Anda di halaman 1dari 27

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

BAB

14
Memahami Akhlak Dalam
Kehidupan Bernegara
A. PENDAHULUAN
Dari sekian pembahasan tentang dasar akhlak dalam bernegara ini, diharapkan
mahasiswa pada akhirnya dapat memahami dan menjelaskan tentang:
1. Musyawarah.
2. Menegakkan keadilan
3. Amar maruf nahi munkar
4. Hubungan pemimpin dan yang dipimpin
5. Tanggung jawab pemimpin
6. Menjaga lingkungan hidup yang baik
B. PEMBAHASAN
1. Musyawarah
Musyawarah, secara bahasa (etimologis) berasal dari kata sywarayusywiru-musywarah, yang pada mulanya mempunyai pengertian mengeluarkan
madu dari sarang lebah. Pengertian ini kemudian mengalami perkembangan, sehingga
meliputi segala sesuatu yang dapat diambil dari yang lain (termasuk mengambil
pendapat orang lain). Juga, musyawarah dapat berarti mengatakan atau mengajukan
sesuatu. Dari pengertian ini maka pada dasarnya musyawarah hanya digunakan untuk
segala hal yang baik, sejalan dengan makna dasarnya.1
Dalam perkembangan yang lebih luas lagi, kata musyawarah kemudian
mengandung pengertian saling memberikan isyarat. Dikarenakan menunjukkan
pengertian saling, maka secara filosofis dapat dipahami bahwa dalam musyawarah

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

14

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

dapat dipastikan ada proses interaksi antara satu individu atau kelompok dengan
individu atau kelompok lain, dalam rangka untuk memberikan isyarat-isyarat baik
terhadap apa yang dibicarakan dan diputuskan dalam proses interaksi tersebut.
Dari pengertian musyawarah di atas, maka ia haruslah dijalankan secara
dialogis, tidak monologis. Dalam suatu rapat misalnya, maka semangat musyawarah
harus berwujud pada adanya kebebasan untuk mengemukakan pendapat bagi setiap
individu

yang

terlibat

dalam

rapat

tersebut.

Dengan

adanya

kebebasan

mengemukakan pendapat itulah diharapkan dapat diketahui mana pendapat yang


dianggap benar, tepat, unggul, dan dapat dipertanggungjawabkan, dan mana pula
pendapat yang mengandung kelemahan-kelemahan. Sehingga hasil dari musyawarah
dapat diibaratkan sebagai mengeluarkan madu dari sarang lebah.
Arti Penting Musyawarah
Sebagaimana pengertian musyawarah di atas, maka sudah barang tentu ia
mempunyai peran yang sangat penting sekali dalam kehidupan guna menciptakan
peraturan di dalam masyarakat atau dalam suatu negara. Dalam kehidupan bernegara,
misalnya, cita-cita agar seluruh warga atau rakyatnya selalu dalam ayoman
ketentraman, kebahagiaan, dan kesuksesan hidup lainnya, tentu prinsip musyawarah
sangat menentukan terwujud tidaknya cita-cita tersebut. Sebab di dalam prinsip
musyawarah selalu mengedepandakan bahwa segala persoalan dapat diselesaikan dan
diputuskan secara mudah dan dapat membawa hasil yang memuaskan. Begitu
pentingnya musyawarah, tidak aneh bila Islam menamakan salah satu surat al-Quran
dengan asy-Syura, yang berarti musyawarah.
Dalam al-Quran surat asy-Syura, di dalamnya dibicarakan tentang sifat
orang-orang yang beriman kepada Allah Swt., yang antara lain bahwa kehidupan
mereka dan segala urusan yang mereka putuskan senantiasa berdasarkan
musyawarah. Pentingnya musyawarah ini, sampai-sampai dalam Firman Suci (alQuran) dihubungkan dengan kewajiban shalat dan menjauhi perbuatan keji. 2 Firman
Allah Swt.;
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

15

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH





Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, dan
apabila mereka marah, mereka memberi maaf. Dan (bagi) orang-orang yang
menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan
mereka (diputuskan) dengan musyawarah antar mereka; dan mereka menafkahkan
sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (QS. Asy-Syura [42]: 3738)
Kandungan ayat di atas, syur atau musyawarah menempati posisi yang
sangat strategis sebab dituturkan setelah pernyataan iman dan shalat. Dalam konteks
ini, Taufiq asy-Syawi, memberikan pengertian bahwa musyawarah sesungguhnya
mempunyai kedudukan yang tinggi dalam ajaran Islam sesudah ibadah terpenting,
yaitu shalat, sekaligus memberikan pengertian bahwa musyawarah merupakan salah
satu ibadah yang tingkatannya sejajar dengan shalat dan zakat. Apabila suatu
masyarakat mengabaikan prinsip musyawarah, misalnya, maka menurutnya sama
halnya mereka tidak mengindahkan salah satu seruan untuk beribadah kepada Allah
Swt. 3
Lapangan Musyawarah
Sebagaimana kita pahami, bahwa musyawarah merupakan apresiasi seseorang
untuk menyatakan pendapat-pendapatnya terhadap suatu masalah yang ingin
dipecahkan bersama dengan harapan mendapatkan hasil yang benar dan memuaskan,
maka yang perlu diperhatikan di sini adalah kejelasan materi atau dalam hal apa
sesuatu itu dapat dimusyawarahkan. Secara eksplisit, ini menunjukkan bahwa
sebenarnya ada hal-hal yang tidak diperbolehkan untuk dimusyawarahkan, dan ada
hal-hal yang memang dianjurkan oleh Allah Swt. untuk dimusyawarahkan.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

