Anda di halaman 1dari 16

I.

Judul Percobaan
II.

: Titrasi Pengendapan dan Aplikasi


Tujuan Percobaan : 1 Membuat dan menentukan
(standarisasi) larutan AgNO3

2. Menentukan kadar Cl-

dalam air kran


III.

Dasar Teori

Titrasi pengendapan merupakan titrasi yang melibatkan pembentukan endapan


dan garam yang tidak mudah larut antara titran dan analit. Hal dasar yang diperlukan
dalam titrasi jenis ini adalah pencapaian keseimbangan pembentukan yang cepat setiap
kali titran ditambahkan pada analit, tidak hanya interferensi yang mengganggu titrasi dan
titik akhir titrasi yang mudah diamati.
Salah satu jenis titrasi pengendapan yang sudah lama dikenal adalah melibatkan
reaksi pengendapan antara ion halida (Cl-, I-, Br-) dengan ion perak Ag+. Titrasi ini
biasanya disebut sebagai Argentometri yaitu titrasi penentuan analit yang berupa ion
halida (pada umumnya) dengan menggunakan larutan standar perak nitrat AgNO3. Titrasi
Argentometri tidak hanya dapat digunakan untuk menentukan ion halida, akan tetapi juga
dapat dipakai untuk mendapatkan atau menentukan merkaptan (thioalkohol), asam
lemak, dan beberapa ion divalent seperti ion phospat (PO4)3- dan ion arsenat AsO43-.
Dasar reaksi titrasi pengendapan ialah terjadinya endapan pada reaksi antara zat
analit dengan penitrasi, misalnya :
Ag+ + X- AgX(s)

dimana X = halogen

Ag+ + CrO4- Ag2CrO4(s)

(merah bata)

Ag+ + SCN- AgSCN(s)


Fe3+ + SCN- FeSCN2+

(merah)

Dasar titrasi Argentometri adalah pembentukan endapan yang tidak mudah larut
antara titran dengan analit. Sebagai contoh yang banyak dipaki adalah titrasi penentuan
NaCl dimana ion Ag+ dari titran akan bereaksi dengan ion Cl- dari analit membentuk
garam yang tidak mudah larut AgCl.
AgNO3(aq) + NaCl(aq) AgCl(s) + NaNO3(aq)
Setelah semua ion klorida dalam analit habis maka kelebihan ion perak akan
bereaksi dengan indikator. Indikatot yang dipakai biasanya adalah ion kromat CrO 4-,
dimana dengan indikator ini ion perak akan membentuk endapan berwarna coklat
kemerahan sehingga titik akhir titrasi dapat diamati. Indikator lain yang bisa dipakai
adalah tiosianida dan indikator adsorbsi. Berdasarkan jenis indikator dan teknik titrasi

yang dipakai, maka titrasi Argentometri dapat dibedakan atas Argentometri dengan
metode Mohr, Volhard, atau Fajans.
a. Metode Mohr
Yaitu pembentukan endapan bewarna . dalam metoda ini ion kromat
bertindak sebagai indicator yang banyak digunakan untuk titrasi
argentometri ion Klorida dan Bromida. Titrasi dalam metode ini ditandai
dengan terbentuknya endapan merah bata dari perak kromat Ag 2CrO4.
Kelarutan perak kromat beberapa kali lebih besar daripada kelarutan perak
klorida, akibatnya endapan perak klorida terbentuk lebih dulu dari perak
kromat.
Ekivalen Ag+ = ekivalen Clb. Metode Volhard
Yaitu pembentukan zat warna yang mudah larut. Metoda ini menggunakan
standar tiosianat untuk menitrasi ion perak.
Ag+ (aq) + SCN- (aq) AgSCN (s)
Ion Besi (III) bertindak sebagai indicator yang menyebabkan larutan
bewarna merah dengan sedikit kelebihan ion tiosianat. Dalam metode ini
titrasi harus dilakukan dalam suasana asam untuk mencegah pengendapan
Besi (II) hidroksida.
Pada titik ekivalen :
Jumlah ekivalen Ag+ sisa = jumlah ekivalen SCNAtau
Jumlah ekivalen Ag+ total = jumlah ekivalen (Cl- + SCN-)
c. Metode Fajans
Yaitu dengan indicator absorbsi, yang bertindak sebagai indicator dalam
metode ini adalah senyawa organic yang dapat diserap pada permukaan
endapan yang terbentuk selama titrasi berlangsung. Syarat penggunaan
indicator absorbs dengan baik, maka endapan dan indicator harus memiliki:
a. Partikel endapan harus bersifat koloid
b. Endapan harus menyerap secara kuat ionnya sendiri
c. Indicator zat harus berikatan kuat dengan ion yang telah diserap.
d. pH larutan harus dijaga.
Selain menggunakan jenis indikator di atas, maka kita juga dapat menggunakan
metode potensiometri untuk menentukan titik ekivalen. Ketajaman titik ekivalen

