Anda di halaman 1dari 28

TUGAS 2

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN


2015

KELOMPOK 6 :
OKTAVIA DWI MENTARI
TENGKU DESLIYANI ALJUFFRI
DAVI ADITYA TANTRA
DHITYA SURYAPUTRA ARIENDRA
DANIEL SUPANGKAT
YEHEZKIEL STEFANUS
M HAFIZUDDIN
MUHAMMAD HANDOKO
RIZKY RAMA PUTRA MANURUNG
JANSEN HALOMOAN S

CLASSIFICATION
Deskripsi Umum
Klasifikasi adalah proses pemisahan partikel berdasarkan kecepatan pengendapannya
dalam suatu media (udara atau air). Klasifikasi dilakukan dalam suatu alat yang disebut
classifier.

Prinsip Kerja
Produk dari proses klasifikasi ada 2 (dua), yaitu :
1.

Produk yang berukuran kecil/halus (slimes) mengalir di bagian atas disebut overflow.

2.

Produk yang berukuran lebih besar/kasar (sand) mengendap di bagian bawah (dasar)
disebut underflow.

Proses pemisahan dalam classifier dapat terjadi dalam tiga cara (concept), yaitu :
1.

Partition concept

2.

Tapping concept

3.

Rein concept
Hal ini dapat berlangsung apabila sejumlah partikel dengan bermacam-macam

ukuran jatuh bebas di dalam suatu media atau fluida (udara atau air), maka setiap partikel
akan menerima gaya berat dan gaya gesek dari media. Pada saat kecepatan gerak partikel
menjadi rendah (tenang/laminer), ukuran partikel yang besar-besar mengendap lebih
dahulu, kemudian diikuti oleh ukuran-ukuran yang lebih kecil, sedang yang terhalus
(antara lain slimes) akan tidak sempat mengendap.

Peralatan yang umum dipakai dalam proses klasifikasi adalah :


1.

Scrubber

2.

Log washer

3.

Sloping tank classifier (rake, spiral & drag)

4.

Hydraulic bowl classifier

5.

Hydraulic clindrical tank classifier

6.

Hydraulic cone classifier

7.

Counter current classifier

8.

Pocket classifier

9.

Hydrocyclone

10.

Air separator

11.

Solid bowl centrifugal

12.

Elutriator

Gambar contoh klasifikasi dalam cyclone

SHAKING TABLE
Deskripsi Umum
Shaking table adalah alat pengkonsentrasi yang terdiri atas suatu bidang datar yang
sedikit miring terhadap horizontal dan bergoyang dengan arah berbeda dari axis panjang
serta tercuci pada sudut yang tepat menuju arah gerakan aliran air.
Prinsip Kerja
Prinsip Kerja Shaking Table adalah berdasarkan perbedaan berat dan ukuran
partikel terhadap gaya gesek akibat aliran air tipis; Partikel dengan diameter yang sama
akan memiliki gaya dorong yang sama besar, sedangkan perbedaan specific gravity
menyebabkan gaya gesek pada partikel berat lebih besar daripada partikel ringan
menyebabkan partikel ringan akan terdorong (terbawa) air lebih cepat dari partikel berat
searah aliran.
Gerakan relative Horizontal dari motor penggerak menyebabkan partikel berat
bergerak searah gerakan meja lebih cepat daripada material ringan. Untuk itu perlu
dipasang riffle (penghalang) untuk membentuk turbulensi dalam aliran sehingga partikel
ringan diberi kesempatan berada diatas dan partikel berat relative dibawah.

Pada prinsipnya, ada tiga macam gaya yang bekerja pada Shaking Table, yaitu:

Gaya Dorong Alir

Gaya Gesek

Gaya Gravitasi

Gambar 1.1 Gaya yang bekerja pada shaking table


Faktor yang mempengaruhi Shaking Table :
1. Ukuran dari feed
2. Operasi (roughing/cleaning)
3. Perbedaan SG mineral-mineralnya
4. SG rata-rata mineralnya

Distribusi partikel dipengaruhi oleh :


1. Sifat-sifat riffle
2. Permukaan deck
3. Water supply
4. Perbedaan bentuk dan ukuran partikel
5. Ada tidaknya material yang termasuk middling atau material interlog yaitu
partikel dengan sebagian material berat dan sebagian material ringan.

