Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIK BENGKEL

BEARING KIT

OLEH :
NAMA

: MUHAMMAD RIFKI

NIM

: 1305011075

KELAS

: ME-4D

KONSENTRASI PERAWATAN DAN PERBAIKAN


PROGRAM STUDI TEKNIK MEKANIK
JURUSAN TEKNIK MESIN
POLITEKNIK NEGERI MEDAN
2015

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada ALLAH SWT karena atas berkat dan karuniaNya penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktik Bengkel Bearing Kit dengan baik dan
tepat waktu.
Laporan Praktik Bengkel ini disusun untuk melengkapi hasil praktik yang telah
dilakukan oleh setiap mahasiswa/i di Bengkel Teknik Mesin Politeknik Negeri Medan dan
merupakan syarat yang harus dikerjakan oleh mahasiswa/i setelah melakukan praktik sebagai
bahan perbandingan antara teori yang didapatkan dengan praktik sebenarnya.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih banyak kekurangan,
sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan laporan ini.
Dalam penulisan laporan praktik bengkel ini, penulis telah banyak menerima bantuan
dan bimbingan dari berbagai pihak, baik yang secara langsung maupun secara tidak langsung,
pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Direktur Politeknik Negeri Medan, Bapak M. Syahruddin, S.T., M.T.


Ketua jurusan Teknik Mesin, Bapak Idham Kamil, S.T.,M.T.
Kepala Program Studi Teknik Mekanik, Bapak Joni Indra, S.T.,M.T.
Bapak Nelson Manurung, S.T.,M.T. selaku dosen pembimbing dan instruktur.
Bapak Ir. Abdul Basir, M.T. selaku dosen pembimbing dan instruktur.
Seluruh staff bengkel maintenance and repair Politeknik Negeri Medan.
Rekan-rekan mahasiswa ME-4D.
Akhir kata semoga Laporan Praktik Bengkel ini bermanfaat bagi seluruh pihak yang

memerlukannya.
Medan, 9 Mei 2015
Penulis,

Muhammad Rifki

DAFTAR ISI
Kata pengantar..........................................................................................................i
Daftar isi...................................................................................................................ii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar belakang Masalah...............................................................................1
B. Batasan masalah...........................................................................................1

C. Tujuan...........................................................................................................2
D. Manfaat........................................................................................................2
E. Teknik pengumpuan data.............................................................................2
BAB II : TEORI DASAR
A. Pengertian Bearing.......................................................................................3
B. Klasifikasi Bearing.......................................................................................3
C. Penomoran pada Bearing.............................................................................6
BAB III : MOUNTING DAN DISMOUNTING
A. Persiapan......................................................................................................9
B. Mounting dan Dismounting Bearing............................................................9
C. Memasang dan Melepas Bantalan pada Poros...........................................10
BAB IV : PEMERIKSAAN DAN PERBAIKAN
A. Penyebab Kerusakan pada Bearing............................................................16
B. Proses Pemasangan Bearing yang Baik.....................................................17
C. Cara Mengatasi Kerusakan pada Bearing..................................................18
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan................................................................................................19
B. Saran...........................................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam dunia industri kita sering menjumpai berbagai macam bearing. Dimana bearing
biasa digunakan sebagai bantalan poros supaya pada saat perpindahan daya, mengurangi
terjadinya kehilangan daya akibat gesekan. Dalam pemasangan dan pelepasan bearing harus

dilakukan sesuai dengan prosedur yang benar, agar tidak terjadi keausan/kerusakan pada
poros dan bearing. oleh karena itu, penulis melakukan praktek latihan kerja di Bengkel
Maintenance and Repair Politeknik Negeri Medan supaya mampu melakukan pemasangan
dan pelepasan bearing dengan baik dan benar.
Bantalan merupakan salah satu bagian dari elemen mesin yang memegang peranan cukup
penting karena fungsi dari bantalan yaitu untuk menumpu sebuah poros agar poros dapat
berputar tanpa mengalami gesekan yang berlebihan. Bantalan harus cukup kuat untuk
memungkinkan poros serta elemen mesin lainnya bekerja dengan baik.

B. Batasan Masalah
Dalam penulisan laporan praktik perawatan dan perbaikan Bearing Kit ini, penulis
membatasi ruang lingkup masalah pada :
1.
2.
3.
4.
5.
C.

