Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH MAKROEVOLUSI

DISUSUN OLEH :
PRAYOGI WASKITO

(F05112012)

RITA APRILLIA

(F05112010)

SANDRA WELYA

(F05112005)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI PGMIPA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2015

DAFTAR ISI
Halaman depani
Daftar Isi....ii
A.
B.
C.
D.

Pengertian makroevolusi.3
Sifat makroevolusi..4
Pola-pola makroevolusi..4
Bukti-bukti makroevolusi...6

A. Pengertian Makroevolusi
Menurut NABT (2006), makroevolusi merupakan studi evolusi dari waktu ke waktu
geologi(ribuan sampai jutaan tahun). Menurut Carrol (2001), makroevolusi merupakan
perubahan suatu spesies di tingkat lebih atas dari spesies serta pembentukan spesies yang

identik dengan morfologi evolusi. Menurut Levinton (2001), makroevolusi studi yang
berkaitan ekologi dengan skala waktu ekologi dan tersedia hanya penelitian paleontologi
sejarah perubahan.
Makroevolusi adalah skala analisis evolusi yang dipisahkan dari lungkang gen (gen
pool). Dalam genetika populasi, suatu lungkang gen (atau gene pool) adalah populasi yang
menampung berbagai alel yang mungkin tersedia dalam suatu spesies. Populasi menjadi
lungkang gen apabila di dalamnya terdapat keunikan akibat proses saling kawin di
dalamnya terjadi secara tertutup (terisolasi), terpisah dari populasi lain. Kajian
makroevolusi berfokus pada perubahan yang terjadi pada tingkatan spesies atau populasi.
Hal ini berbeda dengan mikroevolusi,yang merujuk pada perubahan evolusi yang kecil
(biasanya dideskripsikan sebagai perubahan pada frekuensi gen atau kromosom) dalam
suatu spesies ataupun populasi. Makroevolusi pertama-tama menyangkut :
1. Suatu penyimpangan adaptif/pergeseran adaptif suatu spesies karena suatu spesies
turunan tersebut masuk ke dalam lingkungan dengan keadaan ekologi yang tidak
identik dengan lingkungan spesies induk. Agar suatu populasi dapat menjadi mantap di
dalam suatu lingkungan baru, maka harus ada keadaan yang menguntungkan terjadi
bersamaan.
Pertama, tidak akan ada pergeseran jika individu yang masuk dalam lingkungan
baru dapat hidup. Ini berarti bahwa perbedaan ekologi antara lingkungan leluhur
dengan lingkungan baru itu tidak boleh besar atau jika perbedaan itu besar seperti
dalam transisi dari air ke darat, hewan baru tersebut harus sudah mengembangkan ciriciri yang diperlukan dalam habitat baru, seperti paru-paru pada vertebrata dalam
transisi air-darat. Hewan yang baru masuk tersebut memerlukan sedikit pre-adaptasi.
Kedua, pergeseran tidak akan berhasil, bahkan pada spesies yang sudah
preadaptif, jika habitat yang akan dihuni spesies baru tersebut tidak mempunyai
makanan atau sumber lain yang belum dimanfaatkan sepenuhnya dalam periode ketika
banyak spesies yang hidup dalam habitat tersebut menjadi penuh
Jika perbedaan lingkungan itu besar, maka populasi yang tergeser harus
mempunyai pre-adaptasi dan habitat yang akan dihuni spesies baru juga harus
mempunyai sumber-sumber yang belum dimanfaatkan sebelumnya.
B. Sifat makroevolusi
Perubahan evolusi jangka panjang dapat berlangsung dengan berbagai cara. Suatu
spesies yang hidup dalam lingkungan yang sedang berubah dapat mengalami seleksi yang
secara perlahan-lahan menggeser nilai rata-rata dan kisaran variasi spesies tersebut kearah
gradien lingkungan. Hal ini disebut spesiasi filetik. Populasi pada awal dan akhir urutan

