Anda di halaman 1dari 5

A.

Pengertian Eskperimen
Metode penelitian eksperimen pada umumnya digunakan dalam penelitian yang bersifat
laboratoris. Namun, bukan berarti bahwa pendekatan ini tidak dapat digunakan dalam penelitian
sosial, termasuk penelitian pendidikan. Jadi, penelitian eksperimen yang mendasarkan pada
paradigma positivistik pada awalnya memang banyak diterapkan pada penelitian ilmu-ilmu keras
(hard-science), seperti biologi dan Fisika, yang kemudian diadopsi untuk diterapkan pada bidangbidang lain, termasuk
bidang sosial dan pendidikan. (Amat Jaedun, 2011:3)
Penelitian eksperimen adalah penelitian yang dicirikan oleh adanya manipulasi terhadap
variabel bebas secara sengaja oleh peneliti. Tujuan penelitian eksperimen adalah untuk mengungkap
akibat yang terjadi pada variabel tergayut akibat pengaruh kinerja dari variabel bebas. Dengan
demikian, variabel bebas berkedudukan sebagai faktor yang menjadi penyebab terjadinya variasi
respons pada variabel tergayut. Oleh karena itu sebagai faktor maka variabel bebas dalam eksperimen
juga berkedudukan sebagai variabel prediktor. Sementara, variabel tergayut sebagai variabel respons.
Agar dalam penelitian eksperimen tidak ada faktor lain yang tidak dimanipulasi oleh peneliti
ikut mempengaruhi respons variabel tergayut maka semua faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil
eksperimen harus dikendalikan. Dengan demikian semua variabel yang berkedudukan sebagai
variabel-vaariabel penekan/pengganggu/ eksternal (nuisance/suppressor/external variables) harus
dikendalikan sehingga menjadi variabel-variabel yang terkendali (control variables). (Dr. Bambang
Subali, M.S.,2011:3)
Pengertian Variabel:
Variabel, adalah gejala atau fakta (data) yang harganya berubah-berubah atau bervariasi. Berikut ini
dijelaskan jenis-jenis variabel yang termasuk dalam penelitian eksperimen, yaitu:
1. Variabel Bebas/independen (variabel perlakuan/eksperimen) merupakan variabel yang akan
dilihat pengaruhnya terhadap variabel terikat/dependen, atau variabel dampak.
2. Variabel Terikat/dependen (variabel dampak) merupakan variabel hasil/dampak/akibat dari
variabel bebas/perlakuan. Variabel terikat umumnya menjadi tujuan penelitian, sumber masalah,
yang ingin ditingkatkan kualitasnya.
3. Variabel Kontrol (Pengendali) variabel yang berpengaruh terhadap variabel terikat, tetapi
pengaruhnya ditiadakan/dikendalikan dengan cara dikontrol (diisolasi) pengaruhnya. Pengontrolan
dapat dilakukan melalui pengembangan disain penelitiannya (kondisinya dibuat sama) atau secara
statistik tertentu.
4. Variabel Moderator variabel yang mempengaruhi tingkat hubungan (pengaruh) variabel bebas
terhadap variabel terikat. Atau hubungan/pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat memiliki
nilai yang berbeda pada level yang berbeda.
(Amat Jaedun, 2011:7)
VALIDITAS PENELITIAN EKSPERIMENTAL
Kata validitas berarti dapat diterima atau absah. Istilah ini mengandung pengertian bahwa
sesuatu dinyatakan valid atau absah berarti telah sesuai dengan kebenaran yang diharapkan sehingga
dapat diterima dalam kriteri tertentu. Dalam setiap penelitian selalu mengandung kelemahan yang
menyangkut seberapakah hasil penelitian tersebut dianggap valid.
Penelitian eksperimen pada umumnya lebih menekankan pada pemenuhan validitas internal,
yaitu dengan cara mengontrol/mengendalikan/mengeliminir pengaruh faktor-faktor di luar yang
dieksperimenkan yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen.

