Anda di halaman 1dari 18

Laboratorium Mekanika Tanah

Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik


Universitas Indonesia
NAMA PRAKTIKUM

KELOMPOK

: Evi Oktafiana

1406642870

Oby Robini

1406642993

Muwattha Malik

1406642920

: P12

TANGGAL PRAKTIKUM :
JUDUL PRAKTIKUM

: Permeabilitas

ASISTEN

: Azzah Balqis Sabbah

PARAF DAN NILAI

I. PENDAHULUAN
A. Standart Acuan & Referensi
-

ASTM D 2434 "Standard Test Method for Permeability of Granular Soils


(Constant Head)"

AASHTO T 215 "Standard Method of Test for Permeability of Granular


Soil (Constant Head)"

B. Maksud dan Tujuan Percobaan


Mencari nilai permeabilitas k dari suatu sampel tanah.
C. Alat-alat dan Bahan
a. Alat

Mould permeability

Gelas ukur

Penggaris

Jangka sorong

Stopwatch

Timbangan dengan ketelitian 0.1 gram

Alat Constant Head Test

Tamper

b. Bahan

Tanah lolos saringan No. 4 ASTM sebanyak 2 kg

Permeability

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Pasir

Air

Gambar 7.1 Peralatan praktikum permeability: a) Alat constant head test ; b) penggaris; c) Mould
Permeability; d) Jangka Sorong; e) Tamper; f) Gelas ukur

D. Teori dan Rumus yang Digunakan


Debit air yang mengalir q melalui tanah pada suatu cross-section area A
adalah proporsional terhadap gradien i yaitu :

(7.1)

Koefisien k disebut sebagai koefisien permeabilitas Darcy atau koefisien


permeabilitas atau permeabilitas tanah. Sehingga dengan begitu,
permeabilitas adalah properti tanah yang menunjukkan kemampuan tanah
untuk meloloskan air melalui partikel-partikelnya. Permeabilitas dapat
2

Permeability

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan
seepage (rembesan) di bawah bendungan, disipasi air akibat pembebanan
tanah, dan drainase dari lapisan subgrade, bendungan, atau timbunan. Selain
itu tegangan efektif yang diperlukan dalam perhitungan masalah-masalah di
atas juga secara tidak langsung berkaitan dengan permeabilitas. Permeabilitas
tergantung oleh beberapa faktor. Yang utama adalah sebagai berikut :
1. Ukuran butiran. Secara proporsional, ukuran pori berhubungan dengan
ukuran partikel tanah.
2. Properti aliran pori. Untuk air adalah viskositasnya, yang akan berubah
akibat dipengaruhi perubahan temperatur.
3. Void ratio
4. Bentuk dan susunan pori-pori tanah
5. Derajat saturasi. Kenaikan derajat saturasi pada tanah akan menyebabkan
kenaikan nilai permeabilitas.
Setidaknya ada empat metode di laboratorium untuk mencari nilai
permeabilitas tanah, yaitu metode Capillarity Head Test, korelasi data
konsolidasi untuk menghitung permeabilitas, Variable Head Test, dan
Constant Head Test. Constant Head umumnya lebih sering digunakan pada
tanah cohesionless daripada Variable Head karena instrumen yang lebih
sederhana.

Metode Constant Head Test


Metode ini hanya digunakan pada tanah dengan permeabilitas tinggi. Oleh
karena itu, pada percobaan yang akan dilakukan perlu ditambahkan pasir
untuk memodifikasi permeabilitas tanah lempung yang sangat kecil. Prinsip
pada percobaan ini dapat dilihat pada gambar.

Permeability

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Gambar 7.2 Susunan alat Constant Head Permeability Test

Penentuan nilai k dilakukan dengan cara mengukur penurunan tinggi muka air selama
periode waktu tertentu dan pada saat ini tegangan air menjadi tidak tetap sehingga
rumus Darcy dapat digunakan. Misalnya pada ketinggian air (h), penurunan (dh) akan
membutuhkan waktu (dt), maka koefisien permeabilitas dapat diturunkan dari rumus
Darcy sehingga menjadi:

(7.2)
4

Permeability

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
dengan:
k = koefisien permeability
A = luas sample tanah
t = selang waktu
L = tinggi sampel tanah
Apabila air yang melalui sampel tanah sedikit seperti pada sampel tanah lempung
murni dimana nilai k sangat kecil, maka metode ini tidak efektif lagi digunakan untuk
mengukur nilai k. Sehingga akan lebih baik menggunakan cara yang kedua, yaitu
metode Variable Head.