16

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Berkaitan dengan hal-hal yang tidak boleh dimusyawarahkan, adalah apa-apa


yang sudah ditetapkan oleh nash (al-Quran dan as-Sunnah). Sebab pendapat orang
atau kelompok tidak boleh mengungguli wahyu (al-Quran dan as-Sunnah).
Sementara yang boleh dimusyawarahkan adalah hal-hal yang bersifat ijtihadiyah.
Sebagai ilustrasi; para sahabat kalau dimintai pendapat tentang suatu masalah,
terlebih dahulu mereka bertanya kepada Nabi Saw., apakah masalah yang dibicarakan
tersebut telah diwahyukan oleh Allah Swt. atau merupakan ijtihad beliau sendiri. Jika
pada kenyataannya adalah ijtihad Nabi Saw., maka para sahabat pun tidak segan,
bahkan antusias untuk mengemukakan pendapatnya. 4
Beberapa Sikap Bermusyawarah
Harapan agar musyawarah dapat dijalankan dengan lancar, penuh
keakraban, persahabatan dan bermartabat, maka mensyaratkan adanya prosedurprosedur yang mengatur tata cara atau sikap bermusyawarah itu sendiri. Dalam hal
ini, al-Quran menegaskan bagaimana tata cara atau sikap bermusyawarah itu. Firman
Allah Swt.;



Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri
dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi
mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila
kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkal-lah kepada Allah. Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Alu Imran [3]:
159)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

17

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Kandungan ayat di atas, dapat diklasifikasi ke dalam beberapa sikap


bermusyawarah. Pertama, musyawarah harus disemangati dengan prilaku lemah
lembut. Apalagi sebagai pimpinan dalam menyelenggarakan musyawarah, maka
sudah barang tentu sikap lemah lembut harus dikedepankan. Berbalikan dengan itu,
maka dalam bermusyawarah sangatlah tidak etis bila bersikap kasar, baik secara fisik
maupun tutur kata. Memang, untuk dapat bersikap lemah lembut dalam musyawarah
bukan perkara gampang, sebab di sana mensyaratkan mentalitas dan kepribadian yang
memegang prinsip; saling menghargai, penuturan kata (pendapat) secara sopan,
toleransi, berbaik sangka (husnudzan), dan selalu berpegang pada nilai obyektifitas.
Pada tataran ini pula, maka bersikap lemah lembut dalam musyawarah akan dapat
membawa manfaat terhadap apa yang dimusyawarahkan, bahkan dengan sikap yang
demikian jalinan kasih sayang antar anggota yang bermusyawarah terasa dinaungi
rahmat Tuhan.
Kedua, harus menyediakan piranti diri sebagai pemaaf. Sikap mental seperti
ini sangat diperlukan dalam musyawarah, sebab boleh jadi dalam musyawarah
didapati adanya perbedaan-perbedaan pendapat, pandangan, dan argumentasi antara
pihak satu dengan pihak yang lain. Belum lagi bila pendapat yang dikemukakan itu
menciderai perasaan orang lain, jelas dorongan (batin) untuk minta atau memberikan
maaf sangat penting diwujudkan. Bila tidak menyiapkan piranti sebagai pemaaf atau
memberikan maaf pada orang lain, maka dalam musyawarah potensial terjadi
suasana yang tidak kondusif, penuh intrik-intrik, dan pada akhirnya jalinan kasih
sayang dalam kehidupan pun bisa menjadi rapuh.
Ketiga, mohon ampunan Allah Swt. Dalam pengertian, bahwa untuk
mendapatkan hasil yang terbaik ketika musyawarah, hubungan dengan dengan Tuhan
pun harus terjalin baik dan harmonis. Sebab itu, setiap anggota yang bermusyawarah
harus memancarkan kesadaran bertuhan secara kuat, yang diwujudkan dengan cara
memohon ampun kepada-Nya, baik untuk diri sendiri maupun anggota musyawarah
lainnya. Permohonan ampun kepada Allah Swt. ini, mempunyai nilai spiritualitas
yang amat tinggi, sebab bagaimanapun juga secara hakiki hasil yang diinginkan
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

18

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

dalam musyawarah tidak lain bermuara pada hasil terbaik, bermanfaat dan
pengharapan atas rahmat-Nya.
Menegakkan Keadilan
Istilah keadilan, berasal dari kata jadian adil (bahasa Indonesia) yang
terambil dari bahasa Arab adl, yang mempunyai pengertian sama dan
seimbang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata adil diartikan: (1) tidak
berat sebelah/ tidak memihak, (2) berpihak pada kebenaran, dan (3) sepatutnya/ tidak
sewenang-wenang.5
Dari beberapa pengertian tentang adil ini, memberikan penegasan bahwa adil
atau keadilan senantiasa bertitik tolak dari prinsip persamaaan dan keseimbangan.
Prinsip persamaan, menjadikan sesorang yang berlaku adil tidak memihak kecuali
kepada kebenaran, sedangkan prinsip keseimbangan menjadikan seseorang yang
berlaku adil selalu memutuskan sesuatu dengan sepatutnya dan tidak bertindak
sewenang-wenang.
Dalam al-Quran, kata adl untuk untuk perngertian yang sama juga
menggunakan kata qisth dan mizan. Misalnya dalam dua ayat berikut;

Katakanlah, Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan. (QS. Al-Araf [7]: 29)







Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa buktibukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca
(keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (QS. Al-Hadid [57]: 25)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

19

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Dalam pandangan Mukti Ali,6 ada lima prinsip pokok keadilan yang
terkandung di dalam al-Quran, yaitu meliputi;
1. Keadilan Allah Swt yang bersifat mutlak. Dalam al-Quran ditegaskan, bahwa
Allah Swt adalah Dzat yang menegakkan keadilan (QS. Alu Imran [3]:18).