Faktor yang mempengaruhi gerakan aliran pada dasar :


1. Slope deck
2. Tebal / Kecepatan air
3. Viscositas fluid

4. Bentuk partikel
5. Kekerasan deck
6. Koeifisien gesekan Partikel
Macam - macam shaking table :
1.

Berdasar ukuran material yang dipisah : Sand table dan slime table

2.

Berdasar perbedaan bagian-bagian table : Wilfley Table, Butchart Table, Card


Table, Plat-O Table

Faktor-faktor yang mempengaruhi produk, antara lain :


1.

kemiringan dek
Dek yang terlalu miring akan mempengaruhi kecepatan aliran air dan bila
kecepatan aliran air tersebut terlalu cepat maka partikel ringan akan terbawa air
semuanya sehingga yang tertinggal hanya mineral berat. Dengan begitu hasil
yang didapatkan adalah produkta yang berkadar tinggi tetapi kapasitasnya sedikit.
Untuk kemiringan yang kecil sehingga kecepatan aliran air lambat maka
produkta yang didapat berkadar rendah dengan kapasitas besar.

2.

kecepatan feeding dan kemiringan


Bila terlalu cepat pengumpananya dan kemiringan dek kecil, maka proses
pemisahan akan berjalan kurang baik karena umpan tertumpuk dan akan masuk
ke konsentrat.

3.

persen solid
Bila terlalu encer pemisahan akan baik dan sebaliknya bila kental maka semua
partikel akan masuk ke konsentrat.

4.

jumlah dan panjang stroke


Pengaruh terhadap proses pemisahan adalah stroke yang panjang untuk material
kasar dan stroke kecil untuk material halus.

SPIRAL CLASSIFIER
(Humprey Spiral)

Deskripsi Umum
Spiral Classifier adalah suatu alat yang digunakan untuk memisahkan material berharga
dengan mineral tidak berharga berdasarkan perbedaan ukuran secara kontinu. Alat ini dioperasikan
berdasarkan kemiringan dan perputaran dari spiral spiral.

Prinsip Kerja
Umpan yang terdiri dari suspensi atau pulp dimasukkan ke dalam alat classifier .
Butiran butiran besar akan segera mengendap ke dasar classifier, sedangkan
butiran butiran halus tetap berada dalam cairan (pool). Butiran halus yang berada dalam cairan sebelah
atas terdorong ke luar oleh umpan yang baru masuk sebagai over flow, dan ke luar dari ujung
classifier yang lebih rendah, sedangkan butiran kasar yang mengendap di dasar classifier dikeluarkan
melalui ujung classifier yang lebih tinggi kedudukannya dengan menggunakan spiral (sebagai alat
penggeruk).

Gaya - gaya yang bekerja pada alat ini :


a.

Gaya dorong air

b.

Gaya gesek

c.

Gaya sentrifugal

Dalam proses pemisahan partikel menggunakan spiral concentration, terdapat dua hal
penting yang harus diperhatikan, diantaranya :

Variabel Alat, yakni :

a)

Tipe spiral : Tipe spiral berpengaruh terhadap kecepatan aliran alir, gaya sentrifugal
yang dihasilkan dan jenis aliran.

b) Posisi spliter : Posisi spliter menentukan seberapa ukuran berat yang akan ditampung
sebagai konsentrat, tailing dan midling.
c) Jumlah spiral : Pengaruh banyaknya spiral adalah untuk mendapatkan keadaan steady
state, di mana aliran air tidak turbulen. Semakin banyak jumlah spiral akan semakin
baik untuk keadaan steady state agar pemisahan berlangsung dengan baik.
d)

Ketinggian spiral : Ketinggian sprial akan berpengaruh terhadap kemiringan (slope)


spiral, yang akhirnya ikut menentukan apakah aliran fluida bersifat steady state.

e)

Penampang melintang helix dan diameter

Variabel Operasi

a) Derajat liberasi dan ukuran feed : Ukuran feed yang terlalu besar akan menyulitkan
proses stratifikasi, karena akan ada partikel-partikel yang tidak dapat bergerak akibat
tekanan air yang tidak kuat. Tetapi jika ukurannya terlalu kecil juga akan
menyulitkan, karena akan banyak mineral berharga yang masuk ke tailing.
b)

