Anda di halaman 1dari 23

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

BAB

Memahami Konsep
Takdir Allah
A. PENDAHULUAN
Dari materi ini, diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan tentang:
1. Pengertian takdir
2. Takdir dan ikhtiar manusia
3. Beberapa tingkatan takdir
4. Bersikap yang benar terhadap takdir
4. Hakekat beriman kepada takdir dan hikmahnya
1. Pengertian Takdir
Suatu Ketika Umar membatalkan rencananya untuk mengunjungi Syam
(kawasan Syiria, Palestina) karena ada wabah penyakit yang sedang melanda
kawasan tersebut. Tampil seorang menanyakan perihal pembatalan tersebut, Wahai
Umar, Apakah anda akan lari dari takdir Allah? Umar Menjawab, saya lari dari
takdir Allah menuju takdir Allah. Maksud Umar, dia menghindar dari takdir Allah
yang satu (kemungkinan terkena penyakit), menuju takdir Allah yang lain.
Takdir sering dikaitkan dengan apakah manusia berkehendak atau Allah-lah
yang mempunyai kehendak. Juga sering pula dikaitkan dengan apakah Tuhan yang
menciptakan perbuatan manusia; baik dan buruk. Jika manusia ditentukan
perbuatannya mengapa manusia harus bertanggungjawab terhadap perbuatannya di
akhirat. Hal-hal tersebut yang sering menjadi fokus pembicaraan mengenai takdir.
Sehingga dalam kajian teologis, pembahasan takdir tersebut memunculkan aliranaliran semacam jabbariyah yang cenderung fatalis, qadariyah dan mu'tazilah yang

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

142

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

cenderung memberikan kekuasaan mutlak pada manusia. Pembahasan mereka


akhirnya malah menimbulkan kebingungan, karena sama-sama mendasarkan pada
ayat al-Qur'an dan sama-sama memunculkan pertanyaan kembali terhadap konsep
tersebut.
Jika kita menengok kehidupan Rasulullah dan para sahabat, mereka sangat
meyakini akan adanya takdir Allah SWT. Namun keyakinan tersebut tidak sampai
menghalangi mereka dari usaha atau ikhtiar atau bersikap pasrah (jabbariyah).
Sebaliknya usaha dan ikhtiar mereka tidak sampai memunculkan persepsi akan
kekuasaan mutlak manusia (qadariyah). Namun mereka berada dalam posisi yang
tepat antara kedua kecenderungan tersebut.
Berbeda dengan ketentuan unsur-unsur Iman yang lainnya. Iman kepada
takdir memiliki variasi pemikiran cukup tajam. Dari sisi keberadaanya, ada yang
mempertanyakan unsur rukun iman iman ini. Mereka menyatakan bahwa iman
kepada takdir tidak termasuk pada rukun-rukun iman yang enam. Alasannya tidak ada
satupun ayat al-Qur'an yang menegaskan akan adanya iman kepada takdir ini. Dasar
yang sering dipakai adalah hadits dari Umar tentang datangnya Jibril yang berwujud
manusia di tengah majlis Rasulullah yang menanyakan tentang hakekat Iman, Islam,
Ihsan dan hari akhir. Lepas dari pro dan kontranya, takdir memang menjadi salah satu
unsur yang sudah melekat pada rukun Iman.
Takdir merupakan bentuk mashdar dari qaddara yang dirumuskan dari kata
qadara yang arti leksikalnya adalah mengukur, memberi kadar atau ukuran. Untuk
lebih memahami makna atau pengertian qadar atau takdir, dapat menelaah lebih lanjut
ayat-ayat di bawah ini:



Mahasucikanlah Nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi. Yang menciptakan lalu
menyempurnakan, dan Yang membuat segala sesuatu menurut ukurannya (qaddara),
lalu memberi petunjuk (QS. Al-A'la ayat: 1-3)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

143

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH









yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak
mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia
telah menciptakan segala sesuatu, Dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu
menetapkan ukuran (takdir) baginya (QS. Al-Furqan: 2)

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (qadar)


(QS. Al-Qamar: 49)





Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya.
Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan
(penghuni) nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orangorang yang bertanya. (QS. Fushshilat(41): 10)














Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan
Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. (QS. Al-Hijr
(15): 21)














Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan
air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa
menghilangkannya. (QS. Al-Mu'minun (23): 18)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

144

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH




Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu
Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan
dikeluarkan (dari dalam kubur). (QS. Al-Zukhruf (43): 11)










Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri
(sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau
sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.
Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu
sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi
keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur'an.
Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orangorang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orangorang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah
(bagimu) dari Al Qur'an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan
berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang
kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah
sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah
ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (QS. Al-Muzammil (73): 20)
Dari ayat-ayat tersebut, dapat dipahami bahwa qadar, takdir dan mustaq-nya
mempunyai makna ketentuan (undang-undang) Allah yang bersifat universal, yang
bergerak dalam semua aspek, baik pada manusia maupun alam dan seisinya.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

145

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Kata qadar atau takdir sering disinonimkan dengan qadla. Qadla sendiri
sebenarnya memiliki beberapa makna, namun yang berhubungan dengan kata takdir
adalah menentukan, menetapkan, memutuskan sebuah perkara. Sebagaimana istilah
qadhi yang dalam bahasa Indonesianya adalah hakim, memutuskan perkara yang
dihadapkan padanya. Pengertian qadha ini dapat dipahami dari beberapa ayat berikut:











Dan Tuhanmu telah menetapkan (memerintahkan), janganlah menyembah
kecuali kepada-nya dan berbaktilah kepada kepada Ibu Bapak dengan sebaikbaiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur
lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada
keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah
kepada mereka perkataan yang mulia. (Qs. Al-Isra': 23)












Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian, ketika kamu
berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu dan kamu
ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah
hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. Dan hanya kepada
Allahlah dikembalikan segala urusan. Supaya Allah menetapkan (memutuskan)
keputusannya yang mesti terlaksana (QS. Al-Anfal: 44)




Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu:
Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan kamu
akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. (QS. al-Isra'(17 ): 4)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

146

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Jika disimpulkan, Qadla, qadar, atau takdir mempunyai kesamaan makna yaitu
segala ketentuan, undang-undang, peraturan, hukum, keputusan Allah SWT yang
bersifat universal dan berlaku pada sekalian makhluk.
2. Takdir & Ikhtiar Manusia
Sebelum membahas apakah manusia memiliki hal ikhtiar atau tidak, perlu
dijelaskan bahwa ada dua mainstream pemikiran tentang masalah ini: pertama setiap
peristiwa selalu didahului oleh oleh Kehendak Ilahi dan bahwa hal itu sudah tersurat
sebelumnya. Ayat-ayat al-Qur'an yang mendukung adalah:

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada
dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami
menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS.
Al-Hadid (57): 22)

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang
mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di
lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula),
dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah
atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS.
Al-An'am (6): 59)









BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

147

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Kemudian setelah kamu berduka-cita Allah menurunkan kepada kamu


keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan daripada kamu, sedang
segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang
tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: "Apakah ada
bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?" Katakanlah:
"Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah". Mereka menyembunyikan
dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata:
"Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini,
niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini". Katakanlah: "Sekiranya kamu
berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh
itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh". Dan Allah (berbuat demikian) untuk
menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam
hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (QS. Ali Imran (3): 154)














Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan
Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. (QS. Al-Hijr
(15): 21)







Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan
barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya.
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. AlThalaq (65): 3)








Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (QS.alQamar (54): 49)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

148

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya,


supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah
menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang
Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (QS.
Ibrahim (14): 4)



Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan
kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari
orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan
Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala
kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali Imran
(3): 26)
Kedua, manusia memiliki kebebasan dalam perbuatannya, mampu
mempengaruhi masa depan dan nasibnya dan dapat pula mengubahnya, didukung
ayat-ayat al-Qur'an, di antaranya:













Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di
muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya
Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan
yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan
terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak
ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. Al-Ra'd (13): 11)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