Adapun faktor-faktor yang dapat mengancam validitas internal suatu hasil penelitian eksperimen
antara lain:
1. History, yaitu kejadian-kejadian tertentu yang terjadi antara pengukuran pertama (pretest) dan
kedua (post-test), selain variabel-variabel yang dieksperimenkan (treatment).
2. Maturation (kematangan), yaitu: proses perubahan (kematangan) di dalam diri subyek yang terjadi
selama berlangsungnya eksperimen (misal: makin trampil, makin lelah/jenuh dsb). Untuk mengatasi
hal ini adalah dengan mendisain eksperimen yang tidak terlalu lama.
3. Efek Testing, yaitu efek yang ditimbulkan hasil pengukuran pertama (pretest) terhadap hasil
pengukuran kedua (post-test). Cara mengatasinya adalah dengan tidak memberikan pre-test.
4. Instrumentation, yaitu efek yang ditimbulkan akibat perubahan cara pengukuran, perubahan
pengamat, yang dapat membuat perubahan hasil pengukuran.
5. Selection, yaitu adanya bias di dalam menentukan/memilih responden/subyek untuk kelompok
eksperimen (atau kelompok yang diberikan perlakuan) dan kelompok control/pembanding.
6. Statistical regression, yaitu bahwa kelompok yang dipilih berdasarkan skor yang ekstrim cenderung
akan meregres ke rerata populasi.
7. Mortality, yaitu kehilangan subyek, baik pada kelompok eksperimen maupun kelompok
pembading, yaitu adanya pengurangan subyek ketika dilakukan pengukuran terhadap dampak
eksperimen/perlakuan. (Amat Jaedun, 2011:4-5)

B. JENIS PENELITIAN EKSPERIMEN


1. Jenis Penelitian Eksperimen Berdasarkan Banyaknya Faktor
Penelitian eksperimen dapat dibedakan berdasarkan banyaknya variabel bebas dan variabel tergayut
yang diteliti. peneliti bertujuan menyelidiki pengaruh variabel bebas terhadap variabel tergayut.
variabel bebas berkedudukan sebagai faktor. ragam penelitian eksperimen mencakup :
eksperimen faktor tunggal (single factor experimen),
eksperimen dua faktor,
eskperimen tiga faktor,
eksperimen lebih dari tiga faktor.
Pada penelitian dua faktor, peneliti dapat berfokus pada penyelidikan interaksi antara kedua
variabel bebas pengaruhnya terhadap variabel tergayut. salah satu faktor mempengaruhi kinerja faktor
yang kedua dalam mempengaruhi vaariabel tergayut, atau memang kedua faktor saling berpengaruh
terhadap kinerja dari masing-masing faktor dalam mempengaruhi variabel tergayut. Dalam hal ini
dikenal dengan nama eksperimen faktorial bifaktor.
Peneliti dapat pula menyelidiki dua faktor yang salah satu faktor tersarang atau
ada di dalam faktor yang kedua, sehingga disebut eksperimen tersarang. Sebagai contoh, peneliti
dapat menyelidiki apakah ada perbedaan performans hasil penyambungaan pada tiga varietas suatu
spesies tumbuhan, sekaligus menyelidiki mana performansi hasil penyambungan bila bagian pucuk
yang disambungkan berbeda asalnya, misalnya diambil dari pucuk batang utama, dan pucuk dari
cabang.
Eksperimen tiga faktor, peneliti dapat menyelidiki interaksi ketiga faktor sehingga berupa
eksperimen faktorial trifaktor, dapat pula menyelidiki dua faktor yang berinteraksi dan satu faktor
yang tersarang, sehingga disebut eksperimen faktorial tersarang.
2. Jenis Penelitian Eksperimen Berdasarkan Pengendalian Terhadap Vaariabel
Penekan/Pengganggu
Efek faktor sebagai variabel prediktor akan dapat diyakini bukan akibat pengaruh variabel
penekan/pengganggu (nuisance/suppressor/exsternal variable) bila peneliti dapat mengendalikan
semua variabel penekan/pengganggu tersebut. Pengendalian dilakukan dengan membuat kondisi yang
sama atau
homogen. Karena desain ini didasarkan pada kemampuan peneliti
mengendalikan/mengontrol variabel penekan/pengganggu maka disebut dengan desain/ancangan
lingkungan.

