Anda di halaman 1dari 25

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saat ini penyakit herpes simplek terutama herpes genital menjadi salah satu penyakit
menular seksual dan telah berhasil mempengaruhi kehidupan jutaan pasien beserta
pasangannya. Kebanyakan individu mengalami gangguan psikologis dan psikososial sebagai
akibat dari nyeri yang timbul, gejala lain yang menyertai ketika terjadi infeksi aktif,
kekambuhan yang tinggi, dan komplikasinya seperti meningitis aseptic serta transmisi
neonatus menyebabkan penyakit ini mendapat perhatian yang besar dari penderita dan
petugas kesehatan.( http://en.wikipedia.org/wiki/Herpes_simplex ).
Berdasarkan medical record RSCM FKUI, di Indonesia insiden herpes genitalis berkisar
3 - 4% dari seluruh penyakit hubungan seksual. Penderita herpes genitalis kebanyakan adalah
kalangan orang dewasa muda berusia 20 30 tahun dan penularannya melalui kontak
seksual. Penyakit tersebut disebabkan oleh HSV-1 (sekitar 16,1%) akibat hubungan kelamin
secara orogenital atau penularan melalui tangan. Risiko tinggi penularan HSV ini terutama
terjadi pada wanita hamil dengan infeksi primer, yaitu ibu yang belum memiliki antibodi
terhadap HSV namun pasangannya seropositif; atau dilakukannya prosedur invasif saat
intrapartum (saat proses kelahiran) terhadap bayi dari ibu dengan riwayat herpes genitalis
atau seropositif HSV. Penularan pada bayi sebagian besar (90%) terjadi saat proses kelahiran,
5% pada janin melalui plasenta atau langsung mengenai fetus (janin). Selebihnya, 5%,
infeksi HSV diperoleh sehabis masa persalinan. Kontak lama dengan cairan terinfeksi dapat
meningkatkan risiko bayi tertular. Maka, pada wanita hamil yang menderita herpes genitalis
primer, dalam enam minggu terakhir masa kehamilannya dianjurkan untuk menjalani bedah
caesar sebelum atau dalam empat jam sesudah pecah ketuban ( http://www.ihmf.org/82aoki ).
Transmisi atau penularan infeksi virus herpes simpleks paling sering terjadi melalui
kontak erat dengan individu yang pada daerah permukaan kulit dan mukosanya mengeluarkan
virus, dalam sekresi oral atau genital. Penyebaran HSV sulit dicegah. Hal ini sebagian karena
banyak orang dengan HSV tidak tahu dirinya terinfeksi dan dapat menularkannya. Orang
yang tahu dirinya terinfeksi HSV pun mungkin tidak mengetahui mereka dapat menularkan
infeksi walaupun mereka tidak mempunyai luka herpes yang terbuka. Angka penularan HSV
dapat dikurangi dengan penggunaan kondom. Namun kondom tidak dapat mencegah semua

penularan. Infeksi HSV dapat menulari dan ditulari dari daerah kelamin yang agak luas, lebih
luas daripada yang ditutup oleh celana dalam dan juga di daerah mulut. Disamping itu
penularan tersebut sangat dipengaruhi oleh sistem kekebalan tubuh seseorang.
Oleh karena penyakit herpes genital tidak dapat disembuhkan serta bersifat kambuhkambuhan, maka terapi sekarang difokuskan untuk meringankan gejala yang timbul,
menjarangkan kekambuhan, serta menekan angka penularan sehingga diharapkan kualitas
hidup dari pasien menjadi lebih baik setelah dilakukan penanganan dengan tepat.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan herpes simplek?
2. Bagaimana etiologi herpes simplek?
3. Bagaimana klasifikasi herpes simplek?
4. Bagaimana patogenesis herpes simplek?
5. Bagaimana WOC (Web Of Caution) herpes simplek?
6. Bagaimana manifestasi klinis herpes simplek?
7. Bagaimana pemeriksaan penunjang herpes simplek?
8. Bagaimana komplikasi herpes simplek?
9. Bagaimana penatalaksanaan herpes simplek?
10. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan herpes simplek?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari herpes simplek
2. Untuk mengetahui etiologi herpes simplek
3. Untuk mengetahui klasifikasi herpes simplek
4. Untuk mengetahui patogenesis herpes simplek
5. Untuk mengetahui WOC (Web Of Caution) herpes simplek
6. Untuk mengetahui manifestasi klinis herpes simplek
7. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang herpes simplek
8. Untuk mengetahui komplikasi herpes simplek
9. Untuk mengetahui penatalaksanaan herpes simplek
10. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan herpes simplek
1.4 Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Mendapatkan informasi tentang herpes simplek
2. Manfaat Praktis
Sebagai dasar untuk melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan herpes simplek

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Kulit


Kulit merupakan salah satu organ terbesar dalam tubuh, dimana kulit membentuk
15% dari berat badan keseluruhan. Kulit mempunyai daya regenerasi yang besar, misalnya jika
kulit terluka maka sel-sel dalam dermis melawan infeksi local kapiler dan jaringan ikat akan
mengalami regenerasi epitel yang tumbuh dari tepi luka menutupi jaringan ikat bergenerasi
sehingga terbentuk jaringan parut yang pada mulanya berwarna kemerahan karena meningkatnya
jumlah kepiler dan akhirnya berubah menjadi serabut kolagen keputihan yang teelihat melalui
epitel.

