Anda di halaman 1dari 41

Tektonik Lempeng

TEKTONIK LEMPENG
Tektonik lempeng adalah suatu teori yang menerangkan proses dinamika (pergerakan) bumi
tentang pembentukan jalur pegunungan, jalur gunung api, jalur gempa bumi, dan cekungan endapan di
muka bumi yang diakibatkan oleh pergerakan lempeng. Menurut teori ini, permukaan bumi terpecah
menjadi beberapa lempeng besar. Ukuran dan posisi dari tiap-tiap lempeng ini selalu berubah-ubah.
Pertemuan antara lempeng-lempeng ini, merupakan tempat-tempat yang memiliki kondisi tektonik yang
aktif, yang menyebabkan yaitu gempa bumi, gunung berapi, dan pembentukan dataran tinggi.
Tahun 1912, seorang ahli meteorologi dan fisika Jerman, Alferd Wegener mengemukakan tentang
konsep pengapungan benua. Hipotesanya yaitu bumi pada awalnya hanya terdiri dari satu benua (super
continent) yang disebut Pangaea dan dikelilingi oleh lautan yang dainamakan Panthalassa. Kemudian
Pangaea ini pecah menjadi benua-benua yang lebih kecil dan bergerak ke tempatnya seperti sekarang ini.
Hal ini didukung oleh bukti kesamaan garis pantai, kesamaan fosil kesamaan struktur dan batuan antar
benua.
Prinsip umum dari lempeng tektonik ini adalah adanya lempeng litosfer padat dan kaku yang
terapung di atas selubung bagian atas yang bersifat plastis. Selubung bagian atas bumi merupakan massa
yang mendekati titik lebur atau bisa dikatakan hampir mendekati cair sehingga wajarlah kalau lempeng
litosfer yang padat dapat bergerak di atasnya. Kerak bumi (litosfer) dapat diterangkan ibarat suatu rakit
yang sangat kuat dan relatif dingin yang mengapung di atas mantel astenosfer yang liat dan sangat panas.
Ada dua jenis kerak bumi yakni kerak samudera yang tersusun oleh batuan bersifat basa dan sangat basa,
yang dijumpai di samudera sangat dalam, dan kerak benua tersusun oleh batuan asam dan lebih tebal dari
kerak samudera. Kerak bumi menutupi seluruh permukaan bumi, namun akibat adanya aliran panas yang
mengalir di dalam astenofer menyebabkan kerak bumi ini pecah menjadi beberapa bagian yang lebih kecil
yang disebut lempeng kerak bumi. Dengan demikian lempeng dapat terdiri dari kerak benua, kerak
samudera atau keduanya.
Lempeng litosfer yang kita kenal sekarang ini ada 6 lempeng besar, yaitu lempeng Eurasia,
Amerika utara, Amerika selatan, Afrika, Pasifik, dan Hindia Australia. Lempeng-lempeng tersebut bergerak
di atas lapisan astenosfir (kedalaman 500 km di dalam selubung dan bersifat kampir melebur atau hampir
berbentuk cair). Karena hal tersebut, maka terjadi interaksi antar lempeng pada batas-batas lempeng yang
dapat berbentuk :

Divergen : lempeng-lempeng bergerak saling menjauh dan mengakibatkan material dari selubung
naik membentuk lantai samudra baru dan membentuk jalur magmatik atau gunung api.

Konvergen : lempeng-lempeng saling mendekati dan menyebabkan tumbukan dimana salah satu
dari lempeng akan menunjam (menyusup) ke bawah yang lain masuk ke selubung. Daerah
penunjaman membentuk suatu palung yang dalam, yang biasanya merupakan jalur gempa bumi
yang kuat. Dibelakang jalur penunjaman akan terbentuk rangkaian kegiatan magmatik dan

gunungapi serta berbagai cekungan pengendapan. Salah satu contohnya terjadi di Indonesia,
pertemuan antara lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia menghasilkan jalur penujaman di
selatan Pulau Jawa dan jalur gunung api Sumatera, Jawa dan Nusa Tenggara dan berbagai
cekungan seperti Cekungan Sumatera Utara, Sumatera Tengah, Sumatera Selatan dan Cekungan
Jawa Utara.

Transform : lempeng-lempeng saling bergesekan tanpa membentuk atau merusak litosfer. Hal ini
dicirikan oleh adanya sesar mendatar yang besar seperti misalnya Sesar Besar San Andreas di
Amerika.
Pada daerah konvergen terjadi perusakan litosfer yang berlebihan. Tumbukan pada zona

konvergen ini dipengaruhi oleh tipe material yang terlibat.


Tumbukan itu dapat berupa :
1. Tumbukan lempeng benua dengan lempeng samudra
Tumbukan ini, lempeng samudra akan tertekuk ke bawah dengan sudut 45 atau lebih, menyusup
ke bawah blok benua menuju astenosfer.
2.

Tumbukan lempeng samudra dengan lempeng samudra


Bila dua lempeng saling bertumbukan, maka salah satu akan menyusup di bawah yang lain dan
menghasilkan aktivitas vulkanik. Gunung api yang terbentuk cenderung di lantai samudra. Bila
tumbuh ke atas permukan laut, maka akan terjadi serangkaian pulau-pulau gunung api baru yang
terletak beberapa ratus kilometer dari palung laut dimana kedua lempeng samudra bertemu.

3.

Tumbukan lempeng benua dengan lempeng benua


Pada tumbukan ini, terjadi penyusupan lempeng ke bawah benua sehingga menyebabkan massa
benua dan sedimen lantai samudra tertekan, terlipat, dan terdeformasi. Akibatnya adalah
terbentuknya formasi pegunungan baru. Peristiwa ini terjadi pada saat bersatunya India ke benua
Asia yang menghasilkan pegunungan Himalaya.

Penyebab Lempeng Bergerak


Kulit bumi digambarkan terdiri atas kepingan-kepingan atau 'lempeng-lempeng' batuan atau
litosfir, yang dapat bergerak satu terhadap lainnya dengan arah dan kecepatan yang berubah-ubah
sepanjang zaman Astenosfir (upper mantle) yang bersifat semiplastis menghasilkan sel-sel arus konveksi
yang dapat menggerakkan lempeng-lempeng kulit bumi yang terdiri atas batuan yang bersifat kaku. Sel-sel
arus konveksi itulah yang merupakan mesin yang menciptakan sejumlah energi yang terkumpul dalam kulit
bumi. Energi akan terkumpul di tempat-tempat yang menyebabkan dua lempeng kulit bumi selalu bertemu

atau berbenturan. Akibat dari benturan tersebut, batuan akan mengalami tegangan dari waktu ke waktu
serta mengalami gesekan satu dengan lainnya yang mengakibatkan sebagian dari batuan itu akan leleh,
lebur, dan membentuk massa yang leleh pijar yang disebut magma.
Gaya yang membangun energi dalam kulit bumi dinamakan gaya tektonik. Energi yang terkumpul
dalam kulit bumi (batuan) itu sewaktu-waktu dapat terlepas. Karena, batuan yang menahannya sudah tidak
mampu dan berwujud sebagai letusan gunung api akibat energi yang terkumpul dalam magma mendesak ke
atas dan menyembur keluar. Lepasnya energi yang umumnya terjadi secara tiba-tiba juga dapat disebabkan
patahnya batuan (kulit bumi) akibat sudah tidak mampu lagi menahan tegangan. Patahnya batuan yang
disertai dengan pergeseran akan disertai dengan munculnya gempa bumi.
Bagaimana Dengan Indonesia
Secara geologi Indonesia berada di jalur "cincin api" (ring of fire), yang merupakan jalur patahan
dan gunung api yang melingkar di sepanjang Samudra Pasifik, membentang 40.000 km mulai dari Peru dan
Cile (Amerika Selatan), Amerika Tengah, Kepulauan Aleutian, Kepulauan Kuril, Jepang, Filipina,
Indonesia, Tonga, hingga Selandia Baru. Tercatat 81 persen gempa bumi terbesar terjadi di jalur ini.
Berdasarkan Survei Geologi Amerika Serikat, rata-rata terjadi 19,4 gempa bumi berkekuatan di atas 7 skala
Richter setiap tahunnya.
Pada dasarnya, seluruh wilayah Indonesia rentan terhadap bencana gempa bumi, kecuali
Kalimantan. Gempa-gempa tektonik banyak dijumpai di jalur subduksi Sunda (Sumatra -Jawa-Bali-Nusa
Tenggara), subduksi Banda (wilayah Laut Banda), Zon a Tumbukan Maluku dan Papua. Tektonik lempeng
di Pulau Jawa sendiri didominasi dengan subduksi dari lempeng Australia sebelah utara-timur dibawah
lempeng Sunda dengan kecepatan pergerakan 59 mm/tahun . Wilayah sekitar lempeng antara lempeng
Australia dan lempeng Sunda secara seismik sangat aktif, yang sering menimbulkan gempa di wilayah ini.
Berkah dari Lempeng Tektonik di Indonesia
Tidak seluruhnya dari hal ini kita anggap bencana. Jalur gunung api yang terjadi akibat subduksi
antar lempeng dari erupsi gunungapi yang terjadi berupa abu gunungapi membawa unsur hara yang
menyuburkan tanah. Endapan mineral logam, seperti emas, tembaga dan nikel, akan banyak dijumpai
berasosiasi dengan lingkungan gunung api.
Di wilayah jalur gunung api/magmatic biasanya akan terbentuk zona mineralisasi emas, perak dan
tembaga, sedangkan pada jalur penujaman akan ditemukan mineral kromit. Setiap wilayah tektonik
memiliki cirri atau indikasi tertentu, baik batuan, mineralisasi, struktur maupun kegempaan. Intrusi-intrusi

dangkal di sekitar gunungapi menyediakan energi panas bumi yang sangat besar yang bisa dimanfaatkan
sebagai pembangkit listrik.
Magmatic arc di sepanjang Sumatra-Jawa-Nusa Tenggara kaya disseminated
(poryphyry) copper dalam tubuh-tubuh intrusifnya, vein depositnya kaya akan timbal,
emas, perak, molybdenum, seng, timah, dan tungsten. Ofiolit di bekas-bekas jalur
subduksi atau obduksi seperti di Sulawesi dan Halmahera kaya akan nikel dan
kromium. Emas, polymetallic suphide, platinum, perak benar-benar tersebar
mengikuti tepi lempeng. Lempeng tektonik juga yang penyebab kekayaan minyak
dan gasbumi, serta batubara di cekungan-cekungan sedimen di Indonesia Barat
maupun Indonesia Timur. Kalau tak ada pergerakan lempeng di timur Sulawesi,
niscaya wilayah ini tak mempunyai minyak dan gas.

Pergerakan lempeng
Secara teori tektonik lempeng, pembentukan Kepulauan Indonesia dimulai sekitar 55 juta
tahun yang lalu. Indonesia dibentuk oleh interaksi setidaknya tiga lempeng penyusun
bumi; Lempeng Samudera India, Lempeng Laut Filipina, dan Lempeng Eurasia yang
merupakan lempeng kontinen. Perbedaan antara lempeng yang disusun oleh lempeng
samudera dan kontinen adalah lempeng samudera bersifat basah karena disusun oleh
material yang kaya akan unsur Fe, Mg dan Ni, bersifat kaku dan brittle, mempunyai berat
jenis yang tinggi, sementara lempeng kontinen merupakan lempeng benua yang secara
kimia bersifat relatif asam dan mempunyai berat jenis lebih rendah dibandingkan
lempeng samudera.
Lempeng-lempeng tadi bergerak satu sama lain di mana Lempeng Samudera India
bergerak relatif ke arah utara dengan kecepatan 7 cm per tahun, Lempeng Laut Filipina
bergerak ke arah barat daya dengan kecepatan 8 cm per tahun dan lempeng Eurasia yang
cenderung stabil. Pergerakan lempeng-lempeng ini kemudian bertemu pada satu zona
tumbukan yang disebut dengan zona subduksi.
Interaksi ketiga lempeng tadi mengakibatkan pengaruh pada hampir seluruh kepulauan
yang ada di Indonesia, kecuali Kalimantan. Pengaruh dari pergerakan lempeng tadi ada
yang langsung berupa pergerakan kerak bumi di batas pergerakan lempeng tadi, yang
akan menimbulkan gempa bumi dan tsunami apabila pergerakannya terdapat di dasar
laut, maupun tidak langsung. Gempa bumi dan tsunami yang terjadi setahun lalu di Aceh
dan Sumatera Utara merupakan contoh nyata.
Gempa dan tsunami Aceh dihasilkan tunjaman Lempeng Samudera India ke bawah
Lempeng Eurasia. Tunjaman tersebut menghasilkan getaran yang menimbulkan gempa
bumi berkekuatan sekitar 8,9 skala richter. Pusat gempa tersebut terdapat di Samudera
Hindia, tepatnya sekitar 200 km sebelah barat daya Pulau Sumatera. Getaran gempa yang
sangat keras itu kemudian sampai ke permukaan laut dan menimbulkan gerakan osilasi
pada air laut dengan kecepatan sekitar 700?800 km/jam (setara dengan kecepatan
pesawat komersil), yang akhirnya sampai ke daerah Aceh dan Sumatera Utara dalam
bentuk tsunami.
Selain itu pertemuan Lempeng Samudera India dengan Lempeng Eurasia juga
menghasilkan lajur gunung api yang memanjang dari Sumatera sampai Nusa Tenggara
dan membentuk sebuah rangkaian gunung api. Rangkaian gunung api ini dikenal dengan
istilah busur vulkanik dan berhenti di Pulau Sumbawa, kemudian berbelok arah ke Laut
Banda menuju arah utara ke daerah Maluku Utara, Sulawesi Utara dan terus ke Filipina.
Busur gunung api ini sendiri ada yang masih aktif seperti Gunung Merapi, Gunung
Krakatu di Selat Sunda, Gunung Galunggung dan Gunung Papandayan di Jawa Barat,
Gunung Merapi di Jogjakarta, Gunung Agung di Bali, Gunung Rinjani dan Tambora di
Nusa Tenggara, Gunung Gamalama dan Tidore di Maluku Utara, dan Gunung Klabat di
Sulawesi Utara.