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak
disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang
berilmu[188] (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan
Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
2. Keadilan Firman-Nya yang tertuang di dalam al-Quran. Ini ditegaskan bahwa
Allah telah menurunkan Al-Kitab dan neraca keadilan agar manusia dapat
menegakkan keadilan (QS. Al-Hadid [57]: 25).





Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa buktibukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al kitab dan neraca
(keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. dan Kami ciptakan
besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi
manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui
siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya Padahal Allah tidak
dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

20

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

3. Keadilan Syariat-Nya yang dibawa oleh Rasul-Nya. Keterangan ini dinyatakan


dalam al-Quran, bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad Saw. adalah
agama yang benar, agama Nabi Ibrahim yang yang lurus (QS. Al-Anam [6]: 161)



Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan
yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim
itu bukanlah Termasuk orang-orang musyrik".
4. Keadilan yang tertuang pada alam ciptaan-Nya. Dalam al-Quran diterangkan
bahwa Allah Swt menciptakan manusia dalam keserasian yang sangat indah (QS.
At-Tin [95]: 4).


Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya.
Diterangkan juga, bahwa Allah menjadikan alam semesta serba seimbang (QS.
Ar-Rad [13]: 2).





Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat,
kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan
bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur
urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu
meyakini Pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.
5. Keadilan yang ditetapkan untuk manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam
al-Quran diterangkan bahwa orang-orang yang beriman diserukan untuk

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

21

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

mengakkan keadilan semata-mata karena Allah Swt dan tidak terpengaruh oleh
kepentingan pribadi (QS. Al-Maidah [5]: 8)





Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu
menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah
sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku
tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan
bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang
kamu kerjakan.
Perintah Berlaku Adil
Ada bebarapa ayat al-Quran yang menyerukan agar manusia berlaku
adil dan menegakkan keadilan.








Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan,
memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemunkaran
dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil
pelajaran .(QS. An-Nahl [16]: 90)
Keadilan Hukum
Pertama, aparat pemerintah diperintahkan agar melaksanakan peraturan
dengan adil.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

22

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH





Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak

menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia


supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran
yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi
Maha Melihat. (QS. An-Nisa [4]: 58)
Kedua, perintah bagi para hakim agar menegakkan hukum dengan adil.



















Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di
antara mereka dengan adil. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil
(QS. Al-Maidah [5]: 42)
Adil Terhadap Diri Sendiri


Hai orang orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar
menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri
atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia (tergugat atau terdakwa itu) kaya atau
miskin, maka Allah lebih tahu kemashlahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti
hawa nafsu kamu yang ingin menyimpang dari kebenaran (QS. An-Nisa [4]: 135)
Adil Terhadap Istri dan Anak

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

23

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH



Nikahilah wanita-wanita yang kamu sukai; dua, tiga atau empat. Tapi jika kamu
khawatir tidak dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja (QS. An-Nisa
[4]: 3)
Dan sabda Nabi Saw: Bertaqwalah kepada Allah dan berlaku adillah di
antara anak-anakmu. (H.R. Muslim).
Adil dalam Mendamaikan Perselisihan








Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka

damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat
aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat
aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu
telah kembali (kepada perintah Allah) maka damaikanlah antara keduanya dengan
adil dan berlaku adillah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku
adil (QS. Al-Hujurat [49]: 9)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

24

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Adil dalam Bertutur Kata




Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil meskipun dia
adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah (memenuhi perintah-perintah-Nya).
Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat (QS. Al-Anam
[6]: 152)
Adil terhadap Musuh/Golongan Lain

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu

menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengana adil. Dan janganlah
sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tiak
adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat dengan taqwa. dan bertaqwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS.
Al-Maidah [5]: 8).
2. Amar Maruf Nahi Munkar
Secara etimologi, marf berasal dari kata kerja arafa, yang artinya;
mengetahui (to know), mengenal atau mengakui (to recognize) melihat dengan tajam
atau mengenal perbedaan (to discern). Ketika menjadi kata benda, marf artinya
sesuatu yang diketahui, dikenal atau diakui.7 Dengan demikian, marf dapat
dipahami sebagai sesuatu yang diketahui sebagai baik dalam pengalaman manusia
menurut ruang dan waktu tertentu. Sedangkan lawan dari maruf, yaitu munkar,
mempunyai arti sebagai sesuatu yang tidak dikenal. Munkar juga berarti sesuatu yang

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

25

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

dibenci, tidak disenangi dan ditolak oleh masyarakat, karena memang sesuatu itu
tidap patut dikerjakan oleh orang yang berakal sehat. 8
Menurut Muhammad Abduh, marf didefinisikan sebagai apa yang dikenal
(baik) oleh akal sehat dan hati nurani, sedangkan munkar adalah apa yang ditolak
oleh akal sehat dan hati nurani. 9 Berbeda dengan Abduh, menurut Ali ash-Shabuni,
marf di definisikan sebagai apa yang diperintahkan syara (agama) dan di nilai
buruk oleh akal sehat, sedangkan munkar adalah apa yang dilarang syara (agama)
dan dinilai buruk oleh akal sehat. 10
Perintah dan Kedudukan Amar Maruf Nahi Munkar
Amar Maruf Nahi Munkar, adalah kewajiban bagi orang yang beriman, baik
secara individual maupun kolektif. Firman Allah Swt:

