Anda di halaman 1dari 13

DAFTAR ISI

Daftar isi.......................................................................................................................i
I. PENDAHULUAN..................................................................................................1
A. Latar Belakang....................................................................................................1
B. Tujuan.................................................................................................................2
II. TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................................3
III. PEMBAHASAN LEISA.....................................................................................6
IV. PENUTUP..........................................................................................................11
A. Kesimpulan....................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pertanian merupakan sektor yang penting di Indonesia karena


sebagian pendapatan nasional berasal dari hasil ekspor beberapa produk
dari sektor pertanian. Pertanian juga berperan dalam memenuhi kebutuhan
pangan nasional serta merupakan mata pencaharian utama bagi sebagian
besar penduduk Indonesia. Namun, kebanyakan petani berada pada
golongan menengah kebawah. Hal ini disebabkan oleh rendahnya
produktivitas lahan, rendahnya harga hasil pertanian, dan terbatasnya
kesempatan bekerja di luar usaha tani. Pada umumnya, sistem pertanian
yang dilakukan petani bergantung pada pemberian masukan luar yang
cukup tinggi, yaitu berupa pupuk kimia dan pestisida untuk menghasilkan
produksi yang tinggi. Pemberian pupuk kimia yang tinggi tersebut
mengakibatkan terkurasnya beberapa unsur hara dalam tanah atau menjadi
tidak tersedia bagi tanaman sehingga keseimbangan hara tanah terganggu
dan produktivitas tanah menjadi rendah. Kegiatan usaha tani tidak akan
berkelanjutan jika kondisi tersebut terus berlangsung.
Pertanian berkelanjutan mempunyai beberapa prinsip, yaitu :
a. Menggunakan sistem input luar yang efektif, produktif, murah, dan
membuang metode produksi yang menggunakan sistem input dari
industri,
b. Memahami dan menghargai kearifan lokal serta lebih banyak
melibatkan peran petani dalam pengelolaan sumberdaya alam dan
pertanian,
c. Melaksanakan konservasi sumberdaya alam yang digunakan dalam
sistem produksi.
Dalam upaya mengatasi akibat negatif dari sistem pertanian
konvensional, dikembangkan konsep pertanian yang mengupayakan
keberkelanjutan

dengan

meminimalkan

masukan

luar

serta

memperhatikan dampak negatif dari kegiatan pertanian. Konsep pertanian


tersebut dikenal dengan istilah LEISA (Low External Input and
Sustainable Agriculture, pertanian berkelanjutan dengan masukan
eksternal rendah).

LEISA (Low External Input and Sustainable Agriculture) mengacu


pada bentuk-bentuk pertanian yang berusaha mengoptimalkan sumber
daya lokal yang ada dengan mengkombinasikan berbagai macam
komponen sistem usaha tani, yaitu tanaman, hewan, tanah, air, iklim, dan
manusia sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang
paling besar. Yang kedua berusaha mencari cara pemanfaatan input luar
hanya bila diperlukan untuk melengkapi unsur-unsur yang kurang dalam
ekosistem dan meningkatkan sumber daya biologi, fisik, dan manusia.
Dalam memanfaatkan input luar, perhatian utama diberikan pada
maksimalisasi daur ulang dan minimalisasi kerusakan lingkungan.
Pengembangan LEISA (Low External Input and Sustainable Agriculture)
ditengah-tengah sektor pertanian dapat memberikan dampak positif yang
besar bagi semua pihak, termasuk konsumen pertanian, petani dan juga
lingkungan. Besarnya manfaat yang diperoleh dari konsep LEISA (Low
External Input and Sustainable Agriculture) menyebabkan konsep ini
tepat untuk dikembangkan dan dipelajari lebih lanjut untuk mendukung
kemajuan dunia pertanian.
B. Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor yang
mempengarui

pertanian

berkelanjutan,

mengetahui

pengembangan

pertanian berkelanjutan dengan konsep LEISA (Low External Input and


Sustainable

Agriculture)

dan

mengetahui

manfaat

LEISA

bagi

keberlanjutan pertanian.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) adalah pemanfaatan sumber


daya yang dapat diperbaharui (renewable resources) dan sumberdaya tidak dapat
diperbaharui (unrenewable resources) untuk proses produksi pertanian dengan

