Anda di halaman 1dari 7

PARTAI POLITIK SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN POLITIK

MASYARAKAT MENUJU DEMOKRASI

Partai politik (parpol) sekarang sudah dianggap gagal dalam memberikan


pendidikan politik nilai dan membumikan demokrasi substansial. Pendidikan
politik yang diberikan justru kian meneguhkan anggapan bahwa politik itu kotor
dengan manuver dan affair politik yang selama ini dilakukan politisi partai.
Pendidikan politik oleh parpol akhirnya tak lebih dari pembodohan masyarakat
yang mengatasnamakan rakyat, bangsa, negara, demokrasi untuk melegitimasi
langkah politis mereka dalam meraih kekuasaan pemerintahan
Di Indonesia fungsi-fungsi parpol diatur dalam Undang-Undang (UU)
Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik. Secara gamblang UU itu
mengatakan, parpol memiliki fungsi sebagai sarana pendidikan politik bagi
masyarakat; perekat persatuan dan kesatuan bangsa; penyerap, penghimpun, dan
penyalur aspirasi masyarakat; partisipasi politik warga negara; dan rekrutmen
politik dalam proses pengisian jabatan publik.
Sudah menjadi rahasia umum, kehadiran parpol benar-benar terasa hanya
pada saat-saat mendekati pemilu. Pada masa-masa itu parpol menjadi begitu
populer di kalangan masyarakat sehingga mereka tampil seolah-olah ingin
menjadi juru selamat bagi masyarakat yang tertindas. Begitu pemilu selesai, bulan
madu parpol-rakyat pun usai. Parpol menarik diri, lalu sibuk menyuarakan
kepentingan intern partai atau kelompok elite partai. Partai tiba-tiba menjadi asing
lantaran aktivitas dan isu-isu politiknya tidak menyentuh kepentingan masyarakat.
Partai menjadi lupa akan fungsi yang sebenarnya, fungsi pendidikan politik
parpol belum menunjukkan hasil yang signifikan bagi peningkatan kesadaran
politik masyarakat. Justru partai politik menuai kritik. Karena parpol cenderung
mengutamakan kepentingan kekuasaan atau kepentingan para elit parpol
ketimbang kepentingan untuk memajukan masyarakat, bangsa dan negara.
Ironisnya, pendidikan politik yang kerap dikumandang para elit parpol hanya
sebuah slogan tak bermakna. Kondisi ini menuntut setiap partai politik untuk
mengoreksi sejauhmana orientasi dan implementasi visi dan misi parpol secara
konsisten dan terus-menerus.
Hal inilah yang menarik penulis untuk mengkaji masalah peran parpol
dalam pendidikan politik masyarakat, sehingga platform partai politik harus jelas
menyentuh masyarakat, sehingga masyarakat memiliki pengetahuan yang
menyeluruh tentang kehidupan politik yang sehat dan demokratis.
Seyogianya kiprah partai politik di Indonesia bisa menampilkan diri sebagai
agen pencerahan. Sebab partai politik mengemban peran dan fungsinya yang
kalau saja dijalankan secara konsisten akan membawa perubahan pada
peningkatan kesadaran politik masyarakat. Tetapi pada kenyataan partai politik
hanya mementingkan dirinya sendiri dalam arti bahwa partai politik hanya
memberikan pendidikan politik untuk mereka yang menjadi generasi partainya
saja, tanpa memperdulikan fungsi yang sebenarnya, yaitu memberikan pencerahan
politik terhadap masyarakat.
Yang jadi masalah pada bahasan ini adalah :
1. Mengapa partai politik seharusnya memberikan pendidikan politik yang baik
kepada masyarakat ?
2. Bagaimana bentuk-bentuk kegiatan partai politik dalam memberikan
pendidikan politiknya terhadap masyarakat ?
3. Apa peranan pendidikan politik guna menunjang terwujudnya demokrasi