Pengertian bearing.
Prinsip kerja dari bearing.
Penomoran pada bearing.
Klasifikasi bearing.
Cara membongkar dan memasang bearing.
Tujuan

Adapun tujuan dari dilakukannya praktik perawatan dan perbaikan Bearing Kit dan
penulisan laporan ini adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.

Untuk mengetahui pengertian dari bearing.


Untuk memahami bagaimana prinsip kerja bearing.
Untuk memahami kode penomoran pada bearing.
Untuk mengetahui klasifikasi bearing.
Untuk mengetahui bagaimana cara membongkar dan memasang bearing.

D. Manfaat

Dengan dilakukannya praktik perawatan dan perbaikan Bearing Kit maka diharapkan
dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa, seperti :
1. Mahasiswa memiliki pengalaman dalam hal memasang dan melepas bantalan.
2. Mahasiswa dapat memahami dan mengenal tata cara dalam penggantian bantalan.
3. Mahasiswa dapat mengetahui standart dan ukuran bearing melalui nomor bearing.

E. Teknik Pengumpulan Data


Dalam penulisan laporan hasil praktik perawatan dan perbaikan Bearing Kit ini, penulis
melakukan pengumpulan data melalui :
1. Bahan/materi yang diberikan dosen pembimbing.
2. Study literature, yaitu membaca referensi yang berhubungan dengan perawatan dan
perbaikan pada bearing, baik melalui buku maupun internet.
3. Pengamatan dan praktik langsung pada macam-macam bearing yang ada pada bengkel
Maintenance and Repair Politeknik Negeri Medan.

BAB II
TEORI DASAR
A. Pengertian Bearing
Bearing (bantalan) adalah elemen mesin yang menumpu poros berbeban, sehingga putaran
atau gerakan bolak-baliknya dapat berlangsung secara halus, aman dan pemakaian yang lama.
Bantalan harus cukup kokoh untuk memungkinkan poros serta elemen mesin lainnya bekerja
dengan baik.
Jika bantalan tidak berfungsi dengan baik, maka kinerja dari seluruh sitem akan menurun
atau tidak dapat bekerja dengan semestinya atau maksimal. Jadi bantalan dalam pemesinan
dapat disamakan peranannya dengan pondasi pada sebuah gedung.

Perencanaan pada bantalan sebagai anti gesekan, dihadapkan dengan persoalan dalam
merencanakan sekelompok elemen yang membentuk sebuah bantalan rol, elemen ini harus
direncanakan untuk masuk kedalam suatu ruang yang ukurannya tertentu, ini direncanakan
untuk menerima suatu beban yang mempunyai karakter tertentu dan elemen ini harus
direncanakan untuk umur yang memuaskan bila dioperasikan pada suatu kondisi tertentu.

B. Klasifikasi Bearing
1. Klasifikasi bantalan berdasarkan gerakan bantalan terhadap poros :
a. Bantalan Luncur
Pada bantalan ini terjadi gesekan luncur antara poros dan bantalan karena
permukaan poros ditumpu oleh permukaan bantalan

dengan perantaraan lapisan

pelumas.

Keuntungan bantalan luncur :


1.

Harga relatif murah.

2.

Lebih ringan.

3.

Operasi lebih halus.


Kelemahan bantalan luncur :

1.

Perlu momen awal yang besar.

2.

Gesekan relatif lebih besar.


Pada bantalan luncur tidak ada elemen lain antara bantalan dengan bagian yang
bergerak. Bantalan ini dipakai pada poros yang berputar dengan kecepatan tinggi dan
contoh pemakaiannya pada poros engkol (crankshaft).

Gambar 2.1 Bantalan luncur

b. Bantalan Gelinding
Pada bantalan ini terjadi gesekan gelinding antara bagian yang berputar dengan
yang diam melalui elemen gelinding seperti bola (peluru), rol atau rol jarum dan rol
bulat.
Keuntungan bantalan gelinding :
1.

Gerakan awal jauh lebih kecil.


2. Gesekan kerja lebih kecil sehingga penimbulan panas lebih kecil pada
pembebanan yang sama.
3. Pelumasan yang terus menerus yang sederhana.
4. Kemampuan dukung yang lebih besar setiap lebar bantalan.
Kelemahan bantalan gelinding :

1.

