Anda di halaman 1dari 36

MEKANISME PERTAHANAN TUBUH

REAKSI ALERGI
KELOMPOK : B9
KETUA
: WAHIDIN NAWAWI (1102014277)
SEKRETARIS : VRISCHIKA ALESSANDRA BENEDI (1102014276)
ANGGOTA : MUTAMMIMA RIZQIYANI (1102014173)
NABIL DHIYA ULHAK (1102014177)
NORA SAPUTRI (1102014197)
RANI DWI NINGTIAS (1102014220)
SITI ALYA ZAFIRA (1102014251)
TEGAR MAULANA (1102014261)
PUTRI PRATIWI MERDEKAWATI (1102013233)
RIAN NURDIANSYAH (1102013249)

SKENARIO
REAKSI ALERGI
SEORANG PEREMPUAN BERUSIA 20 TAHUN, DATANG KE DOKTER
DENGAN KELUHAN GATAL-GATALSERTA BENTOL-BENTOL YANG
HAMPIR MERATA DISELURUH TUBUH, TIMBUL BENGKAK PADA
KELOPAK MATA DAN BIBIR SESUDAH MINUM OBAT PENURUN
PANAS(PARASETAMOL). PADA PEMERIKSAAN FISIK DIDAPATKAN
ANGIOEDEMA DIMATA DAN BIBIR SERTA URTIKARIA DISELURUH
TUBUH. DOKTER MENJELASKAN KEADAAN INI DIAKIBATKAN OLEH
REAKSI ALERGI (HIPERSENSITIVITAS TIPE CEPAT), SEHINGGA IA
MENDAPAT OBAT ANTI HISTAMIN DAN KORTIKOSTEROID. DOKTER
MEMBERIKAN SARAN AGAR SELALU BERHATI-HATI DALAM
MEMINUM OBAT SERTA BERKONSULTASI DULU DENGAN DOKTER.

KATA-KATA SULIT
1. URTIKARIA : RUAM-RUAM YANG TIMBUL AKIBAT
REAKSI VASKULAR LAPISAN DERMIS BAGIAN ATAS.
2. ANGIOEDEMA : REAKSI VASKULAR PADA DERMIS
BAGIAN DALAM ATAU JARINGAN ATAU SUBKUTAN
ATAU SUBMUKOSA. EDEMA SETEMPAT DISEBABKAN
OLEH DILATSI DAN PENINGKATAN PERMEABILITAS
KAPILER DITANDAI DENGAN LESI URTIKA.
3. ALERGI : KEADAAN HIPERSENSITIF YANG DI DAPAT
MELALUI PAJANAN TERHADAP ALERGEN TERTENTU
DAN PAJANAN ULANG MENIMNBULKAN
MANIFESTASI REAKSI BERLEBIHAN.
4. HIPERSENSITIVITAS : KEADAAN BERUBAHNYA
REAKTIVITAS DITANDAI DENGAN REAKSI TUBUH
BERUPA RESPON IMUN YANG BERLEBIHAN TERHADAP
SESUATU YANG DIANGGAP BENDA ASING.

5. KORTIKOSTEROID : HORMON KOSTEROID YANG DIHASILKAN


KELENJAR ADRENAL DAN UNTUK TERAPI PERGANTIAN HORMONE
MENEKAN SEKRESI ACTH, GEN ANTI INFLAMASI, DAN MENEKAN
RESPON IMUN.
6. ANTI HISTAMIN : ZAT YANG MENERANGKAN EFEK HISTAMIN
TERHADAP TUBUH DENGAN CARA MEMBLOK RESEPTOR HISTAMIN.