149

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH







Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang
dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari
segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari ni`mat-ni`mat Allah; karena itu
Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa
yang selalu mereka perbuat. (QS. Al-Nahl (16): 112)


Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk
dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya
sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba (Nya).
(QS.Fushilat (41): 46)












Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di
antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara
mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada
yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami
tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi
merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri (QS. Al-Ankabut (29): 40)





Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya.
Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan
(penghuni) nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orangorang yang bertanya. (QS. Fushshilat (41): 46)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

150

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH





Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang
bersyukur dan ada pula yang kafir . (QS. Al-Insan (76): 3)

Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka


barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang
ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang
zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta
minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih
yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat
yang paling jelek. (QS. Maryam (18): 29)










Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan
tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat)
perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Rum (30): 41)





Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah
keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia
Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya
suatu bahagianpun di akhirat. (QS. Al-Syura (42): 20)
Kedua mainstream ini sering dianggap berlawanan, sebagaimana munculnya
dua kelompok besar teologi yang didukung kekuatan politik yang saling berhadap-

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

151

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

hadapan dan masing-masing mengklaim pendapatnya yang paling benar. Untuk


menyatukan kedua pendapat tersebut, para ulama teologi sering melakukan ta'wil
dalam masalah tersebut.
Jika kita cermati lebih jauh, sebenarnya bukan pertentangan antara dua
maintsream terebut. Namun kedua hal itu merupakan batasan dan kewenangan yang
dimiliki manusia dalam kaitannya dengan persoalan takdir. Sebagai gambaran
misalnya aliran sungai dimulai dari hulu dan berakhir di hilir. Kedua ujung itu bukan
berarti keduanya terpisah, namun merupakan satu kesatuan dengan aliran sungai yang
membentuk sebuah aliran sungai. Disini dapat dijelaskan bahwa memang ada
ketentuan-ketenatuan Allah SWT yang sudah digariskan, namun manusia memiliki
hak dalam menentukan perbuatannya. Dalam pembicaraan takdir, persoalan ikhtiar
sering dikaitkan dengan persoalan ada tidaknya kehendak manusia. Apakah manusia
mempunyai kehendak dan kekuasaan atas perbuatannya?
Pada intinya Allah SWT memiliki kehendak dan manusia memiliki kehendak.
Namun kehendak manusia tidak sepenuhnya mutlak sebagaimana kehendak Allah
SWT. Hal ini sebagaimana hubungan antara sifat yang dimiliki manusia dan sifat
yang dimilki Allah SWT. Sama-sama bisa melihat, mendengar, namun penglihatan
dan pendengaran manusia sangat terbatas. Dibatasai ruang lingkup yang sempit dalam
batasan ruang dan waktu. Sedangkan pengalihatan dan pendengaran Allah SWT
adalah Maha sangat luas dan tidak terbatas. Demikian juga dengan kehendak
manusia, tidaklah sama dengan kehendak Allah SWT yang maha berkehendak.
Kehendak manusia dibatasi dengan kehendak manusia lain dalam kerangka kehendak
Allah SWT. Manusia dalam berkehendak dalam batas-batas dan hukum tertentu dan
dengan bermacam-macam kondisi yang memungkinkan manusia melakukan pilihan
atas kehendaknya. Sehingga kehendak manusia disertai kebebasan untuk memilih
kehendak mana yang akan diambilnya. Apakah menuju jalan baik atau bukan. Untuk
itulah manusia diminta pertanggungjawabannya atas pilihan yang diambilnya.
Hidayah Allah
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