tergantung dari kelarutan endapan yang etrbentuk dari reaksi analit dan titran. Endapan
dengan kelarutan yang kecil, akan menghasilkan kurva titrasi Argentometri yang
memeiliki kecuraman yang tinggi, sehingga titik ekivalen agak sulit ditentukan. Hal ini
analog dengan kurva titrasi antara asam kuat dan basa kuat dan antara asam lemah
dengan basa kuat.
Dalam aplikasi titrasi pengendapan dapat dilihat pada proses desinfeksi air yang
sering menggunakan klor, karena

harganya terjangkau dan mempunyai daya

desinfektan selama beberapa jam setelah pembubuhan (residu klor). Selam proses
tersebut, klor direduksi salama hingga menjadi klorida (Cl -) yang tidak mempunyai
daya desinfektan, disampinh itu klor juga bereaksi dengan ammonia. Klor aktif dalam
larutan dapat tersedia dalam keadaan bebas (Cl2, OCl-, HOCl) dan keadaan terikat
(NH2Cl, NHCl2, NCl3). Klor terikat mempunyai daya desinfektan yang tidak seefisien
klor bebas.
IV.

Alat dan Bahan

Alat :
1. Pipet seukuran 10mL

1 buah

0,0549 g NaCl p.a

7. Erlenmeyer 250 mL
3 buah
8.
Pipet
tetes
5 buah
Larutan AgNO3
9. Spatula
1 buah
Digunakan untuk membilas buret
10.
Gelas
Ukur
50
mL
1 buah
Diisikan ke dalam buret
11. Corong
1 buah
12. Statif dan klem
1 buah

2. Buret
1 buah
Ditimbang 3.
dengan
Gelasteliti
kimia
dalam
250 mL
botol timbang
1 buah
Dipindahkan
4. dalam
Gelas labu
kimiaukur
100 100
mL mL1 buah
Dilarutkan 5.
dengan
air suling
Piknometer
25mL
1 buah
Diencerkan sampai tanda batas labu
6.
Labu
Ukur
100
mL
1 buah
Dikocok hingga terbentuk larutan homogen NaCl dan air suling
13.
Bahan
1. NaCl
2. Air suling (aquades)
Larutan baku NaCl p.a
3. AgNO3
4. Indikator
K2bata
CrO4
Endapan
merah
di daerah
Ketintang Baru
Dipipet5.10Air
mL Kran
dengan
pipet seukuran

Dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL


14. mL aquades & 3 tetes indikator K2CrO4
Ditambah 10

V.

Alur kerja
:
15.
Titrasi Pengendapan
16.
Penentuan (Standarisasi) Larutan AgNO3 0,1 N dengan NaCl p.a Sebagai

Baku
Volume & konsentrasi
rata-rata AgNO3

Dititrasi dengan AgNO3pada buret

17.