PERTANYAAN
1. MENGAPA ADA REAKSI BENGKAK PADA KELOPAK MATA DAN BIBIR?
2. BAGAIMANA TERJADINYA ALERGI?
3. KENAPA BISA TIMBUL GATAL-GATAL DAN BENTOL-BENTOL DISELURUH
BAGIAN TUBUH?
4. APA YANG MENYEBABKAN TERJADINYA ANGIOEDEMA?
5. OBAT APA SAJA YANG MUNGKIN MENIMBULKAN ALERGI?
6. KENAPA DOKTER MEMBERIKAN OBAT ANTI HISTAMIN DAN
KORTIKOSTEROID?
7. BAGAIMANA CARA KERJA ANTI HISTAMIN?
8. MENGAPA PARACETAMOL DAPAT MENIMBULKAN ALERGI?
9. MENGAPA PADA KASUS SKENARIO TERJADI HIPERSENSITIVITAS TIPE
CEPAT?
10. APA SAJA TIPE HIPERSENSITIVITAS?
11. BAGAIMANA CARA MEMILIH OBAT YANG BAIK DALAM PANDANGAN
ISLAM?

JAWABAN
1. KARENA ANGIOEDEMA MEMBENGKAK DI JARINGAN MUKOSA.
2. KARENA ADA KOMPLEKS ANTIBODY DAN ANTIGEN YAITU IGE, SEL
MAST/BASOPHIL, DAN ANTIGENNYA.
3. KARENA VASODILATASI PEMBULUH DARAH, SEL MAST
MENGELUARKAN HISTAMINE MAKA TERJADI GATAL-GATAL DAN
BENTOL-BENTOL
4. KARENA ANGIOEDEMA MEMBENGKAK DI JARINGAN MUKOSA.
5. SPESIFIK TERGANTUNG INDIVIDU, BEBERAPA OBAT YANG SERING
MENIMBULKAN REAKSI ALERGI SEPERTI KODEIN, MORFIN DAN
BAHAN KONTRAS.
6. HISTAMINE ADA H1 DAN H2. H1 UNTUK MERINGANKAN RASA
GATAL.

7. H2 untuk mengurangi asam lambung, kortikosteroid untuk pengobatan anti


inflamasi.
8. Karena paracetamol termasuk acetaminophen yang mengandung nitrogen
oksida yang sering dianggap sebagai antigen.
9. Karena makanan dan obat termasuk hipersensitivitas tipe cepat.
10. Menurut waktunya :
- Hipersensitiivitas tipe cepat

- Hipersensitiivitas tipe intermediet

- Hipersensitiivitas tipe lambat


Menurut Gill Combs :
- Hipersensitiivitas tipe I
-

- Hipersensitiivitas tipe II

Hipersensitiivitas tipe III- Hipersensitiivitas tipe IV

11. Yang paling banyak membawa kebaikan.

HIPOTESIS

PAJANAN BERUPA OBAT PARACETAMOL DAPAT MENIMBULKAN


REAKSI HIPERSENSITIVITAS. REAKSI HIPERSENSITIVITAS TERBAGI
MENJADI 4 TIPE YAITU, HIPERSENSITIVITAS I, HIPERSENSITIVITAS II,
HIPERSENSITIVITAS III, DAN HIPERSENSITIVITAS IV.
HIPERSENSITIVITAS DAPAT DIBEDAKAN MENJADI
ETIOLOGI, MEKANISME MANIFESTASI, DAN PENGOBATAN.

SASARAN BELAJAR
LO 1. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN HIPERSENSITIVITAS
1.1 DEFINISI
1.2 ETIOLOGI
LO 2. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN HIPERSENSITIVITAS TIPE I
2.1 DEFINISI
2.2 MEKANISME
2.3 MANIFESTASI KLINIS
LO 3. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN HIPERSENSITIVITAS TIPE II
3.1 DEFINISI
3.2 MEKANISME
3.3 MANIFESTASI KLINIS

LO 4. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN HIPERSENSITIVITAS TIPE