Pergerakan ketiga lempeng tadi juga dapat menimbulkan patahan atau sesar yaitu
pergeseran antara dua blok batuan baik secara mendatar, ke atas maupun relatif ke bawah
blok lainnya. Patahan atau sesar ini merupakan perpanjangan gaya yang ditimbulkan oleh
gerakan-gerakan lempeng utama. Patahan atau sesar inilah yang akan menghasilkan
gempa bumi di daratan dan tanah longsor. Akibatnya, bangunan yang ada di atas zona
patahan ini sangat rentan mengalami runtuhan
Patahan atau sesar-sesar ini akan mempengaruhi resistensi atau kekuatan pada batuan
yang dilewatinya, menyebabkan batuan- batuan tadi menjadi rapuh dan mudah
mengalami erosi. Apabila jenis batuan tersebut merupakan batuan yang
porous( berongga), maka akan menimbulkan hal yang lebih fatal lagi. Curah hujan yang
tinggi akan menyebabkan air hujan masuk ke dalam rongga batuan dan menyebabkan
lama kelamaan batuan tersebut akan menjadi jenuh yang berujung pada terjadinya
pergerakan massa batuan dalam bentuk blok besar yang menimbulkan tanah longsor,
terutama daerah dengan kemiringan lereng yang curam.
Faktor manusia juga sangat mempengaruhi terjadinya tanah longsor ini, terutama yang
disertai dengan bencana banjir bandang. Adanya penggundulan hutan terutama illegal
logging dan pembukaan lahan yang tidak memperhatikan kaidah lingkungan, menjadi
salah satu yang memicu terjadinya tanah longsor disertai dengan banjir bandang.
Permukaan tanah yang telah gundul menyebabkan air hujan yang turun ke permukaan
tanah tidak dapat diserap oleh tanah (tidak terjadi infiltrasi), akibatnya air tersebut akan
mengalir di permukaan, dan membawa material di atas tanah tadi dalam bentuk sedimen.
Sedimen tadi kemudian diangkut ke sungai dan dibawa ke hilir, yang menyebabkan
pendangkalan dan kemudian terjadi banjir di hilir sungai, yang nota bene umumnya
merupakan wilayah pemukiman
Pengembangan wilayah yang juga tidak memperhatikan aspek lingkungan juga
mempengaruhi volume dan frekuensi banjir. Manusia mendirikan pemukiman yang pada
dasarnya merupakan dataran banjir, yaitu daerah yang akan tergenang oleh air sungai
apabila terjadi banjir. Hal ini yang terjadi di Gunung Leuser (Aceh), Gunung
Bawakaraeng dan di Desa Manipi (Sulawesi Selatan) , serta kejadian tanah longsor dan
banjir bandang di Jember dan Banjarnegara yang baru-baru ini.
Sebenarnya sebelum bencana longsor dan banjir bandang di Jember dan Banjarnegara
terjadi, Direktorat Vulkanologi dan Bencana Alam Geologi telah memberikan warning
kepada pemerintah setempat bahwa daerahnya sangat rawan bencana longsor dan banjir
bandang. Kedua daerah tersebut masuk dalam peta rawan bencana alam longsor yang
dibuat pada tanggal 31 Oktober 2005. Di Pulau Jawa dan Madura sendiri telah dipetakan
ada 23 titik bencana alam geologi yang tersebar, ada yang dalam kondisi sedang, rawan
sampai sangat rawan.
Dari pemaparan di atas jelas tergambar bahwa kejadian bencana alam yang akhir-akhir ini
menjadi sebuah fenomena, sangat erat hubungannya dengan proses pembentukan
Kepulauan Indonesia secara geologi. Pelajaran berharga yang dapat kita ambil adalah
bahwa kita tidak bisa lari dari kenyataan bahwa kita hidup di daerah yang rawan akan

bencana alam, khususnya bencana alam geologi, yaitu gempa bumi, tsunami, tanah
longsor, gunung api dan banjir. Olehnya itu, pemahaman tentang bagaimana sebenarnya
kondisi Indonesia dalam perspektif kebencanaan harus disosialisasikan ke masyarakat
mengingat ilmu kebumian utamanya ilmu geologi merupakan ilmu yang kurang diketahui
oleh masyarakat luas. Kita harus tidak gengsi mencontoh Jepang yang juga secara
geologi proses pembentukannya tidak jauh berbeda bahkan lebih kompleks lagi. Di
negeri matahari terbit ini, pemahaman dini tentang bencana alam atau lebih dikenal
dengan early warning system telah diterapkan dari bangku taman kanak-kanak.
Pemerintah yang merupakan pengambil kebijakan harus lebih aware akan hal ini,
sehingga korban bencana alam bisa ditekan dan diminimalkan, terutama korban jiwa.
Pengertian Tektonik Lempeng
Lempeng tektonik, proses gelologis yang bertanggung jawab untuk penciptaan benua,
pegunungan dan lantai samudera bumi, mungkin adalah semacam on-off. Ilmuan telah
menganggap bahwa pergeseran lempeng kerak telah melambat namun terus terjadi pada
sebagian besar sejarah bumi, namun studi terbaru dari peneliti2 di Carnegie Institution
menyarankan bahwa tektonik lempeng pernah berhenti paling tidak sekali dalam sejarah
planet bumi dan dapat terjadi lagi.
Tektonik lempeng adalah suatu teori yang menerangkan proses dinamika bumi tentang
pembentukan jalur pegunungan, jalur gunung api, jalur gempa bumi, dan cekungan
endapan di muka bumi yang diakibatkan oleh pergerakan lempeng.
Sebuah aspek kunci dari teori tektonik lempeng adalah bahwa skala waktu geologis lantai
samudera adalah fitur transient, membuka dan menutup saat lempeng2 bergeser. Lantai
samudera dikonsumsi oleh sebuah proses yang disebut subduksi, dimana lempeng
tektonik menurun kedalam mantel bumi. Zona subduksi adalah lokasi dari palung
samudera, aktivitas gempa bumi tinggi, dan sebagian besar gunung api utama dunia.

Saat sebuah lempeng samudera bertabrakan dengan lempeng samudera lain atau dengan
sebuah lempeng yang membawa benua, satu lempeng akan melengkung dan bergeser
dibawah yang lainnya. Proses ini disebut sibduksi. Saat lempeng tersubduksi tenggelam
jauh kedalam mantel, ia menjadi begitu panas sehingga mencairkan batuan sekitar.
Batuan cair naik lewat kerak dan keluar pada permukaan dari lempeng di atasnya.(Credit:
Woods Hole Oceanographic Institution)

sebagian besar zona subduksi saat ini berada di lantai samudera pasifik. Bila lantai pasifik
sangat dekat, seperti diramalkan dalam 350 juta tahun saat Amerika yang bergerak ke
barat bertabrakan dengan Eurasia, maka sebagian besar zona subduksi planet akan lenyap
bersamanya.
Ini akan secara efektif menghentikan lempeng tektonik kecuali zona subduksi muncul,
namun kemunculan subduksi masih belum dimengerti. Tumbukan India dan Afrika
dengan Eurasia antara 30 dan 50 juta tahun lalu menutup sebuah lantai samudera yang
dikenal sebagai Tethys, kata Silver. Namun tidak ada zona subduksi muncul di selatan
india atau afrika untuk mengkompensasi kehilangan subduksi oleh penutupan samudera
ini.
bukti geokimia dari batuan beku purba menunjukkan bahwa sekitar satu miliar tahun lalu
terdapat ketiadaan kegiatan volkanis yang secara normal terkait subduksi. Gagasan ini
cocok dnegan bukti geologis lain untuk penutupan lantai samudera tipe pasifik saat itu,
mengelas benua2 menjadi sebuah superbenua (dikenal oleg geolog sebagai Rodinia) dan
mungkin menghentikan subduksi sementara waktu. Rodinia terpisah kemudian saat
subduksi dan tektonik lempeng mulai kembali. Lempeng tektonik dikendalikan oleh
aliran panas dari interior bumi, dan penghentian akan menurunkan tingkat pendinginan
Bumi, seperti menutup panci air panas akan memperlambat pendinginan air di dalamnya.
Dengan menutup secara periodik aliran panas, tektonik lempeng saling tindih dapat
menjelaskan kenapa bumi telah kehilangan panas lebih sedikit daripada model saat ini
ramalkan. Dan pembangunan panas dibawah lempeng2 yang stagnan dapat menjelaskan
kemunculan batuan2 beku tertentu ditengah2 benua jauh dari lokasi normalnya di zona
subduksi.
Bila lempeng tektonik mulai dan berhenti, maka evolusi benua harus dilihat dalam sudut
pandang baru, karena ia secara dramatis memperluas jangkauan skenario evolusioner
yang mungkin
Lempeng dan pergerakannya
Menurut teori ini kerakbumi (lithosfer) dapat diterangkan ibarat suatu rakit yang sangat
kuat dan relatif dingin yang mengapung di atas mantel astenosfer yang liat dan sangat
panas, atau bisa juga disamakan dengan pulau es yang mengapung di atas air laut. Ada
dua kjenis kerak bumi yakni kerak samudera yang tersusun oleh batuan bersifat basa dan
sangat basa, yang dijumpai di samudera sangat dalam, dan kerak benua tersusun oleh
batuan asam dan lebih tebal dari kerak samudera. Kerakbumi menutupi seluruh
permukaan bumi, namun akibat adanya aliran panas yang mengalir di dalam astenofer
menyebabkan kerakbumi ini pecah menjadi beberapa bagian yang lebih kecil yang
disebut lempeng kerakbumi. Dengan demikian lempeng dapat terdiri dari kerak benua,
kerak samudera atau keduanya. Arus konvensi tersebut merupakan sumber kekuatan
utama yang menyebabkan terjadinya pergerakan lempeng.
Akibat Pergerakan Lempeng
Pergerakan lempeng kerakbumi ada 3 macam yaitu pergerakan yang saling mendekati,
saling menjauh dan saling berpapasan.