menekan dampak negatif terhadap lingkungan seminimal mungkin. Keberlanjutan


yang dimaksud meliputi : penggunaan sumberdaya, kualitas dan kuantitas produksi,
serta lingkungannya. Proses produksi pertanian yang berkelanjutan akan lebih
mengarah pada penggunaan produk hayati yang ramah terhadap lingkungan
(Kasumbogo, 1997).
LEISA (Low External Input and Sustainable Agriculture) adalah pertanian
yang mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam dan manusia setempat/lokal,
layak secara ekonomis, mantap secara ekologis, sesuai dengan budaya, adil secara
sosial, dan input luar hanya sebagai pelengkap. Konsep LEISA (Low External Input
and Sustainable Agriculture ) merupakan penggabungan dua prinsip yaitu
agroekologi

serta

pengetahuan

dan

praktek

pertanian

masyarakat

setempat/tradisional. Agroekologi merupakan studi holistik tentang ekosistem


pertanian termasuk semua unsur lingkungan dan manusia. Dengan pemahaman akan
hubungan dan proses ekologi, agroekosistem dapat dimanipulasi guna peningkatan
produksi agar dapat menghasilkan secara berkelanjutan, dengan mengurangi dampak
negatif yang ditimbulkan bagi lingkungan maupun sosial serta meminimalkan input
eksternal. Konsep ini menjadi salah satu dasar bagi pengembangan pertanian yang
berkelanjutan (Putri, 2012).
Metode LEISA (Low External Input and Sustainable Agriculture) tidak
bertujuan memaksimalkan produksi dalam jangka pendek, namun untuk mencapai
tingkat produksi yang stabil dan memadai dalam jangka panjang. LEISA (Low
External Input and Sustainable Agriculture ) berupaya mempertahankan dan sedapat
mungkin meningkatkan potensi sumber daya alam serta memanfaatkannya secara
optimal. Pada prinsipnya, hasil produksi yang keluar dari sistem atau dipasarkan
harus diimbangi dengan tambahan unsur hara yang dimasukkan ke dalam sistem
tersebut. Dengan metode LEISA (Low External Input and Sustainable Agriculture),
kekhawatiran penurunan produktivitas secara drastis dapat dihindari. Model LEISA 3
(Low External Input and Sustainable Agriculture ) masih menjaga toleransi
keseimbangan antara pemakaian input internal dan input eksternal, misalnya
penggunaan pupuk organic diimbangi dengan pupuk TSP, pemakaian pestisida hayati

dilakukan bersama-sama dengan pestisida sintesis, teknologi spesifik lokalitas


disandingkan dengan teknologi canggih, dan sabagainya (Salikin, 2003).
Prinsip-prinsip ekologi dasar pada LEISA (Low External Input and
Sustainable Agriculture) bisa dikelompokkan sebagai berikut (Reijntjes et al, 1999):
1. Menjamin kondisi tanah yang mendukung bagi pertumbuhan tanaman,
khususnya dengan mengelola bahan-bahan organik dan meningkatkan
kehidupan dalam tanah.
2. Mengoptimalkan ketersediaan unsur hara dan menyeimbangkan arus unsur
hara, khususnya melalui peningkatan nitrogen, pemompaan unsur hara, daur
ulang dan pemanfaatan pupuk luar sebagai pelengkap.
3. Meminimalkan kerugian sebagai akibat radiasi matahari, udara, dan air
dengan cara pengelolaan iklim mikro, pengelolaan air, dan pengendalian erosi.
4. Meminimalkan serangan hama dan penyekit terhadap tanaman dan hewan
melalui pencegahan dan perlakuan yang aman.
5. Saling melengkapi dan sinergi dalam penggunaan sumber daya genetik yang
mencukupi penggabungan dalam sistem pertanian terpadu dengan tingkat
keanekaragaman fungsional yang tinggi.
LEISA dipilih sebagai kebijakan alternatif karena beberapa kelebihannya.
Secara teknologis, sistem pertanian LEISA berpotensi mengurangi ketergantungan
petani pada pembelian berbagai input eksternal pertanian sehingga dapat
memperbesar keuntungan petani. Bahkan, dari sudut penambahan lapangan kerja dan
diversifikasi usaha, LEISA diyakini berpotensi membangkitkan kekuatan vital untuk
menghidupkan kembali daerah pedesaan. Di pihak lain, sistem LEISA diyakini dapat
membawa dampak yang menguntungkan masyarakat, seperti pengurangan kerusakan
lingkungan akibat erosi tanah dan pencemaran bahan kimia terhadap air, tanah dan
udara, penghematan bahan bakar fosil (minyak bumi), serta pemeliharaan
keberlanjutan pertanian bagi generasi di masa depan (Mangoting, 1998).
Suatu konsep utama dalam ekologi adalah relung, yaitu fungsi atau peran
suatu organisme dalam ekosistem serta sumber daya kehidupannya yang menentukan
kesempatannya untuk bertahan hidup dan pengaruh positif dan negatifnya terhadap
komponen lain. Agroekosistem dengan banyak relung yang berbeda dan ditempati