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada

kebajikan, dan menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkar.
Merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Alu Iman [3]: 104)
Kewajiban untuk ber-amar maruf nahi munkar sebagaimana penjelasan di
atas, selain agar menjadi orang-orang yang beruntung (muflihn) bagi yang
melakukannya, juga karena tugas tersebut sangat menentukan eksistensi dan kualitas
umat Islam. Mengenai yang terakhir ini Allah Swt. menegaskan:

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

26

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada
yang maruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.. (QS. Ali
Imran [3]: 110)
Ayat di atas dapat dipahami bahwa eksistensi umat Islam sebagai umat terbaik
ditentukan oleh sejauhmana peranannya dalam mengemban tugas amar maruf nahy
munkar. Terabaikannya tugas tersebut, misalnya, maka dengan sendirinya umat Islam
tidak menjadi umat terbaik, bahkan boleh jadi akan menjadikan umat Islam terpuruk
(secara moral) yang pada gilirannya tidak diperhitungkan oleh umat-umat lain.11
Melakukan amar maruf nahi munkar bukanlah tugas yang ringan. Tetapi
sebaliknya, yaitu tugas yang amat besar dan berat yang memerlukan stamina spiritual
yang prima serta kecerdasan daya juang yang tinggi. Ini diisyaratkan dalam Firman
Allah Swt. ketika mengisahkan pesan Luqman terhadap putranya;

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan

cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang
menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu adalah termasuk hal-hal yang
memerlukan tekat yang kuat (untuk melaksanakannya). (QS. Luqman [31]: 17).
Ayat di atas, bersamaan dengan mendirikan shalat, tabah menghadapi cobaan,
melakukan amar maruf nahy munkar adalah termasuk min azmil umr, yaitu perkara
yang

benar-benar-memerlukan

tekad,

ketegaran

dan

ketetapan

hati

untuk

melakukannya.12 Karena itu umat Islam tidak boleh mengabaikan perintah amar
maruf nahy munkar ini, sebab selain eksistensi umat Islam akan menjadi terpuruk
(sebagaimana sudah dijelaskan), juga akan mendapat kutukan Allah Swt.
sebagaimana dulu pernah ditimpakan kepada Bani Israil. Firman Allah Swt:

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

27

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH










Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Isa putra Maryam.

Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampau batas. Mereka
satu sama lain tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya
amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu QS. Al-Maidah [5]: 78-78)
Dalam perspektif ilmu sosial (sosiologi), perintah untuk ber-amar maruf nahy
munkar menunjukkan pengertian bahwa nilai-nilai kebaikan dan keburukan ada
dalam masyarakat.13 Sebab itu, umat Islam harus dapat mengidentifikasi secara jelas,
mana yang dianggap maruf dan mana pula yang dianggap munkar agar dalam
menjalankan tugas yang mulia itu dapat berjalan secara optimal. 14 Kecermatan dan
kebenaran dalam mengidentifikasi sesuatu yang dipandang maruf, dengan sendirinya
umat

Islam harus menjalankannya. Tetapi apabila yang ada adalah munkar

(kemunkaran), maka suatu kewajiban bagi umat Islam untuk merubahnya, dengan
kadar kemampuan masing-masing. Mengenai mencegah yang munkar (nahy munkar)
ini, petunjuk pelaksanaannya (juklak) telah diajarkan oleh Nabi Saw. dengan
sabdanya: Barangsiapa diantara kamu melihat kemunkaran, maka rubahlah dengan
tangannya (kekuasaan; moral politik). Kalau tidak sanggup, maka (rubahlah)
dengan lisannya, dan apabila (masih) tidak sanggup, maka (rubahlah) dengan
hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman (HR. Muslim).
Besarnya perhatian ajaran Islam (al-Quran dan Sunnah Nabi Saw.) untuk
menjalankan amar maruf nahy munkar, mensyaratkan agar umat Islam mempunyai
daya juang yang tinggi dan cakap dalam menampilkan nilai-nilai kebaikan dalam
kehidupan, baik secara sosial, politik, hukum, budaya maupun bidang kehidupan
lainnya.
Dalam konteks pemikiran di atas, maka daya juang umat Islam dalam
menjalankan amar maruf nahy munkar dapat dikonsepsikan ke dalam istilah
berjuang untuk (fight for) dan berjuang melawan (fight against). Berjuang