Pergerakan lempeng saling mendekati akan menyebabkan tumbukan dimana salah satu
dari lempeng akan menunjam ke bawah yang lain. Daerah penunjaman membentuk suatu
palung yang dalam, yang biasanya merupakan jalur gempa bumi yang kuat. Dibelakang
jalur penunjaman akan terbentuk rangkaian kegiatan magmatik dan gunungapi serta
berbagai cekungan pengendapan. Salah satu contohnya terjadi di Indonesia, pertemuan
antara lempeng Ind0-Australia dan Lempeng Eurasia menghasilkan jalur penunjaman di
selatan Pulau Jawa dan jalur gunungapi Sumatera, Jawa dan Nusatenggara dan berbagai
cekungan seperti Cekungan Sumatera Utara, Sumatera Tengah, Sumatera Selatan dan
Cekungan Jawa Utara.
Pergerakan lempeng saling menjauh akan menyebabkan penipisan dan peregangan
kerakbumi dan akhirnya terjadi pengeluaran material baru dari mantel membentuk jalur
magmatik atau gunungapi. Contoh pembentukan gunungapi di Pematang Tengah
Samudera di Lautan Pasific dan Benua Afrika.
Pergerakan saling berpapasan dicirikan oleh adanya sesar mendatar yang besar seperti
misalnya Sesar Besar San Andreas di Amerika.
Kegiatan Tektonik
Pergerakan lempeng kerakbumi yang saling bertumbukan akan membentuk zona sudaksi
dan menimbulkan gaya yang bekerja baik horizontal maupun vertikal, yang akan
membentuk pegunungan lipatan, jalur gunungapi/magmatik, persesaran batuan, dan jalur
gempabumi serta terbentuknya wilayah tektonik tertentu. Selain itu terbentuk juga
berbagai jenis cekungan pengendapan batuan sedimen seperti palung (parit), cekungan
busurmuka, cekungan antar gunung dan cekungan busur belakang. Pada jalur
gunungapi/magmatik biasanya akan terbentuk zona mineralisasi emas, perak dan
tembaga, sedangkan pada jalur penunjaman akan ditemukan mineral kromit. Setiap
wilayah tektonik memiliki ciri atau indikasi tertentu, baik batuan, mineralisasi, struktur
maupun kegempaanya.
Perkembangan Tatanan Tektonik Indonesia
Pada 50 juta tahun yang lalu (Awal Eosen), setelah benua kecil India bertubrukan dengan
Himalaya, ujung tenggara benua Eurasia tersesarkan lebih jauh ke arah tenggara dan
membentuk kawasan Indonesia bagian barat. Saat itu kawasan Indonesia bagian timur
masih berupa laut (laut Filipina dan Samudra Pasifik). Lajur penunjaman yang bergiat
sejak akhir Mesozoikum di sebelah barat Sumatera, menyambung ke selatan Jawa dan
melingkar ke tenggara timur Kalimantan Sulawesi Barat, mulai melemah pada
Paleosen dan berhenti pada kala Eosen.
Pada 45 juta tahun lalu. Lengan Utara Sulawesi terbentuk bersamaan dengan jalur Ofiolit
Jamboles. Sedangkan jalur Ofiolit Sulawesi Timur masih berada di belahan selatan bumi.
Pada 20 jutatahun lalu benua-benua mikro bertubrukan dengan jalur Ofiloit Sulawesi
Timur, dan Laut Maluku terbentuk sebagai bagian dari Lut pilipina. Laut Cina Selatan
mulai membuka dan jalur tunjaman di utara Serawak Sabah mulai aktif.pada 10 juta

tahun lalu, benua mikro Tukang Besi Buton bertubrukan dengan jalur Ofiolit di
Sulawesi Tenggara, tunjaman ganda terjadi di kawasan Laut Maluku, dan Laut Serawak
terbentuk di Utara Kalimantan. pada 5 juta tahun lalu, benua mikro Banggai-Sula
bertubrukan dengan jalur ofiolit Sulawesi Timur, dan mulai aktif tunjangan miring di
utara Irian Jaya-Papua Nugini.
Teori Tektonik Lempeng sebagai berikut :
1. Penyebab dari pergerakan benua-benua dimulai oleh adanya arus konveksi (convection
current) dari mantle (lapisan di bawah kulit bumi yang berupa lelehan). Arah arus ini
tidak teratur, bisa dibayangkan seperti pergerakan udara/awan atau pergerakan dari air
yang direbus. Terjadinya arus konveksi terutama disebabkan oleh aktivitas radioaktif
yang menimbulkan panas.
2. Dalam kondisi tertentu dua arah arus yang saling bertemu bisa menghasilkan arus
interferensi yang arahnya ke atas. Arus interferensi ini akan menembus kulit bumi yang
berada di atasnya. Magma yang menembus ke atas karena adanya arus konveksi ini akan
membentuk gugusan pegunungan yang sangat panjang dan bercabang-cabang di bawah
permukaan laut yang dapat diikuti sepanjang samudera-samudera yang saling
berhubungan di muka bumi. Lajur pegunungan yang berbentuk linear ini disebut dengan
MOR (Mid Oceanic Ridge atau Pematang Tengah Samudera) dan merupakan tempat
keluarnya material dari mantle ke dasar samudera. MOR mempunyai ketinggian melebihi
3000 m dari dasar laut dan lebarnya lebih dari 2000 km, atau melebihi ukuran
Pegunungan Alpen dan Himalaya yang letaknya di daerah benua. MOR Atlantik
(misalnya) membentang dengan arah utara-selatan dari lautan Arktik melalui poros
tengah samudera Atlantik ke sebelah barat Benua Afrika dan melingkari benua itu di
selatannya menerus ke arah timur ke Samudera Hindia lalu di selatan Benua Australia
dan sampai di Samudera Pasifik. Jadi keberadaan MOR mengelilingi seluruh dunia.
3. Kerak (kulit) samudera yang baru, terbentuk di pematang-pematang ini karena aliran
material dari mantle. Batuan dasar samudera yang baru terbentuk itu lalu menyebar ke
arah kedua sisi dari MOR karena desakan dari magma mantle yang terus-menerus dan
juga tarikan dari gaya gesek arus mantle yang horisontal terhadap material di atasnya.
Lambat laun kerak samudera yang terbentuk di pematang itu akan bergerak terus
menjauh dari daerah poros pematang dan mengarungi samudera. Gejala ini disebut
dengan Pemekaran Lantai Samudera (Sea Floor Spreading).
4. Keberadaan busur kepulauan dan juga busur gunung api serta palung Samudera yang
memanjang di tepi-tepi benua merupakan fenomena yang dapat dijelaskan oleh Teori
Tektonik Lempeng yaitu dengan adanya proses penunjaman (subduksi). Oleh karena
peristiwa Sea Floor Spreading maka suatu saat kerak samudera akan bertemu dengan
kerak benua sehingga kerak samudera yang mempunyai densitas lebih besar akan
menunjam ke arah bawah kerak benua. Dengan adanya zona penunjaman ini maka akan
terbentuk palung pada sepanjang tepi paparan, dan juga akan terbentuk kepulauan
sepanjang paparan benua oleh karena proses pengangkatan. Kerak samudera yang
menunjam ke bawah ini akan kembali ke mantle atau jika bertemu dengan batuan benua

yang mempunyai densitas sama atau lebih besar maka akan terjadi mixing antara material
kerak samudera dengan benua membentuk larutan silikat pijar atau magma. (Proses
mixing terjadi pada kerak benua sampai 30 km di bawah permukaan bumi). Karena sea
floor spreading terus berlangsung maka jumlah magma hasil mixing yang terbentuk akan
semakin besar sehingga akan menerobos batuan-batuan di atasnya sampai akhirnya
muncul ke permukaan bumi membentuk deretan gunung api.

Morfologi dan Bentuk Endapan Bahan Galian


Posted: April 20, 2010 by sunny side up in artikel
Tag:bentuk bentuk badan bijih, bentuk endapan bahan galian, endapan bahan galian, morfologi badan bijih,
morfologi endapan bahan galian

0
Beberapa endapan bahan galian dijumpai tersusun dan terdapat pada tubuh batuan beku,
sedimen ataupun batuan metamorf. Bahan galian industri umumnya dijumpai seperti
demikian, misalnya bahan galian batugamping (limestone).Bahan galian lainnya,
misalnya beberapa tubuh bijih besi merupakan bagian dari suatu sekuen stratigrafi yang
terbentuk pada bersamaan dengan proses sedimentasi, yang kemudian dikenal dengan
istilah endapan syngenetic. Adapula bahan galian yang berbentuk seperti tubuh batuan
beku yang berbentuk dykes, yang memotong batuan sekitarnya dan terbentuk setelah
batuan induknya yang dikenal dengan istilan endapan epigenetic.
Bentuk dan morfologi badan bijih
Secara umum parameter dimensional dari suatu badan bijih yaitu ukuran, bentuk (pola)
sebaran dan keberadaannya merupakan akibat dari variasi dan distribusi kadar mineral
bijih. Bentuk sebaran suatu badan bijih akan mempengaruhi teknik penambangan yang
akan digunakan untuk menambangnya. Bahan galian yang tersebar luas dan berkadar
rendah (low grade) yang terdapat pada permukaan bumi dapat ditambang dengan metoda
tambang terbuka, sementara endapan bahan galian yang berbentuk urat (vein-veinlets)
dengan kadar yang relatif lebih tinggi (high grade) dapat ditambang dengan metode
tambang bawah tanah. Dalam hal bentuk (pola) sebaran, endapan bahan galian dengan
badan bijih yang teratur (terkumpul) akan lebih mudah ditambang daripada endapan
bahan galian dengan badan bijih yang mempunyai bentuk (pola) yang tersebar
(disseminated).
Strike dan dip badan bijih
Pengetahuan dasar struktur geologi seperti strike dan dip batuan sangat penting untuk
mengetahui dimensi suatu badan bijih. Bidang suatu badan bijih yang memiliki dimensi
yang lebih panjang jika dibandingkan dengan arah lainnya merupakan arah jurus (strike)
badan bijih tersebut (Gambar 2.1) Inklinasi (penunjaman) bidang badan bijih dalam arah
tegak lurus bidang strike merupakan arah kemiringannya (dip). Jika terdapat suatu
struktur geologi (misalnya sesar), maka informasi arah pitch dan plunge menjadi sangat
penting.
Bentuk-bentuk badan bijih
Berdasarkan bentuk (morfologi) badan bijih dan pola sebaran mineral bijihnya jika
dihubungkan dengan batuan sekitarnya (batuansamping/induk), tubuh endapan bijih
dapat dikelompokkan atas 2, yaitu: badan bijih berbentuk discordant dan badan bijih
yang berbentuk concordant. Discordant yaitu jika bada bijih memotong perlapisan batuan

sekitarnya. Sedangkan concordant yaitu jika badan bijih membentuk pola yang tidak
memotong perlapisan batuan sekitarnya.
Badan bijih diskordan (discordant ore bodies)
Badan bijih diskordan dapat dijumpai mempunyai bentuk yang beraturan (regular
shapes) maupun dengan bentuk yang tidak beraturan (irregular shapes). Badan bijih yang
bentuknya beraturan dapat dibedakan atas:
1. Badan bijih yang berbentuk tabular (Gambar 2.2 dan 2.3), dengan ciri antara lain:

badan bijih dengan pola penyebaran yang menerus dalam arah 2D (panjang dan
lebar), tetapi terbatas dalam arah 3D (tipis),
berbentuk urat (vein-fissure veins- Gambar 2.4) dan lodes,
urat-urat umumnya terbentuk di zona rekahan sehingga menunjukkan bentuk yang
teratur dalam orientasinya (Gambar 2.5),
mineralisasi pada umumnya berupa asosiasi dari beberapa kombinasi mineral
bijih dan pengotor (gangue) dengan komposisi yang sangat bervariasi, dan
batas dari penyebaran urat ini umumnya jelas, yaitu langsung dibatasi dengan
dinding urat.

Gambar 2.2. Badan bijih yang berbentuk tabular berupa vein yang mengalami sesar
normal.

Gambar 2.3 Contoh badan bijih yang berbentuk tabular berupa vein dan veinlets.

Gambar 2.4. Pembentukan vein.


1. badan bijih yang berbentuk tubular (Gambar 2.6), dengan ciri antara lain:

badan bijih dengan pola penyebaran relatif pendek (terbatas) dalam arah 2D
namun relatif dalam kearah 3D (arah vertikal),
jika penyebaran badan bijih ini relatif vertikal-sub vertikal biasanya disebut
sebagai pipes atau chimneys, jika penyebarannya horizontal atau subhorisontal
disebut mantos.

Salah satu contoh badan bijih yang berbentuk tubular adalah badan bijih yang ditemukan
di timur Asutralia, sepanjang 2400 km, memanjang dari Queensland sampai New South
Wales, yang terdiri dari ratusan pipa di dalam dan dekat dengan intrusi granit. Sebagian
besar terisi mineralisasi kuarsa dan beberapa diantaranya termineralisasi dengan bismuth,
molybdenum, tungstehn dan tin (Gambar 2.7). Badan bijih berbetnuk mantos dan pipes
dapat dijumpai memiliki percabangan (Gambar 2.8). Mantos dan pipes umumnya
dijumpai berasosiasi, pipes umumnya bertindak sebagai sumber (feeders) terhadap
mantos. Terkadang mantos saling berhubungan diantara lapisan batuan dengan
perantaraan pipes, namun ada pula yang dijumpai sebagai percabangan dari pipes,
contohnya pada Providencia Mine di Mexico dijumpai sebuah badan bijih berbentuk pipa
jauh di kedalaman sebagai sumber dari duapuluh mantos yang dekat dengan
permukaan.Pada beberapa tubuh bijih yang berbentuk tubular terbentuk oleh aliran
larutan mineralisasi secara subhorisontal sehingga tubuh bijih dapat dijumpai diskontinyu
membentuk tubuh bijih yang berbentuk pod
Badan bijih bentuknya tidak beraturan (irregular shapes) dibedakan atas:
1. Badan bijih disseminated:

Badan bijih dengan pola penyebaran mineral bijih yang tersebar di dalam host
rock (Gambar 2.10).
Mineral-mineral bijih tersebut tersebar merata di dalama host rock berupa (dalam
bentuk) veinlets yang saling berpotongan menyeruapai jarring-jaring yang saling
berkaitan membentuk sistem veinlets yang sering disebut stockwork.
Stockwork ( Gambar 2.11) dijumpai dalam bentuk tubuh endapan yang besar pada
lingkungan intrusi batuan beku asam sampai intermedit, akan tetapi stockwork
juga dapat dijumpai memotong kontak country rocks dan beberapa dijumpai
sebagian atau seluruhnya berada pada country rocks.