Metode Variable Head Test

Gambar 7.3 Susunan alat Variable Head Permeability Test

Permeability

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
Jumlah air yang mengalir pada standpipe dalam waktu tertentu adalah:

Dengan :
a

= luas cross-sectionstandpipe

dh/dt

= penurunan muka air

sedangkan jumlah air yang merembes melalui tanah dalam waktu tertentu pada
permeameter adalah:

Lalu dengan menyamakan jumlah air yang masuk = jumlah air yang keluar

(7.3)
Dengan:
a= luas cross-section standpipe
L= panjang sampel didalam permeameter
A= luas cross-section permeameter
t = jumlah waktu pada waktu pengukuran
h0, h1= tinggi head (lihat gambar 7.2)
Koefisien permeabilitas pada suhu kamar (TC) adalah KT sedangkan untuk suhu
standar (20C) perlu dikonversi menjadi:

Permeability

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
K20 = KT( T / 20 )

(7.4)

dimana:
T = viskositas cairan pada temperatur TC.
20 = viskositas cairan pada temperatur 20C.
Perbandingan viskositas dapat dilihat pada gambar 7.3 dibawah ini (tabel koreksi
viskositas cairan).

Temperatur C
Gambar 7.4 Grafik T /20 (data International Critical Tables, Vol. V)

Permeability

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
Menurut Tabel Koefisien Permeabilitas BS 8004: 1986, nilai-nilai permeabilitas
untuk berbagai jenis tanah pada suhu standar (20C) adalah sebagai berikut:
Tabel 7.1 Koefisien permeabilitas (m/s) (BS 8004: 1986)

Menurut Cassagrande pada tahun 1938, nilai-nilai permeability untuk berbagai jenis
tanah pada suhu standar (20C) adalah sebagai berikut:
Tabel 7.2 Koefisien permeabilitas menurut Cassagrande

Menurut Wesley pada suhu standar (20C):


Tabel 7.3 Koefisien permeabilitas menurut Wesley

I.

PRAKTIKUM
A. Persiapan Praktikum
1. Siapkan tanah kering yang lolos saringan No. 4 ASTM sebanyak 2 kg,
dan pasir sebanyak 2 kg.
2. Siapkan mould permeability, kemudian catat data diameter, tinggi, serta
berat mould.
8

Permeability

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
3. Campur tanah dengan pasir dengan perbandingan tertentu (tanah:pasir =
1:1 / 2:1 / 1:2 / 1:3) sehingga terdapat 4 sampel campuran tanah dan pasir,
kemudian aduk sampai rata.
4. Kemudian masukkan campuran tanah dan pasir untuk setiap masingmasing perbandingan tersebut ke dalam mould hingga padat dan
perhatikan filter pada bagian atas dan dasar mould agar harus selalu
terpasang.
5. Tutup mould dan letakkan pada alat permeability.

B. Jalannya Praktikum
1. Percobaan yang dilakukan adalah Constant Head Test, pertama-tama
alirkan air melalui selang, naik ke reservoir di atas kemudian masuk ke
mould permeability hingga seluruh tanah di dalam mould jenuh sempurna.
2. Keluarkan udara yang berada pada alat permeability hingga benar-benar
tidak ada lagi udara yang tersisa di dalam. Hal ini dapat dilakukan dengan
cara membuka sedikit baut untuk mengeluarkan gelembung udara.
3. Usahakan untuk menstabilkan tinggi air yang berada di reservoir dan jaga
agar tidak terjadi gelombang.
4. Mengukur tinggi muka air dan reservoir ke mould (h).
5. Perhatikan air yang keluar dari mould hingga tidak terjadi perubahan
(konstan).
6. Setelah konstan, tampung air limpahan tersebut ke dalam gelas ukur
sambil dicatat waktu menggunakan stopwatch.

II.