Ada beberapa desain eksperimen berdasarkan kemampuan peneliti mengedalikan variabel


penekan/pengganggu:
1. Desain Eksperimen Acak Sempurna (Completely Randomized Design)
Desain eksperimen disebut dengan desain acak sempurna jika seluruh variabel pengganggu
dapat dikendalikan atau dikontrol sehingga berubah kedudukannya menjadi variabel terkendali
(control variable). Harus diingat bahwa sumber variabel pengganggu dapat berasal dari objek
penelitiannya/satuan eksperimen, dapat berasal dari kondisi eksternal baik yang berkait dengan media
tumbuh untuk tumbuhan juga faktor pakan untuk hewan, faktor klimat, faktor pemeliharaan selama
eksperimen berlangsung, juga faktor peneliti/petugas lapangan selama melaksanakan eksperimen.
Dari segi objek penelitian, maka jenis objek, umur, ukuran fisik dan semua faktor
internal akan dapat mempengaruhi hasil eksperimen. Sebagai contoh, peneliti yang menggunakan
objek berupa ikan lele responsnya terhadap jenis pakan maka selain ia memanipulasi jenis pakan
sebagai variabel bebasnya maka harus menetapkan jenis ikan lele yaang digunakan, juga menetapkan
umur, ukuran panjang tubuh, dan berat tubuh. Hal ini perlu dilakukan karena bila jenis ikan lelenya
berbeda-beda, umurnya berbeda-beda, ukuran panjang tubuh berbeda-beda, dan/atau beraat tubuh
berbedabeda maka laju pertumbuhannya akan berbeda meskipun jenis pakannya sama.
Dengan demikian, akibat perbedaan jenis pakan tidak bisa ditetapkan kaarena pengaruh
variabel-variabel penekan/pengganggu tersebut. Berkaitan dengan faktor pemeliharaan ikan lele, juga
banyak variabel pengganggu yang dapat muncul, seperti frekuensi pemberian pakan, kemunculan
suatu penyakit, ataupun banyaknya ikan dalam satu kolam.
2. Desain Eksperimen Acak berblok (Randomized Completely Block Design)
Desain eksperimen disebut dengan desain acak berblok jika ada satu dari seluruh variabel
pengganggu yang tidak dapat dikendalikan atau dikontrol sehingga berubah kedudukannya menjadi
variabel terkendali (control variable), namun dengan cara dibuat grup-grup di dalamnya masih dapat
diperoleh kondisi yang homogen di masing-masing grup. Harus diingat bahwa sumber variabel
pengganggu dapat berasal dari objek penelitiannya/satuan eksperimen, dapat berasal dari kondisi
eksternal baik yang berkait dengan media tumbuh untuk tumbuhan juga faktor pakan untuk hewan,
faktor klimat, faktor pemeliharaan selama eksperimen berlangsung, juga faktor peneliti/petugas
lapangan selama melaksanakan eksperimen. Oleh karena itu, pengeblokan atas variabel yang tidak
dapat dikendalikan secara penuh dapat berasal dari salah satu sumber variabel pengganggu.
Misalnya penelitian dengan menggunakan semai cendana yang bijinya dihimpun dari hutan
Wanagama menghasilkan semai yang tidak seragam baik dari tinggi dan banyaknya daun. Oleh karena
itu, pengeblokan dapat dilakukan dengan mengelompokkan semai menurut beberapa strata tinggi
semai. Bila tinggi semai berkisar dari tinggi 4 cm sampai 23 cm maka semai cendana Strata I dengan
tinggi 4 7 cm, semai cendana strata II dengan tinggi 8 10 cm, semai cendana strata III dengan
tinggi 11 13 cm, semai cendana strata IV dengan tinggi 14 16 cm, semai cendana strata V dengan
tinggi 17 19 cm, dan semai cendana strata VI dengan tinggi 20 22 cm.
3. Desain Eksperimen Bujur Sangkar Latin (Latin Square Design)
Desain bujur sangkar latin diterapkan bila ada dua variabel pengganggu yang tidak dapat
dihomogenkan sepenuhnya, namun masing-masing masih dapat dihomogenkan dengan cara
pengeblokan. Misalnya penelitian eksperimen lapangan menggunakan semai cendana seperti kasus
pada rancangan acak berblok, kemudian di lapangan peneliti dihadapkan pada kondisi areal yang
mirng yang dicurigai tidak sama tingkat kesuburannya. Dengan demikian, selaain melakukan
pengeblokan terhadap semai cendana sebagaimana di atas, juga dilakukan pengeblokan atas tinggi
tempat.
Dalam hal ini, dapat dilakukan pengeblokan sesuai dengan urutas teras, sehingga strata
I adalah teras paling atas, strata II adalah teras kedua, demikian seterusnya. Dalam hal ini, secara
teoretik posisi blok variabel pertama disusun menurut arah kolom dan posisi blok pada variabel kedua
disusun menurut arah baris.