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

28

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

untuk (fight for) sejajar dengan semangat amar marf, yaitu perjuangan yang
bersifat proaktif, dinamis dan positif. Sedangkan berjuang melawan (fight against)
sejajar dengan semangat nahy munkar, yaitu perjuangan yang bersifat reaktif yang
dilakukan dengan mengeliminasi segala kemunkaran yang ada dalam masyarakat. 15
Oleh sebab itu, antara fight for dan fight against, merupakan satu kesatuan yang harus
diperjuangkan

demi

terciptanya

pranata

kehidupan

yang

bermartabat

dan

berperadaban.
3. Hubungan Pemimpin dengan yang dipimpin
Salah satu segi prinsipil dalam membangun akhlak bernegara adalah berkaitan
dengan hubungan antara seorang pemimpin atau penguasa dengan orang yang
dipimpin (rakyat). Hubungan tersebut, tidak hanya dalam rangka terciptanya
bangunan relasi dan interaksi (sosial) yang harmonis, tetapi lebih dari itu, yaitu
berkaitan pada terciptanya suatu pola kepemimpinan yang benar, bermoral dan dapat
dirasakan kemaslahatannya.
Lebih lanjut mengenai hubungan pemimpin dengan yang dipimpin itu, secara
eksplisit (tersirat) mengilustrasikan adanya logika ke(patuh)an. Artinya, berjalan
dan benar tidaknya suatu kepemimpinan, sangat tergantung seberapa besar kepatuhan
yang tercipta dalam kepemimpinan itu. Yaitu, kepatuhan orang yang dipimpin atas
pemimpinnya. Namun, logika ke(patuh)an itu tidak harus dipraktekkan secara
mutlak, tetapi harus disaring oleh semangat ajaran agama.
Terhadap masalah tersebut, penting dihubungan dengan Firman Allah Swt:




Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, dan taatlah kepada
Rasul(Nya) dan Ulil Amri di antara kamu (QS. An-Nisa[4]: 59)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

29

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Pengertian ayat di atas adalah bahwa kita disuruh untuk taat kepada Allah
Swt., kemudian Rasul-Nya, melalui pesan-pesan al-Quran dan Sunnah Nabi Saw.
Kemudian, kepatuhan selanjutnya adalah kepada para pemimpin yang memegang
kekuasaan (ulil amri). Namun demikian, mengenai perintah taat kepada ulil amri
perlu diperjelas lagi, bahwa yang dimaksudkan adalah ketaatan atau kepatuhan
kepada pemimpin atau pemegang kekuasaan dengan catatan mereka patuh kepada
Allah dan Rasul-Nya. Apabila kepatuhan kita kepada pemegang kekuasaan yang tidak
patuh kepada Allah dan Rasul-Nya, maka kita tidak diperbolehkan mengikutinya,
apalagi menaati perintah-perintahnya.
Sejalan dengan itu, hadits Nabi Saw. menyatakan; Tidak ada kepatuhan
kepada makhluk untuk mendurhakai Allah. (HR. Ahmad).
Dalam istilah politik modern, ketidakpatutan untuk mengikuti
pemimpin, (yang dalam bahasa agama dianggap menyimpang dari ajaran al-Quran
dan sunnah Nabi Saw.), haruslah ditopang oleh kekuatan pengawasan dan
penyeimbangan (check and balance). Pengawasan dan penyeimbangan ini merupakan
mekanisme sosial yang efektif untuk terjadinya proses saling mengingatkan tentang
apa yang benar demi kebaikan bersama. Mengenai check and balance, sebenarnya
sejalan dengan semangat ajaran Islam, salah satunya dapat kita temukan di dalam alQuran surat al-Ashr [103]: 1-3:



Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling
berpesan pada kebenaran dan kesabaran
Ayat saling berpesan pada kebenaran dan kesabaran, berbanding lurus
(semakna) dengan check and balance dalam istilah politik modern (demokrasi).
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

30

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Sebab itu, hubungan pemimpin dengan yang dipimpin, selagi menyangkut


menyelamatkan

dan

menjunjung

moralitas

warga

bangsa

atau

wilayah

kekuasaannnya, semangat check and balance penting untuk ditampilkan. Ini semua
ditujukan untuk mengeliminasi kemungkinan seseorang (baik pemimpin maupun
yang dipimpin) dikuasai oleh kepentingan dirinya sendiri untuk bertindak dzalim.
Tentunya, konsekwensi atas penerapannya mensyaratkan adanya semangat untuk
sabar, dalam pengertian yang positif-optimistik.
Bila kekuatan pengawasan dan penyeimbangan berjalan dengan baik, maka
akan mudah sekali tercipta hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpin, baik
menyangkut struktur kelembagaan/ kepemimpinan maupun dalam kaitannya sebagai
bagian dari komunitas sosial.
Kriteria Pemimpin
Sebagai kelanjutan masalah hubungan pemimpin dengan yang dipimpin, yang
tidak kalah pentingnya lagi adalah siapa yang paling ideal menyandang ulil amri
sehingga kita pantas untuk mematuhi sistem pemerintahan atau kekuasaannya.
Terhadap persoalan ini, ditegaskan dalam al-Quran:




Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang
beriman, yaitu yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk
(kepada Allah). (QS. Al-Maidah [5]: 55)
Keterangan ayat di atas merupakan tafsir atas ayat lain (yaitu, QS. AnNisa[4]: 59) sebagaimana sudah di terangkan di muka. 16 Dengan demikian dapat di
deskripsikan bahwa kriteria pemimpin (waliy atau ulil amri) adalah,