oleh beragam jenis spesies cenderung lebih stabil daripada yang ditempati oleh hanya
satu spesies. Pemanfaatan keanekaragaman fungsional sampai pada tingkat yang
maksimal mengakibatkan sistem pertanian yang kompleks dan terpadu yang
menggunakan sumber daya dan input yang ada secara optimal. Tantangannya adalah
menentukan kombinasi tanaman, hewan dan input yang mengarah pada produktivitas
yang tinggi, keamanan produksi serta konservasi sumber daya yang relatif sesuai
dengan keterbatasan lahan, tenaga kerja dan modal (Reijntjes et al, 1999).

III. PERTANIAN BERKELANJUTAN DENGAN MASUKAN EKSTERNAL


RENDAH Low External Input and Sustainable Agriculture (LEISA)
5
Pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai pembangunan yang
memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa mengorbankan kesanggupan generasi
mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Pertanian berkelanjutan adalah
keberhasilan dalam mengelola sumberdaya untuk kepentingan pertanian dalam

memenuhi kebutuhan manusia, sekaligus mempertahankan dan meningkatkan


kualitas lingkungan serta konservasi sumberdaya alam. Pertanian berwawasan
lingkungan selalu memperhatikan nasabah tanah, air, manusia, hewan/ternak,
makanan, pendapatan dan kesehatan. Sedang tujuan pertanian yang berwawasan
lingkungan

adalah

mempertahankan

dan

meningkatkan

kesuburan

tanah,

meningkatkan dan mempertahankan basil pada aras yang optimal, mempertahankan


dan meningkatkan keanekaragaman hayati dan ekosistem, dan yang lebih penting
untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan penduduk dan makhluk hidup
lainnya.
Sistem pertanian berkelanjutan harus dievaluasi berdasarkan pertimbangan
beberapa kriteria, antara lain:
1. Aman menurut wawasan lingkungan, berarti kualitas sumberdaya alam dan
vitalitas keseluruhan agroekosistem dipertahankan/mulai dari kehidupan
manusia, tanaman dan hewan sampai organisme tanah dapat ditingkatkan. Hal
ini dapat dicapai apabila tanah terkelola dengan baik, kesehatan tanah dan
tanaman ditingkatkan, demikian juga kehidupan manusia maupun hewan
ditingkatkan melalui proses biologi. Sumberdaya lokal dimanfaatkan
sedemikian rupa sehingga dapat menekan kemungkinan terjadinya kehilangan
hara,

biomassa

dan

energi,

dan

menghindarkan

terjadinya

polusi.

Menitikberatkan pada pemanfaatan sumberdaya terbarukan.


2. Menguntungkan secara ekonomi, berarti petani dapat menghasilkan sesuatu
yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri/ pendapatan, dan cukup
memperoleh pendapatan untuk membayar buruh dan biaya produksi lainnya.
Keuntungan menurut ukuran ekonomi tidak hanya diukur langsung
berdasarkan hasil usaha taninya, tetapi juga berdasarkan fungsi kelestarian

sumberdaya dan menekan kemungkinan resiko yang terjadi terhadap


lingkungan.
3. Adil menurut pertimbangan sosial, berarti sumberdaya dan tenaga tersebar
sedemikian rupa sehingga kebutuhan dasar semua anggota masyarakat dapat
terpenuhi, demikian juga setiap petani mempunyai kesempatan yang sama