2. Badan bijih irregular replacement (Gambar 2.12):

Merupakan badan bijih yang terbentuk melalui pergantian unsur-unsur yang sudah
ada sebelumnya.
Proses replacement ini umumnya terjadi pada temperatur rendah sampai sedang
(<400oC), contohnya endapan magnesit pada carbonate-rich sediments.
Proses replacement lainnya dapat juga terjadi pada suhu tinggi pada kontak intrusi
batuan beku yang membentuk endapan skarn. Tubuh endapannya dicirikan
dengan pembentukan mineral-mineral calc-silicate seperti diopside, wollastonite,
andradite, garnet dan actinolite. Endapan bahan galian ini umumnya berbentuk
sangat tidak beraturan (Gambar 2.12).
Disebut juga endapan metasomatisme kontak (pirometasomatik).

Badan bijih konkordan (concordant ore bodies)


Badan bijih konkordan umumnya terbentuk pada batuan induk (host rock) sebagai
endapan hasil proses pelapukan. Endapan-endapan yang mempunyai badan bijih
berbentuk konkordan ini dikelompokkan sesuai dengan jenis batuan induknya:
1. Sedimentary host rock:

Merupakan endapan dengan batuan induk adalah batuan sedimen (Gambar 2.13).
Endapan-endapan bijih yang tekonsentrasi dalam batuan sedimen cukup penting,
terutama endapan-endapan logam dasar dan besi.
Di dalam batuan sedimen, mineral-mineral bijih terbentuk (terkonsentrasi)
sebagai suatu bagian yang integral dari urutan stratigrafi, yang dapat terbentuk
secara epigenetic filling atau replacement pada rongga-rongga (pori-pori).
Tubuh endapan umumnya menunjukkan perkembangan kearah 2D dan kurang
berkembang kearah tegak lurusnya (Gambar 2.14 dan 2.15).
Endapan-endapan seperti ini pada umumnya tersebar sejajar pada batuan
induknya dengan bidang perlapisan batuan sekitarnya.

Gambar 2.13. Bentuk endapan konkordan pada batuan sedimen

Syngenetik & Epigenetik

Endapan Mineral
Secara umum genesa bahan galian mencakup aspek-aspek keterdapatan, proses
pembentukan, komposisi, model (bentuk, ukuran, dimensi), kedudukan, dan faktor-faktor
pengendali pengendapan bahan galian (geologic controls).
Tujuan utama mempelajari genesa suatu endapan bahan galian adalah sebagai pegangan
dalam menemukan dan mencari endapan-endapan baru, mengungkapkan sifat-sifat fisik
dan kimia endapan bahan galian, membantu dalam penentuan (penyusunan) model
eksplorasi yang akan diterapkan, serta membantu dalam penentuan metoda penambangan
dan pengolahan bahan galian tersebut.
Endapan-endapan mineral yang muncul sesuai dengan bentuk asalnya disebut dengan
endapan primer (hypogen). Jika mineral-mineral primer telah terubah melalui pelapukan
atau proses-proses luar (superficial processes) disebut dengan endapan sekunder
(supergen).
A. KETERDAPATAN MINERAL BIJIH
Kerak bumi terdiri dari batuan-batuan beku, sedimen, dan metamorfik.Pengertian bijih
adalah endapan bahan galian yang dapat diekstrak (diambil) mineral berharganya secara
ekonomis, dan bijih dalam suatu endapan ini tergantung pada dua faktor utama, yaitu
tingkat terkonsentrasi (kandungan logam berharga pada endapan), letak serta ukuran
(dimensi) endapan tsb.
Untuk mencapai kadar yang ekonomis, mineral-mineral bijih atau komponen bahan
galian yang berharga terkonsentrasi secara alamiah pada kerak bumi sampai tingkat
minimum yang tertentu tergantung pada jenis bijih atau mineralnya.
Batuan merupakan suatu bentuk alami yang disusun oleh satu atau lebih mineral, dan
kadang-kadang oleh material non-kristalin. Kebanyakan batuan merupakan heterogen
(terbentuk dari beberapa tipe/jenis mineral), dan hanya beberapa yang merupakan
homogen. Deret reaksi Bowen (deret pembentukan mineral pada batuan) telah
dimodifikasi oleh Niggli, V.M. Goldshmidt, dan H. Schneiderhohn.
Gambar Diagram urutan pengendapan mineral
diagram mineral

Sedangkan proses pembentukan mineral berdasarkan komposisi kimiawi larutan


(konsentrasi suatu unsur/mineral), temperatur, dan tekanan pada kondisi kristalisasi dari
magma induk telah didesign oleh Niggli.
Gambar Diagram Temperatur-Konsentrasi-Tekanan (Diagram Niggli)
diagram niggli
Jika pembentukan endapan mineral dikelompokkan menurut proses pembentukannya,
maka salah satu pengklasifikasiannya adalah sebagai berikut :

Klasifikasi Lindgren (Modifikasi)


1. Endapan yang terbentuk melalui proses konsentrasi kimia (Suhu dan Tekanan
Bervariasi)
a. Dalam magma, oleh proses differensiasi
*) Endapan magmatik (segresi magma, magmatik cair); T 700-15000C; P sangat tinggi.
*) Endapan Pegmatit; T sedang-sangat tinggi; P sangat tinggi
b. Dalam badan batuan
*) Konsentrasi karena ada penambahan dari luar (epigenetik)
*) Asal bahan tergantung dari erupsi batuan beku
- Oleh hembusan langsung bekuan (magma)
+ Dari efusif; sublimat; fumarol, T 100-6000C; P atmosfer-sedang
+ Dari intrusif, igneous metamorphic deposits; T 500-8000C, P sangat tinggi
- Oleh penambahan air panas yang terisi bahan magma
+ Endapan hipothermal; T 300-5000C, P sangat tinggi
+ Endapan mesothermal; T 200-3000C, P sangat tinggi
+ Endapan epithermal; T 50-2000C, P sangat tinggi
+ Endapan telethermal; T rendah, P rendah
+ Endapan xenothermal; T tinggi-sedang, P sedang-atmosfer
*) Konsentrasi bahan dalam badan batuan itu sendiri :
- Konsentrasi oleh metamorfosis dinamik dan regional, T s/d 4000C; P tinggi.
- Konsentrasi oleh air tanah dalam; T 0-1000C; P sedang
- Konsentrasi oleh lapukan batuan dan pelapukan residu dekat permukaan; T 0-1000C; P
sedang-atmosfer
c. Dalam masa air permukaan
*) Oleh interaksi larutan; T 0-700C; P sedang
- Reaksi anorganik
- Reaksi organik
*) Oleh penguapan pelarut
2. Endapan-endapan yang dihasilkan melalui konsentrasi mekanis; T & P sedang.
B. PENGERTIAN MENDALA METALOGENIK
Istilah Mendala Metalogenik atau Metallogenic Province memiliki pengertian suatu area
yang dicirikan oleh kumpulan endapan mineral yang khas, atau oleh satu atau lebih jenisjenis karakteristik mineralisasi. Suatu mendala metalogenik mungkin memiliki lebih dari
satu episode mineralisasi yang disebut dengan Metallogenic Epoch.
Beberapa contoh mendala metalogenik antara lain ; segregasi lokal dari kromium dan

nikel di bagian yang paling dalam dari kerak samudera, dan pengendapan sulfida-sulfida
masif dari tembaga dan besi di tempat-tempat yang panas, metal-bearing brine menuju
samudra melalui zona regangan, endapan-endapan mineral magmatik-hidrotermal
berhubungan dengan proses-proses subduksi. Tumbukan dan subduksi membentuk
gunung-gunung yang besar seperti di Andes, yang mana endapan-endapan mineral
dibentuk oleh diferensiasi magma.
Gambar Diagram Skematis yang Menggambarkan
Setting Geologi Endapan-endapan Mineral, dan Hubungannya dengan
Proses-proses Tektonik Lempeng (Gocht, Zantop, Eggert; 1988)
diagram setting geologi
Contoh mendala metalogenik yang terdapat di Indonesia antara lain: mendala
metalogenik Malaya (terdiri dari batuan beku asam dengan mineral berharga kasiterit),
manda metalogenik Sunda (terdiri dari batuan intermediet dengan mineral berharga
elektrum (Au, Ag)), serta mendala metalogenik Sangihe-Talaut (terdiri dari batuan
ultrabasa dengan mineral berharga nikel).
C. PROSES PEMBENTUKAN ENDAPAN MINERAL PRIMER
Pembentukan bijih primer secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi lima jenis
endapan, yaitu :
a. Fase Magmatik Cair
b. Fase Pegmatitil
c. Fase Pneumatolitik
d. Fase Hidrothermal
e. Fase Vulkanik
Dari kelima jenis fase endapan di atas akan menghasilkan sifat-sifat endapan yang
berbeda-beda, yaitu yang berhubungan dengan :
1. Kristalisasi magmanya
2. Jarak endapan mineral dengan asal magma
a. intra-magmatic, bila endapan terletak di dalam daerah batuan beku
b. peri-magmatic, bila endapan terletak di luar (dekat batas) batuan beku
c. crypto-magmatic, bila hubungan antara endapan dan batuan beku tidak jelas
d. apo-magmatic, bila letak endapan tidak terlalu jauh terpisah dari batuan beku
e. tele-magmatic, bila disekitar endapan mineral tidak terlihat (terdapat) batuan beku
3. Bagaimana cara pengendapan terjadi
a. terbentuk karena kristalisasi magma atau di dalam magma
b. terbentuk pada lubang-lubang yang telah ada
c. metosomatisme (replacement) yaitu :reaksi kimia antara batuan yang telah ada dengan
larutan pembawa bijih
4. Bentuk endapan, masif, stockwork, urat, atau perlapisan

5.Waktu terbentuknya endapan


a. syngenetic, jika endapan terbentuk bersamaan waktunya dengan pembentukan batuan
b. epigenetic, jika endapan terbentuk tidak bersamaan waktunya dengan pembentukan
batuan.
a. Fase Magmatik Cair (Liquid Magmatic Phase)
Liquid magmatic phase adalah suatu fase pembentukan mineral, dimana mineral
terbentuk langsung pada magma (differensiasi magma), misalnya dengan cara
gravitational settling (Gambar 6). Mineral yang banyak terbentuk dengan cara ini adalah
kromit, titamagnetit, dan petlandit (lihat juga Gambar 4). Fase magmatik cair ini dapat
dibagi atas :
1. Komponen batuan, mineral yang terbentuk akan tersebar merata diseluruh masa
batuan. Contoh intan dan platina.
2. Segregasi, mineral yang terbentuk tidak tersebar merata, tetapi hanya kurang
terkonsentrasi di dalam batuan.
Injeksi, mineral yang terbentuk tidak lagi terletak di dalam magma (batuan beku), tetapi
telah terdorong keluar dari magma.
b. Fase Pegmatitik (Pegmatitic Phase)
Pegmatit adalah batuan beku yang terbentuk dari hasil injeksi magma. Sebagai akibat
kristalisasi pada magmatik awal dan tekanan disekeliling magma, maka cairan residual
yang mobile akan terinjeksi dan menerobos batuan disekelilingnya sebagai dyke, sill, dan
stockwork.
Kristal dari pegmatit akan berukuran besar, karena tidak adanya kontras tekanan dan
temperatur antara magma dengan batuan disekelilingnya, sehingga pembekuan berjalan
dengan lambat. Mineral-mineral pegmatit antara lain : logam-logam ringan (Li-silikat,
Be-silikat (BeAl-silikat), Al-rich silikat), logam-logam berat (Sn, Au, W, dan Mo), unsurunsur jarang (Niobium, Iodium (Y), Ce, Zr, La, Tantalum, Th, U, Ti), batuan mulia (ruby,
sapphire, beryl, topaz, turmalin rose, rose quartz, smoky quartz, rock crystal).
Gambar Skematik proses differensiasi magma pada fase magmatik cair
sketsa differensiasi magma
Keterangan untuk Gambar :
1. Vesiculation, Magma yang mengandung unsur-unsur volatile seperti air (H2O), karbon
dioksida (CO2), sulfur dioksida (SO2), sulfur (S) dan klorin (Cl). Pada saat magma naik
kepermukaan bumi, unsur-unsur ini membentuk gelombang gas, seperti buih pada air
soda. Gelombang (buih) cenderung naik dan membawa serta unsur-unsur yang lebih
volatile seperti sodium dan potasium.
2. Diffusion, Pada proses ini terjadi pertukaran material dari magma dengan material dari
batuan yang mengelilingi reservoir magma, dengan proses yang sangat lambat. Proses
diffusi tidak seselektif proses-proses mekanisme differensiasi magma yang lain.
Walaupun demikian, proses diffusi dapat menjadi sama efektifnya, jika magma diaduk
oleh suatu pencaran (convection) dan disirkulasi dekat dinding dimana magma dapat
kehilangan beberapa unsurnya dan mendapatkan unsur yang lain dari dinding reservoar.
3. Flotation, Kristal-kristal ringan yang mengandung sodium dan potasium cenderung
untuk memperkaya magma yang terletak pada bagian atas reservoar dengan unsur-unsur

sodium dan potasium.