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

31

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Pertama, beriman kepada Allah Swt. Keimanan yang kuat dalam diri
pimimpin (ulil amri), merupakan wujud menapaktilasi kepemimpinan Rasullulah
Saw., hal mana kepemimpinan beliau adalah pelaksana kepemimpinan Allah Swt.
Kedua, pemimpin yang mendirikan shalat. Artinya, sebagai wujud hubungan
vertikal kepada Allah Swt. melalui ibadah shalat, maka seorang pemimpin diharapkan
memancarkan nilai-nilai kemuliaan dan kebaikan yang terkandung dalam ibadah
tersebut sehingga tercermin dalam praktek kepemimpinannya. Misalnya, makna
simbolik salam (assalmualaikum warahmatullh wabaraktuh) sebagai kalimat
penutup ibadah shalat. Kalimat tersebut dapat ditafsirkan; setelah kita menunaikan
jalinan komunikasi kepada Allah Swt melalui shalat, maka ada tanggung jawab dari
pelaksanaan ibadah tersebut. Yaitu bagaimana kita sanggup menjadi pribadi yang
dapat mendamaikan, memberi keselamatan, ketentraman dan kesuksesan hidup
orang-orang di sekelilingnya dan masyarakat luas. Inilah semangat yang terkandung
dari pemimpin yang mendirikan shalat.
Ketiga, membayar zakat, yang merupakan simbol kesucian dan kepedulian
sosial. Pemimpin dengan kriteria ini diharapkan selalu berusaha mensucikan hati dan
hartanya. Tidak mencari dan menikmatinya dengan cara tidak halal, seperti korupsi,
kolusi dan nepotisme. Lebih dari itu, pemimpin diharapkan mempunyai kepedualian
sosial yang tinggi, sehingga dengan kepedualiannya itu orang-orang yang di
pimpinnya tidak teraniaya atau di dzalimi, terutama secara ekonomi.
Keempat, selalu tunduk kepada Allah Swt. Ini merupakan konsekwensi dari
bunyi ayat di atas (wa hum rakiun), yaitu orang-orang yang selalu ruku. Ruku,
adalah simbol kepasrahan dan kepatuhan secara mutlak kepada Allah Swt. karena itu,
kepatuhan seorang pemimpin kepada Allah harus sejalan dengan kepatuhan Rasul
kepada-Nya. Mulai dari aspek aqidah (bertauhid secara murni), ibadah (dijalankan
dengan tertib dan sesuai dengan tuntunan Nabi saw.), akhlak terpuji (shiddq, amanah,
adil, dan sifat terpuji lainnya) sampai pada muamalatnya (hubungan dengan sesama
manusia dan alam dalam seluruh aspek kehidupan).

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

32

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Dalam kesempatan lain, masalah kriteria seorang pemimpin ini juga dapat kita
temukan dalam al-Quran surat An-Nur [24] ayat 55:






Dan Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan
mengerjakan amal-amal shaleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan
mereka penguasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang
sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama
yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar menukar (keadaan)
mereka sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap
menyembah-Ku

dengan

tiada

mempersekutukan

apapun

dengan-Ku.

Dan

barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang
fasiq .
Arti ayat di atas, mengisyaratkan bahwa kriteria pemimpin atau penguasa
bumi yang paling ideal adalah;
Pertama, orang-orang yang beriman. Orang-orang yang beriman adalah
mereka yang mempunyai komitmen kepada kebenaran, dan memihaknya sesuai
dengan hati nurani. Dikarenakan komitmen kepada kebenaran itu, maka pada
kelanjutannya orang yang beriman itu selalu menjunjung tinggi semangat moralitas,
etika atau akhlak dalam hidupnya.
Kedua, pemimpin atau penguasa bumi yang ideal adalah mereka yang rajin
mengerjakan amal shaleh, yang diwujudkan dalam kerja-kerja kemanusiaan dengan
prinsip menegakkan kebenaran. Misalnya, pemimpin haruslah progresif dalam

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

33

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

melakukan advokasi dan pemberdayaan terhadap kelompok/ masyarakat tertindas


(mustadlafn), baik secara ekonomi, politik, maupun bidang kehidupan lainnya.
Semua itu dalam rangka untuk mengeliminasi sistem atau pola kepemimpinan yang
dzalim. 17
Beberapa keterangan kriteria pemimpin di atas, merupakan landasan yang
masih bersifat normatif-teologis, yaitu hanya bertitik tolak dari pandangan ajaran
agama. Karena itu, perlu ditopang oleh beberapa kriteria lain yang sekiranya
dianggap sanggup membawa pola atau corak kepemimpinan agar bertambah baik dan
maju, dengan menyesuaikan secara sinergis kapan dan dimana kepemimpinan itu
dijalankan. Misalnya, visi dan misinya jelas dan terarah, berdedikasi tinggi,
profesional, dan kemampuan-kemampuan kualitatif lainnya.
4. Tanggung Jawab Pemimpin
Begitu luas dan mendalamnya al-Quran bicara masalah pemimpin dan
kepemimpinan, jelaslah bahwa bagi seorang pemimpin mempunyai tanggung jawab
yang sangat besar terhadap apa yang di pimpinnya. Diterangkan dalam sebuah hadits
Nabi Saw.; Dari Ibnu Umar r.a. bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda; Setiap kamu
sekalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang
dipimpinnya, imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban
terhadap yang dipimpinnya, suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan
dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya, istri adalah pemimpin
dalam rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang
dipimpinnya dan pembantu terhadap rumah majikannya adalah pemimpin dan akan
dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya (HR. Bukhari)
Hadits di atas, memberikan gambaran bahwasanya sikap bertanggung jawab
harus dimiliki oleh setiap pemimpin terhadap apa yang dipimpinannya. Bila diperluas
jangkauan makna hadits tersebut, maka tanggung jawab pemimpin juga berlaku bagi