Selang ukuran feed : Selang ukuran umpan yang ideal adalah -35# sampai +48#
(0,015 mm - 0,8 mm). Jika terlalu kecil dapat menyulitkan proses pemisahan, karena
tidak terjadi stratifikasi pada lapisan di atas fluida. Jika terlalu besar juga akan
menyulitkan pemompaan dan aliran air tidak cukup untuk melakukan pemisahan.

c) Laju pengumpanan : Jika laju pengumpanan terlalu besar, maka tidak akan terjadi
stratifiksasi pada permukaan spiral. Karena terdapat tumpukan material yang tidak

sempat terpisahkan oleh aliran air. Tetapi laju pengumpanan yang terlalu kecil juga
tidak efisien.
d) % solid umpan : Idealnya persen solid pada umpan adalah 15%. Pengaruhnya adalah
terhadap penciptaan kondisi hindered settling. Persen solid yang terlalu besar akan
menyulitkan pempompaan, sedangkan jika terlalu kecil jadi tidak ekonomis.
e)

Jumlah dan kecepatan aliran air pencuci (wash water) : Jumlah dan kecepatan aliran
air pencuci ikut menentukan apakah aliran fluida bersifat steady state. Hal ini
dipengaruhi oleh kekuatan motor yang digunakan untuk memompa air dari tangki
penampungan kembali ke atas spiral yang paling tinggi.

f)

Sifat-sifat material

Variabel variable yang berpengaruh terhadap produk yang dihasilkan antara lain :
a)

Kemiringan alat

b) Kecepatan berputar spiral dan pengadukan (agitasi)


c) Persen padatan (solid)
d) Kecepatan pengumpanan (velocity feeding)
e) Ukuran material sebagai umpan (feeder)

FLOTASI
Deskripsi Umum
Flotasi adalah sebuah proses fisik-kimia untuk memisahkan material solid yang
terpisah halus satu dengan yang lain. Pemisahan material-material ini dipengaruhi ikatan
permukaan partikel dengan fasa gas (gelembung gas) atau dengan likuid yang umumnya
dibantu surfaktan kimia tertentu untuk pengkondisian.
Prinsip Kerja
Partikel mineral memiliki sifat hidrofobik dan hidrofilik. Mineral yang memiliki sifat
hidrofobik akan dibuat berikatan dengan permukaan gelembung udara dan naik ke
permukaan membentuk buih dimana mineral hidrofilik akan tetap berada di fasa likuid.
Proses flotasi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu directional flotation dan
reverse flotation. Directional flotation yaitu proses flotasi dimana mineral berharga akan
terangkat ke atas membentuk buih yang mengapung di permukaan pulp. Sedangkan
reverse flotation adalah proses floatasi dimana partikel mineral yang diapungkan
merupakan mineral pengotor (gangue)

Didalam proses flotasi terdapat beberapa reagent kimia, yang berdarkan fungsinya
dikelompokan dalam :
1.

Collector

Collector reagen kimia yang berinteraksi dengan permukaan mineral berharga untuk
membentuk permukaan hidrophobic. Collector dalam pulp terkosentrasi pada permukaan
interface mineral-air, dimana fungsinya untuk memperkecil stabilitas lapis hidrat di
permukaan mineral. Contohnya Xanthate, Dixanthogen, Fatty acid; frother MIBC,
Terpinol (Pine oil), Xylenol (Crestylic cid)
2.

Modifier/ regulator

Modifier memiliki fungsi : memperbaiki recovery, meningkatkan selektifitas dari regent


collector/ menghalangi interaksi collektor dengan mineral tertentu, mengatur pH pulp dan
menghilangkan ion-ion menganggu yang terdapat dalam pulp.
Untuk mengatur pH pada pulp maka diperlukan pH regulator seperti CaO, H2SO4, HF
sehingga reagent-reagent lainnya bisa bekerja dengan baik.Dispersant merupakan reagent
kimia yang hanya bekerja pada partikel-partikel yang sangat halus (slime),untuk
membersihkan mineral berharga dari slime serta melepaskan ikatan partikel halus dengan
permukaan mineral berharga.
Depresant merupakan reagent kimia yang berfungsi menekan pengotor untuk tetap
bersifat hidrophilic. Activator merupakan reagent kimia yang berfungsi membantu kerja
collector, ada kalanya collector baru bekerja baik bila ada aktivator.
3.

frother.