A. Partai Politik
Partai politik adalah suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-
anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama, tujuannya
adalah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik
dengan cara konstitusional untuk melkasanakan kebijasanaan-kebijaksanaan
mereka.
Dari pengertian diatas bahwa partai politik itu memiliki orientasi untuk
memperoleh kekuasaan, tetapi partai politik juga harus mempertimbangkan dan
memperhatikan konstituen partai yang notabene adalah landasan besar bagi suatu
parpol. Untuk itu partai harus secara kontinyu melaksanakan fungsi-fungsinya
dalam mengabdikan dirinya pada masyarakat.
Miriam Budiardjo (2004 : 163 – 164) menyebutkan ada 4 fungsi partai politik
dalam negara yang demokratis, yaitu :
1. Partai politik sebagai sarana komunikasi politik
Untuk melihat seberapa jauh peran partai politik sebagai wadah penyalur
aspirasi politik rakyat, sekali lagi harus dilihat dalam konteks prospektif
sejarah perkembangan bangsa Indonesia itu sendiri. Pada awal kemerdekaan,
partai politik belum berperan secara optimal sebagai wadah untuk
menyalurkan aspirasi politik rakyat. Hal ini terlihat dari timbulnya berbagai
gejolak dan ketidak puasan di sekelompok masyarakat yang merasa
aspirasinya tidak terwadahi dalam bentuk gerakan-gerakan separatis seperti
proklamasi Negara Islam oleh Kartosuwiryo tahun 1949, terbentuknya negara
negara boneka yang bernuansa kedaerahan. Negara-negara boneka ini sengaja
diciptakan oleh Belanda untuk memecah belah persatuan dan kesatuan.
Namun kenapa hal itu terjadi dan ditangkap oleh sebagian rakyat pada waktu
itu ? Jawabannya adalah bahwa aspirasi rakyat berbelok arah mengikuti
aspirasi penjajah, karena tersumbatnya saluran aspirasi yang disebabkan
kapasitas sistem politik
2. Partai politik sebagai sarana sosialisasi atau pendidikan politik
Budaya politik merupakan produk dari proses pendidikan atau sosialisasi
politik dalam sebuah masyarakat. Dengan sosialisasi politik, individu dalam
negara akan menerima norma, sistem keyakinan, dan nilai-nilai dari generasi
sebelumnya, yang dilakukan melalui berbagai tahap, dan dilakukan oleh
bermacam-macam agen, seperti keluarga, saudara, teman bermain, sekolah
(mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi), lingkungan
pekerjaan, dan tentu saja media massa, seperti radio, TV, surat kabar, majalah,
dan juga internet. Proses sosialisasi atau pendidikan politik Indonesia tidak
memberikan ruang yang cukup untuk memunculkan masyarakat madani (civil
society). Yaitu suatu masyarakat yang mandiri, yang mampu mengisi ruang
publik sehingga mampu membatasi kekuasaan negara yang berlebihan.
Masyarakat madani merupakan gambaran tingkat partisipasi politik pada
takaran yang maksimal.
3. Partai politik sebagai sarana rekruitmen politik
Peran partai politik sebagai sarana rekruitmen politik dalam rangka
meningkatkan partisipasi politik masyarakat, adalah bagaimana partai politik
memiliki andil yang cukup besar dalam hal: (1) Menyiapkan kader-kader
pimpinan politik; (2) Selanjutnya melakukan seleksi terhadap kader-kader
yang dipersiapkan; serta (3) Perjuangan untuk penempatan kader yang
berkualitas, berdedikasi, memiliki kredibilitas yang tinggi, serta mendapat
dukungan dari masyarakat pada jabatan jabatan politik yang bersifat strategis.
Makin besar andil partai politik dalam memperjuangkan dan berhasil
memanfaatkan posisi tawarnya untuk memenangkan perjuangan dalam ketiga
hal tersebut; merupakan indikasi bahwa peran partai politik sebagai sarana
rekrutmen politik berjalan secara efektif.
4. Partai politik sebagai sarana pengatur konflik
Secara umum kita sering beranggapan bahwa konflik mengandung benih
dan didasarkan pada pertentangan yang bersifat kasar dan keras. Namun
sesungguhnya, dasar dari konflik adalah berbeda-beda, yang secara sederhana
dapat dikenali tiga elemen dasar yang merupakan ciri-ciri dari situasi konflik
yaitu: (1) Terdapatnya dua atau lebih unit-unit atau bagian-bagian yang
terlibat dalam suatu konflik; (2) Unit-unit tersebut, mempunyai perbedaan-
perbedaan yang tajam dalam kebutuhan-kebutuhan, tujuan-tujuan, masalah-
masalah, nilai-nilai, sikap-sikap, maupun gagasan-gagasan; dan (3) Terjadi
atau terdapat interaksi antara unit-unit atau bagian-bagian yang terlibat dalam
sebuah konflik.