Lapisan kulit terdiri dari :


1. Epidermis
Epidermis tersusun atas lapisan tanduk (lapisan korneum) dan lapisan Malpighi.
Lapisan korneum merupakan lapisan kulit mati, yang dapat mengelupas dan digantikan
oleh sel-sel baru. Lapisan Malpighi terdiri atas lapisan spinosum dan lapisan
germinativum. Lapisan spinosum berfungsi menahan gesekan dari luar. Lapisan
germinativum mengandung sel-sel yang aktif membelah diri, mengantikan lapisan sel-sel
pada lapisan korneum. Lapisan Malpighi mengandung pigmen melanin yang memberi
warna pada kulit.
2. Dermis
Lapisan ini mengandung pembuluh darah, akar rambut, ujung saraf, kelenjar
keringat, dan kelenjar minyak. Kelenjar keringat menghasilkan keringat. Banyaknya
keringat yang dikeluarkan dapat mencapai 2.000 ml setiap hari, tergantung pada
kebutuhan tubuh dan pengaturan suhu. Keringat mengandung air, garam, dan urea.
Fungsi lain sebagai alat ekskresi adalah sebgai organ penerima rangsangan, pelindung

terhadap kerusakan fisik, penyinaran, dan bibit penyakit, serta untuk pengaturan suhu
tubuh.
Pada suhu lingkungan tinggi (panas), kelenjar keringat menjadi aktif dan
pembuluh kapiler di kulit melebar. Melebarnya pembuluh kapiler akan memudahkan
proses pembuangan air dan sisa metabolisme. Aktifnya kelenjar keringat mengakibatkan
keluarnya keringat ke permukaan kulit dengan cara penguapan. Penguapan
mengakibatkan suhu di permukaan kulit turun sehingga kita tidak merasakan panas lagi.
Sebaliknya, saat suhu lingkungan rendah, kelenjar keringat tidak aktid dan pembuluh
kapiler di kulit menyempit. Pada keadaan ini darah tidak membuang sisa metabolisme
dan air, akibatnya penguapan sangat berkurang, sehingga suhu tubuh tetap dan tubuh
tidak mengalami kendinginan. Keluarnya keringat dikontrol oleh hipotalamus
3. Hipodermis
Terdiri dari kumpulan kumpulan sel lemak dan diantaranya terdapat serabutserabut jaringan ikat dermis. Lapisan lemak ini disebut penikulus adiposus yang berguna
sebagai pegas bila terjadi tekanan trauma mekanis yang menimpa pada kulit dan sebagai
tempat penimbunan kalori serta tambahan untuk kecantikan tubuh.

2.1 Definisi
Herpes adalah infeksi virus pada kulit yang paling umum. Kondisi yang muncul
karena infeksi ini sangat bervariasi meliputi infeksi tanpa gejala, pilek dan herpes pada
genital.
Herpes genetalia merupakan infeksi akut pada genetalia dengan gambaran khas
berupa vesikel berkelompok pada dasar eritema dan cenderung bersifat rekuren. Transmisi
atau penularan infeksi virus herpes simpleks paling sering terjadi melalui kontak erat
dengan individu yang pada daerah permukaan kulit dan mukosanya mengeluarkan virus,
dalam sekresi oral atau genital. Inokulasi virus pada lesi kulit atau mukosa akan
menimbulkan respons imunitas seluler awal tetapi jika terjadi penghambatan pada virus,
maka akan terjadi reepitelisasi pada lesi ( Daili, Sjaiful & Judanarso, Jubianto ).
Herpes simplek adalah penyakit yang mengenai kulit dan mukosa, bersifat kronis
dan residif, disebabkan oleh virus herpes simplek atau herpes virus hominis (FK Unair,
1993).

Herpes simplek merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus DNA. Partikel
DNA yang menular masuk ke dalam nucleus sel dan memanfaatkan mesin reproduksi
seuntuk replikasinya sendiri (Sylvia & Wilson, 1995).

2.2 Etiologi
1. Penyebab: Herpes Simpleks Virus merupakan penyebab terjadinya infeksi herpes
simpleks. Sedangkan herpes simplex genetalia umumnya disebabkan oleh herpes
simplek virus tipe 2 ( herpes virus hominis tipe 2 ), sebagain kecil dapat pula oleh
2.
3.
4.
5.

tipe1.
Umur: dewasa muda / masa seksual aktif.
Jenis kelamin: insiden yang sama pada pria dan wanita.
Ras: kulit hitam lebih banyak dari kulit putih
Risiko mendapatkan infeksi genetalia adalah keaktifan seksual yang bertambah, umur
muda pada saat pertama kali melakukan hubungan seks, bertambahnya jumlah

pasangan seksual, status imun penderita.


6. Faktor pencetus : menstruasi, koitus, gangguan pencernaan, stress emosi, kecapaian,
dan obat obatan
2.3 Klasifikasi
Herpes simpleks dibagi dalam 2, yaitu:
1. Herpes Simpleks tipe 1 ( HSV-1)
HSV-1 menyebabkan infeksi oral, ocular dan wajah. Pada tipe ini biasanya mengenai
bibir, mulut, hidung, dan pipi. Bentuk herpes ini diperoleh dari kontak dekat dengan
anggota keluarga atau teman yang terinfeksi melalui oral seksual, sentuhan, atau
memakai pakaian / handuk bersama.
2. Herpes Simpleks tipe 2 ( HSV-2)
HSV-2 atau disebut dengan herpes genital ditularkan melalui hubungan seksual dan
menyebabkan vagina terlihat seperti bercak dengan luka mungkin muncul iritasi,

penurunan kesadaran yang disertai pusing, dan kekuningan pada kulit (jaundice) dan
kesulitan bernapas atau kejang.