18.
Dicatat volume larutan AgNO3 yang digunakan sebelum dan sesudah titrasi
Dititrasi ulang sampai 3 kali
Dihitung konsentrasi AgNO3 rata-rata

19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47. Air Kran
Aplikasi Titrasi Pengendapan
jenis Air
air sumur
48.
PenentuanDiukur
Kadalberat
Cl dalam
Kran dengan piknometer
Dicatat
tempat
pengambilan
sampel
49.diencerkan
Air kran yang telah
Dipipet 10 mL dengan pipet seukuran
50.
Diencerkan dalam labu ukur 100mL sampai tanda batas
51.
Dipipet 10mL
52. dan dimasukkan erlenmeyer
Ditambah53.
3 tetes indikator K2CrO4 5%
Dititrasi dengan AgNO3 yang ada pada buret yang telah distandarisasi

Endapan merah bata

Dicatat volume larutan AgNO3 yang digunakan saat sebelum dan sesudah titrasi
Dititrasi ulang sampai 3 kali
Dihitung kadar Cl- rata rata dalam air laut

Kadar rata rata Cl- di dalam air laut

VI.

Data Pengamatan

:
54.

55.
60.

Standarisasi
56.
Data Pengamatan
58.
Sebelum
59.
Sesudah
61.
62.
0.0549 gram

Perlakuan
NaCl p.a

ditimbang
63.
Dipindah dalam

64.

Berupa Kristal

labu ukur dan Dilarutkan

putih

65.

Larutan NaCl p.a

tidak bewarna

dengan air suling sampai


tanda batas dan di kocok
66.
Larutan NaCl

67.

100 ml

68.

10 ml

Tidak bewarna

71.

Tidak bewarna

dipipet dengan pipet


seukuran dan dimasukkan
dalam Erlenmeyer 100 ml
69.
Ditambah air

70.

suling 10 ml
Ditambah 1 ml
72.

73.

indicator K2CrO4 :

74.

Bewarna kuning

indicator K2CrO4
75.
Dititrasi dengan

bewarna kuning (++)


76.
Larutan AgNO3 :

(+)
77.

Terdapat endapan

larutan AgNO3

Tidak bewarna

merah bata
78.
V1 AgNO3 = 5.9
mL
79.

V2 AgNO3 = 6.0

mL
80.

V3 AgNO3 = 5.8

mL
81.
82.
83.
84.

N1 = 0.0160 N
N2 = 0.0155 N
N3 = 0.0160 N
N rata-rata =

0.0158 N
85.
86.
91.

Perlakuan
Air kran diukur

berat jenisnya dengan


piknometer

Aplikasi
87.

Data Pengamatan

89.
Sebelum
92.
Air kran : tidak
bewarna
93.
Tempat
pengambilan: ketintang

90.
Sesudah
98.
Berat jenisnya :
99.
25.1789 gr / 25 ml
= 1.0072 gr/ cm3

baru
94.
Massa
piknometer : 14.7730 gr
95.
Massa
piknometer+air kran:
96.
97.
100.

Dipipet 10 ml dan

39.9519 gr
Massa air kran:
25.1789 gr
Volume air : 25 ml
101.

102.

Tidak bewarna

indikator K2CrO4

105.

Bewarna kuning

diencerkan dalam labu


ukur 100 ml
103. Dipipet 10 ml dan

104.

ditambah 3 tetes indikator

5% = bewarna kuning (+

K2CrO4 5%
106. Dititrasi dengan

107.

larutan AgNO3

+)
Larutan AgNO3 :
Tidak bewarna

(+)
108.

Terdapat endapan

merah bata
109. V1 AgNO3 = 1.6
mL
110.

V2 AgNO3 = 1.8

mL
111.

V3 AgNO3 = 1.1

mL
112.
113.
114.
115.