4. Gravitational Settling, Mineral-mineral berat yang mengandung kalsium, magnesium
dan besi, cenderung memperkaya resevoir magma yang terletak disebelah bawah
reservoir dengan unsur-unsur tersebut. Proses ini mungkin menghasilkan kristal badan
bijih dalam bentuk perlapisan. Lapisan paling bawah diperkaya dengan mineral-mineral
yang lebih berat seperti mineral-mineral silikat dan lapisan diatasnya diperkaya dengan
mineral-mineral silikat yang lebih ringan.
5. Assimilation of Wall Rock, Selama emplacement magma, batu yang jatuh dari dinding
reservoir akan bergabung dengan magma. Batuan ini bereaksi dengan magma atau secara
sempurna terlarut dalam magma, sehingga merubah komposisi magma. Jika batuan
dinding kaya akan sodium, potasium dan silikon, magma akan berubah menjadu
komposisi granitik. Jika batuan dinding kaya akan kalsium, magnesium dan besi, magma
akan berubah menjadi berkomposisi gabroik.
6. Thick Horizontal Sill, Secara umum bentuk ini memperlihatkan proses differensiasi
magmatik asli yang membeku karena kontak dengan dinding reservoirl Jika bagian
sebelah dalam memebeku, terjadi Crystal Settling dan menghasilkan lapisan, dimana
mineral silikat yang lebih berat terletak pada lapisan dasar dan mineral silikat yang lebih
ringan.
c. Fase Pneumatolitik (Pneumatolitik Phase)
Pneumatolitik adalah proses reaksi kimia dari gas dan cairan dari magma dalam
lingkungan yang dekat dengan magma. Dari sudut geologi, ini disebut kontakmetamorfisme, karena adanya gejala kontak antara batuan yang lebih tua dengan magma
yang lebih muda. Mineral kontak ini dapat terjadi bila uap panas dengan temperatur
tinggi dari magma kontak dengan batuan dinding yang reaktif. Mineral-mineral kontak
yang terbentuk antara lain : wolastonit (CaSiO3), amphibol, kuarsa, epidot, garnet,
vesuvianit, tremolit, topaz, aktinolit, turmalin, diopsit, dan skarn.
Gejala kontak metamorfisme tampak dengan adanya perubahan pada tepi batuan beku
intrusi dan terutama pada batuan yang diintrusi, yaitu: baking (pemanggangan) dan
hardening (pengerasan).
Igneous metamorfism ialah segala jenis pengubahan (alterasi) yang berhubungan dengan
penerobosan batuan beku. Batuan yang diterobos oleh masa batuan pada umumnya akan
ter-rekristalisasi, terubah (altered), dan tergantikan (replaced). Perubahan ini disebabkan
oleh panas dan fluida-fluida yang memencar atau diaktifkan oleh terobosan tadi. Oleh
karena itu endapan ini tergolong pada metamorfisme kontak.
Proses pneomatolitis ini lebih menekankan peranan temperatur dari aktivitas uap air.
Pirometamorfisme menekankan hanya pada pengaruh temperatur sedangkan
pirometasomatisme pada reaksi penggantian (replacement), dan metamorfisme kontak
pada sekitar kontak. Letak terjadinya proses umumnya di kedalaman bumi, pada
lingkungan tekanan dan temperatur tinggi.
Mineral bijih pada endapan kontak metasomatisme umumnya sulfida sederhana dan
oksida misalnya spalerit, galena, kalkopirit, bornit, dan beberapa molibdenit. Sedikit
endapan jenis ini yang betul-betul tanpa adanya besi, pada umumnya akan banyak sekali
berisi pirit atau bahkan magnetit dan hematit. Scheelit juga terdapat dalam endapan jenis
ini (Singkep-Indonesia).

d. Fase Hidrothermal (Hydrothermal Phase)


Hidrothermal adalah larutan sisa magma yang bersifat "aqueous" sebagai hasil
differensiasi magma. Hidrothermal ini kaya akan logam-logam yang relatif ringan, dan
merupakan sumber terbesar (90%) dari proses pembentukan endapan. Berdasarkan cara
pembentukan endapan, dikenal dua macam endapan hidrothermal, yaitu :
1. Cavity filing, mengisi lubang-lubang (opening-opening) yang sudah ada di dalam
batuan.
2. Metasomatisme, mengganti unsur-unsur yang telah ada dalam batuan dengan unsurunsur baru dari larutan hidrothermal.
Berdasarkan cara pembentukan endapan, dikenal beberapa jenis endapan hidrothermal,
antara lain Ephithermal (T 00C-2000C), Mesothermal (T 1500C-3500C), dan
Hipothermal (T 3000C-5000C). Setiap tipe endapan hidrothermal diatas selalu membawa
mineral-mineral yang tertentu (spesifik), berikut altersi yang ditimbulkan barbagai
macam batuan dinding. Tetapi minera-mineral seperti pirit (FeS2), kuarsa (SiO2),
kalkopirit (CuFeS2), florida-florida hampir selalu terdapat dalam ke tiga tipe endapan
hidrothermal.
Paragenesis endapan hipothermal dan mineral gangue adalah : emas (Au), magnetit
(Fe3O4), hematit (Fe2O3), kalkopirit (CuFeS2), arsenopirit (FeAsS), pirrotit (FeS),
galena (PbS), pentlandit (NiS), wolframit : Fe (Mn)WO4, Scheelit (CaWO4), kasiterit
(SnO2), Mo-sulfida (MoS2), Ni-Co sulfida, nikkelit (NiAs), spalerit (ZnS), dengan
mineral-mineral gangue antara lain : topaz, feldspar-feldspar, kuarsa, tourmalin, silikatsilikat, karbonat-karbonat
Sedangkan paragenesis endapan mesothermal dan mineral gangue adalah : stanite (Sn,
Cu) sulfida, sulfida-sulfida : spalerit, enargit (Cu3AsS4), Cu sulfida, Sb sulfida, stibnit
(Sb2S3), tetrahedrit (Cu,Fe)12Sb4S13, bornit (Cu2S), galena (PbS), dan kalkopirit
(CuFeS2), dengan mineral-mineral ganguenya : kabonat-karbonat, kuarsa, dan pirit.
Paragenesis endapan ephitermal dan mineral ganguenya adalah : native cooper (Cu),
argentit (AgS), golongan Ag-Pb kompleks sulfida, markasit (FeS2), pirit (FeS2), cinabar
(HgS), realgar (AsS), antimonit (Sb2S3), stannit (CuFeSn), dengan mineral-mineral
ganguenya : kalsedon (SiO2), Mg karbonat-karbonat, rhodokrosit (MnCO3), barit
(BaSO4), zeolit (Al-silikat).
Gambar Endapan bijih perak berupa endapan hidrothermal tipe epithermal
dengan pengkayaan bijihdi sepanjang rekahan-rekahan dan urat-urat di Pachuca Meksiko
(Dari Park, 1975 p 349)
endapan bijih perak
e. Fase Vulkanik (Vulkanik Phase)
Endapan phase vulkanik merupakan produk akhir dari proses pembentukkan bijih secara
primer. Sebagai hasil kegiatan phase vulkanis adalah :
1. Lava flow
2. Ekshalasi
3. Mata air panas
Ekshalasi dibagi menjadi : fumarol (terutama terdiri dari uap air H2O), solfatar
(berbentuk gas SO2), mofette (berbentuk gas CO2), saffroni (berbentuk baron). Bentuk
(komposisi kimia) dari mata air panas adalah air klorida, air sulfat, air karbonat, air

silikat, air nitrat, dan air fosfat.


Jika dilihat dari segi ekonomisnya, maka endapan ekonomis dari phase vulkanik adalah :
belerang (kristal belerang dan lumpur belerang), oksida besi (misalnya hematit, Fe2O3).
Sulfida masif volkanogenik berhubungan dengan vulkanisme bawah laut, sebagai contoh
endapan tembaga-timbal-seng Kuroko di Jepang, dan sebagian besar endapan logam
dasar di Kanada.
Gambar Model Geologi Endapan Tembaga-Timbal-Seng volkanogenik
(After Horikoshi & Sato, 1970; Sato,1981)
endapan tembaga
D. PROSES PEMBENTUKAN ENDAPAN SEDIMENTER
Mineral bijih sedimenter adalah mineral bijih yang ada kaitannya dengan batuan sedimen,
dibentuk oleh pengaruh air, kehidupan, udara selama sedimentasi, atau pelapukan
maupun dibentuk oleh proses hidrotermal. Mineral bijih sedimenter umumnya mengikuti
lapisan (stratiform) atau berbatasan dengan litologi tertentu (stratabound). Endapan
sedimenter yang cukup terkenal karena proses mekanik seperti endapan timah letakan di
daerah Bangka-Belitung dan endapan emas placer di Kalimantan Tengah maupun
Kalimantan Barat. Endapan sedimenter karena pelapukan kimiawi seperti endapan
bauksit di Pulau Bintan dan laterit nikel di Pomalaa/Soroako Sulawesi Tengah/ Selatan.
Y. B. Chaussier (1979), membagi pembentukan mineral sedimenter berdasarkan sumber
metal dan berdasarkan host rock-nya. Berdasarkan sumber metal dibagi dua yaitu
endapan supergen endapan yang metalnya berasal dari hasil rombakan batuan atau bijih
primer), serta endapan hipogen (endapan yang metalnya berasal dari aktivitas
magma/epithermal). Sedangkan berdasarkan host-rock (dengan pengendapan batuan
sedimen) dibagi dua, yaitu endapan singenetik (endapan yang terbentuk bersamaan
dengan terbentuknya batuan) serta endapan epigenetik (endapan mineral terbentuk
setelah batuan ada).
Terjadinya endapan atau cebakan mineral sekunder dipengaruhi empat faktor yaitu :
sumber dari mineral, metal atau metaloid, supergene atau hypogene (primer atau
sekunder), erosi dari daerah mineralisasi yang kemudian diendapkan dalam cekungan
(supergene), dari biokimia akibat bakteri, organisme seperti endapan diatomae, batubara,
dan minyak bumi, serta dari magma dalam kerak bumi atau vulkanisme (hypogene).
1. Mineral Bijih Dibentuk oleh Hasil Rombakan dan Proses Kimia Sebagai Hasil
Pelapukan Permukaan dan Transportasi
Secara normal material bumi tidak dapat mempertahankan keberadaanya dan akan
mengalami transportasi geokimia yaitu terdistribusi kembali dan bercampur dengan
material lain. Proses dimana unsur-unsur berpindah menuju lokasi dan lingkungan
geokimia yang baru dinamakan dispersi geokimia. Berbeda dengan dispersi mekanis,
dispersi kimia mencoba mengenal secara kimia penyebab suatu dispersi.
Dalam hal ini adanya dispersi geokimia primer dan dispersi geokimia sekunder. Dispersi
geokimia primer adalah dispersi kimia yang terjadi di dalam kerak bumi, meliputi proses
penempatan unsur-unsur selama pembentukan endapan bijih, tanpa memperhatikan