III
4.1 DEFINISI
4.2 MEKANISME
4.3 MANIFESTASI KLINIS
LO 5. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN HIPERSENSITIVITAS TIPE
IV
5.1 DEFINISI
5.2 MEKANISME
5.3 MANIFESTASI KLINIS
LO 6. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ANTI HISTAMIN DAN
KORTIKOSTEROID
6.1 MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ANTI HISTAMIN
6.2 FARMAKODINAMIK DAN FARMAKOKINETIK ANTIHISTAMIN
6.3 KORTIKOSTEROID SERTA FARMAKOKINETIK DAN FARMAKO
DINAMIKNYA
LO 7. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN PANDANGAN DALAM
MEMILIH OBAT

LO 1. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN TENTANG


HIPERSENSITVITAS
1.1 DEFINISI HIPERSENTIVITAS

HIPERSENSITIVITAS ADALAH PENINGKATAN REAKTIVITAS ATAU


SENSITIVITAS TERHADAP ANTIGEN YANG PERNAH DIPAJANKAN ATAU
DIKENAL SEBELUMNYA

KLASIFIKASI
MENURUT WAKTUNYA :
- HIPERSENSITIIVITAS TIPE CEPAT
- HIPERSENSITIIVITAS TIPE INTERMEDIET
- HIPERSENSITIIVITAS TIPE LAMBAT
MENURUT GILL COMBS :
- HIPERSENSITIIVITAS TIPE I - HIPERSENSITIIVITAS TIPE II
- HIPERSENSITIIVITAS TIPE III - HIPERSENSITIIVITAS TIPE IV

Pemeriksaan (tes alergi)


ADA BEBERAPA MACAM TES ALERGI, YAITU :
1. SKIN PRICK TEST (TES TUSUK KULIT)
2. PATCH TES (TES TEMPEL)
3. RAST (RADIO ALLERGO SORBENT TEST) IGE SPESIFIK
4. SKIN TEST (TES KULIT)
5. TES PROVOKASI

1.2 ETIOLOGI
HASIL PENELITIAN TERKINI MENUNJUKAN BAHWA DEFISIENSI
SEL T REGULATORI DAPAT MENYEBABKAN RESPONSIVITAS
BERLEBIHAN DARI SYSTEM IMUN DAN ALERGI. PAJANAN
BERLEBIHAN TERHADAP ALERGEN-ALERGEN TERTENTU SETIAP
SAAT,SECARA UMUM SEMUA BENDA DI LINGKUNGAN
(PAKAIAN, MAKANAN, TANAMAN, PERHIASAN, ALAT
PEMBERSIH, DSB) DAPAT MENJADI PENYEBAB ALERGI, NAMUN
FAKTOR LAIN MISALNYA :
ADANYA REAKSI SILANG ANTAR BAHAN AKAN
BERPENGARUH TERHADAP TIMBULNYA ALERGI

PERBEDAAN KEADAAN FISIK SETIAP BAHAN

KEKERAPAN PAJANAN

DAYA TAHAN TUBUH SESEORANG

FAKTOR YANG BERPERAN DALAM ALERGI MAKANAN YAITU :


FAKTOR INTERNAL DAN FAKOR EKSTERNAL

LO 2. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN


HIPERSENTIVITAS TIPE I
2.1 DEFINISI
REAKSI HIPERSENSITIFITAS TIPE 1 ADALAH SUATU
REAKSI YANG TERJADI SECARA CEPAT ATAU REAKSI
ANAFILAKSIS ATAU REAKSI ALERGI MENGIKUTI
KOMBINASI SUATU ANTIGEN DENGAN ANTIBODI
YANG
TERLEBIH DAHULU DIIKAT PADA PERMUKAAN SEL
BASOFILIA (SEL MAST) DAN BASOFIL.

LI.2.2 MEKANISME

FASE REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE I :


1.

FASE SENSITASI

2.

FASE AKTIVITAS

3.

