Anda di halaman 1dari 6

ABSORPSI PERKUTAN OBAT SECARA IN VITRO

2.1 TUJUAN PERCOBAAN


Untuk mempelajari absorpsi obat secara perkutan secara in vitro.
2.2 PRINSIP

2.3 TEORI
Anatomi dan fisiologis kulit
Kulit merupakan lapisan pelindung tubuh yang sempurna terhadap
pengaruh luar baik fisik ataupun kimia. Kulit berfungsi sebagai sistem epitel pada
tubuh untuk menjaga keluarnya subtansi-subtansi penting dari dalam tubuh dan
untuk mencegah masuknya subtansi-subtansi asing yang berasal dari luar tubuh
untuk masuk ke dalam tubuh. Meskipun kulit relatif permeabel terhadap senyawasenyawa kimia, namun dalam keadaan tertentu kulit dapat ditembus oleh
senyawa-senyawa obat atau bahan-bahan yang diaplikasikan ke permukaanya.
Secara mikroskopik kulit tersusun dari berbagai lapisan yang berbeda-beda,
berturut-turut dari luar kedalam yaitu lapisan epidermis, lapisan dermis yang
tersusun atas pembuluh darah dan pembuluh getah bening dan lapisan jaringan di
bawah kulit berlemak atau yang disebut lapisan hipodermis (Aiache, 1993 dan
Chein, 1987).
Peningkat Penetrasi Perkutan (Penetration Enhancers)
Bahan tambahan yang dapat berfungsi untuk meningkatkan penembusan zat
aktif (penetrant enhancer) terkadang perlu ditambahkan. zat yang dapat
meningkatkan permeabilitas obat menembus kulit tanpa menyebabkan iritasi atau
kerusakan permanen struktur permukaan kulit. Bahan-bahan yang dapat
digunakan sebagai peningkat penetrasi antara lain air, sulfoksida, senyawasenyawa azone, pyrollidones, asam-asam lemak, alkohol danglikol, surfaktan,
urea, minyak atsiri, terpen dan fosfolipid.

Air dapat berfungsi sebagai peningkat penetrasi karena air akan


meningkatkan hidrasi pada jaringan kulit sehingga akan meningkatkan
penghantaran obat baik untuk obat-obat yang bersifat hidrofilik maupun
lipofilik. Adanya air juga akan mempengaruhi kelarutan obat dalam
stratum korneum dan mempengaruhi partisi pembawa ke dalam membran
(Williams dan Barry, 2004).
Pada asam lemak, semakin panjangnya rantai pada asam lemak maka
akan meningkatan penetrasi perkutan. Asam lemak yang biasa digunakan
adalah asam oleat, asam linoleat, dan asam laurat. Asam laurat dapat
meningkatkan penetrasi senyawa yang bersifat hidrofilik maupun
lipofilik. Mekanismenya dengan cara berinteraksi dengan lipid pada
stratum korneum menggunakan konfigurasi cis (Swarbrick dan Boylan,
1995; Williams dan Barry, 2004).
Etanol dapat meningkatkan penetrasi dari levonorgestrel, estradiol, dan
hidrokortison. Efek peningkatan penetrasi etanol tergantung dari
konsentrasi yang digunakan. Fatty alcohol seperti propilen glikol dapat
digunakan

sebagai

peningkat

penetrasi

pada

konsentrasi

1-10%

(Swarbrick dan Boylan, 1995; Williams dan Barry, 2004).