152

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Dalam setiap penciptaan, ada empat unsur yang selalu melekat, yaitu: 1)
Khalq atau menciptakan, 2) Taswiyah atau menyempurnakan, 3) Takdir atau memberi
ukuran, 4) hidayah atau memberi petunjuk atau pimpinan. Keempat unsur tersebut
berlaku pada semua penciptaan.
Dalam setiap penciptaan, keempat unsur tersebut selalu ada. Jika kita amati,
biji-biji tanaman yang kecil, ada yang berkembang dalam bentuk yang sempurna
menjadi sebuah pohon besar. Namun ada yang dengan sebesar biji yang sama hanya
berkembang menjadi semak belukar. Dengan memakai kacamata ayat di atas, setiap
makhluk diciptakan melalui proses menjadi bentuk yang sempurna sesuai dengan
ketentuan atau takdirnya masing-masing. Dalam proses penyempurnaan tersebut,
setiap makhluk mendapat petunjuk dan bimbingan dari Allah SWT agar tidak keluar
dari ketentuan yang ada. Misalnya sperma manusia tidak akan tumbuh menjadi
seekor binatang. Biji padi tidak akan tumbuh menjadi jagung. Ini semua karena ada
unsur ketentuan (takdir) juga unsur hidayah (pimpinan dan petunjuk) dari Allah SWT.
Bagaimana dengan kehendak manusia?
Manusia memiliki hak ikhtiar. Namun itu tidak berarti manusia bebas tanpa
batas. Konsep takdir dalam Islam bukan seperti yang digambarkan sebagaimana teori
bandul jam yang mengatakan bahwa Tuhan menciptakan alam dengan segala
sistemnya untuk berjalan sendiri, kemudian Tuhan beristirahat. Dalam konsep Islam,
Allah Maha pencipta dan Maha pengatur, sehingga Tadbir Allah SWT tetap
melingkupi makhluknya. Hal ini dapat dipahami misalnya dari hadits tentang doa-doa
yang langsung diijabahi seperti doa orang yang teraniaya, doa seorang ibu yang
anaknya durhaka, bahwa pada waktu-waktu tertentu para malaikat mendoakan bagi
manusia-manusia yang beriman.
Menurut Yunahar Ilyas, kata al-Hidayah dalam al-Qur'an mempunyai dua makna:1
1. Al-Dilalah wa al-Irsyad (menunjuki dan membimbing), misal dalam QS.
Fushshilat (41);17

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

153

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

2. Idkhalul iman ilal qalb (memasukkan iman ke dalam hati, atau menjadikan
seseorang beriman); seperti dalam QS. al-Qashash (28);56
Muhammad as-Saleh bin Utsaimin mengemukakan beberapa dalil yang
membuktikan bahwa manusia memiliki hak ikhtiar sebagaimana dikutip Yunahar
Ilyas dalam bukunya Kuliah Akidah Islam:
1. Adanya masyiyah dan iradah manusia yang secara eksplisit dikemukakan alQur'an.












Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka
datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu
kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah
kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan
berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (QS. Al-Baqarah (2):
223)








Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan
untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka,
maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka:
"Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu." (QS. Al-Taubah
(9): 46)

2. Adanya Pujian terhadap perbuatan baik manusia, celaan terhadap perbuatan


jahat, dan balasan yang sesuai bagi keduanya.
3. Diutusnya para Rasul sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi
peringatan bagi manusia






















(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi
peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

154

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana. (QS. Al-Nisa' (4): 165)
4. Dalam kehidupan sehari-hari semua yang dilakukan manusia berdasarkan
pada kemauannya, tanpa merasakan sesuatu yang memaksanya. Seperti
makan, minum, tidur dan sebagainya.
3. Beberapa Tingkatan Takdir
Ada beberapa tingkatan takdir; yaitu al-Ilmu, al-Kitabah, al-Masyiah, dan alKhalq.2 Pertama, al-Ilmu. Takdir atau ketentuan Allah pada jenjang awal merupakan
jangkauan ilmu Allah yang bersifat azali (abadi) atas segala sesuatu. Allah maha
mengetahui apa yang telah terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi. Tidak satupun
terluput dari pengetahuan Allah. Allah berfirman:

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa


saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam
sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi
Allah. (QS. Al-Hajj (22): 70)



Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang
Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang. (QS.al-Hasyr (59): 22)

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang
mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di
lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula),
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

155

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah
atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh) (QS.
Al-An'am (6): 59)
Kedua, al-Kitabah. Berdasarkan pengetahuan Allah, ketentuan-ketentuan
(takdir) dituliskan di lauh mahfudz. Apa yang telah, sedang dan akan terjadi sudah
tertulis di sana. Allah berfirman:

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa


saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam
sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi
Allah. (QS. Al-Hajj (22): 70)









Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada
dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami
menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
(QS.al-Hadid (57): 22)
Ketiga, al-Masyiah. Allah mempunyai kehendak terhadap segala sesuatu yang
ada di langit dan bumi. Tidak ada sesuatupun yang terjadi kecuali atas kehendak-Nya.
Apa yang dikehendaki Allah pasti akan terjadi.
















Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki
Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS.
Al-Insan (76): 30)
Keempat, al-Khalq. Allah menciptakan segala sesuatu. Allah berfirman:






BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

156

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.


(QS. Al-Zumar (39): 62)









yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak
mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia
telah menciptakan segala sesuatu, Dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu
menetapkan ukuran (takdir) baginya (QS. Al-Furqan (25): 2)

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu".
( QS. Al-Shaffat (37): 96)
4. Bersikap Benar terhadap Takdir Allah
Kekeliruan dalam memahami qadla dan qadar akan memunculkan sikap yang
salah dalam kehidupan manusia. memahami bahwa semua kejadian sudah ditentukan
sebelumnya oleh Allah SWT tanpa memberikan peluang bagi manusia, akan
memunculkan sikap malas, tidak ada etos kerja, tidak ada usaha. Hal ini sering
dilontarkan para pengecam Islam bahwa keimanan kepada qadla dan takdir adalah
biang kemalasan dan kemunduran individu dan masyarakat. Hal ini pernah terjadi di

masa-masa kemunduran Islam, pasca klimaksnya kejayaannya. Saat itu orientasi umat
Islam adalah kehidupan ukhrawi di masjid-masjid dan kurang memikirkan kehidupan
dunia. Para sejarawan menilai bahwa penyebab kemunduran Islam saat itu adalah
paham Asy'ariyah yang cenderung jabbariyah.
Pemahaman seperti ini juga pernah dipakai penguasa sebagai justifikasi
terhadap kesewenang-wenangannya dalam menjalankan pemerintahan. Pernah pada
awal pemerintahannya, Mu'awiyah mengirimkan surat kepada salah satu sahabat
Rasul al-Mughirah ibn Syu'bah menanyakan, "Apakah doa yang dibaca Rasulullah
setiap selesai shalat? Ia memperoleh jawaban sebagai berikut:

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

157

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH



Tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, Wahai Allah tidak ada
yang mampu menghalangi apa yang Engkau beri. Dan tidak ada yang mampu
memberikan apa yang Engkau halangi, tiada berguna upaya yang
bersungguh-sungguh semua bersumber dari-Mu (HR Bukhari)
Doa ini dipopulerkannya untuk memberi kesan bahwa segala sesuatu telah
ditentukan Allah, dan tiada usaha manusia sedikitpun. Kebijakan mempopulerkan doa
ini dinilai banyak pakar sebagai "bertujuan politis", karena dengan doa itu para
penguasa Dinasti Umayyah melegitimasi kesewenangan pemerintah mereka, sebagai
kehendak Allah.3
Sebaliknya, pemahaman bahwa manusia mempunyai kekuasaan penuh
terhadap perbuatannya, memunculkan bentuk kesombongan dan over-optimis, karena
menganggap seluruh usaha dan keberhasilannya adalah murni usahanya sendiri.
dalam taraf yang lebih ekstrim akan muncul sikap bahwa dialah yang berkuasa atas
segal sesuatu, sebagaimana kata fir'aun yang menganggap bahwa dia berkuasa atas
seluruh rakyatnya. Dia menuhankan dirinya karena dia merasa dapat melakukan apa
saja dengan kekuasaan dan hartanya.
Dalam tataran tertentu, pemahaman yang demikian akan merugikan diri
sendiri. ketika over-optimis mengalami kegagalan, dia akan mudah patah dan sulit
untuk bangkit kembali.
Idealnya, memahami takdir Allah SWT adalah dengan penuh keyakinan
bahwa Allah SWT maha mengetahui semua apa yang ada di muka bumi ini, yang
tersembunyi maupun yang nampak, yang sudah berlaku, sedang terjadi dan yang akan
terjadi. Allah SWT maha kuasa atas segala sesuatu. Semua ini diimbangi dengan
ikhtiar dan usaha maksimal. Disamping itu disertai keyakinan bahwa apapun yang dia
capai atau hasilkan, diserahkan kepada Allah SWT disertai dengan tawakkal kepadanya. Pemahaman yang demikian akan menumbuhkan sikap optimis. Sikap optimis
akan membuahkan perasaan cinta dan semangat yang tinggi dalam hidup. Dengan