dalam memanfaatkan lahan, memperoleh modal cukup, bantuan teknik dan


memasarkan hasil. Semua orang mempunyai kesempatan yang sama
berpartisipasi dalam menentukan kebijkan, baik di lapangan maupun dalam
lingkungan masyarakat itu sendiri.
4. Manusiawi terhadap semua bentuk kehidupan, berarti tanggap terhadap semua
bentuk kehidupan (tanaman, hewan dan manusia) prinsip dasar semua bentuk
kehidupan adalah saling mengenal dan hubungan kerja sama antar makhluk
hidup adalah kebenaran, kejujuran, percaya diri, kerja sama dan saling
membantu. Integritas budaya dan agama dari suatu masyarakat perlu
dipertahankan dan dilestarikan.
5. Dapat dengan mudah diadaptasi, berarti masyarakat pedesaan/petani mampu
dalam menyesuaikan dengan perubahan kondisi usahatani: pertambahan
penduduk, kebijakan dan permintaan pasar. Hal ini tidak hanya berhubungan
dengan masalah perkembangan teknologi yang sepadan, tetapi termasuk juga
inovasi sosial dan budaya.Kekuatan utama sistem pertanian terletak pada
integrasi fungsional dari beragam sumber daya dan teknik pertanian. Dengan
mengintegrasikan beragam fungsi pemanfaatan lahan (misalnya memproduksi
bahan pangan, kayu, dan sebagainya, mengkonservasi tanah dan air,
melindungi

tanaman,

dan

mempertahankan

kesuburan

tanah)

serta

pemanfaatan beragam komponen biologis (ternak besar dan ternak kecil,


tanaman

pangan,

hijauan

makanan

ternak,

padang

rumput

alami,

pohon,rempah-rempah, pupuk hijau, dan sebagianya), stabilitas dan


produktivitas sistem usaha tani sebagai suatu keseluruhan bisa ditingkatkan
dan basis sumber daya alam bisa dikonservasikan.
Konservasi merupakan faktor yang penting dalam pertanian berwawasan
lingkungan. Konservasi sumberdaya terbarukan berarti sumberdaya tersebut harus
dapat difungsikan secara berkelanjutan (continous). Sekarang kita sudah mulai sadar
tentang potensi teknologi, kerapuhan lingkungan, dan kemampuan budidaya manusia
untuk merusak lingkungan tersebut. Suatu hal yang perlu dicatat bahwa ketersediaan
sumberdaya adalah terbatas. Pada dasarnya konservasi lahan diarahkan untuk

memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi hidrologis, menjaga


kelestarian sumber air, meningkatkan sumber daya alam serta memperbaiki kualitas
lingkungan hidup yang pada gilirannya meningkatkan produksi dan pendapatan
petani melalui usaha tani yang berkelanjutan.
Tidak ada satu metode pertanian yang secara tunggal memiliki kunci
keberlanjutan. Sistem pertanian apa pun, apakah itu padat bahan kimia atau
alamiah di lihat dari berbagai sudut pandang bersifat melestarikan sumber daya,
sedangkan dari sudut lain bersifat boros, tidak berwawasan lingkungan atau
mencemarkan. Sudah sering dipertanyakan berapa lama energi dari luar dan suplai
unsur hara, bahan bakar minyak, petrokimia dan pupuk mineral dari luar dapat
dipertahankan. Namun dengan langsung mengganti anternatif nonkimia belum tentu
akan membuat pertanian lebih berkelanjutan. Misalnya penggunaan pupuk kandang
secara tidak bijaksana dapat mencemarkan tanah dan permukaan seburuk
pencemaran yang ditimbulkan oleh penggunaan pupuk kimia secara berlebihan.
Begitu pula pemakaian pestisida yang dibuat dari tumbuhan bisa sama bahayanya
dengan pestisida kimia.
Suatu konsensus telah dikembangkan untuk mengantisipasi pertanian
berkelanjutan. Sistem produksi yang dikembangkan berasaskan LEISA (Low
External Input Sustainable Agriculture) yang kalau diterjemahkan sebagai (Pertanian
Berkelanjutan dengan masukan dari luar usahatani rendah). LEISA adalah pertanian
yang mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam dan manusia yang tersedia
ditempat (seperti tanah, air, tumbuhan, tanaman, dan hewan atau ternak setempat,
manusia, pengetahuan dan keterampilan) dan secara ekonomi maupun ekologis
bermanfaat disesuaikan menurut kondisi setempat (Reijntjes, 2003). Kebijakan
LEISA, secara konseptual mempunyai dua tujuan utama yaitu memperbesar
pendapatan (petani) serta memelihara lingkungan melalui pembangunan suatu sistem
atau praktek pertanian terpadu. Konsep ini dapat dijabarkan menjadi beberapa rakitan
operasional, antara lain: meningkatkan produktivitas, melaksanakan konservasi energi
dan sumberdaya alam, mencegah terjadinya erosi dan membatasi kehilangan unsur