Kebisingan pada bantalan


2. Kejutan yang kuat pada putaran bebas.

Gambar 2.2 Bantalan gelinding

Jarum
Rol kerucut

Peluru

Silinder

Gambar 2.3 Bentuk elemen gelinding pada bantalan gelinding

2. Klasifikasi bantalan berdasarkan arah beban terhadap poros :


a.

Bantalan Radial
Apabila gaya reaksi atau arah beban jauh lebih banyak mengarah tegak
lurus pada garis sumbu poros.

b.

Bantalan Aksial
Arah beban atau gaya reaksi jauh lebih banyak mengarah sepanjang garis
sumbu poros.

c.

Bantalan Gelinding khusus.


Bantalan ini dapat menumpu baban yang arahnnya sejajar dan tegak lurus
sumbu poros.

Dalam praktik, bantalan gelinding standart dipilih dari katalog bantalan. Ukuran utama
bantalan gelinding adalah diameter lubang, diameter luar, lebar dan lengkungan sudut. Pada
umumnya, diameter lubang diambil sebagai patokan.

C. Penomoran pada Bearing


Nomor nominal bantalan gelinding terdiri dari nomor dasar dan nomor pelengkap. Nomor
dasar yang terdapat merupakan jenis, lambang ukuran ( lambang lebar, diameter luar ), nomor
diameter lubang dan lambang sudut kontak.
Lambang lambang pelengkap mencakup lambang sangkar, lambang sekat (sil), bentuk
cincin, pemsangan, kelonggaran dan kelas. Jika hal-hal tersebut tidak diperinci, maka
lambang-lambang diatas tidak dituliskan.
Lambang jenis menyatakan jenis bantalan. Baris tunggal alur dalam diberi tanda 6, rol
selinder diberi tanda huruf seperti N, NF, dan NU, yang menyatakan macam kerahnya.
Lambang ukuran menyatakan lebar untuk bantalan radial dan tinggi untuk bantalan aksial,
dapat juga menyatakan diameter luar dari bantalan tersebut. Untuk bantalan bola radial, tidak
terdapat lambang lebar. Diameter membesar dalam urutan 7, 8, 9, 0, 1, 2, 3 dan 4. Lambang
diameter luar 0, 2 dan 3 pada umunya dapat dipakai. Lambang 0, 1, 2 dan 3 juga lazim
digunakan. Lambang diameter luar 0 dan 1 menyatakan jenis beban sangat ringan, 2, jenis
beban ringan, 3, jenis beban sedang, dan 4, jenis beban berat.
Nomor diameter lubang dinyatakan dengan dua angka. Untuk bantalan yang berdiameter
20-500 (mm), kalikanlah dua angka lambang tersebut dengan 5 untuk mendapatkan diameter
lubang yang sebenarnya (mm). Nomor tersebut bertingkat, dengan kenaikan sebesar 5 (mm)
setiap tingkatnya. Untuk diameter lubang dibawah 20 (mm), nomor 00 menyatakan 10 (mm);
01 menyatakan 12 (mm); 02 menyatakan 15 (mm); dan 03 menyatakan 17 (mm) diameter

lubang. Untuk diameter lubang dibawah 10 (mm), nomor tanda sama dengan diameter
lubangnya.
Dibawah ini akan diberikan contoh nomor nominal dan artinya.
1. 6312 ZZ C3 P6

6, Menyatakan bantalan bola baris tunggal alur dalam.


3, Adalah singkatan dari lambang 03, dimana 3 menunjukkan diameter luar 130

(mm) untuk diameter lubang 60 (mm).


12, Berarti 12 x 5 = 60 (mm) diameter lubang.
ZZ, Berarti bersil 2 (dua).
C3, Adalah kelonggaran C3.
P6, Berarti ketelitian 6.

2. 22220 K C3

2, Menyatakan bantalan rol mapan sendiri.


22, Menunjukkan diameter luar 200 (mm) dan lebar 53 (mm) untuk

lubang 110 (mm).


