Anda di halaman 1dari 2

Subsidi ekspor

Subsidi ekspor adalah pembayaran langsung atau pemberian keringanan pajak


dan bantuan subsidi kepada para eksportir atau calon eksportirnasional, dan /
atau pemberian pinjaman berbunga rendah kepada para pengimpor asing dalam
rangka memacu ekspor suatu Negara ( ini juga disebut subsidi kredit
ekspor).Berdasarkan karakternya yang melenceng dari asas persaingan bebas
iti, subsidi ekspor juga bisa dikategorikan sebaai salah satu bentuk dumping.
Meskipun subsidi ekspor itu merupaka suatu hal illegal menurut perjanjian
internasional , sampai sekarang masih banyak Negara yang melakukannya baik
secara terang-terangan maupun secara terselubung.
Sebagai buktinya, semua Negara industri maju terkemuka menyediakan
pinjaman berbunga rendah kepada para pengimpor dari Negara-negara lain
dalam rangka membiayai pembelian produk-produk industriyang mereka
lakukan.
Subsidi ekspor dapat dianalisis secara grafis , seperti pada gambar berikut,

Gambar di atas disaajikan bahwa, Dx dan Sx masing-masing adalah kurva


permintaan dan kurva penawaran Negara 2 untuk komoditi X. Dalam kondisi
perdagangan bebas harga yang berlaku adalah Px = 3,50 dolar. Dalam kondisi
tersebut, Negara 2 yang merupakan sebuah Negara kecil akan memproduksi
komoditi X sebanyak 35 unit (AC), sebagian diantaranya yang sebanyak 20 unit
akan dikonsumsi sendiri (AB), sedangkan 15 unit sisanya diekspor (BC).
Namun setelah pemerintah Negara 2 memberikan subsidi ekspor sebesar 0.50
dolar untuk setiap komoditi X yang diekspor, maka Px meningkat menjadi 4,00
dolar per unit bagi para produsen dan konsumen domestik. Sementara itu harga
yang dihadapi oleh produsen dan konsumen di luar negeri tidak berubah.
Berdasarkan tingkat harga baru Px = 4 dolar tersebut para produsen di Negara 2

akan meningkatkan produksi komoditi X hingga 40 unit (G J). Sementra itu, para
konsumen yang menghadapi harga yang lebih mahal akan menurunkan
konsumsinya menjadi 10 unit (GH), sehingga jumlah komoditi X yang diekspor
juga meningkat menjadi 30 unit (HJ). Kondisi ini mengakibatkan kerugian bagi
konsumen domestic sebesar 7,50 dolar (luas bidang a+b), sedangkan para
produsen aknan memperoleh keuntungantambahan sebesar 18,75 dolar (yakni
seluas bidang a+b+c). Disamping itu, pemerintah yang memberikan subsidi
akan memikul kerugian sebesar 15 dolar (B+C+D). Secara keseluruhan
kerugian yang dialami perekonomian Negara 2 mencapai 3,75 dolar yang setar
dengan penjumlahan luas bidang segitiga BHN = b = 2,50 dolar dan CJM =
d = 1,25 dolar.
Dari kajian ini muncul pertanyaan mengapa Negara 2 memberi subsidi ekspor,
sementara keuntungan yangyang dinikmati oleh para produsen domestik lebih
kecil daripada total kerugian yang dialami oleh konsumen domestic serta
kenaikan beban para pembayar pajak di Negara 2. Jawabannya ternyata bersifat
politik. Meskipun pemberian ekspor itu jelas-jelas merugikan perekonomian
Negara 2 secara keseluruhan, pemerintah Negara tersebut tetap saja
memberikan subsidi ekspor karena kuatnya lobby yang dilakukan oleh para
produsen, apalagi jika mereka menghimpun diri menjadi satu kekuatan politik
yang efektif.