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

34

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

mereka yang memimpin sebuah negara, organisasi, lembaga-lembaga, dan lain


sebagainya.
Sebagai pemimpin dalam struktur kenegaraan atau pemerintahan, misalnya,
maka (salah satu) wujud tanggung jawabnya adalah bagaimana para pemimpin itu
dapat menciptakan formulasi sistem politik yang sejalan dengan pandanganpandangan ideologis yang dianut warga bangsa. Prinsip keadilan sosial, ekonomi,
politik, hukum dan lainnya, adalah diantara pandangan ideologis yang kita anut
bersama. Apalagi, bangsa kita di dukung oleh suatu kenyataan bahwa warga
bangsanya moyoritas umat Islam, maka pandangan ideologis itu dapat semakin
survive bila benar-benar dapat disenyawakan dengan semangat dan inti ajaran agama
(Islam). Lebih spesifik dan tegasnya adalah bagaimana pemimpin itu sanggup
mengangkat harkat dan martabat warga bangsanya, baik segi jasmani maupun
ruhaninya, sehingga kepemimpinan yang dijalankan dapat membawa manfaat
bersama.
Dalam skala paling kecil, yaitu sebagai individu, maka wujud tanggung jawab
itu terkait dengan apa saja yang dilakukan oleh individu yang bersangkutan.
Berkaitan dengan ini, maka hadits Nabi Saw. di atas secara demonstratif dapat dialihungkapkan ke dalam anjuran yang bersifat personal. Misalnya, Jadilah Anda
pemimpin, setidaknya-tidaknya untuk diri Anda sendiri. Artinya, kita sudah menjadi
pemimpin untuk diri kita sendiri, dan karena itu kita harus bertanggung jawab
terhadap apa saja yang berkaitan dengan diri kita, baik dalam hubungannya dengan
Tuhan (hablum minallah) maupun dengan sesama (hablum minannaas).
Pentingnya tanggung jawab bagi seorang pemimpin, menunjukkan bahwa
ajaran agama benar-benar memperhatikan masalah kepemimpinan atau kekuasaan
untuk dijalankan dengan sebenar-benarnya. Dalam konteks ini, maka kepemimpinan
atau kekuasaan itu merupakan amanah yang harus dijaga. Dengan demikian, maka
menjalankan amanah merupakan kelanjutan dari sikap bertanggung jawab dari
seorang pemimpin. Tanpa adanya kesadaran bahwa kepemimpinan atau kekuasaan itu
adalah amanah, maka dengan sendirinya tidak ada bentuk pertanggungjawaban yang
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

35

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

sempurna terhadap apa yang dipimpinnya, termasuk pada diri sendiri. Itulah
sebabnya, mengapa masalah tanggung jawab seorang pemimpin sangat terkait dengan
sejauhmana menjalankan amanah itu.

5. Menjaga Lingkungan Hidup


Wacana global dalam rangka menciptakan tatanan dunia yang lebih damai dan
beradab, salah satu perhatiannya adalah dialamatkan pada pentingnya menjaga
lingkungan hidup. Ini semua disebabkan karena seiring dengan kemajuan ilmu dan
teknologi untuk kepentingan peningkatan kesejahteraan hidup material manusia, pada
saat yang sama menyisakan keprihatinan yang sangat mendalam, yaitu rusaknya
lingkungan hidup. Pencemaran lingkungan, limbah industri, tanah lonsor, pemanasan
global (misalnya, penggundulan hutan tropis secara membabi buta sebagaimana
terjadi di bumi Nusantara, Kalimantan), adalah sebagian kecil contoh rusaknya
lingkungan hidup itu. Akibatnya, umat manusia sekarang (termasuk masyarakat kita)
dihadapkan pada apa yang disebut dengan alienasi ekologis. Yaitu, keterasingan diri
untuk berhubungan secara timbal balik dan harmonis dengan lingkungan hidup.
Dalam al-Quran, sinyalemen rusaknya ligkungan hidup itu dapat ditemukan
dalam Firman Allah Swt:









elah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan ulah tangan manusia,
supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatannya, agar
mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS. Ar-Rum [30]: 41)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

36

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Rusaknya lingkungan hidup atau alam itu, manusialah yang menjadi


penyebabnya. Dan semua itu berawal dari kegagalan dalam menjaga dan atau cara
memanfaatkannya. Firman Allah Swt:













Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah)
memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak diterima) dan
harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orangorang yang berbuat baik. (QS. Al-Araf [7]: 56)
Ungkapan dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah
Allah Swt memperbaikinya mengandung dua pengertian;
Pertama, larangan merusak bumi setelah adanya perbaikan, yaitu saat
penciptaan bumi oleh Allah sendiri. Pengertian ini mengisyaratkan agar manusia
memelihara bumi, yang sudah merupakan tempat yang baik bagi manusia.
Kedua, larangan membuat kerusakan di bumi setelah adanya perbaikan oleh
sesama manusia. Hal ini terkait dengan peran aktif manusia untuk menciptakan
sesuatu yang baru, baik, dan membawa kebaikan (maslahah). Tugas kedua ini, lebih
berat daripada tugas pertama, karena memerlukan pemahaman yang tepat tentang
hukum-hukum Allah yang menguasai alam ciptaan-Nya, berikutnya adalah penerapan
ilmu cara (teknologi) dengan melihat hukum-hukum itu, daya cipta untuk
memanfaatkannya, dan prinsip-prinsip keseimbangan.