20, Berarti 20 x 5 = 100 (mm) diameter lubang.
K, Berarti 1/12 tirus lubang, kelas ketelitian 0.
C3, Kelonggaran C3.

diameter

BAB III
MOUNTING DAN DISMOUNTING
A. Persiapan
Sebelum melakukan mounting dan dismounting bantalan pada poros perlu dilakukan
persiapan berupa alat dan bahan, yaitu sebagai berikut :
1. Bantalan bola FAG 6302 (latihan 1), bantalan rol silinder FAG NU 206 (latihan 2),
bantalan FAG 6206 (latihan 3), bantalan NU 1006 dan 7206 B (latihan 4), bantalan
213 11k (latihan 5).
2. Poros 15 j6 (latihan 1), poros 30 j6 (latihan 2), poros housing 3 (latihan 3),
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

poros 30 j5 (latihan 4), poros 55 j6 (latihan 5).


Mounting sleeve.
Palu.
Kunci Ring 17 dan 19.
Kunci Pas 22 24.
U-Washer.
Extractor.
Dudukan Poros.

B. Mounting and Dismounting Bearing

Yang dimaksud dengan maounting dan dismounting bearing adalah cara memasang
bantalan dan cara melepas bantalan dari poros atau dari rumahnya.
Cara memasang dan melepas bantalann gelinding dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu :

Memasang dan melepas dengan Press Mounting.


Memasang dengan cara pemanasan.
Memasang dengan hidrolik mounting.

C. Memasang dan Melepas Bantalan pada Poros


Latihan 1 : Memasang dan melepas bantalan bola FAG 6302 pada poros 15 j6.
a. Langkah memasang bantalan
Masukkan poros 15 j6 ke dudukan poros menggunakan kunci pas 24;
Masukkan sedikit demi sedikit diameter dalam bantalan kedalam poros;

Ambil mounting sleeve atau bisa digantikan dengan pipa yang mempunyai
diameter dalam yang sama, kemudian letakkan pada permukaan bantalan pada
diameter dalamnya dan pegang;

Pukul secara perlahan mounting sleeve dengan palu sampai bantalan masuk
kedalam poros.

Gambar 3.1 Memasang bantalan bola FAG 6302 pada poros 15 j6

b. Langkah melepas bantalan


Ambil ring U-Washer yang sesuai dengan ukuran bantalan dan letakkan
dibelakang bantalan pada poros;

Ambil extractor atau puller, kemudian jepitkan pada sisi belakang ring U-Washer
dan sumbu poros yang berulir pada extractor diletakkan pada sumbu poros;

Ambil kunci pas, kemudian putar batang berulir sampai bantalan tertarik keluar
dari poros.

Gambar 3.2 Melepas bantalan bola FAG 6302 dari poros 15 j6

Latihan 2 : Memasang dan melepas bantalan rol silinder FAG NU 206 pada poros
30j6.

a. Langkah memasang bantalan


Pasang poros 30j6 pada dudukan;

Masukkan sedikit diameter dalam bantalan kedalam poros;

Ambil monting sleeve atau bisa digantikan dengan pipa yang mempunyai
diameter dalam yang sama, kemudian letakkan pada permukaan bantalan pada
diameter dalamnya dan pegang;

Pukul mounting sleeve dengan palu sampai bantalan masuk kedalam poros;

Agar kedudukan bantalan kokoh pada poros, maka diperlukan retaining ring yang
dilingkarkan pada poros pada permukaan bantalan sebelah depan;

Pasanglah retaining ring dengan menggunakan tang.

Gambar 3.3 Memasang bantalan silinder FAG NU 206 pada poros 30j6

b. Langkah melepas bantalan


Lepaskan retaining ring dari poros;
Ambil ukuran U-Washer yang sesuai dengan ukuran bantalan dan letakkan

dibelakang bantalan pada poros;


Ambil extractor, kemudian jepitkan pada sisi belakang U-Washer dan sumbu

poros yang berulir pada extractor diletakkan pada sumbu poros;


Ambil kunci pas, kemudian putar batang berulir sampai bantalan tertarik keluar
dari poros.

Gambar 3.4 Melepas bantalan silinder FAG NU 206 dari poros 30j6

Latihan 3 : Memasang dan melepas bantalan FAG 6206 pada housing 3


a. Langkah Memasang bantalan
Periksa permukaan poros atau bantalan dan pastikan bebas dari bram atau debu;
Pasang housing pada dudukannya;
Oleskan permukaan bearing atau poros dengan pelumas;
Pasang ring bagian dalam (spacer);
Pasang bantalan dengan sleeve yang sesuai, pukul perlahan dengan palu;
Pasang retaining ring dengan tang sirklip.