FASE EFEKTOR

2.3 MANIFESTASI KLINIS


REAKSI LOKAL
REAKSI SISTEMIK ANAFILAKSISI
REAKSI PSEUDOALERGI ATAU ANAFILAKTOID
Jenis Alergi

Alergen Umum

Gambaran

Anafilaksis

Obat, serum, kacang-kacangan

Edema
dengan
peningkatan
permeabilitas kapiler, okulasi trakea ,
koleps
sirkulasi
yang
dapat
menyebabkan kematian

Urtikaris akut

Sengatan serangga

Bentol, merah

Rinitis alergi

Polen, tungau debu rumah

Edema dan iritasi mukosa nasal

Asma

Polen, tungau debu rumah

Konstriksi bronkial, peningkatan


produksi mukus, inflamasi saluran
nafas

Makanan

Kerang, susu, telur, ikan, bahan Urtikaria yang gatal dan potensial
asal gandum
menjadi anafilaksis

Ekzem atopi

Polen, tungau debu


beberapa makanan

runah,

Inflamasi pada kulit yang terasa gatal,


biasanya merah dan ada kalanya
vesikular

LO 3. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN


HIPERSENTIVITAS TIPE II
3.1 DEFINISI HIPERSENSITIVITAS TIPE II
REAKSI TIPE II DISEBUT JUGA REAKSI SITOTOKSIK, TERJADI KARENA
DIBENTUKNYA ANTIBODI JENIS IGG ATAU IGM TERHADAP ANTIGEN
YANG MERUPAKAN BAGIAN SEL PEJAMU. REAKSI DIAWALI OLEH
REAKSI ANTIBODY DENGAN DETERMINAN ANTIGEN YANG
MERUPAKAN BAGIAN DARI MEMBRANE SEL. ANTIBODI TERSEBUT
DAPAT MENGAKTIFKAN SEL YANG MEMILIKI RESEPTOR FCY-R DAN
JUGA SEL NK YANG DAPAT BERPERAN SEBAGAI SEL EFEKTOR DAN
MENIMBULKAN KERUSAKAN MELALUI ADCC.

3.2 MEKANISME HIPERSENSITIVITAS TIPE II


REAKSI YANG BERGANTUNG PADA KOMPLEMEN

REAKSI YANG BERGANTUNG PADA ADCC


DISFUNGSI
ANTIBODI

SEL

AKIBAT

3.3 MANIFESTASI HIPERSENSITIVITAS TIPE II


1. REAKSI TRANSFUSI

2. REAKSI ANTIGEN RHESUS


3. ANEMIA HEMOLITIK

LO 4. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN


HIPERSENTIVITAS TIPE III

4.1 DEFINISI HIPERSENSITIVITAS TIPE III


REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE III ATAU YANG DISEBUT JUGA
REAKSI KOMPLEKS IMUN ADALAH REAKSI IMUN TUBUH YANG
MELIBATKAN KOMPLEKS IMUN YANG KEMUDIAN MENGAKTIFKAN
KOMPLEMEN SEHINGGA TERBENTUKLAH RESPONS INFLAMASI
MELALUI INFILTRASI MASIF NEUTROFIL.

4.2 MEKANISME HIPERSENSITIVITAS TIPE III


1. KOMPLEKS IMUN MENGENDAP DI
DINDING PEMBULUH DARAH
2. KOMPLEKS IMUN MENGENDAP DI
JARINGAN

IMMUNE COMPLEX FORMATION


IMMUNE COMPLEX DEPOSITION
IMMUNE COMPLEX-MEDIATED INFLAMMATION

1.
REAKSI LOKAL
ATAU FENOMENA
ARTHUS
4.3 MANIFESTASI
HIPERSENSITIVITAS
TIPE III
PADA MULANYA, ARTHUS MENYUNTIKKAN
SERUM KUDA KE KELINCI SECARA BERULANG
DI
TEMPAT YANG SAMA.DALAM WAKTU 2-4 JAM,
TERDAPAT ERITEMA RINGAN
DAN EDEM PADA KELINCI. LALU SETELAH
SEKITAR
5-6 SUNTIKAN, TERDAPAT PERDARAHAN DAN
NEKROSIS DI TEMPAT SUNTIKAN. HAL
TERSEBUT
ADALAH FENOMENA ARTHUS YANG
MERUPAKAN BENTUK REAKSI KOMPLEKS
IMUN.
ANTIBODI YANG DITEMUKAN ADALAH
PRESIPITIN.REAKSI ARTHUS DALAM KILINIS
DAPAT
BERUPA VASKULITIS DENGAN NEKROSIS.

