Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Trauma yang terjadi pada kecelakaan lalu-lintas memiliki banyak bentuk,
tergantung dari organ apa yang dikenai. Trauma semacam ini, secara lazim, disebut
sebagai trauma benda tumpul ( trauma multiple). Ada tiga trauma yang paling sering
terjadi dalam peristiwa ini, yaitu cedera kepala, trauma thorax (dada) dan fraktur
(patah tulang) (American College of Surgeon Committe on Trauma, 2004).
Secara umum, fraktur terbuka bisa diketahui dengan melihat adanya tulang yang
menusuk kulit dari dalam, biasanya disertai perdarahan. Adapun fraktur tertutup, bisa
diketahui dengan melihat bagian yang dicurigai mengalami pembengkakan, terdapat
kelainan bentuk berupa sudut yang bisa mengarah ke samping, depan, atau belakang.
Selain itu, ditemukan nyeri gerak, nyeri tekan dan perpendekan tulang. (American
College of Surgeon Committe on Trauma, 2004).
Trauma kedua yang paling sering terjadi dalam sebuah kecelakaan adalah fraktur
(patah tulang). Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan
tulang yang umumnya disebabkan oleh tekanan atau rudapaksa. Fraktur dibagi atas
fraktur terbuka, yaitu jika patahan tulang itu menembus kulit sehingga berhubungan
dengan udara luar, dan fraktur tertutup, yaitu jika fragmen tulang tidak berhubungan
dengan dunia luar (American College of Surgeon Committe on Trauma, 2004).
Trauma terakhir yaitu trauma kepala, terutama jenis berat, merupakan trauma
yang memiliki prognosis (harapan hidup) yang buruk. Hal ini disebabkan oleh karena
kepala merupakan pusat kehidupan seseorang. Di dalam kepala terdapat otak yang
mengatur seluruh aktivitas manusia, mulai dari kesadaran, bernapas, bergerak,
melihat, mendengar, mencium bau, dan banyak lagi fungsinya. Jika otak terganggu,
maka sebagian atau seluruh fungsi tersebut akan terganggu. Gangguan utama yang
paling sering terlihat adalah fungsi kesadaran. Itulah sebabnya, trauma kepala sering
diklasifikasikan berdasarkan derajat kesadaran, yaitu trauma kepala ringan, sedang,

dan berat. Makin rendah kesadaran seseorang makin berat derajat trauma kepala
(American College of Surgeon Committe on Trauma, 2004).
Cedera kepala atau yang disebut dengan trauma kapitis adalah ruda paksa
tumpul/tajam pada kepala atau wajah yang berakibat disfungsi cerebral sementara.
Merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia
produktif, dan sebagian besar karena kecelakaan lalu lintas. Hal ini diakibatkan
karena mobilitas yang tinggi di kalangan usia produktif sedangkan kesadaran untuk
menjaga keselamatan di jalan masih rendah, disamping penanganan pertama yang
belum benar-benar, serta rujukan yang terlambat.
Di Indonesia kajadian cidera kepala setiap tahunnya diperkirakan mencapai
500.000 kasus. Dari jumlah diatas, 10% penderita meninggal sebelum tiba di rumah
sakit.80% di kelompokan sebagai cedera kepala ringan, 10% termasuk cedera sedang
dan 10% termasuk cedera kepala berat.
Cedera kepala merupakan keadaan yang serius, sehingga diharapkan para dokter
mempunyai pengetahuan praktis untuk melakukan pertolongan pertama pada
penderita. Tindakan pemberian oksigen yang adekuat dan mempertahankan tekanan
darah yang cukup untuk perfusi otak dan menghindarkan terjadinya cedera otak
sekunder merupakan pokok-pokok tindakan yang sangat penting untuk keberhasilan
kesembuhan penderita.Sebagai tindakan selanjutnya yang penting setelah primary
survey adalah identifikasi adanya lesi masa yang memerlukan tindakan pembedahan,
dan yang terbaik adalah pemeriksaan dengan CT Scan kepala.
Pada penderita dengan cedera kepala ringan dan sedang hanya 3%-5% yang
memerlukan tindakan operasi kurang lebih 40% dan sisanya dirawat secara
konservatif. Pragnosis pasien cedera kepala akan lebih baik bila penatalaksanaan
dilakukan secara tepat dan cepat. Adapun pembagian trauma kapitis adalah: Simple
head injury, Commutio cerebri, Contusion cerebri, Laceratio cerebri, Basis cranii
fracture.
Simple head injury dan Commutio cerebri sekarang digolongkan sebagai cedera
kepala ringan, sedangkan Contusio cerebri dan Laceratio cerebri digolongkan
sebagai cedera kepala berat. Pada penderita korban cedera kepala, yang harus

diperhatikan adalah pernafasan, peredaran darah dan kesadaran, sedangkan tindakan


resusitasi, anamnesa dan pemeriksaan fisik umum dan neurologist harus dilakukan
secara serentak. Tingkat keparahan cedera kepala harus segera ditentukan pada saat
pasien tiba di Rumah Sakit.
Berdasarkan fenomena tersebut penulis merasa tertarik untuk melakukan suatu
kajian studi kasus pada klien dengan CEDERA KEPALA yang dirawat di ruang ICU
RSUD Ulin Banjarmasin.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Menerapkan asuhan keperawatan klien cedera kepala berat pada Tn. R di Ruang
ICU RSUD Ulin Banjarmasin.
2. Tujuan khusus
a) Memaparkan konsep cedera kepala.
b) Memaparkan konsep primer survey dan sekunder survey pada pasien cedera
kepala.
c) Melakukan pengkajian pada Tn. R dengan cedera kepala.
d) Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada Tn Tn. R dengan cedera
kepala.
e) Menyusun intervensi keperawatan pada Tn. R dengan cedera kepala.
C. Metode Penulisan
Penulisan ini menggunakan metode studi kasus, dengan pendekatan proses
keperawatan. Sedangkan teknik yang digunakan dalam penulisan adalah sebagai
berikut :
1. Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan adalah cara penelitian dengan mengumpulkan data secara
komprehensif untuk mendapatkan data atau bahan yang berhubungan dengan pasien
cedera kepala serta Penanganan Primer dan Sekunder pada cedera kepala dalam
rangka mendapatkan dasar teoritis dengan jalan membaca buku catatan kuliah,
makalah literature atau referensi.

2. Tinjauan Kasus
Dengan cara mengadakan observasi dan partisipasi pada pasien yang dirawat
di Rumah Sakit Ulin Banjarmasin.
3. Dokumenter
Data yang diambil dari catatan medis untuk menyesuaikan melaksanakan
kegiatan teori dengan tehnik studi dokumenter ini akan lebih mendukung kepada data
yang telah diambil dengan cara lain sebagai data yang diperoleh lebih bisa dipercaya.
4. Komunikasi atau Wawancara
Komunikasi atau wawancara yaitu dengan mengadakan wawancara dengan
klien maupun keluarganya ataupu saksi dalam rangka mengumpulkan data mengenai
kejadian dan riwayat kesehatan pasien tersebut.