ini cukup berbeda sehingga ahli biologi membenarkan mengangapnya sebagai spesies
yang berlainan, meskipun menarik garis pemisah antara spesies tersebut merupakan
masalah, kerana generasi tersebut tumpang tindih dalam morfologi dan mungkin juga
dalam reproduksi jadi spesies filetik tidak sama dengan spesies di atas, dimana divergensi
terjadi agak cepat pada populasi kecil yang semiterisolasi oleh perkembangan isolasi
reproduksi
Analisis dari kelompok yang tercatat dengan baik dalam laporan fosil
menggambarkan bahwa spesies baru timbul agak lebih cepat (secara geologi) daripada jika
dengan cara spesiasi normal. Sekali terbentuk spesies baru, maka spesies tersebut tetap
tidak berubah selama jutaan tahun dan kemudian seringkali menjadi punah. Sebelum
punah, spesies turunan bercabang-cabang ke arah yang berbeda-beda. Pola spesies yang
timbul dan tengggelam tiba-tiba ini disebut ekuilibria yang tepat. Arah kemana
percabangan ini diutamakan atau dimana terjadi kepunahan ditentukan oleh keberhasilan
adaptasi pada lingkungan atau oleh faktor yang mempengaruhi laju spesiasi, yang tidak
semunya adaptif; tekanan mutasi; pola distribusi; cara reproduksi yang mempengaruhi
mudahnya suatu spesies terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil yang semiterisolasi
dan kesuburan (Panjaitan, 2008).
C. Pola-pola Makroevolusi
Makroevolusi berfokus pada pembentukan kelompok-kelompok taksonomik baru
diatas tingkat spesies. Walaupun banyak mekanisme sama yang terlibat dalam spesiasi
bekerja juga dalam makroevolusi, rentang waktu yang diperlukan jauh lebih besar. Banyak
yang tidak mengetahui tren luas makroevolusi berasal dari rekaman fosil. Akan tetapi,
perubahan-perubahan dalam sebuah kelompok yang mengarah pada terjadinya modifikasimodifikasi yang tak seberapa drastis pada populasi atau bahkan pembentukan spesies baru
(mikroevolusi) dapat dipelajari melalui pengukuran frekuensi gen dalam populasi. Polapola seleksi mencakup :
1. Seleksi penstabilisasi, dengan ekstrem-ekstrem pada kedua ujung spektrum dideteksi
secara tak proporsional hingga populasi cenderung mengelompok disekitar rata-rata,
walaupun pada setiap dihasilkan variasi
2. Seleksi terarah (directional selection), dengan salah satu ekstrem lebih disukai
daripada ekstrem yang satu lagi, sehingga nilai rata-rata cenderung bergerak ke arah
ekstrem yang lebih disukai
3. Seleksi pendiversifikasi (seleksi disruptif), dengan dua atau lebih suptipe lebih disukai
dan populasi cenderung berevolusi menjadi sebuah subkelompok ataupun spesies baru.

Seleksi pendiversifikasi beroperasi sangat baik pada mikroevolusi maupun


makroevolusi, dan seleksi terarah mirip dengan proses makroevolusioner yang dikenal
sebagai perubahan filetik. Pola-pola dasar perubahan luas pada makroevolusi yang
ditunjukkan oleh rekaman fosil adalah :
1. Perubahan

filetik (anagenesis), perubahan bertahap pada satu garis keturunan

sehingga pada akhirnya keturunannya sangat berbeda dengan nenek moyangnya.


Anagenesis dapat disamakan dengan seleksi terarah dalam jangka waktu yang lama.
2. Kladogenesis, tren makroevolusioner dengan terjadinya percabangan. Sehingga satu
garis keturunan menghasilkan dua atau lebih garis keturunan. Populasi-populasi kecil
yang muncul dari garis keturunan itu dapat berada pada posisi yang sangat memadai
untuk menghasilkan kelompok-kelompok baru. Kladogenesis telah ditekankan sebagai
salah satu pola makroevolusiner utama oleh Ernst Mayr.
3. Radiasi adaptif, pembentukan secara relatif mendadak banyak kelompok baru, yang
mampu bergerak menuju lingkungan baru dan mengeksploitasinya. Diverifikasi yang
relatif cepat dari mamalia awal selama terjadi kepunahan dinosaurus merupakan
contoh yang baik dari diverifikasi semacam itu. Radiasi adaptif menggabungkan sifatsifat kladogenesis dan anagenesis, sebab garis-garis keturunan baru yang terbentuk
selama masa evolusioner yang berubah dengan cepat itu mungkin mengalami transisitransisi yang progresif.
4. Kepunahan, lebih dari 99,99 spesies yang pernah di evolusikan kini tak ada lagi.
Hilangnya keberagaman itu merupakan sifat tak terelakkan dari evolusi pada semua
kingdom. Lingkungan yang berubah membuat organisme yang kemarin fit, tak lagi fit
dan terancam kepunahan (Fried dan Hademenos, 2006).