bagaimana tubuh bijih terbentuk. Dispersi geokimia sekunder adalah dispersi kimia yang
terjadi di permukaan bumi, meliputi pendistribusian kembali pola-pola dispersi primer
oleh proses yang biasanya terjadi di permukaan, antara lain proses pelapukan,
transportasi, dan pengendapan. Bahan terangkut pada proses sedimentasi dapat berupa
partikel atau ion dan akhirnya diendapkan pada suatu tempat. Mobilitas unsur sangat
mempengaruhi dispersi. Unsur dengan mobilitas yang rendah cenderung berada dekat
dengan tubuh bijihnya, sedangkan unsur-unsur dengan mobilitas tinggi cenderung relatif
jauh dari tubuh bijihnya. Selain itu juga tergantung dari sifat kimianya Eh dan Ph suatu
lingkungan seperti Cu dalam kondisi asam akan mempunyai mobilitas tinggi sedangkan
dalam kondisi basa akan mempunyai mobilitas rendah.
Sebagai contoh dapat diberikan pada proses pengkayaan sekunder pada endapan lateritik.
Dari pelapukan dihasilkan reaksi oksidasi dengan sumber oksigen dari udara atau air
permukaan. Oksidasi berjalan ke arah bawah sampai batas air tanah. Akibat proses
oksidasi ini, beberapa mineral tertentu akan larut dan terbawa meresap ke bawah
permukaan tanah, kemudian terendapkan (pada zona reduksi). Bagian permukaan yang
tidak larut, akan jadi berongga, berwarna kuning kemerahan, dan sering disebut dengan
gossan. Contoh endapan ini adalah endapan nikel laterit.
2. Cebakan Mineral Dibentuk oleh Pelapukan Mekanik
Mineral disini terbentuk oleh konsentrasi mekanik dari mineral bijih dan pemecahan dari
residu. Proses pemilahan yang mana menyangkut pengendapan tergantung oleh besar
butir dan berat jenis disebut sebagai endapan plaser. Mineral plaser terpenting adalah Pt,
Au, kasiterit, magnetit, monasit, ilmenit, zirkon, intan, garnet, tantalum, rutil, dsb.
Berdasarkan tempat dimana diendapkan, plaser atau mineral letakan dapat dibagi menjadi
:
1. Endapan plaser eluvium, diketemukan dekat atau sekitar sumber mineral bijih primer.
Mereka terbentuk dari hanya sedikit perjalanan residu (goresan), material mengalami
pelapukan setelah pencucian. Sebagai contoh endapan platina di Urals.
2. Plaser aluvium, ini merupakan endapan plaser terpenting. Terbentuk di sungai bergerak
kontinu oleh air, pemisahan tempat karena berat jenis, mineral bijih yang berat akan
bergerak ke bawah sungai. Intensitas pengayaan akan didapat kalau kecepatan aliran
menurun, seperti di sebelah dalam meander, di kuala sungai dsb. Contoh endapan tipe ini
adalah Sn di Bangka dan Belitung. Au-plaser di California.
3. Plaser laut/pantai, endapan ini terbentuk oleh karen aktivitas gelombang memukul
pantai dan mengabrasi dan mencuci pasir pantai. Mineral yang umum di sini adalah
ilmenit, magnetit, monasit, rutil, zirkon, dan intan, tergantung dari batuan terabrasi.
4. Fossil plaser, merupakan endapan primer purba yang telah mengalami pembatuan dan
kadang-kadang termetamorfkan. Sebagai contoh endapan ini adalah Proterozoikum
Witwatersand, Afrika Selatan, merupakan daerah emas terbesar di dunia, produksinya
lebih 1/3 dunia. Emas dan uranium terjadi dalam beberapa lapisan konglomerat.

Mineralisasi menyebar sepanjang 250 km. Tambang terdalam di dunia sampai 3000
meter, ini dimungkinkan karena gradien geotermis disana sekitar 10 per 130 meter.
Gambar Sketsa mekanisme endapan bijih sedimenter
endapan sedimenter
3. Cebakan Mineral Dibentuk oleh Proses Pengendapan Kimia
a. Lingkungan Darat
Batuan klastik yang terbentuk pada iklim kering dicirikan oleh warna merah akibat
oksidasi Fe dan umumnya dalam literatur disebut red beds. Kalau konsentrasi elemen
logam dekat permukaan tanah atau di bawah tanah tempat pengendapan tinggi
memungkinkan terjadi konsentrasi larutan logam dan mengalami pencucian
(leaching/pelindian) meresap bersama air tanah yang kemudian mengisi antar butir
sedimen klastik. Koloid bijih akan alih tempat oleh penukaran kation antara Fe dan
mineral lempung atau akibat penyerapan oleh mineral lempung itu sendiri.
b. Lingkungan Laut
Kejadian cebakan mieral di lingkungan laut sangat berbeda dengan lingkungan darat
yang umumnya mempunyai mempunyai pasokan air dengan kadar elemen yang tinggi
dibandingkan kandungan di laut. Kadar air laut mempunai elemen yang rendah. Sebagai
contoh kadar air laut untuk Fe 2 x 10-7 % yag membentuk konsentrasi mineral logam
yang berharga hal ini dapat terjadi kalau mempunyai keadaan yang khusus (terutama Fe
dan Mn) seperti :
a. Adanya salah satu sumber logam yang berasal dari pelapkan batuan di daratan atau dari
sistem hidrotermal bawah permukaan laut.
b. Transport dalam larutan, mungkin sebagai koloid. Besi adalah logam yang dominan
dan terbawa sebagai Fe(OH) soil partikel.
c. Endapan di dalam cebakan sedimenter, sebagai Fe(OH)3, FeCO3 atau Fe-silikat
tergantung perbedaanpotensial reduksi (Eh).
Bijih dalam lingkungan laut ini dapat berupa oolit, yang dibentuk oleh larutan koloid
membungkus material lain seperti pasir atau pecahan fosil. Bentuk kulit yang simetris
disebabkan perubahan komposisi (Fe, Al, SiO2). Dengan pertumbuhan yang terus
menerus, oolit tersebut akan stabil di dasar laut dimana tertanam dalam material
lempungan karbonatan yang mengandung beberapa besi yang bagus. Di dasar laut
mungkin oolit tersebut reworked. Dengan hasil keadaan tersebut bijih besi dan mangan
sebagai contoh ferromanganese nodules yang sekarang ini menutupi daerah luas lautan.
E. CONTOH BEBERAPA ENDAPAN MINERAL YANG PENTING
1. Endapan mineral yang berhubungan dengan proses-proses magmatik
Tergantung pada kedalaman dan temperatur pengendapan, mineral-mineral dan asosiasi
elemen yang berbeda sangat besar , sebagai contoh oksida-oksida timah dan tungsten di
kedalaman zona-zona bertemperatur tinggi; sulfida-sulfida tembaga, molibdenum, timbal,
dan seng dalam zona intermediet; sulfida-sulfida atau sulfosalt perak dan emas natif di
dekat permukaan pada zona temperatur rendah. Mineral-mineral dapat mengalami
disseminated dengan baik antara silikat-silikat, atau terkonsentrasi dalam rekahan yang
baik dalam batuan beku, sebagai contoh endapan tembaga porfiri Bingham di Utah.
Gambar Model Geologi Jenis Endapan Tembaga Porfiri di Amerika Selatan

(After Sillitoe,1973)
endapan tembaga porfiri
Batugamping di dekat intrusi bereaksi dengan larutan hidrotermal dan sebagian
digantikan oleh mineral-mineral tungsten, tembaga, timbal dan seng (dalam kontak
metasomatik atau endapan skarn). Jika larutan bergerak melalui rekahan yang terbuka
dan logam-logam mengendap di dalamnya (urat emas-kuarsa-alunit epithermal), sehingga
terbentuk cebakan tembaga, timbal, seng, perak, dan emas.
Gambar Model Geologi Endapan Urat Logam Mulia (After Buchanan,1981)
model geologi urat
Larutan hidrotermal yang membawa logam dapat juga bermigrasi secara lateral menuju
batuan yang permeabel atau reaktif secara kimia membentuk endapan blanket- shaped
sulfida, atau bahkan mencapai permukaan dan mengendapkan emas, perak, dan air raksa
dalam pusat mata air panas silikaan atau karbonatan, seperti kadar emas tinggi yang
terdapat dalam beberapa lapangan geotermal aktif di New Zealand. Jika larutan volkanik
yang membawa logam memasuki lingkungan laut, maka akan terbentuk kumpulan
sedimen-volkanik dari tembaga- timbal-seng.
2. Endapan mineral yang berhubungan dengan proses sedimentasi
Erosi benua dan pengisian cekungan sedimen di samudera memerlukan siklus geologi
dan kimia yang dapat berhubungan dengan formasi dari jenis endapan mineral selama
pelapukan, perombakan menjadi unsur-unsur pokok berupa fragmental (sebagai contoh
kwarsa atau kadang-kadang emas atau mineral-mineral berat), dan menjadi elemenelemen yang larut secara kimiawi (sebagai contoh adalah kalsium, sodium, atau elemenelemen metalik pembentuk bijih yang potensial seperti besi, tembaga, timbal, dan seng).
Unsur-unsur pokok fragmental tertransportasi oleh air permukaan diendapkan sebagai
batuan.
Klastik-klastik sedimen di benua dan di lingkungan tepi laut cenderung berbutir kasar dan
bisa mengisi pengkayaan lokal mineral-mineral berharga yang telah tertransportasi
dengan fraksi klastik, sebagai contoh konsentrasi emas placer pada endapan
Witwatersrand di Afrika Selatan dan timah placer di Asia bagian selatan.
Seringkali formasi endapan sulfida stratiform tidak tampak berhubungan dengan proses
magmatisme atau vulkanisme, tetapi agak berhubungan dengan sirkulasi larutan
hidrotermal dari sumber-sumber yang lain, sebagai contoh penirisan dari cekungan
sedimen yang dalam. Endapan-endapan yang dihasilkan sangat mirip dengan beberapa
asal-usul volkanogenik karena mekanisme traping yang sama. Hanya mineral-mineral
sulfida yang dapat mengalami presipitasi pada sediment-water interface atau dalam
batuan yang tidak terkonsolidasi, waktu dari formasi bijih berhubungan terhadap waktu
pengendapan sedimen, terhadap waktu kompaksi dan konsolidasinya, atau terhadap
waktu-waktu berikutnya saat sedimen-sedimen mengalami indurasi penuh dan dapat
termineralisasi oleh larutan yang bergerak melalui batuan yang porous atau strukturstruktur geologi. Untuk proses ini, contoh yang bagus adalah endapan timbal-seng di
Mississippi Valley.
Gambar Model Geologi Endapan Sediment-Ekshalatif Timbal-Seng (After Lydon, 1983)

model geologi sediment


Proses-proses sedimentasi juga membentuk akumulasi fosil-fosil bahan bakar, batu bara,
minyak dan gas alam. Untuk membentuk batu bara, gambut terkompaksi dan mengalami
pemanasan akibat penurunan dan proses burial. Demikian juga, minyak dan gas terbentuk
oleh maturasi unsur-unsur organik dalam batuan sedimen oleh peningkatan temperatur
dan tekanan. Minyak dan gas dapat bermigrasi melalui batuan yang porous membentuk
reservoir yang besar dalam struktur yang baik, atau tetap di dalam batuan sumber
membentuk oil shale.
3. Endapan Mineral Yang Berhubungan Dengan Proses Metamorfisme
Metamorfisme yaitu proses rekristalisasi dan peleburan akhir dari batuan beku atau
batuan sedimen, yang disebabkan oleh intrusi dari magma baru atau oleh proses burial
yang dalam . Endapan hidrotermal kontak metasomatik terbentuk di sekitar magma yang
mengalami intrusi, seperti yang digambarkan di atas. Metamorfisme burial yang dalam
dapat menimbulkan overprinting terhadap akumulasi mineral yang ada sebelumnya,
sebagai contoh yang besar adalah endapan sediment-hosted lead-zinc di Broken Hill,
Australia.
Metamorfisme burial juga membebaskan sebagian besar larutan hidrotermal yang
melarutkan logam-logam dari country rock, diendapkan saat larutan bertemu dengan
suatu lingkungan dengan kondisi temperatur, tekanan, dan kimia yang tepat untuk
formasi bijih. Formasi endapan emas di beberapa jalur metamorfik Precambrian
berhubungan terhadap transportasi emas oleh metamorfic water menuju urat kwarsa yang
mengandung emas. Kecuali jenis endapan tersebut, metamorfisme regional tidak terlalu
banyak membentuk formasi dari endapan bijih metalik.

Genesa Mineral
Genesa Mineral
Secara

umum

genesa

bahan

galian

mencakup

aspek-aspek

keterdapatan, proses pembentukan, komposisi, model (bentuk, ukuran, dimensi),


kedudukan, dan faktor-faktor pengendali pengendapan bahan galian (geologic
controls).
Tujuan utama mempelajari genesa suatu endapan bahan galian adalah
sebagai pegangan dalam menemukan dan mencari endapan-endapan baru,
mengungkapkan sifat-sifat fisik dan kimia endapan bahan galian, membantu
dalam penentuan (penyusunan) model eksplorasi yang akan diterapkan, serta
membantu dalam penentuan metoda penambangan dan pengolahan bahan
galian tersebut.
Endapan-endapan mineral yang muncul sesuai dengan bentuk asalnya
disebut dengan endapan primer (hypogen). Jika mineral-mineral primer telah
terubah melalui pelapukan atau proses-proses luar (superficial processes)
disebut dengan endapan sekunder (supergen).
2.2

Proses Pembentukan Endapan Mineral Primer


Pembentukan Mineral primer secara garis besar dapat diklasifikasikan

menjadi lima jenis endapan, yaitu :


a. Fase Magmatik Cair
b. Fase Pegmatitil
c. Fase Pneumatolitik
d. Fase Hidrothermal
e. Fase Vulkanik
Dari kelima jenis fase endapan di atas akan menghasilkan sifat-sifat
endapan yang berbeda-beda, yaitu yang berhubungan dengan :
1. Kristalisasi magmanya
2. Jarak endapan mineral dengan asal magma
a. intra-magmatic, bila endapan terletak di dalam daerah batuan beku
b. peri-magmatic, bila endapan terletak di luar (dekat batas) batuan beku

c. crypto-magmatic, bila hubungan antara endapan dan batuan beku tidak jelas
d. apo-magmatic, bila letak endapan tidak terlalu jauh terpisah dari batuan beku
e. tele-magmatic, bila disekitar endapan mineral tidak terlihat (terdapat) batuan
beku
3. Bagaimana cara pengendapan terjadi
a. terbentuk karena kristalisasi magma atau di dalam magma
b. terbentuk pada lubang-lubang yang telah ada
c. metosomatisme (replacement) yaitu :reaksi kimia antara batuan yang telah ada
dengan larutan pembawa bijih
4. Bentuk endapan, masif, stockwork, urat, atau perlapisan
5.Waktu terbentuknya endapan
a. syngenetic, jika endapan terbentuk bersamaan waktunya dengan pembentukan
batuan
b.

epigenetic, jika endapan terbentuk tidak bersamaan waktunya dengan


pembentukan batuan.

a.

