Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
PETUNJUK
Untuk mempelajari materi bahasan pada bab ini dengan lebih seksama, maka anda
harus memperhatikan terlebih dahulu urutan langkah-langkah berikut ini :
1. Perhatikan dengan seksama judul / topik pada pokok bahasan ini.
2. Perhatikan dengan seksama rumusan Tujuan Umum Pembelajaran (TUP) dan
rumusan pada butir-butir Tujuan Khusus Pembelajaran.
3. Perhatikan epitome (kerangka isi) pada materi bahasan ini dengan seksama.
4. Pelajari uraian materi/isi pelajaran dengan urutan yang jelas dan tepat.
5. Perhatikan ringkasan materi pelajaran pada rangkuman
6. Untuk lebih memperdalam penguasaan terhadap isi pelajaran tersebut, maka
kerjakanlah soal-soal latihan secara keseluruhan, agar dapat mengetahui tingkat
pencapaian TKP-nya.
7. Sebelum mengerjakan soal-soal latihan, terlebih dahulu perhatikan petunjuk
pengerjaan yang ada pada setiap bentuk soal.
8. Selanjutnya kerjakan tugas-tugas.
9. Untuk memperluas pengetahuan pelajari sumber-sumber buku acuan.

TUJUAN PEMBELAJARAN

Tujuan pembelajaran ini meliputi Tujuan Umum Pembelajaran (TUP) dan Tujuan
Khusus Pembelajaran (TKP).
Tujuan Umum Pembelajaran (TUP)
Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian, manfaat dan bahaya tegangan tinggi
Tujuan Khusus Pembelajaran (TKP)
Setelah mempelajari materi pokok bahasan ini, mahasiswa diharapkan akan dapat :
1. Menjelaskan pengertian tegangan tinggi
2. Menyebutkan jenis-jenis peralatan tegangan tinggi
3. Menjelaskan manfaat tegangan tinggi
4. Mengetahui permasalahan dan bahaya tegangan tinggi

EPITOME
PENDAHULUAN

PENGERTIAN
TEGANGAN TINGGI
1.1

MASALAH
PENERAPAN
TEGANGAN TINGGI
PADA TRANSMISI
1.2

DASAR-DASAR
PENGUJIAN
TEGANGAN TINGGI
1.3

URAIAN MATERI
I.1. PENGERTIAN TEGANGAN TINGGI
Yang disebut tegangan tinggi dalam dunia teknik tenaga listrik ( electric power
engineering ) ialah semua tegangan yang dianggap cukup tinggi oleh para teknisi listrik
sehingga diperlukan pengujian dan pengukuran dengan tegangan tinggi yang semuanya
bersifat khusus dan memerlukan teknik-teknik tertentu ( subyektif ), atau dimana gejalagejala tegangan tinggi mulai terjadi ( obyektif ).
Secara teknik, klasifikasi yang umum dari tegangan tinggi adalah sebagai berikut:
1. Tegangan tinggi ( High Voltage = HV ).
Meliputi tegangan sistem : 20 kV, 30 kV, 70 kV dan 150 kV s/d 235 kV
2. Tegangan tinggi sekali ( Extra High Voltage = EHV ).
Meliputi tegangan sistem : > 235 kV, 400 kV dan 500 kV ( s/d < 750 kV)
3. Tegangan ultra tinggi ( Ultra High Voltage = UHV ).
Meliputi tegangan sistem : > 750 kV ke atas. ( 900 kV, 1200 kV, 1500 kV)
Batas-batas yang menyatakan kapan suatu tegangan dianggap tinggi, berbeda untuk
setiap negara atau perusahaan tenaga listrik, tergantung dari kemajuan tekniknya atau
kemajuan suatu negara, klasifikasi tegangan menurut International Electrotechnical

Commission ( IEC Standard, 1983 ) seperti dapat kita lihat pada Tabel 1.1 dan tegangan
menurut standard Indonesia pada Tabel 1.2.
Salah satu faktor yang menentukan tingginya tegangan transmisi yang dipakai
tergantung kepada besarnya tenaga yang harus disalurkan dari pusat-pusat listrik ke pusat
beban ( load centres ), dan jarak yang harus ditempuh untuk memindahkan tenaga
tersebut secara ekonomis.
Tabel 1.1. Tegangan Operasi Standard Europe dan USA.
Nominal Line Voltage
Europe ( 50 Hz ) USA ( 60 Hz )
220 / 240
120 (1-ph)
380 / 415
208
Low ( LV ) ( Volt )
650
600
1000
2,4
5
6,9
11
12,47
Medium ( MV ) ( kV )
22
23
33
34,5
66
69
110
115
132
138
High ( HV ) ( kV )
156
161
220
230
275
287
380
345
Extrahigh ( EHV ) ( kV )
400
500
800
765
Ultra High ( UHV ) ( kV )
1150
Voltage Class