Frother berasal dari kata froth (=buih), adalah reagent kimia terakhir yang dimasukkan ke
dalam sel flotasi sebelum aerasi dilakukan. Frother berfungsi untuk membentuk
gelembung udara di dalam sel flotasi. Frother terkosentrasi pada antar fasa udara
(gelembung) air, yang mana akan menurunkan tegangan permukaan air. Gelembung

10

tidak akan terbentuk pada air murni, disebabkan tegangan permukaanya yang masih
tinggi.
Sel flotasi merupakan suatu tangki dimana proses flotasi tengah berlangsung,
memiliki fasilitas untuk menampung overflow, tempat masuknya umpan, dan ada alat
yang menciptakan gelembung udara. Sebagaiman terlihat pada Gambar 1, proses
pengolahan dengan flotasi terdiri dua tahap utama yakni conditioning dan flotasi, lebih
jelasnya bisa dilihat pada Gambar 2.

Tahapan Proses Flotasi Buih


1.

Ore direduksi dalam air hingga ukuran minimal 48 mesh (297 mikron)

2.

Pulp terbentuk diencerkan hingga konsistensi 25%-45% berat solid

3.

Sedikit surfaktan ditambahkan ke pulp untuk mengubah tegangan permukaan mineral


spesifik
11

4.

Reagen lain dipilih secara spesifik untuk mempengaruhi mineral yang hendak di
recover dan ditambahkan, gunanya menyelimuti partikel mineral dengan permukaan
aerofil

5.

Reagen lain ditambahkan untuk membantu meniptakan buih stabil di permukaan

6.

Pulp yang sudah dikondisikan diberikan udara dari agitasi atau dengan penambahan
langsung udara bertekanan rendah

7.

Buih pembawa mineral yang naik ke permukaan diambil dengan laddle.

12

MAGNETIC SEPARATOR
Deskripsi Umum
Magnetik Separator adalah alat yang digunakan untuk memisahkan material kering
maupun basah dengan menggunakan prinsip gaya magnet dan gaya gravitasi.
Prinsip Kerja
Magnetic separator bekerja dengan melewatkan suatu material feed pada suatu
bagian pada magnetic separator yang diberi medan magnetik, maka padatan logam akan
menempel (tertarik) sehingga padatan logam akan terpisah dari campurannya.

Berdasarkan sifat gaya magnetnya, logam dapat dibagi menjadi tiga jenis :
Feromagnetik yaitu logam/material yang ditarik dengan kuat oleh magnet.
Paramagnetik yaitu logam/material yang ditarik lemah oleh magnet.
Diamagnetik yaitu logam/material yang tidak ditarik sama sekali oleh magnet.
Magnetic

separator

digunakan

untuk

memisahkan

Mineral-mineral

magnetik

(Ferromagnetic) dengan Mineral-mineral non-magnetik (Diamagnetic). Beberapa bijih di


Indonesia yang dapat diolah dengan magnetic separator diantaranya Hematit, Magnetit,
Ilmenit, Sphalerit, Chromit, Siderit, Ankerit dan pirhotit.

13

Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja magnetic separator adalah


1.

sifat magnet

2.

derajat liberasi

3.

laju alir.

Magnetik separator dibagi menjadi empat jenis yaitu:


1.

Low intensity magnetic separator


Memisahkan material karena perbedaan sifat magnet yang sangat besar.
(diamagnetik dan ferromagnetik)
Terdiri dari tiga tipe-model atau jenis
a. Tipe Concurrent.
digunakan untuk bijih yang biasanya kurang dari 10 mm.
Kelebihan

1.

Menggunakan daya magnet rendah

2.

Biaya Penggunaan alat relatif lebih murah

Kekurangan

1.

Mineral magnetic yang di dapat lebih sedikit

2.

