Net)


Arbuskular mikorhiza merupakan simbiosis yang paling umum terjadi pada tumbuhan

terestrial karena dapat terbentuk baik itu pada tumbuhan herba maupun berkayu
Pada arbuskular mikorhiza tidak terbentuk sarung fungal. Hifa aseptat memasuki sel

korteks akar dan membentuk serabut seperti pohon bercabang-cabang.


Ericoid mikorhiza merupakan endomikorhiza seperti pada umumnya.

Arbutoid mikorhiza memiliki karakter seperti pada ekto dan endomikorhiza. Penetrasi
intersuler sel koreks dan pembentukan sarung fungal terjadi, dan terdapat jaringan

Hartig. Mayoritas fungi yang membentuk jenis mikorhiza ini adalah Basidiomicota.
Monotropois mikorhiza ditemui pada tumbuhan yang masuk famili Monotropaceae.
Karakternya mirip dengan ektomikorhiza, namun terdapat penetrasi interseluler pada

sel korteksnya namun tidak seperti milik endomikorhiza disebut dengan fungal peg.
Ektendomikorhiza hanya terbentuk pada anggota famili Pinaceae. Membtnuk
jaringan Hartig di korteks akar, namun hanya membentuk sedikit atau tidak sama
sekali sarung fungal. Penetrasi interselulernya mirip pada arbutoid. Dibentuk oleh
fungi yang disebut E-strain, merupakan tahap tidak sempurna dari ascomicota.