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

158

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

sikap tawakkal akan hasil yang dicapainya, maka seseorang tidak akan mudah roboh
ketika mengalami kegagalan. Pemahaman yang demikian itulah yang dapat
menumbuhkan etos kerja bagi umat Islam.
Pandangan yang tepat terhadap konsep takdir akan memunculkan pribadipribadi sebagaimana para sahabat Rasul. Keyakinan dan keimanan para sahabat
Rasul kepada takdir Allah SWT tidak menjadikan mereka menjadi seorang jabbari,
dan optimisme mereka tidak menjadikan mereka menjadi seorang qadari.
Sebagaimana diceritakan seorang Arab Badui yang akan menjalankan shalat dan
memarkir ontanya di depan masjid, tanpa mengikatnya. Ketika selesai shalat, dia
mendapati ontanya hilang, sehingga dia mencari dan berteriak-teriak: aina naqati,
aina naqati? Umar yang melihatnya kemudian bertanya apakah ontanya sudah diikat
sebelumnya? Orang Arab Badui itu mengatakan: laqad tawakkaltu ala-Llah. Umar
menjawab: ikatlah dulu ontamu, baru kamu bertawakal.
Dalam perang-perang yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya, Rasul
tetap merencanakan sebuah strategi yang kadang berasal dari Rasul sendiri kadang
dari para sahabat. Artinya Rasulullah tetap berusaha dan mengupayakan agar perang
itu dapat dimenangkan kaum muslimin, tidak hanya menyandarkan pada takdir Allah
semata. Setelah ada ikhtiar dan usaha, baru mereka menyandarkan hasilnya kepada
Allah dalam bentuk doa dan tawakkal.
5. Hakekat Beriman Kepada Takdir dan Hikmahnya
Beriman kepada takdir Allah pada hakekatnya adalah beriman kepada Allah
SWT sebagai Dzat yang Maha Segala. Artinya, seseorang yang mengaku bertauhid
dia meyakini akan Allah SWT dengan segala sifat dan kekuasaannya. Bahwa Allah
Maha Melihat, Maha Mengetahui, Maha Kuasa atas segala sesuatu, dengan segala
iradah-Nya. Memang pemahaman tentang qadar dan takdir tidak secara tegas
diungkapkan dalam al-Qur'an. Penyebutan keimanan dalam al-Qur'an biasanya
menyangkut iman kepada Allah SWT dan iman kepada hari akhir. Seperti yang dapat
kita cermati dalam ayat-ayat di bawah ini:
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

159

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH






Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari
Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada
Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka
mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang
lain) dari rasul rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami ta`at".
(Mereka berdo`a): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat
kembali". (QS. Al-Baqarah (2): 285)








Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang
Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikatmalaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka
sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (QS, al-Nisa' (4): 136)

Hadits Riwayat Bukhari Muslim

.
.

Barang Siapa yang percaya pada Allah dan hari akhir, maka hendaklah
memuliakan tamunya. Barang Siapa yang percaya pada Allah dan hari akhir, maka
hendaklah ia menyambung tali kekerabatan. Barang Siapa yang percaya pada Allah
dan hari akhir,berkatalah yang benar atau diam (HR Bukhari Muslim dari Abu
Hurairah)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