PENGOLAHAN DATA
A. Data Hasil Praktikum
Sampel 1 :
Volume air tertampung (V)

= 18 ml = 0,000018 m3 (dalam 60 detik)

Diameter Mold (D)

= 76,017 mm = 0,076 m

Wtanah

= 750 gr

Permeability

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
Wpasir

= 750 gr

Tinggi sampel (L) = 22,5 cm= 0,225 m


Luas (A) = D x L = 0,076 m x 0,225 m = 0,0171 m2
Tinggi constant head (h)

= 108 cm = 1,08 m

Sampel 2 :
Volume air tertampung (V)

= 34,33 ml = 0,00003433 m3 (dalam 60 detik)

Diameter Mold (D)

= 75,87 mm = 0,07587 m

Wtanah

= 1000 gr

Wpasir

= 500 gr

Tinggi sampel (L)

= 22,5 cm = 0,225 m

Luas (A)

= D x L = 0,07587 m x 0,225 m = 0,0171 m2

Tinggi constant head (h)

= 107 cm = 1,07 m

Sampel 3 :
Volume air tertampung (V)

= 72,33 ml = 0,00007233 m3 (dalam 60 detik)

Diameter Mold (D)

= 75,78 mm = 0,07578 m

Wtanah

= 500 gr

Wpasir

= 1000 gr

Tinggi sampel (L)

= 22 cm = 0,22 m

Luas (A)

= D x L = 0,07578 m x 0,22 m = 0,0167 m2

Tinggi constant head (h)

= 107,5 cm = 1,075 m

Sampel 4 :
Volume air tertampung (V)

= 53 ml = 0,000053 m3 (dalam 60 detik)

Diameter Mold (D)

= 75,59 mm = 0,07559 m

Wtanah

= 300 gr

Wpasir

= 900 gr

Tinggi sampel (L)

= 22,5 cm = 0,225 m

Luas (A)

= D x L = 0,07559 m x 0,225 m = 0,017 m2

10

Permeability

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
Tinggi constant head (h)

= 106 cm = 1,06 m

B. Perhitungan
Sampel 1
Koefisien Permeabilitas pada suhu kamar ( 29oC )
K30

= ( V. L ) / ( A . h . t2 )

K30

= ( 0,000018 x 0,225 ) / (0,0171 x 1,08 x 602)


= 6,092 x 10-8 m/s

sehingga untuk suhu standar (20oC)


K20 = K29 (29 / 20) ; 29 / 20 = 0,8145
K20 = 6,092 x 10-8 (0,8145)
= 4,962 x 10-8 m/s
Keterangan:
V = volume air yang tertampung
L = tinggi sampel
A = luas sampel
h = tinggi konstan
t = waktu

Sampel 2
Koefisien Permeabilitas pada suhu kamar ( 30oC )
K30

= ( V. L ) / ( A . h . t2 )

K30

= ( 0,00003433 x 0,225 ) / (0,0171 x 1,07 x 602)


= 1,173x 10-7 m/s

sehingga untuk suhu standar (20oC)


K20 = K30 (30 / 20) ; 30 / 20 = 0,7964
K20 = 1,173x 10-7 (0,7964)
= 9,342 x 10-8 m/s

11

Permeability

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
Sampel 3
Koefisien Permeabilitas pada suhu kamar ( 30oC )
K30

= ( V. L ) / ( A . h . t2 )

K30

= ( 0,00007233 x 0,22 ) / (0,0167 x 1,075 x 602)


= 2,462 x 10-7 m/s

sehingga untuk suhu standar (20oC)


K20 = K30 (30 / 20) ; 30 / 20 = 0,7964
K20 = 2,462 x 10-7 (0,7964)
= 1,961 x 10-7m/s

Sampel 4
Koefisien Permeabilitas pada suhu kamar ( 30oC )
K30

= ( V. L ) / ( A . h . t2 )

K30

= ( 0,000053 x 0,225 ) / (0,017 x 1,06 x 602)


= 1,838 x 10-7 m/s

sehingga untuk suhu standar (20oC)


K20 = K30 (30 / 20) ; 30 / 20 = 0,7964
K20 = 1,838 x 10-7 (0,7964)
= 1,464 x 10-7 m/s
Nilai-nilai k yang didapat kemudian dirangkum pada sebuah tabel di bawah
ini:
Tabel 4. Hasil

K20 (m/s)
K29 (m/s)

6,092 x 10-8

4,962 x 10-8

K30 (m/s)

1,173x 10-7

9,342 x 10-8

K30 (m/s)

2,462 x 10-7

1,961 x 10-7

K30 (m/s)

1,838 x 10-7

1,464 x 10-7

12

Permeability

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
III.