Gambar 3.5 Memasang bantalan silinder FAG 6206 pada poros housing 3

b. Langkah melepas bantalan


Setelah cover dilepas beserta seal-nya, pasangkan baut stud M10 pada lubang
ulir dibelakang rumah bearing, dengan memutar stud, bearing akan keluar dari

rumah;
Lepaskan ring pengunci, tekan bearing keluar atau lepaskan dari poros, lepaskan
pula seal dari cover dengan menggunakan alat khusus yang tersedia.

Latihan 4 : Memasang dan membongkar poros dengan dua bearing pada rumah ke 4.
Bearing yang digunakan adalah NU 1006 dan 7206 B pada poros dengan
ukuran 30 j5.
a. Langkah memasang bantalan

Mulailah dengan memeriksa kondisi rumah dan tidak terdapat sisi yang masih

tajam, lumasi bearing dengan gemuk;


Pasanglah ring antara dan cylindrical roller bearing (cincin luar). Ikat lokasi

bearing dengan cincin pengunci (retainer);


Pasangkan cincin dalam cylindrical roller bearing dan deep grove ball bearing

dan ikat lokasinya dengan ring pengunci (retainer).


b. Asembling
Pasangkan poros pada rumah secara perlahan-lahan dengan disertai gerakan

putar ringan. Yakinkan cincin dalam cylindrical roller bearing tidak terluka;
Tempatkan penyekat wool dalam alur penutup (cover) bearing;
Masukkan cincin antara pada rumah, ikat dan kencangkan penutup bearing;
Pasangkan puli sabuk V berikut pasak benamnya, ring dan baut kontersangnya.

Gambar 3.6 Memasang bantalan NU 1006 dan 7206 B pada poros 30 j5

c. Langkah melepas bantalan


Buka puli sabuk V berikut pasak benamnya, ring dan baut kontersangnya;
Buka penyekat wool dalam alur penutup (cover) bearing dan cincin antara pada

rumah;
Angkat poros pada rumah secara perlahan lahan dengan disertai gerakan putar

ringan, yakinkan cincin dalam cylindrical roller bearing tidak terluka;


Buka cincin dalam cylindrical roller bearing dan deep grove ball bearing serta

retainer pada poros;


Angkat ring antara dan cincin luar serta retainer dari rumah bearing.

Gambar 3.7 Membongkar bantalan NU 1006 dan 7206 B dari poros 30 j5

BAB IV
PEMERIKSAAN DAN PERBAIKAN
A. Penyebab Kerusakan pada Bearing
1. Kesalahan bahan
Faktor produsen: yaitu retaknya bantalan setelah produksi baik retak halus

maupun berat, kesalahan toleransi, kesalahan celah bantalan.


Faktor konsumen: yaitu kurangnya pengetahuan tentang karakteristik pada

bearing.
2. Penggunaan bearing melewati batas waktu penggunaannya (tidak sesuai dengan
petunjuk buku fabrikasi pembuatan bearing).

3. Pemilihan jenis bearing dan pelumasannya yang tidak sesuai dengan buku petunjuk
dan keadaan lapangan (real).
4. Pemasangan bearing pada poros yang tidak hati-hati dan tidak sesuai standart yang
ditentukan.
Kesalahan pada saat pemasangan, diantaranya:
Pemasangan yang terlalu longgar, akibatnya cincin dalam atau cincin luar yang

berputar yang menimbulkan gesekan dengan housing/poros.


Pemasangan yang terlalu erat, akibatnya ventilasi atau celah yang kurang
sehingga pada saat berputar suhu bantalan akan cepat meningkat dan terjadi

konsentrasi tegangan yang lebih.


Terjadi pembenjolan pada jalur jalan atau pada roll sehingga bantalan saat
berputar

akan

tersendat-sendat.