160

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH








Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang Yahudi, orang-orang
Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar
beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima
pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak
(pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqarah (2): 62)
Melihat ayat di atas, bukan berarti bahwa iman kepada takdir itu tidak ada.
Sebagai mana dalam ayat ke-62 dari surat al-Baqarah di atas, hanya menyebut iman
kepada Allah SWT dan hari akhir saja. Hal ini bukan berarti rukun iman hanya dua.
Namun keimanan kepada malaikat, Kitab, Rasul, hari kemudian dan takdir
merupakan konsekuensi logis terhadap keimanan kepada Allah SWT. Begitu juga
tidak menyebutkannya ayat di atas tentang iman kepada takdir bukan berarti iman
kepada takdir bukan salah satu rukun iman.
Ketika seseorang beriman kepada Allah SWT, tentu dia mengimani juga akan
kekuasaan Allah SWT terhadap seluruh makhluk-Nya, termasuk ketetapan-ketetapan
yang digariskannya untuk manusia dan alam seisinya. Bahwa Allah SWT telah
menetapkan undang-undang (ketentuan) yang mutlak, dimana manusia dan makhluk
lainnya tidak dapat mengelak. Warna kulit, keturunan, bentuk wajah seseorang telah
ditetapkan baginya. Begitu pula diciptanya seseorang menjadi bentuk yang ada.
Seorang manusia tidak dapat mengelak dari penciptaanya sebagai manusia. Seekor
lalat yang kecil tidak dapat protes mengapa dia menjadi lalat yang kecil, tidak
menjadi rajawali yang besar, misalnya. Demikian juga ketentuan yang bersifat mutlak
seperti air yang mendidih pada suhu 100 derajat celicius, dan membeku pada nol
derajat celcius. Juga ketentuan atau aturan beredarnya matahari dan bulan pada
tempatnya, hukum grafitasi, dan sebagainya.
Beberapa hikmah yang dapat dipetik dari keimanan kepada takdir:

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

161

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

1. Mendorong manusia untuk lebih menguak rahasia-rahasia alam yang sudah


tetatur. Dengan adanya konsep keteraturan (takdir) pada alam, maka menjadi
tantangan tersendiri bagi manusia untuk menguaknya.
2. Membangun rasa optimis dalam setiap aktivitas manusia, serta membantu
mengurangi rasa frustasi ketika mengalami kegagalan dengan sikap tawakkalnya.
3.

Dengan optimisme tinggi, akan membantu meningkatkan etos kerja. Keimanan


yang benar akan meningkatkan etos kerja tinggi, sebagaimana para sahabat rasul
yang selalu giat dalam meningkatakan kualitas ibadahnya dan giat mencari
kehidupan dunianya.

4. Memberikan pelajaran kepada manusia bahwa sekuat-kuatnya manusia ada


kekuatan lain yang lebih dahsyat, sepandai-pandainya manusia ada Dzat yang
lebih darinya.
5. Memberikan ketenangan dalam diri manusia karena apapun yang diberikan
kepadanya adalah yang terbaik bagi dirinya.
C. RANGKUMAN
Iman kepada qadla, qadar atau takdir adalah salah satu rukun Iman yang
enam, sehingga wajib diyakini oleh seorang mukmin. Takdir harus dipahami secara
syumul (menyeluruh). Pemahaman yang parsial akan mengakibatkan sikap yang salah
dalam hidupnya. Mengimani takdir harus diikuti dengan ikhtiar.
D. PERTANYAAN:
1. Apa yang anda ketahui tentang takdir?
2. Apa Pengertian qadar, takdir, qadla?
3. Adakah hak ikhtiar manusia dalam menentukan perbuatannya?
4. Bagaimana sikap yang benar dalam beriman kepada Allah?
5. Orang barat sering mengecam iman kepada takdir sebagai penyebab kemunduran
individu dan msyarakat Islam. Bagaimana pendapat anda?
6. Apa sebenarnya hakekat beriman kepada takdir Allah?
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

162

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

7. Sebutkan hikmah-hikmah beriman kerpada takdir!

E. REFERENSI (END NOTE)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

163

Yunahar Ilyas, Kuliah Akidah.Yogyakarta: LPPI. 2001 hal. 186


ibid, hal. 178 s.d. 181
3
Quraish Shihab, Wawasan al-Qur'an: Tafsir Maudlu'I atas Berbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan. 2000. hal.59
2