Gambar. Virus Herpes Simplek


2.4 Patogenesis
Infeksi herpes simpleks mengikuti pola yang biasa pada family virus herpes yaitu:
a. Infeksi primer
Hampir semua orang yang terinfeksi tidak mengetahui episode pertama dari infeksi
herpes simpleks. Pada gejala individu, infeksi primer adalah tahap di mana mungkin
rasa nyeri muncul dan gejala memanjang pada tahap ssesudah itu. Infeksi primer
mungkin berlangsung selama beberapa hari.
b. Masa laten (inkubasi)
Virus yang awalnya menginfeksi sel epitel membran mukosa dan kulit akan
menyerang sel saraf sensori selama masa laten. Pada masa ini virus tidak melakukan
replikasi tetapi hidup. Pada keadaan ini adanya stressor emosi atau fisiologik dapat
menyebabkan virus aktif kembali.
c. Infeksi sekunder (reaktivasi)
Virus melakukan replikasi pada reaktivasi dari infeksi baik dengan menunjukan gejala
atau tanpa gejala. Pada kasus lain dapat terjadi penyebaran virus pada orang lain.
Umumnya reinfeksi simtomatik tidak terlalu parah dan dalam waktu yang lebih
singkat dari infeksi primer. Gejala yang muncul kembali dari infeksi mempunyai
periode prodromal dan dapat diketahui dengan adanya sensasi gatal, panas,atau
kesemutan.
Infeksi herpes genitalis dimulai bila sel epitel mukosa saluran hospes (host) yang rentan
terpapar oleh virus yang ada dalam lesi atau sekret genital orang yang terinfeksi. HSV
menjadi inaktif, melekat pada sel epitel masuk dengan cara meleburkan diri di dalam
membran. Sekali masuk di dalam sel akan terjadi replikasi menghasilkan banyak vinon

sehingga sel-selnya akan mati. Virus juga memasuki ujung saraf sensoris yang mensarafi
saluran genital. Virion masuk ke dalam inti sel neuron dan ganglia sensorik.
Infeksi oleh virus herpes 1 atau 2 aktif menginduksi glikoprotein yang berhubungan pada
permukaan sel-sel yang terinfeksi. Setelah terjadi infeksi, sistem imunitas humoral dan
seluler akan terangsang oleh glikoprotein antigenik untuk menghasilkan respons imun.
Pada hewan coba tikus, antibodi spesifik akan muncul dalam serum setelah 3 hari, sel T
sitotoksik setelah 4 hari dan imunitas seluler fungsional setelah 5 hari.
Sifat virus berbeda dari bakteri, di mana bakten bersifat independent, dapat
bereproduksi sendiri sedangkan virus harus dibantu oleh sel untuk bereproduksi.
Virus masuk ke dalam sel manusia dan dapat membuat virus lain. Demikian juga pada
sel manusia yang terinfeksi oleh herpes simpleks, sel tersebut akan melepas virus baru
sebelum mati. Sel yang mati tersebut akan menghasilkan kerusakan pada jaringan yang
ditandai atau dimulai dengan munculnya gambaran vesikula.
Virus herpes dapat juga menginfeksi suatu sel yang kemudian akan membuat virus
baru lagi untuk kemudian virus tersebut akan bersembunyi di dalam sel. Bersifat hanya
menunggu. Virus yang tersembunyi dalam sel sistem saraf ini disebut sebagai neuron. Dan
masa menunggu tersebut kita sebut sebagai masa laten. Virus laten dapat menunggu dalam
neuron dalam beberapa hari, bulan atau tahun.
Pada suatu waktu virus aktif kembali dan menyebabkan sel tersebut menghasilkan
virus baru sehingga mfeksinya menjadi aktif. Kadang-kadang infeksi yang aktif tersebut
tidak menimbulkan gejala atau asimtomatis. Tetapi dapat menularkan ke orang lain. Jadi
seseorang yang tanpa gejala, dapat juga menularkan ke orang lain.
Infeksi aktif ini akan dikontrol oleh sistem imun tubuh kita, sampai fase penyembuhan
dari sakitnya. Di antara masa infeksi aktif dari virus tersebut, dapat timbul masa laten. Pada
masa laten selanjutnya virus menjadi aktif lagi dan sekali lagi menyebabkan terjadinya sakit.
Dan keadaan ini disebut sebagai rekurensi.
Bersamaan dengan infeksi awal, virus herpes simpleks ini akan menuju saraf sensorik
perifer masuk ke ganglion sensorik atau otonom pada masa laten. Kekambuhan yang