18

Berkaitan dengan hal

tersebut, maka pemanfaatan potensi alam yang dianugerahkan Tuhan kepada umat
manusia, haruslah berdampak pada kebaikan (maslahah) daripada kerusakan
(mafsadah).

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

37

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Menjaga lingkungan hidup (alam) dan atau memanfaakannya, merupakan


sesuatu yang sangat prinsipil dalam ajaran Islam, terutama bila dikaitkan dengan
tujuan diciptakannya alam ini. Allah Swt. Berfirman:


Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya
dengan bermain-main. (QS. Ad-Dukhan [44] ayat 38).



Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya
tanpa hikmah. yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, Maka
celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (QS. Shaad [38]
ayat 27).
Ayat lain juga menegaskan;



Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang berada di antara keduanya
kecuali dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan (QS. AlAhqaaf [46]: 3).
Dengan demikian, arti penting menjaga lingkungan hidup (alam) ataupun
memanfaatkannya dengan baik dan berakhir pada kebaikan (maslahah), sama halnya
sebagai bentuk apresiasi yang tinggi terhadap tujuan diciptakan alam itu sendiri.
Karena yang demikian itu, maka termasuk bagian dari menerapkan etika beragama,
sosial-kemasyarakatan, bahkan etika berbangsa dan bernegara sekaligus.
C. RANGKUMAN

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

38

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Musyawarah dapat berarti mengatakan atau mengajukan sesuatu. Dari


pengertian ini maka pada dasarnya musyawarah hanya digunakan untuk segala hal
yang baik, sejalan dengan makna dasarnya. Musyawarah mempunyai peran yang
sangat penting sekali dalam kehidupan guna menciptakan peraturan di dalam
masyarakat atau dalam suatu negara. Begitu pentingnya musyawarah, tidak aneh bila
Islam menamakan salah satu surat al-Quran dengan asy-Syura, yang berarti
musyawarah.
Musyawarah merupakan apresiasi seseorang untuk menyatakan pendapatpendapatnya terhadap suatu masalah yang ingin dipecahkan bersama dengan harapan
mendapatkan hasil yang benar dan memuaskan, maka yang perlu diperhatikan di sini
adalah kejelasan materi atau dalam hal apa sesuatu itu dapat dimusyawarahkan.
Berkaitan dengan hal-hal yang tidak boleh dimusyawarahkan, adalah apa-apa yang
sudah ditetapkan oleh nash (al-Quran dan as-Sunnah). Sebab pendapat orang atau
kelompok tidak boleh mengungguli wahyu (al-Quran dan as-Sunnah). Sementara
yang boleh dimusyawarahkan adalah hal-hal yang bersifat ijtihadiyah.
Harapan agar musyawarah dapat dijalankan dengan lancar, penuh keakraban,
persahabatan dan bermartabat, maka mensyaratkan adanya prosedur-prosedur yang
mengatur tata cara atau sikap bermusyawarah itu sendiri.
D. LATIHAN
1. Salah satu tujuan musyawarah adalah untuk menegakkan keadilan, jelaskan
maksudnya!
2. Bagaimana urgensi musyawarah dalam akhlak bernegara!
3. Bagaimana hubungan pemimpin dan yang dipimpin yang ideal?
4. Bagaimana tanggung jawab manusia dalam memelihara lingkungan?
E. REFERENSI (END NOTE)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

39

M. Quraish Shihab, Wawasan al-Quran, Tafsir Maudlui atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung:Mizan, 1996),
hlm. 469
2
Muhammad Abdul Qadir Abu Faris, Hakekat Politik Islam (Yogyakarta: PLP2M, 1987). Hlm 98-99
3
Taufiq asy-Syawi, Syura Bukan Demokrasi, terjemahan Djamaluddin Z.S. (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), hlm.
68
4
Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq (Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam [LPPI], cet. IV. 2001), hlm.
232
5
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), hlm. 6
6
Mukti Ali, Memahami Beberapa Aspek Ajaran Islam (Bandung:Mizan, cet. II, 1993), hlm. 156
7
Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Al-Quran, Tafsir Sosial Berdasar Konsep-Konsep Kunci (Jakarta: Paramadina,
1996), hlm. 627
8
Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Al-Quran, hlm. 625
9
Muhammad Abduh, dalam Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, hlm. 241
10
Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, hlm. 241
11
Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, hlm. 243
12
Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, Ibid.
13
Nurcholish Madjid, Cendekiawan dan Religiusitas Masyarakat (Jakarta: Paramadina, 1999), hlm. 113
14
Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Pedoman Hidup Seorang Muslim (terj.), (Madinah: Maktabatul Ulum wal Hikam, cet. VI,
1419 H), hlm. 99-100
15
Nurcholish Madjid, Tradisi Islam, Peran dan Fungsinya dalam Pembangunan di Indonesia (Jakarta: Paramadina,
1997), hlm. 94, lihat juga, Nurcholish Madjid, Cendekiawan dan Religiusitas Masyarakat, hlm. 115-118
16
Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, hlm. 248-250
17
Khozin, Refleksi Keberagamaan, Dari Kepekaan Teologis Menuju Kepekaan Sosial, (Malang: UMM Press, 2004),
hlm. 226
18
Nurcholish Madjid, Kalam Kekhalifahan Manusia dan Reformasi Bumi; Suatu Percobaan Pendekatan Sistematis
terhadap Konsep Antropologis Islam), Pidato Pengukuhan Guru Besar Luar Biasa dalam Bidang Ilmu Filsafat di IAIN
(sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, 10 Agustus 1998.