Beberapa Mineral gangue ikut dalam tailing

14

b. Tipe Countercurrent
digunakan untuk bijih yang berukuran kurang dari satu millimeter.
Kelebihan

1.

Daya magnet digunakan rendah

2.

Semua mineral bersentuhan dengan drum

3.

Tidak terendapkan

Kekurangan

1.

Mineral gangue dapat masuk dalam konsentrat

2.

Jika dorongan fluida rendah maka akan ada mineral yang tertinggal pada
dasar dalam tangki, sedang jika terlalu besar maka mineral halus akan
masuk ke dalam tailing

c. Tipe Counter-rotation
untuk pemisahan bijih yang berukuran kurang dari 8 mm, dengan ukuran halus.
Keuntungan :
1.

Daya magnet rendah

Kekurangan :
1.

Jika aliran fluida cukup besar, maka mineral gangue yang terperangkap di
antara mineral magnetic akan langsung masuk dalam aliran konsentrat.

15

2.

High Intensity Magnetic Separator


Memisahkan material karena perbedaan sifat magnet yang cukup besar
(diamagnetik dan paramagnetik)
Kelebihan :
1. Dapat meningkatkan kadar mineral
2. Dapat dipergunakan untuk mineral yang
Kelemahan :
1. Harganya mahal
2. Memerlukan daya magnet yang besar

16

bersifat paramagnetik

3. High Gradient
Memisahkan material dengan perbedaan sifat magnetnya yang kecil (paramagnetik
dengan paramagnetik atau feromagnetik dengan feromagnetik)
4. Super Conducting
Memisahkan material yang memiliki perbedaan sifat magnet yang sangat kecil
(Feromagnetik dengan feromagnetik yang superkonduktor)

17

HIGH TENSION SEPARATOR


Deskripsi Umum
Electrostatic Separator Atau High Tension Separator adalah alat yang digunakan
untuk memisahkan partikel konduktor dan partikel non konduktor. Alat ini bekerja
berdasarkan perbedaan sifat electrical conductivity atau sifat kelistrikannya.
Prinsip Kerja
Di alam terdapat mineral yang sifat kelistrikannya tinggi (mineral konduktor) dan
ada juga yang rendah (mineral non konduktor). Mineral konduktor mempunyai sifat
mudah menerima ion Negative juga mudah melepaskannya, Berbeda dengan mineral
non konduktor yang sukar menerima maupun melepaskan ion negative.
Untuk memisahkan partikel konduktor dan konduktor digunakan alat High Tension
Separator dengan beberapa bagian diantaranya :
1.

Hopper
merupakan alat penampung feed yang dilengkapi dengan heater untuk memanaskan
feed

agar selalu dalam keadaan kering. Dalam keadaan basah, proses pemisahan

tidak akan efektif.


2.

Feeder
alat ini terletak pada hopper. Berfungsi agar feed yang masuk ke rotor hanya satu
lapis dengan harapan proses dapat berjalan baik. Ujung dari hopper sebagai jalur
keluarnya material dari hopper dapat diatur.

3.

Rotor
Silinder yang berputar pada porosnya, dihubungkan dengan bumi sehingga rotor
bermuatan positif (+).

4.

Electrode
terdiri dari electroda kawat dan focussing electrode yang merupakan sumber ion
bombardement .

5.

Splitter
sebagai penyekat pengatur produk (mideral konduktor, middling dan non konduktor)

6.

Brush

18

berguna untuk menyikat produk non konduktor yang ikut berputar.


7.

Rectifier
alat untuk meningkatkan tegangan

Mineral konduktor saat melewati medan korona, akan saling tarik menarik dengan
roll putar bermuatan positif. Karena adanya muatan negatif yang berlebihan dan sifat dari
mmineral konduktor yang mudah menghantarkan muatan, maka muatan negatifnya akan
dihantarkan melalui roll putar menuju bumi. Sehingga pada mineral konduktor yang
mengandung ion positif akan terjadi gaya tolak menolak antara roll putar dengan mineral
konduktor yang akhirnya jatuh ke bin. Tegangan yang dipakai 30.000 volt.
Beberapa faktor yang mempengaruhi pemisahan dengan electrostatic separator ini
adalah :
1.