Dalam menjalankan peran sebagai pengatur konflik ini, partai-partai politik


harus benar-benar mengakar dihati rakyat, peka terhadap bisikan hati nurani
masyarakat serta peka terhadap tuntutan kebutuhan rakyat.
2. Pendidikan Politik
Istilah pendidikan politik dalam bahasa Inggris sering disamakan dengan
istilah political sosialization . Istilah political sosialization jika diartikan secara
harfiah ke dalam bahasa Indonesia akan bermakna sosialisasi politik. Oleh karena
itu dengan mengunakan istilah political sosialization banyak yang mensinonimkan
istilah pendidikan politik dengan istilah Sosialisasi Politik, karena keduanya
memiliki makna yang hampir sama. Dengan kata lain, sosialisasi politik adalah
pendidikan politik dalam arti sempit.
Mochtar Buchori (M. Shirozi, 2005: 30) mengemukakan bahwa terdapat
beberapa pemikiran yang mendukung mulai berkembangnya kesadaran
masyarakat terhadap hubungan antara pendidikan dan politik yaitu Pertama,
adanya kesadaran tentang hubungan yang erat antara pendidikan dan politik.
Kedua, adanya kesadaran akan peran penting pendidikan dalam menentukan corak
dan arah kehidupan politik. Ketiga, adanya kesadaran akan pentingnya
pemahaman tentang hubungan antara pendidikan dan politik. Keempat, diperlukan
pemahaman yang lebih luas tentang politik. Kelima, pentingnya pendidikan
kewarganegaraan (civic education).
Penjelasan Mochtar Buchori di atas, menggambarkan suatu keyakinan
terhadap hubungan erat antara pendidikan dan politik. Terdapat keyakinan yang
sangat kuat bahwa melalui pendidikan dapat menghasilkan pemimpin politik yang
berkualitas.
Paparan penjelasan di atas, pada akhirnya dapat menimbulkan satu pertanyaan
mengenai hubungan pendidikan dengan politik. Akankah politik harus memasuki
wilayah pendidikan untuk menjalankan fungsi dan tujuannya dan juga sebaliknya?
Melalui pendidikan seorang siswa akan paham secara tidak langsung mengenai
seluk beluk politik. Begitu pula sebaliknya, bahwa dunia politik adalah salah satu
sarana untuk mengaplikasian berbagai ilmu yang teah didapat siswa melalui dunia
pendidikan. Para siswa tidak dapat acuh terhadap segala sesuatu yang terjadi di
luar dunia sekolahnya.
Sekiranya penjelasan di atas dapat menggambarkan bahwa terdapat hubunga
yang erat dan tak dapat dipisahkan antara pendidikan dan politik. Kedua aspek
tersebut memiliki hubungan yang saling membutuhkan satu sama lain.
Landasan Hukum Pendidikan Politik
Pendidikan politik merupakan suatu sarana untuk meningkatkan kesadaran
berbangsa dan bernegara yang dilaksanakan secara berkesinambungan dan
terencana. Pelaksanaan pendidikan politik harus berpegang teguh pada falsafah
dan kepribadian integral dari keseluruhan pembangunan bangsa yang
dilaksanakan sesuai dengan landasan yang telah mendasari kehidupan bangsa
Indonesia.
Berdasarkan Inpres No. 12 Tahun 1982 tentang Pendidikan Politik bagi