N1 = 0.0025 N
N2 = 0.0012 N
N3 = 0.0017 N
N rata-rata =

0.0018
116. Kadar Cl dalam
air kran : 4.23 %
117.
VII. Diskusi dan Pembahasan :
118. Pada percobaan pertama yaitu penentuan (standarisasi) larutan AgNO3
dengan NaCl sebagai larutan baku, melibatkan reaksi pengendapan antara ion halida
Cl- dengan ion perak Ag+. Langkah awal adalah membuat larutan baku NaCl dengan
menimbang 0,0549 gram kristal NaCl yang berwarna putih. Kemudian dimasukkan
gelas kimia 100mL dan ditambahkan 30mL air suling. Diaduk sampai menjadi
larutan homogen dan dimasukkan labu ukur 100mL menggunakan corong kaca.
Ditambahkan air suling sampai 1cm sebelum tanda batas. Kemudian ditambah air

suling perlahan-lahan sampai tanda batas menggunakan pipet tetes. Setelah itu
dikocok agar tercampur. Sehingga dihasilkan larutan baku NaCl yang tidak
berwarna.
119. NaCl(s) + H2O(l) NaCl(aq)
Dipipet 10mL larutan baku NaCl dengan pipet seukuran 10mL dan

120.

dimasukkan dalam erlenmeyer 250mL. Kemudian ditambahkan 10mL air suling dan
1 mL indikator K2CrO4 yang berwarna kuning (++). Sehingga larutan yang semula
tidak berwarna menjadi berwarna kuning (+). Selanjutnya dilakukan titrasi dengan
larutan AgNO3 sampai terjadi perubahan warna dari kuning (+) menjadi merah bata.
Hasil titrasi pertama, volume AgNO3 yang digunakan untuk mencapai titik akhir
titrasi yaitu 5,9 mL. Selanjutnya titrasi diulang lagi sampai tiga kali dan dihasilkan
volume AgNO3 yang digunakan pada percobaan kedua dan ketiga secara berturutturut adalah 6,0 mL dan 5,8 mL. Sehingga diperoleh normalitas rata-rata AgNO 3
sebesar 0,0158 N.
121. AgNO3(aq) + NaCl(aq) AgCl(s) + NaNO3(aq)
122. 2 AgCl(s) + K2CrO4(aq) Ag2CrO4(aq) + 2 KCl(aq)
123.

Pada

percobaan

kedua,

aplikasi

titrasi

pengendapan

menentukan kadar Cl dalam air kran. Langkah pertama yaitu diukur berat jenis air
kran dengan menggunakan piknometer 25mL. Piknometer kosong ditimbang dengan
menggunakan neraca analitis dan diperoleh berat piknometer kosong sebesar
14,7730 gram. Kemudian mengisi piknometer tersebut dengan air kran sampai
penuh dengan tidak ada gelembung udara di dalamnya lalu piknometer ditutup.
Setelah itu piknometer dan air kran ditimbang dengan menggunakan neraca analitis
dan diperoleh berat piknometer dengan air kran sebesar 39,9519 gram. Sehingga
diperoleh berat jenis untuk air kran adalah sebesar :
(massa piknometer isi) massa piknometer kosong
Volume piknometer
124. =
125.
126.

39,9519 g - 14,7730 g
25 mL
=
g
= 1,007 mL

127. berdasarkan teori, massa air adalah sebesar 0,98 g/mL. Namun pada percobaan
diperoleh massa jenis air kran sebesar 1,007 gr/mL. Selisih 0,027 g/mL. Tetapi hal
ini dapat diabaikan karena selisihnya yang sangat kecil. Sehingga massa jenis air
yang diperoleh dari percobaan ini sudah mendekati hasil teoritis yang ada.

128.