Kuat tegangan

2.

Kecepatan putar rotor

3.

Laju umpan (feed rate)

4.

Posisi Pembagi (splitter)

5.

Pengaruh Kelembaban

6.

Keadaan Material

19

Tahapan Proses
1.

Lakukan mixing antara pasir besi dengan kuarsa

2.

Lakukan coning dan quatering

3.

Tentukan kadar feed dengan melakukan grain counting

4.

Hidupkan motor penggerak drum separator

5.

Atau feeder agar feed masuk sesuai dengan yang diinginkan

6.

Hidupkan heater untuk memanaskan mineral-mineral yang bersifat konduktor, agar


lebih mudah tertarik oleh pengaruh medan listrik.

7.

Masukan frrd kedalam feeder setiap 15 detik.

8.

Setelah feed habis semua, maka akan diperoleh hasil berupa konsentrat yang besrifat
konduktor dan tailing yang bersifat isolator

9.

Matikan mesinya

10. Timbang berat konsentrat


11. Tentukan kadar konsentrat(pasir besi) dengan melakukan grain counting. Tentukan
berat tailing (T) beserta kadar tailing (t) dengan rumus

20

JIGGING
Deskripsi Umum
jig merupakan suatu tangki terbuka yang berisi air dengan saringan horizontal
terletak pada bagian atasnya dimana terdapat lapisan pemisah.
Prinsip Kerja
Jig merupakan salah satu alat pemisahan yang berdasarkan perbedaan berat jenis,
bekerja secara mekanis menggunakan prinsip perbedaan kemampuan menerobos dari
butiran yang akan dipisahkan terhadap suatu lapisan pemisah (bed).
Tangki jig dilengkapi dengan lubang pengeluaran konsentrat (spigot) pada bagian
bawahnya. Disamping itu jig juga memiliki suatu mekanisme penyebab terjadinya
tekanan (pulsion) yang diimbangi dengan pemakaian air tambahan.

Gambar : Jig Tampak Depan


Apabila terjadi pulsion maka bed akan terdorong naik. Sehingga batuan pada
lapisan bed akan merenggang karena adanya tekanan. Kesempatan ini akan dimanfaatkan
oleh mineral berat untuk menerobos bed masuk ke tangki sebagai konsentrat sedangkan
mineral ringan akan terbawa oleh aliran horizontal diatas permukaan bed dan akan
terbuang sebagai tailing. Pada saat terjadi suction, bed menutup kembali sehingga
mineral berat berukuran besar dan mineral ringan berukuran besar tidak berpeluang
masuk ke tangki. Jadi mineral berat berukuran besar akan mengendap diatas bed untuk
menunggu kesempatan pulsion berikutnya, sedangkan mineral ringan berukuran besar
akan terbawa aliran arus horizontal.

21

Gambar Jig Tampak Samping Saat Pulsion

Gambar Jig Tampak Samping Saat Suction

Pada pemisahan partikel mineral dalam proses jigging dipengaruhi tiga faktor, antara
lain :
1. Differential acceleration
Faktor perbedaan kecepatan jatuh partikel mineral ke bed, karena adanya
gerakan yang terjadi pada alat jig. Hal ini akan menyebabkan partikel mineral yang
memiliki berat jenis besar akan memiliki kecepatan jatuh yang lebih besar.

22

2.

Hinderet setting
Faktor kerapatan batuan pada lapisan bed, faktor dimana kecepatan jatuh setelah
mineral mencapai kecepatan akhir atau setelah mengendap pada bed, dimana partikel
mineral terangkat dan turun pada saat terjadi pulsion dan suctionmengalami
kesulitan untuk melalui media pemisah di dalam jig. Jadi dapat dikatakan faktor
pengaturan kerapatan bed.

3.