Persyaratan bahan yang digunakan sebagai peningkat penetrasi antara lain
(Williams dan Barry, 2004) :

Tidak toksis, tidak mengiritasi dan tidak menimbulkan alergi


Inert, tidak memiliki sifat farmakologi
Dapat mencegah hilangnya substansi endogen dari dalam tubuh
Dapat bercampur dengan bahan aktif dan bahan pembawa dalam sediaan
Dapat diterima oleh tubuh dan dengan segera dapat mengembalikan fungsi

kulit ketika dihilangkan dari sediaan


Tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau dan relatif murah
Uji difusi in-vitro
Suatu uji perlu dilakukan untuk memperkirakan jumlah obat yang mampu
berdifusi menembus kulit. Uji tersebut dilakukan secara in-vitro menggunakan
bahan dan alat yang mewakili proses difusi obat melewati stratum korneum. Salah
satu metode yang digunakan dalam uji difusi adalah metode flow through. Adapun

prinsip kerjanya yaitu pompa peristaltik menghisap cairan reseptor dari gelas
kimia kemudian dipompa ke sel difusi melewati penghilang gelembung sehingga
aliran terjadi secara hidrodinamis, kemudian cairan dialirkan kembali ke reseptor.
Cuplikan diambil dari cairan reseptor dalam gelas kimia dengan rentang waktu
tertentu dan diencerkan dengan pelarut campur. Kemudian diukur absorbannya
dan konsentrasinya pada panjang gelombang maksimum, sehingga laju difusi
dapat dihitung berdasarkan hukum Fick di atas. Membrane difusi dapat
menggunakan membran sintesis yang menyerupai stuktur stratum korneum
ataupun bisa menggunakan bagian kulit dari hewan uji (membran stratum
korneum ular) (Gummer, 1989).
Absorpsi perkutan
Penggunaam obat dengan mengaplikasikannya pada kulit disebut dengan
pemberian obat secara perkutan. Absorpsi perkutan adalah masuknya molekul
obat dari kulit ke dalam jaringan di bawah kulit, kemudian masuk kedalam
sirkulasi darah dengan mekanisme difusi pasif. Mengacu pada Rothaman,
penyerapan perkutan merupakan gabungan fenomena penembusan senyawa dari
lingkungan luar ke bagian dalam kulit dalam peredaran darah dan kelenjar getah
bening. Istilah perkutan menunjukan bahwa penembusan terjadi pada lapisan
epidermis dan penyerapan dapat terjadi pada lapisan epidermis yang berbeda.
Absorbsi perkutan suatu obat pada umumnya disebabkan oleh penetrasi obat
melalui stratum korneum yang terdiri dari kurang lebih 40% protein (pada
umumnya keratin) dan 40% air dengan lemak berupa trigliserida, asam lemak
bebas, kolesterol dan fosfat lemak.
Stratum korneum adalah lapisan terluar dari kulit yang terpapar ke permukaan
yang masuk ke dalam bagian epidermis kulit. Stratum komeum sebagai jaringan
keratin akan berlaku sebagai membran buatan yang semi permeabel, dan molekul
obat mempenetrasi dengan cara difusi pasif,

jadi jumlah obat yang pindah

menyebrangi lapisan kulit tergantung pada konsentrasi obat.


ASAM SALISILAT

Asam salisilat diabsorpsi melalui kulit dan didistribusikan dalam ruang


ekstraseluler dan kadar plasma maksimum tercapai 6-12 jam setelah pemakaian.
Karena 50-80% dari salisilat terikat pada abumin, maka peningkatan kadar serum
salisilat bebas ditemukan pada pasien dengan hipoalbuminemia. Metabolit dalam
urine dari asam salisilat yang diberikan secara topikal meliputi salicyluric acid dan
glukuronida-glukoronida phenolic dan acyl dari asam salisilat; dan hanya 6% dari
keseluruhan dari asam salisilat yang diekskresi dalam bentuk tidak berubah. Kirakira 95% dari dosis tunggal salisilat diekskresi di dalam urine dalam waktu 24 jam
setelah diabsoprsi. Mekanisme yang menyebabkan asam salisilat menghasilkan
efek-efek keratolitik dan efek-efek terapeutik lainnya belum banyak diketahui.
Obat-obat ini mungkin melarutkan protein-protein permukaan permukaan sel,
menjaga agar stratum korneum tetap utuh, sehingga menghasilkan deskuamasi
pada sisa-sisa keratotik. Asam salisilat bersifat keratolitik pada konsentrasi 3-6%.
Sementara itu, pada konsentrasi yang melebihi 6%, asam salisilat dapat bersifat
destruktif terhadap jaringan-jaringan tubuh
2.4 METODE PERCOBAAN
2.4.1 Alat dan Bahan
Alat:
-