Generasi Muda (1982:13), maka yang menjadi landasan hokum [endidika politik
adlaha sebagai berikut:
“….landasan pendidikan politik di Indonesia terdiri dari:
a. Landasan ideologis, yaitu Pancasila
b. Landasan konstitusi, yaitu UUD 1945
c. Landasan operasional, yaitu GBHN
d. Landasan histiris, yaitu Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan
Proklamasi 17 Agustus 1945”
Landasan tersebut adiatas merupakan landasan pokok pendidikan politik yang
disertai landasan kesejarahan. Hal ini penting karena warga Negara terutama
siswa harus mengetahui sejarah perjuangan bangsa, agar memiliki jiwa, semangat,
dan nilai-nilai kejuangan 1945.
Tujuan Pendidikan Politik
Tujuan diadakannya pendidikan politik secara formal terdapat dalam Inpres
No.12 Tahun 1982 tentang penidikan politik bagi generasi muda yang
menyatakan bahwa:
Tujuan pendidikan politik adalah merupakan pedoman kepada generasi
muda Indonesia guna meningkat kesadaran kehidupan berbangsa dan
bernegara. Sedangkan tujuan pendidikan politik lainnya adalah
menciptakan genarasi muda Indonesia yang sadar akan kehidupan
berbangsa dan bernegara. Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 sebagai
salah satu usaha untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya.
Dari tujuan diatas jelaslah bahwa pendidikan politik itu ditujukan pada
generasi muda Indonesia untuk meningkatkan kesadaran kehidupan berbangsa dan
bernegara.
Bentuk Pendidikan Politik
Keberhasilan pendidikan politik tidak akan dapat tercapai jika tidak dibarengi
dengan usaha yang nyata dilapangan. Penyelenggaraan pendidikan politik akan
erat kaitannya dengan bentuk pendidikan politik yang akan diterapkan
dimasyarakat nantinya. Oleh karena itu, bentuk pedidikan politik yang dipilih
dapat menentukan keberhasilan dari adanya penyelenggaraan pendidikan politik
ini.
Bentuk pendidikan politik menurut Rusadi Kartaprawira (2004:56) dapat
diselenggarakn antara lain melalui :
1) Bahan bacaan, seperti surat kabar dan lain-lain bentuk publikasi massa
yang biasa membentuk pendapat umum.
2) Siaran Radio dan Televisi serta film (audiovisual media)
3) Lembaga atau asosiasi dalam masyarakat seperti masjid atau gereja tempat
menyampaikan kotbah dan juga lembaga pendidikan formal maupun
informal.
Apapun bentuk pendidikan politik yang akan digunakan dari semua bentuk
yang disuguhkan diatas sesungguhnya tidak menjadi menjadi persoalan. Aspek
yang terpenting adalah bahwa untuk pendidikan politik tersebut mampu untuk
memobilisasi simbol-simbol nasional sehingga pendidikan politik mampu menuju
pada arah yang tepat, yaitu meningkatkan daya pikir dan daya tanggap rakyat
terhadap masalah politik. Selain itu, untuk pendidikan politik yang dipilih harus
mampu meningkatkan rasa keterikatan diri (sense of belonging) yang tinggi
terhadap tanah air, bangsa dan Negara.