Consolidation trickling
Faktor atau cara pengaliran campuran partikel mineral pada waktu akhir jatuh,
dimana berlaku setelah lapisan bed menutup pada saat akhir dorongan (pulsion) .
Partikel mineral ringan berukuran besar tidak sanggup berpindah ke kompartemen
berikutnya karena pengaruh kecepatan yang terjadi pada partikel mineral tersebut.
Sedangkan mineral berat dengan ukuran kecil mempunyai kesempatan untuk
menerobos celah-celah lapisan bed, karena partikel tersebut cukup kecil bila
dibandingkan dengan rongga bed. Kondisi seperti inilah yang dikendalikan dalam
Consolidation trickling.
Berdasarkan ketiga faktor pemisahan mineral dalam jig diatas, maka terjadilah proses

pemisahan mineral yang berbeda berat jenisnya, dalam hal ini mineral berharga seperti
kasiterit, xenotin, monasit, ilmenit, zircon, Pb dan biji besi dengan mineral tailing berupa
kuarsa dan clay. Mineral-mineral yang berat jenisnya lebih besar baik yang berukuran
kecil maupun besar berada di bawah saringan, kemudian masuk kedalam tangki dan
keluar melalui spigot sebagai konsentrat. Sedangkan mineral pengotor atau mineral
ringan baik yang berukuran kecil ataupun besar akan terdorong oleh desakan dari
feed berikutnya dan arus horizontal diatas permukaan bed dan terbuang sebagai tailing.
Apabila ketiga faktor tersebut disatukan maka proses tersebut dinamakan ideal jigging
process.
Berdasarkan jumlah kompartemennya jig dapat dibagi menjadi beberapa tipe, antara
lain :
- tipe 1x2
- tipe 2x2
- tipe 1x3
- tipe 2x3

23

Jig 1X2 Cell

Jig 2x2 Cell

Jig 1x3 Cell

24

Jig 2x3 Cell


Parameter Pada Proses Jigging
Pada proses pemisahan dengan menggunakan alat jig, terdapat beberapa parameter
yang mempengaruhi efektifitas kerja jig. Adapun parameter yang mempengaruhi proses
pemisahan tersebut antara lain :
1.

Amplitudo membran atau frekuensi stroke


Amplitudo membran adalah jarak yang ditempuh oleh torak atau membran dari
awal dorongan (pulsion) hingga akhir hisapan (suction), sedangkan frekuensi stroke
merupakan banyaknya dorongan per menit. Bila jumlah (rpm) pukulan besar, maka
panjang langkahnya (amplitudo) lebih pendek demikian sebaliknya.
Amplitudo membrane dan frekuensi stroke ini akan berpengaruh kepada
kecepatan aliran vertical ke atas dimana kecepatannya tidak boleh lebih besar dari
pada kecepatan jatuh partikel. Apabila hal ini terjadi maka akan menyebabkan
kehilangan mineral berharga yang mempunyai ukuran butir lebih kecil. Oleh sebab
itu amplitude membrane dan frekuensi stroke yang digunakan harus disesuaikan
dengan ukuran butir partikel mineral berharga yang ada di lapangan.

2.

Kecepatan aliran horizontal


Kecepatan aliran horizontal adalah kecepatan air yang mengalir di atas
lapisanbed . Fungsi kecepatan horizontal adalah untuk membawa material ringan,
baik yang berukuran besar ataupun kecil. Kecepatan aliran horizontal ini sangat
berpengaruh terhadap pengendapan mineral.

3.

Ketebalan bed dan ukuran batu pada lapisan bed yang digunakan
Bed merupakan bahan padat yang terdiri dari lapisan batu hematite yang
digunakan sebagai media pemisah mineral berat pada jig. Ketebalan dan ukuran bed

25

sangat mempengaruhi hasil pemisahan dan tergantung kepada mineral yang akan
dipisahkan. Semakin tebal dan besar ukuran butir bed, maka akan semakin sulit
kecepatan aliran vertical ke atas untuk mendorong lapisan bed, sehingga semakin
sedikit partikel mineral berharga yang mengendap sebagai konsentrat. Sebaliknya
semakin tipis dan kecil ukuran butir bed, maka ada kemungkinan aliran vertical ke
atas akan melontarkan bed, sehingga ruangan antara bed menjadi terlalu besar. Hal
ini menyebabkan mineral ringan yang berukuran besar akan menerobos
lapisan bed dan mengendap sebagai konsentrat, sehingga kadar konsentrat menjadi
rendah.
4.