rerjadi biasanya berhubungan dengan adanya reaktivasi strain virus awal dari ganglion
yang terinfeksi secara laten. Mekanisme atau pun faktor-faktor yang memengaruhi
terjadinya peningkatan frekuensi reaktivasi belum diketahui dengan pasti.
Diduga faktor yang meningkatkan frekuensi reaktivasi adalah faktor dari virus itu
sendiri juga dari hospes, di mana pada penderita yang mempunyai imunitas yang rendah
akan mengalami reaktivasi yang lebih sering dengan kondisi yang parah.
Tidak terdapat imunitas alami terhadap virus herpes simpleks yang menginfeksi
untuk pertama kalinya. Jadi tidak ada antibodi di dalam sirkulasi yang melawan virus tersebut.
Atau tidak ada imunitas seluler yang melawan herpes (sebagaimana ditunjukkan oleh
pembentukan limfosit) terhadap antigen virus herpes.
Selama fase induksi, infeksi menjadi tidak terkontrol, infeksi herpes simpleks dapat
menyebar, memburuk dengan durasi yang lebih lama daripada infeksi herpes rekurens.
Keadaan ini memburuk secara klinis danNiibedakan dengan cara, menghitungjumlah din
melihat karakteristik dari imunitas seluler. Ketika imunitas tubuh seseorang dirangsang
maka gambaran infeksi herpes simpleks secara khas akan muncul sehingga fungsi antibodi
menjadi kurang berarti.
Kekambuhan yang sering terjadi pada penderita dengan infeksi herpes simpleks, akan
menyebabkan terjadinya peningkatan imunitas seluler pada kebanyakan penderita.
Sel-sel T yang sebelumnya menginfeksi seseorang secara in vitro akan membentuk bias atau
sel darah baru setelah terpapar dengan antigen Herpes. Selama 12 minggu akan terjadi
peningkatan pembentukan sel-sel darah yang jumlahnya sama dengan antigen herpes.
Secara in vivo hal ini dapat atau tidak dapat mencegah munculnya imunitas seluler tetapi
dapat juga dipakai dalam membatasi daerah yang terinfeksi virus Herpes, dengan masa
penyembuhan kurang dari 2 minggu.
Seperti infeksi virus yang lain, pada infeksi virus herpes simpleks ini akan terbentuk
antibodi IgG, IgM dan IgA. Titer antibodi IgG dan IgM akan menurun lebih cepat setelah
infeksinya terkontrol. Titer IgG muncul secara indefinitif, yang menunjukkan bahwa
imunitas humoral protektif yang muncul adalah akibat dari rangsangan oleh virus hidup atau
oleh vaksinasi. Keberadaan antibodi terhadap virus herpes simpleks 1 merupakan

peningkatan perlindungan paling tinggi melawan infeksi yang disebabkan oleh herpes virus
tipe 2 atau sebaliknya, atau disebabkan oleh reaktivasi silang.
Faktor status imunologi seseorang pada beberapa kasus mungkin berhubungan dengan
efek dari faktor imunologi penyakit ini. Kekambuhan dibedakan dari infeksi primer dalam
hal, ukuran vesikelnya yang kecil dan dalam kelompok yang tersendiri juga tidak disertai
gejala konstitusional. Adanya keluhan gatal dan panas terjadi pada 1 sampai 2 jam. Secara
normal akan terjadi penyembuhan dalam 710 hari. Tanpa meninggalkan sikatriks, muncul
juga gambaran lesi yang kecil-kecil yang sama dengan lesi pada labia, vagina atau serviks
yang dapat menyebabkan terjadinya nyeri yang hebat.

Faktor pencetus reaktivasi


virus:
- Panas badan (demam)
- Gangguan GIT (saluran cerna)
2.5 WOC
- Trauma local
- Paparan sinar matahari
- Menstruasi

Menularkan melalui
permukaan kulit dan
secret mukosa

Etiologi Herpes Simpleks :


Virion
masuk
ke (HVH)/
Herpes
Virus
Masuk
keHominis
sel epitel
dalam
inti selVirus
neuron
Herpes
Virus
Simplek
masuk
melalui
(HSV)
mukosa/permukaan
dan
ganglia
sensoris
Sel
melepas
virus
baru
permukaan
kulit
dan
kulit
danReplikasi
melebur
Menghasilkan
banyak
Terjadi
di
Herpes
Simpleks
dan
menginfeksi
sebelum
selnya
mati
secret
genital
dalam
membran
sel
Virion
dalam sel

Transmisi/penularan melalui
: Kontak langsung dengan
individu yang terkena virus
melalui permukaan kulit dan
Pengetahuan tentang
mukosa dalam sekresi oral,
penyakit
pasien yang
MK : Ansietas
genital
kurang