ANALISA
A. Analisa Percobaan
Praktikum

Permeability

ini

bertujuan

untuk

mencari

nilai

permeabilitas k dari suatu sampel tanah. Maksud dari permeabilitas untuk


menentukan kemampuan tanah dilewati air melalui pori-porinya dan hal ini
penting dalam konstruksi bendung tanah urugan dan persoalan drainase.
Persiapan yang dilakukan pada percobaan ini adalah menyiapkan tanah dan
pasir yang lolos saringan nomor 4 dengan perbandingan sebagai berikut:
Tabel 5. Tabel Perbandingan Tanah dan Pasir Sampel

Tanah

Pasir

(gram)

(gram)

1:1

750

750

2:1

1000

500

1:2

500

1000

1:3

300

900

Perbandingan

Setelah mendapatkan jumlah yang diinginkan, pasir dan tanah tersebut


kemudian dicampur hingga terdistribusi secara merata. Jika pembagian butir
pasir dan tanah telah merata, setelah itu dilakukan pengukuran terhadap
mould. Pengukuran ini meliputi pengukuran terhadap diameter dan tinggi dari
mould yang digunakan. Pengukuran diameter mould dilakukan sebanyak 3
kali dengan menggunakan jangka sorong agar hasil pengukuran lebih tepat.
Setelah hal ini selesai dilakukan, maka campuran pasir dan tanah tadi
kemudian dimasukkan ke dalam mould. Cara memasukkan tanah ke dalam
mould yaitu dengan bertahap 3 lapisan 1/3, 2/3 dan penuh. Setiap lapisan
dipadatkan sehingga tidak ada rongga udara di dalam tanah. Hal yang perlu
diperhatikan adalah filter mould harus berada di sisi atas dan bawah dari
mould agar butiran pasir dan tanah tidak keluar dari mould. mould kemudian
ditutup dipasang pada alat alat permeability.

13

Permeability

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
Percobaan permeability ini menggunakan metode Constant Head Test
karena waktu yang dibutuhkan untuk melakukan metode ini lebih pendek. Hal
pertama yang dilakukan dari percobaan ini yaitu mengalirkan air kran melalui
selang hingga naik ke reservoir kemudian masuk ke mould permeability
melalui selang yang lain hingga seluruh tanah jenuh sempurna / terisi dengan
air. Udara yang terperangkap dalam alat dikeluarkan dengan cara membuka
bolt sehingga tidak ada gelembung udara lagi di dalamnya.
Kemudian dilanjutkan dengan mengamati reservoir untuk melihat kestabilan
air di dalamnya. Stabil yang dimaksud yaitu di saat air sudah rata dan tidak
bergelombang dalam reservoir. Dilanjutkan dengan mengukur tinggi muka air
dan mould. Air akan mengalir keluar dari alat permeability dan ditampung
dalam gelas ukur. Setiap 60 detik dicatat nilai dari gelas ukur. Waktu 60 detik
ini ditentukan hanya untuk mengetahui kekonstanan volume dengan waktu
yang terjadi.

B. Analisa Data dan Hasil


Hasil perhitungan terhadap nilai permeabilitas dari sampel tanah yang
digunakan menggunakan suhu ruangan yaitu 29C atau

dan 30 C atau

perlu dikonversi menjadi koefisien permeabilitas dengan suhu standar


20C atau

dengan grafik perbandingan viskositas cairan. Nilai koefisien

permabilitas yang didapat ternyata menghasilkan kesimpulan jenis tanah


yang berbeda-beda bila dibandingkan dengan nilai koefisien permeabilitas
tanah berdasarkan BS 8004:1986. Perbandingan nilai koefisien tanah
berdasarkan BS 8004:1986 adalah menggungakan rentangan nilai. Melalui
rentang nilai tersebut, sampel tanah yang berkoefisien sebagai berikut:
Tabel 6. Hasil penggolongan berdasarkan BS 8004:1986

No. Sampel

K20 (m/s)

4,962 x 10-8

9,342 x 10-8

Golongan
Lempung tak bercelah dan lempung
lanau (>20% lanau).
Lempung tak bercelah dan lempung

14

Permeability

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
lanau (>20% lanau).
Pasir sangat halus, lanau dan lempung
1,961 x 10-7

lanau berlapis-lapis; lempung yang


mengalami pengawetan dan bercelah.
Pasir sangat halus, lanau dan lempung

1,464 x 10

-7

lanau

berlapis-lapis;

lempung

yang

mengalami pengawetan dan bercelah.