Air kran yang diambil dari Ketintang Baru, dipipet 10mL dan

dimasukkan ke dalam labu ukur 100mL. Lalu diencerkan dengan air suling sampai
1 cm sebelum tanda batas. Lalu ditambahkan air suling perlahan-lahan dengan
pipet tetes sampai tanda batas pada labu ukur. Dikocok sampai menjadi larutan yang
homogen. Kemudian dipipet 10mL air kran yang telah diencerkan menggunakan
pipet seukuran dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Ditambahkan lima tetes
indikator K2CrO4 5% yang berwarna kuning (++). Larutan yang semula tidak
berwarna menjadi berwarna kuning (+). Setelah itu dilakukan titrasi dengan larutan
AgNO3 yang tidak berwarna. Dihentikan titrasi apabila terjadi perubahan warna
larutan dari kuning (+) menjadi merah bata dan ada endapan merah bata. Pada
percobaan pertama, volume AgNO3 yang digunakan untuk titrasi yaitu 1,6 mL.
Selanjutnya diulang titrasi sampai tiga kali. Diperoleh volume AgNO 3 yang
digunakan untuk titrasi pada percobaan kedua dan ketiga secara berturut-turut adalah
1,8 mL dan 1,1 mL. Kemudian dihitung kadar rata-rata Cl dalam air kran. Diperoleh
normalitas rata-rata air kran yaitu 0,0018 N dan kadar Cl dalam air kran sebesar
4,23 %.
129. AgNO3(aq) + NaCl(aq) AgCl(s) + NaNO3(aq)
130. 2 AgCl(s) + K2CrO4(aq) Ag2CrO4(aq) + 2 KCl(aq)
131.
VIII. Kesimpulan
:
132. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Normalitas rata-rata AgNO3 adalah 0,0158 N
2. Kadar Cl dalam air kran yang diambil di Ketintang Baru adalah 4,23 %
IX.
Tugas dan Jawaban Pertanyaan :
133. Titrasi pengendapan :
1.

Buatlah kurva titrasi antara volume AgNO3dan pCl untuk titrasi antara 50 ml 0,1

2.

M larutan NaCl dengan larutan AgNO3 0,1 M


Berapa konsentrasi garam NaCl dalam suatu larutan, apabila 25 ml larutan
tersebut jika direaksikan dengan 25ml.0,2 M larutan AgNO 3 tepat bereaksi habis

dengan larutan KSCN 28ml.0,1 M


134. Jawaban :
1. Pada awal titrasi
135. [Cl-] = 0,1 mmol/mL
136. pCl
=1
137. Setelah penambahan 10 mL AgNO3
AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3
138.
139.
M
1 mmol
5 mmol
140.
B
1 mmol 1 mmol
141. S
4 mmol

142.
143.
144.
145.
146.
147.

148.M

151.
152.
153.

4mmol
2
6,67 x10
[Cl ] = 60mL
pCl = - Log [Cl-]
= 2- Log 6,67
= 1.17
Setelah penambahan 30 mL AgNO3
AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3
3 mmol 5 mmol
149.
B
3 mmol
3 mmol
150.
S
2 mmol
2mmol
0,025
80
mL
[Cl ] =
pCl = - Log [Cl-]
= - Log 0,025

154.
155.
156.

160.
161.
162.
163.
164.
165.

170.

= 1.6
Setelah penambahan 49 mL AgNO3
AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3
157.
M
4,9 mmol
5 mmol
158.
B
4,9 mmol
4,9 mmol
159.
S
0,1 mmol
0,1mmol
3
1x10
[Cl ] = 99mL
pCl = - Log [Cl-]
= 3- Log 1
=3
Setelah penambahan 50 mL AgNO3 (Titik ekivalen)
AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3
166.
M
5 mmol
5 mmol
167.
B
5 mmol
5 mmol
168.
S
+
169.
[Ag ] = [Cl ]
[Cl-]2 = 1 x 10-10
10

1x10

171. [Cl ] =
172.
= 1 x 10-5
173.
pCl= 5,00
174. Setelah penambahan 55 mL AgNO3 (setelah titik ekivalen)
AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3
175.
176.
M
5,5 mmol
5 mmol
177.
B
5 mmol
5 mmol
178.
S
0,5 mmol
0,5mmol
3
4.76 x10
179.
[Ag+] = 105mL
180.
pAg = - Log [Ag+]
181.
= 3 - Log 4.76
182.
= 2.32

183.

pCl= 10 2.32 = 7.68

184.
185.
186.

