Anda di halaman 1dari 6

I.

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari mengandung berbagai jenis
mikroba baik yang bersifat patogen maupun nonpatogen di dalamnya. Seiring
dengan berkembangnya industri, penduduk dan luasnya areal pemukiman,
ketersediaan akan air bersih yang layak diminum semakin sedikit. Parameter yang
perlu diperhatikan dalam menilai kelayakan / kualitas air untuk dijadi air minum
adalah bakteri yang terkandung di dalamnya. Pemakaian air sungai sebagai air
minum masih dapat dikatakan aman digunakan asalkan mikroorganisme yang
terkandung di dalamnya tidak bersifat patogen.
Coliform merupakan suatu grup bakteri yang digunakan sebagai indikator
ada tidaknya polusi kotoran maupun kondisi yang tidak baik terhadap air,
makanan,, susu, dan produk lainnya. Coliform mempunyai ciri-ciri yaitu bentuk
batang, merupakan bakteri gram negatif, tidak membentuk spora, aerobik atau
anaerobik fakultatif yang memfermentasikan laktosa dengan menghasilkan asam
dan gas dalam waktu 48 jam dan suhu 35C (Pelczar dan Chan, 2006). Adanya
bakteri Coliform pada air menunjukkan kemungkinan adanya mikroba yang
bersifat enteropatogenik dan atau toksikgenik yang berbahaya bagi kesehatan
(Prescott et al, 2003).
Untuk itu penting dilakukannya uji kualitas air. Salah satu metode yang
dapat digunakan yaitu metode MPN. Metode MPN merupakan salah satu metode
perhitungan secara tidak langsung. Uji ini mendeteksi sifat fermentatif coliform
dalam sampel (Lim, 1998).
I.2 Tujuan
1. Mengetahui jumlah coliform pada sampel air
2. Mengetahui jumlah E. coli pada sampel air
3. Mengetahui metode yang digunakan untuk uji kualitas air
4. Mengetahui kualitas air pada masing-masing yang diujikan

II.

BAHAN DAN METODE

Uji kualitas air pada praktikum dibagi menjadi 2 tahap ,yaitu tahap uji
dugaan dan tahap uji penetapan. Sampel yang digunakan yaitu air sungai, air
sumur bali, air sumur bor, air pantai, air manggrove, dan air BTDC. Pada tahap uji
dugaan, dipipet masing-masing 10 ml air sampel kemudian dimasukkan ke dalam
3 seri tabung reaksi yang berisi medium kaldu lactose konsentrasi ganda,
kemudian dipipet masing-masing 1 ml dan 0,1 ml air sampel dan dimasukkan
masing-masing ke dalam 3 seri tabung reaksi yang berisi medium kaldu lactose
konsentrasi normal. Diinkubasi semua tabung pada suhu 37C selama 24 jam.
Hasil positif akan ditunjukkan dengan adanya gas dalam tabung Durham.
Pada uji penetapan, tabung Durham yang berisi gas didalamnya kemudian
tabung tersebut diinokulasikan ke dalam medium BGBB dengan cara mengambil
1 tetes dengan menggunakan jarum ose. Diinkubasi medium BGBB yang telah
diinokulasikan dengan suspensi bakteri yang tumbuh pada medium kaldu lactose
pada suhu 37o C selama 24 jam. Hasil positif ditunjukkan dengan adanya gas
dalam tabung Durham. Tabung yang menunjukkan hasil positif digesekkan pada
permukaan medium Endo Agar atau EMBA. Kemudian diinkubasi pada suhu
37C selama 24 jam. Apabila dalam sampel terdapat bakteri golongan E.coli,
maka akan terlihat adanya koloni yang berwarna merah kehijauan yang mengkilat.
III.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Pengamatan
(Terlampir)
III.2
Pembahasan
III.1

Pada praktikum ini , pemeriksaan kualitas air digunakan beberapa sampel


yaitu. air sungai, air sumur bali, air sumur bor, air pantai, air manggrove, dan air
BTDC .Pengujian derajat pencemaran air secara mikrobiologi dapat ditunjukkan
dengan adanya bakeri indikator (coliform dan fecal coliform) dengan
menggunakan dua tahapan pengujian yaitu uji dugaan dan uji penetapan.
Pada uji dugaan digunakan medium berupa kaldu laktose dengan berbagai
konsentrasi yaitu konsentrasi normal dan ganda.Dibuat demikian yaitu untuk
memberikan nutrisi yang sesuai pada mikroorganisme karena semakin banyak
sample yang dimasukkan maka semakin banyak nutrisi yang diperlukan untuk
pertumbuhan mikroorganisme. Diperoleh hasil positif ditandai dengan adanya