Tabel 1.2. Tegangan Operasi Standard Indonesia


Voltage Class

Nominal Line Voltage


Indonesia ( 50 Hz )
380 / 220
220 / 127
6
12
20
66
150
275
500
-

Low ( LV ) ( Volt )
Medium ( MV ) ( kV )
High ( HV ) ( kV )
Extrahigh ( EHV ) ( kV )
Ultra High ( UHV ) ( kV )

Teganga tinggi yang diterapkan atau dialami oleh sistem tenaga dapat berupa :
1. Tegangan biasa ( normal ) yaitu tegangan yang seharusnya dapat ditahan oleh sistem
oleh waktu yang tak terhingga.
2. Tegangan lebih ( overvoltage ), yaitu tegangan yang hanya dapat ditahan oleh sistem
untuk waktu terbatas.
Tegangan lebih dapat dibagi menjadi dua golongan berdasarkan bentuknya, yakni
tegangan priodik dan a-priodik, atau menjadi dua golongan berdasarkan sebabnya,
yakni sebab luar ( external overvoltage ), misal petir, dan sebab dalam ( internal
overvoltage ), misal switching surges.

I.2. MASALAH PENERAPAN TEGANGAN TINGGI PADA


TRANSMISI
Meskipun peninggian tegangan transmisi akan mengurangi rugirugi daya,
peninggian tegangan itu tetap ada batasnya, karena tegangan tinggi menimbulkan
beberapa masalah, antara lain :
1. Tegangan tinggi dapat menimbulkan korona pada kawat transmisi. Korona ini dapat
menimbulkan rugi-rugi daya dan dapat menimbulkan gangguan terhadap komunikasi
radio.
2. Jika tegangan transmisi semakin tinggi, maka peralatan transmisi dan gardu induk
membutuhkan isolasi yang volumenya semakin banyak agar peralatan mampu
memikul tegangan tinggi tersebut. Hal ini mengakibatkan kenaikan biaya investasi.
3. Saat terjadi pemutusan dan penutupan rangkaian transmisi ( switcing operation ,
timbul tegangan lebih surja hubung sehingga peralatan sistem tenaga listrik harus
dirancang mampu memikul tegangan lebih tersebut. Hal ini juga mengakibatkan
kenaikan biaya.
4. Jika tegangan transmisi ditinggikan, maka menara transmisi harus semakin tinggi
untuk menjamin keselamatan makhluk hidup disekitar transmisi. Peninggian menara
transmisi mengakibatkan transmisi mudah disambar petir. Sambaran petir pada
transmisi akan menimbulkan tegangan lebih surja petir pada sistem tenaga listrik ,
sehingga peralatan sistem tenaga listrik harus dirancang mampu memikul tegangan
lebih tersebut.

5. Peralatan sistem perlu diperlengkapi dengan peralatan proteksi untuk menghindarkan


kerusakan akibat adanya tegangan lebih surya hubung dan surya petir. Penambahan
peralatan proteksi ini menambah biaya investasi dan perawatan
6. Sosial, dinegara barat terutama faktor sosial sangat diperhatikan, dan tidak akan
memasang jaringan tegangan tinggi pada daerah penduduk yang padat.
Keenam hal tersebut diatas memberi kesimpulan, bahwa peninggian tegangan
tarnsmisi

akan

menambah

sebelumnya bahwa

biaya investasi dan perawatan.Tetapi telah dijelaskan

mempertinggi

tegangan transmisi akan mengurangi kerugian

daya. Pada Gambar I.1 ditunjukkan kurva yang menyatakan biaya total sebagai fungsi
tegangan transmisi. Terlihat bahwa ada suatu harga tegangan transmisi yang memberi
biaya total minimal. Tegangan ini disebut tegangan optimum.
Biaya Total

Biaya

Biaya Investasi
Peralatan
Biaya Rugi-Rugi
Daya
Tegangan Optimal

kV

Gambar1.1. Hubungan Biaya Dengan Tegangan Transmisi

I.3. DASAR-DASAR PENGUJIAN TEGANGAN TINGGI


Sebagai pengantar untuk bab-bab berikutnya maka disini akan diuraikan sedikit
mengenai dasar-dasar pengujian tegangan tinggi. Pada umumnya, kegagalan alat-alat
listrik pada waktu sedang dipakai disebabkan karena kegagalan isolasinya dalam
menjalankan fungsinya sebagai isolator tegangan tinggi.
Kegagalan isolasi (insulation breakdown, insulation failure) ini disebabkan karena
beberapa hal antara lain isolasi tersebut sudah dipakai untuk waktu yang lama, kerusakan
mekanis, berkurangnya kekuatan dielektriknya, dan karena isolasi tersebut dikenakan
tegangan lebih.