Setelah penambahan 60 mL AgNO3

187.

188.
189.
190.
191.
192.
193.
194.
195.
196.
197.

AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3


M
6,0 mmol
5 mmol
B
5 mmol
5 mmol
S
1 mmol
1mmol
3
9,09 x10
+
[Ag ] = 110mL
pAg = - Log [Ag+]
= 3 - Log 9,09
= 2,04
pCl= 10 2,04 = 7,96

kurva titrasi
7.96
7.68
10
35
1.6
1.17
1
5
pCl 0

PCl

volume AgNO3

198.
199.
200.
201.
202.
203.
204.
205.
206.
207.
2.
208.
209.

mmol NaCl = 25x mmol


mmol AgNO3 = 5 mmol
210.

211. M
212. B
213. S
214.
215. M
216. B
217. S

NaCl + AgNO3
25x
5
25x
25x
5 25x
AgNO3 + KSCN
5 25x
2,8
2,8
2,8
-

mmol KSCN = 2,8 mmol


AgCl + Na NO3
25x
25x
25x
25x
AgSCN + KNO3
2,8
2,8

2,8
2,8

218.
219.
220.
221.
222.
223.
224.
225.

Konsentrasi garam NaCl :


5 25x = 2,8
25x = 5 2,8
25x = 2,2
x = 2,2
25
= 0,088 M
Jadi Konsentrasi garam NaCl adalah 0,088 M

226. Aplikasi:
1. Bagaimana cara memilih indikator pada titrasi argentometri ?
2. Terangkan bagaimana suatu indikator adsorpsi bekerja. Apa fungsi dekstrin ?
Mengapa pH harus dikendalikan ?
227.
228. Jawaban:
1. Pada titrasi argentometri ada tiga indikiator yang telah sukses dikembangkan
selama ini, yaitu Metode Mohr menggunakan ion kromat, CrO 42-, untuk
mengendapkan Ag2CrO4 coklat. Metode Volhard menggunakan ion Fe3+ untuk
membentuk sebuah kompleks yang berwarna dengan ion tiosianat, SCN -. Dan
Metode Fajans menggunakan indikator-indikator adsorpsi.
2. a. Cara kerja indikator adsorpsi: indikator ini ialah asam lemah atau basa lemah
organik yang dapat membentuk endapan dengan ion perak. Misalnya fluoresein
yang digunakan dalam titrasi ion klorida. Dalam larutan, fluoresein akan mengion
HFI

H+

+ FI-. Ion FI- inilah yang diserap oleh endapan AgX dan

menyebabkan endapan berwarna merah muda. Karena penyerapan terjadi pada


permukaan, dalam titrasi ini diusahakan agar permukaan endapan itu seluas
mungkin supaya perubahan warna juga tampak sejelas mungkin, maka endapan
harus berukuran koloid. Penyerapan terjadi apabila endapan yang koloid itu
bermuatan positif, dengan perkataan lain setelah sedikit kelebihan titrant (ion
Ag+).
229.
230.

b) Dekstrin berfungsi untuk menjaga agar endapan tersebar luas


c) Pengaturan pH perlu, karena jika pH yang digunakan terlalu tinggi,

maka dapat membentuk endapan AgOH yang selanjutnya terurai menjadi Ag 2O


sehingga titrant terlalu banyak terpakai.
231.
X.

Daftar Pustaka
:
232. Day dan Underwood.1998.Analisis Kimia Kuantitatif.Jakarta: Erlangga.
233. Hendayana,Sumar,dkk.2000. Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Terbuka.