B. REAKSI SISTEMIK ATAU SERUM SICKNESS


ANTIBODI YANG BERPERAN DALAM REAKSI INI ADALAH IGG ATAU
IGM DENGAN MEKANISME SEBAGAI BERIKUT:
1.

KOMPLEMEN YANG TELAH TERAKTIVASI MELEPASKAN


ANAFILATOKSIN (C3A DAN C5A) YANG MEMACU SEL MAST DAN
BASOFIL MELEPAS HISTAMIN.

2.

KOMPLEKS IMUN LEBIH MUDAH DIENDAPKAN DI DAERAH


DENGAN TEKANAN DARAH YANG TINGGI DENGAN PUTARAN ARUS
(CONTOH: KAPILER GLOMERULUS, BIFURKASI PEMBULUH
DARAH, PLEXUS KOROID, DAN KORPUS SILIER MATA)

3.

KOMPLEMEN JUGA MENIMBULKAN AGREGASI TROMBOSIT YANG


MEMBENTUK MKROTROMBI KEMUDIAN MELEPAS AMIN
VASOAKTIF. BAHAN-BAHAN VASOAKTIV TERSEBUT
MENGAKIBATKAN VASODILATASI, PENINGKATAN PERMEABILITAS
PEMBULUH DARAH DAN INFLAMASI.

4. NEUTROFIL DEIKERAHKAN UNTUK MENGHANCURKAN


KOMPLEKS IMUN. NEUTROFIL YANG TERPERANGKAP DI JARINGAN
AKAN SULIT UNTUK MEMAKAN KOMPLEKS TETAPI AKAN TETAP
MELEPASKAN GRANULNYA (ANGRY CELL) SEHINGGA MENYEBABKAN
LEBIH BANYAK KERUSAKAN JARINGAN.
5. MAKROFAG YANG DIKERAHKAN KE TEMPAT TERSEBUT JUGA
MELEASKAN MEDIATOR-MEDIATOR ANTARA LAIN ENZIM-ENZIM
YANG DAPAT MERUSAK JARINGAN
DARI MEKANISME DIATAS, BEBERAPA HARI MINGGU SETELAH
PEMBERIAN SERUM ASING AKAN MULAI TERLIHAT MANIFESTASI
PANAS, GATAL, BENGKAK-BENGKAK, KEMERAHAN DAN RASA SAKIT
DI BEBERAPA BAGIAN TUBUH SENDI DAN KELENJAR GETAH BENING
YANG DAPAT BERUPA VASKULITIS SISTEMIK (ARTERITIS),
GLOMERULONEFRITIS, DAN ARTIRITIS. REAKSI TERSEBUT
DINAMAKAN REAKSI PIRQUET DAN SCHICK.

LO 5. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN


HIPERSENTIVITAS TIPE IV
5.1 DEFINISI HIPERSENSITIVITAS TIPE IV
MERUPAKAN HIPERSENSITIVITAS TIPE LAMBAT YANG
DIKONTROL SEBAGIAN BESAR OLEH REAKTIVITAS SEL T
TERHADAP ANTIGEN. REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE IV
TELAH DIBAGI MENJADI :
DELAYED TYPE HYPERSENSITIVITY TIPE IV
MERUPAKAN HIPERSENSITIVITAS GRANULOMATOSIS,
TERJADI PADA BAHAN YANG TIDAK DAPAT DISINGKIRKAN
DARI RONGGA TUBUH SEPERTI TALKUM DALAM RONGGA
PERITONEUM DAN KOLAGEN SAPI DARI BAWAH KULIT.
T CELL MEDIATED CYTOLYSIS
KERUSAKAN JARINGAN TERJADI MELALUI SEL
CD8+/CTL/TC YANG LANGSUNG MEMBUNUH SEL SASARAN.