Volume air tambahan (Under water)


Selama proses pemisahan berlangsung dengan baik sesuai rencana, air di dalam
tangki ada yang masuk ada pula yang keluar. Air yang masuk adalah air yang
bercampur bersama feed dan air yang berasal dari header tank (air tambahan).
Sedangkan air yang keluar adalah air yang keluar bersama-sama dengan tailing dan
air yang keluar melaluispigot bersama konsentrat.
Volume air tambahan adalah jumlah air yang dialirkan ke jig yang berguna
sebagai air tambahan. Manfaat air tambahan ini adalah untuk mengimbangi hisapan,
mengimbangi jangan terlalu banyaknya aliran air diatas jig yang menuju ke dasar
dapat terjadi apa yang dinamakan gerak pulsasi (gerakan ketas dan hisapan ke bawah)
dan menggantikan air yang keluar melalui lubang spigot.

5.

Ukuran lubang spigot


Lubang spigot adalah suatu lubang yang berfungsi sebagai tempat keluarnya
konsentrat hasil pemisahan. Besarnya ukuran lubang spigot ini akan mempengaruhi
volume air yang terdapat dalam tangki jig. Apabila ukuran lubang spigot terlalu besar,
maka volume air yang keluar melalui lubang spigot akan menjadi besar. Hal ini akan
mengakibatkan tangki jig menjadi kosong, dan jig akan mengalami kekurangan air.
Untuk menjaga keseimbangan air didalam jig, maka ukuran lubang spigot diusahakan
sekecil mungkin. Hali ini bertujuan agar pada proses pemisahan berikutnya tidak
terjadi kelebihan air dan pemakaian air tambahan dapat terjaga.

6.

Feeding dan proses padatan


Feeding adalah proses pemasukan bahan baku campuran mineral baik bijih
berharga atau mineral lainnya dengan mengalir kepermukaan jig, yang disesuaikan

26

dengan kapasitas alat pencucian. Distribusi feed dipermukaan jig harus diatur dengan
baik agar proses jigging dapat berjalan dengan sempurna.
Penyebaran dan kekentalan (proses padatan) feed yang masuk
kepermukaan jigperlu diperhatikan. Penyebaran feed yang tidak merata
mengakibatkan terjadinya penumpukan dan kelebihan beban yang terlalu besar yang
diterima oleh permukaan jig.Feed yang terlalu kental akan menyebabkan
penumpukan dan kecepatan aliran kecil, sebaliknya feed yang terlalu encer akan
menyebabkan kecepatan aliran yang besar sehingga banyak mineral berharga yang
hilang sebagai tailing.
7.

Motor jig
Motor jig merupakan motor penggerak stroke yang menyebabkan
terjadinyapulsion dan suction pada proses pemisahan. Penentuan daya atau HP motor
yang digunakan berdasarkan beban yang akan didorong pada saat pulsion, jumlah
putaran gear box dan panjang pukul motor yang digunakan.

8.

Jig screen
Jig screen merupakan saringan yang terbuat dari kawat (ketebalan kawat 1,5 mm)
yang dipasang diantara rooster bawah dan rooster atas. Posisi pemasangan jig
screen berpengaruh terhadap jumlah dan luas lubang bukaan jig screen tersebut.

9.

Kecepatan aliran didalam jig tank


Kecepatan aliran didalam tangki jig berpengaruh terhadap proses pengendapan
mineral berharga. Apabila kecepatan aliran vertikal keatas akibat pulsion lebih besar
dari kecepatan jatuh butir mineral berharga, maka mineral berharga tidak memiliki
kesempatan untuk turun mengendap sebagai konsentrat. Sebaliknya jika kecepatan
aliran vertikal ke atas terlalu kecil maka kadar konsentrat akan menjadi rendah. Hal
ini disebabkan karena mineral pengotor yang kecepatan jatuhnya juga kecil akan
turun sebagai konsentrat.

10. Kemiringan jig


Kemiringan jig berpengaruh terhadap kecepatan aliran horizontal pada kondisi
yang stabil, dengan perbandingan kemiringan jig 1:12, dalam artian bila kemirinagan
jig ditambah satu derajat maka kecepatan akan bertambah dua belas kali dari
kecepatan pada posisi jig yang datar.

27