gelembung gas pada tabung Durham. Gas yang terbentuk merupakan gas CO2
yang berasal dari proses fermentasi laktosa oleh sel bakteri gram negatif golongan
coliform (Lim, 1998) . Pada proses selanjutnya digunakan media BGBB .Media
BGBB (Briliant Green 2% Bile Broth) merupakan media yang selektif terhadap
pertumbuhan bakteri gram negatif coliform dengan kandungan empedunya namun
kandungan hijau berliannya akan menghambat pertumbuhan bakteri gram positif
lainnya dengan cara merusak dinding sel bakteri (Dwidjoseputro, 2003). Pada uji
penetapan digunakan media EMBA. Penggunaan medium EMBA sebagai
medium pertumbuhan adalah karena Etilen Metilen Blue dapat mencegah
pertumbuhan bakteri gram positif sedangkan E.coli sendiri merupakan bakteri
gram negatif sehingga hanya E. coli yang akan tumbuh dalam medium yang
ditandai dengan warna hijau metalic (Adam 1992).
Dalam uji pemeriksaan kualitas air dilakukan dengan menggunakan metode
MPN. Uji Most Probable Number (MPN) digunakan untuk menguji adanya
cemaran mikroorganisme coliform (Pratiwi, 2008). Pada uji dugaan diperoleh
hasil air sungai, air sumur bali, air sumur bor, air pantai, air manggrove, dan air
BTDC berturut yaitu 460MPN/100 ml; 460MPN/100 ml; 3MPN/100 ml;
>1100MPN/100 ml; >1100MPN/100 ml; 150MPN/100 ml. Dari hasil tersebut
terdapat penyimpangan dimana seharus air BTDC diperoleh jumlah coliform
paling banyak karena merupakan dari pengolahan limbah dan air pantai memiliki
jumlah coliform paling sedikit karena air pantai mengandung NaCl dimana NaCl
pada konsentrasi tertentu dapat menyebabkan sel-sel mikrobia menjadi lisis
karena perubahan tekanan osmosa (Feliatra (2004). Nilai coliform lebih dari 10
per 100 ml, maka air tersebut sudah tidak boleh dikonsumsi lagi (Suriaman dan
Juwita, 2008). Pada uji penetapan tidak diperoleh hasil positif pada semua sampel
sehingga jumlah E Coli pada masing masing sampel tidak dapat dihitung.
Seharusnya E.Coli kemungkinan terdapat pada air sungai, air manggrove dan air
BTDC. Hal ini mungkin dapat disebabkan oleh pemanasan ose yang terlalu panas
dan langsung digunakan untuk inokulasi sampel tanpa didinginkan dahulu
sehingga dapat mematikan E. Coli . E.Coli termasuk bakteri golongan mesofilik

dapat hidup dengan suhu minimum 10-20oC, optimum 20-40oC, maksimum 4045oC (Moat, 1979) dimana suhu lebih dari 45oC dapat membunuh E. Coli.
IV.
KESIMPULAN
1. Jumlah coliform pada air sungai, air sumur bali, air sumur bor, air
pantai, air manggrove, dan air BTDC berturut yaitu 460MPN/100 ml;
460MPN/100 ml; 3MPN/100 ml; >1100MPN/100 ml; >1100MPN/100
ml; 150MPN/100 ml. Jumlah E.Coli pada semua sampel air yaitu 0
MPN/100 ml
2. Metode yang digunakan untuk pemeriksaan kualitas air adalah metode
MPN (Most Probable Number) yaitu metode yang digunakan untuk
menguji adanya cemaran mikroorganisme coliform yang terdiri dari dua
tahap yaitu tahap uji dugaan dan tahap uji penetapan.
3. Dari data yang diperoleh, kualitas air pada semua sampel adalah tidak
layak dikonsumsi. Hal ini dikarenakan nilai coliform lebih dari 10 per
100 ml pada semua sampel air yang di uji

DAFTAR PUSTAKA
Adam Syamsunir.1992. Dasar-Dasar Mikrobiologi dan Parasitologi untuk
Perawatan.Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Dwidjoseputro, D. 2003. Dasar- Dasar Mikrobiologi. Malang: Djambatan.


Feliatra, Irwan efendi, dan Adwar suryadi. 2004. Isolasi dan Identifikasi Bakteri
Probiotik dari Ikan Kerapu Macan (Ephinephalus fuscogatus) dalam Upaya
Efisiensi Pakan Ikan. Jurnal Natur Indonesia. 6(2): 75-80.
Lim, D. 1998. Microbiology,2nd Edition.New York : McGraw-Hill Book.
Moat, A.G. 1979. Microbial Physiology. Canada : John Wiley & Sons, Inc
Pelczar, M. J dan E.C.S. Chan. 2006. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI
Press.
Pratiwi, Sylvia T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Prescott, L. M., J. P. Harley and D. A. Klein. 2003. Microbiology 5th Edition.
Singapore: McGraw Hill.
Suriaman, Edi dan Juwita. 2008. Uji Kualitas Air. Available at: http://www.
scribd.com/doc/13939340/Jurnal-Penelitian-Tugas-Uji-Kualitas-Air.
Opened on: 20 April 2014

LAMPIRAN