4. Desain Eksperimen Kovariansi (Covariance Design)


Desain eksperimen kovariansi diterapkan bila ada satu atau lebih variabel penekan/pengganggu yang
tidak dapat dihomogenkan sama sekali. Dengan demikian, variabel penekan/pengganggu tersebut
harus didata dan dihilangkan pengaruhnya ketika dilakukan analisis terhadap data hasil eksperimen.
Melalui analisis kovariansi akan dapat diketahui apakah variabel yang dicurigai sebagai vaariabel
penekan/pengganggu benar-benar merupakan variabel peragam (covariable) secara nyata/signifikan
ikut mempengaruhi hasil eksperimen. Jika pengaruhnya benar-benaar signifikan maka harus
dilakukan analisis statistika untuk menghilangkan pengaruh variabel peragam. Dengan
dihilangkannya pengaruh variabel peragam maka perbedaan yang ada pada variabel tergayut adalah
benar-benar akibat pengaruh variabel bebas. (Dr. Bambang Subali, M.S.,2011:12-15)

Disain Penelitian Eksperimen:


Disain eksperimen yang dipilih terkait erat dengan tingkat validitas hasil
penelitian
yang akan diperoleh. Namun demikian, pada penelitian eksperimen di kelas
pembelajaran, akan banyak menghadapi berbagai keterbatasan, antara lain:
1. Kesulitan untuk mengelompokkan siswa secara bebas sesuai keinginan
peneliti,
yaitu melakukan matching atau penugasan secara random, sehingga sulit
memperoleh dua kelompok (kelompok eksperimen dan kelompok kontrol)
yang
benar-benar sebanding (komparabel).
2. Penelitian eksperimen di kelas pada umumnya hanya dapat menggunakan
kelas
atau kelompok siswa apa adanya, sehingga sampelnya disebut intax sample.
3. Kendala-kendala yang terkait dengan kejujuran dan keobyektifan guru
dalam
mengukur dampak perlakuan (hasil belajar).
4. Kendala untuk mengendalikan factor-faktor (variabel) yang dapat
mempengaruhi
hasil eksperimen, misal: interaksi siswa dari kelompok eksperimen dan
kelompok
kontrol tidak mungkin dicegah, dsb.
Berikut ini disajikan beberapa jenis disain penelitian eksperimen yang dapat
dipilih:
1. Desain Pra-Eksperimental (Pre-ED) Single Group Design
Studi kasus 1 tembakan (one shot case study)
Pretest postest satu kelompok
Disain rangkaian waktu (Time-series design)
2. Desain Eksperimen Sebenarnya (True-ED)
Desain kelompok kontrol pretest-postest
Desain kelompok kontrol hanya postest
Desain solomon 4 kelompok
3. Desain Eksperimental Semu (Quasi-ED)
Desain pretest-postest tak ekuivalen
Desain perbandingan kelompok statis
Desain berimbang
a. One shot case study : X (treatmen) O (observasi)
Misal: Pengaruh metode simulasi (X) terhadap pemahaman konsep (O)

b. Pretestpostest satu kelompok: O1

O2

c. Desain rangkaian waktu (time-series):


O1
O2
O3
O4
X1
O5
O6
O7
O8
d. Desain kelompok kontrol pretest-postest:
Pretes Treatmen Postes
Kontrol
R
O1
X1
O2
Eksp
R
O3
X2
O4
e. Desain kelompok kontrol hanya postest:
Pretes Treatmen Postes
Kontrol
R
-X1
O2
Eksp
R
-X1
O2
f. Desain solomon 4 kelompok:
Pretes Treatmen Postes
Pretested
R
O1
X1
O2
Pretested
R
O3
X2
O4
Unpretested
R
-X3
O5
Unpretested
R
-X4
O6
g. Desain pretest-postest tak ekuivalen:
O1
X1
O2
O3
X2
O4
h. Perbandingan kelompok statis:
X1
O1
X2
O2
i. Desain berimbang:
Setiap kelompok menerima semua treatmen namun pada urutan yg berbeda

(Amat Jaedun,2011:10-11)