Dalam hal ini pengujian tegangan tinggi dimaksudkan untuk:


a) Menemukan bahan yang kwalitasnya tidak baik, atau yang cara membuatnya salah.
b) Memberikan jaminan bahwa alat-alat listrik dapat dipakai pada tegangan
normalnya untuk waktu yang tak terbatas.
c) Memberikan jaminan bahwa isolasi alat-alat listrik dapat tahan terhadap tegangan
lebih untuk waktu terbatas.
Karaktristik pengujian untuk kedua hal diatas dapat kita lihat pada Gambar I.1:
Teg. Pengujian

VN = tegangan normal
VL = tegangan lebih
tb = waktu pengujian terbatas

VL

VN

tb

Waktu pengujian
t=

Gambar 1.2. Karaktristik Pengujian Terbatas


Pengujian tersebut dapat merusak (destructive) maupun tidak merusak (non
destructive) alat yang diuji. Pengujian yang sifatnya tidak merusak, misalnya pengukuran
tahanan isolasi, pengukuran faktor daya dielektrik ( dielectric Power factor), pengukuran
korona dan sebagainya. Pengujian yang sifatnya merusak pada umumnya terdiri dari 3
tahap yang bergantung pada tingkat tegangan , seperti dapat kita lihat pada Gambar 1.3
Teg. pengujian

berikut ini :
VB
VF
VW

Waktu pengujian

Gambar 1.3. Karaktristik Pengujian Merusak

Keterangan Gambar 1.3 :


1 = Pengujian ketahanan pada tegangan VW
2 = Pengujian lompatan dengan tegangan lompatan VV
3 = Pengujian kegagalan dengan tegangan gagal

1.

Pengujian ketahanan (withstand test), sebuah tegangan tertentu diterapkan untuk


waktu yang ditentukan. Bila tidak terjadi lompatan api (flashover, disruptive
discharge), maka pengujiannya dianggap memuaskan.

2.

Pengujian pelepasan (discharge test), tegangannya dinaikkan sehingga terjadi


pelepasan pada benda yang diuji. Tegangan pelepasan ini lebih tinggi dari tegangan
ketahanan. Pengujian dapat dilakukan dalam suasana kering (udara biasa) dan
suasana basah (menirukan keadaan hujan).

3.

Pengujian kegagalan (breakdown test), tegangan dinaikkan sampai terjadi


kegagalan (breakdown) di dalam benda (specimen) yang diuji.
Dari berbagai macam pengujian tegangan yang diuraikan di atas, beberapa

diantaranya mutlak perlu dikerjakan. Yang lain adalah pengujian yang bersifat khusus.
Ketiga tingkat pengujian tersebut diatas dapat dipakai untuk tiga bentuk gelombang
tegangan, yaitu bolak-balik, searah dan impuls.

I.4. RANGKUMAN .
Yang disebut tegangan tinggi dalam dunia teknik tenaga listrik ( electric power
engineering ) ialah semua tegangan yang dianggap cukup tinggi oleh para teknisi listrik
sehingga diperlukan pengujian dan pengukuran dengan tegangan tinggi yang semuanya
bersifat khusus dan memerlukan teknik-teknik tertentu ( subyektif ), atau dimana gejalagejala tegangan tinggi mulai terjadi ( obyektif ).
Teganga tinggi yang diterapkan atau dialami oleh sistem tenaga dapat berupa :
1.

Tegangan biasa ( normal ) yaitu tegangan yang seharusnya dapat ditahan


oleh sistem oleh waktu yang tak terhingga.

2.

Tegangan lebih ( overvoltage ), yaitu tegangan yang hanya dapat ditahan oleh sistem
untuk waktu terbatas.

Meskipun peninggian tegangan transmisi akan mengurangi rugirugi daya,


peninggian tegangan itu tetap ada batasnya, karena tegangan tinggi menimbulkan
beberapa masalah, antara lain :
1.

Tegangan tinggi dapat menimbulkan korona pada kawat transmisi. Korona ini dapat
menimbulkan rugi-rugi daya

dan dapat menimbulkan gangguan terhadap

komunikasi radio.
2.

Jika tegangan transmisi semakin tinggi, maka peralatan transmisi dan gardu induk
membutuhkan isolasi yang volumenya semakin banyak agar peralatan mampu
memikul tegangan tinggi tersebut. Hal ini mengakibatkan kenaikan biaya investasi.

3.