5. Terjadi misalignment, dimana kedudukan poros pompa dan penggeraknya tidak lurus,
bearing akan mengalami vibrasi tinggi. Pemasangan yang tidak sejajar tersebut akan
menimbulkan guncangan pada saat berputar yang dapat merusak bearing.
Kemiringan dalam pemasangan bearing juga menjadi faktor kerusakan bearing,
karena bearing tidak menumpu poros dengan tidak baik, sehingga timbul getaran
yang dapat merusak komponen tersebut.
6. Karena terjadi unbalance (tidak imbang), seperti pada impeller, dimana bagian-bagian
pada impeller tersebut tidak balance (salah satu titik bagian impeller memiliki berat
yang tidak seimbang). Sehingga ketika berputar, mengakibatkan putaran mengalami
perubahan gaya disalah satu titik putaran (lebih terasa ketika putaran tinggi),
sehingga berpengaruh pula pada putaran bearing pada poros. Unbalance bisa terjadi
pula pada poros, dan pengaruhnya pun sama, yaitu bisa membuat vibrasi yang tinggi
dan merusak komponen.

7. Bearing kurang minyak pelumasan, karena bocor atau minyak pelumas terkontaminasi
benda asing dari bocoran seal gland yang mempengaruhi daya pelumasan pada
minyak tersebut.

B. Proses Pemasangan Bearing yang Baik


1. Proses balancing. Pemasangan bearing pada komponen mesin, komponen tersebut
pertama-tama harus benar-benar balance agar bearing dapat bertahan dengan baik.
2. Alignment (pengaturan sumbu poros pada mesin harus benar-benar sejajar).
3. Proses pemberian beban. Pemberian beban ini harus sesuai dengan jenis bearing
yang digunakan apakah itu beban radial atau beban aksial.
4. Pengaturan posisi bearing pada poros.
5. Clearance bearing. Metode pemasangan dan peralatan yang digunakan.
6. Toleransi dan ketepatan yang diperlukan. Pada saat pemasangan bearing pada poros,
maka toleransi poros pada proses pembubutan harus diperhatikan karena hal tersebut
mempengaruhi keadaan bearing.
C. Cara Mengatasi Kerusakan pada Bearing
1. Melakukan penggantian bearing sesuai umur waktu kerja yang telah ditentukan.
2. Mengganti bearing yang sesuai dengan klasifikasi.
3. Melakukan pemasangan bearing dengan hati-hati sesuai standar yang telah
ditentukan.
4. Melakukan alignment pada poros dan penggeraknya.
5. Melakukan tes balancing pada poros dan impeller.
6. Memasang deflektor pada poros dan pemasangan rubber seal pada rumah bantalan
dan perbaikan pada seal gland, untuk mengantisipasi kebocoran.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Setelah melakukan praktik perawatan dan perbaikan pada bearing, maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa :
1. Bearing merupakan elemen mesin yang sangat vital dari konstruksi sebuah mesin,
maka diperlukan ketelitian dalam pembongkaran dan pemasangan bearing pada
sebuah poros.
2. Kode yang terdapat pada permukaan bearing harus di pasang kedepan / keatas,
karena nantinya memudahkan pada saat melakukan pergantian.
3. Pada saat pemasangan bearing pada poros, maka toleransi poros pada proses
pembubutan harus diperhatikan karena hal tersebut mempengaruhi keadaan
bearing.
4. Pemasangan bearing pada komponen mesin atau poros, komponen tersebut
pertama-tama harus benar-benar balance agar bearing dapat bertahan dengan baik.

B. Saran
1. Pada saat melakukan praktik perawatan dan perbaikan pada bearing kit diharapkan
praktikan tetap memperhatikan keselamatan bekerja dan mengikuti prosedur
dengan bijak.
2. Pada saat pemasangan bearing ke poros, harus dipastikan posisi bearing dengan
poros telah balance baru kemudian diberikan beban dengan palu.
3. Setelah praktik selesai, bearing semestinya dilumasi terlebih dahulu sebelum
disimpan kembali pada tempatnya, agar menambah umur bantalan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

http://awan05.blogspot.com/2009/12/bantalan-bearing.html (diakses tanggal 09-05-2015


pukul 19:23 WIB)
http://www.skf.com/group/products/bearings-units-housings/ballbearings/principles/mounting-and-dismounting/index.html (diakses tanggal 09-05-2015 pukul
19:23 WIB)
http://www.skf.com/group/products/maintenance-products/mechanical-tools-for-mountingand-dismounting/index.html (diakses tanggal 09-05-2015 pukul 19:25 WIB)