5.2 MEKANISME HIPERSENSITIVITAS TIPE IV


DELAYED TYPE HYPERSENSITIVITY TIPE IV :
a.

FASE SENSITASI

b. FASE EFEKTOR
MEKANISME KEDUA REAKSI ADALAH SAMA, PERBEDAANNYA
TERLETAK PADA SEL T YANG TERAKTIVASI. PADA DELAYED TYPE
HYPERSENSITIVITY TIPE IV, SEL TH1 YANG TERAKTIVASI DAN PADA T
CELL MEDIATED CYTOLYSIS, SEL TC/CTL/ CD8+ YANG TERAKTIVASI.
CONTOH MEKANISME REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE IV :
. REAKSI PADA INFEKSI PARASIT DAN BAKTERI INTRASEL
. RESPON PADA INFEKSI M. TUBERKULOSIS

5.3 MANIFESTASI KLINIS HIPERSENSITIVITAS


TIPE IV
A. DEMATITIS KONTAK
B. HIPERSENSITIVITAS TUBERKULIN
C. REAKSI JONES MOTE
D. PENYAKIT CD8+

LO 6. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN


ANTI HISTAMIN DAN KORTIKOSTEROID
6.1. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ANTIHISTAMIN

ANTIHISTAMIN ADALAH ZAT-ZAT YANG DAPAT MENGURANGI ATAU


MENGHALANGI EFEK HISTAMIN TERHADAP TUBUH DENGAN JALAN
MEMBLOK RESEPTOR HISTAMIN (PENGHAMBATAN SAINGAN).
ANTAGONIS RESEPTOR ANTIHISTAMIN DIBEDAKAN MENJADI 2 YAITU
AH1 DAN AH2.

6.2. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN


FARMAKODINAMIK DAN FARMAKOKINETIK
ANTIHISTAMIN
A. ANTAGONIS RESEPTOR H1 (AH1)
FARMAKODINAMIK
FARMAKOKINETIK
B. ANTAGONIS RESEPTOR H2 (AH2)
AH2 MENGHAMBAT SEKRESI ASAM LAMBUNG. AH2 DIBEDAKAN
MENJADI 4 GOLONGAN YAITU :
SIMETIDIN
- NIZATIDIN
RANITIDIN
- FAMOTIDIN
1. SIMETIDIN DAN RANITIDIN
FARMAKODINAMIK
FARMAKOKINETIK

2. FAMOTIDIN
FARMAKODINAMIK
FAMOTIDIN MERUPAKAN AH2 SEHINGGA DAPAT MENGHAMBAT
SEKRESI ASAM LAMBUNG PADA KEADAAN BASAL, MALAM, DAN
AKIBAT DISTIMULASI OLEH PENTAGASTRIN. FAMOTIDIN 3 KALI
LEBIH POTEN DARIPADA RAMITIDIN DAN 20 KALI LEBIH POTEN
DARIPADA SIMETIDIN.
FARMAKOKINETIK
FAMOTIDIN MENCAPAI KADAR PUNCAK DI PLASMA KIRA KIRA
DALAM 2 JAM SETELAH PENGGUNAAN SECARA ORAL, MASA PARUH
ELIMINASI 3-8 JAM. METABOLIT UTAMA ADALAH FAMOTIDIN-SOKSIDA. PADA PASIEN GAGAL GINJAL BERAT MASA PARUH ELIMINASI
DAPAT MELIBIHI 20 JAM.
3. NIZATIDIN
FARMAKODINAMIK
POTENSI NIZATIN DAAM MENGHAMBAT SEKRESI ASAM LAMBUNG.
FARMAKOKINETIK
KADAR PUNCAK DALAM SERUM SETELAH PEMBERIAN ORAL DICAPAI
DALAM 1 JAM, MASA PARUH PLASMA SEKITAR 1,5 JAM DAN LAMA
KERJA SAMPAI DENGN 10 JAM, DISEKRESI MELALUI GINJAL.