Fase Magmatik Cair (Liquid Magmatic Phase)


Liquid magmatic phase adalah suatu fase pembentukan mineral, dimana
mineral terbentuk langsung pada magma (differensiasi magma), misalnya
dengan cara gravitational settling). Mineral yang banyak terbentuk dengan cara
ini adalah kromit, titamagnetit, dan petlandit Fase magmatik cair ini dapat dibagi
atas :
1. Komponen batuan, mineral yang terbentuk akan tersebar merata diseluruh masa
batuan. Contoh intan dan platina.
2.

Segregasi, mineral yang terbentuk tidak tersebar merata, tetapi hanya kurang
terkonsentrasi di dalam batuan.
Injeksi, mineral yang terbentuk tidak lagi terletak di dalam magma (batuan beku),
tetapi telah terdorong keluar dari magma.
b.

Fase Pegmatitik (Pegmatitic Phase)


Pegmatit adalah batuan beku yang terbentuk dari hasil injeksi magma.

Sebagai akibat kristalisasi pada magmatik awal dan tekanan disekeliling magma,

maka cairan residual yang mobile akan terinjeksi dan menerobos batuan
disekelilingnya sebagai dyke, sill, dan stockwork.
Kristal dari pegmatit akan berukuran besar, karena tidak adanya kontras
tekanan dan temperatur antara magma dengan batuan disekelilingnya, sehingga
pembekuan berjalan dengan lambat. Mineral-mineral pegmatit antara lain :
logam-logam ringan (Li-silikat, Be-silikat (BeAl-silikat), Al-rich silikat), logamlogam berat (Sn, Au, W, dan Mo), unsur-unsur jarang (Niobium, Iodium (Y), Ce,
Zr, La, Tantalum, Th, U, Ti), batuan mulia (ruby, sapphire, beryl, topaz, turmalin
rose, rose quartz, smoky quartz, rock crystal).
c.

Fase Pneumatolitik (Pneumatolitik Phase)


Pneumatolitik adalah proses reaksi kimia dari gas dan cairan dari magma

dalam lingkungan yang dekat dengan magma. Dari sudut geologi, ini disebut
kontak-metamorfisme, karena adanya gejala kontak antara batuan yang lebih tua
dengan magma yang lebih muda. Mineral kontak ini dapat terjadi bila uap panas
dengan temperatur tinggi dari magma kontak dengan batuan dinding yang
reaktif. Mineral-mineral kontak yang terbentuk antara lain : wolastonit (CaSiO3),
amphibol, kuarsa, epidot, garnet, vesuvianit, tremolit, topaz, aktinolit, turmalin,
diopsit, dan skarn.
Gejala kontak metamorfisme tampak dengan adanya perubahan pada tepi
batuan beku intrusi dan terutama pada batuan yang diintrusi, yaitu: baking
(pemanggangan) dan hardening (pengerasan).
Igneous metamorfism ialah segala jenis pengubahan (alterasi) yang
berhubungan dengan penerobosan batuan beku. Batuan yang diterobos oleh
masa batuan pada umumnya akan ter-rekristalisasi, terubah (altered), dan
tergantikan (replaced). Perubahan ini disebabkan oleh panas dan fluida-fluida
yang memencar atau diaktifkan oleh terobosan tadi. Oleh karena itu endapan ini
tergolong pada metamorfisme kontak.
Proses pneomatolitis ini lebih menekankan peranan temperatur dari
aktivitas uap air. Pirometamorfisme menekankan hanya pada pengaruh
temperatur

sedangkan

pirometasomatisme

pada

reaksi

penggantian

(replacement), dan metamorfisme kontak pada sekitar kontak. Letak terjadinya

proses umumnya di kedalaman bumi, pada lingkungan tekanan dan temperatur


tinggi.
Mineral bijih pada endapan kontak metasomatisme umumnya sulfida
sederhana dan oksida misalnya spalerit, galena, kalkopirit, bornit, dan beberapa
molibdenit. Sedikit endapan jenis ini yang betul-betul tanpa adanya besi, pada
umumnya akan banyak sekali berisi pirit atau bahkan magnetit dan hematit.
Scheelit juga terdapat dalam endapan jenis ini (Singkep-Indonesia).
d.

Fase Hidrothermal (Hydrothermal Phase)


Hidrothermal adalah larutan sisa magma yang bersifat "aqueous" sebagai

hasil differensiasi magma. Hidrothermal ini kaya akan logam-logam yang relatif
ringan, dan merupakan sumber terbesar (90%) dari proses pembentukan
endapan. Berdasarkan cara pembentukan endapan, dikenal dua macam
endapan hidrothermal, yaitu :
1. Cavity filing, mengisi lubang-lubang (opening-opening) yang sudah ada di
dalam batuan.
2. Metasomatisme, mengganti unsur-unsur yang telah ada dalam batuan dengan
unsur-unsur baru dari larutan hidrothermal.
Berdasarkan cara pembentukan endapan, dikenal beberapa jenis
endapan hidrothermal, antara lain Ephithermal (T 00C-2000C), Mesothermal (T
1500C-3500C), dan Hipothermal (T 3000C-5000C). Setiap tipe endapan
hidrothermal diatas selalu membawa mineral-mineral yang tertentu (spesifik),
berikut altersi yang ditimbulkan barbagai macam batuan dinding. Tetapi mineramineral seperti pirit (FeS2), kuarsa (SiO2), kalkopirit (CuFeS2), florida-florida
hampir selalu terdapat dalam ke tiga tipe endapan hidrothermal.
Paragenesis endapan hipothermal dan mineral gangue adalah : emas
(Au), magnetit (Fe3O4), hematit (Fe2O3), kalkopirit (CuFeS2), arsenopirit
(FeAsS), pirrotit (FeS), galena (PbS), pentlandit (NiS), wolframit : Fe (Mn)WO4,
Scheelit (CaWO4), kasiterit (SnO2), Mo-sulfida (MoS2), Ni-Co sulfida, nikkelit
(NiAs), spalerit (ZnS), dengan mineral-mineral gangue antara lain : topaz,
feldspar-feldspar,

kuarsa,

tourmalin,

silikat-silikat,

karbonat-karbonat

Sedangkan paragenesis endapan mesothermal dan mineral gangue

adalah : stanite (Sn, Cu) sulfida, sulfida-sulfida : spalerit, enargit (Cu3AsS4), Cu


sulfida, Sb sulfida, stibnit (Sb2S3), tetrahedrit (Cu,Fe)12Sb4S13, bornit (Cu2S),
galena (PbS), dan kalkopirit (CuFeS2), dengan mineral-mineral ganguenya :
kabonat-karbonat, kuarsa, dan pirit.
Paragenesis endapan ephitermal dan mineral ganguenya adalah : native
cooper (Cu), argentit (AgS), golongan Ag-Pb kompleks sulfida, markasit (FeS2),
pirit (FeS2), cinabar (HgS), realgar (AsS), antimonit (Sb2S3), stannit (CuFeSn),
dengan mineral-mineral ganguenya : kalsedon (SiO2), Mg karbonat-karbonat,
rhodokrosit (MnCO3), barit (BaSO4), zeolit (Al-silikat).
e.

Fase Vulkanik (Vulkanik Phase)


Endapan phase vulkanik merupakan produk akhir dari proses

pembentukkan bijih secara primer. Sebagai hasil kegiatan phase vulkanis adalah
:
1. Lava flow
2. Ekshalasi
3. Mata air panas
Ekshalasi dibagi menjadi : fumarol (terutama terdiri dari uap air H2O),
solfatar (berbentuk gas SO2), mofette (berbentuk gas CO2), saffroni (berbentuk
baron). Bentuk (komposisi kimia) dari mata air panas adalah air klorida, air sulfat,
air karbonat, air silikat, air nitrat, dan air fosfat.
Jika dilihat dari segi ekonomisnya, maka endapan ekonomis dari phase
vulkanik adalah : belerang (kristal belerang dan lumpur belerang), oksida besi
(misalnya hematit, Fe2O3). Sulfida masif volkanogenik berhubungan dengan
vulkanisme bawah laut, sebagai contoh endapan tembaga-timbal-seng Kuroko di
Jepang, dan sebagian besar endapan logam dasar di Kanada.
2.3

Proses Pembentukan Endapan Sedimenter


Mineral bijih sedimenter adalah mineral bijih yang ada kaitannya dengan

batuan sedimen, dibentuk oleh pengaruh air, kehidupan, udara selama


sedimentasi, atau pelapukan maupun dibentuk oleh proses hidrotermal. Mineral
bijih sedimenter umumnya mengikuti lapisan (stratiform) atau berbatasan dengan

litologi tertentu (stratabound). Endapan sedimenter yang cukup terkenal karena


proses mekanik seperti endapan timah letakan di daerah Bangka-Belitung dan
endapan emas placer di Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Barat. Endapan
sedimenter karena pelapukan kimiawi seperti endapan bauksit di Pulau Bintan
dan laterit nikel di Pomalaa/Soroako Sulawesi Tengah/ Selatan.
Y. B. Chaussier (1979), membagi pembentukan mineral sedimenter
berdasarkan sumber metal dan berdasarkan host rock-nya. Berdasarkan sumber
metal dibagi dua yaitu endapan supergen endapan yang metalnya berasal dari
hasil rombakan batuan atau bijih primer), serta endapan hipogen (endapan yang
metalnya berasal dari aktivitas magma/epithermal). Sedangkan berdasarkan
host-rock (dengan pengendapan batuan sedimen) dibagi dua, yaitu endapan
singenetik (endapan yang terbentuk bersamaan dengan terbentuknya batuan)
serta endapan epigenetik (endapan mineral terbentuk setelah batuan ada).
Terjadinya endapan atau cebakan mineral sekunder dipengaruhi empat
faktor yaitu : sumber dari mineral, metal atau metaloid, supergene atau
hypogene (primer atau sekunder), erosi dari daerah mineralisasi yang kemudian
diendapkan dalam cekungan (supergene), dari biokimia akibat bakteri,
organisme seperti endapan diatomae, batubara, dan minyak bumi, serta dari
magma dalam kerak bumi atau vulkanisme (hypogene).
1.

Mineral Bijih Dibentuk oleh Hasil Rombakan dan Proses Kimia Sebagai
Hasil Pelapukan Permukaan dan Transportasi
Secara normal material bumi tidak dapat mempertahankan keberadaanya
dan akan mengalami transportasi geokimia yaitu terdistribusi kembali dan
bercampur dengan material lain. Proses dimana unsur-unsur berpindah menuju
lokasi dan lingkungan geokimia yang baru dinamakan dispersi geokimia.
Berbeda dengan dispersi mekanis, dispersi kimia mencoba mengenal secara
kimia penyebab suatu dispersi.
Dalam hal ini adanya dispersi geokimia primer dan dispersi geokimia
sekunder. Dispersi geokimia primer adalah dispersi kimia yang terjadi di dalam
kerak bumi, meliputi proses penempatan unsur-unsur selama pembentukan
endapan bijih, tanpa memperhatikan bagaimana tubuh bijih terbentuk. Dispersi

geokimia sekunder adalah dispersi kimia yang terjadi di permukaan bumi,


meliputi pendistribusian kembali pola-pola dispersi primer oleh proses yang
biasanya terjadi di permukaan, antara lain proses pelapukan, transportasi, dan
pengendapan. Bahan terangkut pada proses sedimentasi dapat berupa partikel
atau ion dan akhirnya diendapkan pada suatu tempat. Mobilitas unsur sangat
mempengaruhi dispersi. Unsur dengan mobilitas yang rendah cenderung berada
dekat dengan tubuh bijihnya, sedangkan unsur-unsur dengan mobilitas tinggi
cenderung relatif jauh dari tubuh bijihnya. Selain itu juga tergantung dari sifat
kimianya Eh dan Ph suatu lingkungan seperti Cu dalam kondisi asam akan
mempunyai mobilitas tinggi sedangkan dalam kondisi basa akan mempunyai
mobilitas rendah.
Sebagai contoh dapat diberikan pada proses pengkayaan sekunder pada
endapan lateritik. Dari pelapukan dihasilkan reaksi oksidasi dengan sumber
oksigen dari udara atau air permukaan. Oksidasi berjalan ke arah bawah sampai
batas air tanah. Akibat proses oksidasi ini, beberapa mineral tertentu akan larut
dan terbawa meresap ke bawah permukaan tanah, kemudian terendapkan (pada
zona reduksi). Bagian permukaan yang tidak larut, akan jadi berongga, berwarna
kuning kemerahan, dan sering disebut dengan gossan. Contoh endapan ini
adalah endapan nikel laterit.
2.