Begitu juga bila dibandingkan dengan nilai permeabilitas yang ditetapkan


melalui penelitian Cassagrande. Sampel taanah yang digunaka
-9

dalam

-5

percobaan masuk ke dalam rentang nilai 1 x 10 1 x 10 . Melalui rentang


nilai tersebut maka dapat disimpulkan bahwa berdasarkan nilai permeabilitas
dari penelitian Cassagrande, tanah yang digunakan tergolong dalam jenis
tanah yang terdiri atas pasir halus, lanau organik, campuran pasir, lanau, clay
seperti yang terlihat pada tabel dibawah ini:
Koefisien Permeabilitas menurut Cassagrande

Sedangkan bila dibandingkan dengan nilai koefisien permeabilitas menurut


Wesley, maka sampel tanah praktikan tergolong jenis tanah dengan pasir
halus.
Tabel 7. Hasil penggolongan berdasarkan Wesley

No. Sampel

K20 (m/s)

Golongan

4,962 x 10-8

Lempung

9,342 x 10

-8

Lempung

1,961 x 10-7

Lanau

1,464 x 10-7

Lanau

15

Permeability

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
Koefisien Permeabilitas menurut Wesley

C. Analisa Kesalahan
Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kesalahan dalam praktikum
permeability yaitu:
1. Pencampuran tanah dan pasir yang tidak merata.
2. Kurang tanggapnya praktikan saat mengambil jumlah air pada selang
waktu 60 detik sehingga terdapat kelebihan atau kekurangan jumlah air.
3. Tanah yang kurang padat ketika di masukkan ke dalam mold, sehingga
mengakibatkan lamanya mencapai saat aliran yang mengalir stabil.
4. Tidak diukurnya suhu ruangan secara langsung pada saat pelaksanaan
percobaan, akan tetapi menggunakan temperatur dari percobaan specific
gravity.
5. Pengukuran tinggi air kurang tepat karena pengaruh dari permukaan air
yang bergelombang.

IV.

KESIMPULAN
Tanah yang dijadikan sampel yang berjumlah 4 sampel dengan komposisi
perbandingan yang berbeda-beda berdasarkan perhitungan didapatkan nilai k yang
dibandingkan berdasarkan Tabel Koefisien Permeabilitas BS 8004:1986,
tergolong dalam lempung tak bercelah dan lempung lanau (>20% lanau) untuk
sampel 1 dan 2, (dengan nilai k = 10-8) dan Pasir sangat halus, lanau dan lempung
lanau berlapis-lapis; lempung yang mengalami pengawetan dan bercelah. (dengan
nilai k = 10-7).

16

Permeability

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
Berdasarkan tabel koefisien dari Cassagrande maka jenis tanah yang dijadikan
sampel adalah jenis tanah yang terdiri dari pasir halus, lanau organik, campuran
pasir, lanau, clay (dengan nilai k = 10-9 10-5). Berdasarkan penelitian dari
Wesley maka jenis tanah yang dijadikan sampel memiliki jenis tanah yang
tergolong tanah lempung untuk sampel 1 dan 2 (dengan nilai k sebesar 1 x 10-11
5 x 10-8) sedangkan untuk sampel 3 dan 4 tergolong tanah lanau (dengan nilai k
sebesar 1 x 10-7 5 x 10-6).

V.

LAMPIRAN

17

Permeability

Laboratorium Mekanika Tanah


Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
Lampiran

Foto 1. Proses penimbangan dan pencampuran sampel tanah dan pasir

Foto 2. Proses pengukuran diameter mould.

Foto 3. Proses penuangan sampel kedalam mould lapis per lapis

Foto 4. Proses penumbukan tiap lapisan.

Foto 5. Proses pengukuran tinggi muka air dan reservoir ke mould.

18

Permeability

Anda mungkin juga menyukai