3, Demokrasi
Secara umum demokrasi dapat diartikan pemerintahan dari rakyat, oleh
rakyat, dan untuk rakyat.
Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara
sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas
negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.
Demokrasi Indonesia mengandung arti di samping nilai umum, dituntut nilai-
nilai khusus seperti nilai-nilai yang memberikan pedoman tingkah laku manusia
Indonesia dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, sesama manusia,
tanah air dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, pemerintah dan masyarakat,
usaha dan krida manusia dalam mengolah lingkungan hidup. Pengertian lain dari
demokrasi Indonesia adalah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan perwakilan, yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan bertujuan
untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (demokrasi
pancasila).

Adapun Prinsip-prinsip demokrasi:


1. Keterlibatan warga negara dalam pemuatan keputusan politik,
2. Tingkat persamaan tertentu diantara warga negara,
3. Tingkat kebebasan atau kemerdekaan tertentu yang diakui dan dipakai
oleh warga negara,
4. Suatu sistem perwakilan, dan
5. Suatu sistem pemilihan kekuasaan mayoritas.
Tantangan masa depan demokrasi di negera Indonesia ini adalah bagaimana
mendorong berlangsungnya proses – proses yang diperlukan untuk mewujudkan
nilai – nilai demokrasi itu sendiri. Dalam kaitan ini dengan mengutip beberapa
sumber kontemporer mewujudkan beberapa titik penting pandangan demokratis
yang harus menjadi pandangan hidup bagi masyarakat yang ingin mewujudkan
cita – cita demokrasi dalam wadah yang disebut masyarakat madani, civil society.
Pandangan – pandangan tersebut diringkas sebagai berikut :
1. Pentingnya Kesadaran kemajuan atau pluralisme
2. Berpegang teguh pada prinsip musawarah.
3. Menghindari bentuk – bentuk monolitisme dan absolutisme kekuasaan.
4. Cara harus sesuai dengan tujuan sebagai lewan dan tujuan mengahalalkan
segala cara.
5. Meyakini dengan tulus bahwa kemufakatan merupakan hasil akhir
musyawarah.
6. Memiliki perencanaan yang matang dalam memenuhi basic needs yang
sesuai dengan cara – cara demokratis.
7. Kerjasama dan sikap antar warga masyarakat yang saling mempercayai
iikad baik masing – masing.
8. Pendidikan demokrasi yang lived ini dalam sistem pendidikan..
9. Demokrasi merupakan proses trial and error yang akan menghantarkanh
pada kedewasaan dan kematangan.
Dengan demikian, untuk menata kembali kehidupan berbangsa dan bernegara
menuju peradaban baru Indonesia, negeri adil terbuka, maka demokrasi tersebut
harus dibangun dengan seefektif mungkin.

ANALISIS
Pada akhir-akhir ini partai politik hanya populer pada saat akan
diselenggarakannya pemilihan umum, hal ini mengindikasikan bahwa partai
politik pada saat tidak adanya hajatan itu cenderung tidak kelihatan aktivitasnya.
Hal ini diakibatkan karena fungsi-fungsi partai politik tidak bisa berjalan
sebagaimana mestinya, terutama yang berkenaan dengan fungsi yang kedua yaitu
sosialisasi atau pendidikan politik kepada masyarakat.
Sebuah partai agar mendapat dukungan dari masyarakat, partai tersebut harus
mampu membuka pandangan tentang demokrasi, nilai-nilai kebangsaan dan hak-
hak warganegara. Disamping itu partai politik harus mampu menjadikan
masyarakat memahami posisinya sebagai warganegara dan mau berpartisipasi
dalam kehidupan politiknya, hal ini dimaksudkan untuk :
a. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang demokrasi
dan hak-hak warga negara.
b. Memperkenalkan parpol sebagai sarana untuk memperjuangkan kepentingan.
c. Memperkenalkan lembaga-lembaga negara baik yang ada di tingkat pusat
maupun daerah.
Jika hal ini dilakukan dengan baik, maka akan tercipta suatu kondisi dimana
partisipasi masyarakat akan tinggi dalam proses politik, pemerintahan, maupun
dalam pengambilan kebijakan publik.
Untuk dapat meningkatkan pemahaman masyarakat, maka partai politik dapat
melakukannya melalui :
1. Langsung terjun ke masyarakat dengan memberikan penyuluhan kepada
masyarakatdalam upaya memperkenalkan visi, misi, dan tujuan dari parpol
secara khusus dan kehidupan kebangsaan pada umumnya.
2. Memberikan pencerahan pada konstituen tertentu, dalam arti tidak
menyangkut pada seluruh lapisan masyarakat, tapi hanya pada lapisan tertentu
masyarakat saja. Hal ini bisa dilakukan dengan diskusi-diskusi, seminar-
seminar, atau pelatihan-pelatihan dengan menggunakan metode learning by
doing terutama dalam memahami hal-hal yang berkenaan langsung dengan
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

DAFTAR PUSTAKA
Kartaprawira, Rusadi. (2004). Sistem Politik Indonesia Suatu Model Pengantar.
Bandung: Sinar Algensindo.
Budiardjo, Miriam, (2004). Dasar-dasar Ilmu Poiltik. Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama
http://72.14.235.104/search?q=cache:RmUbWh25OeIJ:www.bappenas.go.id/inde
x.php%3Fmodule%3DFilemanager%26func%3Ddownload%26pathe
xt%3DContentExpress/%26view%3D396/Bijah%2520Subijanto%25
20(1).pdf+parpol+%22pendidikan+politik%22&hl=en&ct=clnk&cd
=127&gl=id&lr=lang_id
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0309/11/opini/557661.htm