Saat terjadi pemutusan dan penutupan rangkaian transmisi ( switcing operation ,


timbul tegangan lebih surja hubung sehingga peralatan sistem tenaga listrik harus
dirancang mampu memikul tegangan lebih tersebut. Hal ini juga mengakibatkan
kenaikan biaya.

4.

Jika tegangan transmisi ditinggikan, maka menara transmisi harus semakin tinggi
untuk menjamin keselamatan makhluk hidup disekitar transmisi. Peninggian menara
transmisi mengakibatkan transmisi mudah disambar petir. Sambaran petir pada
transmisi akan menimbulkan tegangan lebih surja petir pada sistem tenaga listrik ,
sehingga peralatan sistem tenaga listrik harus dirancang mampu memikul tegangan
lebih tersebut.

5.

Peralatan sistem perlu diperlengkapi dengan peralatan proteksi untuk menghindarkan


kerusakan akibat adanya tegangan lebih surya hubung dan surya petir. Penambahan
peralatan proteksi ini menambah biaya investasi dan perawatan

6.

Sosial, dinegara barat terutama faktor sosial sangat diperhatikan, dan tidak akan
memasang jaringan tegangan tinggi pada daerah penduduk yang padat.

Pengujian tegangan tinggi dimaksudkan untuk:


a.

Menemukan bahan yang kwalitasnya tidak baik, atau yang cara membuatnya
salah.

b.

Memberikan jaminan bahwa alat-alat listrik dapat dipakai pada tegangan


normalnya untuk waktu yang tak terbatas.

c.

Memberikan jaminan bahwa isolasi alat-alat listrik dapat tahan terhadap tegangan
lebih untuk waktu terbatas.

Pengujian tersebut dapat merusak (destructive) maupun tidak merusak (non


destructive) alat yang diuji. Pengujian yang sifatnya tidak merusak, misalnya pengukuran
tahanan isolasi, pengukuran faktor daya dielektrik ( dielectric Power factor), pengukuran
korona dan sebagainya. Pengujian yang sifatnya merusak pada umumnya terdiri dari 3
tahap yang bergantung pada tingkat tegangan .
1.

Pengujian ketahanan (withstand test), sebuah tegangan tertentu


diterapkan untuk waktu yang ditentukan. Bila tidak terjadi lompatan api (flashover,
disruptive discharge), maka pengujiannya dianggap memuaskan.

2.

Pengujian pelepasan (discharge test), tegangannya dinaikkan


sehingga terjadi pelepasan pada benda yang diuji. Tegangan pelepasan ini lebih
tinggi dari tegangan ketahanan. Pengujian dapat dilakukan dalam suasana kering
(udara biasa) dan suasana basah (menirukan keadaan hujan).

3.

Pengujian kegagalan (breakdown test), tegangan dinaikkan


sampai terjadi kegagalan (breakdown) di dalam benda (specimen) yang diuji.

I.5. LATIHAN SOAL-SOAL .


1. Jelaskan yang dimaksud dengan tegangan tinggi.
2. Jelaskan yang dimaksud dengan klasifikasi tegangan tinggi mungkin bersifat
subjektif dan mungkin juga bersifat objektif.
3. Sebutkan klasifikasi tegangan tinggi menurut standard Europe . USA dan
Indonesia.
4. Jelaskan yang dimaksud dengan tegangan biasa ( normal ) dan tegangan lebih
( overvoltage)
5. Berikan defenisi pelepasan ( lucutan, discharge ), percikan ( sparkover ) dan
lompatan ( flash over ).
6. Sebutkan 2 contoh pengujian merusak.
7. Sebutkan 2 contoh pengujian tidak merusak.
8. Pengujian tegangan tinggi antara lain bertujuan untuk mengetahui kemampuan
peralatan tegangan tinggi yang diuji pada tegangan normal dan tegangan lebih
( overvoltage ). Jelaskan hal ini dengan bantuan grafik tegangan uji sebagai fungsi
dari waktu pelepasan .

9. Jelaskan tiga tahap pengujian merusak ( destructive test ) dengan bantuan grafik
tegangan uji sebagai fungsi dari waktu pengujian. Jelaskan dari grafik ini
mengapa isolator yang kelihatannya baik sebenarnya tidak memenuhi syarat.

I.6. TUGAS
Baca materi bab berikut : (1) Pendahuluan, (2) Proses Dasar Ionosasi, (3) Ionisasi
Karena Benturan Elektron, (4) Ionisasi Karena Cahaya (Fotoionisasi),

(5)Ionisasi

Karena Cahaya (Thermal), (6) Deionisasi, (7) Proses-proses Katoda, dan (8) Koefisien
Kedua Ionisasi Townsend.
Kerjakan latihan soal-soal, minggu depan jawaban soal latihan dikumpul

10