MK : Kerusakan
Integritas Kulit

Timbul Vesikula
da n Ulkus

Sistem imunitas
terangsang dan
merespon
2.6 Manifestasi Klinis

Demam, malaise

MK : Nyeri

Derajat keparahan penyakit dapat dilihat dari gambaran klinis dan frekuensi serta
seringnya kekambuhan dari herpes genitalis ini juga dipengaruhi oleh faktor hospes dan virus,
seperti tipe virus serta keadaan imunitas hospes. Faktor hospes yang ikut mempengaruhi
derajat keparahan penyakit adalah umur, suku, inokulasi atau latar belakang genetik.
Masa inkubasi dari herpes simpleks ini umumnya berkisar antara 37 hari tetapi
dapat lebih lama. Gejala yang timbul dapat bersifat berat tetapi bisa juga asimtomatis,
terutama bila lesi pertama herpes genitalis, ditemukan di daerah serviks.
Manifestasi klinis herpes genitalis dapat dibedakan antara episode yang pertama
dengan episode kekambuhan herpes genitalis. Pada episode pertama herpes genitalis,
sering bersama-sama dengan gejala sistemik disertai gejala pada genital maupun
ekstragenital.
Gejala sistemik yang muncul seperti nyeri, sakit tenggorokan, panas, pusing, gatal,
kesemutan, limfadenopati, malaise dan myalgia dilaporkan terjadi 40% pada laki-laki dan
70% pada wanita dengan HSV2 primer. Muncul pada awal penyakit dan mencapai
puncaknya pada hari ke-34 setelah onset penyakitnya. Gejala lokal yang muncul berupa
nyeri, gatal, disuria dan adenopati inguinal. Discharge uretra dan disuria dapat muncul pada
sepertiga pasien laki-laki dengan infeksi HSV2.
Pada keadaan imunokompeten, bila seseorang terinfeksi virus herpes simpleks maka
manifestasinya sebagai berikut : dapat berupa episode pertama infeksi primer, episode
nonprimer, lesi rekuren, lesi asimtomatis atau terjadi infeksi yang tidak khas atau atipik.
1. Episode Primer Pertama Infeksi Herpes Simpleks Genitalis
Infeksi primer adalah infeksi yang pertama kali dengan HSV 2 atau 1. Tampak dalam
2-1 hari setelah inokulasi.
a. Sering kali disertai gejala sistemik seperti demam, nyeri kepala, malaise dan mialgia.
b. Sifat lesi dan pelepasan virus berlangsung lama dan dapat mengenai banyak tempat di
genital atau luar genital.
c. Gejala klinis berupa nyeri dan iritasi pada lesi bertambah dalam 6-7 hari
pertama sakit dan men- capai puncaknya antara 7-11 hari sakit.

d. Terjadi pembesaran kelenjar getah bening di mana lesi di genital berupa papula,
berkembang menjadi vesikel berdingding tipis di atas dasar eritematosa sebelum
pecah menjadi ulkus. Ulkus basah akan menjadi krusta basah yang mengering.
Reepitelisasi kulit yang terkena terjadi di bawah krusta kering yang akhirnya lepas.
Pada masa laten dan masa infeksi aktif, adanya infeksi ini dapat dengan mudah
dipahami dengan melihat gambaran lesi yang muncul pada genital dan disebut sebagai
infeksi primer.

Gambar. Herpes simpleks genetalis, tampak vesikula bergerombol di atas kulit yang
eritematus.

Gambar. Herpes simpleks genetalis, tampak erosi multipel akibat vesikula yang sudah
pecah dan di beberapa tempat masih terdapat vesikula.
2. Episode nonprimer pertama infeksi herpes simpleks genitalis

Individu yang pernah terpapar dengan HSV1 dan 2 sebelumnya telah mempunyai
seropositif pada saat episode pertama yang disebut nonprimer. Episode ini
menyerupai masa rekurensi yaitu lebih ringan dan infeksi primer dengan masa tunas
yang lebih panjang. Sebagian besar orang, pada pemeriksaan serologisnya telah
mendapat infeksi HSV1 jarang didapatkan pada seorang yang pernah terinfeksi HSV2
sebelumnya. Pada episode pertama nonprimer infeksi sudah berlangsung lama, tetapi
belum menimbulkan gejala klinis dan tubuh sudah membentuk zat anti sehingga gejala
yang muncul lebih ringan.
3. Herpes genitalis rekurens
a. Lebih bersifat ringan dan bersifat lokal.
b. Sebagian besar infeksi dengan HSV2 ini akan terjadi kekambuhan
Yaitu infeksi utama bersifat subklinis atau asimtomatis.Dikatakan bahwa
kekambuhan pada HSV2 terjadi 6 kali lebih sering daripada HSV1. Sebagian besar
pasien yang mempunyai seropositif untuk HSV2 tidak dapat dikenali adanya
infeksi pada HSV. Dua puluh persen pasien sering kambuh dan 60% dari lesi
klinisnya mempunyai kultur positif untuk HSV2.
Pria lebih sering mengalami kekambuhan. Kekambuhan pada pria rata-rata 5
kali per tahun sedangkan pada wanita rata-rata 4 kali per tahun. Secara
keseluruhan 60% pasien dengan HSV akan mengalami rekurensi klinis dalam
tahun pertama.
Kekambuhan akan terjadi bila ada faktor pencetus yang akan menyebabkan
reaktivasi virus dalam ganglion sehingga virus turun melalui akson saraf perifer
ke sel epitel kulit yang dipersyarafinya. Untuk kemudian bereplikasi dan
multiplikasi dan menimbulkan lesi 2. Virus akan terus-menerus dilepaskan ke
sel-sel epitel dan adanya faktoij pencetus menyebabkan kelemahan pada
daerar tersebut dan lesi menjadi rekurens.