hara, meningkatkan keuntungan usahatani, memantapkan dan keterlanjutan


konservasi serta sistem produksi pertanian.
LEISA (Low external input sustainable agriculture) merupakan suatu pilihan
yang layak bagi petani dan bisa melengkapi bentuk-bentuk lain produksi pertanian.
Karena sebagian besar petani tidak mampu untuk memanfaatkan input buatan itu atau
hanya dalam jumlah yang sangat sedikit, maka perhatian perlu dipusatkan
pada teknologi yang bisa memanfaatkan sumber daya lokal secara efisien. Petani
yang kini menerapkan HEIA, bisa saja mengurangi pencemaran dan biaya serta
meningkatkan efisiensi inputluar dengan menerapkan beberapa teknik LEISA.
LEISA mengacu pada bentuk-bentuk pertanian sebagai berikut:
1. Berusaha

mengoptimalkan

sumber

daya

lokal

yang

ada

dengan

mengkombinasikan berbagai macam komponen sistem usaha tani, yaitu


tanaman, hewan, tanah, air, iklim, dan manusia sehingga saling melengkapi
dan memberikan efek sinergi yang paling besar.
2. Berusaha mencari cara pemanfaatan input luar hanya bila diperlukan untuk
melengkapi unsur-unsur yang kurang dalam ekosistem dan meningkatkan
sumber daya biologi, fisik, dan manusia. Dalam memanfaatkan input luar,
perhatian utama diberikan pada maksimalisasi daur ulang dan minimalisasi
kerusakan lingkungan.
LEISA

(Low

external

input

sustainable agriculture)

tidak

bisa

dipresentasikan sebagai solusi mutlak terhadap masalah-masalah pertanian dan


lingkungan yang mendadak di dunia ini, tetapi LEISA bisa memberikan kontribusi
yang berharga untuk memecahkan beberapa permasalahan tersebut: LEISA terutama
merupakan suatu pendekatan pada pembangunan pertanian yang ditujukan pada
situasi di daerah-daerah pertanian tadah hujan yang terabaikan oleh pendekatanpendekatan konvensional.

10

IV. PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertanian berkelanjutan diantaranya
keseimbangan penggunaan input-input eksternal dengan pemanfaatan
anggota ekosistem yang ada di lahan pertanian.
2. Pengembangan pertanian berkelanjutan dengan konsep LEISA sangat baik
diterapkan di berbagai jenis lahan pertanian baik tadah hujan maupun
dengan system irigasi semi teknis dan teknis, karena konsep pembangunan
ini

memenuhi

kebutuhan

masa

sekarang

tanpa

mengorbankan

kesanggupan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka


3. Manfaat LEISA bagi keberlanjutan pertanian adalah mengupayakan agar
kegiatan bercocok tanam dapat dilakukan secara kontinyu bukan hanya
pada saat ini dengan mementingkan pemaksimalan produksi, namun
LEISA mengutamakan kestabilan lahan untuk terus-menerus berproduksi
meski dalam jumlah yang tidak fantastis.

11

DAFTAR PUSTAKA
Kasumbogo, Untung. 1997 Peranan Pertanian Organik Dalam Pembangunan yang
Berwawasan Lingkungan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian:
Jakarta.
Mangoting, D. 1998. Agenda Reformasi Kebijakan di Sektor Pertanian. Wacana: 4-7.
Putri, F. 2012. Pertanian yang Berkelanjutan. <http://bbpp-lembang.info/artikelpertanian/pertanian-yang-berkelanjutan>. Diakses pada 21 September 2014.
Reijntjes, C., B. Haverkort, and A. W. Bayer. 1999. Pertanian Masa Depan. Kanisius,
Yogyakarta.
Reijntjes, Bertus H dan Ann W. 2003. Pertanian masa depan. Kanisius. Jakarta.
Salikin, K. A. 2003. Sistem Pertanian Berkelanjutan. Kanisius, Yogyakarta.