Gambar (1). Makroevolusi vs mikroevolusi (hcevolution.wikispaces.com)

D. Bukti-bukti makroevolusi
Sebagian besar bukti perubahan evolusi berskala besar (disebut evolusi makro)
bersumber dari peninggalan berupa fosil. Hanya pada fosil kita dapat mengamati evolusi
untuk jangka waktu cukup lama agar bisa mengetahui pola skala besar. Dengan fosil dapat
menunjukkan jatuh bangunnya kelompok pada semua peringkat taksonomi, Species,
Genus datang dan pergi, demikian pula halnya Familia, Ordo dan Classis yang
mengandung spesies itu. Semakin besar kelompok semakin inklusif kelompok tersebut,
tetapi pola bagi semua kelompok sama saja. Kemudian ada kepunahan masal, dimana
beberapa kelompok besar punah pada waktu yang kurang lebih sama. Kita juga dapat
melihat kecenderungan evolusi, menurut garis silsilah, dimana anggota-anggota garis
silsilah tersebut berevolusi secara berkesinambungan pada arah yang sama, melalui
banyak spesies dan selama waktu yang panjang. Seperti itulah gejala evolusi makro.
Paleontologi, biologi perkembangan evolusioner, genomika perbandingan, dan
filostratigrafi genomik berkontribusi terhadap kebanyakan bukti-bukti akan pola-pola dan
proses-proses alam yang dapat diklasifikasikan sebagai makroevolusi. Sebagai contoh
makroevolusi adalah kemunculan bulu selama evolusi burung dari dinosaurus teropoda.
Kehidupan di bumi berevolusi dengan cara bereaksi terhadap perubahan kondisi
geologis. Seperti yang dikatakan oleh seorang ahli paleontologi terkenal, Alfred Roman,
alam telah menghasilkan sejumlah model eksperimental yang dapat menyesuaikan diri
dengan bumi yang selalu berubah. Pada kenyataannya ahli ilmu buni membagi waktu
geologis dengan jalan mengkhususkan interval waktu tertentu terhadap bentuk kehidupan
yang dominan.
Tidak seperti planet-planet lain pada sistem matahari, bumi terus aktif secara
geologis. Sesudah pengendapan dari pengumpulan debu kosmis 4,6 milyar tahun yang
lalu, bahan-bahan dari planet mulai mengatur dirinya menjadi unit-unit yang terus
berinteraksi satu sama lain secara dinamis. Pengumpulan partikel tekanan menyebabkan
bumi memanas sebagai akibat dari friksi (benturan) dan aktivitas radioaktif. Perkiraan
temperatur pada tahap permulaan bumi menunjukkan sekitar 1.000oC. Panas dalam bumi
tetap menjadi sumber energi untuk proses diferensiasi proto bumi yang homogen, untuk
dijadikan komponen yang tetap. Tahap mula dari diferensial adalah mencairnya besi dan
pengerasan sesudahnya dari elemen ini menjadi core/inti yang berdiameter lebih dari
10.000 kilometer.
Ketika pemanasan terus berlangsung, elemen yang lebih ringan naik dan elemen
yang lebih berat tenggelam ke inti bumi. Sementara itu yang mengelilingi inti bumi,

namun berada tepat di bawah lapisan terluar adalah matel (selimut). Lapisan terluar di
atas matel terdiri dari atmosfer, litosfer dan crust/debu-debu halus. Karena perbedaan
temperatur diantara lapisan-lapisan, termo arus convention membentuk apa saja yang
seperti yang dilakukan dalam atosfer. Pergeseran dari arus-arus batu ini merupakan kunci
untuk mengerti mengapa lapisan terluar bumi selalu mengatur kembali dirinya melalui
pergeseran benua, vulkanisme dan daerah-daerah/zona-zona subduction. Fenomena ini
merupakan salah satu bagian dari plate tecnonics. Piringan tektonik merupakan hal
penting untuk mengetahui biostratigrafi bumi. Jika ingin menelusuri sejarah kehidupan
bumi, maka harus kerap kembali pada pembicaraan mengenai piringan tektonis.

DAFTAR PUSTAKA
Fried, George H. dan Hademenos, George J. 2006. Schaums Outlines: Biologi, Edisi Kedua.
Jakarta. PT. Gelora Aksara Pratama.
Panjaitan, Sita. 2008. Makroevolusi. [Online].https://sitapanjaitan.wordpress.com/2008/12/22/makroevolusi/. Diakses pada tanggal 6 Mei 2016
Stearns, Stepen C & Hoekstra, Rolf F. 2003. Evolution an Introduction. New York: Oxford
University Press