Faktor pencetus kekambuhan:

a) Adanya trauma minor


b) Infeksi lain termasuk panas yang bersifat ringan atau pasien tidak mengeluh
c)
d)
e)
f)

panas
Infeksi saluran nafas atas
Radiasi ultraviolet
Neuralgia trigeminal
Juga pada kasus setelah operasi intrakranial karena penyakit ini,

operasi gigi, atau oleh tindakan dermabrasi.


g) Bahkan kadang-kadang seorang wanita mendapat kekambuhan dari
keadaan ini saat dirinya menstruasi
Pada anak-anak biasanya mempunyai gambaran vesikel yang lebih besar
walau angka kejadian munculnya jarang. Rekurensi lebih sering terjadi pada
bagian tubuh yang sama. Meskipun vesikel biasanya berbentuk tidak teratur dalam
satu garis atau satu distribusi saraf.
Pada keadaan laten, bila ada faktor pencetus maka akan terjadi replikasi
virus sehingga terjadi lesi rekurens. Pada saat itu di dalam tubuh hospes sudah ada
antibodi spesifik sehingga gejalanya lebih ringan daripada saat infeksi primer.
c. Gejala Klinis
a) Nyeri
b) Iritasi lesi genital yang akan meningkat setelah hari ke 6 sampai ke 7 dari
masa sakitnya
c) Pembesaran limfonodi inguinal dan femoral secara umum bersifat nonf
luktuasi serta nyeri pada perabaan
d. Gambaran Klinis
a) Vesikel kecil-kecil yang multipel bergerombol pada satu sisi muncul pada kulit
yang normal atau daerah kemerahan, berisi cairan jernih kemudian akan
tampak keruh dan purulen, kering dan berkrusta menyembuh setelah 7-10
hari, lesi yang matang terdiri atas vesikel bergerombol dan atau pustula di
atas kulit yang eritematosa dengan dasar edema. Gerombolan vesikel dan
erosi ini biasanya tampak pada vagina, rektum atau penis dan dapat muncul
vesikel baru lagi pada hari ke-7-14. Lesi bisa bilateral dan sering meluas.
Gejala sistemik yang muncul berupa panas dan flu tetapi sering pada

wanita gejala yang paling menonjol adalah nyeri pada vagina dan nyeri
saat kencing.
b) Adanya krusta yang kekuningan atau keemasan mengindikasikan adanya
superinfeksi dengan bakteri
c) Pembesaran kelenjar regional dengan nyeri sering ditemukan
d) Gambaran eritema multiforme sering bersamaan dengan infeksi HIV
dan berespons dengan pemberian antivirus sebagai profilaksis
4. Herpes genitalis atipikal
Atipikal adalah istilah yang menggambarkan manifestasi herpes simpleks genitalis yang
tidak khas atau atipikal. Tidak berupa vesikel sering berupa fisura, furunkel, ekskoriasi
dan eritema vulva nonspesifik disertai rasa nyeri dan gatal pada wanita sedangkan pada
pria berupa fisura linier pada preputium dan bercak merah pada glans penis.
5. Reaktivasi subklinis atau herpes simpleks genitalis asimtomatis
Episode transmisi seksual dan vertikal terjadi pada fase ini. Reaktivasi HSV
subklinis paling tinggi terjadi dalam 6 bulan setelah terinfeksi. Di mana jika seseorang
yang telah menderita herpes genitalis selama bertahun-tahun akan melepaskan virus secara
subklinis separuhnya dibandingkan wanita yang menderita kurang dari 2 tahun.
2.7 Pemeriksaan Penunjang
2.7.1 Pemeriksaan Kulit
1. Lokalisasi
: pada wanita biasanya pada labia mayora, labia minora, klitoris
dan introitus vagina. Pada pria vesikel biasanya terdapat pada prepusium, glans
penis dan korpus penis.
2. Efloresensi
: vesikel berkelompok diatas daerah eritematosa pada alat kelamin.
Vesikel mudah pecah, meninggalkan ulkus ulkus kecil, dangkal dan jika sembuh
tidak menimbulkan jaringan parut
2.7.2

Diagnosis Klinis
Dibedakan antara infeksi HSV genital dengan penyebab lain ulkus genital baik infeksi
atau bukan. Didiagnosis suatu HSV bila ditemukan kelompok vesikel multipel
berukuran sama, timbulnya lama dan sifatnya sama dan nyeri. Hal ini harus
dibedakan dengan ulkus yang disebabkan oleh Treponema pallidun. Walaupun dapat

2.7.3

terjadi koinfeksi antara keduanya.


Diagnosis Laboratorium

1.
2.
3.

Isolasi virus
Deteksi DNA HSV dengan polymerase chain reaction (PCR)
Pemeriksaan serologi
a.

Deteksi antigen HSV secara enzyme immunoassay (EIA)

b.

Peningkatan titer antibodi anti-HSV pada serum yang diambil segera

dan sesudah 1 episode memiliki keterbatasan. Bermanfaat bila pada episode


pertama infeksi
4.

Pemeriksaan histopatologi
Didapatkan gambaran yaitu vesikel vesikel pada lapisan stratum
spinosum berisi cairan yang mengandung sel sel epitel akntolitik,
leukosit, sel raksasa dan fibrin. Vesikel mukosa berbeda dengan vesikel
kulit yaitu vesikel mukosa relative tak berisi cairan, jumlah fibrin lebih
banyak serta sel sel diatas vesikel lebih tebal dan edema.