234.
235.

Sodiq, Ibnu. 2004. Kimia Analitik. Malang: Universitas Negeri Malang.


Tim Penyusun. 2013. Panduan praktikum Kimia Analitik I Dasar-Dasar
Kimia Analitik. Surabaya: Jurusan Kimia FMIPA Unesa

236.

237.

LAMPIRAN
238.

239. Titrasi Pengendapan


240.

242.

241. Sebelum titrasi :

243. Setelah ditambah 3

Larutan NaCl tidak

tetes indikator K2CrO4

berwarna

larutan menjadi
kuning (+)

244.

245.
246.

Setelah dilakukan titrasi dengan AgNO3 larutan


menjadi berwarna merah bata

247.

LAMPIRAN PERHITUNGAN

a. Penentuan standarisasi larutan AgNO3 0,1 N dengan NaCl p.a sebagai baku
NaCl + AgNO3 AgCl + NaNO3

248.

249.

Massa NaCl = 0,0549 gr

250.

Mr NaCl

= 58,5

251.

V NaCl

= 100 mL = 0.1 L

252. M NaCl

m 1
x
= Mr V

0,0549 1
x
0,0093M
= 58,5 0.1

253. N NaCl = M . n
254.

= 0,0093 x 1

255.

= 0,0093 N

256. V AgNO3 = 1) 5.9 ml

2) 6.0 ml

3) 5.8 ml

257.
258.
259.

Percobaan 1

Molek NaCl=

268. Percobaan 3

Molek

AgNO3
260.

269.

Molek NaCl=

AgNO3

N1V1 = N2V2

261. 0,0093 x 10

270.

N2 x 5.9

N1V1 = N2V2

271. 0,0093 x 10

0,0160 N

272. N2

0,0160 N

263. Percobaan 2
Molek NaCl=

273. Nrata-rata
Molek

AgNO3
265.

N2 x 5.8

262. N2

264.

Molek

N1V1 = N2V2

266. 0,0093 x 10

N2 x 6.0
267. N2

0,0155 N
274.
b. Penentuan kadar Cl- dalam air kran
275.

Massa piknometer = 14.7730 gram

276.

Massa piknometer dan air kran = 39.0519 gram

0,0160 0,0155 0,0160


0,0158 N
3

277.

Massa air kran = 25.1789 gr

278. Volume air kran= 25 mL

25.1789 gr
1,007 gr
mL
25ml
=

279. air kran

280. Ar Cl = 35.5
281. N AgNO3 = 0.0158 N
282. V AgNO3 = 1) 1.6 ml
283.

2) 0.8 ml

3) 1.1 ml

Percobaan 1

284.

293.

molek AgNO3= molek

air kran (Cl-)


285.

Percobaan 3
294.

N1. V1

= N2. V2

molek AgNO3= molek air

kran (Cl-)

286. 0,0158 x 1.6= N2 x 10

295.

287. N2

296. 0,0158 x 1.1= N2 x 10

= 0,0025 N

288. Percobaan 2
289.

N1. V1

297. N2

molek AgNO3= molek

= 0,0017 N
298. Nrata-rata

air kran (Cl-)


290.

N1. V1

292. N2

0,0025 0,0012 0,0017


0,0018 N
3

= N2. V2

291. 0,0158 x 0.8= N2 x 10

= N2. V2

299. Nrata-rata

= 0,0012 N

massaCl
.n
Mr .V
Cl-

300. Massa

Nrata rata.Mr .Vrata rata


n
301. Massa Cl- = 0.0018
Nx 35.5 x 1.67 mL
302.
303.
304.
massaCl
305. % kadar Cl- = massa sampel x faktor pengenceran x 100%
306.

0.1067 gr
= 25.1789 gr x 10 x 100%

307.

= 4.23 %

1
= 0.1067 gr

308.
309.
310.