Difusi tipe horizontal (side by side)/ Difusi tipe vertikal


Spektrofotometer Uv-Vis

Bahan :
-

Asam salisilat

Membran milipore yang diimpregnasi dengan isopropyl miristat/ kulit


tikus

2.4.2 prosedur
Disiapkan membrane lipid buatan sebagai membrane difusi, membrane
milipore dipotong dibentuk dengan ukuran besaran lubang cincin penghubung
antar kompartemen aseptor pada sel difusi, impregnasikan membrane selama

15 menit dalam isopropyl miristat ditempatkan membrane tersebut pada kertas


saring untuk menghisap kelebihan lipid selama lebih kurang 5 menit.
Diuji difusi untuk membrane kulit buatan, direndam membrane pada
larutan dapar fosfat untuk proses hidrasi membrane selama 30 menit, diambil
membrane dan tempatkan diantara kompartemen donor dan aseptor,
ditempatkan ring karet atau silicon diantara kompartemen donor dan aseptor
untuk mencegah kebocoran, dipasangkan sel difusi dengan mengencangkan
mur yang ada sehingga terbentuk suatu sistem sel side by side atau vertical,
ditempatkan larutan donor asam salisilat dengan konsentrasi 1,5 mg/ml dalam
air pada kompartemen donor, dijalankan pengaduk magnetic pada kecepaan 20
rpm pada sisi donor dan aseptor, dilakukan pengukuran transport obat ke
kompartemen aseptor pada rentang waktu 0,15, 30, 45, 60 menit, dibuat profil
hubungan antara kumulatif transport terhadap waktu dan tentukan flux
berdasarkan nilai slope pada daerah linear berdasarkan persamaan
Q(t)

flux

*luas

membrane*

waktu,

digunakan

parameter

farmakokinetika asam salisilat T0,5 = 2,5 jam, total klirens = 1,38L/jam(Vree,et


al, 1994, Int J Clin Pharmacol Ther) untuk mempredisikan profil kadar obat
dalam plasma jika diasumsikan :
-

Lag time kinetic asam salisilat in vivo dapat diabaikan

Flux asam salisilat dari donor ke aseptor menggambarkan flux asam


salisilat dari donor menembus kulit menuju plasma

Luas area difusi menggambarkan luas kontak antara sediaan transdermal


dengan permukaan kulit

Pertanyaan
a. Mengapa uji in vitro perlu dilakukan sebelum melakukan uji secara in
vivo?

b. Bagaimanakan kriteria suatu obat agar formulasinya secara transdermal


memberikan tingkat transport yang menjanjikan?

DAFTAR PUSTAKA
Junqueira, L.C., and J. Cameiro. 1981. Basic Histology, 3rd edition. Lange
Medical Publication, Drawer Los Altos, California.
Medidata Indonesia. 2011. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, Edisi 11
2011/2012. Penerbit BIP Kelompok Gramedia, Jakarta.
Said, M.I. 2000. Isolasi dan Identifikasi Kapang serta Pengaruhnya
terhadap Sifat Fisik dan Struktur Jaringan Kulit Kambing Pickle serta Wet Blue
dengan Perlakuan Fungisida Selama Penyimpanan [Tesis], Progam Studi Ilmu
Peternakan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Shargel, L.,Wu, S., dan Yu, Andrew B.C. 2012. Biofarmasetika &
Farmakokinetika Terapan, Edisi kelima. Airlangga University Press, Surabaya.
Webb, J.E., J.A Walwork and J.H. Elgord. 1981. Guide to Living
Reptilians, The Mc Millan Press Ltd., New Delhi.

Anda mungkin juga menyukai