2.7.4

Diagnosa Banding
1.
Sifilis
2.
Ulkus Mole
3.
Limfagranuloma venerum
4.
Balanopstitis
5.
Skabies
6.
Lesi septic dan trauma

2.8 Komplikasi
Komplikasi yang paling signifikan dari HSV adalah ensefalitis, meupakan kasus
fatal sekitar 60-80%. HSV dapat muncul sebagai penyakit menular seperti pneumonia,
colitis, atau esofagitis pada pasien AIDS. Infeksi primer atau rekuren selama hamil
dapat menimbulkan infeksi congenital janin dan bayi baru lahir. Komplikasi dapat
berupa infeksi lokal sampai dengan kelainan dan kadang meninggal.
Komplikasi herpes simpleks genitalis dapat berupa perluasan lesi lokal dan
penyebaran virus ke lokasi ekstragenital, susunan saraf pusat dan bahkan bisa juga terjadi
superinfeksi jamur. Pada pria dapat terjadi impotensia. Infeksi menyeluruh bisa terjadi pada

toraks dan ekstremitas, penyebaran mukokutan pada pasien dengan dermatitis atopik atau
kehamilan.
2.9 Penatalaksanaan
2.9.1 Medis
1.

Pengobatan lesi inisial / episode pertama

yang diberikan dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :


a. Pengobatan profilaksis, yaitu meliputi penjelasan kepada pasien tentang
penyakitnya, psikoterapi dan proteksi individual
b. Pengobatan nonspesifik, yaitu pengobatan yang bersifat simtomatis
c. Pengobatan spesifik, yaitu pengobatan berupa obat-obat antivirus
terhadap virus herpes
Obat antivirus yang kini telah banyak dipakai adalah acyclovir, di samping itu
ada 2 macam obat lagi antivirus baru yaitu valacyclovir dan famacyclovir. Efek
obat antivirus tersebut belum dapat mengeradikasi virus, yang ada hanya
mengurangi viral shedding, memperpendek hari sakit dan memperpendek
rekurensi.
Semua pasien dengan episode pertama sebaiknya diobati dengan obat
antivirus oral. Pengobatan yang diberikan secara dini dapat mengurang gejala
sistemik dan mencegah perluasan lokal ke saluran genital atas.
Semua orang dengan aktivitas seksual yang aktif sebaiknya diberikan
penjelasan tentang risiko penularan penyakit infeksi menular seksual ini.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penderita yang tanpa
gejala atau asimptomatik kurang mengenal penyakitnya sehingga dapat
menularkan kepada pasangannya. Maka dianjurkan untuk melakukan
hubungan seksual secara lebih aman dan juga setia pada pasangan masingmasing (http://www.ihmf.org/112Braig ).
Pengobatan simtomatis dan antivirus berupa asiklovir 5 x 200 mg/hari
/oral selama 710 hari atau 3 x 400 mg. Jika ada komplikasi berat dapat
diberikan asiklovir intravena 3 x 5 mg/kgBB/hari selama 710 ban.

Pada keadaan imunokompeten resistensi terhadap asiklovir diperkirakan


sekitar 3%. Pada penderita dengan frekuensi rekurensi yang tinggi dapat
diberikan terapi asiklovir sebagai obat supresif kronis dalam dosis 400 mg dua
kali sehari dan dapat menyembuhkan 50% dari lesinya.
Pemberian terapi topikal juga mempunyai beberapa keuntungan dalam
penatalaksanaan herpes genitalis yang bersifat rekuren. Di Amerika Serikat
preparat asiklovir 5% topikal dalam propiletilen glikol menghasilkan efek
antivirus, tetapi hanya sedikit keuntungan klinis yang didapat. Di
Eropa dengan sediaan preparat asiklovir 5% dalam krim aqua lebih efektif.
2.

Lesi Rekurens
Jika lesi ringan: simtomatis
Jika lesi berat : dapat diberikan

a.
b.

asiklovir 5 X 200 mg/hari per oral selama 5 hari atau 2 X 400 mg/hari atau
Valasiklovir 2 x 500 mg/hari atau Famsiklovir 2 x 125-250 mg /hari.
2.9.2

Non Medis
1.
Menjaga kebersihan local
2.
Menghindari trauma atau factor predisposisi

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
1. Data Subyektif
Demam, pusing, malaise, nyeri otot-tulang, gatal dan pegal.
2. Data Obyektif
a. Eritema, vesikel yang berkelompok dengan dasar kulit yang eritema dan edema.
b. Vesikel berisi cairan jernih kemudian menjadi keruh (berwarna abu-abu) dapat menjadi
pustule dan krusta. Kadang vesikel mengandung darah, dapat pula timbul infeksi
sekunder sehingga menimbulkan aleus dengan penyembuhan berupa sikatrik
c. Pembesaran kelenjar lympe regional. Lokalisasi penyakit ini adalah unilateral dan

bersifat dermafonal sesuai dengan tempat persyarafan.


d. Paralitas otot muka

3.2 Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri b.d adanya lesi
2. Gangguan integritas kulit b.d vesikel yang mudah pecah
3. Cemas b.d kurangnya pengetahuan tentang penyakit

3.2 Intervensi Keperawatan


No.
1.