Cebakan Mineral Dibentuk oleh Pelapukan Mekanik


Mineral disini terbentuk oleh konsentrasi mekanik dari mineral bijih dan

pemecahan

dari

residu.

Proses

pemilahan

yang

mana

menyangkut

pengendapan tergantung oleh besar butir dan berat jenis disebut sebagai
endapan plaser. Mineral plaser terpenting adalah Pt, Au, kasiterit, magnetit,
monasit, ilmenit, zirkon, intan, garnet, tantalum, rutil, dsb.
Berdasarkan tempat dimana diendapkan, plaser atau mineral letakan
dapat dibagi menjadi :
1.

Endapan plaser eluvium, diketemukan dekat atau sekitar sumber mineral

bijih primer. Mereka terbentuk dari hanya sedikit perjalanan residu (goresan),
material mengalami pelapukan setelah pencucian. Sebagai contoh endapan
platina di Urals.

2.

Plaser aluvium, ini merupakan endapan plaser terpenting. Terbentuk di

sungai bergerak kontinu oleh air, pemisahan tempat karena berat jenis, mineral
bijih yang berat akan bergerak ke bawah sungai. Intensitas pengayaan akan
didapat kalau kecepatan aliran menurun, seperti di sebelah dalam meander, di
kuala sungai dsb. Contoh endapan tipe ini adalah Sn di Bangka dan Belitung.
Au-plaser di California.
3.

Plaser laut/pantai, endapan ini terbentuk oleh karen aktivitas gelombang

memukul pantai dan mengabrasi dan mencuci pasir pantai. Mineral yang umum
di sini adalah ilmenit, magnetit, monasit, rutil, zirkon, dan intan, tergantung dari
batuan terabrasi.
4.

Fossil plaser, merupakan endapan primer purba yang telah mengalami

pembatuan dan kadang-kadang termetamorfkan. Sebagai contoh endapan ini


adalah Proterozoikum Witwatersand, Afrika Selatan, merupakan daerah emas
terbesar di dunia, produksinya lebih 1/3 dunia. Emas dan uranium terjadi dalam
beberapa lapisan konglomerat. Mineralisasi menyebar sepanjang 250 km.
Tambang terdalam di dunia sampai 3000 meter, ini dimungkinkan karena gradien
geotermis disana sekitar 10 per 130 meter.
3.

Cebakan Mineral Dibentuk oleh Proses Pengendapan Kimia

a.

Lingkungan Darat
Batuan klastik yang terbentuk pada iklim kering dicirikan oleh warna

merah akibat oksidasi Fe dan umumnya dalam literatur disebut red beds.
Kalau konsentrasi elemen logam dekat permukaan tanah atau di bawah tanah
tempat pengendapan tinggi memungkinkan terjadi konsentrasi larutan logam dan
mengalami pencucian (leaching/pelindian) meresap bersama air tanah yang
kemudian mengisi antar butir sedimen klastik. Koloid bijih akan alih tempat oleh
penukaran kation antara Fe dan mineral lempung atau akibat penyerapan oleh
mineral lempung itu sendiri.
b.

Lingkungan Laut
Kejadian cebakan mieral di lingkungan laut sangat berbeda dengan

lingkungan darat yang umumnya mempunyai mempunyai pasokan air dengan


kadar elemen yang tinggi dibandingkan kandungan di laut. Kadar air laut

mempunai elemen yang rendah. Sebagai contoh kadar air laut untuk Fe 2 x 10-7
% yag membentuk konsentrasi mineral logam yang berharga hal ini dapat terjadi
kalau mempunyai keadaan yang khusus (terutama Fe dan Mn) seperti :
a. Adanya salah satu sumber logam yang berasal dari pelapkan batuan di daratan
atau dari sistem hidrotermal bawah permukaan laut.
b. Transport dalam larutan, mungkin sebagai koloid. Besi adalah logam yang
dominan dan terbawa sebagai Fe(OH) soil partikel.
c. Endapan di dalam cebakan sedimenter, sebagai Fe(OH)3, FeCO3 atau Fe-silikat
tergantung perbedaanpotensial reduksi (Eh).
Bijih dalam lingkungan laut ini dapat berupa oolit, yang dibentuk oleh
larutan koloid membungkus material lain seperti pasir atau pecahan fosil. Bentuk
kulit yang simetris disebabkan perubahan komposisi (Fe, Al, SiO2). Dengan
pertumbuhan yang terus menerus, oolit tersebut akan stabil di dasar laut dimana
tertanam dalam material lempungan karbonatan yang mengandung beberapa
besi yang bagus. Di dasar laut mungkin oolit tersebut reworked. Dengan hasil
keadaan tersebut bijih besi dan mangan sebagai contoh ferromanganese
nodules yang sekarang ini menutupi daerah luas lautan.

Gambar 2.1
Skema
Terjadinya
Mineral

2.4.

Klasifikasi dan Golongan Mineral


2.4.1

Native Element (Unsur Murni)

Native element atau unsur murni ini adalah kelas mineral yang dicirikan
dengan hanya memiliki satu unsur atau komposisi kimia saja. Mineral pada kelas
ini tidak mengandung unsur lain selain unsur pembentuk utamanya. Pada
umumnya sifat dalam (tenacity) mineralnya adalah malleable yang jika ditempa
dengan palu akan menjadi pipih, atau ductile yang jika ditarik akan dapat
memanjang, namun tidak akan kembali lagi seperti semula jika dilepaskan. Kelas
mineral native element ini terdiri dari dua bagian umum.
Metal dan element intermetalic (logam). Contohnya emas, perak, dan tembaga.
Semimetal dan non metal (bukan logam). Contohnya antimony, bismuth, graphite
dan sulfur.
Sistem

kristal

pada

native

element

dapat dibahgi

menjadi

tiga

berdasarkan sifat mineral itu sendiri. Bila logam, seperti emas, perak dan
tembaga, maka sistem kristalnya adalah isometrik. Jika bersifat semilogam,
seperti arsenic dan bismuth, maka sistem kristalnya adalah hexagonal. Dan jika
unsur mineral tersebut non-logam, sistem kristalnya dapat berbeda-beda, seperti
sulfur sistem kristalnya orthorhombic, intan sistem kristalnya isometric, dan
graphite sistem kristalnya adalah hexagonal. Pada umumnya, berat jenis dari
mineral-mineral ini tinggi, kisarannya sekitar 6.
Dalam grup native element ini juga termasuk natural alloys, seperti
electrum, phosphides, silicides, nitrides dan carbides.
2.4.2

Mineral Sulfida
Kelas mineral sulfida atau dikenal juga dengan nama sulfosalt ini

terbentuk dari kombinasi antara unsur tertentu dengan sulfur (belerang). Pada
umumnya unsure utamanya adalah logam (metal).
Pembentukan mineral kelas ini pada umumnya terbentuk disekitar wilayah
gunung api yang memiliki kandungan sulfur yang tinggi. Proses mineralisasinya
terjadi pada tempat-tempat keluarnya atau sumber sulfur. Unsur utama yang
bercampur dengan sulfur tersebut berasal dari magma, kemudian terkontaminasi
oleh sulfur yang ada disekitarnya. Pembentukan mineralnya biasanya terjadi
dibawah kondisi air tempat terendapnya unsur sulfur. Proses tersebut biasanya

dikenal sebagai alterasi mineral dengan sifat pembentukan yang terkait dengan
hidrotermal (air panas).
Mineral kelas sulfida ini juga termasuk mineral-mineral pembentuk bijih
(ores). Dan oleh karena itu, mineral-mineral sulfida memiliki nilai ekonomis yang
cukup tinggi. Khususnya karena unsur utamanya umumnya adalah logam. Pada
industri

logam,

mineral-mineral

sulfides

tersebut

akan

diproses

untuk

memisahkan unsur logam dari sulfurnya.


Beberapa penciri kelas mineral ini adalah memiliki kilap logam karena
unsur utamanya umumnya logam, berat jenis yang tinggi dan memiliki tingkat
atau nilai kekerasan yang rendah. Hal tersebut berkaitan dengan unsur
pembentuknya yang bersifat logam.
Beberapa contoh mineral sulfides yang terkenal adalah pyrite (FeS3),
Chalcocite (Cu2S), Galena (PbS), sphalerite (ZnS) dan proustite (Ag3AsS3). Dan
termasuk juga didalamnya selenides, tellurides, arsenides, antimonides,
bismuthinides dan juga sulfosalt.

2.4.3

Mineral Oksida dan Hidroksida


Mineral oksida dan hidroksida ini merupakan mineral yang terbentuk dari

kombinasi unsur tertentu dengan gugus anion oksida (O) dan gugus hidroksil
hidroksida (OH atau H).
Mineral oksida terbentuk sebagai akibat persenyawaan langsung antara
oksigen dan unsur tertentu. Susunannya lebih sederhana dibanding silikat.
Mineral oksida umumnya lebih keras dibanding mineral lainnya kecuali silikat.
Mereka juga lebih berat kecuali sulfida. Unsur yang paling utama dalam oksida
adalah besi, chrome, mangan, timah dan aluminium. Beberapa mineral oksida
yang paling umum adalah es (H2O), korondum (Al2O3), hematit (Fe2O3) dan
kassiterit (SnO2).
Seperti mineral oksida, mineral hidroksida terbentuk akibat pencampuran
atau persenyawaan unsur-unsur tertentu dengan hidroksida (OH). Reaksi
pembentukannya dapat juga terkait dengan pengikatan dengan air. Sama seperti

oksida, pada mineral hidroksida, unsur utamanya pada umumnya adalah unsurunsur logam. Beberapa contoh mineral hidroksida adalah goethit (FeOOH) dan
limonite (Fe2O3.H2O).
2.4.4

Mineral Carbonat (CO3)


Merupakan persenyawaan dengan ion (CO3)2-, dan disebut karbonat,

umpamanya persenyawaan dengan Ca dinamakan kalsium karbonat, CaCO3


dikenal sebagai mineral kalsit. Mineral ini merupakan susunan utama yang
membentuk batuan sedimen.
Carbonat terbentuk pada lingkungan laut oleh endapan bangkai plankton.
Carbonat juga terbentuk pada daerah evaporitic dan pada daerah karst yang
membentuk gua (caves), stalaktit, dan stalagmite. Dalam kelas carbonat ini juga
termasuk nitrat (NO3) dan juga Borat (BO3).
Carbonat, nitrat dan borat memiliki kombinasi antara logam atau
semilogam dengan anion yang kompleks dari senyawa-senyawa tersebut (CO3,
NO3, dan BO3).
Beberapa contoh mineral yang termasuk kedalam kelas carbonat ini
adalah dolomite (CaMg(CO3)2, calcite (CaCO3), dan magnesite (MgCO3). Dan
contoh

mineral

nitrat

dan

borat

adalah

niter

(NaNO3)

dan

borak

(Na2B4O5(OH)4.8H2O).
2.4.5

Mineral Sulfat (SO4)


Sulfat terdiri dari anion sulfat (SO 42-). Mineral sulfat adalah kombinasi

logam dengan anion sufat tersebut. Pembentukan mineral sulfat biasanya terjadi
pada daerah evaporitik (penguapan) yang tinggi kadar airnya, kemudian
perlahan-lahan menguap sehingga formasi sulfat dan halida berinteraksi.
Pada kelas sulfat termasuk juga mineral-mineral molibdat, kromat, dan
tungstat. Dan sama seperti sulfat, mineral-mineral tersebut juga terbentuk dari
kombinasi logam dengan anion-anionnya masing-masing.
Contoh-contoh mineral yang termasuk kedalam kelas ini adalah anhydrite
(calcium sulfate), Celestine (strontium sulfate), barite (barium sulfate), dan

gypsum (hydrated calcium sulfate). Juga termasuk didalamnya mineral


chromate, molybdate, selenate, sulfite, tellurate serta mineral tungstate.
2.4.6

Mineral Silicate (Si, O)


Silicat merupakan 25% dari mineral yang dikenal dan 40% dari mineral

yang dikenali. Hampir 90 % mineral pembentuk batuan adalah dari kelompok ini,
yang merupakan persenyawaan antara silikon dan oksigen dengan beberapa
unsur metal. Karena jumlahnya yang besar, maka hampir 90 % dari berat kerakBumi terdiri dari mineral silikat, dan hampir 100 % dari mantel Bumi (sampai
kedalaman 2900 Km dari kerak Bumi). Silikat merupakan bagian utama yang
membentuk batuan baik itu sedimen, batuan beku maupun batuan malihan
(metamorf). Silikat pembentuk batuan yang umum adalah dibagi menjadi dua
kelompok, yaitu kelompok ferromagnesium dan non-ferromagnesium.