6.3. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN


KORTIKOSTEROID SERTA FARMAKODINAMIK
DAN FARMAKOKINETIKNYA
KORTIKOSTEROID ADALAH HORMON KELAS STEROID YANG
DIHASILKAN DI KORTEKS ADRENAL. KORTIKOSTEROID TERLIBAT
DALAM BERBAGAI SISTEM FISIOLOGIS SEPERTI RESPON STRES,
RESPON IMUN DAN REGULASI INFLAMASI, METABOLISME
KARBOHIDRAT, KATABOLISME PROTEIN, KADAR ELEKTROLIT
DARAH, DAN TINGKAH LAKU.KORTIKOSTEROID BEKERJA DENGAN
MEMPENGARUHI KECEPATAN SINTESIS PROTEIN. MOLEKUL HORMON
MEMASUKI SEL MELEWATI MEMBRAN PLASMA SECARA DIFUSI PASIF.
FARMAKODINAMIK
FARMAKOKINETIK

KLASIFIKASI OBAT KORTIKOSTEROID

LO 7. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN


PANDANGAN ISLAM DALAM MEMILIH
OBAT.
DARI IBNU ABBAS, NABI BERSABDA, KESEMBUHAN ADA PADA TIGA
HAL, MINUMMADU, PISAU BEKAM, DAN SENGATAN API. AKU
MELARANG UMATKU MENYENGATKAN API.(HR BUKHARI DAN
MUSLIM)
DARI FIRMAN ALLAH DISINI DAPAT DIPAHAMI: BAHWASANYA AGAMA
ISLAM DI BAGUNUNTUK KEMASLAHATAN ARTINYA : SEMUA SYARIAT
DALAM PERINTAH DAN LARANGANNYA SERTAHUKUM-HUKUMNYA
ADALAH UNTUK MASHOOLIHI (MANFAAT-MANFAAT) DAN
MAKNAMASHOLIHI ADALAH : JAMAK DARI MASLAHAT ARTINYA :
MANFAAT DAN KEBAIKAN.
MISAL : ALLAH MELARANG MINUMAN KERAS DAN JUDI KARENA
MUDHARAT (BAHAYANYA) LEBIHBESAR DARI PADA MANFAATNYA,
SEBAGAIMANA DIKATAKAN DALAM QS : AL-BAQORAH :219 YANG
ARTINYA MEREKA BERTANYA KEPADAMU TENTANG KHAMAR DAN
JUDI. KATAKANLAH: PADAKEDUANYA ITU TERDAPAT DOSA BESAR
DAN BEBERAPA MANFAAT BAGI MANUSIA, TETAPI DOSAKEDUANYA
LEBIH BESAR DARI MANFAATNYA

DAFTAR PUSTAKA
DORLAND W.A.N. 2010. KAMUS KEDOKTERAN DORLAND. JAKARTA :
EGC.
UNDERWOOD J.C.E. 1999. PATOLOGI UMUM DAN SISTEMATIK. VOL 1.
JAKARTA : EGC.
KUMAR, ABBAS, FAUSTO. ROBBINS AND COTRAN: 2005. PATHOLOGIC
BASIS OF DISEASE. 7TH ED. CHINA: ELSEVIER SAUNDERS
BARATAWIDJAJA, KARNEN GARNA, IRIS RENGGANIS. 2010.
IMUNOLOGI DASAR. ED. 9. FKUI:JAKARTA
GUNAWAN SG, SETIABUDY R, NAFRIALDI, ELYSABETH. (2009).
FARMAKOLOGI DAN TERAPI. EDISI V, JAKARTA : DEPARTEMEN
FARMAKOLOGI DAN TERAPEUTIK FKUI
JAWETZ, MELNICK AND ADELBERGS, 2005. MIKROBIOLOGI
KEDOKTERAN (MEDICAL MICROBIOLOGY). JAKARTA: SALEMBA
MEDIKA