Diagnosa

Tujuan dan Kriteria

Keperawatan
Nyeri b.d adanya lesi

Hasil
Setelah dilakukan asuhan

Intervensi
a. Kaji keluhan nyeri,

Rasional
a.Perubahan lokasi atau intensitas

keperawatan selama 1x24

perhatikan lokasi atau

nyeri dapat menunjukkan

jam

karakter dan intensitas

komplikasi

diharapkan

nyeri

berkurang dengan kriteria


hasil :
-

b. Libatkan pasien dalam


Pasien

tampak

tenang
-

Skala nyeri ringan


(0-4)

skala 0-10
b.Meningkatkan rasa kontrol

penentuan jadwal

pasien dan kekuatan mekanisme

aktivitas, pengobatan

koping

c. Dorong penggunaan

c.Memfokuskan kembali

teknik manajemen

perhatian, meningkatkan

Tidak

tampak

stres, contoh relaksasi,

relaksasi, dan meningkatkan rasa

wajah

topeng

napas dalam,

kontrol, yang dapat menurunkan

bimbingan imajinasi

ketergantungan farmakologis

nyeri
menyeringai

atau

dan visualisasi
d. Berikan aktivitas
terapeutik untuk usia

d.Membantu mengurangi
konsentrasi nyeri yang dialami
dan memfokuskan kembali
perhatian

e. Tingkatkan periode

e.Kekurangan tidur dapat

tidur tanpa gangguan

meningkatkan persepsi nyeri atau


kemampuan koping menurun

f. Kolaborasi pemberian

2.

f.Analgesik dapat meningkatkan

analgesik sesuai

ambang nyeri

integritas Setelah dilakukan asuhan

indikasi
a. Kaji atau catat

a.Memberikan informasi dasar

kulit b.d vesikel yang keperawatan selama 2x24

ukuran, warna

mudah pecah

jam diharapkan integritas

dan kondisi

kulit

sekitar vesikel

Gangguan

membaik

dengan

kriteria hasil :
-

Cairan

b. Observasi kulit
pada

vesikel berkurang
-

tentang kebutuhan perawatan kulit

b.Deteksi dini terhadap perubahan

pasien,

kulit dapat mencegah atau

dokumentasika

meminimalkan kerusakan kulit

n kondisi kulit,
dan laporkan
setiap
perubahan
keadaan
c. Mandikan

c. Mempertahankan

dengan air

kebersihan tanpa

hangat dan

mengiritasi kulit

sabun ringan

d. Membantu untuk

d. Tingkatkan

mempertahankan volume

nutrisi dan

sirkulasi yang baik untuk

masukan cairan

perfusi jaringan dan

adekuat

memenuhi kebutuhan

e. Pertahankan

energy seluler untuk

linen kering

memudahkan proses

dan bebas

regenerasi atau proses

keriput

penyembuhan jaringan
e. Menurunkan iritasi dermal
dan risiko kerusakan kulit

3.

Cemas b.d kurangnya Setelah dilakukan asuhan

a.Berikan penjelasan dengan a.Pengetahuan

pengetahuan

sering dan informasi tentang diharapkan menurunkan ketakutan

penyakit

tentang keperawatan selama 1x24


jam diharapkan cemas
berkurang dengan criteria

keluarga

hasil :
-

Pasien
mengatakan
ansietas atau
ketakutan
menurun sampai

prosedur perawatan.
b.Libatkan
pasien

dan
atau

dalam

proses

pengambilan keputusan kapan

apa

ansietas,

kesalahan

yang

memperjelas

konsep,

dan

meningkatkan kerjasama.
b.Meningkatkan rasa control dan

pun mungkin.
kerja sama, menurunkan perasaan
c.Kaji status mental, termasuk
tak berdaya atau putus asa.
suasana hati, ketakutan pada
kejadian,

dan

isi

pikiran,

contoh ilusi atau panik.

tingkat dapat

c.Pada

ditangani
Pasien tampak

menggunakan penyangkalan dan

tenang

a. Berikan

awal,

pasien

dapat

orientasi represi untuk menurunkan dan

konstan dan konsisten.

menyaring informasi keseluruhan.

Pasien

b. Jelaskan pada pasien Beberapa

menyatakan

apa

yang

kesadaran

Berikan

perasaan dan

untuk

menerimanya

berikan

dengan cara sehat

terbuka atau jujur.

pasien

menunjukkan

terjadi. tindakan tenang dan status mental

kesempatan waspada, menunjukkan disosiasi


bertanya

dan kenyataan, yang juga merupakan

jawaban mekanisme perlindungan.


d.Membantu

pasien

tetap

berhubungan dengan lingkungan


dan realitas.
e.Pernyataan

kompensasi

menunjukkan realitas situasi yang


dapat

membantu

pasien

atau

keluarga menerima realitas dan


mulai menerima apa yang terjadi.

BAB 4
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Herpes simplek genetalia merupakan penyakit menular seksual, penularannya
melalui hubungan seksual maupun permukaan kulit. Gejala yang sering adalah nyeri serta
klien kebanyakan mengalami gangguan psikologi maupun psikososial. Penanganan dapat
berupa medis maupun non medis dimana peran perawat disini adalah penanganan non
medis yaitu memberikan health education dalam mencegah penularan herpes genetalia.
3.2 Saran
Sebagai ilmu pengetahuan untuk memberikan intervensi pada pasien herpes simplek
genetalia. Dengan memperhatikan keterbatasan yang ada pada makalah ini, maka dapat
dikembangkan untuk penulisan lebih lanjut.

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda J. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8.Jakarta: EGC
Daili, Sjaiful & Judanarso, Jubianto. 2007. Infeksi Menular Seksual Herpes Genitalis Edisi
ketiga, hal 125-139. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Djuanda, Adhi. 1999. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI
Rahariyani, Loetfia Dwi. 2007 .Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem
Integumen.Jakarta: EGC
Doenges, Marilynn E.1999.Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3.Jakarta: EGC
Sloane, Ethel.2003.Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula.Jakarta:EGC